Tittle : White Crystal
Maincast : -Akashi Seijuurou
- Kuroko Tetsuya
- Aomine Daiki
- Kise Ryouta
- Murasakibara Atsushi
- Midorima Shintarou
Suport Cast : - All of Kuroko No Basuke Chara
Author : Lian (VT_Lian1995)
Genre : Family, Slice Of Life, School Life, Brotheship, Little Comedy, Sad, Hurt.
Attention : This chara not mine, this chara from Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi – sensei.
Little information : Seluruh nama Cast akan menggunakan nama Akashi karna ini berhubungan dengan kisah keluarga Akashi. Jadi di mulai dari Tetsuya sampai Shintarou akan menggunakan nama depan Akashi.
Summary : Akashi Tetsuya, bungsu dari 6 bersaudara keluarga Akashi harus menangung beban berat di pundak untuk memberikan kesan betapa hebatnya keluarga Akashi. Tapi sayangnya, apapun yang ia lakukan pasti sudah pernah dilakukan oleh ke – 5 kakaknya. Apapun itu, segala yang Akashi Tetsuya raih seolah hanya sia – sia, terlebih jika dibandingkan dengan fisik ke – 5 kakaknya, Tetsuya jauh lebih lemah, namun tak menampik kemungkinan ia bisa jadi lebih kuat walau usahanya akan mendapat resiko yang tinggi. Ini demi menjunjung tinggi motto dari sang Ayah yang telah tiada "Pemenang akan mengukir sejarah dan yang kalah akan menjadi pecundang yang terlupakan."
"Jika kau katakan menjadi bungsu keluarga Akashi merupakan anugrah, tapi bagiku tidak. Beban yang ku tanggung lebih besar dari Ke-5 saudaraku yang lain"
_ooOOOoo_
Chapter 8
%^Winter Cup^%
Udara berhembus dingin menyapu helaian rambut berwarna Baby Blue dan Merah gradasi hitam yang sedang menikmati pemandangan kota dari lantai 4 sebuah apartement. Langit malam terlihat cerah walau tanpa bintang. Hiruk pikuk keramaian kota yang biasanya membuat nafas sesak seolah lenyap dalam sapuan angin malam yang lembut. Terdengar hembusan nafas ringan juga tatapan kagum dari kedua orang dengan surai berbeda warna itu. Si Surai Baby Blue terlihat menatap kota dengan pandangan sendu sedangkan yang satunya memandang langit malam dengan raut wajah cemas. Sesekali si surai merah gradasi hitam melirik ke arah samping, ke arah seseorang yang akhir – akhir ini sering menginap di rumahnya.
"Akashi" panggilnya.
"Hm?" gumam pria itu.
"Kau yakin akan menginap lagi di apartemenku?" Tanya si surai merah gradasi hitam – Kagami Taiga -.
"Apa aku merepotkanmu, Kagami-kun?" tanya pemuda dengan surai Baby Blue – Akashi Tetsuya.
"Tidak, aku tak keberatan dengan itu. Hanya saja aku merasa aneh, sudah hampir 6 bulan ini kau terihat berbeda" Tanya Kagami memutar tubuhnya menghadap ke dalam ruangan dan bersandar di dinding pembatas.
"Mungkin" Tetsuya menjawab singkat.
"Apa kau sedang mengalami masalah dengan kakak – kakakmu yang Brother Complex itu?" Tetsuya menghela nafas, dan menjawab pelan.
"Tidak"
"Lalu kenapa kau bertingkah aneh dan dengan mudahnya kau menginap di apartement yang bisa dibilang hanya apartement biasa, tak sama dengan Mansionmu yang mewah itu" Kagami menggaruk pipinya yang tak gatal.
"Mau besar atau kecil, selama itu nyaman aku tak masalah. Lagi pula Apartemenmu dekat dengan lokasi pertandingan Winter Cup" Tetsuya beralasan tanpa berpaling dari langit malam yang tenang.
"Tapi kau kan masih punya Tanaka-san yang bisa mengantarmu kapapun kau mau"
"Aku tak ingin merepotkan Tanaka-san, akhir – akhir ini pekerjaannya jauh lebih berat"
"Wakatta, lebih baik kita masuk. Besok upacara pembukaan akan dimulai, jangan sampai kau demam karna berada di luar terlalu lama." Tetsuya terenyum kecil dan mengangguk.
"Haii"
2 Pemuda berbeda warna rambut itu memasuki ruangan apartement yang bisa di bilang cukup mewah namun memiliki penampilan yang sederhana. Terdapat 3 kamar di dalam apartemen itu, satu kamar Kagami, satu kamar orangtuanya dan satu lagi khusus kamar tamu. Biasanya yang memakai kamar tamu adalah Alexandra Garcia, pelatih Kagami yang berasal dari Amerika, namun berhubung Alex sedang menikmati kota jepang yang lain, Tetsuya lah yang menempati kamar itu.
Malam ini terasa berbeda dari malam yang biasanya, ketika malam ini berakhir maka hari yang akan menunggu Tetsuya adalah hari dimana ia akan membalaskan dendamnya pada fukuda dan membuat sang kakak mengakui jika ia juga bisa. Berdasarkan intuisi Momoi, di pertandingan pertama nanti, mereka akan langsung melawan Touo, Nakamiya, Yosen, Fukuda, Kaijou dan jika mereka berhasil ke final maka mereka akan bertemu dengan Rakuzan.
Tetsuya melirik ke arah jam weker yang dimiliki oleh Kagami, mengitung setiap detik yang bergulir dengan hembusan nafas yang lelah juga tertekan. Winter Cup kali ini berbeda saat ia masih di Teiko dulu, jika saat itu ia memenangkan Winter Cup karna ia yakin akan kemampuan untuk bisa seperti kelima kakaknya, maka Winter Cup kali ini ia diwajibkan untuk menjadi juara dan menjadikan itu beban tersendiri untuknya. Rasa kantuk menyerang ketika Tetsuya memasang alarm, begitu meletakkan Alarm di atas sebuah meja kecil, Tetsuya mulai memejamkan mata dan menikmati mimpi yang menurutnya lebih indah dari dunia nyata.
Jika ada yang pernah mengatakan waktu berputar lebih cepat dari yang pernah manusia duga, maka itu berlaku bagi Tetsuya saat ini. Serasa baru beberapa jam yang lalu ia tertidur, tapi matahari sudah merengsek masuk kedalam celah jendela dan menandakan hari yang berat telah tiba. Ia bangun bahkan sebelum alarmnya berbunyi, sedikit mengecek Smartphone dan terlihat sebuah E_Mail masuk dari Pelayan pribadinya – Tanaka.
'Semoga pertandingan pertama ini anda menang, Tetsuya-sama'
Singkat, padat juga tulus menggambar pesan singkat dari seorang pelayan yang sudah dianggap seperti seorang ayah bagi Tetsuya. Tetsuya segera bangkit dari tempat tidur dan menyiapkan segala yang dibutuhkan saat pertandingan. Walau ini sulit bahkan tanpa dukungan dari kelima kakaknya, Tetsuya siap untuk bertanding. Jersey Seirin telah ia kenakan, tak lupa pula tas sandang telah selesai ia kemasi. Sepatu olah raga pemberian dari Daiki berwarna Putih biru – hadiah saat memenangkan Inter High- juga telah siap.
"Kau sudah siap Akashi?" tanya Kagami yang sudah mengenakan Jersey Seirin yang sama sepertinya.
"Haii, aku sudah selesai Kagami-kun"
"Yosh, sebelum berangkat kita akan sarapan dulu. Aku sudah membuatkan telur dan Bacon panggang. Ah, aku juga sudah menyiapkan susu vanila untukmu"
"Arigatou Kagami-kun, aku merepotkanmu"
"Tak masalah, oh ya kau masih memiliki vitamin pemberian kakak hijaumu itu kan? Lebih baik kau minum sebelum pertandingan dimuai" Kagami mengingatkan.
"Ano.." Dahi Kagami mengeryit mendengar gumaman Tetsuya. "Sebenarnya Vitamin itu sudah habis 1 bulan belakangan ini, jadi aku sudah tak mengkonsumsinya lagi"
"Apa? Kau tak mengkonsumsi vitamin itu lagi?" Tetsuya mengangguk.
"Haii, tapi itu tak masalah. Aku lebih kuat sekarang" Tetsuya keras kepala.
"Benarkah?"
"Tentu saja"
"Baiklah aku mengalah Akashi." Kagami beranjak menuju dapur dan mengambil makanan yang sudah ia siapkan pagi ini. "Ittadakimasu" ucapnya sebelum makan.
"Hari ini kita akan melawan Touo kan?" Kagami mengangguk, "setelah melawan Touo kita tak ada pertandingan esoknya?"
"Begitulah, memangnya kenapa?" Tanya Kagami Acuh.
"Aku izin tak ikut latihan Kagami-kun"
"EH? Kenapa?"
"Hari itu ada final Debat Bahasa Inggris, dan aku masuk final. Jadi aku tak ikut latihan selama satu hari. Aku juga sudah meminta Momoi untuk memberikan data mengenai pertandingan besok, jadi kalian tak perlu khawatir dengan ketidakhadiranku besok" Tetsuya menyelesaikan sarapan paginya dengan porsi kecil.
"Kau terlalu banyak mengikuti kompetisi Akashi, lebih baik kau beristirahat dan fokus pada satu kompetisi. Ini musim dingin, dan aku tau kau rentan saat musim dingin"
"Daijoubu desu. Selama aku tak memikirkan hal negatif, aku yakin aku masih mampu bahkan dengan jadwalku yang penuh"
"Jadwal penuh?"
"Haii, Saat ini aku sedang mengikuti banyak Kompetisi dan rata – rata jadwalnya hampir bertabrakan dengan jadwal Winter Cup, beruntung pertandingannya sore dan malam hari, jadi pagi hari aku bisa mengikuti kompetisi lainnya" Kagami sontak menurunkan sumpit yang ia gunakan untuk makan.
"Kau terlalu memaksakan dirimu, Akashi. Lebih baik kau berhenti mengikuti kompetisi – kompetisi itu, fokuslah pada Winter Cup dulu dan setelahnya kau bebas melakukan apapun"
"Kalau begitu tak bisa Kagami-kun, aku tak akan bisa mengejar kelima kakakku. Ini lebih baik dari pada fokus pada satu hal saja"
"Kau ini keras kepala, Akashi" Sentak Kagami.
"Mungkin" Tetsuya menjawab acuh.
"Maa, lebih baik kau siapkan sarapanmu itu. Aku yakin sebentar lagi Coach akan menelpon dan memarahi kita kalau sampai terlambat."
"Aku sudah selesai Kagami-kun, terima kasih atas makanannya" Perempatan merah langsung muncul di dahi Kagami, selain keras kepala ternyata seorang Akashi Tetsuya bisa membuatnya sekesal ini.
"Apanya yang selesai TEME! Kau bahkan tak menghabiskan sarapanmu!" Kagami sudah mengacak kasar rambutnya karna frustasi.
"Ini terlalu banyak Kagami-kun" Tetsuya menjawab kalem.
"Apanya yang banyak, Baka! Dua butir Telur, Bacon dan sepotong roti kau bilang banyak? Aku bisa mati di buat keempat kakakmu itu tau!" Teriak Kagami yang tersulut Emosi.
"Daijoubu desu, mereka tak akan berbuat apapun padamu Kagami-kun" Tetsuya menghela nafas dalam dan menatap sekeliling sendu. "Mereka sedang sibuk sampai akhir tahun bahkan mungkin sampai awal Tahun. Sei-Nii benar – benar membuat kami memprioritaskan kesempurnaan dalam bidang yang kami pilih kecuali aku yang masih harus berusaha mempertipis jarak yang mereka buat semasa seusiaku dulu"
Mulut Kagami terkatub melihat ekspresi Tetsuya yang semakin hari terlihat semakin tertekan. Walau wajahnya masih saja datar dan jarang menunjukkan ekspresi di depan orang lain, tapi Kagami sudah mengenal Tetsuya lebih dari 8 bulan dan ia mulai bisa membedakan ekspresi Tetsuya walau topeng datar selalu Tetsuya kenakan. Merasa tak ada lagi hal yang akan di katakan, Kagami buru – buru menghabiskan sarapan yang ia buat dan segera menuju ke Gym bersama Tim Seirin yang sudah menunggu mereka.
Bagi Tetsuya, melihat suasana Gym yang ramai juga bagaimana rasanya berdiri di lapangan adalah hal yang tak terlalu mengejutkan lagi. Upacara pembukaan, pertandingan awal hingga perempat final, Semi final bahkan final sudah pernah ia rasakan. Walau kali ini ia rasa ada yang sedikit berbeda, tapi tetap saja ia sudah pernah merasakan semasa duduk di bangku menengah pertamanya.
Kali ini, Tetsuya kembali berdiri di tengah lapangan Gym yang lebih luas dibandingkan saat ia di bangku sekolah menengah pertama. Bangku – bangku penonton sudah penuh, teriakkan penonton juga semangat terus mengaung di telinga mereka. Bagi penonton, pertandingan ini hanya menentukan siapa yang akan menjadi pemenang dan melanjutkan ke babak selanjutnya. Seirin juga berfikir demikian, tapi untuk Momoi dan Tetsuya, pertandingan ini adalah penentuan kerjasama untuk festival setelah Winter Cup nanti.
"Kita harus memenangkan pertandingan pertama ini, Seirin tak akan kalah dan tujuan kita adalah memenangkan Winter Cup. Pertandingan pertama adalah langkah awal, jangan sampai Lengah" Riko memberikan intruksi.
"Ma, kita tak akan kalah" Hyuuga ikut mendorong. "SEIRIN FIGHT!"
"HAII!" teriak pemain starter.
"Ayo kita bersenang – senang" Kiyoshi tak melupakan ucapan sehari – hari yang ia sukai. Pemain Starter mulai memasuki lapangan, namun panggilan Satsuki menghentikan langkah kaki Tetsuya.
"Tetsu-kun, menangkan pertandingan ini. Touo pasti jauh lebih kuat dibanding saat Inter high. Onegai" Momoi memberikan ekspresi penuh harap.
"Tentu saja Momoi-san, kita tak akan kalah walau lawan kita yang pertama adalah Touo yang kuat" Tetsuya kembali menepuk puncak kepala Momoi dan bergegas menuju lapangan.
Tipp Off babak pertama dimulai, seluruh pemain mengeluarkan seluruh tenaga untuk bisa memenangkan pertandingan pertama. Teknik – teknik luar biasa juga dikerahkan oleh masing – masing tim. Touo yang selalu menggunakan permainan individu yang hebat melawan permainan Seirin dengan menggunakan permainan Tim yang cepat merupakan pertandingan yang membuat antusias penonton semakin meningkat.
Seirin menggunakan Run and Gun untuk menembus pertahan Touo, sebaliknya Touo menggunakan serangan balik dengan Three Point milik Sakurai Ryo. Pertandingan berlanjut menjadi pertandingan yang menegangkan di setiap Quarternya. Adu taktik juga kemampuan diperlihatkan, tak jarang Ace mereka One On One sampai memasuki Zone. Pertandingan yang tak ingin diselesaikan tapi harus diselesaikan. Riko bergerak gelisan melihat waktu yang sudah mau habis tapi Score yang di cetak selalu berkejar – kejaran dalam hitungan detik, dan saat yang ditunggu – tunggu tiba, Buzzer Beater yang dilakukan oleh pasangan Cahaya dan Bayangan berhasil membawa mereka menuju kemenangan.
Teriakkan kemenangan pertandingan pertama menggema di lapangan, pelukkan semangat, High Five kebanggaan dan saling bertubrukkan satu sama lain menjadi pemandangan yang terpampang di tengah lapangan. Riko dan Momoi saling berpelukkan satu sama lain mengekspresikan kemenangan mereka. Selesai merayakan kemenangan dengan teriakkan, kini Seirin merayakan di rumah Kagami dengan makan bersama. Tapi…
"Kagami-kun, kami pinjam dapurmu" Riko memberikan senyuman yang manis beserta Momoi yang sudah memegang sebuah pisau di tangan kanannya. Seirin yang melihat dua wanita dengan catatan buruk dalam memasak itu seketika membeku di tempat.
"Kami akan membuat makanan yang special untuk kalian" Momoi bersemangat.
"Lebih baik kita cepat memasaknya Momoi-chan, aku yakin mereka sudah kelaparan"
"Tentu saja, aku juga ingin membuatkan makanan yang enak untuk Tetsu-kun" Begitu Momoi menyebut nama Tetsuya, tatapan horor para Senpai tertuju pada pria bersurai Baby Blue.
"Ano Momoi-san, Aida Senpai" panggilnya ragu.
"Ya, Tetsu-kun/Akashi-kun" Ucap Riko dan Momoi bersamaan.
"Boleh aku memberi saran?" Alis Momoi dan Riko Tertaut, menunggu saran apa yang akan diberikan oleh Tetsuya. "Mungkin lebih baik Kagami membantu kalian memasak, aku yakin kalian akan kerepotan memasak makanan yang banyak"
'Yosh, bagus Akashi' Teriak para Senpai dalam hati.
"Daijoubu Desu, Akashi-kun. Kami bisa memasaknya berdua" Riko menolak saran dari Tetsuya.
'Mati! Kami akan mati. Tolong kami Akashi!'Para Senpai juga Trio Junior memasang wajah memelas ke arah Tetsuya, ia menghirup nafas dalam dan menatap ke arah Momoi, walau ini terlihat seperti memanfaatkan, tapi setidaknya inilah yang bisa menyelamatkan para Senpai dari masakan antah berantah yang akan dibuat oleh Momoi dan Riko.
"Momoi-san, aku senang kau akan memasak untukku dan Senpai Tachi. Bukan berarti aku tak percaya akan masakanmu, aku hanya ingin masakan yang kau buat terasa lebih sempurna dengan bantuan Kagami-kun. Bagaimana?" Seperti anak panah cinta yang menembus jantungnya, Momoi tanpa berfikir lagi langsung mengangguk.
"Kagamin, Onegai!" seluruh orang yang di sana langsung bernafas lega karna Momoi dengan mudahnya mengabulkan permintaan dari Tetsuya.
Malam itu mereka berpesta kecil – kecilan untuk merayakan kemenangan atas Touo. Makanan yang disediakan juga terasa begitu enak dan tak semenyeramkan yang dibayangkan karna Kagami membantunya. Riko juga tak memasukkan vitamin juga suplement yang bisa mengganggu rasa asli dari masakan itu. Seirin makan dengan lahap kecuali Tetsuya yang hanya makan beberapa suap dan menghilang dengan Misdirection atau mungkin karna hawa keberadaannya yang tipis. Ia segera ke balkon untuk melihat langit malam yang tenang, sangat tenang sampai ia merasa jika itu Cuma mimpi.
Seirin terus menikmati makan malam bersama hingga kini mulai malam semakin larut, beruntung saat itu Tanaka datang menjemput. Riko dan Momoi diantar menggunakan mobil jemputan Tetsuya sedangkan tim Seirin yang lain pulang naik kereta api malam. Satu persatu para gadis diantar oleh Tanaka, pertama Riko lalu Momoi. Jika Riko hanya biasa saja, maka Momoi akan lain jadinya. Sebelum turun, Tetsuya sempat menarik tangan Momoi dan memberikan pesan.
"Jangan lupa data untuk lawan selanjutnya, besok aku akan memintanya" Momoi mengangguk singkat.
"Akan ku buat sedetail mungkin, bahkan apa yang akan mereka lakukan juga akan ku buat. Pertandingan kita selanjutnya melawan Nakamiya, tak perlu di khawatirkan, kita bisa menang dan kau bisa fokus untuk mengumpulkan ha—" ucapan Momoi terputus saat jari telunjuk Tetsuya tertempel di bibirnya.
"Itu rahasia kita Momoi-san" Momoi diam seribu bahasa, bahkan apa yang akan ia katakan sudah menguap entah kemana. Gerakkan kecil dari Tetsuya benar – benar membuatnya kehilangan kata – kata.
"J-Jya, matta ne" Cuma satu kata yang bisa Momoi lontarkan saat ini. Jantungnya yang sudah terpacu dengan rasa panas di pipi.
"Matta ne" Jawab Tetsuya dengan senyuman lembut. Lambaian tangan menjadi akhir dari pembicaraan singkat itu. Tanaka yang melihat pemandangan menarik tak henti – hentinya tersenyum.
"Dia Gadis yang manis Tetsuya-sama" Tetsuya mendengus kecil.
"Lalu?" Tetsuya menaikkan alisnya berusaha acuh dan mengeluarkan sebuah koran berbahasa inggris yang memberikan topic tentang Go Green untuk topic debat bahasa inggrisnya besok.
"Bukannya anda menyukainya, Tetsuya – sama" Goda Tanaka.
"Apa menurutmu begitu?" Tanya Tetsuya balik yang matanya tak henti – hentinya menatap ke koran.
"Saya juga pernah muda, jadi saya tau bagaimana rasanya jadi remaja. Kenapa tidak mencoba saja, Tetsuya-sama?" Tetsuya menghela nafas dan meletakkan korannya di dalam pangkuan.
"Aku masih belum memikirkan hal yang seperti itu, Tanaka-san. Fokus utamaku saat ini adalah memenuhi perintah Sei-Nii untuk menjadi yang terbaik dan bisa mengalahkan mereka semua." Tetsuya memejamkan kedua matanya, ntah kenapa ia merasakan pusing yang menyerang. "Aku harus bisa mengejar mereka, Tanaka-san. Sei-Nii juga sudah memperingatiku, jika aku kalah, aku harus melepas Marga Akashi yang ku sandang" Tanaka mendengar itu Cuma bisa menghela nafas.
"Aku yakin ini sangat berat untukmu, Tetsuya – sama" Tetsuya masih mendengar ucapan Tanaka walau kepalanya terasa mau pecah karna pusing yang menyiksa, berusaha bersikap biasa, ia menyenderkan kepalanya di sandaran kursi mobil.
"Tak hanya berat Tanaka-san, ini sangat membebaniku. Jika boleh memilih, aku ingin melepas marga Akashi yang ku sandang dan berubah menjadi marga Kaa-san. Tapi, walaupun aku bisa melepasnya, tetap saja darah keluarga Akashi masih mengalir ditubuhku." Tetsuya sudah diambang kesadaran, seketika bergumam pelan. "Aku lelah, Tanaka-san" Begitu lirih, sangat lirih nyaris terdengar seperti bisikkan tapi Tanaka bisa mendengarnya.
Tak ada lagi pembicaraan selama perjalanan berlangsung, Tanaka tau jika Tetsuya sudah tak sadarkan diri dari tadi. Ia membiarkannya begitu saja, ia hanya ingin Tetsuya istirahat dan melupakan penat yang selalu menghantuinya. Seperti biasa, Tanaka akan menggendong Tetsuya di punggungnya, tapi begitu sampai di depan pintu, Pria bersurai ungu berdiri di depan pintu menatap malas namun tersirat rasa khawatir juga kerinduan yang mendalam. Perlahan ia mendekat dan menatap pria bersurai Baby Blue yang ada di punggung Tanaka.
"Tanaka-chin, apa terjadi sesuatu pada Tetsu-chin?" tanyanya malas, tapi satu tangannya mengelus helaian Baby Blue yang sudah memanjang juga terasa lebih halus.
"tidak ada, Atsushi-sama. Tetsuya-sama hanya kelelahan dan ketiduran di mobil" Tanaka berbohong.
"Kalau hanya kelelahan, kenapa Tetsu-chin kelihatan lebih pucat dan kurus? Apa karna aku tidak pernah membuatkannya sarapan?" Tanya Atsushi dengan tangan yang masih sibuk mengelus surai Baby Blue itu.
"Atsushi – sama tidak salah, tanpa atsushi – sama, para Maid yang lain juga sudah membuatkan sarapan untuk Tetsuya – sama. Atsushi – sama tak perlu khawatir tentang pola makan Tetsuya-sama, para Maid sudah menyiapkan menu seperti biasa"
"Soukka" Atsushi masih betah mengelus surai Baby Blue yang ia rindukan itu, perlahan bibir Tetsuya bergerak saat ia merasakan elusan ringan di kepalanya. Tanpa membuka mata, Tetsuya mengigau.
"Atsushi-Nii" Atsushi tersenyum kecil, ternyata sang adik juga merindukkannya. Bahkan hanya dalam tidurnya – atau baru sadar dari pingsannya, ia bisa mengigau seperti itu.
"Tanaka-chin, boleh aku yang membawa Tetsuya ke kamarnya?" Tanaka tak membantah, ia segera memindahkan Tetsuya yang ada di punggungnya ke punggung Atsushi dan membiarkan pria tinggi itu membawa adik kesayangannya ke kamar. "Arigatou, Tanaka-chin" ucap Atsushi saat merasakan Tetsuya mendapatkan posisi nyaman di punggungnya.
"Sama - sama, Atsushi-sama"
Atsushi melangkahkan kakinya perlahan agar tak mengganggu tidurnya Tetsuya. Sedikit demi sedikit ia mulai menaikki salah satu anak tangga hingga sampai di kamar Tetsuya. Segera ia membukanya perlahan dan meletakkan Tetsuya di tempat tidur. Ia melepaskan Jersey Seirin yang masih Tetsuya kenakan, menggantinya dengan kaos polos. Tak lupa, Atsushi menyelimuti tubuh Tetsuya dengan selimut dan membiarkan sang adik melepaskan segala lelahnya dengan istirahat.
Wajah Tetsuya begitu tenang juga damai dalam tidurnya, dengkuran kecil keluar dari bibir mungil yang terlihat lebih pucat. Atsushi merapikan poni sang adik yang berantakkan dan mengecupnya. Ia benar – benar rindu ingin memanjakkan sang adik seperti dulu, menggendongnya di punggung sembari menggodanya. Ah, mengelus surai Baby Bluenya seperti ini saja sekarang sudah sangat sulit, apa lagi melakukan kegiatan seperti dulu.
"Gomen Tetsu-chin, Sei Nii-chin menyuruh kami untuk fokus pada usaha yang sedang kami jalani. Shin Nii-chin sekarang sering melakukan operasi di luar kota, Daiki-chin juga sedang menangani kasus rumit diberbagai tempat dan Ryouta – Chin sekarang sudah mendapat izin terbang sebagai Pilot tapi masih menjadi Co Pilot yang perlu menambah pengalaman. Tak hanya itu, Ryouta-chin juga masih sering melakukan pemotretan di berbagai tempat yang ia datangi jadi tak ada waktu untuk pulang"
Atsushi masih betah menyisir surai Baby Blue yang lembut itu. Tak jarang ia merapikan kemudian mengelusnya lembut. Walau ia memiliki tangan besar yang kuat, bukan berarti ia tak bisa menjadi lebih lembut. Jujur saja, Atsushi merasakan lelah yang luar biasa karna restoran yang di Akita memiliki pelanggan tetap yang banyak. Setiap jam makan siang dan malam selalu penuh bahkan sampai ada yang memesannya terlebih dahulu. Alasan utama Atsushi jarang di rumah karna lebih sering ia mengurus restoran yang ada di Akita dibanding yang ada di Tokyo. Tak hanya itu, beberapa acara memasak sering mengundangnya di berbagai tempat di Osaka, Kyoto dan kota – kota lainnya. Fokus kerja membuatnya menjadi jarang di rumah dan tak bisa lagi memanjakan si bungsu.
Ciiiet..
"Sumimasen mengganggu, Atsushi-sama. Tanaka-san menyuruh saya untuk meletakkan ini di kamar Tetsuya-sama" Mabuchi sang kepala pelayan masuk dengan hormat.
"Apa itu Mabu-chin?"
"Ini jadwal Tetsuya-sama untuk 2 hari kedepan yang diatur ulang" Mabuchi menyerahkan sebuah kertas jadwal Tetsuya. "Saya permisi dulu, Atsushi –sama" Atsushi membaca kertas jadwal itu, tertera lengkap kegiatan Tetsuya selama dua hari yang detail, ia bisa membaca jika Tetsuya berhasil masuk final debat bahasa inggris dan lolos ke babak selanjutnya di Winter Cup.
"Omedetou, Tetsu-chin. Kau berusaha dengan keras, Gomen tak bisa mendukungmu secara langsung"
Atsushi menundukkan kepala dan tanpa ia sadari setetes airmata mengalir dari kedua matanya. Miris dan merasa menjadi kakak yang buruk karna tak tau jika sang adik berhasil lolos di Winter Cup. Sungguh, Atsushi merasa malu pada dirinya sendiri karna ia tak bisa melakukan apapun untuk adiknya yang berjuang mati – matian. Kamar itu menjadi saksi bagaimana Atsushi menghapus airmata yang sempat terjatuh dan mengecup kembali dahi Tetsuya sebagai ucapan maaf sekaligus semangat yang tak bisa ia katakan secara langsung.
_ooOOOoo_
Hari - hari yang dilalui Tetsuya berjalan berdasarkan apa yang telah di jadwalkan. Kejuaraan – kejuaraan yang ia ikuti berhasil dengan sempurna tanpa ada yang cacat sedikitpun. Tersisa 3 hari menjelang semi final dan final. Untuk masuk ke semi Final, Seirin berhadapan dengan Fukuda. Wajah – wajah meremehkan tertera jelas di sana, seragam merah dengan wajah sangar yang membuat siapapun sedikit bergidik. Tak luput, Pelatih mereka berbeda dengan pelatih yang sebelumnya pernah mereka lihat.
Rambutnya bergaya pemain Amerika yang gimbal berwarna hitam dengan ujung yang berwarna putih. Matanya tajam menyiratkan kebencian dan betapa brutalnya sang pelatih, sementara para pemain terlihat seperti petinju yang siap menghajar lawannya padahal ini adalah permainan basket. Seirin sendiri sudah bersiap untuk menghadapi Fukuda dengan strategi baru juga prediksi – prediksi dari Momoi yang akurat, bahkan pelatih yang bergantipun sudah ia beritahu sebelumnya.
"Baiklah, hari ini yang akan menjadi Starter adalah Teppei, Hyuuga-kun, Kagami-kun, Izuki-kun dan Mitobe-kun" Riko melirik ke arah Tetsuya, "Kau akan masuk di Quarter terakhir, Akashi-kun" Tetsuya tak terkejut mendengar ia akan di masukkan saat Quarter terakhir, efek dari kejuaraan yang ia ikuti sekarang mulai terasa.
"Haii" jawabnya pelan.
"Saa! Pergi dan menangkan pertandingan ini" perintah riko.
"SEIRIN FIGHT!" Teriak Hyuuga.
"HAA!" teriak Seiring semangat.
"Ayo kita bersenang – senang" ucapan Kiyoshi mengakhiri pembicaraan sebelum bertanding. Di bangku bench, Tetsuya duduk diam sembari memperhatikan permainan yang akan segera di mulai.
Jujur saja, beberapa hari terakhir kesehatannya menurun drastis akibat kelelahan juga karna daya tahan tubuhnya mudah turun saat musim dingin. Sekarang saja ia masih mengenakan syal di leher untuk menghangatkan tubuhnya, pernah beberapa kali saat pertandingan ia hampir pingsan dan beruntungnya Kagami maupun Hyuuga berada di dekatnya, jika tidak mungkin ia sudah terjatuh di lantai. Setiap selesai pertandingan, Seirin selalu merayakannya di Maji burger atau di apartemen Kagami. Tim Seirin akan makan dengan lahap tapi berbeda dengan Tetsuya, selera makannya juga semakin menurun bahkan tak jarang Momoi memaksanya makan dengan ancaman makan sendiri atau ia akan menyuapinya.
Alhasil Tetsuya mengalah dan makan walau hanya sedikit, namun sayangnya begitu beberapa suap rasa mual menyerangnya dan ujung – ujungnya perut yang sudah terisi kembali kosong. Merasa kesehatannya semakin menurun, Tetsuya sudah tak pernah lagi menginap di apartemen Kagami, terlebih ia akan membuat Kagami kerepotan. Riko yang memiliki mata istimewa dan mampu menganalisis tubuh pemain, dengan mudah menyadari kondisi Tetsuya. Awalnya ia menyuruh agar Tetsuya beristirahat, tapi Tetsuya keras kepala ingin ikut bermain. Riko mengambil sebuah keputusan dimana Tetsuya hanya boleh bermain di Quarter terakhir dan jika keadaan mendesak, ia hanya boleh bermain selama 2 menit di setiap Quarter.
"Heih~~ Ternyata dia bukan Starter, ini tak akan jadi pertandingan yang menarik" Sang pelatih tersenyum remeh, "Oi! Kalian tekan Seirin dan buat si Baby Blue itu masuk ke lapangan dan saat ia sudah masuk, awasi dan hancurkan" Ucap sang pelatih.
"HAII!" Teriak pemain fukuda. Kini Seirin dan Fukuda berbaris berhadapan untuk memulai permainan.
"Yoroshiku Onegaishimau" Tipp Off Seirin Vs Fukuda di mulai.
Seirin memulai pertandingan dengan serangan yang mengerikan, namun sama sekali tak bisa membuat Score karna bertahanan yang kuat. Hampir sama seperti permainan Kirisaki Dai Chi, Fukuda memakai taktik licik yang membuat beberapa pemain saling bertubrukkan dengan keras. Quarter pertama dilalui dengan Score yang sama sekali tak memuaskan, 10 : 24 kemenangan untuk Fukuda di Quarter pertama. Saat Quarter kedua dimulai, Fukuda malah menyerang semakin brutal dan membuat jarak Score yang semakin jauh. 14 : 40. Salah satu pemain mendekati Bench dan menunjuk ke arah Tetsuya.
"Kau Akashi Tetsuya bukan?" Tetsuya mengeryit, "Sampai kapan kau akan duduk diam disana, baka? Tunjukkan pada kami jika marga Akashi yang kau sandang itu bukan sekedar marga saja." Pemain itu menyeringai, "Cih! Aku tak menyangka pertandingan ini jauh lebih mudah dari saat kita latih tanding." Pemain itu terus meremehkan Tetsuya dan seorang pemain lainnya menepuk pundak pemain itu.
"Sudahlah, keluarga Akashi yang katanya selalu sempurna itu hanya omong kosong. Terbukti mereka memiliki kecacatan disini" Tangan Tetsuya mengepal dengan ekspresi kemarahan yang kuat. "The Phantom Six Man hanyalah sampah dalam keluarga Akashi" Cukup, Tetsuya muak dengan ucapan itu, ketika dua orang yang menghampirinya pergi, Tetsuya langsung berdiri dan melepas syal beserta jersey yang ia kenakan.
"Coach, masukkan aku ke lapangan" Riko mengerti perasaan Tetsuya saat itu, percuma saja melarangnya saat ini.
"Baiklah, kau akan masuk sekarang Akashi-kun, tapi jika terjadi sesuatu padamu, aku akan menarikmu keluar" Tetsuya mengangguk paham mendengar ucapan Riko.
"Jangan memaksakan dirimu, Tetsu-kun" Gumam Momoi yang masih didengar oleh Tetsuya.
"Haii, Ittekimasu"
Prrriiittt.
"Seirin member Changing" Hyuuga, Kiyoshi, Kagami, Izuki langsung tersenyum kecil melihat pemain yang mereka tunggu tiba.
"Yo! Kita tunjukkan basket yang sebenarnya" ucap Kagami yang menatap tajam ke arah Fukuda. Tetsuya mengangguk dan menampilkan wajah serius sebagai jawabannya.
"Akhirnya dia masuk juga" Gumam Sang pelatih Fukuda. "Akashi akan hancur sekarang juga" Gelak tawa menyeramkan terdengar di sekitar bench Fukuda.
Quarter ketiga berlangsung dengan Seirin yang bangkit, Hyuuga mendapatkan peluang menghasilkan Three Poin dan perlahan – lahan Seirin mulai menyusul ketinggalan. Sang pelatih Fukuda memberikan sebuah senyuman meremehkan, ia sudah tau ini akan terjadi tapi ia telah menyiapkan apa yang akan dilakukan selanjutnya.
"Oi Bocah! Lanjutkan ke rencana kedua!" teriaknya.
3 menit menjelang akhir Quarter ke-3 menjadi mimpi buruk bagi Seirin. Fukuda mulai tak memperdulikan bagaimana cara mereka memasukkan bola ke Ring, membuat berbagai pelanggaran yang disengaja sehingga Seirin mendapatkan banyak pelanggaran. Misdirection Tetsuya tak berfungsi lagi dan satu – satunya cara untuk memenangkan pertandingan adalah menggunakan Misdirection Overflow yang merupakan Bom waktu untuk Tetsuya.
"Tsck! Sial! Tak ada cara lain" Gerutu Riko.
"Riko-senpai, masih ada cara lain sebelum kita menggunakan Misdirection Overflow, lebih baik mereka bermain seperti biasa sampai Quarter ke-3 selesai. Di Quarter ke – 4 aku sudah mengetahui kelemahan dari Fukuda dan di 5 menit terakhir kita akan menggunakan Misdirection Overflow yang memiliki banyak resiko. Tak hanya untuk Tetsu-kun tapi juga untuk Seirin." Jelas Momoi dan di sambut kerutan dari Riko.
"K-kau bisa mengetahui dengan semudah itu Momoi-chan? Bagimana caranya kau bisa tau?" Momoi menatap lurus ke arah lapangan.
"Itu mudah, Fukuda tak hanya mengincar kemenangan atas Seirin, tapi juga memiliki maksud untuk membuat Tetsu-kun mengeluarkan seluruh tenaganya. Aku mendapatkan informasi kalau pelatih mereka pernah bekerja di AKASHI CORP cabang Kyoto dan dipecat"
"D-dari mana informasi itu?"
"Aku mencari sumber data sang pelatih dari mulai dia tinggal hingga sekarang berada di Tokyo, tak butuh waktu lama saat aku mengetahui namanya dan berdasarkan intuisiku, Pelatih itu memiliki dendam sendiri terhadap keluarga Akashi karna pemecatannya sekitar 7 bulan lalu"
"Maksudmu ini bukan hanya pertandingan Winter Cup?"
"Un, ini adalah pembalasan dendam Haizaki Shogo sang pelatih Fukuda"
Wajah Riko berubah semakin serius dengan pernjelasan Momoi ini, Sungguh ini bukan pertandingan main – main. Selesai Quarter Ke – 3, rencana Momoi segera di laksanakan. Adu penambahan Score terus berlanjut hingga menembus angka 100:100, tapi itu tak berlangsung lama saat 5 menit sebelum pertandingan berakhir. Mereka langsung menggunakan Misdirection Overflow yang mengecoh pemain Fukuda. Angka Seirin semakin bertambah dan kemenangan di tangan mereka. Tapi…
"Akashi!"
"Tetsu-kun"
Tetsuya hampir kehilangan kesadaran saat akhir pertandingan, Jika saja Kagami tak menangkapnya. Haizaki tertawa senang melihat apa yang menjadi tujuan utamanya tercapai. Walau timnya kalah, tapi untuk Semi Final dan Final nanti Seirin akan bersiap menghadapi kekalahan yang menyakitkan. Akashi Tetsuya juga akan menjadi kecacatan dalam keluarga Akashi yang sempurna dengan kemenanngan.
"Nikmati kemenanganmu sekarang, karna kekalahan ketika sampai ke Final adalah hal yang paling menyakitkan…" Haizaki menyeringai tajam. "Akashi Tetsuya"
To Be Continue...
Yo minna,,, Gomen Lian baru muncul dan baru sekarang bisa balas Reviews dari semuanya.. Okeh,, Satu persatu bakalan Lian balas..
1. CeiCuyaCelamanya
Hmm... sebenarnya ini masih belum seberapa sih.. masih ada puzzle - puzzle lainnya... masih konflik awal koq,, ^^ (Pasang muka Evil),.. Makasih udah coment,, ^^
2. MaknaExo
Ada koq saatnya mereka semua muncul, apa lagi si cabe - cabean merah (Di rajam gunting).. ntar ada satu karakter lagi yang bakalan muncul dan menjelaskan makna kenapa Akashi Tetsuya gak dipanggil Tetsuya tapi Akashi.. ada saatnya di jelasin sedetail mungkin.. Ini masih konflik awal, jadi belum ke konflik sebenarnya.. Waiting ne, Sehun-ssi (muka polos)
3. Guest 1
Baik - baik saja sampai akhir? Hmm.. kayaknya masih mau di siksa semuanya Hehehehe. (Evil mode on).. Thanks udah Comment... ^^
4. Guest 2
iya udah di update.. ^^ THanks udah nunggu..
5. Guest 3
Lian belum perkirain chapter berapa, tapi lian udah ketik sekitar 16 chapter, dan Konflik puncak masih di Chapter 14.. jadi perkiraan aku sekitar 20 atau mungkin kurang.. Hehehehe,, masing - masing chapter minimal 5000 word (kurang lebih sih).. makasih udah baca ^^
6. Hikari Sakura
Yoroshiku, Hikari-cchi...
maksih yang buat semangatnya.. Lian akan ngetik, tapi ntah sampai kapan.. hehehehe (^_^)v
7. Sri Silvi Wahyu
Oke-ssu... makasih udah mampir.. hehehehehe
8. Guest 4
iya,, insya allah tiap jum'at...
Untuk yang login,,
zhichaloveanime : Makasih udah mampir,, Aah,, seneng ada yang nunggu... Ini udah update..
deagitap : Sebenarnya sih lian ada niat nyelipin Tetsuya sama Momoi, errr. yah sdikit bumbu kisah Lian lha (sesi curhat colongan melalui fanfic #dibunuhreaders)
Sei-channya kurang serem yah.. aaah,, ini yang bikin lian puyeng... kyaknya harus baca FF tntang sei-chan sebanyak - banyaknya lagi.. mksih atas sarannya...
mamitsu27 : Makasih atas sarannya.. errr.. soal bidang, aku juga bidang itu lho (meski bljarnya secara otodidak + banyak kenalan orang jepang).. FF ini niatan aku untuk belajar bahasa lebih luas lagi... (dan sebenarnya aku juga ngikuti cara nulis Author lain #ketahuanSaia).. makasiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih banget udah kasih saran.. XOXO
Dewi15 : udah nih,, silahkan baca,, ^^
: Hehehehe,, seperti itu lah,, pengen bikin yang harmonis2, abis itu di ancurin.. #kabur.. Thanks udah comment..
nicisicrita : Soal itu sih aku malah mikirnya positif,, ntar ada rahasia di balik kado itu koq.. Errrr... soal sakit parah... (#Blank tiba - tiba) Masih rahasia yah.. ^^
shawoldita : iya,, ini masih konflik awal koq.. ^^
Nyanko Kawaii : piero-san? Aah,, LIan tau.. aku juga baca FF dia n always waiting.. Kalau soal bunuh diri sih,Lian gak mikir yang kayak gitu.. Lian gak pengen di sebut Author yang Plagiat, jadi alur cerita udah LIan atur sesuai dengan imajinasi Liar LIan... LIan punya konflik tersendiri yang akan sulit di tebak apa yang akan terjadi selanjut - selanjutnya.. Ini khusus FF lian dan Lian gak ingin FFnya itu memiliki konflik yang sama meski terkadang ada FF yang Lian bikin terinspirasi dari Author lainnya. Bukan berarti Plagiat yah.. Ntar kamu akan tau bagaimana konflik yang sesungguhnya.. Bukan hanya di Tetsuya, tapi DAiki, Ryouta, Shintarou, Atsushi dan Sei Sendiri akan kena Konflik yang berbeda.. Dan ini bukan hanya Kisah Tetsuya, tapi ada kisah lain di balik FF ini.. TUnggu ajah sampai Cast tambahan muncul... Waiting ne... ^^
ChintyaRosita : Udah koq... Happy reading...
Dan sekedar info, Jika menemukan penggambaran karakter yang tidak sesuai,, Lian mohon maaf.. Lian terbiasa dengan mempermainkan karakter - karakter yang jadi Cast di Ff lian.. Terima kasih udah berkenan komentar, lian terima semuanya.. dan untuk masalah yang berbahasa jepang lian pakai, Itu sih kebiasaan Lian ajah.. Banyak Fanfiction - fanfiction di luar sana yang lian baca menggunakan bahasa campuran.. bahkan lebih extream dari yang Lian buat.. Lian udah baca seluruh FF yang kebanyakan dari Wordpress dengan banyak bahasa (Contohnya Korea, Mandarin, Jepang dan Jerman).. meski awalnya sulit mengerti, tapi lama kelamaan lian jadi terbiasa dan ini lah FF yang lian ketik.. Maaf atas ketidak nyamanannya.. m(._.)m
Sampai Jumpa di Chapter 9 : Give Up
