Tittle : White Crystal
Maincast : -Akashi Seijuurou
- Kuroko Tetsuya
- Aomine Daiki
- Kise Ryouta
- Murasakibara Atsushi
- Midorima Shintarou
Suport Cast : - All of Kuroko No Basuke Chara
Author : Lian (VT_Lian1995)
Genre : Family, Slice Of Life, School Life, Brotheship, Little Comedy, Sad, Hurt
Attention : This chara not mine, this chara from Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi – sensei.
Little information : Seluruh nama Cast akan menggunakan nama Akashi karna ini berhubungan dengan kisah keluarga Akashi. Jadi di mulai dari Tetsuya sampai Shintarou akan menggunakan nama depan Akashi.
Summary : Akashi Tetsuya, bungsu dari 6 bersaudara keluarga Akashi harus menangung beban berat di pundak untuk memberikan kesan betapa hebatnya keluarga Akashi. Tapi sayangnya, apapun yang ia lakukan pasti sudah pernah dilakukan oleh ke – 5 kakaknya. Apapun itu, segala yang Akashi Tetsuya raih seolah hanya sia – sia, terlebih jika dibandingkan dengan fisik ke – 5 kakaknya, Tetsuya jauh lebih lemah, namun tak menampik kemungkinan ia bisa jadi lebih kuat walau usahanya akan mendapat resiko yang tinggi. Ini demi menjunjung tinggi motto dari sang Ayah yang telah tiada "Pemenang akan mengukir sejarah dan yang kalah akan menjadi pecundang yang terlupakan."
"Jika kau katakan menjadi bungsu keluarga Akashi merupakan anugrah, tapi bagiku tidak. Beban yang ku tanggung lebih besar dari Ke-5 saudaraku yang lain"
_ooOOOoo_
Chapter 7
%^Alone^%
Kosong nan sunyi menjadi pemandangan yang tak asing untuk pria bersurai Baby Blue di minggu paginya. Hari libur yang seharusnya bisa ia nikmati bersama kelima kakaknya, kini ia habiskan dengan kesendirian. Meja makan yang begitu besar terasa 2 kali lipat lebih besar bahkan sedikit terasa menakutkan. Sarapan pagi berupa Roti dan Sup yang biasanya terasa enak, kini terasa hambar begitu menyentuh lidah. Selera makannya hilang, menguap ntah kemana. Roti dan Sup yang masih tersisa setengahnya ia biarkan begitu saja tanpa niat untuk menyentuhnya lagi.
"Tetsuya-sama, lebih baik anda menghabiskan sarapan pagi anda. Akhir – akhir ini anda sering tak menghabiskan sarapan pagi, siang maupun makan malam. Jika Shintarou-sama tau, dia mungkin akan memarahi anda" Nasihat Tanaka – Pelayan sekaligus supir pribadi Tetsuya.
"Tak masalah jika Shintarou –Nii marah, Tanaka-san. Lagi pula, Shintarou-Nii tak akan mungkin tau, pekerjaannya jauh lebih penting dari pada membuang waktu hanya untuk memarahiku" Tetsuya menghela nafas lelah.
"Tapi Tetsuya-sama.." Belum lagi Tanaka berbicara, Tetsuya memotongnya.
"Aku akan latihan ditaman belakang bersama Nigou, 2 minggu lagi Winter Cup akan dimulai. Aku harus berlatih Tanaka-san." Tetsuya bangkit dari kursi tempatnya duduk.
"Haii, Tetsuya-sama" Tanaka membungkuk dan menurut saja apa yang dikatakan tuan mudanya. Tetsuya mulai beranjak, diliriknya sedikit anak anjing berwarna hitam putih itu sekilas.
"Nigou, Ayo kita latihan" Seolah mengerti apa yang katakan Tetsuya, Nigou mengikuti langkah kaki Tetsuya.
Bola basket berwarna oranye telah berada di tangan Tetsuya sekarang, sambil berjalan ia mendrible bola dan sesekali ia memutar bola itu di ujung jarinya. Beberapa trik Street Basketball ia mainkan sambil jalan. Nigou yang ada di kaki Tetsuya terlihat begitu semangat melihat permainan Basket yang tuannya lakukan. Anjing itu terus menggoyangkan ekornya lembut, sesekali terdengar gonggongan kecil yang terkesan imut. Begitu sampai di lapangan, Tetsuya segera berlatih dengan Nigou yang terus mengekor di dekatnya.
"Bagaimana penampilanku, Nigou?" Tanya Tetsuya saat men-shoot bola bundar itu menuju ring. Nigou menggonggong semangat diiringi tubuhnya yang berguling ceria. "Soukka, aku berhasil membuatmu terkesan." Tetsuya menghela nafas dalam dan berjongkok untuk mengelus Nigou. "Apa dengan ini aku bisa melewati Nii-san Tachi? Aku rasa masih ada yang kurang" Tetsuya menunduk dan mulai masuk dalam fikirannya sendiri, ketika Nigou menggonggong, barulah Tetsuya tersadar. "Gomen ne, Nigou. Aku terlalu banyak berfikir. Saa, kita latihan lagi setelah itu kita bermain"
Nigou dengan ceria mengikuti tuannya memainkan bola basketnya dengan lihai, ketika Tetsuya sibuk mendrible bola dan men-shootnya, Nigou sibuk menaiki bola basket dan sesekali menggelinding lucu. Dari sudut lapangan, Tanaka melihat sang tuan muda dengan wajah sedih sekaligus tak tega melihat tuan mudanya begitu kerja keras. Ah tak hanya tuan mudanya yang satu ini, tapi tuan muda yang lain juga. Shintarou, Atsushi, Daiki dan Ryouta bekerja lebih keras dari biasanya karna tuntutan tradisi keluarga Akashi yang masih digenggam erat oleh si sulung, Seijuurou.
Tak hanya sebatas tuntutan dari tradisi yang masih dipegang teguh, pula dengan peraturan keluarga Akashi yang tertanam dalam benak mereka, tapi ancaman dari Haizaki Shogo – seorang karyawan yang dipecat oleh Seijuurou – juga menjadi alasan kenapa Sejuurou begitu keras pada adik – adiknya. Dengan memberikan pelatihan juga kesibukkan mereka masing – masing, kesempatan Shogo untuk menghancurkan dan memberikan rasa kekalahan untuk keluarga itu tak akan mungkin terjadi. Tapi dibalik alasan itu, Seijuurou melupakan jika keluarganya yang biasanya saling bahu membahu untuk melindungi perlahan terpisah satu sama lain.
Bagaikan sebuah rumah yang kokoh, keluarga Akashi yang sekarang terlihat mulai terpisah dan memperkuat dirinya masing – masing sehingga lupa jika alasan mereka semua kuat adalah untuk melindungi yang terlemah diantara mereka. Yah, seharusnya Seijuurou tak lupa akan hal itu, alasan utamanya menjadi penerus, alasan Shintarou menjadi seorang dokter, alasan Atsushi memilih menjadi pemilik restoran, alasan Daiki menjadi polisi dan alasan Ryouta menjadi pilot juga Model. Berbeda tapi memiliki alasan yang sama.
"Akashi Tetsuya"
Ah, jika saja kita bisa menilik kembali bagaimana mereka dahulu memilih masa depan berdasarkan titah sang Ayah sebelum meninggalkan mereka untuk selamanya. Menilik kembali kebelakang, saat keluarga Akashi masih lengkap. Ayah, ibu, Seijuurou, Shintarou, Atsushi, Daiki, Ryouta dan si bungsu Tetsuya yang selalu menghabiskan makan malam bersama. Sejuurou berumur 14 tahun, Shintarou berumur 13 tahun, Atsuhi 12 tahun, Daiki 10 tahun, Ryouta 8 tahun, dan Tetsuya 4 tahun. Semua berkumpul, dan sesuai tradisi, sang Ayah akan membuka pembicaraan.
"Seijuurou, bagaimana sekolahmu?" pertanyaan klise, tapi menuntut jawaban yang memuaskan dari putra sulungnya.
"Baik, tak ada masalah sama sekali" Seijuurou menjawab singkat.
"Hm, bagaimana dengan Club Basketmu?"
"Semua berjalan sesuai dengan apa yang ku harapkan, Winter Cup kali ini kami akan memenangkan pertandingan seperti tahun lalu" Sang ayah tersenyum mendengar jawaban dari putra sulungnya, kini ia melirik si surai hijau yang sudah memegang buku ilmiah.
"Kau sendiri bagaimana Shintarou?" Merasa dipanggil, Shintarou menaikkan kacamatanya dan menatap sang ayah tenang.
"Tak ada masalah, Nanodayo. Sama seperti Seijuurou" Senyuman tipis kembali menghias di bibirnya, melihat senyuman tipis itu, Shintarou menaikkan bingkai kacamatanya dan memalingkan wajahnya. "B-Bukannya aku ingin menyamakan diriku dan Seijuurou, Nodayo. Hanya saja aku tak akan kalah darinya"
"Pffft.." Sang ayah menahan tawanya, ia sudah tau jika putra keduanya memang memiliki sifat Tsundere seperti ibunya. "Kau sendiri bagaimana, Atsushi?"
"Mou~~ Membosankan Tou-chin. Nilaiku selalu baik, jadi aku bisa masuk Teiko tahun depan" jawab Atsushi malas sembari memakan cemilan buatan sang ibu di depannya.
"Kau ingin masuk Teiko?" Atsushi mengangguk. "Kenapa?"
"Karna aku tak mau kalah dari Sei Nii-chin dan Shin Nii-chin" persaingan seperti biasa, kini pandangan pria paruh baya itu tertuju pada putra keempat dan kelima yang terlihat sibuk berebut Tenpura buatan ibunya.
"Daiki, Ryouta, bagaimana sekolah kalian" Merasa dipanggil, Ryouta dan Daiki menoleh walau tangan mereka masih sibuk berebut makanan.
"Baik Tou-san, aku bahkan memenangkan pertandingan basket melawan teman sekelas" ucap Daiki semangat.
"Aku juga-ssu, bukan basket tapi sepak bola-ssu. Aku berhasil mencetak 10 gol dengan mudah" Ryouta tak mau kalah.
"Jadi kalian berhasil dengan baik?" tanya Sang ayah.
"Un" jawab Daiki dan Ryouta serentak, kini pandangan sang ayah menuju si Bungsu yang sibuk membaca buku kecil. Untuk anak usia 4 tahun, buku itu terkesan sangat berat dan sulit dibaca. Tapi mereka adalah keluarga Akashi, keluarga yang dituntut sempurna dan itu berlaku bagi si bungsu yang juga tak ingin kalah dari kelima kakaknya yang sudah bisa membaca buku seperti miliknya.
"Tetsuya" si mungil Baby Blue melirik ke arah sang Ayah, wajahnya sangat polos walaupun tangannya menggenggam buku yang lebih pantas dibaca oleh siswa sekolah dasar. "Bagaimana sekolahmu?" Tetsuya mengedipkan matanya perlahan, wajahnya memberikan ekspresi berfikir namun memberikan kesan imut nan menggemaskan dan memaksa sang ibu yang disampingnya mencubit pipinya gemas.
"Ittai desu, Kaa-chan" ucap Tetsuya sembari menggembungkan pipinya karna kesal, bukannya berhenti, malah ibunya semakin gemas mencubit pipinya. Ryouta yang disamping Tetsuya langsung memeluknya dengan erat karna geram.
"Tet-chan Kawaii, Kaa-san jadi semakin gemas padamu" Sang ibu yang terus – terusan mencubit pipi Tetsuya gemas, mengabaikan tatapan sang suami yang sedikit kesal karna pertanyaannya belum dijawab si bungsu.
"Tetsuya" panggil sang ayah, teringat akan pertanyaan awal, Tetsuya melirik sang ayah takut - takut.
"Eumh, tadi Sensei memberi penjelasan mengenai cita – cita Tou-san" Ucap Tetsuya dengan suara pelan.
"Cita – cita? Lalu cita – cita Tetsuya apa?" Tetsuya menggeleng bingung.
"Wakanai, Tou-san. Tetsuya belum tau" jawabnya polos.
"Hmm.. jadi Tetsuya belum memiliki cita – cita?" Tetsuya mengangguk. "kalau begitu, Tetsuya tidak punya tujuan saat besar nanti?" Buru – buru Tetsuya menggeleng.
"Tetsuya punya tujuan Tou-chan" Dahi sang ayah mengernyit.
"Apa itu Tetsuya?"
"Tujuan Tetsuya saat besar nanti adalah mengalahkan Nii-chan Tachi" Polos nan lugu menjadi jawaban Tetsuya, sontak saja seluruh mata tertuju pada si bungsu.
"Kau ingin mengalahkan kami Tetsuya?" tanya si sulung, Seijuurou. Tetsuya mengangguk.
"Haii, aku akan menjadi lebih hebat dari Sei-Nii, Shin-Nii, Atsu-Nii, Dai-Nii dan Ryou-Nii. Nanti kalau sudah besar aku mau menjadi yang terhebat" Celoteh Tetsuya dengan tangan yang sibuk membuat gambaran akan kehebatannya di masa depan.
"Baiklah, kalau begitu Nii-san akan mengubah cita – cita Nii-san" tadinya seluruh mata menoleh ke arah Tetsuya, kini berganti pada Seijuurou.
"Kau ingin mengubah cita – citamu, Sei-chan?" tanya sang Ibu.
"Hmm, tidak semuanya, aku akan tetap menjadi pemain Shogi yang hebat dan akan menjadi penerus Tou-san agar bisa membiayai kehidupan Tetsuya di masa depan" mendengar jawaban itu, Shintarou menaikkan kacamatanya dan berbicara.
"Kalau begitu, aku akan menjadi dokter agar bisa menjaga kesehatan Tetsuya sampai saat itu tiba, Nanodayo" Shintarou memalingkan wajah saat seluruh tatapan kearahnya. "B-Bukannya aku mau mengubah cita – citaku, Nodayo. Aku hanya tak mau kalah dari Seijuurou"
"He~~ Kalau begitu aku juga mau ikut. Aku akan jadi koki pemilik restoran bintang 5 dan akan menjamin makanan yang akan dimakan Tetsu-chin" Atsushi berbicara malas sambil mengemil.
"Curang-ssu, aku juga mau seperti kalian. Aku akan menjadi pilot yang bisa membawa Tetsuya-cchi jalan – jalan" Ucapan polos Ryota membuat tawa menggema di ruang makan yang megah itu.
"Kau tidak sopan Ryouta, seharusnya aku duluan yang mengucapkan cita – citaku. Aku lebih tua 2 tahun dariku" Satu jentikkan di kepala Ryouta membuat pria berwajah tampan itu memasang wajah Puppy yang baru saja di buang majikan.
"Daiki Nii-cchi Hidoii-ssu" rengutnya.
"Hmph!" Daiki hanya mendengus kemudian berdiri di atas kursinya dengan gaya seolah – olah memegang sebuah pistol yang diarahkan ke semua yang ada. "Aku akan jadi polisi yang siap menjaga Tetsu dari siapapun"
"Daiki, duduklah yang benar. Kau tak sopan" Sang kakak sulung sudah bertitah maka dengan senyuman lebar nan polos, Daiki langsung turun dari posisinya dan duduk sama seperti yang lain.
"Gomen, Nii-san" Cengir Daiki. Sang ayah dan sang ibu tersenyum melihat putra keempat yang begitu antusias menceritakan tentang cita – citanya.
"Jadi, cita – cita kalian berhubungan dengan Tetsuya?" goda sang ayah.
"Tidak juga, aku hanya menerima takdirku sebagai penerus" Si sulung memalingkan wajahnya, ah untuk yang satu ini kenapa menjadi Tsundere seperti Shintarou?
"Aku juga, Nodayo. Aku Cuma tak tega melihat Tetsuya sering sakit" Shintarou masih dalam mode Tsundere.
"He~~ kalau aku memang untuk Tetsu-chin." Pernyataan jujur Atsushi sontak membuat Daiki dan Ryouta mengacungkan jempolnya,
"Betul-ssu, aku mau membuat Tetsuya-cchi senang dengan jalan – jalan-ssu. Tetsuya-cchi lebih sering di rumah sakit dari pada jalan – jalan di luar-ssu" Celetukkan dari Ryouta sontak membuat si mungil yang jadi bahan pembicaraan menyipitkan mata dan menatap kelima kakaknya serta sang ayah dengan tatapan kesal. Pipinya menggembung besar hingga rona merah mewarnai pipinya yang Chubby. Sang ibu yang melihat perubahan ekspresi dari si bungsu, sontak terlintas fikiran untuk menjahili putra bungsunya.
"Tet-chan, kau akan mendapat perlindungan ekstra dari Nii-san mu. Kau senangkan?" goda sang ibu, walau ia tahu pasti jika si bungsu akan ngambek.
"Nii-chan Tachi menyebalkan" nada marah anak kecil yang polos sontak menarik perhatian satu keluarga itu. Pipinya semakin menggembung dengan tangan yang terlipat di depan dada dan wajah yang dipalingkan menghadap ke kiri. Lucu juga imut, bukannya takut malah mereka semakin ingin menggoda si bungsu.
"Tetsuya kan masih kecil, jadi harus dijaga. Benarkan Tou-san?" Si sulung mulai mode jahil. Sang ayah memberikan senyuman yang lebih jahil lagi, ia mengangguk dan memberikan kode yang lain untuk mengganggu Tetsuya.
"Tetsu, kau itu belum bisa apa – apa, jadi masih butuh bantuan kami" Daiki juga mulai modus jahil. Ryouta yang tak mau kalah langsung mendekat ke arah Tetsuya dan memeluknya erat.
"Daiki Nii-cchi benar-ssu. Lihat Tetsuya-cchi tak bisa melepaskan pelukkan dariku-ssu" Ryota semakin gemas memeluk Tetsuya yang saat ini sudah menggembungkan pipinya lebih besar sedangkan Ryouta sudah menggosok – gosokkan pipinya ke pipi Tetsuya yang lembut. Atsushi berdiri dari kursinya, dengan cepat ia menggendong Tetsuya dan melepas pelukkan maut Ryouta.
"Tetsu-chin sangat ringan, kalau tidak dijaga nanti bisa dihancurkan"
Tetsuya yang diangkat oleh kakaknya yang bertubuh besar kali ini tidak menampakkan ekspresi marah, tapi menampakkan ekspresi kesal yang berubah menjadi tatapan berkaca – kaca, siap menumpahkan airmatanya. Tetsuya mengedipkan mata, berusaha agar tak terlihat ingin menangis, tapi namanya juga anak kecil, sudah pasti airmatanya meleleh turun menyusuri pipinya. Melihat itu, buru – buru Seijuurou bangkit dan menyuruh Atsushi menyerahkan Tetsuya padanya.
"Tetsuya cengeng" Goda Seijuurou saat Tetsuya sudah berada di gendongannya, tangan Tetsuya melingkar di lehernya dan wajahnya tenggelam di bahu Seijuurou.
"Iie, Tetsuya tidak cengeng" Bisik Tetsuya.
"Lalu kenapa menangis" godanya.
"Tetsuya tidak menangis" elak Tetsuya. "Nii – chan Tachi saja yang menyebalkan" Dengan lembut Seijuurou mengelus surai lembut sang adik dan membawanya duduk di pangkuan Seijuurou. Baik orang tua maupun saudara lainnya hanya menjadi penonton melihat sang kakak yang begitu hangat.
"Tetsuya, Nii-san Tachi memliki cita – cita yang hebat bukan hanya untuk Tetsuya, tapi juga untuk melindungi yang lain. Seperi Nii-san, Nii – san tak hanya membiayai Tetsuya sendiri, nanti Nii-san akan membiayai keperluan yang lainnya juga. Untuk Shintarou, Atsushi, Daiki dan Ryouta" Si mungil masih mendengarkan, tapi belum mau melihat yang lain – masih setia menggelamkan kepalanya di bahu seijuurou. "Shintarou akan menjadi dokter yang akan menjaga kesehatan kita semua, Atsushi nanti yang akan memasak dan menjaga pola makan, Daiki yang akan menjadi pelindung dan Ryouta yang akan membawa kita mengitari dunia dengan pesawat pribadinya" Tetsuya kini menatap ke arah Seijuurou, matanya masih basah tapi tak menghapus kepolosan yang jernih.
"Jadi bukan karna Tetsuya masih kecil?" Seijuurou tertawa kecil.
"Bukan, tapi karna kita semua adalah keluarga. Saling melengkapi juga memiliki cita – cita yang berhubungan satu sama lain. Nanti kalau kita sudah dewasa dan Tetsuya seusia Nii-san atau mungkin lebih dewasa lagi, nanti Tetsuya pasti mengerti" Kini Seijuurou menempelkan hidungnya ke arah hidung Tetsuya sambil tersenyum hangat. "Kami ada untuk membuat keluarga kita sempurna Tetsuya, karna kita keluarga Akashi"
Sekali lagi, senyuman – senyuman kebahagiaan itu bergulir. Mereka saat itu yang berfikir akan menjadi keluarga yang sempurna. Memang kenyataannya mereka keluarga yang sempurna hingga sekarang walau kedua orangtua mereka telah tiada. Tanaka yang menjadi saksi dalam keharmonisan keluarga itu, kini juga menjadi saksi bagaimana keadaan keluarga yang harusnya bisa menikmati kesempurnaan dengan kebersamaan harus hilang karna tuntutan peraturan keluarga Akashi juga kesempurnaan yang mereka capai.
Mata Tanaka sama sekali tak bisa berpaling dari sosok Baby Blue yang sibuk dengan bola oranye di tangannya. Tak peduli dengan udara musim gugur yang menusuk kulit putih pucatnya, pria bersurai Baby Blue masih sibuk dengan dunianya. Miris, satu kata yang terlintas di fikiran Tanaka saat ini. Si Baby Blue yang terbiasa dengan kehangatan keluarga kini harus berjuang sendiri dan menjadikan kemenangan prioritas utama. Dengan langkah kecil, Tanaka mulai mendekat dan memanggil sang Tuan muda.
"Tetsuya-sama, lebih baik anda masuk ke dalam. Sudah lebih dari 2 jam anda berlatih, udara semakin dingin dan anda bisa jatuh sakit" Tetsuya mendengar ucapan itu, jika saja Tetsuya memiliki sifat Daiki, mungkin ia akan mengabaikan ucapan Tanaka. Tapi dasarnya ia adalah anak baik yang sopan, Tetsuya menatap Tanaka dengan sebuah senyuman di bibirnya.
"Sebentar lagi, Tanaka-san. Aku sedang mencoba trik baru untuk Winter Cup nanti" Tanaka mendesah kecil.
"Tetsuya-sama, anda sudah baik dalam bermain basket sama seperti yang lain. Lebih baik anda istirahat Tetsuya-sama" Tetsuya mendengarnya dan terpaksa ia harus mengalah, sekali lempar ia bisa memasukkan bola basket itu ke Ring dan tersenyum ringan ke arah Tanaka.
"Baiklah, Tanaka-san. Tapi, bisa atur ulang jadwalku untuk 2 minggu yang akan datang?" Tanaka tersenyum dan mengangguk.
"Tentu saja Tetsuya-sama"
"Ah sebelum lupa, jadwal Winter Cup nanti juga jangan lupa dibuatkan. Ada beberapa jadwal yang kurang sesuai" Tanaka mengerutkan dahinya.
"Jadwal yang kurang sesuai?"
"Haii, di ela – sela pertandingan Winter Cup, aku sedang mengikuti kejuaraan yang lain"
"Apa itu Tetsuya-sama?"
"Bukan hal yang luar biasa, hanya mengikuti kejuaraan yang Nii-san Tachi lakukan." Tetsuya melangkah mendekat ke arah Tanaka, "Kejuaraan Sains, debat bahasa Inggris, dan beberapa kejuaraan academic"
"Bukannya itu membuat jadwalmu terlalu padat, Tetsuya-sama?"
"Mungkin, Tanaka-san. Tapi jika tak ku coba sekarang, aku akan ketinggalan dengan yang Nii-san Tachi lakukan"
"Jangan terlalu memaksakan diri Tetsuya-sama, kesehatan anda cepat menurun saat musim dingin tiba" Tetsuya memasang sebuah senyuman yang lebih lebar, namun matanya memancarkan kemirisan.
"Daijoubu desu. Aku tak memikirkan hal yang seperti itu, lagi pula kalau keadaanku memburuk, akan ku pastikan itu setelah Winter Cup dan aku harap saat itu tiba.." Tetsuya menghela nafas dalam dan menatap Tanaka penuh harap. "Tetaplah disampingku, Tanaka-san"
Seperti ada sesuatu yang menghipnotis, mata Tanaka dapat menangkap sebuah kesunyian juga kesepian mendalam dari putra bungsu keluarga Akashi itu. Tanpa perlu menebak masa depan, ia sudah tau apa yang akan terjadi dengan dirinya. Konsekuensi dari apa yang ia dapatkan dari latihan juga kegigihan untuk mengejar kelima kakaknya. Berhasil atau tidaknya mempersempit ketinggalan, kerja keraslah yang menjadi tolak ukur keberhasilan itu dan konsekuensi dari apa yang ia lakukan.
'tetaplah sehat, Tetsuya-sama'
_ooOOOoo_
Tak ada yang berbeda dari suasana biasanya di Gymnasium Seirin, para pemain Basket semakin giat berlatih untuk menghadapi Winter Cup. Latihan kekuatan fisik juga ketahanan tubuh semakin gencar mereka lakukan. Tetsuya dan Kagami yang bermain berpasangan terlihat mulai menguasai beberapa teknik baru yang dapat mengecoh lawan. Izuki semakin mempertajam Eagle Eye'snya. Kiyoshi mulai berlatih menangkap benda – benda besar di tangannya dengan bobot yang lebih berat dari biasanya, Hyuuga juga mulai melempar Three Point dengan semakin menambah jarak juga kecepatannya dan Mitobe melatih kekuatan tangan untuk menggantikan posisi Center jika terjadi sesuatu pada Kiyoshi. Koganei, Tsuchida, Hiroshi, Kawahara dan Furihata juga mulai menemukan ritme permainan yang tepat untuk mereka. Sungguh, Tim Seirin menjadi jauh lebih kuat dibanding saat mereka mengikuti Inter High.
Momoi Satsuki yang menjadi manager sudah mengumpulkan semua mengenai para pemain dari tim lawan, terlebih data yang ia dapatkan sangat detail dan data masa depan dapat diprediksi dengan tepat. Dengan bantuan Momoi, Aida Riko dengan mudahnya mengatur strategi yang akan mereka gunakan untuk menghadapi lawan – lawan mereka. Latihan yang biasanya selesai pukul 19:00 malam, kini bertambah menjadi pukul 21:00 bahkan tak jarang mereka pulang pukul 21:30 malam. Seperti saat ini misalnya, mereka baru selesai latihan pukul 21:30 dan bersiap pulang.
"Kau dijemput Tanaka-san, Akashi?" Tanya Kagami yang masih membersihkan tubuhnya.
"Sepertinya begitu, aku lupa mengatakan untuk tidak menjemputku. Mungkin saat ini Tanaka-san sudah menunggu" Jawab Tetsuya dengan suara yang datar.
"Soukka, lebih baik kau cepat. Aku yakin Tanaka-san sudah menunggu lama" ucap Kagami.
"Aku tahu Kagami-kun, Arigatougozaimasu sudah mengingatkan"
"Iie, itulah tugas seorang sahabat kan?" Tetsuya tersenyum dan memberikan kepalan tangan ke arah Kagami, Kagami menyambut kepalan tangan itu dengan kepalan yang sama dan saling bertubrukkan.
"Kalau begitu, kau masih mengizinkan aku menginap di apartemenmu kan?" Kagami tersentak dan memasang wajah sedikit jengkel.
"Kau memanfaatkanku, Akashi – Teme?" gerutu Kagami.
"Aku hanya bertanya Kagami-kun, lagi pula semakin dekat kejuaraan Winter Cup, semakin sulit rasanya pulang pergi dari rumah ke tempat pertandingan. Lebih baik aku tinggal di Apartementmu, mungkin itu lebih baik untuk melatih kerja sama kita" Kagami menghela nafas.
"Kalau alasanmu itu, aku tak masalah. Aku juga masih punya kamar kosong"
"Arigatou Kagami-kun, kalau begitu aku duluan" Ucap Tetsuya yang sudah selesai memakai seragam sekolah lengkap dengan syal berwarna Ungu pemberian dari Atsushi. "Jya ne"
Kagami mengangguk sebagai balasan dari ucapan Tetsuya, punggung kecil itu mulai berjalan menjauh dan berpamitan dengan yang lainnya. Begitu ia keluar dari ruang ganti, ia melirik ke arah Gym yang masih saja terlihat lampunya hidup, tanpa perlu menebak, Tetsuya sudah tau siapa yang ada di sana.
"Momoi-san" panggilnya mendapati seorang gadis bersurai merah muda tengah duduk sendirian dan mencatat hasil latihan hari ini. Mendengar suara yang tak asing, Momoi langsung melirik ke Sumber suara.
"Tetsu-kun?" Jawab Momoi yang terkejut, Tetsuya mulai melangkah masuk dan mendekat.
"Apa tugasmu belum selesai?" Momoi mengangguk kecil.
"Un, begitulah. Tinggal mencatat hasil latihan Furihata-kun" jawabnya pelan.
"Soukka, apa kau akan melaporkan sekarang ke Aida-Senpai?" Momoi menggeleng.
"Iie, mungkin besok pagi"
"Kalau begitu, lebih baik kau kerjakan nanti saja setelah sampai rumah. Kau masih ingatkan apa yang akan kau tulis?" Momoi mengangguk, "Saa, aku antar kau pulang. Sudah malam dan tak baik jika seorang gadis sepertimu pulang larut" Momoi membulatkan mata tak percaya, Akashi Tetsuya yang ia sukai sejak duduk di bangku SMP kini mengajaknya pulang? Mungkinkah Tetsuya sudah menyadari perasaan yang Momoi rasakan?
"Kau akan mengantarkanku, Tetsu-kun?" Tetsuya tersenyum dan mengangguk.
"Haii, tapi dengan menggunakan mobil jemputan dari Tanaka-san." Momoi menatap tak percaya, bernarkah? "Sebaiknya kita cepat, Momoi-san, aku tak mau Tanaka-san menunggu"
"Un. Ayo kita pulang"
Pipi Momoi serasa terbakar karna ucapan Tetsuya sekarang, berkas yang ia tulis benar – benar ia rapikan dan memasukkannya ke dalam tas. Segera ia keluar dari Gym, tak lupa mematikan lampu dan menguncinya. Beruntung kunci itu adalah kunci yang sudah di percayakan oleh kepala Sekolah padanya. Setelah selesai, Momoi langsung bergegas untuk berjalan bersama Tetsuya. Tanpa ragu, Momoi melingkarkan lengannya ke lengan Tetsuya seperti biasanya. Tanaka yang sudah menunggu di depan gerbang hanya memasang senyuman simpul melihat sang Tuan muda berjalan bersama dengan seorang gadis.
"Tanaka-san, kita akan mengantar Momoi-san dulu. Tak apa kan?" Tanaka mengangguk.
"Tentu saja, Tetsuya-sama. Kita akan mengantarkan Nona Momoi ke rumahnya dengan selamat" ucap Tanak diiringi godaan kecil di sana.
"Arigatou ne, Tanaka-san." Ucap Momoi semangat. Dari jauh, anggota Seirin sudah menggerutu iri karna tingkah Momoi dan Tetsuya yang terlihat seperti sepasang kekasih.
"Beruntungnya Akashi-kun, lahir dari keluarga kaya dan mendapatkan gadis secantik Momoi-chan. Hm.. terkadang membuatku benar – benar iri" Celetuk Kawahara.
"Kau benar, aku bahkan belum punya kekasih" Furihata tak mau kalah.
"Hidup Akashi-kun benar – benar sempurna" Hiroshi ikut menambahkan, namun ketiga junior itu malah mendapatkan sebuah pukulan di kepala mereka.
"Aho, kalian jangan memikirkan hal yang lain. Percuma kalian iri dengan Akashi, kehidupan kalian tak akan berubah" Hyuuga memberikan omelan.
"Ma, lebih baik kalian fokus untuk Winter Cup mendatang" Kiyoshi memberikan saran.
"Jika kalian menganggap hidup Akashi itu sempurna, itu benar, tapi di samping kesempurnaan itu, dia juga memiliki tanggung jawab untuk bisa lebih sempurna." Jelas Izuki yang mendapatkan anggukkan dari yang lain.
"Akashi itu berbeda dari kita, tuntutannya juga lebih banyak. Kita tak bisa masuk kedalam masalahnya, tapi kita bisa meringankan sedikit beban yang dia tanggung dengan memenangkan Winter Cup nanti" Penjelasan Kagami mendapat tatapan tak percaya dari Tim Seirin. Ace tim yang memiliki otak sedang cenderung bodoh itu ternyata bisa mengatakan hal – hal yang di luar dugaan. "Nani? Kenapa kalian melihatku seperti itu?"
"Iie, barusan itu kau yang sebenarnya Kagami?" Hyuuga bertanya dengan tak percaya.
"Nani sore? Tentu saja ini aku Kagami" Jawab Kagami lantang dan mendapatkan tepukkan tangan dengan wajah datar.
"Aku tak menyangka, Sugoii na" Celetuk Kiyoshi.
"Nani Senpai? Kenapa aku kalian seperti melihat orang lain?!" Kagami langsung berteriak tak jelas dan berakhir dengan gebukkan dari Riko yang kebetulan belum pulang karna menemui penasihat Club.
"BAKAGAMI! Lebih baik kau hemat tenaga untuk latihan neraka besok!" Mata tim seirin melotot seketika, semakin dekat Winter Club semakin sulit pula latihan yang diberikan.
Sebelum Riko semakin mengamuk, Kagami beserta tim Seirin lainnya langsung bergegas pulang dan beristirahat. Lebih baik mereka menikmati ranjang yang empuk dibandingkan mendengar ocehan dari sang pelatih. Di sisi lain, Tetsuya dan Momoi yang duduk bersebelahan sama sekali tak membuka percakapan sedikitpun. Tetsuya sibuk melihat jalanan kota dari jendela sedangkan Momoi hanya duduk sembari menunduk. Gugup bercampur senang, walau bukan yang pertama, tapi tetap saja ia merasa gugup.
"Momoi-san" Suara lembut Tetsuya membuyarkan sedikit kegugupan Momoi. Momoi berpaling menatap helaian surai Baby Blue yang tertiup angin lembut dengan sepasang mata biru yang masih menatap kejalanan.
"H-Haii" jawabnya.
"Besok bisa temani aku ke Kaijo dan Touo?" Momoi mengedip tak mengerti, walau tak saling menatap, tapi Tetsuya bisa melihat ekspresi Momoi dari kaca jendelanya. Ia menghela nafas dan mulai menatap Momoi, "Aku dan Anggota dewan Sekolah sedang mengadakan festival gabungan dengan Kaijou dan Touo setelah Winter Cup nanti. Jadi, ketua menugasiku untuk ke Kaijou dan Touo sebagai perwakilan dari Seirin. Aku butuh seseorang untuk menemani sekaligus seseorang yang akan mencatat hal penting saat pertemuan nanti"
"Maksudmu aku akan ikut ke Kaijou dan Touo sebagai perwakilan berdua denganmu?" Tetsuya mengangguk.
"Kau tak keberatankan?" Tanpa perlu berpikir lagi, Momoi segera mengangguk.
"Tidak sama sekali, aku akan menemanimu, Tetsu-kun" Mendengar jawaban yang memuaskan dari Momoi, Tetsuya merasa lega sekaligus merasa jika bebannya sedikit terangkat. Ia tersenyum dan menepuk puncak kepala Momoi yang halus.
"Arigatou, Momoi-san" Jika saja Momoi tak sadar ini masih ada di mobil Tetsuya, bisa saja dia pingsan karna merasakan panas yang membakar di dada dan pipinya. Tak berapa lama, Tanaka memberhentikan Mobilnya dan tersenyum ramah.
"Nona Momoi, kita sudah sampai" Ucap Tanaka Sopan.
"Aku duluan Tetsu-kun" Momoi segera turun, namun tangan Tetsuya menghentikan langkah kakinya. "Tetsu-kun?" Tetsuya masih diam menatap Momoi yang sudah memiringkan kepalanya bingung.
"Ah, Gomen" Tetsuya segera melepaskan pegangan tangannya dan tersenyum kikuk. "Hati – hati Momoi-san" ucapnya bingung.
"Un" Jawab Momoi.
Iris biru Tetsuya menatap Momoi yang siap masuk ke dalam rumahnya, masih jelas terlihat lambaian tangan juga helaian rambut panjang Momoi yang tertiup angin. Tetsuya tersenyum lembut bahkan matanya sama sekali tak berkedip sama sekali hingga punggung kecil Momoi tak terlihat lagi. Tanaka yang menyetir melihat dari kaca kecil di mobilnya, ia ikut tersenyum melihat tingkah sang Tuan muda yang beranjak menjadi seorang remaja dewasa.
"Dia sudah masuk ke dalam rumah, Tetsuya-sama" Goda Tanaka, buru – buru Tetsuya berpaling dan memposisikan dirinya seperti semula seolah tak terjadi apa – apa.
"Aku tak memperhatikan dia, Tanaka-san. Lebih baik kita pulang, aku sangat lelah" elak Tetsuya, Tanaka sendiri sudah tertawa pelan.
"Haii, Tetsuya-sama"
Tanaka mengendarai mobilnya menuju kediaman keluarga Akashi. Laju mobil tak terlalu cepat juga tak terlalu lambat namun membawa penumpangnya dengan selamat. Begitu sampai di depan gerbang, beberapa penjaga sudah siap membuka pintu gerbang bahkan beberapa pelayan sudah siap menyambut sang Tuan muda di depan pintu. Sesampainya di depan pintu rumah, Tanaka bermaksud memberitahu Tetsuya, tapi pemandangan yang sama kembali ia lihat.
"Tetsuya-sama" Gumam Tanaka Lirih.
Tetsuya yang berada di kursi belakang terlihat tertidur dengan pulas, wajahnya tenang dan damai seolah telah melepaskan segala beban yang telah ia tanggung selama ia terjaga. Dengkuran ringan terdengar dari bibir sang tuan muda, sangat manis juga polos. Jika saja Tanaka tak mengenal bagaimana kehidupan Tetsuya dari lahir hingga sekarang, ia pasti mengira remaja bersurai Baby Blue ini adalah remaja yang sama seperti lainnya, tanpa beban dan bisa menikmati masa sekolah penuh kebahagiaan juga kepolosan menjelang kedewasaan. Tanaka menghela nafas dan segera menggendong Tetsuya masuk ke kamar, ia tak ingin membangunkan sang tuan muda.
"Oyasumi, Tetsuya-sama" bisik Tanaka ketika ia menggendong Tetsuya di punggungnya. Begitu ringan, bahkan jauh lebih ringan dari yang bisa ia ingat akhir – akhir minggu ini.
Memang, tuan mudanya yang satu ini lebih kurus dibanding kakak – kakaknya yang lain. Sulit membuat tubuh sang Tuan muda untuk naik, tapi sangat mudah membuat tubuhnya turun terlebih karna seringnya ia sakit. Begitu sampai di lantai 2 – tepatnya di kamar Tetsuya – Tanaka seperti biasa melepaskan sepatu, kaos kaki juga blazer yang masih Tetsuya kenakan.
Dengan cekatan, ia mengganti pakaian sekolah dengan piyama yang lebih nyaman untuk Tetsuya. Sudah terbiasa, bahkan Tetsuya juga tak pernah merasa risih jika kelima kakaknya maupun Tanaka menggantikan pakaiannya dengan piyama karna saat ia sakit, jarum infus sering mengganggunya saat mengganti pakaian. Selimut tebal sudah disiapkan untuk membungkus tubuh lelah itu untuk masuk ke dalam alam mimpi. Walau tubuh Tetsuya masih sedikit lengket karna baru selesia latihan, tapi itu tak masalah jika besok pagi Tetsuya membersihkan diri sebelum ke sekolah.
Keesokkan harinya, Tetsuya bangun pagi seperti biasa dan segera bergegas kesekolah dengan langkah yang terburu – buru. Sebenarnya ia tak kesiangan, tapi ia ingin segera ke sekolah untuk mengambil proposal festival yang tertinggal di sekolah sekaligus menjemput Momoi yang akan menemaninya. Celana panjang berwarna hitam dan kemeja putih telah ia kenakan, tak lupa tas sudah tersampir di bahu kirinya. Dengan langkah terburu – buru Tetsuya memanggil sang pelayan pribadi.
"Tanaka-san, aku akan berangkat sekarang. Tolong siapkan mobil dan antarkan aku" teriak Tetsuya. Mendengar permintaan Tetsuya, Tanaka hanya bisa mengikutinya. Namun, langkah Tetsuya terhenti saat ia tak sengaja menabrak seseorang. "Gomennasai, aku tak mel—" Dahi Tetsuya mengerut saat melihat seseorang berdiri dengan tegap di depannya. "Sei – Nii?"
Terkejut juga merasa tak percaya ia akan melihat salah satu kakaknya pagi ini. Jujur, beberapa bulan belakangan ia tak pernah melihat kakaknya sama sekali. Selalu saja ada alasan yang mengatas namakan pekerjaan juga profesi yang mereka lakukan. Tapi kali ini, Tetsuya sama sekali tak mengerti sekaligus terkejut karna sang kakak berdiri di depannya dengan stelan pakaian kantor yang rapi.
"Mau ke sekolah Tetsuya?" suara itu, suara yang familiar untuk Tetsuya, tapi dengan nada yang berbeda. Serasa melihat orang yang ia kenal juga tak ia kenal secara bersamaan. Tetsuya mengangguk, sebagai jawaban dari pertanyaan Seijuurou. "Kenapa sepagi ini?"
"Aku harus mengambil Proposal dan menjemput Momoi-san"
"Lupakan saja Proposal itu"
"Maksudnya?"
"Lupakan saja proposal yang temanmu buat, isinya sama sekali tak menarik. Lebih baik kau buat ulang, kau juga masih memiliki waktu 1 jam untuk mengetik ulang. Aku rasa itu cukup" Tetsuya mengerut bingung, benar – benar tak mengerti maksud dari kakak sulungnya.
"Kenapa? Bukannya kami sudah membuatnya?" Protes Tetsuya.
"Itu hanya proposal sampah Tetsuya, lebih baik kau kerjakan ulang bersama temanmu yang bernama Momoi itu. Ku rasa ide kalian akan di terima untuk Festival kalian" Tetsuya membulatkan mata tak percaya, kenapa kakaknya yang satu ini bisa tau?
"K-kenapa Nii-san tau?" Seijuurou tertawa renyah juga terkesan menyeramkan.
"Tentu saja, aku tahu karna aku selalu benar Tetsuya, Ingat aku itu absolut" Jika sudah seperti ini, tak ada bisa lagi ia mengelak dan hanya bisa mengikuti ucapan kakaknya.
Tetsuya segera menghentikan pembicaraan itu dan buru – buru menuju Seirin sambil mengetik beberapa bagian proposal dengan laptopnya. Sambil jalan ia terus mengetik dan menuangkan segala ide – idenya juga beberapa ide dari anggota lain yang sudah terlebih dahulu disetujui. Akhirnya, mau tak mau Tetsuya mengikuti saran kakak sulungnya dan mengganti semua isi proposal. Hari itu Tetsuya menyadari satu hal, sang kakak sebenarnya memperhatikan setiap apa yang ia lakukan. maka sedikit saja ia hampir melakukan kesalahan, maka sang kakak akan bertindak sebelum ia bertingkah ceroboh.
"Arigatou Nii-san, tapi.. aku bisa melakukan ini sendirian."
To Be Continue...
HAii minna,,, maaf belum bisa balas buat yang comment.. tapi tenang ajah.. liat ingat siapa ajah yang coment dan kasih masukkan... hm... kemarin kan sempat telat, jadi minggu ini Lian update 2 chapter langsung... hehehehehehehe... jujur sih, lian udah ngetik lebih dari 10 chapter.. tapi sayangnya masih butuh revisi juga sedikit perbaharuan biar gak OOC (meski ini bagian paling sulitnya).
makasih buat dukungannya... sampai jumpa di chapter 8 - Winter Cup...o_^
