Tittle : White Crystal

Maincast : -Akashi Seijuurou

- Kuroko Tetsuya

- Aomine Daiki

- Kise Ryouta

- Murasakibara Atsushi

- Midorima Shintarou

Suport Cast : - All of Kuroko No Basuke Chara

Author : Lian (VT_Lian1995)

Genre : Family, Slice Of Life, School Life, Brotheship, Little Comedy, Sad, Hurt.

Attention : This chara not mine, this chara from Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi – sensei.

Little information : Seluruh nama Cast akan menggunakan nama Akashi karna ini berhubungan dengan kisah keluarga Akashi. Jadi di mulai dari Tetsuya sampai Shintarou akan menggunakan nama depan Akashi.

Summary : Akashi Tetsuya, bungsu dari 6 bersaudara keluarga Akashi harus menangung beban berat di pundak untuk memberikan kesan betapa hebatnya keluarga Akashi. Tapi sayangnya, apapun yang ia lakukan pasti sudah pernah dilakukan oleh ke – 5 kakaknya. Apapun itu, segala yang Akashi Tetsuya raih seolah hanya sia – sia, terlebih jika dibandingkan dengan fisik ke – 5 kakaknya, Tetsuya jauh lebih lemah, namun tak menampik kemungkinan ia bisa jadi lebih kuat walau usahanya akan mendapat resiko yang tinggi. Ini demi menjunjung tinggi motto dari sang Ayah yang telah tiada "Pemenang akan mengukir sejarah dan yang kalah akan menjadi pecundang yang terlupakan."

"Jika kau katakan menjadi bungsu keluarga Akashi merupakan anugrah, tapi bagiku tidak. Beban yang ku tanggung lebih besar dari Ke-5 saudaraku yang lain"

_ooOOOoo_

Chapter 14

%^My Self^%

Setiap manusia memiliki kekurangan dalam diri masing – masing, tak ada satupun dari mereka yang sempurna walau bagaimanapun mereka mengatakan dirinya sempurna. Segala yang katanya bisa didapatkan dengan mudah bisa jadi hal kecil terasa sangat sulit untuk didapat. Tak hanya berlaku untuk satu orang, tapi untuk semua orang. Begitu juga Akashi Seijuurou yang dididik untuk menjadi sempurna dan panutan untuk kelima adiknya.

Jika kau merupakan anak sulung, kau pasti akan tau bagaimana rasanya menjadi seorang kakak juga sebagai contoh untuk adik – adikmu selanjutnya agar bisa sepertimu bahkan menyusulmu. Beban yang ditanggung oleh anak sulung berkali lipat dari pada beban sang adik meskipun ia adalah anak ke-2 yang juga pantas menjadi panutan, tapi tetap saja patokan utama adalah anak sulung.

Seijuurou duduk diam di depan jendela yang terbuka, kaki kanannya berpijak searah dengan tempatnya duduk sedangkan satunya ia biarkan terayun bebas di udara. Langit malam kota Kyoto yang biasanya cerah kini tertutup mendung, gumpalan – gumpalan awan gelap siap menumpahkan air yang begitu banyak untuk membasahi kota yang memasuki musim semi. Perlahan tapi pasti, rintik – rintik hujan mulai turun secara perlahan hingga lama kelamaan semakin deras diiringi angin yang berhembus kencang. Bagai tak terganggu, Seijuurou sama sekali tak bergeming dari tempatnya.

"Kau bisa terkena demam jika duduk disana lebih lama, Sei" Tegur seorang pria yang beberapa bulan terakhir menemani sekaligus membantunya – Nijimura Shuuzou.

"Aku tak akan kena demam, aku bukan Tetsuya yang mudah terkena demam" Seijuurou masih menatap kota yang kini telah basah terkena hujan.

"Jangan menyombongkan dirimu, sekuat apapun tubuh yang kau miliki pasti ada saatnya menjadi lemah Sei" Nijimura mendekat secara perlahan.

"Tubuh ini bukan hanya milikku, masih ada satu orang lagi yang memilikinya" Seijuurou berbicara pelan tapi masih bisa di dengar oleh Nijimura.

"Tetap saja tubuh itu masih bagian darimu" Nijimura kini telah berada di depan Seijuurou. "Ne, apa kata sensei?"

"Apanya?" Seijuurou bertanya balik.

"Jangan pura – pura tak tau Sei, kau sudah menjalani terapi selama 4 bulan lebih. Jangan katakan tak ada hasilnya" Seijuurou menghembus nafas pelan.

"Bukannya tak ada perkembangan, bahkan aku semakin serba salah sekarang" Dahi Nijimura mengerut bingung.

"Apa maksudmu Sei?" Seijuurou mengalihkan pandangannya pada kota dan menatap Nijimura dengan tatapan putus asa.

"Semakin aku ikut terapi itu, semakin sering pula aku dan dia bertukar tempat. Tak hanya itu, dalam keadaan biasa, mataku bisa melihat sosoknya menyeringai tajam dengan gunting merah di tangan kanannya. Aku bisa dengan jelas melihatnya tertawa, juga menatap tajam saat aku tengah lengah." Seijuurou menyentuh rambutnya dan menyisirnya kebelakang. "Aku tak mengerti, semakin aku ingin melepasnya, maka semakin kuat pula ia mengikatku dan sesuka hatinya berganti tempat." Seijuurou mendongakkan kepalanya sembari menatap Nijimura sendu. "Apa yang harus ku lakukan sekarang Shuuzou? Dia tak mau pergi"

"Haah,, ini sulit Sei" Nijimura menyenderkan punggungnya pada dinding terdekat sembari melipat tangan di depan dadanya. "Satu – satunya obat dari alter Ego adalah kau sendiri yang menghapusnya"

"Bagaimana caranya Shuuzou? Setiap kali aku ingin menghapusnya, semakin sering pula ia muncul dalam duniaku. Baik itu dunia nyata maupun dunia mimpi, semuanya pasti ada dia. Aku lelah Shuuzou dan aku ingin bertemu adik – adikku" Rambut Seijuurou yang tadinya rapi kini mulai berantakkan karna ulahnya.

"Berjuanglah Sei, kau pasti bisa menghapusnya." Nijimura menepuk pundak Seijuurou pelan. "Oh ya, selama ini kau belum menceritakan apapun bagaimana caranya kau bisa menciptakan dia? Apa ada sesuatu yang memicunya?" Seijuurou mengangguk.

"Haus akan kemenangan dan membenci kekalahan" Seijuurou menarik nafas dalam dan menghembusnya pelan. "Dia akan muncul saat keinginan menangku semakin menjadi – jadi dan ia akan mengambil alih jika aku dihadapkan pada garis kekalahan."

"Kenapa tak kau hilangkan saja keinginan untuk menang itu Sei? Mudahkan?" Seijuurou sekali lagi menghembuskan nafasnya.

"Bukannya aku tak mau, tapi aku sudah terikat peraturan Otou-san. Sulit rasanya untuk menghilangkan keinginan untuk menang yang menggebu" Nijimura masih melipat tangannya di depan dada sembari sesekali berfikir.

"Lalu bagaimana caranya kau bisa kembali?"

"Mudah, hanya dengan mengingat kelima adikku serta melihat wajah polos Tetsuya, aku akan kembali bangkit dan dia tertidur"

"Apa kau sudah menceritakan semua pada Sensei?" Seijuurou mengangguk.

"Sudah semua, bahkan aku juga sudah mengatakan jika aku bisa melihat sosoknya di dunia nyata" Seijuurou menatap ke arah Nijimura yang belum bergeming dari tempatnya. "Sosok itu merupakan tahap akhir dari apa yang ku alami, seharusnya dalam waktu dekat dia bisa hilang tapi semakin aku menginginkan sosoknya menghilang, semakin sering pula ia muncul" Seijuurou menundukkan kepalanya lebih dalam. "Aku tak mengerti Shuuzou, bagaimana bisa aku menciptakan orang lain dalam diriku dan sialnya dia adalah sisi gelapku"

Nijimura yang sedari tadi hanya bersandar sembari melipat kedua tangannya, kini mendekat ke arah Seijuurou dan menepuk pundaknya pelan. Ia tahu jika sepupunya ini sangat tertekan dengan keadaan yang ada, bahkan ia tahu persis jika Seijuurou merindukan untuk berkumpul bersama adik – adiknya. Ia mengerti walau ia adalah anak tunggal, sejujurnya ia sudah menganggap Seijuurou, Shintarou, Atsushi, Daiki, Ryouta dan Tetsuya sebagai adiknya sendiri.

"Sei, aku tau kau kesulitan sekarang. Berusahalah lebih keras untuk bisa menghilangkan sosok lain dalam dirimu, bukankah kau dituntut untuk menang? Musuhmu bukan orang lain, tapi musuhmu adalah dirimu sendiri yang ingin mengalahkanmu" Tertegun, Seijuurou mendongakkan kepalanya.

"Musuhku adalah diriku sendiri? Ah, kenapa aku tak terfikir hal itu?" Nijimura mengernyit tak mengerti. "Sekarang aku mengerti, Arigatou Shuuzou, sekarang aku tau bagaimana cara menghilangkan sosoknya meskipun masih butuh waktu lebih lama"

"Hah? Kau sudah mengetahuinya?" Nijimura dibuat terbodoh dengan sikap Seijuurou yang sedikit berbeda.

"Haii, tapi aku masih membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk bisa kembali"

"Berapa lama?"

"Akhir tahun…. Mungkin" Nijimura tersentak seketika.

"Oh ayolah Sei, itu terlalu lama." Seijuurou tersenyum kecil.

"Aku bisa mempercepatnya sampai kejuaraan inter-high berakhir"

"Kau ini, itu masih akhir musim panas." Nijimura menggerutu tak jelas, setelahnya ia menatap ke arah Seijuurou dengan tatapan puas. "Maa, aku rasa itu lebih baik dari pada akhir tahun." Nijimura mengambil langkah menjauh. "Minggu depan aku mau kembali ke Akihabara untuk menandatangani kontrak penting, setelahnya aku bisa tinggal lebih lama disini"

Seijuurou menjawab dengan senyuman dan turun dari jendela. Ia menutupnya sembari mengejek ke arah hujan jika ia telah menemukan apa yang selama ini ia butuhkan juga ia cari. Hari itu, hari dimana Seijuurou mengetahui bagaimana caranya agar bisa menghilangkan sosok lain yang bersemayam di tubuhnya dan dengan sesuka hati mengambil alih tubuhnya.

_ooOOOoo_

Ruangan itu masih sama, terletak di puncak tertinggi gedung pencakar langit di Kyoto. Dari jendela kaca yang besar, ia bisa melihat pemandangan kota Kyoto yang tradisional juga lebih menarik dari kota Tokyo. Tapi ada satu yang berbeda dari Kyoto, tempat itu terasa hampa karna tak ada orang – orang yang ia cintai berada disisinya.

Pria bersurai merah terang terlihat berdiri melihat jendela tanpa niat bergeming sedikitpun. Matanya terfokus menatap keluar, dimata orang awam ia terlihat sendiri, tapi dimata pria itu, dia bisa melihat sosok lain berdiri disampingnya. Sosok lain dengan pakaian yang sama tapi jas yang ia gunakan hanya tersampir begitu saja di bahu tegapnya dengan tangan terlipat di depan dada juga dagu yang terangkat tinggi untuk menunjukkan betapa berkuasanya ia. Tak luput, sebuah gunting berwarna merah tergenggam diantara lipatan tangan itu.

"Kau mau apa Hm?" Gumam Seijuurou pada sosok itu.

"Tidak ada, hanya menunggu waktu sampai keinginanmu untuk menang itu meluap" jawab sosok yang disana.

"Aku memang ingin menang, tapi aku tak butuh bantuanmu" Seijuurou berbicara tenang sembari menyembunyikan emosinya.

"Kau jangan munafik Akashi Seijuurou, aku tau kau itu lemah dan butuh bantuanku" Sosok itu berbicara remeh. "Kau bahkan membiarkanku untuk menangani ini sendirian, menjadikan kelima adik – adikmu sempurna" Belum selesai sosok itu bercerita, Seijuurou memotongnya cepat.

"Dan menjadikan mereka kehilangan segalanya, jangan lupakan itu" Sosok itu mendengus.

"Itu karna mereka bukan bagian dari keluargamu lagi, Akashi Seijuurou"

"Mereka masih keluargaku, dan mereka juga masih menjadi adik – adik yang bisa ku banggakan"

"Banggakan? Kau bergurau? Ck, mereka sekarang hanyalah pemilik restoran kecil dengan penghasilan yang tak sampai 1% dari hasil yang kau dapat setiap harinya. Itu yang kau katakan hebat?" Seijuurou melirik sekilas ke arah Sosok itu yang sudah berdecih tak jelas.

"Aku tidak bergurau, 1% itu sudah melebihi dari apa yang ku dapat. Kau tau, selama ini mereka sukses dengan menggunakan nama Akashi yang sudah besar, tapi sekarang, mereka berhasil memenuhi kebutuhan sendiri dengan usaha juga semangat mereka tanpa perlu membanggakan marga Akashi"

"Baka! Bagaimana bisa hanya dengan semangat kau membanggakan mereka Akashi Seijuurou? Mereka bahkan jauh dari kata pemenang yang sempurna"

"Tidak, mereka sudah sempurna di mataku." Sosok itu mengernyit bingung. "Shintarou sekarang sudah mulai berubah, ia tak lagi menjadi dokter yang terfokus pada kesehatan orang – orang di rumah sakit maupun untuk orang terdekatnya, ia sekarang berubah menjadi sosok yang menjaga kesehatan semua orang melalui minuman yang ia buat"

"Cuma itu? Aku rasa itu bukanlah hal yang bisa kau banggakan Akashi Seijuurou"

"Atsushi, dia memang Chef yang handal dan bisa memasak masakkan apa saja untuk kalangan atas, tapi sekarang ia sadar jika makanan yang ia buat bisa disajikan untuk kalangan bawah dengan mencoba berbagai eksperimen kecil. Ia tak hanya menciptakan makanan untuk semua kalangan tapi juga memikirkan kesehatan orang – orang yang memakan masakkannya. Dia jauh lebih baik" sosok di samping Seijuurou memutar bola mata malas.

"Itu membosankan Akashi Seijuurou"

"Daiki sekarang menjadi pribadi yang lebih rajin, kemampuannya dalam basket akhirnya bisa ia kembangkan juga ia bagi bersama atlit – atlit yang ia latih. Sifatnya juga menjadi lebih ramah, aku bersyukur dia menjadi seseorang yang tak membanggakan kemampuan seperti dulu"

"Ck, ceritamu semakin membosankan"

"Ryouta, dia berubah menjadi pribadi yang lebih ceria juga lebih terbuka dengan semua orang. Ryouta juga tak bermulut tajam seperti biasanya jika didepan orang lain, aku merasa Ryoutalah yang paling terlihat berubah terhadap orang lain" Sosok di sana terlihat semakin jenuh mendengar celotehan Seijuurou jadi yang ia lakukan hanya diam.

"…"

"Terakhir Tetsuya, diantara semuanya, Tetsuya tak banyak berubah tapi aku merasa semangat juangnya semakin bertambah. Aku tak bisa lagi menghitung berapa kali ia harus merasakan pusing juga demam saat kelelahan, kau tau, aku sangat mengkhawatirkannya, tapi keadaan memaksaku untuk tak bisa merawatnya seperti biasa" Seijuurou memandang jauh kota Kyoto dari ketinggian. "Keinginannya untuk mengalahkanku benar – benar membuatku bangga padanya, walau paling lemah tapi dia yang paling semangat untuk berjuang. Aku memiliki adik yang hebat bukan?" Sosok di samping Seijuurou sudah memandang bosan dan seperti tak peduli,.

"Kau sudah selesai menceritakan keadaan adikmu yang sudah ku ketahui itu?"

"Tentu saja, kau kan bagian dariku juga" Seijuurou berbalik dan menatap dalam sosok di depannya, sosok yang begitu mirip dengannya terlebih mata merah ruby juga emas di satunya.

"Berbeda, aku bukan bagian darimu" Sosok itu memalingkan wajah dari Seijuurou, seolah menghindari sosok mata ruby kembar itu.

"Kau bagian dari diriku, kau adalah sosok yang ku ciptakan karna tekanan stress juga keinginan menang yang meluap. Sayangnya, karna kau juga, aku kehilangan adik – adikku." Seijuurou mencoba mendekat, sedangkan sosok itu berjalan mundur. "Hei, bisakah kita berdamai? Kau tak bosan dengan keadaan yang ada?" Seijuurou mengulurkan tangannya.

"HAH?! Berdamai? Jangan bermimpi Akashi Seijuurou, aku akan selalu ada untuk membuatmu menang dan menjadi sempurna" Sosok itu terlihat gelisah.

"Aku tau, aku memang masih ingin menjadi pemenang yang sempurna, tapi tanpamu" Sosok itu terlihat emosi.

"Kau bergurau Akashi Seijuurou?! Kau tak akan bisa sempurna tanpa bantuanku!" Nada sosok itu meninggi di telinga Seijuurou.

"Aku bisa, aku akan sempurna dengan bantuan adik – adikku"

"Tidak! Mereka hanya menghancurkan apa yang kau punya"

"Aku tak peduli, ketika mereka menghancurkannya, aku bisa membangunnya lagi bersama mereka pula." Seijuurou menghirup nafas dalam dan mengeluarkannya pelan, tangannya masih terulur untuk mengajak perdamaian.

"Baka! Kau memang tak mengerti situasi Akashi Seijuurou! Kau bisa saja mudah dihancurkan, jangan lupa apa yang Haizaki Shogo lakukan setelah kau pecat"

"Aku tak lupa dan aku sudah siap menerima apapun perbuatannya, tak masalah jika ia mengincarku dan setelahnya akan ku pastikan ia tak akan menyentuh adik – adikku"

"Kau bisa kalah Baka!" Sosok itu semakin murka.

"Tidak ada yang bisa mengalahkanku, karna aku adalah pemenang. Akan ku buktikan jika aku bisa jadi pemenang setelah kita berdamai" Sosok itu menatap ragu ke arah uluran tangan Seijuurou.

"Kau yakin?" tantangnya.

"Aku yakin"

Sosok itu mendekat dan saat itu juga, pasangan mata Ruby/Emas bertatap pandang dengan sepasang mata Ruby. Tangan itu menyambut uluran tangan Seijuurou hingga tertaut sempurna, Seijuurou mengembangkan senyumannya sedangkan sosok itu menatap tajam juga ragu. Ia tau jika Seijuurou saat ini akan mengatakan sesuatu, sosok itu menunggu hingga akhirnya Seijuurou mulai berbicara.

"Kau lihat, aku menjadi pemenang"

"Apa?"

"Aku adalah pemenang karna aku berhasil mengalahkanmu"

"K-kau—" ucapan itu terputus saat Seijuurou memeluk sosok itu dalam dekapan hangatnya.

"Arigatou, berkatmu, seluruh adik – adikku berubah menjadi lebih baik. Kau juga sudah membuat kemenangan dengan mudah ku dapatkan terlebih dengan usaha yang kau lakukan, perusahaan cabang ini tak jadi hancur. Kau sudah melakukannya dengan baik, ingatlah satu hal, kau tetap bagian dari diriku" Bisik Seijuurou pada sosok itu.

"K-kau.." sosok itu tercekat.

"Kau telah melakukan segalanya, sekarang giliranku untuk memulainya lagi dari awal."

"….." Sosok itu terdiam, tak berbicara lagi dan Seijuurou dapat merasakan sosok itu menegang.

"Kau yang terbaik, Arigatou" ucapan Seijuurou terpaku, ia tak bergerak hingga sebuah lirih terdengar di telinga Seijuurou.

"Akashi Seijuurou.." lirih sosok itu.

"Haii, itu namaku. Sayonara, diriku yang lain"

Ntah perasaan Seijuurou saja atau memang ia merasakan jika sosok itu menangis seiring dengan dirinya menghilang ditelan cahaya. Yang jelas, ada rasa lega yang berkumpul di dada Seijuurou saat ini. Sosok yang menjadi pemicu dari keadaannya saat ini kini telah menghilang. Tak ada lagi yang perlu ia khawatirkan, sekarang waktunya ia mengatur rencana untuk bisa kembali berkumpul bersama saudara – saudaranya.

_ooOOOoo_

Pukul 12:00 tepat tengah hari, waktunya jam makan siang dan para pelayan restoran telah bersiap di tempat masing – masing untuk menunggu para pelanggan. Hari ini terasa lebih istimewa karna kelima orang pemilik saling bekerja sama untuk memuaskan hati pelanggan. Shintarou, Atsushi, Daiki, Ryouta dan Tetsuya telah siap dengan seragam baru yang melekat di tubuh mereka untuk menyambut para pelanggan.

"Tetsuya, jangan memaksakan dirimu. Jika kau sudah merasa lelah, segera istirahat dan bawa ini sebagai Lucky Item Aquarius hari ini" Si surai hijau – Shintarou menyerahkan sebuah kain lap berwarna Hijau.

"Ini Lucky Itemku?" tanya Tetsuya tak percaya.

"Hmph, aku tau itu memang benda murah tapi setidaknya bisa menjauhkanmu dari kesialan Nanodayo"

"Nii-cchi selalu saja memberi Lucky Item untuk Tetsuya-cchi, kapan Nii-cchi memberikanku Lucky Item juga-ssu?" Sungut Ryouta yang sudah disibukkan mengelap meja.

"Percuma saja kalau kau diberikan Lucky Item Ryouta, tetap saja kesialan berpihak padamu" Celetuk Daiki mengelap meja tak jauh dari Ryouta.

"Hidoii-ssu! Atsushi-nii…." Rengek Ryouta menuju kakak nomor 3.

"Ryouta-chin memang selalu kena sial, jadi tidak perlu Lucky Item" Atsushi dari dapur berbicara malas.

"Kenapa kalian semua tak peduli padaku-ssu? Aku adik kalian juga-ssu" gerutu Ryouta.

"Kau adik yang tak dianggap Ryouta" gurau Daiki dan diiringi tawa dari yang lainnya sedangkan Ryouta sudah merutuk kesal.

"Sudahlah, Ryouta-nii. Itu tak masalah, selama Ryouta – Nii masih menjadi kakakku, aku selalu membela Ryouta-nii" Ucapan Tetsuya seperti air sejuk yang masuk ke kerongkongan yang kering. Tanpa basa – basi lagi, Tetsuya mendapat hadiah terjangan juga pelukkan maut dari Ryouta.

"Kau memang adik kesayanganku-ssu. Kau memang yang terbaik Tetsuya-cchi, dan mereka adalah kakak yang terburuk-ssu." Ryouta berucap sembari menggosok – gosokkan pipinya ke pipi Tetsuya tanpa peduli aura gelap membumbung tinggi dari ketiga kakak mereka.

"RYOUTA(-chin)!" Tersadar dari tatapan maut kakaknya, Ryouta segera melepaskan pelukkannya dan langsung berlari menjauh.

Jika saja Ryouta bisa berfikir jernih, sebenarnya tak ada tempat lagi untuknya bisa berlari karna ruangan itu semakin sempit karna ada tambahan meja dan kursi serta beberapa modifikasi ruangan karna restoran mereka sudah maju pesat. Tak hanya itu, sekarang sudah ada beberapa pelayan tambahan yang bekerja paruh waktu. Karna namanya Basketball Caffe, para pelayan baru juga berasal dari tim basket. Mereka adalah Izuki, Hyuuga, dan Kiyoshi yang berperan sebagai pelayan, Kagami membantu didapur dan satu orang lagi adalah Momoi Satsuki yang dipercaya sebagai Kasir.

"Permisi, maaf kami terlambat" ucap beberapa orang yang memasuki Caffe itu.

"Tak masalah, kalian bisa mengganti pakaian di belakang sekarang karna sebentar lagi Caffe ini akan dibuka, Nodayo" mengangguk mengerti, Orang itu – Izuki, Hyuuga, Kiyoshi, Kagami dan Momoi langsung bergegas mengganti pakaian.

Awalnya Shintarou tak setuju mempekerjakan siswa menengah atas, tapi karna Tetsuya memberikan alasan logis mengenai keuangan – yang katanya dibawah rata – rata sekaligus untuk tambahan uang kas Club - akhirnya Shintarou menyerah dan membiarkan mereka untuk bekerja di Caffe yang baru mereka buka. Tak berapa lama, Izuki, Kiyoshi, Hyuuga, Kagami dan Momoi sudah keluar dari tempat ganti.

"Maaf menunggu" ucap mereka bersamaan dan mengambil posisi masing – masing.

"Tak perlu seformal itu, kalian sudah hampir 1 bulan bekerja disini. Anggaplah ini usaha kita bersama" ucap Daiki.

"Aku tau itu, tapi bukannya itu tak sopan" Celetuk Kagami.

"Aku tak berbicara padamu, Bakagami. Aku berbicara dengan para senpaimu" Daiki berbicara acuh sedangkan perempatan merah sudah muncul di pelipis Kagami.

"Formal merupakan kata dasar dan kalau ditambah akhiran –in akan jadi Formalin, Kitakore!" Izuki menepuk telapak tangannya dan mencatat di buku kecil yang berisi lelucon tak lucu miliknya.

"Diamlah izuki" Celetuk Hyuuga. "Ma, sekarang apa yang bisa kami bantu?" Tanyanya ramah.

"Semua sudah diselesaikan Senpai, kita tinggal menunggu pelanggan juga pengunjung yang datang seperti biasa" Jelas Tetsuya.

"Soukka, jadi kami benar – benar terlambat" Ucap Hyuuga menyesal.

"Tak masalah-ssu, lagi pula kami sudah terbiasa setelah lebih dari setengah tahun menjalankan Caffe ini-ssu" Ryouta tersenyum cerah.

"Mou~~ Tapi tetap saja kami merasa bersalah, Kise-san" ucap Momoi.

"tidak apa - apa, itu bukan masalah Momo-chin" Ucap Atsushi dari dapur.

"Kau dengarkan Momoi-san, keterlambatan kalian bukan masalah besar" Tetsuya tersenyum sembari menepuk kepala Momoi. Sudah biasa, tapi tetap saja ada aura kecemburuan menguar dibalik punggung keempat kakaknya yang melihat.

"Mau sampai kapan kau disana, Tetsuya? Sebentar lagi Caffe dibuka dan bersiaplah di tempatmu, Nanodayo" Shintarou menginterupsi, semua yang ada langsung menatap horror kearahnya. "Apa? Aku hanya mengingatkan, Nodayo" Elak Shintarou yang jelas – jelas terlihat cemburu berat karna adiknya sekarang sudah punya kekasih.

"Jya, Ayo kita bersenang – senang" Kiyoshi mengakhiri semuanya.

Teriakkan semangat menggema di Caffe itu, Momoi sudah bersiap dibalik kasir, Shintarou dan Kiyoshi bersiap di meja minuman, Kagami dan Atsushi sudah menyiapkan bumbu, Ryouta, Daiki, Tetsuya, Izuki dan Hyuuga sudah bersedia untuk menyambut pelanggan yang datang. Tak butuh waktu lama setelah Caffe di buka, beberapa pelanggan mulai berdatangan. Karna ini hari libur, rata – rata pengunjung adalah satu keluarga dan tak jarang ada pula pasangan yang datang.

Hari ini sangat ramai, seluruh meja juga sudah penuh. Shintarou dan Kiyoshi sudah disibukkan dengan aneka minuman dingin karna ini masih musim panas, Atsushi dan Kagami juga sibuk mempersiapkan menu khusus di musim panas. Tetsuya dan Ryouta disibukkan dengan mencatat pesanan, Izuki dan Hyuuga sedang disibukkan mengantar makanan sedangkan Daiki disibukan dengan cucian piring yang menumpuk.

Caffe sederhana itu sangat sibuk, setiap ada pelanggan yang keluar akan ada lagi pelanggan yang masuk juga ada pula pelanggan yang pesan makanan hanya untuk dibawa pulang. Di tengah kesibukan mereka, seorang pelanggan dengan rambut abu – abunya terlihat menikmati pemandangan yang ada. Bagaimana surai warna – warni itu bekerja keras, bagaimana sibuknya mereka bahkan repotnya mengerjakan segala sesuatu sendiri karna selama in selalu ada pelayan disamping mereka.

Seringai kecil muncul saat melihat si surai Baby Blue sudah penuh peluh sedangkan yang lain masih belum merasakan lelah sama sekali. Beberapa kali si sruai Baby Blue melintas serta menanyakan pesanan, beberpa kali pula pria itu mengatakan untuk memesan nanti dengan nada suara yang berbeda. Hingga akhirnya si Surai kuning berjalan disampingnya, sontak saat itu juga pria bersurai Abu – abu itu memanggilnya.

"Oi, pelayan Kuning" Panggilnya.

"Anda memanggilku, Tuan?" Ryouta mendekat dan saat itu pula ingatannya berputar pada bisikkan pria itu beberapa bulan lalu. "K-Kau"

"Ah, kau mengingatku rupanya" Ucap Pria itu remeh dan mulai bangkit. "Kalau begitu, aku tak perlu mengingatkanmu lagi. Bersiaplah, Akashi Ryouta. Bom waktu yang ku pasang akan meledak disaat yang tak terduga" Mata Ryouta membulat besar.

"B-Bom waktu?" Gumamnya kecil.

"Itu benar, Bom waktu. Ah, jangan salah sangka dulu. Itu bukan Bom sungguhan, tapi tetap saja akan berdampak buruk pada kalian" Seringai tajam muncul di bibirnya. "Ketika aku memetik jariku, maka… BOMMH! Semuanya akan hancur dan kalian yang tak menyandang nama Akashi akan lenyap"

"…." Ryouta menegang seketika, matanya membulat besar dengan bibir yang terkatub.

"Aku tak akan membuat ledakan dahsyat yang terlihat, tapi aku akan membuat ledakkan tak kasat mata tapi berimbas pada kalian." Pria itu mulai berjalan satu langkah. "Saat itu tiba, aku akan mengucapkan Sayonara untuk kalian. Matta na" Orang itu segera keluar melewati Momoi yang disibukkan dengan mesin kasir.

"Uso, d-dia akan menghancurkan kami? Tidak mungkin, tidak mungkin" Gumam Ryouta yang masih tak percaya.

"Nii-san" Tepukkan di bahu Ryouta seketika menyadarkan dirinya dari keterkejutannya.

"Tetsuya-cchi?" Ujar Ryouta tanpa sengaja.

"Nii-san kenapa? Masih banyak pesanan, sebaiknya kita bergegas" Ryouta mengangguk sebagai jawaban atas ucapan adiknya.

Meski tangannya disibukkan oleh catatan menu juga pesanan yang dengan mudah ia hafal, tapi tetap saja fikirannya tertuju pada pria dengan surai abu – abu yang sudah dua kali mengancamnya. Bimbang sekaligus bingung, Ryouta ingin menceritakan mengenai pria itu pada ketiga kakaknya tapi ia juga tak mau mereka semua menjadi khawatir dan tak bisa bekerja seperti biasanya. Ryouta bingung bahkan mulai kacau karna fikirannya yang berkecamuk.

"Bom kasat mata? Bom seperti apa itu? Bagaimana jika itu benar – benar membuat Tetsuya-cchi, Shintarou-nii, Atsushi-nii dan Daiki-nii terluka? Mou~~ Bagaimana? Bagaimana?"

Berulang kali Ryouta memikirkan hal yang sama hingga pekerjaannya sedikit terganggu, tak jarang ia hampir saja tersandung dan menabrak Tetsuya yang notabene lebih pendek darinya – juga karna hawa keberadaannya yang tipis. Dari gelagat Ryouta, Tetsuya bisa menebak jika ada yang tak beres pada kakaknya itu, tapi ia tak mau terlalu ambil pusing karna menurutnya, akan ada saat dimana Ryouta akan bercerita.

_ooOOOoo_

Seijuurou tengah disibukkan oleh beberapa pakaian yang terlihat menarik untuknya. Walau usianya sudah mnginjak 26 tahun, tapi bukan berarti seleranya menjadi seperti orang tua. Sebaliknya, Seijuurou terlihat antusias saat melihat beberapa kaos polos serta kemeja aneka warna berjejer rapi di sebuah toko pakaian ternama.

"Kau ingin membeli yang mana Sei? Ini sudah 2 jam kita disini" Suara Nijimura menginterupsi kegiatan yang dilakukan Seijuurou.

"Sebentar lagi, aku masih memilih pakaian yang tepat untuk Tetsuya" Seijuurou masih memilih pakaian yang ia inginkan.

"Ayolah Sei, kau sudah membelikan jas kedokteran terbaru untuk Shintarou, design renovasi dapur untuk Atsushi, seragam kepolisian terbaru untuk Daiki, seragam Pilot lengkap untuk Ryouta dan sepasang sepatu untuk Tetsuya. Apa semua itu belum cukup Sei?" Gerutu Nijimura.

"Aku belum puas Shuuzou, aku tak mau hanya membelikan sepasang sepatu untuk Tetsuya"

"Itu bukan hanya sekedar sepatu Sei. Itu adalah sepatu karya terbaru designer sepatu dunia, hanya ada 1 dan harganya bahkan melebihi harga 1 buah mobil Ferrari, kau bilang itu belum cukup?" Seijuurou masih disibukkan memilih pakaian.

"Itu belum cukup, saat dia memenangkan kejuaraan Inter-High dan Winter Cup tahun lalu, aku belum sempat mengucapkan selamat juga hadiah. Aku yakin tahun ini dia juga akan memenangkan Kejuaraan Inter-High dan aku ingin memberikan sesuatu yang terbaik untuknya sekaligus permohonan maaf." Seijuurou tersenyum kecil saat melihat sebuah Kaos polos bergaris warna Biru juga Jaket berwarna Hitam-Putih.

"Kenapa hanya Tetsuya yang kau istimewakan Hm? Bukannya Shintarou, Atsushi, Daiki dan Ryouta juga memiliki banyak prestasi?"

"Apa aku perlu menjawab pertanyaanmu, Shuuzou?" Nijimura mengernyit dengan dahi yang sudah memunculkan perempatan merah.

"Untuk apa aku bertanya jika aku tak butuh sebuah jawaban, Sei. Dan lagi, setidaknya hormati aku yang lebih tua 1 tahun darimu." Gerutu Nijimura.

"Baiklah, Sumannai. Alasanku lebih mengistimewakan Tetsuya karna yang lain sudah bisa ku pastikan jika mereka bisa sedangkan Tetsuya masih harus bekerja keras untuk bisa." Seijuurou menimbang – nimbang dua Kaos polos di tangan kanan dan kirinya. "Dari dulu, aku melihat Tetsuya seperti gelas kaca yang rapuh. Sekali saja ia terjatuh walau dengan ketinggian beberapa cm, aku tak yakin gelas itu akan akan tetap utuh, pasti akan ada retakan juga sebagian yang pecah bahkan hancur. Marga Akashi menuntut kesempurnaan disetiap bidang, dan untuk menguasainya dibutuhkan kerja keras." Seijuurou meletakkan baju yang ditangan kirinya kembali ke tempatnya sedangkan baju yang satunya ia letakkan di kursi terdekat.

"Lalu?"

"Kau tentu tau alasannya Shuuzou. Aku, Shintarou, Atsushi, Daiki dan Ryouta hanya perlu sering berlatih dan mengasah kemampuan kami. Berapa kalipun dan selama apapun kami berlatih, tak akan ada masalah yang berarti. Tou-san dan Kaa-san akan percaya sepenuhnya pada kami, tapi untuk Tetsuya" Seijuurou menghela nafas, bermaksud untuk melanjutkan tapi malah dipotong oleh Nijimura.

"Aku sudah tau, dia tak bisa lelah dan aku masih ingat bagaimana Ba-san mengkhawatirkannya" Seijuurou tersenyum dan mengangguk. "Tapi yang membuatku tak percaya, bagaimana bisa jarak antara Tetsuya dan Ryouta terpaut 4 tahun? Bukannya jarak dari mulai Atsushi, Daiki dan Ryouta masing – masing hanya 2 tahun?" Seijuurou terlihat mengambil pakaian yang telah ia pilih dan berjalan menuju kasir.

"Sederhana, dulu Kaa-san hanya ingin punya 5 orang putra dan Ryouta sebagai bungsu. Tapi di luar dugaan, saat Ryouta berusia 4 tahun, Kaa-san tak sadar jika sudah mengandung Tetsuya dengan usia kandungan beberapa minggu" Seijuurou menyerahkan Black Card untuk membayar pakaian yang ia pilih.

"J-jadi Ba-san sama sekali tak tau kalau dia sudah.." ucapan itu terputus saat Seijuurou mengangguk. "L-Lalu apa hubungannya dengan keadaan Tetsuya sekarang?" Seijuurou menghela nafas dalam sembari keluar dari toko itu.

"Kaa-san saat itu sama sekali tak pernah memeriksakan diri juga control kesehatan seperti saat kami di dalam kandungan. Kaa-san malah menyibukkan diri di rumah sakit bahkan sering lembur. Akibatnya, Kaa-san harus mengkonsumsi beberapa obat – obatan untuk menambah stamina tanpa tau penyebab sebenarnya adalah kondisinya yang sedang hamil muda"

"Lalu bagaimana caranya Ba-san sadar jika dirinya sedang hamil?"

"Kaa-san baru sadar saat ia hampir saja mengalami keguguran, dan saat itu usia kandungan sudah memasuki 4 bulan. Karna perut Kaa-san yang kecil, ia sendiri tak sadar jika ia sudah mengandung selama 4 bulan. Setelahnya Kaa-san berhenti bekerja untuk sementara karna takut terjadi sesuatu pada Tetsuya yang belum melihat dunia, sayangnya saat usia kandungan menginjak 7 bulan, Kaa-san mendapat kecelakaan kecil yang berakibat fatal"

"Maksudmu?"

"Benturan kecil dari safetybelt yang dipakai saat mengendari mobil menekan perut Kaa-san dan mau tak mau menyebabkan pendarahan. Saat itu yang menjadi pilihan utama Tou-san adalah menyelamatkan Kaa-san atau menyelamatkan Tetsuya, hingga akhirnya Tou-san lebih memilih menyelamatkan Kaa-san dan mengorbankan Tetsuya"

"HA?! Kau yakin Ji-san memutuskan pilihan itu?" Seijuurou mengangguk lagi sembari terus berjalan menuju parkiran.

"Saat itu memang pilihan yang sulit, disisi lain, Kaa-san ingin menyelamatkan Tetsuya sebagai penebusan karna ia tak bisa menjaga Tetsuya seperti yang lain." Seijuurou membuka kunci mobil saat sudah sampai di dekat mobil mewahnya. "Aku hampir tak percaya keajaiban saat itu, tapi saat dokter mengatakan mereka berdua selamat, aku jadi percaya jika keajaiban itu ada"

"Ah, aku ingat. Saat itu Kaa-san dan Tou-san datang untuk menjenguk, tapi aku tak ikut karna ada pertandingan basket. Seminggu setelahnya aku baru ikut ketika mereka menjenguk, kalau tak salah saat Tetsuya masih dalam ruangan khusus dan tak bisa dijenguk kan?"

"Haii" Seijuurou menghidupkan mesin mobil dan mulai melajukan mobil. "Tetsuya dirawat di ruangan khusus selama 15 hari karna tubuhnya kecil juga karna lahir prematur. Berat badannya hanya 2 Kg. Terlalu kecil untuk bayi yang baru saja dilahirkan" Seijuurou menyetir perlahan dan membelah jalanan Kyoto. "Selain karna kecil, daya tahannya juga lemah terlebih paru – paru yang belum sempurna berkembang"

"Paru – paru?"

"Ah, aku lupa memberitahu. Tetsuya tak hanya mudah terkena demam, tapi dia juga memiliki Asma tapi tak terlalu parah jadi kami tak terlalu khawatir dan membiarkan dia melakukan aktivitas yang ia sukai, termasuk basket. Asmanya jarang kambuh, dan kalau sudah kambuh, mau tak mau ia harus bernafas melalui selang oxygen"

"Selang Oxygen?" Tanya Nijimura lagi.

"Haii, di Mansion, kami sudah menyiapkan segala peralatan jika sewaktu – waktu asmanya kambuh dan demamnya tinggi. Obat - obatan juga peralatan kedokteran telah disiapkan oleh Shintarou. Setiap bulan, Tetsuya akan Check up untuk menjaga kesehatannya agar tak menurun drastis saat musim gugur dan musim dingin"

"Kalian benar – benar menjaganya dengan baik"

"Tentu saja, grafik kesehatan Tetsuya sering naik – turun dan tergantung pada cuaca. Hm, tak hanya cuaca, tapi saat ia lelah sudah pasti grafiknya akan meluncur tajam. Dari dulu Kaa-san dan Tou-san memang tak begitu memberatkan prestasi pada Tetsuya, Tou-san hanya mewajibkan Tetsuya untuk bisa di bidang Academic dan hanya boleh memilih satu kegiatan Non-academic. Awalnya Tetsuya hanya memilih Basket, tapi lama kelamaan ia sadar jika peraturan juga didikan dari Tou-san adalah menjadikan nama Akashi sempurna. Karna kesadarannya itu, Tetsuya juga mengerti jika kami – kakaknya telah menjadi sosok yang sempurna"

"…"

"Tetsuya memiliki sebuah keinginan besar untuk mengalahkan kami, kakak – kakaknya yang sempurna dan tak ingin di cap sebagai kecacatan dalam nama Akashi. Tetsuya sebenarnya menanggung beban lebih berat dari yang kami tanggung, walau aku sebagai putra sulung menjadi patokan untuk kesuksesan adik – adikku, tapi bagi Tetsuya, aku adalah sosok yang paling ingin ia kejar walau harus mengorbankan tubuhnya yang lemah." Nijimura menghembuskan nafas berat sembari meletakkan kedua tangan di belakang kepala untuk membuat posisi nyaman.

"Haaah, aturan dari Ji-san memang berat. Tapi seingatku, kalian memiliki julukan yang diberikan oleh Ba-san sebagai pembeda, benarkan?" Seijuurou mengangguk.

"Haii, Kaa-san memang memberikan julukkan untuk kami agar orang lain mudah memanggil kami tanpa harus bingung dengan marga yang sama"

"Kalau begitu, bukannya lebih mudah memanggil nama kecil kalian?"

"Itu hanya berlaku untuk keluarga dan kalangan atas saja Shuuzou. Untuk teman bahkan orang – orang yang menurut Kaa-san dan Tou-san hanyalah orang biasa, kecuali para pelayan, mereka tak mengizinkan memanggil nama kami yang istimewa"

Dahi Nijimura mengernyit tajam, ayolah seberapa sombong dan bangganya mereka terhadap marga Akashi itu? Satu yang pasti, ibu mereka memiliki marga 'Nijimura' dan tentu saja itu marga yang berada dibawah marga Akashi. Ough, Nijimura benar – benar tak habis fikir jika setinggi itukah marga Akashi yang mereka sandang dengan segudang kesempurnaan.

"Kalian terlalu meninggikan marga kalian Sei, sampai kalian harus mendapat julukkan aneh" Ucap Nijimura dengan mata yang berputar malas.

"Mungkin itu benar, tapi sebenarnya julukkan yang diberikan Kaa-san tidak aneh karna sesuai dengan ciri fisik kami"

"Maksudmu?"

"Sebelum aku menjelaskan, apa kau tau arti dibalik marga 'Nijimura'?" Lagi dan Lagi, Shuuzou memutar bola mata malas.

"Aku tau kau memiliki IQ 200 Sei, tak perlu ku beritahu kau pasti sudah tau jika arti dibalik marga Nijimura adalah pelangi" Seijuurou memetik jarinya.

"Benar, dengan alasan itulah Kaa-san yang bermarga Nijimura memberikan julukkan untuk kami" Nijimura mengernyit.

"Kau pasti bergurau, Sei."

"Tidak, aku sama sekali tak bergurau"

"Uso! Kau sendiri tak memiliki julukan" Seijuurou tersenyum kecil.

"Siapa bilang, nama depanku sesuai dengan identitasku yang sebenarnya. Akashi, sudah jelas tertera menggunakan kanji dengan arti warna Merah seperti rambutku. Tak hanya itu, aku adalah putra sulung yang menjadikan identitas kami terlihat dimata orang lain"

"Ah, jangan kau bahas soal itu. Aku muak mendengar kesombonganmu itu" Decak Nijimura kesal tapi tetap penasaran kelanjutan cerita Seijuurou.

"Shintarou mendapat julukkan Midorima karna warna rambutnya yang Hijau juga sifatnya yang Tsundere juga perfectionist. Atsushi mendapat julukkan Murasakibara dengan alasan yang sama karna rambutnya yang berwarna ungu, begitu juga Daiki dengan Julukkan Aomine sedangkan Ryouta mendapat Julukkan Kise. Nama julukkan berdasarkan warna rambut"

"Tunggu dulu, Daiki dan Tetsuya memiliki warna rambut yang sama tapi sedikit berbeda. Lalu apa mereka mendapat julukkan yang sama" Seijuurou menggeleng.

"Tidak, Tetsuya mendapat julukkan Kuroko" Nijimura membelalakkan kedua matanya.

"Kuroko? Kau pasti bercanda, Kuro artinya hitam dan rambut Tetsuya jelas – jelas Baby Blue. Bagaimana bisa dia mendapatkan julukkan seperti itu? Dan lagi, bagaimana bisa Ba-san membuat putra keluarga Akashi dengan rambut warna – warni seperti itu? Apa kalian menjadi bahan percobaan Ba-san?" Cerocos Nijimura.

"Tetsuya mendapat julukkan Kuroko karna keberadaannya yang sulit dideteksi sejak kecil, terlebih dari dulu Tetsuya lebih sering menghabiskan waktu di balik selimut karna sering sakit. Kaa-san memberikan julukkan hitam bukan berarti membuatnya terbelakang, tapi untuk membuat kami kakak – kakaknya terlihat lebih terang lagi."

"membuat kalian lebih terang? Ha?! Dia itu paling muda tapi bagaimana bisa membuat kalian lebih terang?"

"Sederhana, Ibaratkan melukis. Tetsuya seperti Kanvas Hitam pekat yang sama sekali tak menarik, tapi dengan adanya kami yang berwarna terang seperti merah, Hijau, Navy Blue dan Kuning, kanvas pekat itu menjadi lebih menarik. Yah seperti langit malam yang berhias cahaya aurora dikutub utara" Nijimura mengangguk.

"Aku mengerti, jadi itu sebabnya dia mendapat julukkan Kuroko"

"Haii" Seijuurou mengangguk. "Untuk jawaban dari pertanyaan kenapa kami bisa memiliki surai warna – warni, yah mungkin saja Kaa-san bereksperimen atau mungkin karna do'a Kaa-san yang menginginkan putra yang terlihat seperti pelangi"

"Berarti kau salah satunya?"

"Tidak, kau tau sendiri warna rambut Tou-san sama persis denganku dan untuk Tetsuya, sudah jelas sebelumnya jika Kaa-san tak tau kami semua akan memiliki seorang adik lagi. Jadi, aku fikir rambut Baby Blue Tetsuya itu dari Kaa-san." Nijimura menggosok – gosok dagunya sembari berfikir.

"Benar juga, kalau ku lihat – lihat, Tetsuya seperti fotocopy-nya Ba-san. Dari pada tampan, mungkin Tetsuya lebih cocok jika ku bilang manis dan imut seperti permen kapas" Seijuurou gantian memutar bola matanya.

"Jangan berfikir yang tidak – tidak tentang Tetsuya, dia itu benar – benar laki – laki tulen dan jangan fikir kalau dia akan berubah gender" Nijimura mendengus.

"Kau fikir aku akan memikirkan itu?" Seijuurou mendengus kesal.

"Sudah tertera jelas dimatamu Shuuzou. Aku tau fikiran bodohmu itu"

"Hei, hei.. Sopanlah bicara pada yang lebih tua Sei. Kau terlalu sensitif saat menyinggung adik – adikmu"

"Itu kau sudah tau, jadi sebaiknya jangan menyinggung hal – hal aneh mengenai mereka, terlebih sifat anehmu yang memikirkan jika adik –adikku berubah gender, itu menjijikkan Shuuzou" Nijimura sontak tertawa kecil, ah benar – benar fikiran sepupunya yang satu ini, terlalu mudah baginya untuk membaca fikiran seseorang.

"Haii, Haii. Aku tak akan berfikiran macam – macam. Sekarang, kapan kau akan menemui mereka?" Seijuurou tersenyum lembut dan pandangannya sedikit menerawang.

"Secepatnya, aku tak sabar bertemu dengan mereka setelah lebih dari 6 bulan tak bertemu." Nijimura yang duduk disamping Seijuurou ikut tersenyum lembut. Bahkan lengkungan manis kini menghias dibibir mereka.

Mobil mewah berwarna merah itu membelah jalanan kota Kyoto dengan kecepatan sedang namun terkesan cepat. Udara akhir musim panas terasa sejuk saat menyentuh helaian surai merah juga hitam yang berkibar lembut. Bangku bagian belakang terlihat penuh dengan tas – tas kertas bahkan beberapa bungkusan besar. Seijuurou mengendarai mobil mewahnya dengan perasaan bahagia sekaligus tak sabar untuk bisa pulang ke Tokyo dan membawa kembali adik – adiknya untuk pulang ke Mansion tempat dimana mereka tinggal hingga tumbuh dewasa. Seijuurou siap meminta maaf juga mengembalikan segela kerja keras serta profesi yang pernah dijalani adik – adiknya.

"Tunggu Nii-san, Shintarou, Atsushi, Daiki, Ryouta dan…." Lengkungan manis semakin lebar menghias dibibir Seijuurou. "Tetsuya"

To Be Continue...

Yo Minna,, akhirnya LIan bisa update tepat waktu.. Terima kasih buat yang masih nunggu.. ^^

Lian gak mau banyak bicara lagi,, cuma mau nyampein chapter minggu depan adalah puncak dari konflik yang ada.. jadi bagi yang menunggu, lian senang hati update cepat, tapi kalau gak ada yang nunggu, mungkin telah 2 minggu.. ^^ Hehehehe...

Sampai jumpa di chapter selanjutnya.. ^^

Chapter 15 : Game Over