Tittle : White Crystal

Maincast : -Akashi Seijuurou

- Kuroko Tetsuya

- Aomine Daiki

- Kise Ryouta

- Murasakibara Atsushi

- Midorima Shintarou

Suport Cast : - All of Kuroko No Basuke Chara

Author : Lian (VT_Lian1995)

Genre : Family, Slice Of Life, School Life, Brotheship, Little Comedy, Sad, Hurt.

Attention : This chara not mine, this chara from Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi – sensei.

Little information : Seluruh nama Cast akan menggunakan nama Akashi karna ini berhubungan dengan kisah keluarga Akashi. Jadi di mulai dari Tetsuya sampai Shintarou akan menggunakan nama depan Akashi.

Summary : Akashi Tetsuya, bungsu dari 6 bersaudara keluarga Akashi harus menangung beban berat di pundak untuk memberikan kesan betapa hebatnya keluarga Akashi. Tapi sayangnya, apapun yang ia lakukan pasti sudah pernah dilakukan oleh ke – 5 kakaknya. Apapun itu, segala yang Akashi Tetsuya raih seolah hanya sia – sia, terlebih jika dibandingkan dengan fisik ke – 5 kakaknya, Tetsuya jauh lebih lemah, namun tak menampik kemungkinan ia bisa jadi lebih kuat walau usahanya akan mendapat resiko yang tinggi. Ini demi menjunjung tinggi motto dari sang Ayah yang telah tiada "Pemenang akan mengukir sejarah dan yang kalah akan menjadi pecundang yang terlupakan."

"Jika kau katakan menjadi bungsu keluarga Akashi merupakan anugrah, tapi bagiku tidak. Beban yang ku tanggung lebih besar dari Ke-5 saudaraku yang lain"

_ooOOOoo_

Chapter 16

%^Remember The Time^%

Embun pagi jatuh dari pucuk daun melengkung menuju tanah dengan gradasi warna putih yang mengelilinginya. Pagi yang cukup cerah di musim dingin untuk menyambut kehadiran baru keluarga ternama seantero Jepang. Siapa lagi kalau bukan keluarga Akashi dengan segudang kesempurnaan yang dimiliki. Limousin mewah menerobos masuk melewati gerbang raksasa berlambang simbol Akashi menuju pintu utama dengan jejeran Maid juga Buttler yang bersedia di depan pintu.

Satu orang Buttler membuka pintu putih dan menampakkan satu keluarga dengan senyuman cerah beserta anggota baru mereka. Hal yang pertama terlihat adalah merah, hijau, ungu, Navy Blue, kuning, merah lagi dan Baby Blue. Si sulung merah – Akashi Seijuurou – tampak tersenyum cerah saat sosok wanita bersurai Baby Blue – Nijimura Shiori yang kini berganti menjadi Akashi Shiori - turun menggendong keluarga baru mereka. Si Hijau – Akashi Shintarou – memalingkan wajah menyembunyikan rona bahagia dan berpura – pura membenarkan letak kacamata yang sama sekali tak bergeser saat suara mungil menginterupsi di telinganya.

Si ungu – Akashi Atsushi – menatap malas ke arah Shintarou yang masih saja Tsundere dan malah fokus pada cemilan yang sama sekali tak pernah absen dari tangannya. Si Navy Blue – Akashi Daiki – dan Si Kuning – Akashi Ryouta – sibuk melompat kesenangan saat melihat anggota baru mereka mengeluarkan suara kecil dan berusaha menarik – narik ujung baju sang ibu agar menunduk dan memperlihatkan wajah anggota baru mereka yang berwarna Baby Blue.

"Jangan tarik – tarik baju Kaa-san, Ryouta, Daiki" tergur pria bersurai merah dan merupakan sang kepala Keluarga – Akashi Masaomi –.

"Aku mau lihat adikku-ssu" Ryouta masih sibuk menarik – narik ujung baju wanita yang baru saja memberikan adik untuknya.

"Nanti Ryouta, Kaa-san bahkan belum masuk rumah" jawab Shiori lembut.

"Tapi kan—" ucapan Ryota dipotong oleh Daiki.

"Ryouta, aku juga mau lihat adikku. Jangan menganggu" Gerutu Daiki yang juga sibuk menarik ujung baju Shiori.

"Tapi, itu adikku-ssu" Ryouta tak mau kalah. Wajar saja, Ryouta awalnya paling kecil dan biasa memanggil yang lainnya dengan sebutan 'Nii-san' tapi kali ini ia yang akan dipanggil 'Nii-san' dan tentu saja ia menjadi sangat antusias bahkan tak sabar untuk melihat adik kecilnya.

"Dia juga adikku, Ryouta" Daiki tak mau kalah.

"Hee~~ Kalian berdua tak boleh seperti itu. Bayi itu adalah adiknya nii-san" Atsushi yang memiliki tubuh lebih tinggi langsung mendekat dan sedikit berjinjit untuk melihat si mungil yang masih dalam gendongan sang ibu yang belum bergerak satu centi pun.

"Atsushi, lebih baik kau tidak ikut bergabung Nanodayo, Kaa-san sulit berjalan karna ulahmu" Shintarou mendekat dan menarik Atsushi agar menjauh.

"Shin-nii jangan tarik – tarik aku, aku mau lihat Adik-chin" Protes Atsushi

"Tidak boleh, aku duluan yang mau lihat Adik kita" Ryouta semakin gencar menarik ujung baju Shiori.

"Aku duluan Ryouta" Daiki ikut – ikut menarik ujung baju Shiori dan alhasil jadi sedikit pengap. Si Baby yang tadinya diam kini menangis karna merasakan pengap. Kalau sudah seperti ini, terpaksa si sulung bertindak. Mendeham kecil, dan memanggil satu persatu nama adik – adiknya.

"Shintarou, Atsushi, Daiki dan Ryouta. Bisa kalian menjauh dari Kaa-san sekarang? Jika tidak, besok pagi tak ada Channel Oha asa, Maiubo, daging dan semuanya dilarang mendekati Adik kita" Kalau sudah si sulung bertitah, mulai dari yang susah di atur sampai yang Tsundere sekalipun pasti akan menurut.

"Haii, Nii-san" Jawab mereka bersamaan, Seijuurou tersenyum lembut dan menatap ke arah kedua orangtuanya.

"Kaa-san dan Tousan bisa masuk duluan. Aku akan mengatur yang lainnya" sang ayah tersenyum dan mengangguk.

"Baiklah, Tou-san serahkan semuanya padamu, Seijuurou" Titah sang ayah.

"Mohon bantuannya, Sei– Chan" ucap ibunya.

"Haii" Seijuurou tersenyum sembari melirik ke empat adiknya yang masih diam di tempat – tidak bergerak sama sekali. "Karna Kaa-san dan Tou-san sudah masuk, kalian sudah boleh masuk. Tapi, jangan ada yang berani ke kamar Tetsuya sebelum ganti baju dan mencuci tangan" semuanya mengangguk mengerti.

"Haii" jawab mereka serentak.

Tanpa menunggu aba – aba lagi, Shintarou, Daiki, Atsushi, dan Ryouta langsung masuk kemudian bergegas ke kamar masing – masing untuk mengganti pakaian juga sebenarnya membersihkan diri sebersih mungkin agar bisa mendekati sang anggota baru. Meski Seijuurou masih berumur 10 tahun, tapi sifat kepemimpinannya sudah terlihat dan terlihat jelas bagaimana ia bisa mengatur adik – adiknya. Dengan bantuan Buttler dan Maid, para tuan muda sudah rapi dengan balutan pakaian yang senada dengan warna rambut mereka. Jika saja mereka tak ingat jika lima orang yang berjejer disana adalah para tuan muda, bisa saja mereka mengira anak – anak itu adalah titisan dari pelangi yang jatuh ke bumi.

Merah, Kuning, Hijau, ungu, dan Navy Blue memang terlihat seperti sekumpulan pelangi yang menyejukkan mata. Tanpa menunggu perintah, mereka semuanya berkumpul di ruang makan karna ini merupakan saatnnya mereka sarapan pagi bersama anggota baru yang sudah ada di gendongan sang ayah. Jelas terlihat sosok bayi yang sangat mungil dengan kulit putih pucat tertidur dengan bibir mungilnya yang mengeluarkan dengkuran kecil. Sangat kecil, mungil, menggemaskan juga rapuh disaat yang bersamaan. Hanya dalam hitungan detik, bayi mungil itu sudah menyedot perhatian seluruh Maid juga Buttler yang bekerja. Pandangan mereka sama sekali tak teralihkan pada si Baby Blue yang tertidur, seolah – olah jika mereka berkedip atau berpaling maka sosok itu akan hilang karna rapuhnya.

"Apa semuanya sudah berkumpul?" tanya sang kepala keluarga.

"Sudah Tou-san" jawab kelima putranya bersamaan.

"Sudah, Tuan" jawab Maid dan Buttler bersamaan.

"Baiklah, hari ini aku akan memperkenalkan anggota baru yang akan meramaikan Mansion ini." Sebuah senyuman dengan tangan yang sedikit mengangkat si Baby Blue agar lebih terlihat. "Putra ke – 6 dan merupakan putra bungsu yang menjadi pelengkap keluarga kecilku, si Baby Blue yang lahir tanggal 31 Januari dan ku beri nama, Akashi Tetsuya" Masaomi menurun sedikit bayi mungilnya. "Mulai hari ini, semua yang ada di sini membantuku dan juga istriku untuk menjaganya. Tak hanya kelima putraku, tapi kalian juga akan menjaga putra keenamku" Masaomi mengakhiri ucapannya.

"Haii, Masaomi-sama" jawab Maid dan Buttler bersamaan.

"Aku senang kalian mengerti" Masaomi mengulur senyuman kecil, "Seijuurou, Shintarou, Atsushi, dan Daiki, hari ini kalian mendapat tugas untuk menjaga satu lagi anggota termuda kita." Seijuurou, Daiki, Atsuhi dan Shintarou mengangguk bersamaan. "Ryouta, mulai hari ini kau menjadi seorang kakak. Jaga adikmu baik – baik" Nasihat sang ayah seraya tersenyum. Ryouta kecil dengan polosnya mengacungkan ibu jari dengan cengiran khas.

"Okey-ssu. Aku akan jadi kakak yang baik." Lagi dan lagi, senyuman menghias di wajah pria yang sudah memasuki usia 30-an lebih itu.

"Baiklah, aku rasa cukup memperkenalkan Tetsuya pada kalian. Kita bisa mulai Sarapannya sekarang" Meski mengucapkan untuk segera makan malam, Masaomi masih enggan melepas putra bungsunya dan membiarkan bayi mungil itu nyaman dalam pelukkan seorang ayah.

Semua yang ada di meja makan segera menyantap sarapan pagi yang tersedia, biasanya setiap pagi akan ada keributan kecil dari Daiki dan Ryouta, tapi pagi ini mereka lebih tenang terlebih Ryouta terlihat sangat berbinar – binar melihat bayi mungil yang masih ada dipelukkan sang ayah. Oh ayolah, Ryouta masih berusia 4 tahun, anak seumurannya tentu saja sangat senang saat akan menjadi seorang kakak dan jangan lupakan jika selama ini ia selalu dianggap seorang adik karna paling kecil. Senyuman bangga tergambar di wajah Ryouta saat membayangkan bagaimana nantinya jika Tetsuya memanggilnya dengan sebutan 'Onii– Chan'. Ah, Ryouta sudah tak sabar.

Selesai sarapan, seluruh penghuni Mansion Akashi melakukan kegiatannya masing masing. Meskipun sekarang kedatangan anggota baru mereka, tapi bukan berarti mereka melupakan peraturan juga jadwal ketat yang sudah disiapkan sang ayah. Seijuurou akan ikut sang ayah di ruang kerja untuk belajar menjadi pemimpin AKASHI CORP, Shintarou akan les privat untuk memperdalam bahasa jerman dan penguasaan Bahasa Mandarin, Atsushi mengikuti privat untuk memperdalam bahasa Spanyol sedangkan Daiki dan Ryouta diberi kebebasan karna usia mereka masih terlalu muda tapi masih berhubungan dengan pembentukan kecerdasan usia mereka.

Daiki duduk diam di depan sebuah layar televisi besar dengan beberapa Video Game terbaru. Meski sebuah Game, tapi itu bukan Game yang biasa dimainkan anak seumuran Daiki. Tentu saja, Game itu menggunakan bahasa inggris dan membutuhkan kecerdasan untuk memainkannya. Untuk melatih kecerdasan anak usia 6 tahun agar lebih lancar berbahasa inggris secara lisan maupun tulisan tentu saja dengan Game. Bermain sambil belajar adalah cara ampuh untuk membuat seoranga anak nyaman untuk belajar.

"Kali ini aku akan menghancurkan musuh dengan tembakkan jarak jauh dan saat terdesak menggunakan tembakkan jarak dekat dengan cadangan sebuah pisau." Gumam Daiki memilih senjata yang akan ia gunakan untuk memain Game.

Tak butuh wakttu lama, Daiki sudah disibukkan dengan Game dan masuk dalam dunianya sendiri. Di sisi lain, Ryouta terlihat antusias saat melihat bayi mungil tertidur di atas tempat tidur mungil dengan sebuah boneka kelinci putih disampingnya. Sangat imut juga menggemaskan. Ujung jari Ryouta dengan gemas menyentuh pipi bulat yang kenyal, tak hanya pipi, Ryouta juga sesekali menyentuh jari – jari yang lebih mungil dari miliknya.

"Kawaii-ssu"

Sorot mata Ryouta membulat besar melihat sesuatu yang sangat ia kagumi, benar – benar sebuah keajaiban yang indah. Meski usia Ryouta masih 4 tahun, bukan berarti ia tak mengerti bagaimana cara melindungi sosok mungil yang masih rapuh itu. Sebaliknya, Ryouta sangat hati – hati saat menyentuh setiap detail bagian tubuh bayi mungil yang tertidur nyaman. Ketika Ryouta kembali menyentuh jari mungil itu, terasa sebuah genggaman lembut yang membuat Ryouta tersenyum senang.

"Mulai hari ini, aku akan melindungi Tetsuya-cchi selamanya-ssu. Karna aku sekarang seorang kakak" ucap Ryouta polos saat tangannya masih digenggam oleh jemari mungil Tetsuya.

_ooOOOoo_

Hari – hari mulai berlalu, kehidupan keluarga Akashi sedikit berubah karna kehadiran si bungsu. Kelahirannya yang terlalu cepat atau prematur menyebabkan daya tahan tubuhnya lemah, terlebih setelah diidentifikasi lebih jauh, ada masalah pada paru – parunya. Walau tidak parah, tapi bisa menjadi sebuah ancaman untuk kehidupan si bayi mungil kedepannya. Dalam kurun waktu 3 minggu, minimal si bungsu di bawa ke rumah sakit untuk perawatan intensif selama 4 kali. Para Maid selalu disibukkan dengan keperluan si bungsu, mulai dari susu formula khusus, pakaian tebal serta berbagai macam keperluannya. Belum lagi beberapa Maid disiapkan khusus untuk berjaga Malam jika sewaktu – waktu terjadi sesuatu yang tak diinginkan saat tengah malam.

Rumah sakit seolah menjadi rumah kedua untuk keluarga Akashi karna seringnya si Bungsu dirawat, bahkan tak jarang mereka menginap bersama untuk menemani si bungsu. Sesekali saat orangtuanya sedang mengurus atau berbelanja untuk keperluan, kelima putranya menjaga bergantian. Tentunya yang paling sering ada si sulung dan juga si nomor dua karna dianggap sudah mengerti juga lebih bertanggung jawab. Tak hanya di rumah sakit, di Mansion mereka juga demikian.

Saat musim panas tiba, kelima putra keluarga Akashi menikmati liburan musim panas mereka di Mansion. Bukannya mereka tak ingin jalan – jalan atau menghabiskan liburan seperti anak – anak lainnya. Musim panas kali ini berbeda, selain karna si bungsu sudah jauh lebih baik bahkan sudah bisa diajak untuk berkomunikasi dan mulai belajar untuk merangkak, sepupu mereka datang untuk menginap.

'Nijimura Shuuzou'

Seijuurou sudah bersiap di depan pintu untuk menyambut kedatangan sepupu yang berbeda 1 tahun darinya itu. Dengan Tetsuya yang ada digendongannya, Seijuurou tersenyum manis saat sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan teras rumahnya. Terlihat seorang supir dengan stelan lengkap seperti bodyguard turun dan membukakan pintu. Pria bersurai hitam dengan tas punggung berwarna hijau cerah turun dengan santai dan melambaikan tangannya.

"Yo, Sei" tegurnya

"Yo, Shuuzou" Seijuurou mendekat untuk menyambut sepupunya.

"Mou~ bisakah kau lebih sopan untuk memberikan sapaan kehormatan atau setidaknya panggil aku Onii-san? Ingat aku lebih tua darimu, satu tahun lagi aku akan masuk sekolah menengah" protes Nijimura kesal.

"Kalau begitu, 2 tahun dari sekarang aku juga akan masuk sekolah menengah Shuuzou. Kita hanya berbeda satu tahun, dan aku rasa itu tak masalah" Nijimura mendengus kesal.

"Kau memang sepupu yang menyebalkan, Sei" Gerutu Nijimura, tak berapa lama pandangannya tertuju pada si Baby Blue yang masih setia digendongan Seijuurou. Bibir mungilnya tersenyum dengan tangan yang bergerak – gerak lincah seolah ikut menyambut.

"Hei, kenapa kau tak menegur Tetsuya juga, Shuuzou?" Ucap Seijuurou saat melihat Tetsuya sudah antusias melihat Nijimura.

"Aku sedang melakukannya" Nijimura memutar bola mata malas. "Kau semakin besar Tetsuya, mau ku gendong" Nijimura mengarahkan tangannya ke arah Tetsuya, tapi sayangnya Tetsuya terlihat seperti mau menangis. "He? Kenapa dia berekspresi seperti itu?" Ujar Nijimura terkejut.

"Kau menakutinya, Shuuzou. Aku sarankan kau segera mengganti model rambutmu yang payah itu" Seijuurou sedikit mengayunkan gendongannya agar Tetsuya tetap merasa aman dan nyaman.

"HAAH?! Memangnya ada yang salah dengan rambutku? Ayolah, apa bagusnya rambut merahmu itu?" Dengus Nijimura.

"Aku rasa ini lebih baik daripada rambut warna hitam yang umum itu"

"APA?!" Belum lagi Nijimura akan mengumpat, sebuah suara menginterupsi dari balik pintu.

"Shuuzou-nii!" Teriakkan cempreng dari surai kuning dan Navy Blue bersamaan. Tak butuh waktu lama, Nijimura mendapatkan sebuah pelukkan maut yang menyebabkan tubuhnya limbung. Jika saja bodyguardnya tak sigap, bisa saja ia terjungkal karna ulah dua sepupunya yang terlampau aktif.

"Ryouta, Daiki, Kalian berat." Protes Nijimura mengabaikan tatapan anak anjing yang tersaji di depan matanya.

"Shuuzou-nii" rengek Ryouta dan terpaksa Nijimura mengalah.

"Gomen, gomen." Nijimura mengelus surai Ryouta yang lembut menatap lembut kedua iris madu yang indah untuk memberikan rasa nyaman.

Tak berapa lama, tuan dan nyonya besar keluarga Akashi keluar dan menyambut kedatangan Nijimura dengan ramah. Tanpa menunggu waktu lama, Nijimura sudah masuk ke dalam rumah dan mengampiri kamar yang telah dipersiapkan untuknya. Setelah meletakkan barang – barang, Nijimura menuju ruangan tengah tempat biasa Seijuurou, Shintarou, Daiki, Atsushi dan Ryouta bermain. Baru beberapa langkah Nijimura akan mendekat, pemandangan klasik yang sedikit berbeda terpampang didepan matanya.

Seijuurou terlihat sibuk mengajak Tetsuya untuk merangkak mendekat sembari tangan mungil Tetsuya berusaha keras untuk bergerak. Daiki sibuk dengan Video Game, Shintarou sibuk membaca buku kesehatan sembari sesekali menegur Ryouta yang mengikuti cara Tetsuya merangkak. Atsushi sendiri duduk di samping Seijuurou dengan keripik kentang ukuran jumbo di tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang susu Formula khusus punya Tetsuya.

"Ayo Tetsuya-cchi, sebentar lagi sampai" Ryouta menyemangati Tetsuya dengan polosnya.

"Sini Tetsuya" Seijuurou melambaikan tangannya untuk memanggil.

"Tetsu-chin, nii-san punya susu vanila. Kalau mau, ayo ke sini" Atsushi memanggil dengan tangan yang menggoyang – goyangkan susu formula kesukaan Tetsuya.

Melihat susu favoritenya berada di tangan sang kakak, mata bulat Tetsuya berbinar cerah dan tangan maupun kakinya bergerak sedikit lebih lincah. Langkah perlangkah dengan hati – hati, senyuman polos dari pipi Chubby yang terlihat memerah membuat Seijuurou sangat gemas untuk segera menggendong si bungsu. Hanya tinggal beberapa langkah lagi tapi karna ada beberapa mainan yang berserakkan, tangan Tetsuya tergelincir dan menyebabkan Tetsuya terjatuh sebelum sampai. Meskipun tidak kuat, tapi namanya juga bayi mungil sudah pasti menangis kencang. Seijuurou langsung bergerak menggendong Tetsuya dan menenangkannya, mengatakan kata – kata klise dan memberikan sebotol susu yang ada digenggaman Atsushi.

"Kau semakin paham cara menenangkan seorang bayi Sei, apa kau berbakat menjadi pengasuh bayi?" Goda Nijimura dan mendapatkan putaran bola mata dari Seijuurou.

"Aku tau kau juga ingin memiliki teman untuk bermain, Shuuzou. Kalau kau iri, aku bisa memberikan Daiki atau Ryouta untukmu" Merasa namanya disebut, Daiki dan Ryouta menatap si sulung garang.

"Apa maksudnya-ssu? Kenapa Sei-nii mau memberikan aku untuk Shuuzou-nii?" Polos, Ryouta masih polos tapi Daiki, ia langsung memerah.

"Aku tak mau punya nii-san seperti Shuuzou-nii" Protesnya.

"Aku juga tak ingin punya adik sepertimu Daiki, kita sangat berbeda. Orang – orang akan aneh jika mengetahui aku punya adik gelap sepertimu" Goda Nijimura.

"Ya sudah, kalau begitu bawa pulang Ryouta saja" Daiki mendorong Ryouta untuk mendekat ke arah Shuuzou.

"Eeh,, Hidoii-ssu. Aku maunya disini, ada Tetsuya-cchi" Ryouta bersiap untuk mengeluarkan airmatanya.

"Tidak, aku juga tidak mau punya adik cengeng seperti Ryouta." Shuuzou melirik ke arah Seijuurou yang sekarang sudah bermain dengan Tetsuya juga Atsushi. "Aku akan membawa pulang Tetsuya saja, sepertinya dia lebih cocok untuk jadi adikku" Hanya dalam hitungan detik, 5 pasang mata menatap Nijimura dengan tatapan garang juga seolah memberikan peringatan keras.

'Jangan pernah mengambil Tetsuya dari kami' Bukannya takut, Nijimura malah tertawa keras sembari berguling karna tak tahan.

"Tak ada yang lucu, Shuuzou" Seijuurou menatap tak suka.

"Kalian terlalu protectif, Sei. Aku bahkan bisa melihat buku Shintarou hampir robek karna menahan kesal" Nijimura melanjutkan tawa renyahnya diikuti Tetsuya yang ikut tertawa melihat tingkah Nijimura.

"Hmph, aku hanya lupa memotong kuku – kuku yang sudah memanjang Nodayo, bukan karna aku marah karna Shuuzou – nii yang mau membawa pulang Tetsuya" Shintarou memalingkan wajahnya dan menaikkan kaca minus yang ia kenakan.

"Tenang saja Shintarou, aku tak akan membawa Tetsuya. Kau tak perlu bersikap Tsundere seperti itu" Nijimura mendekat dan mengelus surai hijau itu lembut, tanpa ia sadari itu membuat pipi Shintarou memerah karna malu. "Sebaiknya kita bermain" Nijimura menatap ke arah Daiki. "Daiki, ayo kita main video Game sepak bola. Kita lihat siapa yang menang"

Sekarang, diatas alas karpet berwarna pelangi yang penuh dengan mainan, Nijimura, Seijuurou, Daiki, Atsushi, Shintarou, Ryouta dan Tetsuya menghabiskan waktu untuk bermain bersama. Nijimura bermain Video Game bersama Daiki dengan Ryouta berada dipangkuannya, Shintarou masih disibukkan dengan buku sedangkan Seijuurou memangku Tetsuya dengan sesekali melakukan hal – hal konyol hingga Tetsuya tertawa bersama Atsushi yang ikut melakukan hal yang sama.

Satu harian mereka habiskan dengan bermain bahkan karna terlalu larut bermain, mereka sampai tertidur pulas diatas karpet dengan posisi yang lucu juga menggemaskan. Daiki, Nijimura dan Ryouta tidur bersebelahan dengan tangan Daiki masih memegang beberapa mainan, Ryouta tertidur pulas di lengan Nijimura. Tak jauh dari mereka, Shintarou tidur dengan buku yang menutupi wajah dan kacamata yang tergeletak begitu saja. Atsushi tidur dengan memeluk sekantung keripik kentang dan disebelahnya, pemandangan paling menyejukkan terlihat. Seijuurou tidur dengan memeluk Tetsuya yang tidur dengan mengemut ibu jarinya dan memeluk boneka kelinci putih. Sungguh, bagaikan kumpulan pelangi yang tertidur dengan wajah malaikat, tak ada satupun yang berani mengganggu tidur mereka.

Para pelayan yang biasanya hilir mudik di sekitar mereka rela berjingkat atau mungkin memutar arah agar tak membangunkan para tuan Muda. Shiori yang tak sengaja melintas, tersenyum lembut dan sama sekali tak berniat membangunkan putra – putranya juga keponakkan yang baru saja datang menginap. Dengan sebuah inisiatif, Shiori memerintahan beberapa Maid untuk mengambil selimut untuk membuat tidur para malaikat kecil itu lebih nyenyak lagi.

"Oyasumi" gumamnya mengecup satu – persatu malaikat kecil yang sedang terbuai dalam mimpinya.

_ooOOOoo_

Seminggu sudah Nijimura menginap di kediaman Akashi, hari – hari yang dilaluinya selama liburan musim panas selalu menyenangkan. Bermain sepuasnya bersama Seijuurou, Daiki, Shintarou, Ryouta, Atsushi dan Tetsuya membuat liburannya jadi lebih berbeda. Bermain Video Game, Berlatih basket, berenang bersama, berlari di luar, bermain petak umpet dan jangan lupa sekarang Tetsuya sudah mau ia gendong bahkan terbiasa diajak main.

Saat Nijimura mengajak kelima putra Akashi untuk bermain basket, Tetsuya yang ada dipangkuan terlihat antusias ingin ikut meski belum berusia setahun. Ryouta dan Daiki masih tahap pengenalan terhadap basket tapi mereka dengan mudah belajar. Atsushi sendiri sudah bisa memainkan bola bundar itu bahkan karna tinggi tubuhnya yang diatas normal, ia dengan mudah memasukkan bola ke dalam Ring. Shintarou sendiri terlihat berlatih Three point dari berbagai jarak meski hasilnya belum ada – alias gagal selalu. Seijuurou dan Nijimura bisa dibilang dua orang yang paling ahli dalam olah raga ini diantara anak lain yang seumuran mereka.

"Sei, setelah aku lulus nanti, aku akan masuk Teiko. Bagaimana menurutmu?" tanya Nijimura disela – sela pertandingan One on One melawan Seijuurou.

"Teiko? Maksudmu sekolah dengan Slogan selalu menang untuk Club Basket?" Nijimura mengangguk.

"Begitulah, bagaimana menurutmu?" Seijuurou sibuk mendrible bola dan mencari celah untuk membuat angka.

"Itu bagus, mungkin aku juga akan masuk ke Teiko saat lulus nanti" Nijimura antusias.

"Kalau begitu, saat kau masuk nanti, aku akan menjadi Kaptenmu" Nijmura memberikan senyuman kebanggaan.

"Aku tak masalah, bersenang – senanglah dengan jabatan Kaptenmu disana. Akan ku pastikan, begitu aku masuk disana, aku akan mengambil posisi Kapten itu darimu" Seijuurou mulai mengambil langkah dan menerobos pertahanan Nijimura.

"Coba saja, aku akan menikmati posisi kapten sebelum kau masuk" Nijimura memblock bola yang akan masuk ke Ring.

"Itu benar, karna setelah aku masuk, posisi Kapten akan langsung berpindah padaku dan kau menjadi wakil Kapten, Shuuzou" Gerakan cepat Seijuurou kembali mencuri bola dan berhasil memasukkannya ke dalam Ring dengan mudah. Nijimura menghela nafas lelah tapi senyuman masih menghias dibibirnya.

"Hah, ini sudah kelima kalinya kau menang. Saat di Teiko nanti, akan ku pastikan kalau aku tak akan kalah sebagai kapten terbaik Sei" Seijuurou tersenyum manis.

"Itu lebih baik daripada kau menyerah duluan, itu tak akan menarik" Nijimura mendekat dan mengambil bola yang menggelinding di dekat ring.

"Mau sekali lagi?" tantang Nijimura.

"Kenapa tidak? Kita mulai satu quarter lagi"

Di tengah terik matahari musim panas, Nijimura memainkan benda bulat berwarna oranye itu dengan semangat yang luar biasa terlebih Shintarou yang juga disibukkan dengan benda yang sama terlihat acuh dengan pertandingan kakak – kakanya itu. Meski hanya pertandingan setengah lapangan, tapi cukup membuat permainan menjadi sangat Seru. Ryouta bahkan berbinar ingin ikut main dengan meniru gerakkan – gerakkan kakaknya, Daiki disibukkan dengan One on One melawan Atsushi dengan gaya Street Basketball yang ia lihat saat pulang sekolah. Tetsuya yang ada di pangkuan ibunya bertepuk tangan polos dan tertawa melihat kelincahan kakak – kakaknya memainkan bola oranye itu.

Matahari yang tadinya tinggi kini mulai condong ke bawat hingga warna oranye terang menerangi seluruh kota. Sudah terlalu sore untuk melanjutkan permaianan yang sesungguhnya masih seru untuk dimainkan. Setelah membersihkan diri dan makan malam, Keluarga Akashi kembali ke aktivitas malam mereka. Jangan ditanya apa yang mereka kerjakan, tentu saja belajar disaat sang Ayah sibuk dengan pekerjaan dan sang Ibu sibuk mengecek segala pengeluaran. Nijimura sendiri di dalam kamarnya sedang disibukkan dengan menonton Televisi sedangkan putra Keluarga Akashi belajar kecuali Ryouta dan Tetsuya yang tidur lebih awal.

Ketika jam 10 tiba, seluruh penghuni rumah diwajibkan tidur. Segala pekerjaan maupun tugas ditinggalkan dan bersiap menuju alam mimpi. Namun, malam ini tidak seperti malam sebelum – sebelumnya. Nijimura yang terlelap dalam tidur nyamannya terpaksa bangun tengah malam saat mendengar suara berisik dari luar. Setengah mengantuk, Nijimura bangkit dengan tangan yang mengucek mata kanannya. Nijimura melirik dari pintu kamar yang setengah terbuka, para Maid sibuk berlari kesana – kemari. Tak lama terlihat wanita bersurai Baby Blue berlari terburu – buru menggendong seorang.

"Siapa?" Gumam Nijimura bingung.

Tanpa memperdulikan sekelilingnya, Wanita bersurai Baby Blue terus berlari mengabaikan gaun tidur yang masih melekat di tubuh rampingnya. Nijimura mengernyit saat mengetahui siapa yang tengah berlari kencang. Jelas terlihat di mata bulatnya, Akashi Shiori masuk ke dalam sebuah mobil dengan Tetsuya yang ada dipelukkannya. Tetsuya terlihat pucat dengan tangan yang terkulai lemah beserta mata yang tertutup. Raut wajah Shiori sangat kacau juga panik, tak hanya itu, ekspresi kekhawatiran tergambar jelas disana.

"Sepertinya Kaa-san dan Tou-san tak akan pulang malam ini" Nijimura terlonjak kaget mendengar suara seseorang yang tiba – tiba saja berada disampingnya.

"Sei?" Celetuk Nijimura kaget.

"Ah, Gomen. Apa aku mengejutkanmu?" Tanya Seijuurou dengan ekspresi yang tak bisa digambarkan.

"Tidak terlalu" jawab Nijimura cepat, "Apa yang kau lakukan tengah malam seperti ini, Sei?" Tanya Nijimura.

"Aku hanya terbangun karna suara panik Kaa-san tadi" Seijuurou menjawab pelan tapi tatapan matanya terpaku pada pintu depan yang sudah tertutup.

"Memangnya ada apa? Aku lihat Ba-san terlihat sangat buru – buru"

"Mungkin kondisi tubuh Tetsuya turun lagi" Mengerti dengan ucapan Seijuurou, Nijimura menepuk pundak sepupunya.

"Aku memang sudah dengar dari Kaa-san dan melihat langsung, tapi aku tak pernah menyangka sampai saat ini Tetsuya masih sering drop" Nijimura diam sejenak. "Sebaiknya kau kembali tidur Sei, aku yakin besok kau harus menghadapi pertanyaan – pertanyaan dari adik – adikmu yang lain. Kau juga punya tanggung jawab untuk menjaga mereka kan?"

"Kau benar, tapi aku masih khawatir dengan keadaan Tetsuya"

"Daijoubu, besok masih liburan musim panas, kita bisa menjenguk Tetsuya bersama – sama." Nijimura mencoba menghibur, "Hei, besok aku akan mengawasi kalian dan menggantikan posisimu sebagai kakak tertua. Ingat, aku lebih tua 1 tahun darimu" Nijimura tersenyum bangga.

"Tsk, terserah kau saja. Aku akan kembali ke kamar. Oyasumi"

"Un, Oyasumi"

Nijimura kembali masuk ke kamarnya, begitupun dengan Seijuurou yang melangkah masuk ke kamarnya. Meski berpamitan untuk tidur, baik Nijimura maupun Seijuurou sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Fikiran – fikiran klise ciri khas anak usia 10-11 tahun cenderung sama meski berbeda 1 tahun. Nijimura sibuk berguling ke kiri dan ke kanan sembari memikirkan bagaimana keadaan Tetsuya sekarang.

Apakah ia masuk kedalam tempat kaca seperti saat bertemu pertama kali? Atau Tetsuya akan dibaringkan di tempat tidur dengan kabel – kabel diseluruh tubuhnya? Lalu, mungkinkah Tetsuya akan di suntik oleh Dokter garang dengan jarum yang besar? Hanya dengan mengkhayalkannya saja, Nijimura sudah bergidik ngeri. Tak bisa ia bayangkan bagaimana jika Tetsuya yang memiliki tubuh kecil juga manis itu harus di tusuk dengan benda – benda aneh ciri khas kedokteran. Nijimura segera menggeleng kuat untuk membuang jauh – jauh fikiran buruknya meski gagal.

Lain hal dengan Nijimura yang memikirkan hal – hal yang aneh, Seijuurou sama sekali tak bisa tidur memikirkan keadaan si bungsu yang berbeda dari adik – adiknya yang lain. Seijuurou sangat ingat jika adik – adiknya dulu tak pernah sampai seperti ini jika sakit, bahkan Ryouta sendiri sakit karna demam tinggi tapi dengan mudah sembuh dan kembali ceria. Daiki pernah dibawa ke rumah sakit karna terluka akibat kelakuannya yang suka memanjat pohon sekitar taman dan terjatuh dari pohon. Shintarou dan Atsushi biasanya hanya demam biasa, tak perlu mereka membawa ke rumah sakit pasti akan sembuh dengan sendirinya karna Sang ibu yang telaten merawat mereka saat sakit.

Seijuurou sendiri pernah sakit seperti yang lain, tapi itu dulu saat ia tak sengaja pulang saat hujan dan menyebabkan dirinya demam tinggi. Meski pernah di rawat sekali, tapi itu sudah cukup bahkan hingga kini, Seijuurou tak pernah lagi merasakan terbaring lemah di rumah sakit. Meski usianya masih menginjak 10 tahun, orang tuanya telah memberitahunya jika Tetsuya memiliki fisik yang lemah dan harus dijaga 24 jam. Sekali saja mereka mengabaikan Tetsuya, mereka tak tau apa yang akan terjadi pada kondisi Tetsuya.

Semalaman Seijuurou tak bisa memejamkan matanya, ketika ia sadari sinar mentari memasuki celah – celah kain jendelanya, ia langsung sadar jika ini sudah pagi dan ia belum tidur sama sekali. Lingkaran hitam terlihat jelas menghias di bawah matanya, Seijuurou segera bangkit dan melakuan aktivitas pagi meski tanpa kedua orangtua dan juga Tetsuya. Meski berjalan dengan sempoyongan, Seijuurou bisa melihat adik – adiknya sudah siap dan rapi dengan stelan kemeja juga ada yang memakai Kaos polos. Nijimura bahkan sudah mengenakan kaos putih berompi dan celana panjangnya, ia duduk seolah ia adalah pengganti seorang kakak saat itu.

"Sei, kau duduk di tempatmu. Kita akan sarapan dan langsung mengunjungi Tetsuya. Tadi Tanaka-san dan Mabuchi – san yang mengatakannya padaku." Celoteh Nijimura. "Ah ya, aku hampir lupa. Nanti yang akan mengantar kita adalah Tanaka-san dan jangan lupa bawa keperluan kalian masing – masing" Nijimura menjelaskan panjang lebar. Seijuurou memutar bola mata malas.

"Aku baru tau jika kau bisa seperti seorang yang paling tua, Shuuzou" Sindir Seijuurou.

"Karna memang aku lebih tua darimu, Sei"

"Kau memang lebih tua, tapi sayangnya kau tak bisa menggeser kedudukanku sebagai kakak tertua mereka" Seijuurou menarik kursinya dan duduk dengan ciri khas seorang pemimpin.

"Jam berapa kita akan berangkat, Seijuurou?" Tanya si surai hijau – Shintarou – dengan wajah yang di palingkan dan tangan yang menaikkan bingkai kacamata. "Bukannya aku ingin tau, Nanodayo. Aku hanya tak ingin berlama – lama disini dan membiarkan Kaa-san ataupun Tou-san menunggu lama"

"Pffftt, jangan terlalu Tsundere Shintarou." Nijimura menahan tawanya.

"Hmph, berhenti mengatakan aku Tsundere, Shuuzou-nii. Itu tidak lucu, Nodayo"

"Haii, aku tak akan mengatakan kau Tsundere" Nijimura mengalah.

"Jadi bagaimana, Seijuurou?" tanya Shintarou lagi.

"Aku rasa setelah sarapan pagi ini. Jadi kita kesana tergantung dengan kecepatan kalian sarapan, semakin cepat kalian sarapan maka akan semakin cepat kita ke rumah sakit"

"Okey-ssu, aku akan makan cepat-ssu" Ryouta menyela dengan semangat.

"Aku akan membantu menghabiskan makananmu, Ryouta" Daiki langsung mengambil roti selai Ryouta tanpa peduli protes juga airmata buaya yang mengalir di pipi Ryouta.

"Daiki, jangan mengganggu Ryouta. Kau sudah punya bagian sendiri, Nanodayo" Tegur Shintarou.

"Tapi Nii-san" Daiki ingin protes tapi roti yang ada di tangannya tiba – tiba diambil si surai Ungu yang dengan santai memakan roti itu. "Atsushi-nii!" Teriak Daiki kesal.

"He~~ Kalau kelamaan, nanti tak bisa liat Tetsu-chin, jadi aku bantu Daiki-chin" Daiki membuang wajahnya dan melipat tangan dengan kesal.

"Huh, aku akan makan cepat dan cepat – cepat bertemu dengan Tetsu"

Hanya dalam hitungan detik, seluruh surai warna – warni layaknya pelangi itu makan sarapan mereka masing – masing dalam diam. Ryouta sendiri sudah tak mengeluarkan airmatanya dan dengan santai makan meski Daiki tak henti – hentinya mengacau. Beberapa menit setelahnya, mereka langsung melesat menuju rumah sakit tempat biasa Tetsuya dirawat. Karna terbiasanya, mereka sudah tau dimana ruangan khusus milik Tetsuya.

Begitu pintu terbuka, bukan pemandangan yang biasa mereka lihat saat orang – orang masuk rumah sakit dan dirawat inap, tapi sebaliknya. Sang ibu terlihat bercengkarama dengan si Baby Blue yang berada di pangkuas sang Ayah. Tertawa juga sesekali terlihat Tetsuya bertepuk tangan imut. Sadar akan kehadiran beberapa surai pelangi, kegiatan suami istri itu terhenti. Tangan kanan sang ibu terlambai untuk memberikan isyarat agar mereka masuk.

"Kaa-cchi, Tetsuya-cchi sudah sehatkan?" Tanya Ryouta polos saat mendekat.

"Haii, tapi belum boleh pulang" Jawab sang ibu lembut.

"Kenapa, Kaa-san? Tetsu jauh lebih baik sekarang" Celetuk Daiki yang sudah berada di dekat Tetsuya sembari memegang kedua tangan mungil Tetsuya.

"…." Sang ibu diam, berfikir untuk memberikan jawaban yang dimengerti bocah berusia 6 menjelang 7 tahun itu.

"Katakan saja Kaa-san, kami mengkhawatirkan Tetsuya" Seijuurou menginterupsi.

"Ini agak sulit Sei– Chan, tapi Kaa-san dan Tou-san pastikan jika Tet– Chan baik – baik saja. Hanya perlu Check Up dan beberapa tes lagi" Dahi Seijuurou mengerut.

"Tes?" Wanita paruh baya itu tersenyum getir, meski sulit tapi ia yakin jika si sulung lebih mengerti dari yang lain.

"Ada masalah sedikit mengenai ketahanan tubuh Tet– Chan di musim dingin. Kalian tau sendiri jika Tet–Chan itu tak tahan terhadap hawa dingin. Kemarin salah satu Maid menyalakan pendingin ruangan dengan suhu 16 derajat, jadi saat Kaa-san masuk ke kamar untuk mengecek Tet– Chan seperti biasa, Kaa-san langsung panik karna Tet–Chan terlihat pucat juga kedinginan." Wanita itu menghela nafas sejenak, mengumpulkan keberanian untuk mengingat kejadian kemarin malam. "Tet– Chan menggigil dan Nafasnya tak beraturan. Kaa-san panik dan segera memanggil Tou-san-mu untuk membawa Tet–Chan segera ke rumah sakit. Beruntung tidak terlambat, jadi sekarang ia lebih baik" Wanita paruh baya itu menyentuh pipi Chubby yang menggembung karna tertawa sembari bermain dengan kakak – kakaknya.

"Tetsuya belum diizinkan pulang untuk mengecek ulang kondisinya, saat ia benar – benar sehat, kita akan membawanya pulang." Sang Ayah yang tadi diam kini angkat bicara, ia melirik ke arah Seijuurou yang masih mendengarkan. "Seijuurou, mulai hari ini, Tou-san berharap kau bisa menjaga adik – adikmu dan khusus untuk Tetsuya, Tou-san ingin kau lebih menjaganya. Mengerti?" Seijuurou tersenyum kecil.

"Haii" jawabnya singkat.

"Ah satu lagi, jangan lupa tanggung jawabmu sebagai putra sulung—" Seijuurou segera menyela.

"Menjadi contoh untuk kesuksesan mereka juga menjamin mereka untuk bisa menjadi sempurna" Sang Ayah tersenyum bangga.

"Itu benar, tetaplah mengingat tagungjawabmu dan jaga Tetsuya sebaik mungkin" Seijuurou menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.

Di sudut ruangan, Nijimura merasa menjadi obat nyamuk atau bisa dibilang dia terasa seperti orang asing di hadapan sepupu – sepupunya. Nijimura duduk diam di sofa dengan menyenderkan kepalanya diuntuk mengambil posisi santai. Matanya tertuju pada satu keluarga yang menurutnya sangat harmonis juga penuh kasih sayang itu – walau penuh tuntutan. Nijimura menangkap raut – raut wajah lega saat melihat senyuman si Baby Blue yang masih setia dipangkuan sang kepala keluarga. Daiki, Atsushi, Seijuurou maupun Ryouta sibuk menyentuh bahkan mengajak Tetsuya bermain, tapi Shintarou dengan sifat Tsundere yang akut, ia hanya duduk diam disebelah Nijimura tapi matanya tak pernah lepas dari sosok si Baby Blue.

"Kalau kau ingin mengajak Tetsuya bermain, kau bisa bergabung dengan mereka" celetuk Nijimura.

"Aku tidak suka melakukan hal – hal yang seperti itu, Nodayo" jawab Shintarou dengan tangan yang sibuk menaikkan kacamatanya.

"Tapi aku lihat kau sangat ingin bermain dengan Tetsuya" gurau Nijimura.

"Disini lebih nyaman daripada berkerumun seperti itu, Nodayo" Shintarou memalingkan wajah sejenak, "Bukannya aku tak mau, tapi aku lebih suka disini" Nijimura langsung mengelus surai lembut Shintarou.

"Kau terlalu Tsundere, Shintarou. Kalau kau ingin mengajak Tetsuya bermain, kau bisa bermain dengannya"

"….." Shintarou terdiam dan mendengus kasar, ayolah, ia sebenarnya ingin tapi malu.

Beberapa menit setelahnya, terlihat seorang suster dengan seragam berwarna merah muda lembut memanggil sang kepala keluarga beserta istrinya juga Tetsuya untuk segera ke ruangan Dokter pribadi mereka. Seijuurou, Nijimura, dan Shintarou menunggu di ruangan dalam diam sedangkan Daiki, Ryouta dan Atsushi sibuk bermain sembari berlari – lari kecil. Sekitar 15 menit berlalu, kepala keluarga Akashi terlihat masuk ke dalam ruangan dengan sebuah senyuman dan segala kewibawaannya.

"Tetsuya sudah boleh pulang, Kaa-san dan Tetsuya sudah menunggu di mobil." Jelasnya.

"Jadi Tetsuya-cchi sudah boleh pulang?" tanya Ryouta.

"Tentu saja, kalian sudah boleh ke mobil kecuali Seijuurou dan Shintarou." Sang kepala keluarga melirik ke arah Nijimura. "Shuuzou, bisa bantu membawa Ryouta, Daiki dan Atsushi ke mobil?"

"Tentu saja, Jii-san"

"Arigatou"

"Un" Nijimura segera mengatarkan Atsushi, Daiki dan Ryouta ke mobil yang sudah disiapkan sang kepala keluarga. Sementara itu, Seijuurou dan Shintarou yang masih tinggal mengerutkan dahi bingung.

"Ada apa Tou-san? Kenapa kami harus tinggal?" Seijuurou memang selalu peka terhadap kedaan meski usianya masih 10 tahun.

"Apa ini mengenai Tetsuya?" Shintarou menambahkan. "Begitulah" jawab si pria paruh baya.

"Memangnya kenapa dengan Tetsuya?" Shintaoru menaikkan bingkai kacamatanya. "Bukannya aku peduli,tapi aku hanya ingin tau Nanodayo"

"Hm, Tou-san mengerti Shintarou." Pria paruh baya itu menyentuh pundak kedua putra tertuanya. "Sebenarnya ini memang mengenai Tetsuya" Sebelum Seijuurou membuka mulut untuk bertanya lebih lanjut, sang ayah sudah menyela. "Berdasarkan diagnosa dokter, Tetsuya akan rentan terhadap musim dingin. Ketahanan tubuhnya tak sama seperti kalian dan juga adik –adik kalian yang lain. Jadi.."

"Jadi?" Shintarou dan Seijuurou serentak berbicara.

"Jadi, untuk musim dingin tahun ini dan tahun – tahun selanjutnya kalian membantu Tou-san juga Kaa-san untuk menjaga Tetsuya. Ingatlah ini, terlebih untukmu Sei" Seijuurou mendongakkan kepalanya untuk melihat sang ayah. "Jaga adik – adik kalian sebaik mungkin, kita tak tau sampai kapan kita akan tetap berkumpul bersama, terlebih dokter menyarankan agar kita harus menjaga Tetsuya sebaik mungkin dan jangan biarkan ia lelah."

"Kenapa seperti itu, Tou-san. Apa ini ada hubungannya dengan paru – parunya Nanodayo?" Shintarou bertanya.

"Begitulah, dokter mengatakan jika paru – paru Tetsuya memang tidak parah, tapi ketika sesak nafasnya kumat, bisa jadi ia tak tertolong." Wajah pria paruh baya itu terlihat sendu. "Karna itu, berjanjilah untuk menjaga Tetsuya sebaik mungkin dan jangan biarkan Tetsuya lelah. Tou-san juga membebaskan Tetsuya dari tuntutan serta peraturan keluarga kita, waau kurang adil tapi ini yang terbaik untuknya."

"Lalu bagaimana dengan yang lain Tou-san?" Seijuurou terlihat terggagap. "M-maksudku—"

"Tou-san mengerti, Tou-san tak sepenuhnya membebaskan segalanya, tapi setidaknya beban Tetsuya lebih ringan dari kalian. Jika beban yang ditanggungnya lebih berat, kalian bantu Tetsuya bersama. Ingatlah, kesempurnaan tak hanya bisa dicapai dengan berdiri sendiri, tapi kesempurnaan bisa di bangun dengan kebersamaan kalian."

"Haii, kami mengerti" jawab Seijuurou dan Shintarou bersamaan.

Hari itu, menjadi hari yang membuat Seijuurou mengerti jika keadaan Tetsuya tak sama seperti mereka semua. Bahkan kaca tipis pun belum tentu bisa menjadi penggambaran keadaan Tetsuya kecil yang sangat rapuh. Bagaikan Crystal berharga yang tak bisa disentuh sedikitpun, Tetsuya harus dijaga ketat agar tetap bertahan dan tak ada sedikitpun yang bisa menggores untuk mengurangi keindahan juga membuat retak sesuatu yang tak akan pulih kembali.

To Be Continue...

Yoshh! Waktunya balas review...

Mizuumi Yoite : Hmm,, di apain yah,, ntar lian jawab untuk minggu depan.. ^^

Dewi15 : Oppss,, jangan buru - buru dulu. masih minggu depan lho. Heheheheheehe

Nopebowir : sabar yah.. masih minggu depan koq.. nikmati ajah flashback dari mereka yang dulu. saat tetsuya lahir juga kehidupan mereka yang masih kecil - kecil bin imut...

Nyanko Kawaii : bisa sih update kilat,, nyanko mau cuma hanya 1 kata doang? ENd udah,, hehehehe.. Oh iya,, makasih udah kasih saran buat nama orang tua mereka, kemarin Lian sempat ngeblank lho.. makasih banget.. peluk erat (ala momoi-cchi)

deagitap : Hum hum,, nah lho, Masih minggu depan koq sambungan kejadian minggu kemarin.. Lian kasih flashback mereka dulu.. Dan kalau dari flashback, kira - kira apa yang terjadi sama Tetsuya? Hm? Pasang muka evil..

Iftiyan Herliani253 : Kayaknya cuma tetsu-kun deh yang ada di dalam.. (mikir keras).. hahaha, tenang, lian akan usahain koq.. Selamat membaca lagi deh,, dan jawabannya masih minggu depan.. nikmati ajah flashback mereka..

ChintyaRosita : di apain yah? jawabannya masih minggu depan..

Wako P : rahasia,, masih minggu depan jawabannya.

AySNfc3 : gak tau,, jawaban masih minggu depan

Lhiae932 : penasaran? jawabannya masih minggu depan lho.. masih mau nunggu?

Guest 1 : Panggil lian ajah yah.. ^^ lian lanjutin koq,, tapi masih minggu depan di ungkap apa yan terjadi/..

eri kirei : makasih banget udah suka sama FF lian yang abal - abal juga gak bagus ini.. Lian sangat senang + Bersyukur.. Jawabannya masih minggu depan yah..

Guest 2 : bisa sih fast update,, tapi langsung end.. nah lho.. lian kan masih butuh waktu buat ngetik, edit, update.. sabar yah..

yaya : Lian gak janji... minggu depan akan ketemu koq jawabannya.

yuuki : sabar, masih minggu depan tau jawabannya..

CeiCuyaCelamanya : Game over lha,, permainan antara Sei-chan dengan haizaki -san.. jawabannya masih minggu depan lho.. (senyum jahil)

luchida-chan : iya,, makasih yah..

Cho Kyunhae : betol juga,, cuma kembang api kan meledaknya di langit,,

manamichan : Iie, do itashimashite

Guest 3 : iyaaaaaa..

Sri Silvi Wahyu : mungkin ending di chapter 20 atau gak 21, tergantung jalan cerita yang mau lian bikin..

ishida : sipppppp. lian bakalan semangat.

Mr Seok : Tiap jum'at koq..

yukino : Iya donk,,

Fiuuuuhhhh.. ( Ilap keringat ), akhirnya selesai balas review kalian semua. Jujur ajah lian gak nyangka responnya berbeda dari fikiran lian. Jujur lian sempat ketawa saat banyak yang penasaran dengan apa yang terjadi, dan kemarin lian lupa ngasih tau judul untuk chapter yang sekarang.. Lian update flash back sebagai gambaran untuk chapter minggu depan. Nah, menurut kalian apa yang terjadi sebenarnya? lalu, apa sih yang bisa kalian tangkap dari flashback yang lian kasih? Setiap detail penggambaran, ini akan jadi penggambaran apa yang terjadi sama Tetsuya di chapter depan.. Nah Lho,, kira - kira Tetsuya masih hidup atau (...)? lalu bagaimana respon yang lainnya terhadap Akashi Seijuurou? Hayo,, baper kan? Lian emang lagi kumat.. Oh ya sebelum lupa, kalau kalian mau baca chapter depan, lian sarani untuk denger soundtrack Kuroko basuke yang ending. Judulnya 'Lantana'

Kalau kalian masih punya Quota, silahkan browsing di internet terjemahan dari lagu Lantana itu, jika sudah dapat kalian akan dapat penggambaran untuk chapter depan.. Satu lagi, coba dengar lagu Lisa - Shirushi dan cari artinya, sebagian penggambaran ada dari sana. Selamat mencari dan menghayalkan untuk chapter minggu depan dan siapkan tisu, chapter itu benar - benar gaya lian sebenarnya dalam menulis fanfict.. ^^

Sampai jumpa di CHapter 17 - Lantana..