Tittle : White Crystal

Maincast : -Akashi Seijuurou

- Kuroko Tetsuya

- Aomine Daiki

- Kise Ryouta

- Murasakibara Atsushi

- Midorima Shintarou

Suport Cast : - All of Kuroko No Basuke Chara

Author : Lian (VT_Lian1995)

Genre : Family, Slice Of Life, School Life, Brotheship, Little Comedy, Sad, Hurt.

Attention : This chara not mine, this chara from Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi – sensei.

Little information : Seluruh nama Cast akan menggunakan nama Akashi karna ini berhubungan dengan kisah keluarga Akashi. Jadi di mulai dari Tetsuya sampai Shintarou akan menggunakan nama depan Akashi.

Summary : Akashi Tetsuya, bungsu dari 6 bersaudara keluarga Akashi harus menangung beban berat di pundak untuk memberikan kesan betapa hebatnya keluarga Akashi. Tapi sayangnya, apapun yang ia lakukan pasti sudah pernah dilakukan oleh ke – 5 kakaknya. Apapun itu, segala yang Akashi Tetsuya raih seolah hanya sia – sia, terlebih jika dibandingkan dengan fisik ke – 5 kakaknya, Tetsuya jauh lebih lemah, namun tak menampik kemungkinan ia bisa jadi lebih kuat walau usahanya akan mendapat resiko yang tinggi. Ini demi menjunjung tinggi motto dari sang Ayah yang telah tiada "Pemenang akan mengukir sejarah dan yang kalah akan menjadi pecundang yang terlupakan."

"Jika kau katakan menjadi bungsu keluarga Akashi merupakan anugrah, tapi bagiku tidak. Beban yang ku tanggung lebih besar dari Ke-5 saudaraku yang lain"

_ooOOOoo_

Chapter 11

%^Nightmare^%

Putihnya salju menutupi warna – warni kota yang terbiasa dengan pemandangan berbeda. Ranting – ranting pohon yang biasanya ditumbuhi dedaunan hijau, taman kota yang dipenuhi warna – warni kuntum bunga mekar, corak warna kursi taman yang cerah juga atap – atap penduduk yang berbeda warna kini hanya ditutupi oleh warna putih bersih semata.

Orang – orang yang bekeliaran di jalan sibuk mengeratkan syal juga jaket untuk menghalangi udara dingin yang menusuk kulit. Asap tipis keluar dari bibir siapapun yang berada di luar ruangan, tak heran jika sedikit saja udara bertiup maka rasa dingin langsung menyergap tanpa ampun.

Di sebuah rumah sakit terbesar di Tokyo dan sudah terkenal akan dokter muda yang telah diakui di Asia, seorang pemuda bersurai merah tengah duduk di taman kecil di dekat gedung utama. Fikiran pria itu sedikit kacau, bingung dengan keadaan yang ada juga apa yang terjadi dengan dirinya. Bagaimana bisa ia mengatakan dengan mudahnya melepas kelima adiknya hanya demi kesempurnaan? Tunggu, ia merasa asing dengan dirinya sendiri, terlebih pertanyaan si bungsu yang terakhir.

"Boku wa dare?" Gumanya pelan.

Pandangan pria itu menerawang jauh, mencoba mendalami dirinya sendiri dan bertanya pada diri sendiri. Dia siapa? Lalu apa yang terjadi? Kenapa semua terasa rumit? Penyebabnya apa? Begitu pertanyaan – pertanyaan terlontar, dirinya malah semakin tak mengerti karna tak ada jawaban yang ia dapatkan. Ayolah, tak ada hal sulit yang tak bisa dikerjakan oleh seorang Akashi Seijuurou, tapi hanya masalah ini membuatnya bingung.

"Kau sendirian Akashi?" Tegur seseorang. Mata Seijuurou berpaling melihat seseorang yang datang mendekat, awalnya hanya berbentuk siluet pria tinggi dengan rambut berantakkan tapi semakin lama semakin jelas sosoknya.

"Haizaki Shogo" ucap Seijuurou dengan wajah terkejut.

"Ayolah, jangan memasang wajah bodoh seperti itu. Aku bahkan belum mengucapkan Check Mate"

"apa maksudmu?" Seijuurou memicing ke arah Haizaki, bukannya takut, Haizaki malah tertawa keras.

"Sungguh aneh kau bertanya seperti itu, apa kau lupa dengan surat – surat juga benda – benda yang ku kirim ke kantormu Hah? Aah,, Masaka kau tak mendapatkannya? Ck, ternyata kau memiliki bawahan yang payah Akashi" Haizaki meremehkan.

"Aku menerimanya, tapi bagiku itu semua sampah Haizaki. Mereka semua tak akan hancur semudah itu, kau tau?" Haizaki menunjukkan seringainya.

"Baka! Aku tau memang mereka tak mudah dihancurkan bahkan mencari celah kelemahan mereka juga sulit untuk ku dapatkan, tapi setelah aku menemukannya" Haizaki menjetikkan jarinya. "Check Mate"

"Dan itu belum terjadi kan?"

"Kau salah Akashi, justru sekarang waktunya aku untuk mengatakan Check Mate" Haizaki menyeringai sedangkan Alis Sejuurou tertaut. "Aah,, kau pasti tak mengerti. Keluargamu itu sangat mudah dihancurkan Akashi, dan kunci dari Kartu As ku adalah si Baby Blue, Akashi Tetsuya"

"Tetsuya, jangan - jangan kau?!"

"Apa? Kau fikir aku meracuni Baby Blue lemah itu? Ck, aku tak punya waktu melakukan tindakkan bodoh seperti itu. Aku hanya mengikuti alur dari peraturan yang kau buat sendiri Akashi"

"Peraturan?"

"Hah, jangan berpura – pura tolol Akashi. Kau sendiri yang menekan adik – adikmu untuk sempurna, dan hasilnya yang kau lihat sekarang. 1 dari mereka tumbang dan ucapanmu tadi membuat mereka mengerti apa maksud dari sebuah peraturan" Haizaki berjalan santai mengelilingi Seijuurou dengan wajah puas juga penuh kemenangan. "Peraturan dibuat untuk dilanggar, semakin kuat peraturan mengikatmu maka semakin kuat pula rasa keinginan melepaskan diri. Mungkin ini tak sesuai dari rencana awal, tapi ini sudah cukup untuk membuat keluarga Akashi porak – poranda"

"…." Seijuuurou masih belum berbicara.

"Kau memang memiliki segalanya, kekayaan, kesempurnaan juga kejeniusan, tapi sekarang itu tak berarti karna kau sudah membuang kelima adikmu secara terang – terangan dengan melepaskan marga Akashi yang mereka sandang. Bukan aku yang menghapus karir mereka, tapi kau." Haizaki berbisik ke arah telinga Seijuurou. "Pernah mendengar musuh tak terlihat? Jika kau berfikir orang yang ada di depanmu adalah musuh, maka jawabannya adalah salah. Musuh yang paling menyeramkan adalah dirimu sendiri. Aku hanya memberi ancaman di awal dengan mengalahkan Seirin atas kemenangan Fukuda. Selebihnya aku hanya bertugas mengawasi dan menuntun mereka semua ke jalan kehancuran. Aku tak menyangka akhirnya benar – benar seperti salju yang mencair."

"K-Kau?!" Haizaki menengadahkan tangannya untuk menangkap salju putih yang berjatuhan kemudian meremasnya kuat.

"Kalian memang kuat di luar, tapi ada satu sosok rapuh yang ada di dalam. Ketika sosok rapuh itu runtuh, maka tak ada lagi alasan untuk bagian luar memperkuat dirinya jika yang di lindungi sudah hancur." Haizaki tertawa dan saat itu pula Seijuurou tersulut emosi.

"Kau!" Dengan cepat Haizaki menangkis tangan Seijuurou yang hendak memukul pipinya.

"Percuma kau memukulku Akashi, mereka tak akan kembali padamu." Haizaki menghempas tangan Seijuurou kuat. "Nikmati kesempurnaan yang kau banggakan dan nikmati hidupmu yang penuh kesendirian terlebih aku yakin seluruh saudaramu membencimu sekarang. Sayonara, Kaisar sempurna, Akashi Seijuurou" Haizaki berjalan menjauh tanpa berbalik, hanya suara tawa puas yang menggema hingga suara itu menghilang seiring Haizaki menghilang dari pandangan Seijuurou.

Seijuurou mengepalkan tangannya hingga buku – buku jarinya memutih dan emosi yang benar – benar memuncak. Ia tak menyangka jika musuh sebenarnya adalah dirinya sendiri tapi ia lebih tak percaya jika Haizaki lah yang menuntun mereka semua ke jurang kehancuran. Terlambat, Seijuurou terlambat menyadari semuanya. Ancaman – ancaman juga berkas yang sering dikirim Haizaki bukan hanya sebagai ancaman tapi itu pula yang membuat Seijuurou tanpa sadar menuntut kesempurnaan untuk adik – adiknya.

Seijuurou memejamkan matanya dan membukanya perlahan, jelas kentara manik mata yang berbeda warna kini berubah menjadi sepasang merah ruby kembar yang indah. Tanpa sadar dua aliran kecil jatuh dipelupuk matanya, ah sayangnya sedingin apapun cuaca tapi tak bisa membekukan cairan hangat yang keluar tanpa izin. Seijuurou terduduk di kursi rumah sakit dengan tangan yang menutup sebagian wajahnya yang lebih dingin karna tersapu udara dingin.

"Apa yang ku lakukan?"

Sementara itu, di sebuah ruangan luas, 5 saudara dengan surai warna – warni memancarkan raut khawatir saat Si surai Baby Blue masih belum sadar dari pingsannya. Sudah lebih dari 5 jam tapi belum ada tanda – tanda jika ia akan sadar. Ryouta masih setia duduk disamping pemuda itu sambil memegang erat tangannya, sementara itu Daiki berada di seberang tempat tidur terlihat memegang tangan yang satunya berusaha menyalurkan kehangatan.

Shintarou hanya duduk di sofa sembari melipat tangannya, Atsushi yang tadinya duduk di sebelah Shintarou kini terlihat mengemil beberapa Maiubo walau fikirannya sama sama kalut. Tak berapa lama mereka berkutat pada keadaan masing – masing, terlihat pemuda yang sedari tadi mereka jaga mulai membuka mata.

"Tetsuya-cchi? Yokatta, akhirnya kau sudar juga-ssu. Shintarou-Nii, Tetsuya-cchi sudah bangun-ssu" Ucap Ryouta heboh walau masih dengan nada yang lebih rendah. Shintarou yang dipanggil segera beranjak dari tempatnya dan langsung memeriksa keadaan Tetsuya.

"Bagaimana perasaanmu sekarang Tetsuya? Apa kau masih terasa pusing?" Tanya Shintarou setelah selesai memeriksa.

"Hanya sedikit Nii-san" Jawab Tetsuya dengan nada lemah nan lelah.

"Soukka, demammu sudah turun dan aku sudah memberikan obat untuk lambungmu. Kalau kau bisa berkembang lebih cepat, mungkin kau bisa cepat sehat" Shintarou mengelus rambut Tetsuya yang sudah memanjang dengan lembut.

"Kau dengar itu Tetsu kau akan segera pulang jika kau bisa sembuh dengan cepat" Daiki memberikan senyuman manisnya.

"Un.. Arigatou Nii-san" Tetsuya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, masih mencari seseorang yang rasanya hilang. "Sei – Nii kemana Nii-san?" Tanyanya dan mendapat helaan nafas berat dari keempat kakaknya.

"Lebih baik kau istirahat Tetsuya, kau perlu istirahat lebih" Shintarou mengalihkan pembicaraan, Tetsuya tentu saja tak sebodoh itu yang langsung percaya dengan ucapan kakaknya, tapi ia sedang tak ingin protes karna tubuhnya masih sangat lemah.

"Tetsu-chin tidur saja, kami akan menjagamu disini secara bergantian" Si surai ungu yang tadi sibuk dengan Maiubo kini ikut mengelus surai panjang di Baby Blue. "Oyasumi, Tetsu-chin."

"Oyasumi Tetsuya" Ucap Shintarou

"Oyasumi-ssu" Ucap Ryouta

"Oyasumi, Tetsu" Ucap Daiki.

"Oyasumi Nii-san Tachi" balas Tetsuya dengan suara yang pelan tapi masih di dengar jelas oleh yang lainnya.

Tetsuya memejamkan kedua matanya, menyelami alam mimpi yang indah dan hanya ia yang bisa melihatnya. Shintarou, Ryouta, Daiki dan Atsushi bergantian menjaga Tetsuya. Siap sedia kalau – kalau Tetsuya terbangun dan membutuhkan bantuan, tanpa perlu ragu bagi Tetsuya untuk membangunkan keempat kakaknya.

Ekspresi lelah tergambar diwajah Atsushi, Shintarou, Daiki dan Ryouta. Walau mereka sempat beristirahat, tapi menjaga orang sakit itu tak sama seperti menjaga seseorang yang hanya tertidur. Dengkuran kecil dari bibir mungil si bungsu menjadi obat tersendiri untuk mereka setelah apa yang terjadi.

'Gomen Tetsuya/Tetsu/Tetsuya-cchi/Testu-chin, lebih baik kita pergi dari pada membiarkanmu menderita dengan tuntutan dan peraturan marga kita' Fikir Shintarou, Daiki, Ryouta dan Atsushi bersamaan.

_ooOOOoo_

5 hari sudah Tetsuya dirawat dan keadaannya sudah lebih baik, beberapa teman – teman dari Tim Seirin, Kaijo, Touo, Rakuzan, Yosen dan sekolah lainnya juga sering berkunjung – Terlebih Kagami sang cahaya dan Momoi yang sudah jelas menyukai Tetsuya. Ada kesenangan sendiri saat dua orang ini menjenguk, selain karna Ryouta dan Daiki yang suka mengganggu Kagami, Shintarou dan Atsushi merasa terbantu dengan adanya Momoi yang mengurus Tetsuya.

Jika sudah berkumpul, seperti tak ada lagi batasan antara teman juga saudara, mereka sudah seperti sesama saudara yang sangat akrab. Momoi sendiri dengan senang hati membantu Shintarou maupun Atsushi untuk mengingatkan minum obat juga makan. Jika dilihat dari kasat mata, hubungan Tetsuya dan Momoi seperti pasangan kekasih walau sebenarnya hanya teman. Tak jarang Shintarou, Daiki, Atsushi maupun Ryouta tak sengaja melihat Tetsuya tersenyum senang dan bergurau sembari tangan Tetsuya menepuk kepala Momoi lembut. Rona merah tentu saja muncul di wajah mereka yang melihatnya, tentu saja, Tetsuya yang mereka urus sejak kecil kini sudah beranjak menjadi remaja.

Seperti saat ini misalnya, disaat Shintarou dan Atsushi sibuk di dapur, Kagami, Ryouta dan Daiki sibuk membicarakan segala hal mengenai basket, maka Momoi dan Tetsuya sibuk membicarakan festival gabungan yang akan dilaksanakan dalam hitungan minggu karna keadaan Tetsuya yang tak memungkinkan jadi kegiatan diundur dan sudah disetujui oleh Sekolah yang ikut berpartisipasi.

"Aku rasa pertunjukkan seni setiap sekolah juga harus dimasukkan Momoi-san, aku yakin itu akan menjadi daya tarik Festival ini" Ucap Tetsuya membaca rancangan acara mereka.

"Hm.. kalau kita tambahkan pertunjukkan seni, berarti kita juga harus menambah hari Tetsu-kun. Kita tak akan punya banyak waktu untuk memasukkan pertunjukkan seni dalam waktu 3 hari" Momoi mengucapkan opininya.

"Berarti kita harus mengadakannya selama 3 hari 3 malam? Bukannya itu hanya membuang waktu Momoi-san?"

"Iie, justru kita bisa memanfaatkan segala waktu yang ada. Hari pertama pembukaan akan kita buat Game untuk mempersatukan antar sekolah, malamnya kita lakukan kontes bernyanyi. Hari kedua kita adakan berbagai pertunjukkan bakat yang dimiliki sekolah kemudian saat malam kita adakan pertunjukkan seni dan dihari ketiga, merupakan acara puncak." Momoi memainkan sedikit jarinya dengan semu merah menghias disana membuat Tetsuya mengernyit.

"dan hari ketiga?" Pertanyaan Tetsuya sedikit menggantung untuk menunggu jawaban dari Momoi.

"Hari itu kita akan membuka Love Labirin untuk menarik pertahatian sekolah lain yang memiliki pasangan."

"Love Labirin?" Tetsuya masih terus bertanya dengan nada menggantung menuntut penjelasan lebih.

"I-itu adalah ide yang disampaikan saat rapat antar sekolah berlangsung kemarin dan merupakan ideku juga beberapa perwakilan wanita disana. Mereka semua setuju dan Love Labirin menjadi salah satu kegiatan yang dilakukan bersama. Love Labirin akan menyediakan berbagai perlombaan untuk para pasangan yang ikut, terlebih ada tantangan yang harus diselesaikan. Jika berhasil akan mendapatkan tiket untuk memakai kostum diacara puncak. Tak hanya itu, setiap pasangan mendapatkan hadiah perhiasan untuk pasangannya." Wajah Momoi memerah saat menjelaskannya sedangkan Tetsuya tersenyum melihat ekspresi wajah Momoi yang menurutnya lucu.

"Soukka, lalu apa yang akan dilakukan saat malam puncak?"

"Pengumuman lomba, pesta dansa dan ditutup dengan pesta kembang api. Bagaimana menurutmu?" Momoi memainkan jemari mungilnya, takut ekspresi anehnya terihat oleh Tetsuya.

"Itu ide yang bagus, festival kali ini pasti akan membuat persahabatan antar sekolah terjalin." Tetsuya tersenyum manis. "Saa, semua stan untuk siswa dan siswi berjualan ada kan?"

"Tentu saja, Wakamastu Kousuke – Senpai dari Touo, Mibuchi Reo – Senpai dari Rakuzan, Otsubo Taisuke – Senpai dari Shutoku, Yoshitaka Moriyama– Senpai dari Kaijo dan Izuki Shun-Senpai dari Seirin. Mereka akan bertindak untuk pengawasan dan stan – stan penjual, jadi tak perlu dikhawatirkan. Semua sudah mendapat tugas masing- masing"

"Sugoii Momoi-san, aku tak menyangka semua sudah hampir selesai"

"Itu karna semua bekerja keras, Tetsu-kun. Saat kau sudah sehat nanti, kau tinggal memeriksa beberapa bagian saja, bahkan brosur acara sudah dibagikan dan siap untuk mengadakan festival yang rencananya sekaligus perayaan tahun baru."

"Aku rasa ini cukup, keadaanku juga lebih baik. Setelah aku keluar dari rumah sakit, aku akan membantu mengurus festival bersama yang lain" Tetsuya tersenyum kecil, namun senyumannya sedikit meluntur karna Shintarou memberikan pendapat atau mungkin larangan yang harus dituruti.

"Setelah keluar dari rumah sakit, kau masih harus beristirahat penuh Nanodayo. Kau mau masuk lagi ke rumah sakit dan membuatku menjadi dokter yang tak berguna Hm?" Tetsuya menggeleng pelan.

"Iie, tapi tak ada waktu untuk beristirahat Nii-san. Aku tak mau membuat teman – temanku kesulitan." Tetsuya memberikan sebuah senyuman cerah – Yang sebenarnya dibuat – buat. "Aku janji tak akan memaksakan diri"

"Haah.. Kau memang keras kepala Tetsuya. Baiklah, aku mengizinkanmu. Besok mungkin kita bisa keluar dari rumah sakit dan membuatmu beristirahat penuh selama satu hari. Lusa baru kau boleh sekolah. Bagaimana Nanodayo?" Tetsuya mengangguk.

"Haii, Arigatou Nii-san."

Shintarou menganggukkan kepala sembari menepuk pelan surai Baby Blue dengan lembut sebagai jawaban dari ucapan Tetsuya. Sejujurnya, jika besok Tetsuya keluar dari rumah sakit, maka mulai besok juga mereka telah resmi membuang nama Akashi yang telah melekat di tubuh mereka sejak mereka dilahirkan. Tak ada lagi pilihan untuk menarik kata – kata mereka, Rumah sakit, jabatan, restoran dan juga ketenaran akan menghilang secara perlahan seiring dengan terhapusnya nama Akashi dari Shintarou, Daiki, Ryouta, dan Atsushi. Tetsuya sendiri masih harus menyandang nama itu selama ia belum lulus sekolah menengah atas yang ia jalani.

Suasana kembali terasa ricuh saat Atsuhi selesai memasak bersama Shintarou pastinya, berbagai macam hidangan tersaji di atas meja. Tak luput, mereka juga menyediakan porsi 10 kali lipat untuk Kagami dan Daiki. Sudah bukan rahasia umum lagi jika kedua orang itu memiliki porsi makan yang sama walau umur mereka terpaut 6 tahun.

"Daiki Nii-cchi, jangan ambil makananku-ssu! Aku masih lapar" Gerutu Ryouta saat Daiki mengambil makanannya.

"Diamlah, Ryouta. Kau terlalu berisik, seorang model harus menjaga porsi makanannya. Aku tak mau kalah dari Bakagami" Daiki tak mau kalah.

"He?! Tetsuya, bisa kau jelaskan kenapa kakakmu tau panggilan Coach untukku!" Kagami berbicara dengan mulut yang penuh – Kagami memanggil nama kecil Tetsuya karna keempat kakaknya yang mengizinkan.

"Aku tak tau, Kagami-kun. Mungkin karna Kagami-kun terlalu bodoh, jadi siapapun akan mudah memberikanmu julukkan itu" Jelas Tetsuya yang ikut bergabung untuk makan bersama.

"Apa- apaan pernyataanmu itu?" Rengut Kagami.

"Sudahlah Kagamin, berdebat seperti itu pasti tak akan selesai" Momoi menengahi.

"Itu benar, Nanodayo. Bukan karna aku peduli, tapi aku benci hal yang merusak telinga" Shintaro masih dalam mode Tsunderenya.

"Kagami-chin, lebih baik makanlah dengan tenang. Aku bosan mendengar suara Kagami-chin" Kagami langsung bungkam dan memilih untuk terus makan. Di saat – saat seperti inilah, Tetsuya kembali membuka suara.

"Nii-san, saat festival nanti. Kalian akan datangkan?" Tanyanya takut – takut.

"Tentu saja-ssu, aku tak akan melewatkannya-ssu" Ryouta menjawab semangat.

"Aku juga akan datang Tetsu, sudah lama rasanya tak datang ke acara Festival sekolah" Ucap Daiki.

"Selama itu ada makanan, aku pasti datang" Atsushi menjawab dengan nada malas seperti biasa, tapi rasa antusias terdengar disana. Shintarou sudah menaikkan kacamatanya, mode Tsunderenya masih terlihat.

"Karna semuanya ikut, aku akan ikut Nodayo. Ingat ini hanya karna semuanya ikut"

Tetsuya, Daiki, Ryouta, Atsushi, Momoi bahkan Kagami secara serentak menutup mulut mereka. Terdengar jelas suara tawa yang di tahan terlebih Ryouta yang sibuk memukul mukul meja. Daiki dan Kagami sudah secara jelas mengigit bibirnya agar tak mengeluarkan suara tawa, Atsushi dengan wajah malas tapi tak menutupi jika ia juga menahan tawa, Tetsuya dan Momoi sama – sama menutup mulut, bahkan Momoi sudah menggembungkan pipinya karna tawa yang hampir meledak.

"Kalian kenapa Nodayo? Apa ada yang salah?" Shintarou menatap Horor semua yang ada di ruangan itu hingga tawa itu meledak.

Shintarou jengkel setengah mati karna tawa yang menggelegar di ruangan, Ryouta sampai memukul- mukul meja dengan kuat dan tangan yang satunya memegang perut karna tertawa kencang. Hal yang sama berlaku bagi Kagami dan Daiki yang berguling – guling karna tawa mereka yang semakin kuat. Tawa Tetsuya, Momoi dan Atsushilah yang sebenarnya masih normal tapi tetap membuat jengkel. Akhirnya ceramahan panjang keluar dari bibir Sihintarou yang kesal, makan malam hari itu benar – benar dipenuhi dengan tawa menggelegar dari mereka. Beruntung ruangan Tetsuya sudah kedap suara, jadi tak ada yang mendengarnya.

'Jika Sei-Nii disini, aku rasa ini akan menjadi malam yang lebih indah. Sei-Nii, aku harap kejadian beberapa hari itu hanya mimpi'

_ooOOOoo_

5 pemuda bersurai warna – warni bersama seekor anjing Syberian Husky berdiri di depan sebuah rumah yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Rumah dengan dua lantai yang sederhana namun terlihat cukup nyaman. Pria bersurai Baby Blue terlihat mengernyit bingung, pasalnya ia baru saja keluar dari rumah sakit dan seharusnya ia diantar pulang ke Mansion Akashi yang besarnya sangat mencengangkan, tapi sekarang? Ia sama sekali tak mengerti. Merasa jika si bungsu kebingungan, Shintarou yang paling tua pun ikut berbicara.

"Sekarang kita bukan bagian dari Akashi lagi, Tetsuya. Jadi, segala hal yang berhubungan dengan Akashi sudah kami lepas termasuk rumah dan pekerjaan yang biasa kami tangani. Mulai sekarang, kita ber-5 akan tinggal disini dan memulai lagi dari awal." Tetsuya terdiam, seakan mengerti ia hanya menundukkan kepalanya.

"Daijoubu Tetsu, tanpa menggunakan Marga Akashi, kita juga bisa bertahan dan sukses dengan kerja keras. Mulai hari ini, kau tak akan terikat dan kau bebas melakukan apapun yang kau mau tanpa dikejar kesempurnaan" Daiki menambahkan.

"Betul-ssu, aku juga sudah lelah dengan pekerjaan sebagai model. Waktuku terbuang hanya untuk pemotretan dan tak bisa menemanimu-ssu." Ryouta melingkarkan kedua tangannya di pundak sang adik dan menghirup aroma vanilla khas yang ia sukai. "Mulai hari ini, aku akan terus menjaga Tetsuya-cchi dan meluangkan waktu sebanyak – banyaknya untuk menghabiskan waktu bersama-ssu" Tetsuya tertegun, belum lagi bibirnya terbuka untuk berbicara, sebuah elusan lembut berada dikepalanya.

"Untuk kelangsungan hidup kita, kau tak perlu khawatir. Dengan sisa uang yang pernah kami kumpulkan, kita bisa membuat bisnis caffe kecil disini. Kita akan jadikan Caffe ini jadi Caffe keluarga, bagaimana? Tetsu-chin setujukan?" Si Baby Blue tersenyum kecil.

"Haii, aku juga akan membantu nanti. Lalu apa semuanya akan membantu?" Senyuman tentu saja mengukir di bibir keempat kakaknya.

"Tentu saja-ssu, aku juga membantu. Aku baru saja mendapatkan pekerjaan baru untuk men-design pakaian dan gaji yang ku dapat lumayan. Aku bisa men-design saat waktu luang-ssu" Ryouta masih memeluk Tetsuya.

"Aku juga akan membantu, tapi tidak bisa seharian karna aku baru mendapatkan pekerjaan baru. Pebasket Universitas Touo membutuhkan seorang pelatih dan mereka memintaku untuk melatih mereka. Gaji yang ku dapat cukup untuk membantu keuangan kita dan biaya sekolahmu Tetsu" Ucap Daiki.

"Kalau begitu, kita bisa bergantian saat menjaga restoran kita. Lebih baik kita pakai shift pagi – siang dan Siang-malam, Nanodayo. Bagaimana?" Semua mengangguk setuju dengan usul Shintarou. "Dan untuk nama restoran kita, hmm.." Shintarou berfikir sejenak.

"Basketball Caffe!" Celetuk mereka berlima bersamaan. "Eh?" Tak tau kenapa, mereka langsung tertawa begitu nama yang sama terlontar.

"Saa, lebih baik kita masuk, udara semakin dingin" Ucap Shintarou yang diikuti oleh keempat adiknya.

Begitu memasuki ruangan, terlihat jelas jika design rumah itu memang lebih pantas untuk menjadi sebuah Caffe sederhana. Begitu mereka mulai naik ke lantai 2, sama luasnya seperti di lantai satu namun bedanya terdapat 3 kamar yang ukurananya bisa dibilang tidak besar dan cukup untuk menampung dua orang dengan ranjang bertingkat. Barang – barang bawaan mereka letakkan di lantai yang tidak terlalu luas tapi bisa dijadikan tempat untuk berkumpul dengan sebuah televisi ukuran 21 inch di sana.

"Kau istirahatlah dulu disini Tetsuya, Daiki dan Ryouta akan membersihkan kamar sementara aku dan Atsushi akan membuat makan malam untuk kita. Setelah itu istirahat agar besok tubuhmu lebih fit untuk masuk sekolah" Nasihat Shintarou.

"Haii, Nii-san" Shintarou menepuk surai Baby Blue itu lembut kemudian melirik ke Daiki dan Ryouta yang sama sekali belum bergerak.

"Jika dalam waktu 30 menit kalian belum selesai membersihkan seluruh kamar, makan malam kali ini tak akan kalian dapatkan" Ancam Shintarou.

"Ch.. Tak perlu mengancam Nii-san. Sifatmu jadi sama seperti seseorang yang ku kenal" Gerutu Daiki.

"Haii-ssu, padahal aku baru saja melupakan jika pernah bersama dengan orang itu" Ryouta memajukkan bibirnya sebagai bentuk protes.

"Berhentilah bersikap kekanakan nodayo, ingat kita bukan bagian dari Akashi lagi" Omel Shintarou.

"Nii-san, jika kita bukan bagian dari Keluarga Akashi lagi, lalu bagaimana dengan nama depanku? Apa aku akan memakai Marga Kaa-san?" Tanya Tetsuya takut – takut.

"Iie, kau masih memakai marga Akashi, Tetsuya. Nanti setelah kau lulus, baru kita semua akan mengganti nama depan kita menjadi marga Kaa-san. Jadi untuk sementara, orang – orang akan memakai nama kita dengan Julukkan yang pernah Kaa-san berikan"

"Maksudnya….." Belum lagi terjawab, Si surai ungu menyela.

"Haii~~, Mulai sekarang aku akan memakai nama Murasakibara, Shin Nii-chin akan memakai nama Midorima, Daiki-chin menggunakan nama Aomine dan Ryouta - chin memakai nama Kise. Nanti Tetsu-chin pakai nama Kuroko" Jelasnya dengan nada malas.

"Bukannya itu terlalu berbeda Nii-san, rasanya seperti bukan keluarga" Tetsuya menunduk.

"Tenang saja Tetsuya, itu hanya julukkan bukan berarti kita tak sama. Kita akan memakai Marga 'Nijimura' sesuai marga Kaa-san saat waktunya tiba nanti, nanodayo"

Ucapan Shintarou seolah menutup segala pertanyaan yang mungkin akan keluar dari bibir Tetsuya. Kini mereka kembali pada kegiatannya masing – masing, Daiki dan Ryouta sibuk membersihkan kamar sedangkan Shintarou dan Atsushi menyiapkan makan malam. Tetsuya menghabiskan waktu dengan membaca buku pelajaran dan mengerjakan tugas sekolah yang menumpuk ditemani Nigou tentunya. Sudah beberapa hari ia ketinggalan pelajaran terlebih banyak sekali tugas yang akan di kumpulkan sebelum liburan musim dingin.

Buku catatan Momoi menjadi penyelamat untuk Tetsuya, bukan karna ia tak mampu belajar sendiri, tapi hanya dalam waktu singkat ia harus menyelesaikan semua tugas karna besok adalah hari pertama masuk setelah liburan natal dan sedang mempersiapkan untuk Winter Cup festival sekaligus tahun baru bersama. Menghela nafas pasrah, Tetsuya mengerjakan seluruh tugas dengan bantuan catatan Momoi yang detail juga rapi.

Tetsuya melirik sekilas kalender yang terletak di ujung meja dekat tangga, tertera jelas jika ini sudah memasuki akhir Tahun. Helaan nafas terdengar dibibirnya, untuk pertama kali selama ia hidup, melewatkan hari ulang tahun si Sulung Seijuurou serta Hari Natal tanpa kehadiran sang kakak tertua. Teringat akan sang kakak tertua, Tetsuya mengambil ponsel berwarna Baby Bluenya dan jemarinya sibuk mencari nama seseorang, begitu ketemu, ia menggeser layar untuk membuat panggilan.

"Moshi – moshi, Tetsu-kun?" Suara nyaring disana terdengar jelas ditelinga Tetsuya.

"Ano Momoi-san, kado yang ku minta waktu itu masih ada bersamamu?" Tanyanya tanpa basa – basi.

"Un. Waktu kau di bawa ke rumah sakit, aku sempat meninggalkannya di rumahmu, tapi sekarang sudah ada bersamaku lagi. Kenapa?"

"Tak apa, hanya bertanya."

"Soukka? Aku kira ada sesuatu yang penting" nada sedih terdengar di ujung sana.

"Iie.." Tetsuya berhenti sejenak. "Mungkin ini sedikit merepotkan Momoi-san, tapi bisa simpan hadiah itu lebih lama lagi?"

"Eh? Menyimpannya?"

"Haii, aku juga akan menambah lagi isinya. Mungkin membutuhkan kotak yang lebih besar lagi"

"Dame yo, Tetsu-kun. Kau tak boleh menambahnya lagi" nada kesal terdengar di ujung sana. "Nanti kalau kau masuk rumah sakit lagi bagaimana? Dan nanti jika keadaanmu lebih parah bagaimana? Mou~~ Aku tak mau itu terjadi, Tetsu-kun" Celotehan gadis itu beralih dengan nada khawatir.

"Daijoubu desu, Momoi-san. Aku tak akan memaksakan diriku, aku janji" Helaan nafas terdengar di telinga Tetsuya.

"Baiklah, aku akan menyimpan dan merawat semua hadiah itu"

"Sebagai ucapan terima kasih karna sudah merepotkanmu, besok sepulang persiapan festival kita ke Maji burger dan aku yang akan membayarnya"

"Hountou desuka?" Momoi Antusias.

"Haii" Jawab Tetsuya singkat tapi sudah membuat gadis itu teriak tak jelas. "Kalau begitu sudah dulu Momoi-san, aku harus mengerjakan tugas – tugas yang belum ku selesaikan. Matta na"

"Un"

Pip

Tetsuya meletakkan smartphonenya dan mulai berkutat pada buku pelajaran yang terlihat seperti gunung. Jemari pucatnya sibuk menulis serta otaknya digunakan untuk berfikir mencari jawaban dari soal – soal yang ia kerjakan. Ekor matanya melirik dan memilah semua soal hingga sebuah aroma menggugah selera tercium oleh hidungnya. Ia segera menutup bukunya karna waktu makan Malam tiba. Hari itu menjadi awal untuk Tetsuya hidup tanpa sang kakak sulung yang sangat ia rindukan.

'Sei-Nii, jika Sei-Nii disini, pasti semuanya lengkap. Nii-san, kembalilah seperti yang dulu'

_ooOOOoo_

Dingin, terasa seperti berada di dalam air yang tenang. Sejauh tangan menggapai, yang terasa hanya benda lembut cair. Melayang, tubuhnya terasa seperti berada ditengah – tengah namun hidungnya masih bisa bernafas. Merasakan setiap oxygen yang memenuhi paru – parunya. Paru – paru pria dengan surai merah yang bergoyang mengikuti gelombang air yang membawanya. Matanya tertutup rapat tapi ia kesadarannya tak sepenuhnya terenggut, sayup – sayup ia bisa mendengar seseorang memanggil namanya.

"Nii-chan, ayo kita berenang. Tetsuya ingin berenang bersama" cicitan kecil suara kecil yang terasa begitu dekat di telinganya.

"Tetsuya? Kau kah itu" Gumamnya pelan.

"Mou~ Tetsu-chin, jangan dekat – dekat dengan air nanti kau jatuh. Sei Nii-chin, Tetsu-chin ingin segera berenang" Suara lain dengan nada malas memperingatkan.

"Atsushi? Kau dimana?" Pria itu masih bergumam mencari suara yang memanggilnya.

"Tetsuya-cchi, aku dan Daiki Nii-cchi akan mengajarimu berenang-ssu, tunggu aku" Suara cempreng dengan tawa melengking kali ini terdengar sangat jelas.

"Ryouta, kau masih belum bisa berenang dengan lancar, jangan bawa Tetsu!" Suara lainnya terdengar dengan nada yang sangat familiar.

"Ryouta, Daiki. Apa yang sedang kalian lakukan? Kalian kemana?" Pria itu masih mencari suara – suara yang asing.

"Jangan berlari disamping Kolam renang nanodayo, nanti kalian terjatuh. Seijuurou, Kaa-san dan Tou-san sedang menyiapkan ban renang untuk Tetsuya" kali ini suara si Tsundere terdengar berteriak memperingatkan.

Pria itu masih di posisinya, masih melayang diantara air yang jernih namun menenggelamkannya secara perlayan. Mata yang tertutup menampakkan raut wajah gelisah karna mencari dimana suara itu berasal. Tangannya menggapai – gapai sekitar berusaha mencari menyentuh sesuatu yang mungkin jadi petunjuk.

"Tetsuya! Atsushi! Daiki! Ryouta! Shintarou! Kalian dimana?! Bisa jawab aku?!" Teriak pria itu saat ia tak bisa menemukkan apapun. Beberapa menit setelah ia berteriak, hanya kesunyian yang menyapa hingga sebuah teriakkan tak terduga membuatnya semakin gelisah.

"Nii-chan Tolong!" Teriakkan ketakutan terdengar disana.

"Aku akan menyelamatkanmu Tetsuya-cchi!" Teriakkan lain terdengar.

"Matte Ryouta! Kau belum bisa berenang!" Kali ini teriakkan lainnya.

"Daiki-chin jangan menyusul!" Teriakkan panik lain terdengar.

"Shimata! Atsushi cari bantuan!" Sebuah teriakkan panik lainnya terdengar "Tetsuya, Daiki, Ryouta! Tunggu aku, Nodayo!"

"Nii-chan…." Suara lengkingan nyaring kini terdengar semakin lemah dan menjauh hingga menghilang.

"Tetsuya?! Tetsuya?! Kau dimana?!" Panik, raut wajah pria itu panik terlebih samar – samar ia bisa melihat siluet di depan matanya.

Sedikit demi sedikit Siluet itu memperjelas gambarnya dan terlihat jelas maksud dari suara – suara yang ia dengar. Pertama kali yang terlihat adalah hari cerah dengan langit biru di musim panas, selanjutnya ia bisa melihat seorang pria berusia sekitar 11 tahun berlari dengan surai ungu tengah berlari kencang, tak luput airmatanya mengalir deras.

Lalu, ia bisa melihat pria dengan usia 12 tahun tengah berenang sekuat tenaga di kolam renang yang masih sepi. Tak jauh dari pria 12 tahun, kali ini terlihat anak laki – laki berkulit Tan dan bersurai Navy Blue kira – kira berusia 9 tahun mencoba mengambil nafas dengan menggapai – gapai permukaan air dan berusaha mengeluarkan kepalanya dari air tapi nihil.

Selang beberapa meter, terlihat surai kuning berusia 7 tahun yang tak bergerak sama sekali dan tak jauh darinya – tepatnya di bawah anak bersurai kuning, seorang bocah berusia 3 tahun bersurai Baby Blue tak sadarkan diri dengan tubuh yang perlahan mulai jatuh menuju dasar kolam karna tak bisa berenang. Wajah mereka semua terlihat panik juga pucat terlebih si surai Baby Blue yang semakin lama terlihat lebih pucat.

"Tidak, tidak, tidak.. Matte, aku datang. Tidak!" Si surai Merah berteriak tak jelas dengan tangan yang menggapai – gapai udara kosong.

Semakin tangannya terulur untuk menggapai orang – orang yang ia cintai, semakin jauh pula punggung kecil yang rapuh. Tangannya bergetar hebat saat keadaan semakin buruk karna si surai kuning ikut tenggelam dan si Navy Blue sudah tidak bergerak, kecuali si surai hijau yang kebingungan untuk menyelamatkan siapa yang terlebih dahulu karna tiga orang yang harus diselamatkan tenggelam perlahan di depan matanya. Seijuurou berusaha mendekat, tapi sayangnya mereka semakin jauh dan menghilang dengan wajah terakhir yang membuatnya ketakutan.

Tetsuya dengan wajah pucat pasi, Ryouta yang terkulai lemas, Daiki yang pasrah, Shintarou yang Shock dan Atsushi yang menangis. Mengerikan, wajah – wajah adiknya yang lemah dan membutuhkan bantuan di usia mereka yang masih terlalu muda. Sayup – sayup terdengar lirihan menyiksa dari bibir Atsushi. Lirihan yang menyakitkan dengan dua anak sungai yang tak mau berhenti.

"Sei – Nii, tolong selamatkan Daiki-chin, Ryouta-chin dan Tetsu-chin. Onegai…." Selesai terdengar lirihan itu, Atsushi menghilang dan menjauh saat tangan Seijuurou mulai terangkat.

"Shintarou! Atsushi! Daiki! Ryouta! Tetsuya!" Teriak Seijuurou membuka mata dengan wajah yang banjir dengan keringat.

Mata Seijuurou menatap sekeliling, ia tak berada di dalam air maupun di tepi kolam, tapi ia berada di dalam ruangan dengan corak batik berwarna Coklat susu sebagai dasarnya. Ia memandangi ruangan sekitar, sejenak ia menghela nafas karna ia ingat ia sedang berada di kamar sepupunya. Nafas Seijuurou terdengar semakin memburu dengan ketakutan yang luar biasa, ia langsung mengacak kasar rambutnya.

"Mimpi buruk Sei?" tanya seseorang diambang pintu dengan piyama yang melekat di tubuhnya.

"Shuuzou? Ah, begitulah" Shuuzou atau yang memiliki nama lengkap Nijimura Shuuzou, berjalan masuk dan duduk disamping ranjang Seijuurou.

"Apa kau bermimpi tentang mereka?" Seijuurou mengangguk.

"Begitulah" jawabnya singkat.

"Aku mengerti, lebih baik kau pulang dan berbicara baik – baik pada mereka. Aku yakin mereka mengerti dengan keadaanmu" Seijuurou menggeleng cepat.

"Iie, aku tak bisa datang begitu saja pada mereka setelah apa yang terjadi. Aku tak bisa bertemu mereka, terlebih bertemu dengan Tetsuya. Aku hampir membuatnya mati" Sesal Seijuurou.

"Itu bukan dirimu, tapi itu seseorang yang kau ciptakan Sei."

"Tapi tetap saja dia itu bagian dariku, dan aku takut saat bertemu dengan mereka, aku tak bisa mengendarikannya. Aku yakin, adik – adikku pasti akan semakin membenciku" Shuuzo berfikir sejenak.

"Lalu, bagaimana selanjutnya?"

"Sepertinya aku akan menghilangkan sosok itu dulu, baru aku akan menemui mereka."

"Sampai kapan? Kau tau, sekarang mereka tak tinggal di Mansion dan melepas segala yang berhubungan dengan marga Akashi termasuk pekerjaan mereka. Mereka memulai dari nol dan ini akan membuat mereka kesulitan." Nijimura berhenti sejenak. "Shintarou menghubungiku beberapa hari yang lalu, ia meminjam uang untuk membeli rumah di tengah kota Tokyo, dan dari tempatnya, aku bisa pastikan mereka sedang mencoba membuka sebuah usaha disana"

"S-Shintarou meminjam uang? Bukannya ia memiliki banyak tabungan? Tak hanya itu, Atsushi, Daiki dan Ryouta juga memiliki uang lebih"

"Iie, mereka mengatakan uang itu adalah hasil yang mereka dapat karna menggunakan marga Akashi kecuali uang yang pernah mereka dapatkan karna memenangkan kompetisi." Nijimura menyilangkan tangannya di depan dada sembari berfikir. "Jika ku hitung, uang mereka hanya cukup untuk menjalankan usaha sederhana dan butuh kerja extra untuk melanjutkan hidup" Seijuurou mendengar itu sontak menopang kepalanya, ntah kenapa ia merasa tak berguna.

"Aku merasa jadi kakak yang buruk" Gumamnya.

"Sudahlah, kau tak perlu memikirkan mereka. Mereka semua sudah dewasa, aku yakin mereka bisa menjaga diri Sei. Sekarang tugasmu adalah menjaga keseimbangan dari perkerjaan adik – adikmu yang lama. Cepat atau lambat, aku yakin mereka akan menjalankan kembali perkerjaan yang mereka cintai itu"

"Aku tau itu, tapi aku masih khawatir pada mereka Shuuzou. Kau tau kan pria yang beberapa hari ini mengganggu fikiranku?"

"Haizaki Shogo maksudmu?"

"Haii, aku takut ia akan berbuat hal – hal aneh pada kelima adik – adikku, terlebih pada Tetsuya. Jujur, seharusnya aku sadar saat melihat video yang ia kirimkan pertama kali"

"Video? Kau tak menceritakannya"

"Video pertandingan Seirin vs Fukuda yang dimenangkan oleh Fukuda." Seijuurou berhenti sejenak, "Aku melihat ulang video kekalahan itu, mereka hanya selisih 1 Point dan saat ku teliti lagi. Para pemain Seirin semuanya terlihat cidera, dan bodohnya aku, aku tak bisa melihat Tetsuya yang kepalanya masih terbalut perban."

"Maksudmu mereka kalah bukan karna tak mengerahkan kemampuan mereka, tapi karna mereka cidera"

"Begitulah, dan parahnya saat Tetsuya pulang. Aku menendangnya hingga ambruk tanpa peduli jika ada luka lain saat itu. Aku benar – benar buruk, emosiku benar – benar tak bisa terkontrol hanya karna kekalahan juga ancaman dari Haizaki" Nijimura menepuk pundak Seijuurou.

"Sudahlah, lebih baik kau istirahat dan jangan terlalu difikirkan, masih ada waktu untuk memperbaikinya." Nijimura berdiri berdiri dan melepaskan tangannya dari pundak Seijuurou. "Untuk Haizaki, aku yang akan menanganinya"

"Arigatou, Shuuzou"

"Saa, Oyasumi"

"Oyasumi"

Seijuurou memejamkan kedua matanya dan kembali tidur. Selimut tebal menutupi tubuh Sejuurou hingga sebatas dada. Sayup – sayup Seijuurou bergumam pelan sembari berdoa agar ia bisa terlepas dari sebagian dirinya yang lain. Sebagian dari dirinya yang membuat seijuurou membuang kelima adiknya. Bagian dirinya yang disebut…

'Alter Ego'

To Be Continue...

Gomen lian baru update sekarang.. Xixixi,, genki desuka minna? Sebelum ngobrol, Lian balas dulu review minggu lalu...

Adnida KIA Rahid: Yep, setiap ff yang lian bikin emang berbeda dari yang lain,... Ciri khas lian adalah alur ceritanya gak pernah bisa ketebak..

Lisette3517 : Heeeh? kalaugitu nanti ujung - ujungnya klise donk,, lian suka yang berbda.. ^^

Dewi15 : Okeeh,, mari kita siksa Sei sama-sama ^^

ChintyaRosita : Sip,, kita siksa Sei-chan.. ^^

tuyul : 10 jempol? kurang! Atsushi buth 20 jempooooooooool... ^^

hanyo4 : Kamu ajah speechless, apa lagi Lian yang ngetik? LIan ajah gak nyangka bisa bikin FF kayak gini.. Kadang kalau baca, ini ff lian bukan ya? Bahkan bahasa yang di pake juga berasa aneh sendiri,, ngerasa bukan FF lian padahal Lian yang ngetik.. nah lho..

Nyanko Kawaii : sabar - sabar,, Lian masih banyak lagi bagian2 yang angst.. Jujur, Lian gak bisa update 1 minggu dua kali.. Lian lagi ngerjain novel jadi waktunya gak sempat. nulis FF kan butuh proses lagi, pertama ngetik, edit abis tu publish.. gak semudah itu.. apa lagi Lian ngerjain 3 FF dengan genre yang berbeda dan cast yang berbeda pula.. konflik2 setiap FF harus berbeda biar gak monoton, jadi Lian mohon maaf karna cuma bisa satu minggu sekali.. m(._.)m

Ayuni Yuukinojo : Nggak koq,, Konfliknya ajah masih panjang... Eh? jgn di banting Hpnya.. (tarik Hp Sei-chan) nih banting ajah,, buang kelaut ajah... Sei-chan masih banyak duit buat beli hp baru...

Caxocy : Heeh? buat Tetsuya makin parah? Serius? kenapa pada suka Tetsu-kun menderita sih? (mikir keras)

SylRa shin : belum,, masih banyaaaaaaaak, lagi.. diatas kan udah di jelasin mereka pake nama depan apa... Jadi udah tau kan?

deagitap : Sebenarnya maslah haizaki belum klimaks juga, dan untuk masalah Sei-chan,, masih ada proses lagi sampek dia kembali seperti semula..

Mitsuki Izumi : Sei-chan belum sadar tuh,, ntar di chapter - chapter selanjutnya mungkin akan di jelasin proses sei kembali kayak semula..

EmperorVer : Wookeeeeh,, mari kita bikin Sei-chan menderita #evil

Zizi Kirahira Hibiki 69: nggak koq,, Tetsu-kun cuma kena Asma ajah.. tapi menurut beberapa referensi, penyakit asma juga bisa jadi pemicu jantung.. ah,, LIan masih mau mempelajarinya lagi.. ^^

Sayounara Watashi : Muncuuuull! Nijimura bakalan muncul di chapter - chapter selanjutnya.. KOnfliknya makin banyak dengan hadirnya nijimura.. hehehehhe ^^

nicisicrita : Maunya sih gitu,, tapi takutnya nanti jadi Klise,, jadi lian bikin versi yang berbeda.. monoton rasanya kalau langsung death..

furee-sama : (Sodorin Tisu 1 truk),, Andweyeo, its my turn to cry,, neaga haelkaeyeo.. Uljimayo do'nt Cry (nyanyi lagu EXO) #wooyy,, kagak ada yang tau pe'a!

CeiCuyaCelamanya : Gomen, Lian gak bisa update 1 minggu dua kali,, lian lagi daam proses pembuatan novel, jadi fokus lian agak pecah klu misalnya 2 kali 1 minggu.. Gomen ne..

Hikari Sakura : Heee? kenpa pada suka kalau Tetsu-kun menderita yah? okelaah... ^^

sakurai namikaze : Etto, tenang, semua pertanyaan kamu bakalan terjawab di chapter - chapter selanjutnya... alasan sei berubah kenapa? Terus nijimura apa hubungannya sama akashi? Kapan haizaki kapok? Kapan kakak-kakaknya bls dendam ke haizak? Apakah keluarga akashi akan hancur? Semua itu akan terjawab di chapter - chapter selanjutnya.. ^^

Guest 1 : Lian gak bisa update 1 minggu dua kali, Lian lagi dalam proses pembuatan Novel, jadi cuma bisa 1 minggu sekali.. Gomennasai.. m(._.)m

Guest 2 : Beneran? Lian harap ide ini memang bisa sebagus itu.. yaah,, berharap banget sih, soalnya ini genre yang memang lian kuasai.. ^^

fraukreuz67 : Gak koq,, cuma asma doang.. ^^

Sri Silvi Wahyu : He? Yaaah,, niatnya Lian mau masukin KuroMomo, yah hanya sekedar curhatan ringan lian sama (...), pengen banget bikinnya.. kalau soal fujo sih, lian malah lebih suka AkaKuro.. hehehehehe (^_^)v

Guest 3 : Niatnya bikin tetsu death, tapi ntar jadinya klise, jadi Lian gak mau bikin yang kyak gitu.. ^^

Azucchi201 : Heee? Anda sedang apa? (panik)

eri kirei : makasiiiiiiiiiih,,, lian akan berusaha bikin FF ini sampai tamat.. ^^

kuroyuki : Jangan dulu, haizaki belum di siksa sama keluarga akashi + Nijimura, ntar gak seru kalau dia langsung death.. Updatenya tiap Jum'at koq.. ^^

kikio : Gak pengen ini FF cepat tamat yah? tenang, masih ada lagi koq konfliknya.. Sabar - sabar.. Nijimura bakalan muncul, tenang ajah.. di chapter - chapter selanjutnya juga muncul.. ^^

Uchizuu Ryuusuke : Update tiap Jum'at.. Butuh tisu? Kenapa? ini gak sedih koq,, serius,,(wajah polos ala koro-sensei)

Fiuuuuhh,, udah semua kan? Kyaaaaaaaaaaaaa! Akhinya lian bisa update juga,,, dari tadi sibuk nyari wifi n akhirnya nyolong kuota adikkuh.. hehehehe..

Lian mau sesi curhat sedikit nih buat CHapter yang selanjutnya, jujur untuk chapter selanjutnya lian masukin dikit KuroMomonya, lian cuma pengen bikin dikiiiiiiiiiiiiiiiiiiit ajah sesi mereka sekaligus curhat colongan waktu ikut bunkasai kemarin sama (...) lian,, yah bumbu - bumbu menyakitkan mata dikit boleh lha yah.. Tapi, kalau kalian gak suka, kalian boleh koq skip untuk chapter selanjutnya (meskipun penyiksaan Sei juga di mulai di chapter selnajutnya)... Kali ini ajah, lian pengen ngetik hanya untuk sedikit sesi KuroMomo... m(._.)m Onegaishimasu...

Ah, untuk yang minta update 1 minggu dua kali, Lian mohon maaf yah, Lian lagi berusaha ngetik FF yang akan jadi novel. Lian lagi fokus dengan 3 FF, jadi lian gak bisa update cepat.. Ini ajah lian ngetik 3 FF sekaligus, jadi yaah, kalau masih ada kata - kata yang rancu atau mungkin ada typo maklumi yah,,, gak gampang ngetik ketiganya sekaligus dan di kejar deadline... Jadiiii... Sampai jumpa di chapter selanjutnya.. Salam dari Lian.. ^^

Chapter 12 : Festival Together

nb : butuh masukkan untuk nama pasangan keluaga akashi (orang tua Sei-chan, Shintarou-cchi, Dai-chan, Ryou-chan, Atsushi-cchi dan Tetsu-kun bukan pasangan mereka tapi orangtuanya) Lian tunggu tanggapan dari kalian.. ^^