Tittle : White Crystal
Maincast : -Akashi Seijuurou
- Kuroko Tetsuya
- Aomine Daiki
- Kise Ryouta
- Murasakibara Atsushi
- Midorima Shintarou
Suport Cast : - All of Kuroko No Basuke Chara
Author : Lian (VT_Lian1995)
Genre : Family, Slice Of Life, School Life, Brotheship, Little Comedy, Sad, Hurt.
Attention : This chara not mine, this chara from Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi – sensei.
Little information : Seluruh nama Cast akan menggunakan nama Akashi karna ini berhubungan dengan kisah keluarga Akashi. Jadi di mulai dari Tetsuya sampai Shintarou akan menggunakan nama depan Akashi.
Summary : Akashi Tetsuya, bungsu dari 6 bersaudara keluarga Akashi harus menangung beban berat di pundak untuk memberikan kesan betapa hebatnya keluarga Akashi. Tapi sayangnya, apapun yang ia lakukan pasti sudah pernah dilakukan oleh ke – 5 kakaknya. Apapun itu, segala yang Akashi Tetsuya raih seolah hanya sia – sia, terlebih jika dibandingkan dengan fisik ke – 5 kakaknya, Tetsuya jauh lebih lemah, namun tak menampik kemungkinan ia bisa jadi lebih kuat walau usahanya akan mendapat resiko yang tinggi. Ini demi menjunjung tinggi motto dari sang Ayah yang telah tiada "Pemenang akan mengukir sejarah dan yang kalah akan menjadi pecundang yang terlupakan."
"Jika kau katakan menjadi bungsu keluarga Akashi merupakan anugrah, tapi bagiku tidak. Beban yang ku tanggung lebih besar dari Ke-5 saudaraku yang lain"
_ooOOOoo_
Chapter 15
%^Game Over^%
Senyum sumringah menghias dibibir Pria bersurai merah yang sibuk merapikan beberapa pakaian yang ia masukkan ke dalam sebuah koper. Tak luput, kotak – kotak dengan ukuran besar berbungkus kertas warna – warni turut bertengger diujung tempat tidurnya. Sesekali, pria itu mematut diri di depan cermin sembari merapikan tatanan rambut yang kiranya membuat wajah pria 26 tahun itu agar terlihat lebih muda lagi. Ketika ia merasa cukup, lengkungan manis semakin besar menghias bibirnya.
"Ini cukup, dengan menggunakan mobil mungkin dalam waktu kurang dari 3 jam untuk sampai ke Tokyo." Ia segera menyambar sebuah jeket dan bergegas turun. "Shuuzou, aku telah siap" Teriakknya saat sampai di ruang tengah. Pria dengan surai hitam yang tengah menikmati alam mimpi, terpaksa membuka mata mendengar teriakkan sepupunya.
"Bisakah kau tak berteriak Sei? Ingat usiamu sudah lebih dari setengah dari setengah abad." Gerutu Nijimura yang berusaha bangkit dari posisi nyamannya, "Kau adalah sepupu merepotkan, ini masih jam 2 pagi dan kau berteriak tak jelas untuk segera berangkat ke Tokyo. Hei, kita masih bisa menunggu sampai matahari terbit Sei, Tokyo tak akan pernah berlari ataupun berpindah tempat hanya karna kita menunggu matahari terbit" Celoteh Nijimura. Pria yang dipanggil Sei atau pemilik nama Akashi Seijuurou kini memandang tajam kearah Nijimura.
"Oh, jadi kau tak mau ikut ke Tokyo?" Nijimura menggeleng.
"Bukan begitu maksudku, ini terlalu pagi untuk berangkat Sei. Aku bahkan belum tidur dengan cukup, dan sekarang kau membangunkanku dengan paksa agar bisa bergantian saat menyetir. Ah, kau memang gila Sei" Nijimura mengacak rambutnya kasar.
"Apa? Bisa kau ulangi Shuuzou?" Shuuzou segera memutar bola matanya malas.
"Kau tak memiliki riwayat gangguan pendengaran kan? Ah, sudahlah, aku tau ini tak akan selesai." Nijimura menguap kecil dan meregangkan tubuhnya. "Angkat semua hadiah untuk adik – adikmu dan aku akan menunggu dimobil. 10 menit lagi kita akan berangkat setelah aku memanaskan mesin" Seijuurou menyunggingkan sebuah senyuman manis, dan segera menyuruh para pelayannya untuk membawakan hadiah – hadiah yang telah ia siapkan terlebih dahulu.
Tak berapa lama, mobil mewah melaju membelah kota Kyoto yang saat ini lebih lengang. Dibandingkan dengan kota Tokyo yang selalu padat, Kyoto sedikit lebih lengang. Tanpa pelu menunggu waktu lama, Nijimura mengendarai mobil dengan kecepatan standart demi keselamatan beserta Seijuurou yang duduk diam dengan Earphone yang bertengger manis di telinga kedua telinganya, ada pula senandung kecil dari bibirnya pertanda ia tengah dalam mood yang baik.
Nijimura sesekali melirik ke arah Seijuurou, matanya menatap sekilas pria yang ada disampingnya. Kesal bercampur malas, Nijimura menghela nafas dan menghidupkan musik sekeras mungkin. Lagu dari Granrodeo – The Other Self dengan volume Full sontak membuat Seijuurou tesentak kaget. Dengan tenang, Nijimura menikmati musik aliran Rock dengan sesekali kepalanya ikut bergoyang tanpa sadar jika Seijuurou sudah menatapnya tajam.
"Bisa kau matikan lagumu itu Shuuzou?" Seijuurou menyipitkan matanya.
"HA? Apa? kau bebicara sesuatu?" Nijimura memasang eskpresi seperti tak dengar padahal ia bisa dengar dengan jelas.
"Aku tau kau dengar Shuuzou, matikan atau telingamu benar – benar tuli" Ancamnya. Nijimura menghardikkan bahunya santai.
"Ini lagu yang bagus Sei, aku tak mau mematikannya" Seijuurou mendelik kesal.
"Kalau begitu kecilkan volumenya, aku tak bisa mendengar lagu dari earphoneku" Dengus Seijuurou.
"Bagaimana kalau kau juga mematikan musik dari Smartphonemu dan aku mematikan musikku. Aku bisa tenggelam dalam kebosanan jika kau sibuk dengan duniamu"
"Aku tidak sibuk dengan duniaku, Shuuzou. Aku hanya sedang benostalgia sekaligus membuang waktu"
"Bagaimana kau bernostalgia dan membuang waktu dengan besenandung sambil mendengarkan musik?" Gerutu Nijimura kesal.
"Ini bukan lagu biasa, ini lagu favoriteku dan adik – adikku" Dahi niijimura mengernyit.
"Lagu? Lagu apa?"
"Judulnya Regal Generation yang dinyanyikan oleh Teiko All Star dan OLDCODEX – Lantana. Ntah kenapa saat mendengar lagu itu, aku merasa mereka berada disampingku."
"Fikiran bodoh macam apa itu Sei? Sebentar lagi kau akan berkumpul dengan mereka"
"Aku tau, dan aku sudah tak sabar. Tapi, ntah kenapa aku perasaanku tak enak"
"Hmph, itu Cuma perasaanmu saja Sei. Aku tau kau gugup untuk bertemu lagi dengan mereka"
"Aku tidak gugup, Shuuzou. Aku benar – benar merasakan firasat buruk, terlebih kau belum bisa menangani Haizaki sialan itu kan?" Ah, Nijimura ingat, orang yang selama ini tengah ia cari dan sampai sekarang belum ia temukan. Memang benar jika Haizaki itu adalah ancaman untuk adik – adik Seijuurou, tapi belakangan ia tak melakukan apapun pada kelima adik Seijuurou dan menurutnya, semua akan baik – baik saja.
"Tenanglah, dia tak akan melakukan apa – apa. Aku akan mengurusnya lebih serius lagi nanti"
"Aku harap secepatnya kita menemukan si sialan itu, aku tak mau terjadi sesuatu pada adik – adikku sebelum aku bertemu dengan mereka"
"Kau bisa pecaya padaku Sei"
"Hm.."
Suasana dalam mobil itu kini menjadi lebih tenang, gelapnya langit malam tak jadi penghambat sedikitpun untuk Nijimura melewati jalanan yang besar itu. Setelah satu jam lebih mengendarai mobil mewah itu, Shuuzou bergantian dengan Seijuurou. Sesekali mereka berhenti untuk sekedar ke toilet atau membeli makanan ringan untuk cemilan di tengah perjalan yang lumayan jauh dar Kyoto ke Tokyo. Sekitar hampir 3 jam lebih mereka mengendarai mobilnya, mereka sampai di Mansion Akashi yang tak pernah berubah. Selalu mewah dan menakjubkan dimata orang awam.
Langit masih gelap namun terlihat sedikit fajar mulai menyingsing, beberapa tukang kebun terlihat sudah mulai bekerja membersihkan tanaman liar juga menata ulang beberapa pohon dengan bentuk yang mulai berubah karna ranting yang semakin panjang. Beberapa pelayan sudah bersiap di depan pintu untuk menyambut kedatangan sang tuan muda yang datang mendadak. Begitu sampai di depan pintu, Beberapa tukang kebun segera membungkuk hormat dan pelayan – pelayan di sana juga terlihat membungkuk.
"Okaerinasai, Seijuurou-sama, Shuuzou-sama" Sapa kepala pelayan Mabuchi dan Pelayan Pribadi Tetsuya – Tanaka.
"Tadaima, Mabuchi-san, Tanaka-san" Jawab Seijuurou lembut juga nada khas seorang putra sulung. "Rumah ini masih terawat seperti semula, aku senang walau tanpa mereka di rumah tapi kalian tetap bekerja seperti biasa"
"Itu memang kewajiban kami Seijuurou-sama, menjaga rumah ini tetap bersih adalah pekerjaan yang telah kami lakukan sejak Tuan dan Nyonya besar Akashi masih ada" Jawab Mabuchi yang notabene adalah kepala pelayan yang telah lama bekerja untuk keluarganya.
"Soukka, aku hampir lupa jika kalian sudah lama bekerja disini. Hm, sebelumnya boleh aku minta bantuan kalian?" Tanya Seijuurou.
"Tentu saja, Seijuurou-sama" jawab Tanaka dan Mabuchi bersamaan.
"Aku ingin kalian membersihkan kamar Shintarou, Atshushi, Daiki, Ryouta dan Tetsuya. Lalu, aku ingin para Chef membuatkan beberapa makanan yang lezat dan jangan lupa untuk membuatkan makanan kesukaan mereka. Ah, hampir saja aku lupa, di dalam mobil aku sudah menyiapkan hadiah untuk mereka semua, aku mau kalian meletakkan di kamar mereka masing – masing. Malam ini aku akan menjemput pulang mereka." Mabuchi, Tanaka beserta beberapa pelayan membulatkan matanya tak percaya.
"Seijuurou-sama, Mungkinkah…." Ucapan Tanaka terputus saat Seijuurou mengangguk.
"Haii, aku tau kemarin itu adalah salahku. Malam ini aku akan menjemput mereka dan aku harap bisa berkumpul seperti dulu." Seijuurou melirik ke arah lain. "Yah, setidaknya aku ingin meminta maaf pada semuanya dan berharap bisa mengulang dari awal lagi."
Tanpa menunggu waktu, para pelayan mengerti akan permintaan sang tuan muda dan bergegas menyiapkan segala keperluan. Beberapa pelayan terlihat mulai membersihkan ulang rumah beserta isinya, ada pula yang mulai membersihkan kamar pribadi para tuan muda, tak luput Tanaka juga mulai mengantar beberapa Chef untuk berbelanja untuk keperluan makan malam. Sungguh, ini menjadi hari yang sibuk juga akan menjadi hari yang menyenangkan karna kelima tuan muda akan kembali. Suasana akan lebih meriah apa lagi suara teriakkan Ryouta, Gerutuan Daiki, ucapan malas Atsushi, Dengusan kesal Shintarou dan jangan lupakan yang menjadi objek protectif lainnya – Tetsuya.
"Kau yakin malam ini mereka akan mau pulang Sei? Bukannya itu terlalu cepat"
"Aku yakin Shuuzou, tak mungkin mereka menolak jika ku jelas secara baik – baik."
"Menjelaskan itu mudah, mempercayai itu yang sulit"
"Aku akan meyakinkan mereka, terlebih aku akan meminta maaf terlebih dahulu pada Shintarou, Daiki, Atsushi, Ryouta dan Tetsuya. Aku sudah menyiapkan kata – kata yang tepat untuk mereka. Aku akan melakukan apapun untuk membuat mereka kembali."
"Jangan terlalu percaya diri dan seolah – olah kau tau segalanya, Sei"
"Aku tau Shuuzou, karna aku seorang Akashi" Shuuzou memutar bola mata malas.
"Terserah kau saja"
"Tapi sebelum itu, kau juga harus menemani ku" Nijimura membuka mulutnya lebar, benar – benar tak bisa ditebak Sepupunya yang satu itu. Mau tak mau ia harus menemani Seijuurou menemui kelima adiknya dan membantu menjelaskan. Ah, Nijimura merasa jadi penengah untuk masalah keluarga ini.
"Haii~~" Jawab Nijimura malas – malasan. "Sebaiknya aku istirahat sebentar" Nijimura menguap dan bersiap berjalan menuju kamar khususnya.
"Kau mau kemana Shuuzou?" Tanya Seijuurou tenang.
"Sudah jelaskan? Aku akan ke kamar. Setidaknya istirahat setelah perjalanan panjang"
"Hm, bagaimana jika aku memintamu untuk mengundur waktu istirahatmu. Ada hal yang harus ku lakukan dan aku ingin kau ikut" Nijimura mendelik tajam ke arah Seijuurou, ah, sepupunya itu memang merepotkan dirinya. Jika ia tak mengingat ayahnya dan ibunya Seijuurou adalah suadara kandung, bisa saja Nijimura melempar bola basket raksasa ke kepala merah itu.
"Ck, dasar sepupu menyebalkan"
_ooOOOoo_
Tak seperti biasanya, BasketBall Caffe tak terlihat sesibuk biasanya. Seluruh penghuni sebagian emang masih bergelung di tempat tidur dan sebagian lagi tengah membersihkan sebagian Caffe sekaligus menjadi rumah untuk mereka. Shintarou dan Atsushi yang menjadi paling dewasa diantara yang lainnya sibuk membersihkan peralatan yang dulunya tak pernah ia sentuh, Daiki bergelung di balik selimut, Ryouta sudah bangun sembari mengerjakan design baju untuk majalah musim gugur dan Tetsuya sedang membereskan beberapa buku di temani Nigou.
Hari ini mereka semua memutuskan untuk meliburkan Caffe dan beristirahat sejenak, besok Caffe akan buka seperti biasanya. Sore ini ada pertandingan final Inter-High yang mempertemukan Seirin dengan Kaijo. Tak salah jika mereka memilih libur dan khusus untuk Ryouta, dia rela bangun sepagi mungkin agar designnya selesai dengan cepat dan bisa menonton pertandingan si bungsu.
"Tetsuya-cchi, apa kau akan berangkat pagi hari ini-ssu?" tanya Ryouta sembari membuat design bajunya.
"Begitulah Ryouta-nii, Coach menyuruh kami untuk berkumpul dan melakukan persiapan" Tetsuya masih disibukkan dengan beberapa buku ditangannya.
"Apa kau butuh Daiki-nii untuk membantu Tetsuya-cchi?" Tetsuya tersenyum sembari menggeleng.
"Tidak perlu Ryouta-nii, Coach, Kagetora-san dan Momoi-san sudah cukup untuk membantu kami menang. Data yang sudah didapat dari Momoi-san lebih dari kata membantu" Ryouta memalingkan wajahnya menatap ke arah Tetsuya.
"bukan itu maksudku-ssu." Tetsuya memiringkan kepalanya dan menatap bingung ke arah Ryouta.
"….." Tanpa berbicara, Ryouta buru – buru menjelaskan.
"Akhir – akhir ini aku merasa ada yang menggangguku-ssu" Ryouta meletakkan pensilnya dan melipat tangan didepan dada. "Apa kau tau salah satu pelanggan kita yang memiliki rambut abu – abu-ssu?" Tetsuya menggeleng tak tau. "Hah, pelanggan itu hanya duduk dan memperhatikan kegiatan kita, awalnya aku kira dia hanya ingin bersantai tapi saat pertama kali berbicara dengannya, aku merasa takut-ssu" Ryouta tampak menunduk khawatir.
"Takut kenapa nii-san? Apa dia melakukan hal yang kasar pada Nii-san?" Ryouta menggeleng.
"Dia tak melakukan hal kasar di Caffe-ssu, tapi dia mengetahui semua rahasia kita-ssu"
"Maksud Nii-san tentang…" ucapan Tetsuya terputus saat Ryouta mengangguk.
"Haii-ssu, dia mengetahui kalau kita berasal dari keluarga Akashi. Tak hanya itu, dia juga tau segalanya tentang kita walau aku sudah berkilah-ssu." Ryouta menghela nafas dan menatap langit – langit kamar, "Selain itu, dia juga beberapa kali mengancam tapi sampai sekarang aku fikir itu hanya isapan jempol semata. Tapi, aku takut jika dia benar – benar melakukan hal aneh pada kita-ssu"
"Memangnya dia mengancam seperti apa Nii-san?" Tetsuya semakin penasaran dengan orang yang disebutkan Ryouta.
"Dia mengatakan akan meledakkan Bom waktu dan menjadikan kita semua hancur-ssu. Aku tak tau siapa target pertamanya-ssu, jika itu Onii-cchi Tachi, aku yakin mereka bisa menghindar, tapi kalau Tetsuya-cchi…." Ucapan Ryouta semakin lama – semakin pelan dan Tetsuya tau jika sang kakak mengkhawatirkan dirinya. Tetsuya bangkit dan mendekat ke arah kakaknya.
"Ryouta-nii tenang saja, aku akan baik – baik saja. Aku bukan anak kecil lagikan? Lagi pula, meski Nii-san Tachi sudah melepas marga Akashi bukan berarti orang itu bisa meremehkan kita kan?" Tetsuya tersenyum tipis. Ryouta ikut tersenyum sembari mengusap lembut surai Baby Blue lembut.
"Haii-ssu, aku hanya khawatir dengan ancaman orang itu-ssu"
"Aku tau, kalau aku di posisi Ryouta-nii, aku juga akan khawatir." Tetsuya menghembuskan nafas lega. "Hm, tapi kalau boleh aku tau, bagaimana ciri – ciri orang itu?" Ryouta mencoba mengingat – ingat orang yang ia temui.
"Dia memiliki rambut abu – abu, memakai anting dan beberapa tindik di telinganya. Dia tinggi sepertiku, tapi dia selalu memasang wajah remeh saat melihat kita. Dari perkiraanku, dia berusia 27 tahun-ssu"
"Apa orang itu sering menjilat ibu jarinya setelah berbicara" Ryouta memasang pose mengingat kemudian mengangguk.
"Benar-ssu, eh? B-bagaimana bisa Tetsuya-cchi tau? Apa Tetsuya-cchi pernah bertemu dengannya?" Tetsuya mengangguk.
"Sebentar Nii-san" Tetsuya segera mengambil buku catatan mengenai data pemain basket lain termasuk pelatih, setelah membolak – balik buku itu, akhir sebuah foto salah satu pelatih beserta datanya ia temukan. "Apa orang itu seperti yang di foto ini Nii-san?" Ryouta melihat Foto itu dan mengernyit.
"Wajahnya memang mirip Tetsuya-cchi, tapi warna rambutnya berbeda-ssu"
"Momoi pernah mengatakan jika orang itu sengaja mengubah gaya rambut saat melatih tim, tapi setelahnya ia akan kembali seperti semula, berwarna abu – abu" Jelas Tetsuya. Ryouta membaca data rinci mengenai pelatih itu dan menemukan nama yang tertera.
"Haizaki Shogo? Seperti tak asing dengan nama itu, tapi siapa-ssu?"
"Nii-san mengenalnya?"
"Tidak, tapi namanya seperti pernah ku dengar." Ryouta mengernyit kemudian menyerah. "Sudahlah, aku tak mau memikirkan siapa orang itu-ssu. Yang penting sekarang, Tetsuya-cchi harus menang nanti-ssu. Kami akan melihat pertandinganmu-ssu"
"Haii, aku pasti akan menang"
"Yosh, yosh. Sekarang giliran Nii-cchi yang harus selesaikan design ini supaya bisa melihat pertandinganmu-ssu"
"Un"
Ryouta kembali bergelut dengan pensil juga selembar kertasnya, sedangkan Tetsuya disibukkan dengan buku juga sesekali bermain dengan Nigou yang sibuk berguling manja. Setelah persiapannya selesai, Tetsuya masuk ke dalam kamar untuk mengganti kaos polosnya dengan Jersey Seirin yang telah ia siapkan terlebih dahulu. Rambutnya yang sekarang memanjang terlihat berantakan dan mencuat ke segala arah. Walau rambutnya lembut tapi sedikit susah diatur apa lagi karna sudah bertambah panjang.
"Mungkin aku harus memangkasnya sedikit" Ucap Tetsuya sembari menarik ujung rambutnya. Beberapa detik setelahnya, terdengar teriakkan dari lantai bawah.
"Tetsuya, sarapan sudah siap, Nodayo!" Teriakkan Shintarou membuat Tetsuya bergegas turun.
"Haii!" Teriaknya dari dalam kamar, begitu keluar, tas Seirin sudah tersampir di bahu kanan dengan Nigou yang mengekor di kakinya. "Ryouta-nii, lebih baik sarapan dulu" Ajak Tetsuya.
"Hmp, Tentu saja-ssu" Ryouta beranjak dari kursinya dan mengikuti langkah Tetsuya.
"Daiki-nii tidak dibangunkan Nii-san?" Ryouta menggeleng.
"Biarkan saja Daiki-nii tidur, semalam dia baru pulang training camp dan langsung bekerja di Caffe sampai lembur. Aku yakin dia sangat kelelahan-ssu"
"Benar juga, lebih baik kita sarapan dulu sebelum Shintarou-nii mengamuk dan menghancurkan Lucky Itemnya" Gurau Tetsuya, Ryouta tertawa pelan sembari mengalungkan lengannya di leher Tetsuya.
Mereka menuruni anak tangga satu persatu, ruangan itu terlihat semakin luas saja, renovasi yang dilakukan secara perlahan membuat rumah yang mereka beli 6 bulan lalu semakin terlihat membesar juga Caffe mereka berkembang pesat. Shintarou, Atsushi, Daiki, dan Ryouta sekarang lebih tenang karna keuangan mereka jauh lebih baik daripada saat pertama kali mereka melepas marga Akashi.
Hutang yang Shintarou pinjam saat itu ke Nijimura telah dibayar lunas, tak hanya itu modal mereka juga sudah semakin banyak beserta tabungan dari hasil design Ryouta dan gaji Daiki sebagai pelatih cukup untuk membiayai Sekolah Tetsuya. Keuntungan dari Caffe mereka sisihkan untuk tambahan tabungan juga untuk menggaji karyawan baru mereka – Kiyoshi, Hyuuga, Izuki, Kagami dan Momoi. Meski awalnya Shintarou merasa tak bisa membayar mereka, namun Momoi membantu menganalisis ulang dan hasilnya benar – benar membuat Shintarou tak percaya. Momoi memprediksi keuntungan mereka akan semakin bertambah dan peluang untuk menggaji Karyawan sangat besar. Sekarang, meski bukan bagian dari Akashi yang sempurna juga berlimpah harta, setidaknya mereka menikmati waktu bersama meski tanpa harta melimpah seperti dahulu.
"Kalian terlambat 2 menit, Nanodayo" Shintarou memasang wajah kesal karna melihat Ryouta yang akrab dengan Tetsuya. "Segeralah duduk dan makan sarapan kalian" Shintarou menaikkan kacamatanya. "Ini Lucky Itemmu hari ini, Tetsuya" Shintarou menyerahkan gantungan kunci anak ayam berwarna kuning.
"Anak ayam?" Tetsuya bingung.
"Aku tak mau kau kalah di pertandingan final ini, Nanodayo. Jadi untuk antisipasi, aku sudah menyiapkan Lucky Item-mu. Jangan lupa, lebih percaya diri karna hari ini Aquarius berada di posisi atas, Nanodayo" Tetsuya tersenyum.
"Arigatougozaimasu, Shintarou-nii. Aku pasti akan menang"
"He~~ Tetsu-chin tak akan kalah. Tetsu-chin pasti menang" Dari balik dapur terlihat Atsushi keluar mengenakan celemek juga penutup kepala – seperti baru membereskan dapur. "Nanti kalau Tetsu-chin menang, aku akan membuatkan Vanilla Milkshake setiap hari~" nada bicara Atsushi memang malas, tapi bukan berarti ia tak memberikan semangat, bahkan Tetsuya mendapat energi positif karnanya.
"Haii, Nii-san." Sapuan hangat hangat terasa di kepala Tetsuya, tangan besar namun penuh kelembutan itu membuatnya merasa nyaman terlebih dengan senyuman yang manis.
Setelah sapuan itu terlepas, Tetsuya memulai sarapan paginya, menikmati makanan yang selalu enak di lidahnya. Tanpa sengaja Tetsuya melirik ke arah jendela luar Cafenya, jendela itu terbuat dari kaca bening yang tebal sehingga dapat melihat jelas keluar. Ntah karna berhalusinasi atau memang orang itu ada disana? Pria bersurai merah yang sudah lebih dari 6 bulan tak ia temui – tepatnya saat terakhir kali ia dirawat di rumah sakit – berada di seberang jalan dengan kedua tangan ia letakkan di saku celana panjangnya. Berdiri diam menatap kearah dalam Caffe tanpa bergeming sedikitpun.
Mata Tetsuya membulat besar, antara percaya dengan tidak sampai ia lupa jika saat ini tengah menikmati santapan sarapan bersama Shintarou, Atsushi dan Ryouta. Semakin ia melihat sosok itu, semakin jelas jika itu bukan khayalan, terlebih sosok tersebut mengulas sebuah senyuman juga sebuah lambaian tangan. Tak hanya itu, Setelah sebuah senyuman, Tetsuya bisa membaca gerakan bibirnya dengan jelas. Menyadari apa yang diucapkan orang itu, Tetsuya langsung berdiri dari bangkunya.
"SEI-nii!" Teriakknya hingga membuat Shintarou, Atsushi dan Ryouta tersentak. Baru saja Tetsuya akan berlari keluar untuk melihat lagi lebih jelas sosok itu, Ryouta dengan cekatan menarik tangan Tetsuya.
"Kau mau kemana Tetsuya-cchi?" cegah Ryouta.
"Sei-nii, aku melihat Sei-nii disana. Sebentar saja Ryouta-nii, aku ingin memastikan itu benar – benar Sei-nii" Pinta Tetsuya tanpa melepaskan pandangan dari sosok diseberang sana.
"Tak mungkin dia ada disini, Tetsuya. Seijuurou tak mungkin ada disini, dia pasti berada di Kyoto dan menikmati kesempuranaannya, Nanodayo!" Jelas Shintarou tapi Tetsuya masih keras kepala dan masih berusaha untuk melepaskan pegangan tangan Ryouta. Kelang beberapa detik sosok yang ia lihat menghilang setelah sebuah truk melintas.
"Menghilang, tidak mungkin" gumam Tetsuya dan semakin kuat melepaskan pegangan sang kakak. Ia keluar dari Caffe dengan langkah terburu – buru dan mencari sosok yang ia lihat, tapi sayangnya tidak ada. "Apa yang tadi itu Cuma khayalanku? Tapi kata – kata itu…" Tetsuya mengingat lagi gerak bibir orang yang ia lihat.
'Nanti malam aku akan menjemputmu dan juga yang lainnya, ayo kita pulang dan berkumpul lagi. Nii-san merindukanmu, Tetsuya' Tetsuya menggeleng cepat, ia yakin itu bukan khayalan, ia yakin kakaknya pasti datang untuk menjemputnya dan meminta untuk pulang kemudian berkumpul seperti dahulu.
"Sei-nii…" Lirih Tetsuya yang sedikit kecewa. Shintarou, Atsushi dan Ryouta yang mengikuti dari belakang mengerti bagaimana perasaan si bungsu, tapi mau bagaimana lagi, mereka sudah membuang nama Akashi dari nama depan mereka.
"Tetsuya-cchi" Ryouta berusaha memanggil dan menggenggam pelan pundak Tetsuya. "Sudahlah-ssu, dia tak mungkin ada disini-ssu. Kau tau sendirikan, bagaimana perubahan yang terjadi padanya, dia sudah tak peduli dengan kita lagi-ssu." Ucap Ryouta pelan.
"Itu benar, Nanodayo. Kami tau kau merindukannya, tapi sayangnya kau – ah tidak, kita sudah tak bisa bertemu dengannya. Lagi pula, dia bukan Onii-san kita yang dulu" Shintarou menambahkan.
"Ma~, lebih baik Tetsu-chin masuk dan sarapan. Setelah itu fokuslah pada pertandingan final, jangan sampai karna ini Tetsu-chin kalah dan mudah dihancurkan" Atsushi segera menarik Tetsuya masuk dengan lembut.
Shintarou menghela nafas dalam, sebenarnya tanpa diketahui oleh Ryouta maupun Daiki, Shintarou juga melihat sosok itu. Bukan karna sifat Tsunderenya yang selalu mengelak, tapi Shintarou sudah terlanjur kesal dan jengkel dengan sikap si sulung yang menurutnya semena – mena juga berubah 180 derajat. Shintarou bahkan sampai bersumpah dalam hatinya, ia tak akan kembali memakai nama Akashi jika Seijuurou yang ia kenal tak kembali seperti dulu.
Langkah perlahan menjadi awal bagi Shintarou untuk bisa meyakinkan adiknya jika yang dilihat itu bukan Seijuurou, melainkan orang lain yang berkemungkinan memiliki warna rambut yang sama. Meski ada rasa bersalah jika berbohong nantinya, Shintarou harus melakukannya agar Tetsuya tetap fokus pada pertandingan final nanti. Tangan kiri Shintarou yang tak pernah absen dari perban dan sebuah Lucky Item – Hari ini Lucky Item Shintarou adalah Ceret –, Shintarou mendekat ke arah Tetsuya. Tangan kanannya menepuk pundak Tetsuya dan mencengkramnya lembut.
"Aku tau perasaanmu, tapi untuk saat ini, fikirkanlah perasaan tim-mu dan raihlah sebuah kemenangan, Nanodayo. Jika waktunya tiba, Seijuurou akan datang dan menjelaskan segalanya" Shintarou menaikkan kacamata yang sama sekali tak bergeser. "Bukannya aku berharap, hanya saja Shuuzou-nii pernah mengatakan padaku jika Seijuurou memiliki 2 kepribadian dan dalam tahap terapi. Bersabarlah, Nanodayo"
"Un.." Tetsuya menjawab dengan anggukkan walau sebenarnya ia tak mendengar apa yang dikatakan oleh Shintarou.
_ooOOOoo_
Pertandingan final Inter-High berlangsung dengan menegangkan, kemampuan para pemain sama – sama meningkat dan masing – masing memiliki strategi yang membuat kewalahan. Selama jalannya pertandingan, Momoi, Riko, dan Tetsuya mengamati para pemain untuk mencari celah kelemahan. Riko dan Momoi memperhatikan dari Bench sedangkan Tetsuya memperhatikan pemain dari lapangan sembari bertanding.
Quarter ke-4 tinggal beberapa menit lagi sedangkan mereka masih saja saling mengejar dan sangat sulit untuk memperlebar jarak. Bermain dengan menggunakan Buzzer bitter sama saja bunuh diri karna kemungkinan lainnya bisa saja terjadi. Riko sudah menggigir kuku ibu jarinya sembari berfikir keras untuk bisa mengatur strategi dikeadaan mendesak. Momoi yang duduk disampingnya tengah sibuk mencatat dan mengumpulkan informasi kemudian mencari celah. Disaat – saat mendesak seperti ini, Momoi benar – benar dituntut untuk segera mencari celah. Setelah selesai memeriksa, akhirnya ia menemukan celah.
"Riko-senpai, aku menemukan celahnya"
"Hountou?!"
"Haii, lebih baik kita ambil Time Out dan aku akan menjelaskan strateginya"
"Aku mengerti"
Riko dengan cepat mengambil tindakan time out, ketika semua sudah berkumpul, Momoi menjelaskan strategi untuk mengalahkan Kaijo dan memperlebar jarak score. Mengerti penjelasan Momoi, Hyuuga segera bertindak untuk memberi pengarahan dan membantu untuk menyusun pola penyerangan. Setelah selesai, para pemain langsung bersiap dengan aura yang masih bersemangat bahkan terkesan mengerikan.
Di bangku penonton, Shintarou, Ryouta, Daiki dan Atsushi menonton pertandingan dengan sesekali mengomentari permainan. Shintarou sesekali memberikan komentar pedas mengenai permainan Kaijo yang terkesan ingin menang dengan mengandalkan tekanan, ada pula komentar Daiki yang mengatakan jika Kaijo pasti kalah dengan mengulang pertandingan saat dia dulu masih di Touo Academy melawan Kaijo yang berakhir dengan kemenangan Touo Academy, hanya Atsushi yang sama sekali tak berbicara dan sibuk dengan Maiubo yang sudah lama tak ia makan. Ryouta yang jelas – jelas pernah menjadi salah satu pemain basket di Kaijou hanya bisa menggerutu kesal.
"Seirin memulai serangannya lagi, Nanodayo" Shintarou kembali berkomentar.
"Serangan kali ini berbeda dari yang tadi, Nii-san. Lihat saja Tetsu sudah berpindah tempat tanpa mereka sadari dan memberikan peluang baru untuk Seirin mencetak angka" Daiki menambahkan.
"Kaijo ternyata mulai melemah" Shintarou membenarkan kacamatanya. "Ini akan menjadi kekalahan yang menyakitkan untuk Kaijo"
"Itu benar, Tetsu akan menang untuk yang kedua kalinya di Inter-High. Dia memang adikku yang hebat" Daiki membanggakan.
"Hmph, dia adikku juga, Nanodayo"
"He~~ Tetsu-chin juga adikku" Atsushi tak mau kalah.
"Mou! Tetsuya-cchi juga adikku-ssu, dan bisakan kalian tak mengomentari Kaijo? Aku pernah berada di tim itu-ssu" Dengus Ryouta.
"Memangnya kau siapa?" tanya Daiki Innocent.
"Daiki Nii-cchi Hidoii-ssu! Aku adalah Ace terbaik di Kaijo-ssu, jadi aku tersinggung-ssu" gerutu Ryouta.
"He~ Tapi tetap saja Tetsu-chin yang akan menang melawan Kaijo" Komentar Atsushi.
"Memangnya Shuutoku, Touo dan Yosen menang melawan Seirin sekarang-ssu? Tidak kan? Intinya sekolah kita semua sudah dikalahkan, bahkan Rakuzan juga sudah kalah-ssu"
"Itu karna Tetsu hebat, Ryouta. Meski dia bukan Ace seperti kita, tapi dia menjadi sesuatu yang menentukan untuk kemenangan" Daiki tersenyum kecil.
"Dia berbeda bukan karna tak bisa, tapi dia berbeda karna kemampuannya yang unik, Nanodayo" Shintarou menaikkan bingkai kacamatanya. "Aku lebih menyukai pertandingan Tetsuya dibandingkan dengan pertandinganmu dulu, Ryouta"
"HEEEHH?! Kenapa-ssu?! Pertandinganku juga menarik-ssu, aku bahkan bisa meng-copy semua gerakan lawan-ssu" Ryouta semakin memajukkan bibirnya karna masih jadi korban kakaknya.
"Karna Ryouta-chin bermain basket sebagai Ace, sama seperti kami yang lain. Jadi membosankan~" Atsushi mengunyah makanan tanpa melihat ke Ryouta yang siap menumpahkan airmata buayanya.
"Hidoii-ssu! Aku jadi seperti adik yang tak dianggap" Gerutu Ryouta.
"Kau bukan adik yang tak dianggap Ryouta, tapi kau adalah adik yang tertunda" Gurau Daiki yang sontak mengundang tawa renyah.
Shintarou mendeham kecil untuk meredam tawa yang nyaris keluar, Atsushi mulai tertawa sedangkan Daiki sudah memegang perutnya karna sakit, Ryouta sendiri sudah mengeluarkan umpatan juga airmata buayanya. Tanpa mereka sadari, papan Score sudah berubah angkanya, terlebih lagi Seirin telah unggul di detik – detik terakhir. Pada saat terakhir, Kagami melakukan Lay Up kombinasi dengan Tetsuya dan menjadi penentu kemenangan mereka.
"Juara Inter-High Tahun ini adalah, SEIRIN!"
"UWOOOHHH!"
Tepuk tangan dan teriakkan riuh memenuhi seluruh Gymnasium, Seirin berhasil menjadi juara pertama 2 kai berturut – turut. Shintarou, Atsushi, Daiki dan Ryouta sontak tersenyum bangga melihat adik mereka bisa mengikuti prestasi yang pernah mereka raih. Yang paling terlihat semangat adalah Ryouta, sambil berteriak keras memanggil jika Tetsuya itu adik yang hebat.
Dari lapangan, Tetsuya bisa melihat keempat kakaknya tengah tersenyum terlebih teriakkan Ryouta sudah terdengar jelas ditelinganya. Tahun ini tak jauh beda seperti tahun sebelumnya, keempat kakaknya datang melihat pertandingan dan berteriak saat ia menang, tapi tahun ini sedikit berbeda. Jika tahun lalu ia benar – benar merindukan sang kakak – Akashi Seijuurou - untuk pulang ke Tokyo, sekarang perasaan rindu itu lebih dari kata rindu tak bertemu, tapi rindu akan kehangatan keluarga seperti dulu yang berkumpul juga bagaimana dirinya bercerita, bersenda gurau juga bermanja dengan sang kakak meski usianya sudah 16 tahun dan memiliki seorang kekasih.
Setelah berbaris dan saling memberi penghormatan, seperti biasa penyerahan piala kemenangan untuk para pemenang dan juga penobatan pemain terbaik. Tak perlu ditanya lagi, Kagami Taiga menjadi Ace terbaik. Berbagai penghargaan diberikan, Tetsuya mendapatkan gelar yang sama sebagai 'The Phantom Six Man' yang cukup disegani. Begitu Piala diangkat tinggi – tinggi Oleh Hyuuga sang Captain, seluruh penonton bertepuk tangan meriah. Diantara semuanya, sekali lagi, Tetsuya melihat sosok pria berambut merah tengah tersenyum kearahnya bersama dengan sosok bersurai hitam ikut berdiri disampingnya. Jelas bahkan Tetsuya sampai tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Sei-nii dan Shuuuzou-nii?" Gumam Tetsuya, sementara yang namanya disebut terlihat tersenyum ramah.
"Aah,, dia melihat kita Sei" celetuk Shuuzou tersenyum jahil.
"Aku tau" Seijuurou menjawab santai sambil terus menatap ke arah lapangan.
"Kau tak melambaikan tanganmu atau setidaknya memberikan senyuman bangga untuknya?"
"Aku sudah melakukannya" Nijimura melirik ke arah Seijuurou, dan benar saja dia saat ini sedang tersenyum ke arah Tetsuya.
"Ck, lebih baik kau menghampirinya sekarang dan kita bisa pulang secepatnya"
"Mobilku tak muat menampung mereka semua, kau ingin pulang dengan Taxi Shuuzou?" Nijimura menepuk dahinya sebagai respon ucapan Seijuurou.
"Lalu, kau mau pulang dan mengambil Limousinmu itu Hm?"
"Tidak, aku bisa saja meminta Tanaka-san atau Mabuchi untuk membawakannya untukku"
"Lalu, kenapa tak sekarang saja Sei? Kau membuang waktu" Seijuurou menatap tajam ke arah Nijimura.
"Kau tenang saja, ini akan cepat. Setelah mereka kembali ke Caffe, aku akan datang dan meminta maaf serta mengajak mereka untuk pulang. Aku tak mau mereka menyangka jika aku hanya bersandiwara terlebih buru – buru mengajak pulang di sini tepat setelah Tetsuya memenangkan Kejuaraan Inter-High"
"Apa bedanya Sei? Mau disini ataupun di Caffe mereka, keadaannya sama – sama saat Tetsuya menang kan?"
"Berbeda"
"Apanya?"
"Kau akan tau nanti"
Ough, berharaplah Nijimura untuk memiliki Hati Besi seperti Kiyoshi Teppei. Rasa kekesalannya sudah memuncak ke atas ubun – ubun kepala karna tingkah Sepupunya yang berwarna merah ini. Beruntunglah yang ia hadapi saat ini Cuma satu orang, bagaimana jika yang ia hadapi si Tsundere- Shintarou, si Pemalas – Atsushi, si Mesum – Daiki dan Si berisik – Ryouta, mungkin Nijimura akan segera memasang Asuransi Jiwa beserta Asuransi kesehatan Lahir dan batin untuk menghadapi keluarga Akashi yang membuatnya ingin terjun ke jurang. Ah, untungnya di keluarga itu masih memiliki sang penyejuk Tetsuya, jika tidak? Anggaplah, Nijimura benar – benar bersiap untuk mati Muda.
"Sebaiknya kita segera bersiap Shuuzou, sebentar lagi penyerahan penghargaan selesai. Tetsuya pasti akan berlari ke arah sini"
"Hm.. baiklah" Seijuurou dan Shuuzou segera beranjak dari tempat itu, meninggalkan kemeriahan juga tawa renyah serta kekaguman seluruh penonton di Gymnasium saat pria bersurai warna-warni yang tengah memeluk Pria bersurai Baby Blue. Tampak jelas sebagian – ah tidak, semua penonton mengenal mereka dengan julukkan Kiseki No Sedai. Riuh tepuk tangan menjadi penutup kejuaraan Inter-high.
Sementara itu, di depan Basketball Caffe, pria bersurai abu – abu menatap remeh Caffe yang sudah berkembang itu. Ia melirik benda bulat di tangannya, menghitung detikkan waktu dan menunggu saat yang pas untuk menekan tombol pemicu bom peledak. Bukan bom yang sesungguhnya, melainkan sebuah Bom yang akan membuat kehidupan 5 orang yang tinggal disana akan menjadi sengsara. Setelahnya, ia akan segera melanjutkan untuk menghancurkan sang Kaisar yang membuatnya dendam.
"Sebentar lagi, semua yang ku rasakan akan terbalas, tinggal menunggu korban dan semua selesai" Pria itu tersenyum. "Kau akan hancur, Akashi Seijuurou" Pria itu berbalik dan melangkah menuju tempat persembunyian yang pas.
Di Sisi lain, Tetsuya, Ryouta, Daiki, Atsushi dan Shintarou tengah berjalan beriringan keluar dari Gym. Seluruh pemain Seirin telah pulang ke rumah masing – masing untuk mempersiapkan pesta kemenangan besok. Mereka tak henti – hentinya melingkarkan lengannya ke leher si Baby Blue, terkadang usapan lembut di rambut yang semakin panjang juga ia dapatkan. Sesekali Shintarou berdeham untuk memperingatkan, tapi alhasil yang ia dapat hanyalah acuhan dari adik – adiknya, terlebih Atsushi yang semangat mengusap helaian Baby Blue dengan tangannya yang besar.
"Berhentilah memeluk Tetsuya seperti itu, Nanodayo." Tegur Shintarou. "Bukannya aku cemburu, ini masih dalam perjalanan pulang. Sebaiknya kita berjalan santai saja, nanti di rumah kalian bebas memeluknya" Shintarou menaikkan bingkai kacamatanya.
"Ne, ne.. Shintarou Nii-cchi sebenarnya ingin memeluk Tetsuya-cchi kan? Tapi Shintarou-nii malu, jadi hanya menegurkan-ssu?" Goda Ryouta yang masih merangkul pundak adiknya.
"Shintarou-nii itu Tsundere Ryouta, jadi wajar" Daiki ikut menambahkan.
"Shin Nii-chin tak bisa bergabung karna Tsundere" Atsushi memandang Shintarou malas.
"Hmph, terserah kalian saja Nanodayo" Shintarou melirik ke jam tangannya. "Supermarket masih buka jam segini, mungkin aku akan berbelanja sekarang" Shintarou melirik ke arah adik – adiknya. "Sebaiknya kita berbelanja untuk bahan makanan besok"
"Etto, sepertinya aku tak bisa ikut membantu berbelanja-ssu. Aku harus mengantar hasil Design-ku malam ini-ssu. Aku bisa dipecat jika terlambat memberikannya, jadi aku minta maaf nii-cchi" Ryouta berkata jujur.
"Ah, aku juga tak bisa nii-san. Aku juga ada janji dengan manager Club di Touo untuk menyerahkan laporan perkembangan pemain" ucap Daiki.
"Baiklah, aku akan membantu Nii-san" Ucap Tetsuya.
"He~~ Lebih baik Tetsu-chin istirahat dan tidur. Tetsu-chin pasti lelah setelah bertanding, aku akan menemani Shin Nii-chin" Atsushi memberikan saran.
"Itu benar, Nodayo. Lebih baik kau istirahat Tetsuya, aku dan Atsushi sudah cukup untuk berbelanja untuk besok." Kini pandangan Shintarou beralih ke arah Ryouta dan Daiki. "Kalian berdua jangan terlalu lama pulang, kalau bisa secepatnya kembali ke rumah. Aku tak mau Tetsuya sendirian, kalian mengerti"
"Osu! Serahkan pada kami(-ssu)" ucap Daiki dan Ryouta bersamaan.
"Baiklah, aku dan Atsushi akan berbelanja ke supermarket biasa. Kalian duluan saja"
"Haii" jawab mereka bersamaan.
Mereka berpisah di persimpangan jalan, Daiki, Ryouta dan Tetsuya langsung beranjak menuju rumah mereka. Begitu membuka pintu, Nigou sudah menyambut dengan mata bening dan wajah lucunya. Meski rumah mereka adalah sebuah Caffe, tapi di pintunya telah di siapkan pintu kecil agar Nigou dengan mudah keluar maupun masuk tanpa perlu menunggu ada yang membuka pintu. Karna Nigou adalah anjing yang pintar, Mereka tak perlu mengunci pintu kecil karna takut Nigou akan lari, tapi sebaliknya, mereka membiarkan Nigou bebas keluar masuk meski tanpa tuannya.
Sesuai dengan ucapan Ryouta, setelah sampai di rumah sekaligus Caffe yang merupakan usaha baru mereka, Ryouta langsung naik ke lantai 2 untuk mengambil design pakaian dan buru – buru pergi. Tetsuya langsung masuk kamar diikuti Nigou yang mengekor di kakinya. Tubuhnya terasa lelah, ia langsung mengambil handuk untuk segera mandi dan mengganti pakaiannya. Daiki sudah menyiapkan makan malam untuk Tetsuya, bukan tanpa alasan Daiki membuatkannya terlebih dahulu, Daiki tak ingin Asam lambung Tetsuya naik.
Selesai membuatkan makan malam untuk Tetsuya, Daiki segera pergi meninggalkan Tetsuya dan Nigou berdua. Di kaki Tetsuya, Nigou menikmati makan malam sembari sesekali menyalak dan menggoyangkan ekor untuk mengajak Tetsuya bermain. Mengerti dengan tingkah anjingnya, Tetsuya mengelus bulu lembut Nigou sembari tersenyum cerah.
"Aku ingin bermain denganmu juga Nigou, tapi tubuhku sudah kelelahan dan aku harus istirahat. Hmm,, bagaimana kalau besok di lanjutkan?" Nigou menyalak seraya mengangguk kecil. "Anjing pintar, setelah makan kita istirahat bersama" Nigou kembali menyalak.
Sesuai janji, Tetsuya langsung naik ke atas ranjang dan tidur bersama Nigou disampingnya. Tanpa perlu menghitung domba, Tetsuya sudah terlelap dalam buaian mimpi indahnya, begitu pula dengan Nigou. Dengkuran halus terdengar di bibir mungil Tetsuya, nafasnya juga teratur. Siapapun yang melihat akan merasa tenang juga serasa melihat malaikat Baby Blue tertidur dengan nyamannya.
Namun, hal itu tak berlaku bagi pria berambut abu – abu yang ada di depan pintu Basketball Caffe, tangan kanannya tersimpan rapi di dalam kantung jaket tebal sedangkan tangan satunya memegang sebuah benda. Seringai tajam menghias di bibirnya yang menunjukkan kelicikkan sifatnya.
"Sudah hampir waktunya. Usaha yang adik – adikmu bangun akan rata dengan tanah dalam hitungan menit. Meski ini yang terakhir dariku, tapi ini adalah awal dari kehancuranmu. Sebentar lagi, kau akan kehilangan sesuatu yang berharga untukmu. Selamanya, dan tak akan pernah bisa kembali meski kau meraung juga menjerit. Waktunya menghitung mundur, Akashi Seijuurou." Pria berambut abu – abu itu semakin lebar menarik senyumannya.
"3"
.
.
.
.
"2"
.
.
.
.
"1"
.
.
.
.
.
"0"
"Check Mate, Game Over!"
To Be Continue...
Yo Minna, Genki desu ka? Lian hari ini update lebih cepat.. Yah, gak ada salahnya sih lebih cepat karna ni hari libur.. Pasti bosan kalau gak ada bacaan kan? Jadi yah inisiatif lian sendiri sih update hari ini.. Lagian, besok takutnya lupa, jadi sekarang ajah selagi ingat...
Okey, udah 2 kali lian gak balas review, makasih banget buat kalian yang ngasih review.. JUjur sih itu berharga, tapi jika gak review juga gak apa - apa, toh ini FF iseng, jadi ada feel yang berantakkan juga.. Tapi,, Dengan FF ini, Lian yang sejujurnya udah lama banget gak ngetik jadi bisa ngetik lagid an masukkin aneka feel juga bahasa baru ke FF lian yang lainnya. Bahkan sekarang mulai banyak ide yang muncul, jadi setelah ini akan ada FF baru lagi meskipun masih membutuhkan waktu lagi..
Yosh! Lian mau balas Review dulu..
nicisicrita : YAng ngancem.. hm.. tu orangnya ada diatas, udah meledakkan Bom Waktu.. Tetsu-kun udah ngasih tau koq siapa orangnya.. ^^
Lisette Lykouleon : Sama,, LIan juga suka bagian itu. soalnya kemarin - kemarin ada yang nanya. memang sih Lian gak ngasih tau di awal, rasanya aneh kalau udah ketahuan duluan maksud julukkan nama mereka.. Dan untuk yang kehamilan 4 bulan itu,, Hmm... Kan ada program keluarga berencana, jadi kalau telat gak masalah.. lagian Lian pernah lian ibu - ibu hamil 4 bulan masih belum keliatan gede,, jadi terinspirasi deh.. ^^
Dewi15 : Udah lho,, chapter ini malah bikin penasaran lagi.. ^^ nah lho..
fraukreuz67 : Ini udah update cepat..
Lhiae932 : Keren? mungkin karna bahasanya udah mulai lebih baik kali yah.. makasih ^^
Janely591 : Untuk CHapter ini kayaknya Sei harus bersabar deh,, kan mereka belum bisa ketemu.. (Salahkan ajah authornya yang buat FF baper kayak gini)
Jooxxy : Iyaaaa...
Ai Masaharu : Salam kenal juga Ai-cchi,, Fict luar biasa? Arigatou ne, itu suatu kebanggan buat lian karna FF ini menarik untuk di baca meskipun hanya keisengan semata..
Nyanko Kawaii : Nyanko-cchi, mereka belum bisa jumpa.. Nah gimana donk? (Persiapan digantung Nyanko-cchi)
ChintyaRosita : Sabar2, mereka gak akan bisa ketemu sekarang. mungkin nanti di alam lain (Apaan? kenapa saia berbicara sesuka hati gini?)
Iftiyan Herliani253 : HAhahahahaha,, bukan kamu salah tbak Iftiyan-cchi.. Bomnya malah beneran tuh.. ^^
deagitap : Iya sih, Sei sebagai panutan sedangkan Tetsu-kun harus menjadi lebih baik lagi.. Lian juga baru sadar saat baca review kamu..
manamicha : Iya,, ni udah update koq..
yuuki : udah update koq.. ^^
ad03 : Hehehe,, habisnya lian takut gak ada yang nunggu jadi mau update lama..
yaya : Hehehe,, ini udah meledak koq... oia,, makasih banget yah udah nungguin ff abal - abal ini.. makasih banget...
neko : Ne?
Sakurai Namikaze : Chapter ini klimaksnya lho.. ini adalah puncak dari segala masalah... ^^ jadi tinggal selesaiin ajah semuanya..
Cho Kyunhae : heheheh,, arigatou
N Rani kudo : Yep,, kamu bener banget... gak mungkin hanya itu ajah, tapi nanti mereka akan sama - sama koq.. bukan hanya karna permintaan maaf tapi untuk Tetsu-kun.. ^^
eri kirei : Hahahaag,, jangan gitu donk.. setiap cerita pasti ada akhir, meskipun gak sekarang.. tapi akan ada endingnya lho.. tapi tenang ajha,, kalau lian ada inspirasi lagi, Lian akan bikin FF di fandom ini juga koq.. ^^
Okeeey,, udah semuanya.. MAaf yah kalau ada yang belum.. tapi lian yakin udah semuanya.. Thanks for you all.. ^^
VT Lian.. ^^
