Tittle : White Crystal

Maincast : -Akashi Seijuurou

- Kuroko Tetsuya

- Aomine Daiki

- Kise Ryouta

- Murasakibara Atsushi

- Midorima Shintarou

Suport Cast : - All of Kuroko No Basuke Chara

Author : Lian (VT_Lian1995)

Genre : Family, Slice Of Life, School Life, Brotheship, Little Comedy, Sad, Hurt.

Attention : This chara not mine, this chara from Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi – sensei.

Little information : Seluruh nama Cast akan menggunakan nama Akashi karna ini berhubungan dengan kisah keluarga Akashi. Jadi di mulai dari Tetsuya sampai Shintarou akan menggunakan nama depan Akashi.

Summary : Akashi Tetsuya, bungsu dari 6 bersaudara keluarga Akashi harus menangung beban berat di pundak untuk memberikan kesan betapa hebatnya keluarga Akashi. Tapi sayangnya, apapun yang ia lakukan pasti sudah pernah dilakukan oleh ke – 5 kakaknya. Apapun itu, segala yang Akashi Tetsuya raih seolah hanya sia – sia, terlebih jika dibandingkan dengan fisik ke – 5 kakaknya, Tetsuya jauh lebih lemah, namun tak menampik kemungkinan ia bisa jadi lebih kuat walau usahanya akan mendapat resiko yang tinggi. Ini demi menjunjung tinggi motto dari sang Ayah yang telah tiada "Pemenang akan mengukir sejarah dan yang kalah akan menjadi pecundang yang terlupakan."

"Jika kau katakan menjadi bungsu keluarga Akashi merupakan anugrah, tapi bagiku tidak. Beban yang ku tanggung lebih besar dari Ke-5 saudaraku yang lain"

_ooOOOoo_

Chapter 13

%^Birthday Present^%

Dua pria tengah berjalan beriringan, satunya memiliki tinggi 190cm sedangkan yang satunya dengan tinggi 168cm. Sungguh perbedaan yang cukup menyolok seperti ibu jari dan jari telunjuk yang sedang disandingkan. Jersey Seirin terlihat membalut tubuh keduanya, jika yang satunya terlihat pas sedangkan yang satunya terlihat kebesaran. Jalanan kota sedang sepi karna mendekati akhir bulan Januari.

"Ne, Tetsuya" panggil Si surai merah hitam dengan tubuh tinggi, yang dipanggil memalingkan wajahnya.

"Haii,, Kagami-kun" jawabnya lembut.

"31 Januari nanti kau ada acara?" Tetsuya memautkan bibir sembari berfikir.

"Mungkin ada, kenapa?" tanyanya polos, Kagami sontak menggaruk tengkuknya dan mencoba mencari – cari alasan.

"Soukka, ternyata kau ada acara" gumamnya kecewa.

"Memangnya kenapa Kagami-kun"

"Sebenarnya aku dan yang lain ingin menyiapkan pesta ulang tahun untukmu, tapi kau sudah memiliki acara. Bagaimana ini" Kagami mengacak kasar rambutnya karna bingung.

"Kalau soal itu kau tak perlu khawatir Kagami-kun, sebenarnya acara yang akan ku lakukan hari itu adalah perayaan ulang tahunku bersama Nii-san Tachi. Mungkin jika digabung akan menyenangkan"

"Benar juga, kenapa aku tak kepikiran. Sugoii Tetsuya" Kagami menepuk kepala Tetsuya lembut. "Kalau begitu, tanggal 31 januari nanti kami akan bergabung dengan Aniki Tachi-mu dan membuatkan pesta yang tak akan kau lupakan Tetsuya"

"Arigatougozaimasu, Kagami-kun. Aku senang"

"Kau ini apa – apaan, seharusnya aku yang mengatakan seperti itu. Berkat kau, kita memenangkan Winter Cup dan berhasil menyabet seluruh pernghargaan disetiap olympiade. Sekolah – sekolah lain juga mau mengadakan Winter Cup Festival bersama, itu pencapaian yang bagus Tetsuya"

"Kau berlebihan Kagami-kun"

"Aku tak berlebihan" Kagami mengangkat tinggi tangannya dan berteriak senang. "Yosh! Kita adakan pesta di Basketball Caffe" Teriak Kagami senang dan ditanggapi dengan senyuman Polos Tetsuya.

Bukan rahasia lagi jika Club Basket Seirin mengetahui keadaan keluarga akashi yang sekarang. Mereka yang terbiasa dengan rumah Tetsuya yang megah kini merasa lebih dekat dengan rumah Tetsuya yang digabung dengan Caffe sebagai usaha mereka yang baru. Tak jarang mereka berkumpul dan bersenda gurau di Caffe itu – terlebih jaraknya yang tak terlalu jauh dari sekolah.

Beberapa hari berlanjut dan hari yang ditunggu tiba. 31 Januari, tanggal dimana Tetsuya terlahir ke dunia di tengah musim dingin. Seirin telah bersiap – siap untuk pergi ke kediaman Tetsuya yang baru untuk membuat persiapan pesta. Mereka terdiri dari siswa dan siswi kelas satu dari Club basket yang sudah siap dengan bermacam – macam barang bawaan. Momoi sudah bersenandung dengan membawa kotak berwarna merah muda berhias pita Baby Blue sebagai hadiah untuk seorang yang beberapa minggu lalu resmi menjadi kekasihnya.

Jangan tanya bagaimana caranya, Momoi juga sebenarnya antara percaya dan tidak saat Tetsuya membalas perasaannya dengan cara yang tak biasa. Di sebelah Momoi, terlihat Kagami, Furihata, Fukuda Hiroshi, Kawahara, Hyuuga dan Izuki sedang menenteng bahan makanan juga peralatan yang akan digunakan untuk mendekorasi ruangan pesta. Mereka berjalan dengan santai tanpa terburu – buru karna sembari berjalan, mereka memeriksa ulang perlengkapan masing – masing terlebih jika ada yang kurang mereka bisa langsung membeli tanpa perlu bolak – balik lagi.

Sementara itu di kediaman Tetsuya, keempat kakaknya dibuat panik setengah mati karna demam Tetsuya yang tiba – tiba naik. Shintarou sibuk menghubungi temannya yang saat ini masih bekerja di Akashi Hospital – Takao Kazunari – untuk meminjam peralatan kedokteran juga menyuruhnya untuk membawakan beberapa obat. Ryouta sendiri disibukkan dengan air dingin dan baskom sementara Daiki disibukkan dengan mengompres dahi Tetsuya yang panas. Atsushi sudah bersiap untuk membuat semangkuk sup hangat juga bubur pendamping.

Tetsuya yang jadi patokan atas keributan itu hanya bisa menghela nafas pasrah karna ia terkena demam tinggi yang untungnya tak membuat sesak nafasnya kumat. Jika diingat – ingat lagi, mungkin penyebab keadaannya seperti ini adalah karna ulah Kagami yang mengajaknya berlatih di malam hari saat salju turun. Oh atau mungkin salah Tetsuya karna beberapa hari lalu ia berkencan dengan Momoi sampai lupa waktu dan membiarkan jaketnya basah karna salju yang mencair. Ah mungkin saja ini karna ulah Captain dan pelatihnya yang membuat latihan Neraka di musim dingin hingga keadaannya memburuk.

Sekali lagi helaan nafas terdengar dari bibir mungil Tetsuya, ia merutuk kesal karna tubuhnya yang lemah dan mudah terkena demam. Hari ini adalah hari yang paling ia tunggu karna semuanya berkumpul untuk merayakan pesta ulang tahunnya, tapi ia sendiri malah terbaring di tempat tidur dengan tubuh menggigil. Seharusnya ia mengingat kejadian tempo hari sebelum keempat kakaknya melepas marga Akashi dan hari dimana Seijuurou – si sulung yang ia rindukan – menemaninya saat demam.

Jelas teringat dalam benak Tetsuya, saat ia terkena demam tinggi saat hari ulang tahunnya yang ke – 8. Seijuurou yang sudah menginjak 18 tahun dan merupakan salah satu mahasiswa perguruan tinggi sekaligus pimpinan Akashi Corp rela meninggalkan segalanya hanya untuk menemani Tetsuya yang sakit. Tepukkan hangat, kecupan lembut dan pelukkan dari sang kakak membuatnya tenang, terlebih senandung lagu 'Happy birthday' terdengar dari bibir mungil kakaknya. Sederhana, tapi membuat nyaman.

"Tetsuya, otanjoubi omedetou. Sekarang kau sudah 8 tahun dan menjadi semakin besar, mulai sekarang kau harus bisa menjaga kesehatan supaya bisa merayakan ulang tahun seperti biasanya." Tangan Seijuurou menyentuh lembut pipi chubby Tetsuya yang sudah tertidur. "Nii-san akan disini sampai demammu turun dan kita akan merayakan hari ulang tahunmu bersama yang lain. Cepat sembuh, Tetsuya" Bisik Seijuurou lembut yang masih didengar oleh Tetsuya saat itu dan diakhiri dengan kecupan lembut di dahinya.

Manis nan hangat menjadi gambaran sikap Seijuurou saat berada disamping Tetsuya yang sakit. Sewaktu kedua orangtuanya masih ada, Seijuurou jauh lebih protectif walau sudah ada sang ibu yang menjaga Tetsuya. Jika saja Tetsuya bisa mengingat bagaimana ia dirawat oleh Seijuurou saat usianya baru menginjak 2 tahun, mungkin saat ini Tetsuya berharap bisa kembali ke masa lalu dan tak ingin tumbuh dewasa.

Menilik lagi kebelakang, dihari dengan temperatur rendah beserta salju yang menumpuk di jendela luar. Kediaman megah keluarga Akashi tengah ribut mengejar anak kecil bersurai Baby Blue yang berlari lincah menyusuri kediaman Akashi yang luas. Kaki mungilnya terus berlari dengan riang tanpa peduli jika piyama yang ia kenakan bisa saja terinjak karna kebesaran. Tak peduli jika orang – orang tengah sibuk dan panik setengah mati karna ulahnya. Bayangkan saja, bocah mungil yang paling dijaga saat musim dingin kini dengan bebasnya lari dari penjagaan dan tertawa saat semua orang sibuk mencarinya.

Sang kepala keluarga sedang tak berada di rumah jadi hanya ada nyonya besar beserta 3 putra termudanya Daiki, Ryouta dan Tetsuya. Putra tertua sampai yang ketiga sedang berada di tempat les privat masing – masing. Awalnya Nyonya besar keluarga akashi itu sibuk bermain bersama Daiki, Ryouta dan Tetsuya di ruang tengah, tapi seketika suasana menjadi panik karna Tetsuya hilang mendadak saat Nyonya besar Akashi mengambilkan susu formula untuk ketiga putranya itu.

Daiki dan Ryouta sendiri tak sadar jika adiknya sudah pergi karna mereka sibuk bermain berdua. Tetsuya begitu mungil dan merupakan anak mereka yang paling sulit di deteksi. Ryouta yang berumur 6 tahun masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 1 dan Daiki berumur 8 tahun masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar kini mulai ikut mencari bocah Baby Blue yang menghilang begitu saja.

"Mabuchi, apa kau melihat Tet– Chan?" Tanya Nyonya Akashi.

"Gomennasai, Saya tidak melihatnya nyonya." Nyonya Akashi menghela nafas cemas, putranya yang satu itu sangat sulit untuk dicari apa lagi saat hilang dari pandangan.

"Soukka, kau bisa kembali bekerja Mabuchi, tapi kalau melihat Tetsuya, tolong cepat bawa dia dan beritahu aku segera" Mabuchi membungkuk.

"Baik Nyonya"

Wanita berusia 30 tahunan lebih itu terlihat mencari lagi sosok mungil kesayangannya, setiap Maid yang lewat pasti ia tanyakan tapi jawabannya sungguh mengecewakan. Lain hal dengan Sang ibu yang bertanya pada setiap Maid, Ryouta dan Daiki bekerja sama untuk mencari Tetsuya yang mereka sayangi itu.

"Tanaka-cchi" panggi Ryouta dengan suaranya yang nyaring.

"Haii, Ryouta-sama" Tanaka membungkuk untuk menyamakan tinggi sang tuan muda.

"Apa Tanaka-cchi melihat Tetsuya-cchi?"

"Tidak Ryouta – sama, memangnya Tetsuya – sama kemana?" Tanya Tanaka bingung.

"Kami tidak tahu Tanaka-san, Kaa-san sedang mencarinya. Tadi kami bermain tapi Tetsu menghilang." Daiki menarik ujung celana Tanaka sambil memberikan tatapan Puppy. "Bantu kami mencari Tetsu, Tanaka-san" Ryouta sudah menahan airmatanya tapi tetap saja tumpah.

"Tanaka-cchi, Ayo cari Tetsuya-cchi sama sama-ssu" rengeknya.

"Haii, Ryouta-sama, Daiki-sama. Kita akan mencari Tetsuya – sama"

Jika yang lain sedang sibuk mencari, si surai Baby Blue yang menjadi biang keladi tengah sibuk bermain salju di halaman depan tanpa takut butiran salju bisa membekukan dirinya yang mungil. Tangan dengan jemari mungil disibukkan dengan menggenggam butiran – butiran salju yang tertumpuk di teras rumah. Kaki – kakinya dengan santai berjalan tanpa alas apapun dan menjadikan sensasi dingin Salju menyentuh kulitnya secara langsung.

Piyamanya yang kebesaran kini terlihat lembab karna salju yang mencair, tak hanya itu, sesekali ia berlari kecil saat mendapati ada salju yang berjatuhan dari dahan pohon dan langsung mengenai kepalanya. Anak berusia 2 tahun itu tentu saja sangat senang dan bersemangat bermain benda dingin itu walau hidungnya sudah gatal dan terdengar beberapa kali bersin. Sekitar 10 menit ia bermain, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya. Tetsuya segera berdiri – bermaksud untuk menyambut kedatangan seseorang yang ia kenali.

"Tetsuya?" suara khas remaja yang menginjak masa remaja terdengar di telinga Tetsuya, nada suaranya memancarkan keterkejutan tapi si surai Baby Blue malah tertawa kecil.

"Nii– Chan" serunya senang. Remaja dengan surai merah dan mata Ruby langsung mendekat dan tanpa banyak ucapan, Tetsuya mengangkat kedua tangannya – ingin digendong. Tetsuya semakin senang karna kakaknya langsung menggendongnya cemas.

"Kenapa Tetsuya di luar Seijuurou?" Tanya si Surai Hijau yang baru saja keluar dari mobil yang sama. "Bukannya apa – apa, aku Cuma ingin bertanya Nanodayo" Seijuurou masih terfokus pada Tetsuya yang ada digendongannya, tapi menyempatkan diri untuk menjawab pertanyaan adiknya.

"Aku tidak tau, Shintarou. Dia sudah ada disini saat aku keluar tadi" Shintarou mengernyit lalu mendekat.

"Tetsuya, apa yang kau lakukan Nanodayo? Kemana yang lain?" Tanya si surai Hijau – Shintarou-.

"Nii– Chan" Tetsuya berceloteh sambil menunjukkan gumpalan salju mencair di tangannya ke arah Shintarou – mengabaikan pertanyaan yang sebelumnya ditujukan untuknya.

"Kau bermain salju? Dimana Kaa-san dan yang lain?" Tanya Seijuurou yang masih menggendong Tetsuya. Si bocah dengan surai Baby Blue menggelengkan kepala namun mata jernih juga senyumannya seolah menghipnotis Seijuurou juga Shintarou untuk tidak bertanya lebih.

"Udara semakin dingin, ayo kita masuk Nanodayo. Aku tak mau Tetsuya terkena flu" Shintarou menaikkan bingkai kacamatanya sembari membantu membawakan tas ransel Seijuurou agar tak mengganggu. "Bukannya kau perduli, aku tak mau Tetsuya terjatuh karna kau keberatan membawa tas, Nanodayo" Masih Tsundere, Shintarou memalingkan wajahnya. Seijuurou hanya tersenyum tipis.

"Nii– Chan, Hachim" Tetsuya bersin dan jangan lupakan jika wajahnya sangat dekat dengan wajah Seijuurou, alhasil wajah tampan seijuurou sedikit basah karna ulah Tetsuya.

"Sepertinya kau terkena Flu Tetsuya" Seijuurou mengelus surai Baby Blue lembut dengan tangan mungil Tetsuya menggosok – gosok hidungnya. "Kau ini, nanti malam ada pesta ulang tahunmu tapi kau malah terkena flu" Bukannya menyesal, Tetsuya malah memberikan senyuman manisnya sebagai tanda kepolosannya. "Baiklah, Nii-san menyerah"

Seijuurou mengelus dan membawa Tetsuya dalam gendongannya bersama Shintarou mengikuti dibelakang. Begitu masuk, pemandangan pertama yang terlihat adalah para Maid yang terlihat sibuk mencari sesuatu dan Seijuurou tau apa yanag mereka cari. Tak jauh dari para Maid, wanita bersurai biru muda tengah memancarkan wajah khawatir juga cemas – seperti kehilangan sesuatu. Seijuurou mengerti apa yang sedang mereka cari, siapa lagi kalau bukan adik bungsu yang suka menghilang semenjak bisa merangkak dan berjalan. Karna tubuhnya mungil juga hawa keberadaannya tipis, sulit dicari juga sangat lincah menghindar.

"Kaa-san" panggil Seijuurou, sang wanita yang dipanggil langsung berbalik dan langsung bernafas lega saat melihat putra bungsunya berada dalam gendongan sang putra sulung.

"Sei– Chan, ah syukurlah" Wanita itu mendekat dan langsung mengambil Tetsuya dari gendongan Seijuurou. "Kau menemukkan Tet– Chan dimana?" Tanyanya dengan wajah yang lega.

"Di teras depan Kaa-san, dia sedang bermain salju" jelas Seijuurou.

"Teras?" Buru – buru wanita itu menyentuh dahi putranya yang masih menampikan senyuman tapi perlahan mata beningnya tapi mulai sayu. "Tet– Chan, jangan main di luar dan sepertinya kau mulai terkena demam. Malam ini kita ada pesta hari ulang tahunmu, tapi kau malah demam"

"Apa kita batalkan saja pestanya Kaa-san? Aku rasa tak masalah dari pada Tetsuya kenapa – kenapa, Nanodayo" Shintarou mencuri tatapan pada sang adik. "Hanya antisipasi saja, bukan berarti aku peduli"

"Kau benar Shintarou, tapi tak mungkin membatalkannya sekarang." Masih menggendong Tetsuya yang sekarang sudah bersandar di dada wanita yang membuatnya terlahir ke dunia. "Hm.. bisa Kaa-san minta tolong pada kalian?"

"Hm?" Shintarou dan Seijuurou mengangguk.

"Sei– Chan, kau bantu Kaa-san untuk merawat Tetsuya sedangkan Shintarou bantu jaga Daiki dan Ryouta agar tidak mengganggu para Maid menyiapkan dekorasi. Nanti saat Atsushi pulang bersama Tou-san, katakan saja untuk membantu mengganti pakaian kalian ne."

"Haii, aku mengerti Nanodayo"

Nyonya besar Akashi itu segera bergegas menuju kamar Tetsuya yang di dominasi dengan warna biru cerah diikuti oleh Seijuurou yang berada dibelakangnya. Sudah terbiasa dengan keadaan si bungsu yang tak tahan dengan musim dingin, Wanita itu membaringkan Tetsuya di tempat tidur tapi sayangnya Tetsuya menolak dan kembali duduk. Dengan susah payah, wanita itu membujuk Tetsuya untuk tidur bahkan butuh sekedar dari bujukkan untuk mengganti piyamanya yang basah.

"Tet– Chan sayang, sebaiknya tiduran dulu. Kaa-san tak mau Tet– Chan sakit, nanti malam kita ada pesta" seolah tak peduli, Tetsuya malah tersenyum cerah dengan mata yang sayu seolah mengatakan jika ia masih ingin bermain. "Mou~ Tet– Chan, nanti malam kita bisa bermain lagi. Sekarang tidurlah sebentar" Pinta sang Ibu dengan wajah yang cemas.

"Nii– Chan" celoteh Tetsuya ketika melihat Seijuurou membawakan nampan berisi sebotol susu formula rasa vanilla dan sebuah plester Gel penurun panas.

"Sei– Chan, sepertinya dia ingin bermain denganmu" Tebak sang Ibu yang entah sejak kapan mulai menggendong Tetsuya.

"Bermain?" Seijuurou melirik kearah Tetsuya sekilas dan dengan jelas tangannya menggapai udara – berharap sang kakak menyambut dan menggendongnya. Buru – buru Seijuurou meletakkan nampan itu dan menggendong Tetsuya. "Kaa-san benar, dia ingin bermain bersamaku, tapi—" ucapan Seijuurou terputus saat ibunya menepuk puncak kepalanya lembut.

"Bisa Kaa-san minta bantuanmu Sei – Chan?" Tanya sang ibu yang dijawab dengan anggukkan. "Ajak Tet – Chan main sebentar lalu tidurkan setelah lelah, Kaa-san yakin, dengan seperti itu Te t– Chan akan lebih baik untuk pesta nanti malam. Kau tau sendirikan berapa undangan yang kita sebar untuk ulang tahun Tet– Chan yang kedua. Tak semudah membalik telapak tangan untuk membatalkannya. Jika terjadi sesuatu, Kaa-san ada di bawah. Kau bisa memanggil Kaa-san kapan saja karna prioritas utama Kaa-san adalah kalian." Seijuurou mengangguk.

"Wakatta, Kaa-san" wanita paruh baya itu tersenyum cerah sembari mengelus rambut merah sang putra yang mulai memanjang.

"Kaa-san percayakan Tet– Chan padamu, jadilah kakak yang baik dan selalu menjaga adiknya" Seijuurou mengangguk.

Tak berselang lama, sang ibu keluar dari kamar setelah menempelkan plester gel penurun demam di dahi Tetsuya. Sekarang tinggallah si sulung dan si bungsu yang bermain diatas ranjang dengan ukuran besar dan cukup untuk 2 orang dewasa. Tetsuya duduk diantara kumpulan selimut tebal bersama kumpulan kubus beraneka huruf juga warna ditangannya. Seijuurou disampingnya tanpa pernah meninggalkan Tetsuya sekalipun. Menunggu sang adik lelah dan mengantuk terlebih saat ini Tetsuya sudah mulai terkena demam dan flu.

"Tetsuya, sekarang kita tidur ya? Nanti malam kita ada pesta" bujuk Seijuurou dan mendapat gelengan dari Tetsuya. "Ayolah Tetsuya, Nii-san nyanyikan sebuah lagu bagaimana?" Tetsuya menggeleng lagi.

"Tidak mau" celotehnya.

"Jadi Tetsuya maunya apa?" mata ruby itu menatap sepasang bola mata biru cerah yang menyipit karna sebuah senyuman tersungging disana. Tangan Tetsuya terbuka sembari menggapai udara.

"Peluk"

"Eh?"

"Nii– Chan, peluk" Seijuurou tersenyum saat sadar jika sang adik memang menyukai sebuah pelukkan sebagai penghantar tidur, Seijuurou mengambil posisi disamping Tetsuya sembari memberikan pelukkan hangatnya.

"Nii-san sudah memeluk Tetsuya, sekarang Tetsuya tidur ya?" Tetsuya menampilkan senyuman imut dengan gigi – gigi susu yang sudah mulai banyak tumbuh.

"Un, Oyasumi" Suara khas bocah berumur dua tahun yang nyaring merasuki pendengaran Seijuurou, adiknya yang satu ini memang terlihat 1000 kali lebih imut saat mulai mengantuk.

"Oyasumi, Tetsuya"

Tetsuya perlahan mulai menutup kedua matanya, menyembunyikan bola mata biru yang indah dan bersiap menuju ke alam mimpinya. Sesekali tangan Seijuurou menepuk paha dan tangan yang satunya dengan lembut mengelus surai Baby Blue itu hingga merasa nyaman. Tak butuh waktu lama, dengkuran kecil dari bibir mungil Tetsuya membuat Seijuurou tersenyum senang.

Segera dirinya mulai bangkit dan menarik selimut untuk membuat Tetsuya lebih hangat. Sebelum bergegas keluar, Seijuurou menghadiahkan sebuah kecupan hangat di dahi, kelopak mata kiri, kelopak mata kanan, kedua belah pipi dan hidung mancung Tetsuya. Sedikit mendekatkan bibir mungilnya ke arah telinga Tetsuya, Seijuurou bergumam pelan.

"Otanjoubi omedetou, Tetsuya. Malam ini akan jadi pesta meriah setelah kau bangun" Bisikan terakhir dari Seijuurou memberikan mimpi indah untuk Tetsuya, segera ia keluar perlahan agar tidur sang adik tidak terganggu.

Sesuai rencana awal, malam itu diadakan pesta meriah di kediaman keluarga akashi. Balon aneka warna menghias di ruangan tengah yang luas, tak hanya itu pita juga pernak – pernik khas pesta memenuhi seluruh ruangan. Sebuah kue besar dengan tinggi yang luar biasa menghias di tengah ruangan. Kue dengan warna dasar Vanilla berhias pelangi 7 warna dengan dekorasi paling atas adalah boneka miniatur keluarga Akashi. Di setiap tingkatnya bertuliskan nama ke-6 putra keluarga Akashi dengan Tetsuya berada di puncak sedangkan Seijuurou yang paling bawah.

Tak luput, angka 2 yang menjadi pertambahan usia Tetsuya sudah berdiri di puncak. Di samping tempat kue, terlihat meja yang sangat besar berisi penuh dengan hadiah dari para tamu yang datang. Seluruh tamu yang terdiri dari para orangtua beserta anaknya terlihat mengenakan pakaian yang super mewah seolah memperkenalkan identitas mereka. Keluarga Akashi sendiri juga sudah mengenakan pakaian mereka yang jauh lebih mewah juga seragam.

Di mulai dari Shintarou yang mengenakan kemeja kotak – kotak berwarna hijau di lapisi rompi ber-hoodie warna hitam yang menawan. Tak luput, celana panjang berwarna hitam turut menghias dengan sepatu booth yang casual membuat ia terlihat lebih formal tapi sesuai dengan umurnya. Atsushi mengenakan kemeja kotak – kotak ungu dengan tambahan jaket berwarna abu – abu dengan celana putih selaras dengan sepatu tali yang ia kenakan.

Daiki terlihat eksotis dengan kemeja kotak – kotak biru beserta celana jins selutut yang selaras dengan sepatu sport favoritenya. Tak luput dasi kupu – kupu manis menghias di lehernya sehingga terlihat seolah ia seperti anak usia 10 tahun padahal usianya masih 8 tahun. Diantara mereka, Ryoutalah yang paling terlihat lebih modis. Kemeja kotak – kotak berwarna kuning disatukan dengan jeket ber-hoodie dengan garis kuning, tak luput celana jins selutut dengan kaki yang berbalut kaos kaki putih dengan garis kuning di ujungnya dan sepatu berwarna hitam selaras dengan jaketnya. Satu hal yang tergambar saat melihat Ryouta adalah 'Menggemaskan'

Nyonya dan Tuan pemimpin Akashi Corp juga terlihat sangat modis, terlebih sang ibu yang terbalut Dress selutut berwarna lavender lembut dengan rambut panjang berwarna biru yang dibiarkan tergerai tapi berhias jepitan manis, jika saja semua orang tak ingat dia telah melahirkan 6 orang anak yang tampan, mungkin mereka semua akan menyangka jika wanita yang masuk usia 30 tahunan lebih itu seperti baru berusia 20 tahun.

Acara pesta ulang tahun Tetsuya berjalan dengan penuh kemewahan, walau pangeran sebenarnya belum juga muncul. Di tengah – tengah pesta, suara MC menginterupsi dan akhirnya yang mereka tunggu datang. Tetsuya berjalan pelan menyusuri anak tangga bersama Seijuurou yang menggenggam tangan kanannya. Senyuman manis Tetsuya menghipnotis saat kaki – kaki mungilnya semakin dekat dengan para tamu.

Tubuh mungil Tetsuya berbalut kemeja kotak – kotak berwarna Baby Blue lengan pendek dengan hoodie serta rompi abu – abu gelap berpadu dengan celana selutut berwarna jins yang manis. Sepatu mahal dengan lampu ditapaknya terlihat berkelip lucu dan menambah kesan manis yang menggoda.

Tak hanya Tetsuya yang saat itu menjadi sorotan, pria disampingnya juga menarik perhatian. Seijuurou terlihat mengenakan kemeja kotak – kotak merah tangan panjang yang digulung hingga lengan dibiarkan bergitu saja, celana hitam dengan sepatu booth tinggi ala emo boy menghias kakinya. Jangan lupakan surai merahnya telah disisir sedemikian rupa. Tampan juga terkesan lebih dewasa dari umurnya.

"Sumimasen menunggu lama, sekarang kita bisa mulai pesta ulang tahun untuk Tetsuya" bibir Seijuurou tersenyum pada seluruh tamu sebagai ucapan maafnya.

Hari itu, ulang tahun Tetsuya yang kedua benar – benar menjadi pesta yang tak pernah terlupakan sama sekali. Meski Tetsuya sempat demam – dan sebenarnya masih demam – tapi terlupakan dengan kemeriahan pesta juga kebersamaan mereka. Tak luput, sebuah foto diambil sebagai kenang – kenangan hari itu. Sang ayah dan ibu duduk manis ditengah sedangkan sang putra mengelilinginya. Seijuurou berdiri disamping sang ibu dengan menggendong Tetsuya sedangkan Shintarou disamping sang ayah sambil meneluk Ryouta. Atsushi duduk diantara kedua orangtua mereka sembari memeluk Daiki dengan sayang.

'Klise, tapi berkesan'

Sekarang? Kebahagiaan juga kebersamaan itu telah pupus oleh waktu beserta marga Akashi yang telah hilang. Walau masih ada Shintarou, Atsushi, Daiki dan Ryouta yang selalu disampingnya, terlebih Seirin juga ikut berperan, tapi tetap saja ada yang kurang dihari ulang tahun Tetsuya yang ke 16. Tak hanya demam, tapi kehidupannya sudah berubah. Percuma Tetsuya mengutuk kesal karna tubuhnya yang terserang demam, atau mengutuk yang namanya kesempurnaan. Tetsuya Cuma ingin satu hal, ia ingin hari ulang tahunnya kali ini mereka rayakan bersama dengan penuh orang juga berkumpul seperti tahun – tahun sebelumnya.

_ooOOOoo_

Sebuah Caffe yang biasanya dipenuhi para pelanggan kini terlihat dipenuhi oleh para remaja yang disibukkan dengan dekorasi juga perlengkapan pesta. Caffe sederhana yang jauh dari kesan mewah itu terlihat berkali lipat lebih menarik dengan tambahan aneka mawar juga pita yang menghias. Tak luput, beberapa remaja sibuk berjalan ke sana – sini untuk menyiapkan pekerjaan masing – masing.

"Furihata-kun, bisa kau selesaikan dekorasi di sebelah sana" Suara Izuki menginterupsi.

"Haii Senpai" Jawab Furihata.

"Ah, Momoi– Chan bisa bantu membuat hiasan bunga mawar di meja sana?" Intruksi masih dilancarkan dan dengan mudah Momoi mengangguk. "Etto, Hyuuga, kau sedang apa?" Hyuuga dengan senyuman cerah menunjukkan hasil kreasinya.

"Kau lihat ini Izuki" Izuki hanya bisa membuka mulutnya tak percaya, hasil guntingan acak tapi mengesankan.

"Itu bagus Senpai" puji Kawahara dan Fukuda.

"Tak buruk untuk jadi hiasan di restoran kami, Hyuuga" Puji Daiki

"Arigatou, Aomine-san" Hyuuga semakin tersenyum cerah.

"Ne, Kagami-kun, apa kau sudah menyelesaikan bagian makanan?" Tanya Kogane.

"Tenang saja, aku dan Murasakibara-san sedang membuatnya" Teriak Kagami dari dapur.

"Hmm.. Merepotkan memasak bersamamu" Celetuk Atsushi dengan nada malas.

"HAH?! Apa – apaan itu, tenang saja, aku sudah meminta kakakku untuk membantu. Sebentar lagi dia pasti datang" Gerutu Kagami.

"He~ kau punya kakak?" Tanyanya yang masih sibuk memotong bahan masakan.

"Tentu saja, dia juga salah satu Chef di Akita"

"Soukka~~? Siapa namanya?"

"Himuro Tatsuya, kakak sepupuku dan dia sedang dalam perjalanan kesini" Atsushi yang tadi sibuk memutilasi bahan makanan sontak menatap kesamping.

"Kau adiknya Muro-chin?"

"Muro-chin? Dare?"

Baru saja akan dijawab oleh Atsushi, pintu depan terbuka dan menampakkan pria tinggi dengan surai hitam dan poni panjang yang menutup mata terlihat memasuki pintu depan restorannya. Sama sama terkejut tapi sebuah senyuman terukir disana.

"Muro-chin?"

"Ah, Atsushi. Hisashiburi danna. Aku tak menyangka kita akan bertemu disini" Himuro mendekat.

"Kalian saling kenal?" tanya kagami innocent.

"Dia adalah pemilik restoran tempatku bekerja Taiga, jadi wajar jika aku mengenalnya." Jawab Himuro santai.

Setelahnya terdengar percakapan singkat seperti reuni, juga pengenalan yang lebih dalam sembari tangan sibuk memasak juga meracik bumbu. Tak butuh waktu lama, aneka makanan telah tersaji di meja besar dengan porsi yang luar biasa banyak. Dekorasi juga sudah hampir selesai, tinggal menunggu semuanya datang dan Tetsuya turun dari lantai atas maka pesta akan di mulai.

Sementara itu di lantai atas, Shintarou sama sekali tak beranjak dari samping ranjang Tetsuya sedangkan Ryouta masih menunggui disana, siap sedia jika ada hal yang di butuhkan. Tak jauh dari mereka, Terlihat juga dokter muda – Takao Kazunari – tengah memeriksa peralatan dokter yang ia bawa, mengecek sesekali cairan infus yang menggantung disisi ranjang.

"Nii-san, aku sudah lebih baik. Boleh aku turun sekarang? Aku ingin melihat teman – temanku" Pinta Tetsuya dengan nada suara yang serak juga lemah.

"Tidak boleh dulu Tetsuya, demammu kali ini memang tidak parah, tapi jika dipaksakan kau bisa saja dirawat, Nanodayo" Shintarou duduk dengan menyilangkan kedua tangannya.

"Tapi Nii-san"

"Tidak boleh Tetsuya" Potong Shintarou cepat dan mendapat ekspresi lesu dari si bungsu.

"Jangan terlalu keras pada Tetsu– Chan, Shin– Chan. Dia akan baik – baik saja" Ujar Takao dengan cengiran khas.

"Hmph, aku tidak keras padanya Nanodayo. Aku hanya tak ingin keadaannya tambah buruk"

"Kau terlalu protectif, Shin– Chan." Takao mendekat ke arah Tetsuya. "Jika kepalamu sudah tidak terasa pusing, 10 menit lagi kau boleh turun Tetsu– Chan" hibur Takao.

"Hounto desuka, Takao-nii?" Takao mengangguk.

"Apa wajahku terlihat berbohong?" Tetsuya menggeleng lemah. "Saa, bersemangatlah, pesta tak akan mulai kalau kau tak turun, Tetsu– Chan" Takao mengelus surai Baby Blue lembut tanpa memperhatikan jika disana ada Aura kesal menguar dari pria bersurai Hijau.

"Tsk" Gerutu Shintarou dalam hati, Ryouta yang biasanya berisik kini duduk diam seolah menjadi patung batu. "Ryouta, coba kau lihat kebawah. Kalau semua persiapan selesai dan semuanya sudah datang, aku akan turun bersama Tetsuya"

"Haii-ssu"

Ryouta bergegas menyusuri anak tangga dengan cepat, begitu sampai di tempat tujuan, mata indah Ryouta langsung tertuju pada ruangan yang sekarang berubah 180 derajat. Seirin telah berkumpul bersama dua kakaknya yang telah selesai membantu, ada pula satu orang yang tak asing dimata Ryouta, siapa lagi kalau bukan Himuro Tatsuya-Chef handal ditempat kakaknya Atsushi dulu. Senyuman cerah langsung terlihat di wajah Ryouta.

"Nii-cchi, apa semua sudah selesai?" Tanyanya girang.

"Menurutmu bagaimana Ryouta?" Daiki menjawab dengan nada malas.

"Sudah selesai-ssu" Celetuk Ryouta innocent.

"Nah itu kau tau, kau bisa memanggil Tetsu sekarang"

"Okey-ssu" Ryouta kembali naik ke lantai atas dan memanggil Shintarou, Tetsuya juga Takao, "Semua sudah selesai-ssu, mereka tinggal menunggu Tetsuya-cchi" lapor Ryouta.

"Baiklah, sekarang kita turun Nanodayo" Shintarou segera membantu Tetsuya bangkit, meski sayu tapi matanya menampakkan kecerahan yang antusias untuk bisa berkumpul dihari ulang tahunnya.

Seolah bertindak kuat, Tetsuya berdiri tegap dengan piyama kebesaran beserta jaket tebal tersampir di bahunya. Tak luput tangannya masih terlihat jarum infus. Shintarou menghela nafas sembari membantu membawakan botol infus agar Tetsuya lebih leluasa bergerak. Seperti melindungi benda yang mudah pecah, Shintarou membantu disamping kanan, Ryouta disamping Kiri sedangkan Takao berjaga dibelakang. Begitu mereka menuruni anak tangga dan sampai di bawah, pemandangan indah memasuki mata Tetsuya.

"OTANJOUBI OMEDETOU" Teriak mereka semua menyambut kedatangan Tetsuya. Senyuman tipis tercetak dari bibir pucat dengan matanya yang sayu.

"Arigatougozaimasu minna" jawab Tetsuya.

"Tetsu-kun~ Tanjoubi Omedetou. Ini hadiah untukmu" Momoi langsung memberikan kotak berwarna pink dengan pita berwarna biru.

"Arigatougozaimasu Momoi-san, aku senang" Tetsuya menerima hadiah itu, begitu membukanya, sebuah syal berwarna merah muda lembut menyapa matanya.

"I-itu aku yang membuatnya sendiri. Kalau kau tak suka warnanya, kau bisa menyimpannya" Momoi menunduk dengan memainkan jemarinya.

"Ini berharga Momoi-san, aku akan memakai dan menjaganya" Momoi langsung tersenyum senang tak luput sebuah rona merah menghias di pipinya.

"Saa, kita mulai pestanya-ssu" Teriak Ryouta semangat.

Acara dimulai, mereka semua menikmati makan bersama. Ada senda gurau juga kekonyolan dari tingkah Kagami dan Daiki yang tak jauh beda – alias tukang makan dan adu cepat. Di sisi lain, Atsushi disibukkan dengan menyiapkan sup khusus untuk Tetsuya sementara Shintarou tengah mengomel karna Ryouta yang sibuk sendiri mengambil makanan bahkan rebutan dengan Izuki. Takao yang melihat itu hanya bisa tertawa renyah sambil menjahili Shintarou yang Tsundere.

Di tengah – tengah pesta, ketukkan pintu menghipnotis mereka semua. Saling pandang menjadi hal yang saat ini mereka lakukan. Meniliti satu persatu orang – orang yang ada disana, semua lengkap dan tanpa ada yang kurang. Seingat mereka, hanya akan ada Seirin, Himuro dan Takao yang datang karna kebetulan Shintarou membutuhkan bantuannya. Lalu siapa yang datang sekarang?

"Biar aku yang buka Shintarou-nii" ucap Daiki yang langsung bangkit. Perlahan ia berjalan menuju pintu utama, dan betapa terkejutnya saat ia membuka pintu.

"Yo, Hisashiburi danna Daiki" Mata Daiki membulat melihat pria yang berdiri di depannya. Pria dengan jaket tebal berbulu dan celana jins beserta sepatu mahal yang membuatnya berpenampilan casual juga dewasa. Tak luput, kedua tangannya membawa bungkusan besar serta senyuman manis yang menyejukkan.

"Shuuzou – Nii?" Gumam Daiki. Yah, pria yang datang itu adalah Nijimura Shuuzou, kakak sepupunya.

"Hm, kau tak menyuruhku masuk Daiki? Aku jauh – jauh dari Nagasaki tapi kau malah menyambutku dengan mata terkejut seperti itu" Tersentak akan ucapan Nijimura, Daiki mengangguk.

"Gomen, Silahkan masuk Shuuzou – Nii" Daiki mempersilahkan, Nijimura segera masuk dan disambut dengan ekspresi yang sama- terkejut.

"Shuuzou – Nii?" ucap Shintarou, Atsushi, Ryouta dan Tetsuya bersamaan.

"Yo, apa kabar kalian? Sudah lama tak bertemu" Ucap Nijimura senang. Jika Shintarou, Atsushi, Ryouta dan Tetsuya menyambut semangat, lain hal dengan Seirin yang masih tak mengerti.

"Etto, dia siapa Midorima-san?" tanya Kagami.

"Nijimura Shuuzou, dia adalah sepupu kami" jawab Shintarou seadaannya dan Seirin hanya manggut – manggut. Tapi lain hal dengan Momoi yang melebarkan matanya.

"Nijimura Shuuzou? Masaka?!" Momoi langsung berdiri dan mendekat. "Kau adalah kapten Club Basket terbaik sebelum Akashi Seijuurou masuk ke Teiko kan?" Nijimura tersentak kaget, namun setelahnya ia tersenyum canggung..

"Ah,, itu sudah lama. Aku tak menyangka kau bisa mengetahuinya" Nijimura menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Dia adalah mantan manager Club Basket Teiko, Shuuzou-nii." Nijimura mengalihkan pandangan pada pria yang baru saja berbicara.

"Tetsuya?" Segera ia mendekat ke arah Tetsuya yang selalu saja terlihat pucat saat bertemu. "Kau terkena demam lagi saat musim dingin?" Tanya Nijimura mengalihkan pembicaraan, Tetsuya hanya mengangguk. "Cepatlah sembuh dan jaga kesehatanmu, musim dingin memang membuatmu rentan terhadap demam. Lain kali kau harus ekstra memperhatikan pola makan juga jangan terlalu sering berada di luar, mengerti?"

"Haii, aku mengerti Nii-san" jawab Tetsuya, Nijimura tersenyum sembari mengelus surai Baby Blue yang lembut.

"Ini aku bawakan hadiah untukmu, Tanjoubi Omedetou" Nijimura menyerahkan dua bungkusan besar yang sedari tadi ia bawa.

"Arigatougozaimasu, Nii-san. Hadiahnya terlalu banyak, mungkin satu sudah cukup"

"Ah. Satu lagi titipan" jawab Nijimura cepat.

"Titipan? Dari siapa?" Tersadar akan pertanyaan Tetsuya, Nijimura buru – buru mencari alasan.

"Emh.. itu.. titipan dari.. " pandangan Nijimura tak fokus karna ia sibuk mencari jawaban. "Ah, itu dari Tanaka" celetuknya asal.

"Tanaka-san?" Alis Tetsuya tertaut.

"Haii, itu dari Tanaka-san. Kau sudah lebih dari 1 bulan tak di rumah, jadi Tanaka begitu merindukanmu, terlebih para pelayan juga Mabuchi. Mereka semua merindukanmu, jadi saat aku berkunjung ke Mansionmu, mereka menitipkan hadiah itu untukmu" Tetsuya tersenyum.

"Soukka, boleh aku buka?"

"Tentu saja"

Tetsuya membuka salah satu hadiah itu, begitu melihat isinya, seluruh mata Seirin juga yang ada disana membulat lebar. Satu stel pakaian dengan model terbaru bahkan limited edition. Kaos berwarna Baby Blue bergaris dengan kemeja berwarna jins hitam lengkap dengan garis petak – petak merah hitam mengukir di sekitar kantung. Tak hanya itu, Celana panjang berwarna hitam cassual juga sepasang sepatu putih dengan ornamen Baby Blue. Jika dipakai oleh Tetsuya, ia akan terlihat 100 kali lebih tampan.

"Ini pasti dari Shuuzou-nii kan?" Nijimura hanya mengangguk.

"kau suka"

"Un, boleh aku buka yang satu lagi?"

"Kenapa tidak"

Tetsuya membuka bungkusan yang satu lagi, kali ini semua mata semakin membulat terkejut. Isi dari kotak itu memang bukanlah hal yang biasa, tapi sungguh luar biasa. Sepasang seragam basket lengkap dengan tanda tangan pemain MBA, tak luput sebuah Bola basket baru dengan tanda tangan yang sama. Di bagian bawah terlihat sepasang sepatu basket berwarna putih gradasi biru lembut dan terlihat tempahan. Hanya dengan melihat, semua orang tau jika itu harganya sangat mahal.

"Shuuzou-nii, apa ini benar – benar dari Tanaka-san, Mabuchi-san dan para Maid?" tanya Tetsuya yang tak percaya, Nijimura hanya mengangguk canggung.

"tentu saja" Menghela nafas berat, ntah kenapa, Tetsuya merasakan jika itu bukan hadiah dari dari Tanaka, Mabuchi maupun para Maid. Ia yakin 100% para Maid tak mungkin mampu membeli hadiah yang mahal itu. Hanya satu orang yang Tetsuya kenal mampu membelinya, siapa lagi kalau bukan orang yang saat ini tak berkumpul bersama mereka.

'Sei-nii, aku tau ini hadiah darimu. Arigatougozaimasu, aku tak menyangka Sei-nii masih memperhatikanku. Tapi, jika ini bukan darimu, ku harap kau mengingat hari ulangtahun yang setiap tahun ku tunggu' Bisik Tetsuya dalam hari sembari memeluk bola basket yang baru ia dapat.

Di dalam Caffe sederhana itu mereka berkumpul, tertawa bahkan berpesta hingga larut untuk merayakan pesta ulang tahun orang yang penting – Akashi Tetsuya. Ruangan yang hangat itu semakin hangat bahkan ada kekonyolan disana, dari luar terlihat jelas bagaimana mereka bisa berkumpul meski salju mulai turun secara perlahan.

Di luar Caffe, tepatnya di dalam sebuah mobil mewah berwarna hitam. Seorang pria melihat setiap kejadian itu dari balik jendela kaca hitam mobilnya. Mata ruby itu menatap rindu kearah surai warna – warni yang tertawa bahkan sesekali bersikap protectif ke arah si surai Baby Blue. Jauh di lubuk hatinya, ia juga ingin ikut masuk dalam suasana pesta juga ingin memeluk si Baby Blue yang biasanya jadi obat saat ia lelah. Ah, tak hanya si Baby Blue, tapi si Tsundere Shintarou, Si besar Atsushi, Si sulit diatur Daiki dan yang paling berisik Ryouta.

Semuanya, semua adik – adiknya sangat ia rindukan. Kesalahannya yang membiarkan orang lain merebut tubuhnya dan berbuat sesuka hati hingga kelima adiknya melepas marga akashi. Di balik kemudi, pria itu menyandarkan kepalanya diantara kedua lengan dengan mata yang mengintip lurus ke dalam ruangan.

"Shintarou, Atsushi, Daiki, Ryouta dan Tetsuya, Gomen ne. Aku janji, suatu saat nanti kita akan berkumpul seperti dulu dan merayakan pesta ulang tahun bersama. Tunggulah lebih lama" Bisikknya nyaris seperti sebuah lirihan dari kerinduan yang terpendam.

Pertahanan Akashi Seijuurou harus runtuh setiap kali melihat kelima adiknya yang bersama dari jauh. Miris, ia tak bisa bersama dengan mereka yang ia sayangi terlebih di hari ulang tahun si bungsu yang ke – 16. Kesempurnaa, Keabsolutan bahkan segala yang selama ini ia banggakan kini tak berguna tanpa kelima adik yang ia sayangi. Satu hal yang terlintas dalam benak Seijuurou setiap melihat kelima adiknya.

'Aku adalah kakak yang buruk, Gomen ne.'

TO Be Continue...

Gomen karna kecewa dengan chapter sebelumnya, jujur ajah, chapter kemarin akan ada hubungannya untuk chapter2 yang akan datang... Oh ya, maaf juga karna banyak typo, gak sempat mau edit.. n tingginya Sei-chan nambah 10cm yah.. dr 173 jd 183.. Di sini juga ada beberapa bagian yang sejujurnya lian lupa.. ntar kalau ingat lian beri tau deh..

thanks buat kalian semua yang udah komentar,, jujur itu membangun banget.. untuk chapter - chapter selanjutnya fokus sama persaudaraan keluarga Akashi,, dan untuk chapter depan khusus untuk Sei-chan. Chapter depan juga akan di jelasin mengenai keluarga akashi secara mendetail.. jadi jika kalian masih menunggu, lian berterima kasih, jika tidak, lian gak apa- apa, soalnya ff ini adalah salah satu FF iseng lian ajah.. Soalnya idenya juga klise dengan konflik yang gak terlalu rumit juga. Feelnya juga masih berantakkan, dan lian akui itu.. Lian bukan penulis yang sempurna, tapi lian akan coba membuat tulisan lian menjadi lebih baik dari yang sebelum - sebelumnya..

Buat yang ngidam angst, mungkin di chapter 15 sama 17 akan membuat kalian puas... chapter 16 masih flashback sedangkan 18 masih dalam proses dan itu asli lian kehilangan ide.. jadi kalau telat mohon jangan paksa lian, soalnya lian gak hanya ngerjain 1 FF, tapi lian ngerjain 3 FF, jadi konsentrasi agak terganggu.. deadlinenya juga cepat... Maaf yah..

sampai jumpa di chapter 14 - My Self