Tittle : White Crystal
Maincast : -Akashi Seijuurou
- Kuroko Tetsuya
- Aomine Daiki
- Kise Ryouta
- Murasakibara Atsushi
- Midorima Shintarou
Suport Cast : - All of Kuroko No Basuke Chara
Author : Lian (VT_Lian1995)
Genre : Family, Slice Of Life, School Life, Brotheship, Little Comedy, Sad, Hurt.
Attention : This chara not mine, this chara from Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi – sensei.
Little information : Seluruh nama Cast akan menggunakan nama Akashi karna ini berhubungan dengan kisah keluarga Akashi. Jadi di mulai dari Tetsuya sampai Shintarou akan menggunakan nama depan Akashi.
Summary : Akashi Tetsuya, bungsu dari 6 bersaudara keluarga Akashi harus menangung beban berat di pundak untuk memberikan kesan betapa hebatnya keluarga Akashi. Tapi sayangnya, apapun yang ia lakukan pasti sudah pernah dilakukan oleh ke – 5 kakaknya. Apapun itu, segala yang Akashi Tetsuya raih seolah hanya sia – sia, terlebih jika dibandingkan dengan fisik ke – 5 kakaknya, Tetsuya jauh lebih lemah, namun tak menampik kemungkinan ia bisa jadi lebih kuat walau usahanya akan mendapat resiko yang tinggi. Ini demi menjunjung tinggi motto dari sang Ayah yang telah tiada "Pemenang akan mengukir sejarah dan yang kalah akan menjadi pecundang yang terlupakan."
"Jika kau katakan menjadi bungsu keluarga Akashi merupakan anugrah, tapi bagiku tidak. Beban yang ku tanggung lebih besar dari Ke-5 saudaraku yang lain"
_ooOOOoo_
Chapter 12
%^Festival Together^%
Musim dingin masih berlangsung, tapi beruntungnya tidak terlalu dingin karna salju yang sudah tidak banyak turun. Seirin, Kaijou, Touo, Yosen, Shutoku dan Rakuzan tengah sibuk mempersiapkan festival bersama. Walau Yosen dan Rakuzan berasal dari kota yang berbeda dan jauh dari Tokyo, tapi tak menyusutkan rasa persahabatan mereka untuk bisa bergabung dalam festival besar yang akan menarik minat dari mulai anak kecil hingga orang dewasa.
Beberapa siswa maupu Siswi disibukkan dengan berbagai macam keperluan juga ada yang mengatur, para panitia yang ditunjuk sesekali memberikan arahan juga memberikan petunjuk mengenai pemasangan stan agar tidak terjadi kerusuhan. Ada pula yang menyiapkan panggung pertunjukkan, menyiapkan Sound System juga segala macam hal – hal yang berhubungan dengan Festival.
Di sudut lapangan yang luas, terlihat Tetsuya tengah memperhatikan papan kecil yang penuh dengan kertas – kertas laporan. Ia tak sendiri, disebelahnya berdiri gadis dengan surai sewarna dengan kelopak bunga sakura yang juga disibukkan dengan dokumen yang sama namun isinya sedikit berbeda. Sesekali Tetsuya mengetuk – ngetuk pulpen ke dagunya dengan pose berfikir sementara Momoi sibuk mencatat sembari mencuri pandang ke arah pemuda disebelahnya.
'Kyaa, dia tampan sekali dengan posisi seperti itu' fikir Momoi dengan teriakkan tertahan, pipinya meroba merah terlebih akhir – akhir ini mereka semakin dekat, apa lag keempat kakaknya Tetsuya sudah mengenalnya dengan baik.
Tetsuya sebenarnya sudah tau jika Momoi sedari tadi memperhatikan dirinya, karna sudah terbiasa, Tetsuya membiarkan Momoi melirik kearahnya dan bertingkah lucu setelahnya. Ada kesenangan sendiri saat melihat gadis itu menggeleng lalu bertingkah kalau ia tak melihat apa – apa kemudian meliriknya lagi. Tetsuya masih sibuk memikirkan beberapa masalah yang dihadapi untuk persiapan festival, terlebih festival ini dilaksanakan di musim dingin.
Makanan yang akan dijual terlebih dahulu diseleksi, selain untuk menghindari makanan yang tidak sesuai juga untuk membuat yang berjualan tidak merugi. Beberapa makanan yang mungkin akan laku bahkan penjualannya bisa lebih dari target langsung di setujui, bagi yang belum segera menemui Nebuya Eikichi untuk mendapat pengarahan dan ide baru. Jika ada keuangan yang sulit mereka kerjakan, maka yang bertugas untuk membantunya adalah Aida Riko. Sementara itu, tugas Tetsuya adalah membagi petugas berdasarkan keluhan.
Selesai memikirkan siapa saja yang akan bertugas, Tetsuya masih berpura – pura untuk berfikir dan saat itulah ia sadar jika Momoi masih melirik kearahnya takut – takut. Dibalik wajah datarnya, Tetsuya menyimpan sebuah kejahilan untuk gadis bersurai merah muda ini. Ntah ini ketularan virus Takao Kazunari yang merupakan teman kakaknya – Akashi Shintarou atau memang ketularan kakaknya sendiri – Akashi Daiki. Tetsuya berdeham pelan dan membuat Momoi tersentak kecil.
"Sampai kapan kau akan melirikku seperti itu Momoi-san?" Momoi menggeleng cepat dan matanya buru – buru menatap kearah lainnya.
"Iie, aku tak melirikmu Tetsu-kun" Elaknya.
"Soukka, aku fikir kau melirikku dari tadi. Ternyata aku salah" Tetsuya tersenyum tipis dan menghardikkan bahunya. "baiklah, tadinya aku mau mengajak orang yang melirikku untuk makan siang bersama. Tapi karna tidak ada, lebih baik aku makan siang bersama yang lain" Momoi terdiam dan langsung memasang wajah puppy yang lucu.
"Tetsu-kun~, Kau akan makan siang dengan siapa?" Tanyanya bimbang.
"Mungkin gadis dari Kaijou di sebelah sana" Tetsuya menunjuk seorang gadis yang melihat kearah mereka berdua.
"K-Kenapa?"
"Karna dia dari tadi melirikku, sesuai dengan ucapanku tadi, aku akan makan siang bersama seseorang yang melirikku dari tadi." Tetsuya memasang wajah sumringah yang dibuat – buat. "Atsushi – Nii membuat bekal untuk dua orang hari ini, jadi aku harus mengajak seseorang –"
"Aku tadi melirikmu, gadis itu hanya melihat" Teriak Momoi cemburu dan wajahnya memerah seperti tomat, melihat itu, Tetsuya tertawa keras. "Mou~~ Apa yang lucu Tetsu-kun?"
"Iie, melihatmu seperti itu sangat lucu Momoi-san" Momoi kembali memerah. "Aku memang berniat mengajakmu makan siang bersama, tapi tak seru kalau tak mengganggumu dulu" Momoi menggembungkan pipinya dan terlihat semakin imut.
"Uuhh~ Tetsu-kun!" Gerutu Momoi setengah kesal, setengah senang.
"Baiklah, Sumimasen Momoi-san. Jadi, kau mau makan siang bersama?" Momoi mengangguk.
"Tak ada alasan untuk menolak" Momoi langsung menggandeng tangan Tetsuya dan mengikuti langkah kakinya.
Sementara Tetsuya menikmati makan siang bersama dengan Momoi, lain hal dengan Restoran yang baru 2 hari lalu dibuka. Walau terbilang sederhana juga tergolong restoran sangat baru, tapi pengunjung restoran itu terlihat banyak juga tak jarang ada yang tidak kebagian tempat. Di dalam restoran, 3 pemuda tengah disibukkan dengan berbagai pesanan juga menyiapkan menu yang di pilih.
"Ryouta, cepat selesaikan pesanan selanjutnya Nanodayo" Teriak Shintarou yang disibukkan dengan berbagai minuman.
"Sebentar Shintarou-nii, ada penggemar Akashi Ryouta yang minta foto" Ryouta berteriak dari kursi pelanggan dan kebetulan saat itu seorang siswi – yang katanya penggemar – tengah meminta foto.
"Ryouta-chin~ Kita masih banyak pesanan, jangan membuang waktu" Kali ini suara Atsuhi menginterupsi dari dapur tempat menyiapkan makanan.
"Haii-ssu!" Ryouta kembali kepekerjaannya semula. "Kalian ingin pesan apa?"
"Etto, kami pesan ramen dan Coffee hangat. Akashi-kun" gumam siswi itu malu – malu.
"Okey, ramen dan Coffee. Tapi bisa panggil aku dengan sebutan Kise?" Tanya Ryouta canggung.
"Kise-kun?"
"Haii-ssu, Aku bukan Akashi Ryouta tapi aku Kise Ryouta. Mungkin wajah dan nama belakang kami sama, tapi kami berbeda" Jelas Kise memamerkan senyuman juga kedipan matanya untuk menutupi kebohongannya
"Kenapa harus Kise-ku n? Kenapa tidak Ryouta-kun saja?" tanyanya lagi.
"Itu tidak sopan-ssu." Selesai mengatakan itu, Ryouta meninggalkan siswi itu sembari membungkuk sopan. Dari balik meja pembuatan minuman, Shintarou menatapnya intens dengan mata yang menyipit.
"Jangan membuat pelanggan lari Nodayo, ingat kita tak seperti dulu" Shintarou memberi nasihat.
"Gomen-ssu, aku tak sengaja" Ryouta memasang wajah menyesal.
"Lain kali jangan kau ulangi, setelah mencatat semua pesanan, sebaiknya kau memberi makan Nigou, ,Nanodayo. Tetsuya bisa marah jika anjing itu belum dikasih makan"
"Yokkai"
Ryouta kembali mencatat beberapa pesanan dan sesekali mengantar pesanan untuk pelanggan yang sudah menunggu. Shintarou juga sesekali membantu Atsushi dalam menyiapkan makanan jika ia telah selesai membuat minumannya. Untuk ukuran restoran yang tidak terlalu besar seperti ini, 4 orang karyawan yang menangani sudah cukup. Tapi karna Daiki berangkat lebih awal dan Tetsuya yang masih mengurus festival sekolah, terpaksa mereka hanya bertiga dan beruntungnya mereka bisa melakukannya.
Dalam waktu sekejab, restoran yang mereka jalankan sudah mendapatkan banyak pelanggan. Alasannya hanya sederhana, siapa yang tak ingin datang jika para pekerjanya tampan juga masih muda, terlebih ada seorang pria yang katanya mirip Akashi Ryouta padahal memang Akashi Ryouta yang menyamar menjadi Kise Ryouta. Sejak awal yang Ryouta lakukan adalah mengelak dan mengatakan jika namanya adalah Kise Ryouta, begitupula dengan Shintarou, Atsushi dan Daiki. Mereka tak ingin dipanggil dengan sebutan Akashi di depan nama asli mereka.
Setiap orang yang ada di restoran menggunakan Nametag sesuai dengan julukkan mereka dulu, seperti Ryouta yang menggunakan nama Kise, Shintarou menggunakan nametag Midorima, Atsuhi dengan Murasakibara, Daiki dengan Aomine dan Tetsuya dengan nametag Kuroko. Selain untuk menyembunyikan identitas keluarga akashi, mereka juga ingin membuktikan tanpa menggunakan nama Akashi
"Nii-cchi, aku sudah selesai mengantarkan makanan dan mencatat pesanan terakhir untuk siang ini-ssu. Aku mau ke atas untuk memberi makan Nigou dan melanjutkan kerjaku-ssu" Pamit Ryouta.
"Haii, jangan memaksakan dirimu Ryouta." Shintarou menaikkan bingkai kacamatanya. "Bukannya aku peduli, tapi aku tak memiliki peralatan dokter lagi, Nanodayo"
"Aku juga bukan anak kecil lagi-ssu" Ryouta beranjak naik ke lantai 2 dan sesuai dengan ucapannya, Ryouta memberi makan Nigou dan melanjutkan pekerjaannya.
Dari Profesi sebagai model, Ryouta kini berubah profesi sebagai designer. Sketsa gambarnya memang tidak terlalu rapi, tapi apa yang ia tuangkan memberikan inspirasi untuk sebuah label pakaian ternama. Beruntung Kasamatsu Yukio – mantan Managernya- memberi tahu jika sebuah label pakaian ternama membutuhkan seorang designer dan berbekal kemampuan perfect Copynya, Ryouta menguasai teknik menggambar dengan cepat walau hasilnya kasar.
Shintarou dan Atsushi sendiri fokus pada restoran yang mereka jalankan, jadi urusan belanja, keuangan dan pengolahan restoran semuanya diserahkan ke Shintarou dan Atsushi. Daiki sendiri sekarang sudah mulai menjadi pelatih Basket saat siang, dan saat malam maupun pagi, ia akan membantu menyiapkan keperluan restoran. Tetsuya akan membantu saat jam makan malam, tapi tetap saja ia memiliki batasan karna Shintarou melarangnya melakukan segala aktivitas melelahkan dan bisa saja membuatnya terbaring dirumah sakit.
Tetsuya akan kerja full saat hari libur, tapi tak menutup kemungkinan ia libur untuk bisa mengumpul bersama teman – temannya. Semua sudah teratur oleh jadwal yang dibuat oleh Atsushi. Mulai saat mereka melepas nama Akashi, mereka memulai aturan baru sesuka hati mereka dan berdasarkan kemampuan mereka masing – masing. Mereka menyiapkan kesuksesan bersama tanpa terganggu dengan aturan dari darah Akashi yang mengalir ditubuh mereka.
Di tempat yang berbeda juga kota yang berbeda pula, pria bersurai merah tengah menghembus nafas berat dengan dokumen yang menumpuk. Belum lagi kini tugasnya bertambah banyak karna mengurus rumah sakit dan Restoran yang ditinggalkan oleh kedua adiknya – Shintarou dan Atsushi. Cabang rumah sakit diberbagai tempat, belum lagi restoran Atsushi yang juga memiliki cabang yang banyak pula terlebih di Akita dan Tokyo yang sedang berada di puncak.
"Haah,, kapan ini selesai" gerutunya sembari mengacak kasar rambut dan wajahnya kesal.
"Lebih baik kau istirahat saja Sei" seseorang masuk dari balik pintu, tak perlu ditanya siapa orangnya, karna yang berani masuk seperti itu adalah sepupunya sendiri –Nijimura Shuuzou.
"Tak bisa Shuuzou, beristirahat sama saja menghancurkan semuanya" Keras kepala, penggambaran dari sosok Akashi Seijuurou.
"Kau ingin stressmu memuncak dan membiarkan sosok itu mengambil alih hm?" Nijimura menaikkan alisnya.
"Tenang saja, dia tak akan pernah muncul lagi. Aku akan segera menghapusnya"
"Kau yakin? Kau bahkan sudah 2 hari tak ikut Theraphy"
"2 hari tak akan mempengaruhi Theraphy selanjutnya" Seijuurou masih berkilah.
"Kau ini, kau ingin kembali bersama adik – adikmu kan? Buang dulu sifat keras kepalamu itu Sei" Seijuurou menghela nafas mendengar nada Nijimura yang naik.
"Aku tau apa yang ku lakukan Shuuzou, akan ku pastikan dia segera menghilang dalam waktu 3 bulan"
"Lalu…?"
"Setelahnya aku akan memikirkan cara untuk membuat adik – adikku kembali dan selama itu, aku akan mengerjakan tugas seperti biasa." Shuuzou yang dari tadi hanya berdiri di depan pintu, kini melangkah masuk dan membanting tubuhnya ke Sofa.
"Lebih cepat lebih baik Sei, dan.." Nijimura melemparkan brosur ke arah Seijuurou, dengan mudah ia menerima brosur yang dilempar kearahnya. "cobalah untuk datang ke Festival itu, walau tak bisa menyapa, setidaknya kau bisa melihat mereka untuk mengobati rasa rindumu" Seijuurou mengernyit.
"Kau dapat darimana Brosur ini?" Nijimura mengambil posisi nyamannya.
"Seorang siswi menjatuhkannya saat aku sedang jalan – jalan di Tokyo dan ku ambil begitu saja" Seijuurou berdecih kecil.
Dilihatnya lebih jelas brosur yang ada ditangannya, brosur untuk festival di musim dingin sebagai perayaan persahabatan antar 6 sekolah besar juga festival dengan tujuan kebersamaan antar saudara. Background dari brosur itu adalah ledakkan kembang api dan foto saat Seirin, Rakuzan, Touo, Kaijo, Shuutoku, dan Yosen di Winter Cup dengan Seirin yang menjadi juara.
Mereka tertawa juga terlihat saling berangkulan, belum lagi piala yang mereka pegang bersama. Dari sekian banyak tawa juga senyuman yang dilihat dari iris rubynya, Seijuurou menangkap sosok dengan surai yang berbeda warna, surai Baby Blue yang berada diantara teman – temannya. Wajah pucat itu terlihat tersenyum tapi matanya nampak sayu juga lelah, datar tapi terlihat menahan rasa sakit. Jika secara kasat mata, ia terlihat sama seperti lainnya, tapi dimata Seijuurou, ia sudah hapal betul ekspresi si bungsu yang selalu bersamanya.
"Tetsuya.." Gumamnya pelan dan dapat didengar oleh Nijimura.
"Datanglah walau Cuma sebentar, kau tak perlu menyapa atau berharap mereka melihatmu. Kau cukup melihat mereka dari jauh dan saatnya tiba, kau akan kembali merangkul mereka"
"Ku rasa itu bukan ide yang buruk, tapi…"
"Tapi?" Nijimura mengernyit.
"Temani aku, aku masih merasa bersalah terhadap mereka" Nijimura memutar bola mata malas.
"Sejak kapan kau bersikap Tsundere, Sei? Aku hanya mengenal Shintarou yang seperti itu" Seijuurou tersenyum kecil.
"Tentu saja, dia adikku bukan?"
Nijimura memberikan ekspresi 'terserah kau saja, Sei' dan mendapatkan balasan senyuman kemenangan dari Seijuurou. Tak ingin berlama – lama, Seijuurou segera membereskan segala pekerjaan yang menumpuk. Membubuhi tanda tangan juga menyeleksi berkas yang diberikan oleh sekretarisnya – Mayuzumi Chihiro. Setidaknya dengan mendapatkan brosur festival, energi yang tadinya menguap kini kembali memenuhi diri Seijuurou. Hati yang berteriak rindu sebentar lagi akan mendapatkan apa yang ia rindukan walau hanya melihat dari kejauhan.
_ooOOOoo_
Suara derap langkah kaki menyusuri tangga terdengar dari rumah yang beralaskan kayu berwarna coklat. Kaki mungil dengan balutan celana hitam juga kemeja berwarna putih dengan garis biru di lengan juga kerahnya yang membalut tubuhnya yang kurus terlihat turun dengan buru – buru. Surai Baby Blue yang masih berantakan dengan selembar roti bertengger di mulut serta tangan yang sibuk memegang jaket tebal juga keperluan saat musim dingin. Langkah kaki itu bergerak cepat tanpa memperdulikan seekor anak anjing yang mengekor di belakang.
"Jangan berlari di tangga Tetsu, kau bisa jatuh" tegur si surai Navy Blue – Daiki yang disibukkan dengan mengelap gelas kaca.
"Aku buru – buru Nii-san, hari ini pembukaan Winter Festival dan aku dipilih sebagai perwakilan seluruh sekolah" Jawab Tetsuya dengan tergesa – gesa hendak menalikan tali sepatunya.
"Santai saja, Nanodayo. Kau tak akan terlambat, jarak dari sini ke tempat festival hanya 20 menit dengan jalan kaki dan lagi Aquarius mendapat posisi teratas. Lucky Item-mu hari ini adalah sarung tangan bermotif krystal salju, Nanodayo. Aku sudah siapkan dan kau tinggal memakainya." Shintarou berjalan pelan dari dapur dan mendekat sembari memberikan Sarung tangan yang jadi Lucky Item Tetsuya hari ini.
"Arigatou Nii-san, aku tau jaraknya memang dekat, tapi aku ada janji untuk menjemput Momoi-san. Tak akan sempat jika aku tak berangkat sekarang" Si surai Baby Blue masih disibukkan dengan tali sepatunya sembari menerima Lucky Itemnya.
"He~~ Kau menjemput Momo-chin?" Dari pintu dapur yang terbuka, nampak si surai ungu mengintip kecil.
"Ah, itu karna ada beberapa bagian dari acara yang harus kami bicarakan" Tetsuya telah siap dengan sepatunya dan kini bersiap memakai jaket tebal juga syal agar tak kedinginan.
"Aku kira kau ingin berduaan dengan Momoi-cchi, Tetsuya-cchi" goda si surai kuning yang ikutan nimbrung walau tangannya masih mengelap meja. Tetsuya segera memalingkan wajah dan bergerak untuk lari.
"Jangan bicara yang aneh – aneh Nii-san" Tetsuya memajukan bibirnya dan membuka pintu untuk segera berangkat. "Ittekimasu" teriak Tetsuya segera berlari cepat.
"Itterasai" jawab keempat kakaknya dengan ekspresi yang berbeda tapi satu fokus yang sama.
'menertawakan tingkah Tetsuya yang lucu'
Bukan rahasia lagi jika seluruh sekolah sudah tau kedekatan antara Momoi dan Tetsuya. Cemburu? Tentu saja! Hei, siapa yang tak cemburu melihat kedekatan mereka berdua yang terlihat lebih dari sekedar teman. Momoi Satsuki si gadis dengan surai rambut merah muda menggoda, belum lagi memiliki lekuk tubuh idaman para pria di dunia dan tentu saja membuat para gadis ingin memiliki tubuh indah sepertinya. Jangan lupakan kemampuannya dalam mengumpulkan informasi juga intuisi wanita yang akurat. Seluruh pria benar – benar terpesona akan dirinya.
Tak akan ada habisnya jika kau membicarakan pria dengan nama Akashi Tetsuya yang sudah terkenal akan kejeniusan juga marga yang ia sandang. Sosoknya yang mungil juga kulit putih pucat dengan surai Baby Blue dan wajah yang benar – benar membuat diabetes. Selama Tetsuya masuk ke sekolah Seirin, ada saja hadiah berupa surat cinta juga hadiah – hadiah pemberian pengagum rahasianya – dengan jumlah tak terhitung pastinya. Jika Tetsuya dan Momoi benar – benar menjadi pasangan, akan ada banyak hari yang retak juga jari – jari yang tergigit karna patah hati.
"Tetsu-kun~~" Dari jauh terlihat Momoi berdiri dengan lambaian tangan tinggi juga senyuman ramahnya. Tanpa menunggu waktu, Momoi langsung berlari dan memeluk Tetsuya seperti biasa.
"M-Momoi-san, aku sulit bernafas" ucap Tetsuya seperti biasa.
"Gomen, Gomen. Aku hanya senang karna kau menjemputku Tetsu-kun" Momoi melepaskan pelukkannya dan tersenyum ramah.
"Soukka, kalau begitu, kau mau berangkat sekarang? Festival tak akan dibuka jika aku datang terlambat"
"Un!" Momoi mengangguk sembari melingkarkan lengannya di tangan Tetsuya sembari berjalan tanpa suara.
"Ano, Momoi-san" Tetsuya mencoba membuka suara setelah beberapa menit terdiam.
"Hm?" Gumaman singkat seolah memberitahu jika ia memperhatikan.
"Apa festival ini akan berhasil sampai hari ketiga nanti?" Alis Momoi terangkat keatas, buru – buru Tetsuya melanjutkan ucapannya. "Maksudku, apa akan banyak pengunjung yang datang? Ini masih musim dingin dan kebanyakan orang – orang menghabiskan waktu di dalam rumah daripada di luar." Nada cemas terasa jelas terdengar.
"Mou Tetsu-kun, kau tak boleh pesimis. Pasti banyak pengunjung yang datang, aku jamin itu. Apa lagi di hari ketiga saat malam puncak, aku yakin pengunjung akan bertambah karna bersamaan dengan perayaan tahun baru" Jelas Momoi bersemangat.
"Tapi—" Belum lagi Tetsuya berbicara, Momoi memotongnya.
"Aku tau festival biasanya diadakan saat musim panas juga saat natal maupun Tahun baru, tapi ini festival yang berbeda Tetsu-kun. Festival ini bertujuan untuk mempererat tali persahabatan antar sekolah yang mengikuti Winter Cup. Mereka yang melihat kita di layar televisi pasti penasaran ingin bertemu dengan para atlit secara langsung, aku yakin di luar sana, para orang tua juga para penggemar basket akan datang dan ikut memeriahkan festival ini" Tetsuya tersenyum dan menepuk pucak kepala Momoi.
"So desu ne. Saa, lebih baik kita bergegas. Aku tak ingin terlambat untuk pidato pembukaan"
Momoi dan Tetsuya berjalan berdampingan tanpa sedikitpun tangan Momoi yang melingkar dilengannya terlepas. Begitu memasuki Area festival, para siswa maupun siswi telah berkumpul dengan segala macam keperluan mereka. Ada yang menggunakan cosplay, costume badut, juga beberapa terlihat mengenakan seragam berbeda sesuai dengan karakter masing – masing.
Khusus untuk panitia, mereka telah menyiapkan baju seragam dengan warna biru gelap dan ikat kepala khas bertuliskan 'Winter Cup' sebagai pemersatu. Wajar saja, tak hanya Seirin yang menjadi panitia, tapi dari sekolah lain juga banyak yang berpartisipasi. Balutan jaket tebal juga membungkus beberapa tubuh siswa dan siswi yang berpartisipasi.
Agar para pengunjung tidak kedinginan saat menikmati festival, disediakan 10 ruangan pemanas yang di khususkan untuk mereka yang tidak tahan cuaca dingin tapi masih bisa menikmati festival dengan bebas. Semua sesuai rencana, kini tinggal membuka acara festival saja.
Tak jauh dari lokasi mereka berdiri, terdapat panggung besar yang di design untuk pementasan seni. MC untuk acara ini sendiri adalah Kouji Kabori dari Kaijou, Wei Liu dari Yosen dan Kiyoshi Miyaji dari Shuutoku. MC sengaja dipilih hanya 3 orang dan tentuna pemain basket yang sudah tak asing lagi agar menarik perhatian dari orang – roang yang datang. Penyampaian pidato dimulai dari Tetsuya sebagai perwakilan seluruh sekolah, lalu diikuti Hayama Kotarou perwakilan Rakuzan dan Sakurai Ryou perwakilan dari Tuou yang secara keseluruhan menjadi perwakilan Panitia yang bekerja.
"Dengan ini, Winter Cup Festival seluruh sekolah resmi di buka. Selamat bersenang – senang semua" Ucap salah seorang Kepala sekolah yang di tunjuk untuk membuka acara sesuai kesepakatan bersama.
Setelahnya, terdengar kemeriahan dari Festival. Suasana pagi itu di mulai dari teriakkan penjaga stan juga pengunjung yang semakin lama semakin bertambah. Tak ada masalah yang berarti, beberapa orang telah dipersiapkan untuk meminimalisir masalah yang akan terjadi. Ada orang – orang khusus yang ditugaskan untuk mengambil benda jatuh, ada pula yang di khususkan untuk anak kecil yang tersesat karna pengunjung tak hanya kalangan remaja, juga untuk mereka yang sudah berkeluarga.
Festival berjalan dengan meriah, terselip rasa lega juga semangat untuk terus memeriahkan acara. Di bantu teman – teman juga para Senpai, festival berlangsung dengan meriah walau udara berhembus dingin tapi tak mengurangi kehangatan yang tercipta dari siapa saja yang ada disana.
Jika Tetsuya sudah disibukkan dengan festival, lain hal dengan keempat kakaknya yang sudah disibukkan dengan pelanggan yang mampir di restoran mereka. Hari belum terlalu siang, tapi pengunjung sudah banyak yang datang, bahkan sudah ada yang memesan tempat terlebih dahulu karna takut tidak kebagian tempat. Shintarou di sibukkan dengan minuman, Atsushi memasak, Daiki membantu mencuci piring kotor dan Ryouta mencatat pesanan.
"Kise-kun, hari ini aku pesan seperti biasa" ucap salah seorang pelanggan tetap sejak restoran ini di buka.
"Coklat panas dan Waflle kan-ssu?" Ryouta tersenyum ramah.
"Benar, kau mengingatnya dengan baik" Pelanggan itu menampakkan senyumannya, setelah mencatat, Ryouta langsung berpindah ke meja berikutnya.
"Anda mau pesan apa, Tuan?" tanya Ryouta sopan.
"Tidak ada" Ryouta mengerutkan dahi, pria di depannya ini tidak sopan dan Ryouta membenci hal itu.
"Soukka, lebih baik aku ke meja lain-ssu" Ryouta membungkuk dan permisi.
"Matte" langkah Ryouta terhenti saat mendengar ucapan pria itu. "Kau Akashi Ryouta kan?" Ryouta tersenyum tipis.
"Kau salah orang tuan, aku Kise Ryouta-ssu" Ryouta menampilkan senyuman cerah.
"Jangan berbohong, aku tau kalian siapa" jawabnya dengan nada remah. "Kau Akashi Ryouta berumur 20 tahun, seorang model terkenal yang tiba – tiba saja menghilang" Ryouta terdiam tapi menuntut informasi lebih. "Pembuat minuman di sana adalah Akashi Shintarou, berusia 25 tahun, seorang dokter jenius dengan segudang prestasi. Chef di sana adalah Akashi Atsushi 24 tahun, pemilik Akashi Purple yang sedang maju pesat tapi menghilang secara tak jelas dengan pemimpin baru. Terakhir, pria gelap yang mencuci piring adalah Akashi Daiki 22 tahun, seorang polisi muda yang seharusnya menjadi kepala polisi di usia 23 tahun tapi mengundurkan diri dari pekerjaannya. Benarkan?" Ryouta menunduk sopan, bagaimanapun ia tak ingin rahasianya terbongkar.
"Gomen-ssu, tapi anda salah orang-ssu. Pria yang sedang menyiapkan minuman adalah Midorima Shintarou, pembuat makanan adalah Murasakibara Atsushi dan pencuci piring sekaligus pelayan itu adalah Aomine Daiki. Kami bukan dari keluarga Akashi yang terkenal itu-ssu" Lidah Ryouta berkelit rancu.
"Kau bisa saja berbohong Akashi Ryouta, tapi aku bisa membuktikan perkataanku itu" Pria itu menyeringai.
"Apa maksudmu-ssu?"
"Kau akan tau nanti" Pria itu berdiri dan berjalan menuju pintu keluar, tapi saat berada disamping Ryouta, bisikkan pelan membuat Ryouta menegang dan membulatkan mata tak percaya.
"Ryouta! Apa yang kau lakukan disana, masih ada pesanan yang lainnya di meja 12" Teriak Daiki dari meja lain saat ia telah selesai mencuci piring dan sibuk dengan mengantar hidangan.
"Haii-ssu"
Jika saja bukan karna suara Daiki, Ryouta bisa saja terdiam disana dan tak bisa berfikir jernih. Di saat yang bersamaan, mereka bersama – sama bekerja walau fikiran Ryouta berkecamuk hebat karna ucapan pria yang baru saja ia temui. Sementara itu, pria yang tadi ia temui tengah tersenyum menyeringai lebar. Kepuasan tersendiri saat melihat keluarga Akashi yang dijunjung tinggi kini terlihat terjun bebas ke dasar.
"Hahahahaha, Adik – adikmu sangat payah Akashi. Ini lebih dari sekedar kemenangan untukku. Ahahahahaha,, aku jadi semakin ingin menyiksa mereka" Ucap Pria itu sembari berjalan menjauh meninggalkan Basketball Caffe.
_ooOOOoo_
Hari berlalu, kini tiba saat puncak acara dari Winter Cup Festival. Seluruh anggota keluarga datang untuk menikmati kemeriahan acara, tak hanya itu, banyak pasangan – pasangan yang datang untuk menikmati festival hari itu. Ryouta, Daiki, Shintarou dan Atsushi terlihat diantara kerumunan yang ada.
Dari jauh, sudah jelas siapa mereka terlebih karna surai mereka yang sangat mencolok. Pakaian yang mereka kernakan sebenarnya sama, tapi tetap saja menjadi sorotan karna anggota Kiseki No Sedai yang di agung – agungkan berkumpul dalam Winter Cup Festival. Banyak atlit – atlit muda yang rela berdesak – desakkan untuk melihat Ryouta, Daiki, Atsushi dan Shintarou yang tengah sibuk dengan para Atlit, sementara Tetsuya dan Momoi menikmati sebuah Stan yang pernah Momoi ceritakan.
Rencana Awal, Stan itu dibuka saat siang hari, tapi diundur karna Stan lain yang lebih diminati. Akhirnya, setelah stan dibuka, mereka berdua ikut memasuki Stan yang di khususkan untuk pasangan. Sedikit canggung karna Tetsuya bukanlah seseorang yang suka dengan hal seperti itu, tapi karna Momoi menariknya dan memohon untuk ikut, mau tak mau ia ikut.
"Selamat datang di Love labirin, kalian sebagai pasangan harus memasuki labirin ini dan menjawab setiap tantangan secara bersama. Agar tidak terlepas, kami akan memborgol tangan kalian berdua" Belum lagi menolak, tangan Tetsuya sudah terborgol bersama Momoi. "Sudah selesai, kalian akan dilepaskan saat menyelesaikan labirin ini. Sebagai hadiah, kami memberikan liontin ini untuk kalian"
"Arigatougozaimasu" jawab Tetsuya dan Momoi menerima hadianya.
Sebuah Liontin berwarna Biru muda dengan aksen sederhana tapi tetap indah, jika dibandingkan dengan berlian asli, Liontin itu bukan apa – apa. hanya bernda imitasi sederhana yang di buat semirip mungkin dengan benda mahal. Walau kesulitan dengan tangan yang terborgol, Tetsuya memakaikan kalung itu di leher Momoi. Sangat manis dan sesuai dengan jaket yang ia kenakan dan juga rambut merah muda yang sengaja digerai.
"Kita masuk sekarang?"
"Haii, aku tak sabar melihat isinya"
Langkah kaki perlahan yang beriringan menggema di sekitar labirin yang di bangun. Tidak rumit, hanya tinggal mengikuti lampu berbentuk hati yang bersinar dilantai juga dinding yang berhias warna merah juga merah muda yang romantis. Sesekali terlihat gantungan malaikat bersayap dengan panah yang berbentuk hati. Sampai pada pos pertama, mereka di tantang untuk makan ramen dengan sumpit. Karna porsi makan Tetsuya yang sedikit, jadi Momoilah yang makan ramennya sedangkan Tetsuya yang menyuapi.
Selesai di pos pertama, mereka langsung ke pos selanjutnya. Kali ini permainan kekompakkan. Siapa sangka jika mereka dengan kompak menjawab segala pertanyaan dengan mudah, terlebih ada selingan tawa disana. Jika saja Shintarou, Atsushi, Daiki dan Ryouta melihat mereka berdua, sudah pasti Ryota akan berteriak tak jelas sementara Daiki akan menahan dari belakang, Shintarou dan Atsushi menyembunyikan rasa cemburu dengan mode masing – masing.
Pos - pos selanjutnya terlewati dengan mudah, hingga akhirnya mereka sampai di pos terakhir. Mereka memecahkan sebuah balon dan harus menerima tantangannya. Sebuah balon berwarna merah sedikit menarik perhatian Momoi, dengan buru – buru ia mengambilnya dan memecahkan balon itu. Sebuah kertas keluar dari balon itu dan berisikan sebuah hadiah beserta tantangan.
'Selesaikan Pocky Game dan menangkan jam tangan Couple limited Edition'
Wajah Momoi seketika merah padam membayangkan mereka memainkan Pocky Game. Oh Ayolah, setiap pasangan memang menantikan tantangan tersebut, tapi dirinya dan Tetsuya hanya sebatas teman dekat dan tak lebih, bagaimana bisa ia melakukan Game itu? Momoi menggeleng cepat dan menatap kearah Tetsuya.
"Eumh, Tetsu-kun. S-sebaiknya kita menyerah saja, aku rasa ini sudah lebih dari cukup"
"Hm? Kenapa?" Momoi melirik ke arah lain, takut – takut jika ada yang mendengar.
"Etto, tantangan selanjutnya adalah Pocky Game dengan hadiah Jam tangan Couple." Momoi menarik – narik ujung jaketnya- gugup. "K-Kau taukan cara bermain Pocky Game? A-aku memang ingin punya jam tangan itu, t-tapi kalau Tetsu-kun—" Ucapan Momoi dipotong oleh Tetsuya cepat.
"Kenapa tak coba?"
"Eh?"
"Kau ingin hadiah itukan? Kenapa kita tak coba?"
"T-Tapi Tetsu-kun, ini.."
"Aku tau, lagi pula tak masalah kan?" antara bimbang dan bingung. Segera Tetsuya meminta sebatang Pocky rasa Coklat pada penjaga stan. "Mulai sekarang?"
Wajah Momoi memerah dengan luar biasa, sungguh ia terlihat seperti kepiting rebus yang kepanasan. Terlebih saat ia melihat wajah Tetsuya yang sangat dekat dengannya, walau datar tapi begitu tampan juga memikatnya. Debaran jantung Momoi benar – benar tak bisa diajak kompromi ketika ia semakin dekat dengan wajah Tetsuya. Hanya tinggal hitungan detik dan sungguh, hal yang paling ia idam – idamkan terjadi.
'First Kiss dengan Akashi Tetsuya'
Pasangan – pasangan lain yang melihat mereka hanya bisa menahan kesal karna iri, beberapa orang yang merupakan penggemar keduanya hanya bisa gigit jari terlebih para gadis yang sudah menyiapkan tisu melihat adegan romatis itu. Momoi sudah seperti gunung merapi yang siap meletus, wajahnya memerah panas namun hatinya bergejolak senang. Tapi Tetsuya? Oh jangan tanya ekspresinya, masih tetap datar walau itu juga merupakan ciuman pertamanya.
"Ini hadiah kalian, Jam tangan Couple dan Arigatougozaimasu telah mengikuti Game di Love Labirin kami" ucap penjaga Stan dengan semangat walau sebenarnya iri.
"Boleh kami lepas borgolnya sekarang?" Tanya Tetsuya masih saja datar.
"Tentu saja" Salah satu penjaga memberikan sebuah kunci dan melepaskan borgol itu.
"Sampai jumpa dan nikmati festivalnya" Seru mereka semangat. Tetsuya dan Momoi segera meninggalkan stan itu untuk kembali menemui keempat kakak Tetsuya yang masih saja dikerumuni oleh pemain basket lain.
"Ne, Tetsu-kun"
"Hm?"
"Apa kau menikmati Gamenya?"
"Begitulah"
"L-lalu, apa kau ingin mengikuti game itu jika ada lagi?" Tetsuya memasang wajah berfikir dan mengangguk.
"tentu saja, aku akan ikut tapi jika itu bersama Momoi-san" Tetsuya menyerahkan jam tangan yang mereka dapatkan. "Hadiah ini cukup menarik, bukan merek mahal tapi designnya berbeda. Hanya ada satu dan Cuma kita yang punya" Tetsuya mengambil jam tangan yang lebih kecil. "Ini untuk Momoi-san dan yang satunya untukku" Momoi memasang jam tangan itu di tanga kirinya dan sangat cocok dengan kulitnya yang putih.
"Kawaii" Gumamnya saat membuat tangannya menengadah kelangit, bola mata Momoi membesar saat tangan pucat Tetsuya yang terpasang Jam tangan yang sama mendekat.
"Mereka cocokkan?"
Momoi kehabisan kata – kata saat mereka menyatukan jam tangan di tangan masing – masing. Hembusan angin juga gemerisik suasana festival seolah menjadi adegan film lambat dengan mereka berdua yang menjadi pusatnya. Momoi berharap jika waktu lebih lama dan hubungannya dengan Tetsuya lebih jauh, terlebih mereka berciuman dengan memainkan Pocky game. Momoi benar – benar menginginkan lebih, tapi mengingat keadaan keluarga Akashi yang berbeda, Momoi harus bersabar dan menunggu keluarga Tetsuya kembali seperti semula.
"TETSUYA-cchi!" Teriakkan suara cempreng mengganggu moment mereka berdua, tanpa menoleh mereka sudah tau jika pemilik suara itu adalah Ryouta yang telah selesai dengan para pemain yang dari tadi mengajaknya berbincang.
"Berisik Ryouta! Kau mengganggu Tetsu!" Diaki memukul pelan tengkuk belakang Ryouta.
"Jangan bertingkah berlebihan, Nodayo. Kau ingin mereka kembali mendesak kita dan tak membiarkan kita menikmati festival?" Shintarou menaikkan kacamatanya. "Bukannya aku menyukai festival, hanya saja tak ingin terganggu dengan tingkah kalian Nanodayo"
"He~~ Aku akan membeli makanan sebelum pulang nanti. Sepertinya enak" Atsushi memberikan pendapat yang keluar jalur.
"Nii-san Tachi?" Tetsuya mendekat dan langsung mendapatkan pelukkan dari Ryouta. "Ryouta – Nii, Aku kesulitan bernafas" eluh Tetsuya.
"Jangan memeluknya Ryouta!" Daiki menarik kerah belakang Ryouta, dan tentu saja si surai kuning ini memberikan ekspresi tangis buaya.
"Hidoii-ssu, aku hanya ingin memeluk adikku tersayang" Ryouta berpura – pura menyeka airmatanya.
"Baka, Tetsuya juga adikku" Shintarou membuang wajahnya kearah lain. "Bukannya aku mau mengumbar, tapi diantara kalian semua aku lebih menyayangi Tetsuya, Nanodayo"
"Shin Nii-chin paling tua, itu tak adil. Bagaimana dengan Daiki dan Ryouta?" Tanya Atsushi dan mendapat anggukkan dari yang namanya disebut.
"Mereka tak terlalu ku pikirkan Nodayo. Ryouta berisik sedangkan Daiki sulit diatur" Komentar Shintarou.
"Hidoii-ssu, kalau Daiki Nii-cchi memang pantas untuk tak dianggap karna dia paling gelap, tapi kenapa aku juga tak ikut-ssu" Ryouta masih merengek.
"Apa-apaan kau Ryouta? Kulitku eksotis, idaman wanita Amerika. Aku yakin jika Horikita Mai-chan akan menyukaiku jika bertemu denganku" Daiki tak mau kalah.
"Aku rasa tidak Nii-san, mungkin Horikita Mai akan lari karna wajah Nii-san menyeramkan" Pukulan telak dan memunculkan empat perempatan merah di dahi Daiki terlebih Ryouta, Shintarou dan Atsushi tertwa karna Celetukkan Tetsuya.
"TETSU!"
Daiki langsung melingkarkan lengannya di leher Tetsuya dengan sesekali mengelus rambut Baby Bluenya lembut tanpa peduli jika Ryouta sudah sibuk untuk ikut dengan Shintarou yang sesekali menengahi perbuatan adik – adikknya yang bertingkah kekanakan. Atsushi disibukkan dengan Takoyaki yang ntah sejak kapan sudah ada ditangannya, sementara Momoi hanya terkikik geli melihat kelakuan kakak beradik yang sudah membuang nama Akashi – kecuali Tetsuya yang masih sekolah.
Tak jauh dari mereka, terlihat dua pria dengan surai hitam dan merah berdiri tak jauh dari keduanya. Dengan Hodie yang menutupi helaian merah menyolok, pria dengan tinggi 183cm itu tersenyum kecil. Matanya dengan ruby indah tak henti –hentinya menatap kelima orang yang paling ia sayangi sedang tersenyum bebas dari segala tuntutan berdasarkan peraturan 'Keluarga Akashi'. Tak tau kenapa, setetes airmata jatuh dari salah satu matanya. Ada rindu terpendam yang sulit diungkapkan melalui kata – kata, berharap udara dingin bisa terusir dengan pelukkan hangat seperti dahulu.
"Daijoubuka, Sei?" tanya pria berambut hitam dengan topi disampingnya.
"…."Tak ada jawaban tapi bisa terlihat jika orang yang ditanyai sedang menyeka butiran beningnya. "Daijoubu, hanya merindukkan mereka"
"Soukka, kenapa tak menegur mereka saja?" Si surai merah menggeleng.
"Iie, ini belum saatnya. Hingga saatnya tiba, aku akan kembali pada mereka dan tak akan membuang mereka lagi"
"Haah, jadi sekarang apa yang harus kita lakukan?" Seijuurou menghela nafas sejenak hingga tercipta asap putih dari bibirnya.
"Aku masih ingin melihat mereka disini,Shuuzou. Apa kau keberatan" Nijimura Shuuzou menggeleng cepat.
"Iie, aku sama sekali tak keberatan karna ini pilihanmu."
Dua pria dengan marga berbeda itu berdiri diam dengan pandangan fokus pada pria yang tengah tertawa dengan jarak yang tak jauh dari mereka. Helaian Baby Blue, Hijau, Navy Blue, Ungu dan Kuning yang bergelut dengan dinginnya malam. Akashi Seijuurou dan Nijimura Shuuzou hanya bisa menatap mereka dari jauh tanpa bisa mendekat. Ledakkan kembang api di malam terakhir festival menjadi saksi sebuah kerinduan terpendam dari sosok kaisar yang kehilangan kuasa karna keluarga yang ia cintai kini menikmati hidup bebas tanpa kurungan seperti dirinya.
'Akashi Seijuurou begitu merindukkan adik – adikknya dan ingin memeluk mereka untuk sekali lagi bersama'
To Be Continue...
Gomen Lian telat update,, Lian terlalu fokus sama beberapa FF ketikan Lian, jadi lupa kalau hari jum'at udah lewat.. Oia,, Lian juga mau minta maaf jika ada yang kecewa dengan Adegan KuroMomonya, ini hanya curhatan kecil Lian ajah sekaligus mau coba bikin FF yang roamance,, jdi di masukkin di sini dikit.. hanya uji coba.. selebihnya akan family and brothership..
Review yang kemarin, maaf yah lian belum sempat balas, soalnya keburu sama waktu.. untuk chapter selanjutnya lian balas.. ^^
Sampai jumpa di CHapter selanjutnya.. Chapter 13 - Birthday Party
