Tittle : White Crystal

Maincast : -Akashi Seijuurou

- Kuroko Tetsuya

- Aomine Daiki

- Kise Ryouta

- Murasakibara Atsushi

- Midorima Shintarou

Suport Cast : - All of Kuroko No Basuke Chara

Author : Lian (VT_Lian1995)

Genre : Family, Slice Of Life, School Life, Brotheship, Little Comedy, Sad, Hurt.

Attention : This chara not mine, this chara from Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi – sensei.

Little information : Seluruh nama Cast akan menggunakan nama Akashi karna ini berhubungan dengan kisah keluarga Akashi. Jadi di mulai dari Tetsuya sampai Shintarou akan menggunakan nama depan Akashi.

Summary : Akashi Tetsuya, bungsu dari 6 bersaudara keluarga Akashi harus menangung beban berat di pundak untuk memberikan kesan betapa hebatnya keluarga Akashi. Tapi sayangnya, apapun yang ia lakukan pasti sudah pernah dilakukan oleh ke – 5 kakaknya. Apapun itu, segala yang Akashi Tetsuya raih seolah hanya sia – sia, terlebih jika dibandingkan dengan fisik ke – 5 kakaknya, Tetsuya jauh lebih lemah, namun tak menampik kemungkinan ia bisa jadi lebih kuat walau usahanya akan mendapat resiko yang tinggi. Ini demi menjunjung tinggi motto dari sang Ayah yang telah tiada "Pemenang akan mengukir sejarah dan yang kalah akan menjadi pecundang yang terlupakan."

"Jika kau katakan menjadi bungsu keluarga Akashi merupakan anugrah, tapi bagiku tidak. Beban yang ku tanggung lebih besar dari Ke-5 saudaraku yang lain"

_ooOOOoo_

Chapter 17

%^Lantana^%

Malam yang dipenuhi bintang beserta suara angin yang berlari kecil merontokkan dedaunan kering musim panas. Tidak seperti malam – malam yang lain, malam ini menjadi malam terburuk yang pernah ada untuk sebuah Caffe yang sedang maju pesat di pusat kota Tokyo. Bangunan yang sudah mengalami renovasi dengan warna keceriaan dari Street Basketball kini terlihat terselimut warna merah menyala.

Liukkan warna merah menjilati setiap sisi dinding yang berdiri kokoh dengan jendela kaca juga pintu kayu yang kuat. Meski bukan termasuk benda mudah terbakar, namun sayangnya cairan pecinta api telah merembes masuk hingga bagian dalam. Lidah – lidah si merah menyala dengan rakus menjilat cairan itu hingga dengan mudah masuk dan memperbesar dirinya. Kursi, Meja, Lemari juga segala peralatan di dalam begitu mudah ia taklukkan hingga menjadi serpihan abu.

Bangunan yang kokoh secara perlahan menunjukkan kerusakkan dan satu persatu lapuk karna berubah menjadi debu. Di lantai Atas yang belum sepenuhnya terjilat si lidah merah, Pria bersurai Baby Blue masih mengintip mimpi indah hingga tersadar saat hawa panas membuatnya tersentak. Nyalak si anjing kecil yang berusaha membangunkannya pun membuatnya beranjak dari ranjang empuk penghantar mimpi.

Kelereng biru mudanya mengelilingi ruangan yang semakin terasa panas dengan asap tebal yang sama sekali tak menginginkan kelerengnya untuk melihat jarak lebih jauh. Bermodalkan syal merah, ia berusaha menutup hidung juga mulutnya untuk beranjak dan melihat keadaan. Langkahnya semakin cepat tatkala kedua kakinya merasakan lantai yang ia pijak terasa seperti besi yang baru selesai di panaskan.

"Uhuk,, uhuk.." Terbatuk kecil saat asap tebal tak sengaja terhirup. "Apa yang terjadi?"

Kaki – kaki kurusnya mencoba menuruni anak tangga yang terbuat dari kayu. Sisi kanan dan kiri tangga terlihat di penuhi merah menyala dan sedikit menyulitkan untuk sampai di lantai bawah. Anjing kecil di kakinya dengan setia mengikuti kemana sang tuan bergerak sembari sesekali mencoba membantu mencari jalan keluar bersama. Mata bulat si Baby Blue membulat tatkala matanya menangkap lautan merah sudah terhampar di depan matanya. Semuanya berwarna merah dengan asap hitam pekat yang membumbung tinggi.

Tungkai kakinya berusaha untuk berjalan menuju pintu keluar besama si anjing kecil yang terus menyalak ketakutan. Baru saja ia akan mengambil langkah pertama, sebuah balok besar tumbang dan membuatnya terduduk. Baru saja akan bangkit, balok lainnya jatuh tepat di kedua kakinya hingga teriakkan kesakitan meluncur dari bibirnya. Dengan sisa tenaga yang ada, tangan pucatnya mendorong balok itu untuk menjauh. Ucapan syukur saat berhasil menggeser balok harus tertunda dari bibir mungilnya saat melihat kakinya terdapat bercak hitam karna terbakar oleh si merah yang ada di balok.

"Daijoubu, Nigou. Ini hanya luka kecil" ringisnya mencoba menenangkan si anjing kecil yang menyalak khawatir. "Sebaiknya kita cari jalan keluar sekarang"

Mencoba sekali lagi berdiri dengan tubuh yang terhuyung, nyeri dari luka yang di dapat ia hiraukan karna yang terpenting adalah keselamatan dirinya. Sedikit tertatih, menyeret kedua kaki untuk segera mendekat ke pintu yang terasa berkali lipat lebih jauh dengan langkah yang melambat. Hanya tinggal beberapa meter lagi, nafasnya terasa menyempit dengan oxygen yang semakin menipis. Sesak menghimpit di kerongkongannya, paru – parunya berteriak menginginkan pasokan oxygen yang lebih.

"Ni..gou.. ca.. ri.. ban..tu..an" titahnya dengan nafas yang mencekik. Hanya dalam hitungan detik, seketika pandangannya menggelap dan tubuhnya limbung hingga bersentuhan dengan lantai yang panas.

Si anjing kecil mengerti apa yang dimaksud tuannya segera berlari mencari celah kecil di pintu. Bulu – bulu halusnya tertutup debu, warna putih langsung berubah menjadi kelabu. Ketika mata bulat yang sama dengan pemiliknya menangkap pintu kecil yang biasa ia lewati saat menunggu sang majikan pulang, anjing kecil itu langsung berlari menerobos si merah yang masih menyala mencoba menjilat bulu – bulu halus yang ia miliki. Ketika sampai di luar, hal pertama yang dilakukan sang anjing adalah menyalak kuat untuk meminta batuan meski saat itu tak ada orang yang lewat karna kesibukkan masing – masing sehingga tak sadar jika salah satu Caffe tengah di lalap lautan merah panas.

Sementara itu, Mobil putih melaju di jalanan Tokyo yang tak pernah lengang namun berisi orang – orang yang acuh akan sekitarnya. Di depan mobi putih, terlihat mobil Merci merah menuntun Limousin putih untuk mengikuti kemanapun ia pergi. Di dalamnya terlihat dua orang pria yang duduk berdampingan dengan senyuman manis terpatri di bibirnya.

"Kau yakin ini jalan tercepat sampai di Caffe mereka, Shuuzou" Anggukan kecil diberikan pria bersurai hitam dengan senyuman penuh kelegaan.

"Jangan kira aku lupa jalanan Kota Tokyo yang pernah ku tinggali selama masa sekolah menengah pertamaku, Sei. Ingat, aku sering berkunjung ke Mansionmu dan berkeliling bersama orangtuaku. Tentu saja aku masih ingat bagaimana kota ini, kau tak perlu khawatir soal itu. Aku juga sempat berkeliling mencari jalan pintas menuju Caffe mereka" Senyuman menyindir tercetak di bibir si merah – Seijuurou.

"Soukka, kalau begitu, kau bisa mempercepat laju Mobil ini Hm? Aku tak mau mereka menunggu" Decakkan sebal mendominasi di bibir si surai hitam.

"Jangan terlalu berharap Sei, mereka belum tentu memaafkanmu"

"Kau meremehkanku lagi, Shuuzou"

"Tidak, hanya sekedar mengingatkan"

"Kita lihat saja, aku akan menjelaskan semua dan mereka akan kembali padaku. Kehilangan mereka sama saja kehilangan 90% bagian dari hidupku yang…" Jeda sejenak. "Sempurna" ucapnya pelan.

"Ppfff, hilangkan dulu sifat sombongmu itu, Sei. Kesempurnaanmu sudah runtuh setengah tahun yang lalu saat kau membuang mereka, sebaiknya kau fikirkan kata – kata yang tepat untuk membuat mereka percaya padamu, Tuan absolut" Sindir Shuuzou.

"Kau menyindirku, Shuuzou"

"Hm, mungkin."

"Kau—" belum lagi protes sindirian lainnya keluar.

"Kau lebih baik berlatih untuk meminta maaf dari pada mengancamku, Sei. Apa kau mau bagian dari dirimu muncul dan menodongku dengan gunting merah itu Hm?" Seijuurou berdecih kesal.

"Tidak akan, dia sudah menghilang dan berhasil ku kalahkan. Dia tak mungkin kembali" Tegas Seijuurou. "Tapi kalau soal gunting, aku rasa aku masih menyimpan satu di kantung" Nijimura tersentak dan berusaha menjauh sedikit.

"Ayolah Sei, kau bukan psikopat yang akan memotong tubuhku kan?" Seijuurou tersenyum penuh kemenangan.

"Tentu saja tidak, tapi jika kau ingin menjadi korban pertama, aku akan dengan senang hati melakukannya" Seijuurou mengambil gunting merah dan bermain – main sedikit – bermaksud mengancam.

"Hei-hei-hei, jangan bermain dengan benda itu. Ini masih di dalam mobil"

"Kau mau coba?"

"Berhentilah tuan Absolut, sebentar lagi kita sampai"

Dengusan kecil keluar dari bibir Seijuurou dan kembali duduk dengan santai menatap jalanan yang terasa lebih lengang padahal belum terlalu larut. Begitu mereka berbelok ketikungan, pemandangan yang di dapat membuat Seijuurou maupun Nijimura tersentak kaget. Caffe yang harusnya berdiri kokoh kini terlihat rapuh terlebih lagi nyala si merah berkibar dan membumbung. Tanpa perlu berfikir lagi, Nijimura menaikkan kecepatan dan berhenti kemudian berlari menuju Caffe yang terbakar itu.

Seekor anjing kecil masih menyalak di depan pintu seolah mengumandangkan pada siapapun untuk membantunya. Gonggongan anjing itu semakin kuat saat dua orang pria berdiri di sana, tanpa perlu di tanya, Sang anjing kecil menyalak dan menarik ujung celana panjang pria berambut merah yang sudah pasti ia kenali. Sepasang alis meluncur tajam untuk menganalisis maksud si anjing, begitu anjing itu mengongong dua kali dan berlari masuk, saat itu si merah sadar jika ada seseorang yang terjebak di dalam.

"Tetsuya!" Sentaknya. "Shuuzou, cepat panggil pemadam kebakaran dan ambulance!" Perintahnya mutlak.

Sekali dobrak, pintu yang sudah setengah terbakar itu langsung terbuka. Oxygen di dalam ruangan sangat tipis hingga mau tak mau, dengan lengan kirinya, Si surai merah menutup mulut dan hidungnya. Asap dalam ruangan kian tebal dan sangat sulit melihat situasi dari Caffe itu. Ketika pandangannya melirik ke arah lantai, nyalak si anjing kecil menuntun pemilik Emperor Eye menuju lebih dalam. Hanya beberapa langkah, mata ruby melebar melihat seseorang tergeletak dengan sebagian tubuh yang sudah terjilat api.

"TETSUYA!" Teriakknya dan langsung mendekat. "Tetsuya? Tetsuya?" Panggilnya berulang ulang sembari menepuk pipi tirus yang terselimuti debu.

Tanpa mengulur waktu, lengannya menelusup ke punggung dan lutut untuk memudahkannya membawa tubuh kecil itu keluar dari tempat yang menyesakkan nafas. Ketika sampai di luar, Seijuurou memeriksa denyut nadi juga nafas dari Tetsuya. Hasilnya? Nihil. Tetsuya tak bernafas tapi denyut nadinya masih terasa namun lemah. Bersyukurlah Seijuurou yang memiliki adik yang merupakan Seorang Dokter dan Sang Ibu yang dulunya seorang pemilik rumah sakit. Seijuurou langsung mengambil inisiatif melakukan CPR (Cardiopulmonary Resuscitation).

Sedikit demi sedikit Seijuurou menghembuskan Oxygen untuk membantu kinerja paru – paru dan jantung yang berhenti. Seijuurou terus berusaha memberikan pasokan Oxygen sembari menunggu Ambulance yang di telfon Nijimura datang. Nijimura berdiri tak jauh darinya hanya bisa menjadi penonton tanpa bisa berbuat banyak. Sekilas, tanpa disengaja sama sekali, sepasang mata Nijimura melihat surai rambut abu – abu tengah bersembunyi di ujung bangunan tua. Ia sudah tau siapa itu, dan dengan ini ia yakin siapa dalang dibalik kebakaran yang terjadi di Caffe. Niat hati ingin segera berlari menangkapnya, tapi ia belum memiliki bukti yang cukup kecuali pria itu berdiri disana dengan seringai tajam.

Tak berapa lama, terdengar sirine Ambulance juga pemadam kebakaran yang saling bersahut – sahutan. Dengan cepat beberapa perawat turun dan segera membantu menaikkan tubuh mungil itu ke dalam mobil diikuti Seijuurou juga Nijimura tentunya. Belum lagi mereka beranjak, suara langkah kaki terburu – buru juga teriakkan panik terdengar dari beberapa orang yang tentu saja Seijuurou maupun Nijimura kenali.

"Ada apa ini, Nanodayo?" Si surai Hijau bertanya dengan panik dan tak menghiraukan bagaimana kantung – kantung belanjaan di kedua tangannya terlepas begitu saja. Seijuurou yang mendengar suara yang ia rindukan itu langsung melempar sebuah kunci ke arah si surai Ungu yang ada di belakang di surai Hijau.

"Atsushi, kau bawa mobil Shuuzou bersama lainnya dan Kau Shintarou, cepat periksa keadaan Tetsuya sekarang. Kita akan ke rumah sakit dan akan ku jelaskan apa yang terjadi" Mengangguk singkat, Shintarou segera bergegas masuk ke dalam mobil putih sedangkan Atsushi bersiap untuk mencari yang lainnya sementara Caffe mereka sedang berusaha diselamatkan meski hasilnya sia – sia karna Caffe itu sudah separuh lebih menjadi Abu.

Surai kuning dan Navy Blue beku di tempat saat melihat sudah penuh orang – orang yang memadamkan api yang berasal dari Caffe mereka. Belum selesai keterkejutannya, Atsushi menarik kedua lengan mereka bersama si anjing kecil dan menyuruh mereka untuk masuk ke dalam mobil untuk segera menyusul sang kakak dan juga Si Bungsu yang masih dalam tahap pertolongan.

"Nii-cchi, apa yang terjadi selama kami pergi tadi-ssu?" Tanya Ryouta khawatir dengan tangan yang tak tenang.

"aku tidak tau, Ryouta-chin. Begitu aku dan Shin Nii-chin pulang, Caffe sudah terbakar dan aku melihat Sei Nii-chin juga Shuuzo Nii-chin sedang memasukkan Tetsu-chin ke dalam ambulance"

"HAAH?! Tetsu di bawa dengan ambulance?!" Teriak Daiki terkejut. "Lalu, bagaimana keadaannya sekarang?!"

"Aku belum tau, karna itu kita menyusul mereka sekarang" Atsushi masih fokus mengendarai mobil merah milik Seijuurou itu.

"Kalau begitu cepatlah-ssu, aku tak mau terjadi apa – apa pada Tetsuya-cchi" Desak Ryouta.

Pedal Gas diinjak kuat untuk menambah kecepat sekaligus memangkas waktu agar lebih cepat sampai. Sementara itu di mobil yang satunya, surai Hijau terlihat cekatan memberikan pengobatan semaksimal mungkin untuk si Baby Blue yang masih setia menutup matanya. Sebagian mulut dan Hidung mancungnya tertutup alat bantu bernafasan sedangkan beberapa bagian dari tangan dan kakinya mendapatkan pertolongan pertama.

Tak seperti tadi saat nafasnya terhenti, kali ini si Baby Blue terlihat bernafas meski masih tersengal juga siapapun yang melihatnya ia merasakan sesak yang luar biasa. Walau mata itu tertutup tapi gerakkan dari anggota tubuh yang lain memberikan isyarat bagaimana rasa sesak juga kesakitan yang teredam dalam alam bawa sadar.

"Kita akan melakukan pertolongan lebih intensif, siapkan ruangan operasi" Titah si Hijau pada salah satu perawat.

"O-Operasi? Apa maksudmu Shintarou?" Tanya si merah panik.

"Bukan operasi besar, Nodayo. Ini hanya Operasi kecil untuk membuat saluran pernafasannya melebar dan aku perlu melakukan sesuatu pada luka bakarnya." Shintarou masih membantu menyiapkan peralatan. "Kau bisa lihat sendiri, Seijuurou. Luka bakar itu cukup parah, jika tak segera ditangani itu akan berdampak buruk untuk adikku, Nanodayo"

"Baiklah, lakukan apa yang menutumu benar. Tapi ingatlah satu hal, Tetsuya juga adikku" Shintarou baru saja akan berdebat, namun disela oleh Nijimura.

"Berhenti berargumen Sei, Shin. Kalian bukan anak kecil yang memperebutkan sebatang coklat kan? Sekarang yang terpenting adalah keadaan Tetsuya, dan untuk masalah kalian, kita akan bicarakan nanti" mengerti apa yang dimaksudkan, Seijuurou maupun Shintarou langsung terfokus pada si Baby Blue.

Hanya butuh waktu 10 menit dengan kecepatan tinggi mereka sampai di rumah sakit, AKASHI HOSPITAL. Rumah sakit yang pernah menjadi milik Shintarou dan ia menyukai perkerjaannya disana. Kini ia kembali dan seolah tak melupakan etika kedokteran yang ia pegang, Shintarou menggiring ranjang beroda beserta beberapa suster juga menarik Takao yang saat itu melintas untuk membantunya. Pintu ruangan di tutup menyisakkan lampu merah menyala menandakan operasi sedang berlangsung.

Nijimura berdiri bersandar pada dinding dengan mata menutup dan tangan yang terlipat didepan dada sementara Seijuurou berjalan mondar – mandir beserta desahan yang keluar dari bibirnya – khawatir. Di dalam, Shintarou yang sudah 6 bulan lebih tak pernah memegang peralatan medis ternyata masih cekatan menggunakan alat – alat itu. Dengan bantuan Takao, Shintarou melakukan pertolongan pada pernafasan Tetsuya. Hasil yang di dapat cukup memuaskan karna nafas Tetsuya tak tersengal dan mulai normal.

Kini giliran mereka mengoperasi bagian – bagian tubuh Tetsuya yang terkenal jilatan si lautan merah. Tangan dan Kaki Tetsuya hampir saja cacat karna Luka bakar memenuhi tubuhnya terlebih bagian kaki dan pergelangan tangan yang terkoyak oleh api. Dengan hati – hati Shintarou memberikkan obat dan mengambil bagian tubuh yang terbakar. Setelah itu ia menjahitnya untuk mengurangi bekas menganga yang ada di kaki juga tangannya.

Luka – luka lainnya segera di beri antiseptik agar tak mudah terkena bakteri dan membusuk. Setelah diberi obat, luka – luka itu di balut perban rata dari pangkal pundak hingga ujung pergelangan lengan sementara di kaki, dari ujung pangkal paha hingga ujung jari kaki. Bagian Bahu kiri Tetsuya terlihat memar, dan Shintarou dapat memastikan jika itu karna Tetsuya terjatuh cukup keras. Begitu melihat bagian kepala, Shintarou bisa melihat ada luka di dahi namun tak begitu parah. Pelan tapi pasti, Shintarou melilitkan perban itu hingga tak sedikitpun ia melihat celah luka di diri sang adik kesayangan.

"Dengan ini semuanya selesai, Nanodayo" Ucap Shintarou lega.

"Kau yakin, Shin– Chan?" tanya sang sahabat yang juga merupakan seorang Dokter.

"Untuk saat ini begitu, tapi untuk kedepannya.." ucapan Shintarou terhenti, Takao yang mengerti menepuk pelan pundak sahabatnya itu.

"Tenang saja, ia akan pulih. Sekarang kau bisa mengabari yang lainnya" Shintarou mengangguk singkat.

"Arigatou, Takao" Takao menampilkan senyuman cerahnya. Mereka bersiap keluar dari ruangan, dan begitu pintu terbuka, surai warna – warni sudah menyambutnya.

"Nii-cchi, bagaimana keadaan Tetsuya-cchi? Apa dia baik – baik saja-ssu?" tanya Ryouta dengan suara cemprengnya dan semua tau jika ia khawatir.

"Nii-san, cepat katakan bagaimana keadaan Tetsu" Daiki tak sabaran.

"Tenanglah, Nanodayo. Tetsuya sekarang sudah baik – baik saja dan akan segera di pindahkan ke ruang rawat" jelasnya.

"Apa Cuma itu, Shintarou?" tanya si surai merah yang sejujurnya masih belum bisa mereka anggap sebagai kakak kembali, tapi mengingat Si surai merahlah yang menjadi penyelamat saat itu, mau tak mau Shintarou memberitahunya.

"Sebenarnya masih ada yang lain" Shintarou menghela nafas dan menaikkan bingkai kacamatanya. "Untuk kedepannya, aku tak yakin jika Tetsuya akan bisa melakukan aktivitas seperti biasanya"

"He~? Apa maksudnya Shin Nii-chin?" Atsushi bingung.

"Pergelangan tangan dan Kaki Tetsuya terkena luka bakar parah, sebagian dari kaki juga tangannya ikut terbakar. Meski luka itu sembuh, tapi aku tak yakin kemampuan ototnya masih sama." Shintarou diam sejenak. "Berdasarkan perkiraanku dan Takao, Tetsuya akan mengalami lumpuh semi dan tak bisa bermain Basket lagi"

"Maksudnya-ssu?"

"Tetsuya akan mengalami kesulitan berjalan dikarenakan fungsi sarafnya mengalami kemunduran dan sedikit bermasalah. Untuk 1 bulan kedepan, mungkin Tetsuya hanya akan duduk di kursi roda dan kedepannya ia akan ikut teraphy pemulihan agar bisa berjalan normal tapi tidak dalam waktu lama, Nanodayo" seluruh mata membulat tak percaya.

"L-Lalu kenapa kau bilang Tetsuya tak akan bisa bermain basket lagi, Shin?" Nijimura membuka suara.

"Paru – paru Tetsuya mengalami sedikit kerusakkan akibat terlalu banyak menghirup karbondioksida. Hal ini menyebabkan Paru – parunya terkontaminasi dan membuat kinerjanya melambat." Shintarou kembali menghela nafas. "Ia sama sekali tak boleh menguras tenaga, atau bisa saja sesak nafas yang datangnya hanya sesekali akan datang dalam hitungan hari maupun Jam, Nodayo" Lirih Shintarou.

"Intinya, Tetsu– Chan harus mendapatkan perawatan intensif baik selama di rumah sakit maupun setelah keluar dari rumah sakit" Takao menambahkan.

"Masalah utama kita adalah itu, Nanodayo. Kita sudah tak punya apa – apa lagi, semuanya sudah habis terbakar dan tabungan juga tak cukup bahkan untuk biaya perawatan rumah sakit, Nodayo" Shintarou menunduk, Daiki, Ryouta dan Atsushi pun ikut menunduk dengan raut kesedihan tergambar disana. Kepala Shintarou baru tegak saat sebuah tangan menepuk pundaknya.

"Apa kalian bodoh hah? Bukan kah kalian memiliki segalanya?" suara berat mendominasi kebisuan yang sempat menyapa. "Shintarou, bukankah rumah sakit ini milikmu. Kenapa kau harus memikirkan biayanya?" Alis Shintarou mengerut dan kilatan kemarahan disana.

"Itu dulu, sebelum aku melepas marga yang ku sandang, Tuan muda Akashi" Sahut Shintarou sinis – mengingat kejadian beberapa bulan lalu.

"Gomennasai, itu memang salahku. Tapi.. izinkan aku menjelaskan semuanya pada kalian" Seijuurou memberikan tatapan sendu pada keempat adiknya yang masih menatapnya tak suka.

"Kau ingin menjelaskan apa, Akashi-san?" Daiki mencetuskan isi kepalanya.

"Daiki, jaga kesopananmu. Kau juga masih menyandang nama Akashi." tegur Nijimura.

"Untuk apa, Shuuzou-nii? Aku sudah lama melepasnya" Daiki berniat melanjutkan ucapannya, tapi tatapan Nijimura seolah membungkam mulutnya.

"Aku tau ini salahku, tapi aku mohon kalian agar mendengarkan penjelasanku"

Sejenak Shintarou, Daiki, Ryouta, Atsushi dan Nijimura diam mendengarkan penjelasan dari Seijuurou. Takao sendiri pamitan karna ia tau itu adalah masalah pribadi yang harusnya tak ia campuri. Seijuurou memulai segala hal yang terjadi termasuk tentang dirinya yang lain – atau alter Ego – juga masalah – masalah yang ia hadapi termasuk ancaman dari Haizaki Shogo yang memaksanya untuk membuat demikian pada adik – adiknya. Segalanya Seijuurou jelaskan dan benar saja, Shintarou, Daiki, Atsushi dan Ryouta percaya dengan cerita itu karna Nijimura juga membantu menjelaskan dengan memberikan bukti bagaimana Seijuurou datang ke psycolog untuk membantunya.

"Jadi, apa kalian bisa memaafkanku" Tanya Seijuurou dengan tatapan memohon. Persetan dengan marga Akashi yang menjunjung kesempurnaan, Seijuurou rela melepaskan egonya agar bisa dimaafkan oleh adik – adiknya. Seijuurou bisa melihat adik – adiknya hanya diam menunduk, dan ia sudah bisa tau jika adik – adiknya tak memaafkannya. Namun..

Brruuukk..

"Okaeri, Sei Nii-cchi" Ryouta langsung memeluk Seijuurou yang notabene memiliki tubuh lebih mungil darinya. Meski sekarang ia sudah menginjak 21 tahun – beberapa hari yang lalu, Ryouta masih memiliki sifat manja terhadap kakaknya itu.

"Okaeri, Seijuurou" Shintarou memberikan ucapan.

"Okaeri, Nii-san" ucap Daiki.

"Okaeri, Sei Nii-chin" Atsushi memerikan ucapan juga.

"Tadaima" Seijuurou tersenyum lega karna adik – adiknya mempercayainya sekali lagi dan mereka bisa berkumpul kembali dan bisa merawat si bungsu bersama.

_ooOOOoo_

Sepasang kelereng Baby Blue tersimpan rapi di balik kelopak mata pucat yang sedikit menenangkan. Deruan nafas normal meski terdapat alat bantu tak membuat kenyamanan untuk melihat mimpinya terganggu. Surai warna – warni terlihat tengah disibukkan dengan kegiatan masing – masing meski sebuah perasaan yang sama masih menghantui mereka. Si surai kuning terlihat duduk disamping ranjang dengan ukuran Queen Size dengan tangan yang membelai lembut tangan yang terbalut perban dengan rapi.

Di sisi lainnya, terlihat si surai merah disibukkan dengan tangan yang menggenggam tangan yang diperban satunya juga tangan yang lain sibuk mengelus surai Baby Blue yang memanjang. Iris rubynya menatap lembut wajah pucat dengan balutan perban di dahinya dengan wajah yang tak bisa diartikan. Meski telah berkumpul, tapi masih ada hal yang tak bisa dijelaskan oleh kata – kata. Surai hitam dan Navy Blue terlihat duduk di sofa tanpa berniat melakukan hal kecil sementara di dapur, si surai Hijau dan Ungu disibukkan dengan peralatan masak juga bumbu dapur.

"Sei-nii, boleh aku bertanya sesuatu-ssu?" Bisik Ryouta pelan tapi masih bisa di dengar oleh Seijuurou.

"Kau ingin bertanya apa Ryouta?" Ryouta menimang – nimang kata yang tepat untuk pertanyaannya ini, ia menegakkan kepala dan mencoba menatap manik ruby milik kakaknya.

"Apa orang yang bernama Haizaki Shogo itu orang yang membuat Caffe kami kebakaran-ssu?" Seijuurou menghela nafas sejenak.

"Aku tak tau pasti, tapi itu mungkin saja Ryouta. Ntahlah, tapi kalau memang dia, aku tak akan segan – segan menghukumnya lebih berat dari ini" Seijuurou menampilkan kemarahan yang ia pendam.

"Memang pelakunya si Haizaki itu, Sei" Nijimura membuka suara.

"He? Kau yakin Shuuzou?"Nijimura mengangguk.

"Aku melihatnya di ujung gedung tak jauh dari Caffe, aku dengan jelas melihat warna rambut juga seringainya yang membuatku ingin memukul wajahnya. Aku berniat untuk menghajarnya saat itu juga, tapi aku tak punya bukti cukup untuk memukulnya dan menyeretnya ke penjara. Aku masih butuh bukti untuk itu" Jelas Nijimura.

"Kalau soal bukti, Nii-san bisa serahkan padaku. Bukannya mulai saat ini aku akan kembali menjadi polisi, dan sudah saatnya aku memecahkan kasus ini." Daiki menggertak kecil. "Ini akan jadi kasus yang terhebat dan aku akan membuat si Haizaki sialan itu mendapatkan hukuman seberat – beratnya"

"Aku akan membantumu, Daiki. Untuk kali ini, kau harus serius mencari segala bukti untuk menangkap Haizaki itu" Nijimura menatap penuh keseriusan.

"Percaya padaku, Shuuzou-nii"

Ruangan itu sejenak menjadi kembali sunyi, tak ada satu pun yang membuka pembicaraan. Atensi ruangan itu kembali tertarik saat seseorang yang menjadi pusat perhatian membuka mata secara perlahan. Sedikit demi sedikit mencoba mengembalikan fokus pandangam mata yang sedikit buram. Satu hal yang tertangkap matanya ialah lampu ruangan yang berwarna putih terang dengan cat berwarna Cream yang sudah familiar. Baru saja ia menyadari dimana ia berada, surai warna merah dan kuning kembali masuk dalam penghilatannya.

"Tetsuya-cchi, akhirnya kau bangun juga-ssu" Si kuning – Ryouta langsung mengucap syukur dengan airmata yang mengalir di pipinya.

"Ryouta-nii" lirihnya pelan, tersadar akan sebuah elusan ringan di dahi juga di pipinya, Tetsuya mengalihkan pandangan ke arah kanan dan memperlihatkan sang kakak tertua. "Sei-nii?" lirihnya bingung.

"Yokatta kau sudah bangun" Seijuurou mengecup lembut dahi si bungsu yang tertutup helaian rambut juga perban. Bola mata Baby Blue membulat besar tak percaya, benarkah orang yang saat ini mengecup dahinya seperti dulu adalah kakak tertua yang paling ia rindukkan juga ia sayangi? Benarkah?

"S-Sei-nii?" gumamnya tak jelas – antara percaya dan tidak jika itu benar – benar kakaknya.

"Haii, Tetsuya. Kau ingin mengucapkan apa?" Tetsuya terdiam, ia menggeleng karna sejenak otaknya tak bisa berfungsi untuk mengucapkan banyak hal. Senang bercampur haru menjadi penggambaran saat sebutir airmata mengalir di kedua mata beningnya.

"Hei? Sejak kapan kau kembali menjadi Tetsuya yang cengeng hm?" Goda Seijuurou saat melihat melihat anak sungai mengalir di pipi si bungsu. Okeh, Seijuurou tau jika Si bungsu memang merindukannya dan dengan inisiatif ia langsung memeluk tubuh kecil yang secara perlahan ia dudukkan.

Meski tangannya masih terbalut oleh perban juga ada sebuah tusukkan infus di salah satu tangannya tak menjadikan Tetsuya menyerah untuk memeluk sang kakak. Semua yang ada di sana hanya bisa terdiam melihat pemandangan di depan mereka. Bukan karna mereka terperangah juga takjub, mereka hanya ikut merasakan perasaan rindu si bungsu yang tumpah dalam bentuk cairan bening juga pelukkan yang begitu erat sampai tak ingin terlepas. Seijuurou mengelus pelan punggung juga rambut Tetsuya lembut, memberikan kehangatan juga ketenangan.

Pelukkan itu semakin erat, namun perlahan – lahan melemah hingga kedua tangan yang tadinya melingkar erat di belakang punggung sang kakak kini terjatuh begitu saja. Kerutan bingung mendominasi di wajah siapapun yang melihatnya, alis Tetsuya meluncur tajam dengan kebingungan mendalam saat ia mencoba menggerakkan kedua tangannya tapi NIHIL. Ryouta, Daiki, Nijimura dan Seijuurou tau apa yang terjadi, menjelaskannya akan menjadi hal yang sulit.

"Nii-san, tanganku.." Lirih Tetsuya. Seijuurou dengan lembut mengelus surai Baby Blue dan menjauhkan sedikit tubuh si mungil untuk menjauh.

"Tenang saja, itu hanya efek dari luka yang kau dapat" Seijuurou berbohong.

"Benarkah?" Kelereng Baby Blue itu menangkap sedikit kebohongan meski wajah tenang masih tergambar di wajah sang kakak.

"Tetsuya-cchi tenang saja-ssu, tangan dan kakimu baru selesai di operasi karna terkena luka bakar. Kalau tiba – tiba sulit digerakkan itu karna efek samping dari operasinya" Ryouta tersenyum mencoba menutupi kebohongan yang ada.

"….." Tetsuya diam, matanya menyipit tak suka karna ia tau ada yang disembunyikan disana.

"Sebaiknya kau istirahat lagi, Tetsuya. Luka – lukamu masih belum kering" Nasihat Nijimura dengan tubuh yang sama sekali tak beranjak dari sofanya. Lagi dan lagi, Tetsuya melihat ada yang disembunyikan. Begitu ia melihat surai hijau keluar dari dapur diikuti surai Ungu yang membawa satu mangkuk sup panas, tanpa basa – basi, Tetsuya langsung bertanya apa yang terjadi pada dirinya.

"Shintarou-nii" Panggilnya, si surai Hijau melirik dengan senyuman lega karna si Baby Blue telah terbangun dari tidur yang sebenarnya cukup panjang. "Jelaskan apa yang terjadi padaku, kenapa tanganku tiba – tiba tak bisa bergerak?" Sungguh, ini memang seorang Akashi Tetsuya yang tak suka dibohongi dan selalu menuntut apa yang dinamakan kebenaran.

"Ekhem…" Berdeham pelan, Shintarou mendekat ke ranjang si bungsu dan duduk disana. Tangan kiri yang selalu terbalut perban itu menaikkan kacamata dan menghela nafas pelan. "Kau baik – baik saja Tetsuya, hanya saja…" kata – kata itu tergantung dan memaksa Tetsuya untuk berbicara.

"Hanya saja?" Merasa diintimidasi oleh si bungsu, Shintarou mau tak mau menjelaskan.

"Kau harus melepaskan basket untuk selamanya, Nanodayo" Bola mata Baby Blue itu membulat besar dengan tautan alis yang menyatu.

"Hah? Aku harus melepaskan Basket untuk selamanya? M-Masudnya aku tak bisa bermain basket lagi? Kenapa?" Tetsuya tak mengerti, ah kenapa ia harus melepaskan basket?

"Kau tau sendiri kondisimu tak memungkinkan untuk bermain basket, apa lagi kebakaran itu menyebabkan sedikit kerusakkan pada paru – parumu, Nanodayo" Jelas Shintarou panjang.

"Iie! Bukan hanya itu, selama ini aku merasa baik – baik saja. Aku yakin bisa bermain basket tanpa takut sesak nafasku kumat." Tetsuya menatap manik Hijau sang kakak lekat, tak ingin memalingkan barang sekejab atau ia akan mendapati sebuah kebohongan yang lebih pahit lagi. "Katakan padaku, kenapa aku tak bisa bermain basket lagi?" Keras kepala, Tetsuya memang mirip dengan Seijuurou kalau soal sifat yang satu itu.

Shintarou kembali menghela nafas dan menatap sekeliling. Nijimura memberi anggukan, Daiki memalingkan wajah bermaksud tak mendengar apa yang akan di jelaskan, Atsushi segera kembali ke dapur untuk melarikan diri sejenak, Ryouta menunduk sedangkan terakhir, Seijuurou mengangguk dan seolah memberikan kekuatan lebih agar Shintarou menjelaskan apa yang terjadi pada si bungsu. Mereka yang ada disana sebenarnya tak sanggup melihat apa ekspresi si bungsu saat mengetahui apa yang terjadi pada dirinya, tapi inilah takdir kejam yang harus diterima olehnya.

"Gomen Tetsuya, kau tak bisa bermain basket bukan hanya karna paru – parumu yang bermasalah. Menurut prediksiku kau mengalami kelemahan saraf yang membuatmu lumpuh secara semi." Shintarou kembali menaikkan kacamatanya dan menatap si bungsu yang masih menunggu penjelasan lebih. "Luka bakar yang kau terima cukup parah dan merusak sebagian jaringan penggerak pada tangan dan kaki. Kau masih bisa berjalan seperti biasa, tapi tidak untuk waktu lama bahkan selama 1 bulan ini kau harus menggunakan kursi roda untuk memulihkan kembali kakimu seperti semula, Nodayo. Bekas dari operasi juga akan terasa ngilu jika kau bawa berjalan terlalu lama, oleh sebab itu aku sudah menyiapkan Theraphy untuk membuatmu pulih meski tak sempurna" Jelas Shintarou panjang lebar.

"Soukka, jadi aku mengalami kelumpuhan" Tercengang adalah penggambaran seluruh penghuni kamar yang luas itu, jujur saja mereka tak menyangka akan mendapatkan ekspresi yang 180 derajat berbeda dari apa yang mereka fikirkan. Tetsuya tersenyum lega dengan kedua mata tertutup – seolah ini bukan hal yang rumit. "Jya, aku akan istirahat" Tetsuya melirik kearah Seijuurou yang menatapnya tak percaya. "Sei-nii, temani aku." Seijuurou mengangguk kikuk saat Tetsuya kembali merebahkan tubuhnya dan tertidur.

Sebelah tangan Tetsuya memegang tangan Seijuurou, meski tak menggenggamnya, tapi itu lebih dari cukup untuk membuatnya lebih tenang. Melihat Tetsuya yang tersenyum sembari menyembunyikan kelereng Baby Bluenya membuat tanda tanya besar di benak orang – orang yang ada disekitarnya. Tetsuya mereka memang terlihat tegar, bahkan seolah menganggap itu hal biasa yang pernah ia alami. Elusan lembut bahkan kecupan hangat menjadi penghantar si bungsu kembali menuju alam mimpi hingga tanpa disadari siapapun, setetes cairan bening keluar dari balik kelopak mata yang menyembunyikan kelereng Baby Bluenya.

Untuk menjaga istirahat si bungsu, Seijuurou, Nijimura, Shintarou, Atsushi, Daiki dan Ryouta segera beranjak keluar ruangan setelah menyelesaikan santapan makan malam bersama. Mereka berenam berkumpul di depan ruangan si bungsu untuk membicarakan hal penting juga menyusun rencana untuk menangkap biang keladi dari segala permasalahan yang terjadi di keluarga Akashi.

"Jadi, apa kita akan bicara disini?" Tanya Seijuurou.

"Aku rasa disini bukan tempat yang tepat, Nanodayo. Aku memiliki ruangan pribadi di dalam satu gedung ini. aku rasa cukup muat untuk menampung kita semua" Shintarou memberikan seolusi.

"Wakatta, itu lebih baik dari pada membicarakan hal penting di lorong seperti ini" Ujar Nijimura.

"Lalu bagaimana dengan Tetsuya-cchi? Dia sendirian di dalam-ssu" Ucap Ryouta dengan nada khawatir.

"Tenang saja Ryouta, aku sudah menghubungi Imayoshi – san untuk mengirimkan beberapa polisi untuk berjaga" Daiki memberikan senyumannya.

"Aku juga sudah meletakkan segala keperluan Tetsu-chin kalau – kalau ia butuh air atau makanan kecil di samping lemari kecil" Atsushi menambahkan.

"Kalau begitu, aku tak perlu khawatir lagi-ssu"

Mereka mulai beranjak mengikuti langkah kaki Shintarou. Melewati beberapa lorong rumah sakit yang cukup jauh dari kamar Tetsuya dan letaknya terpencil dengan sistem keamanan yang luar biasa –menurut orang awam. Begitu masuk, terlihat jelas tempat itu sangat terawat sama seperti saat Shintarou meninggalkannya beberapa bulan lamanya. Mereka saling duduk berhadapan satu sama lain layaknya orang rapat dengan Seijuurou dan Nijimura yang berada di kedua sudut sebagai pemimpin rapat.

"Baiklah, aku rasa ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakan rencananya" Shuuzou membuka pembicaraan.

"He~~ Aku bahkan belum memikirkan apapun, bagaimana kita bisa langsung menyusun rencananya Nii-chin" Atsushi melirik dengan mata malas andalannya.

"Itu soal mudah, Atsushi. Jangan fikir hanya keluarga Akashi saja yang diberkahi dengan otak yang cerdas dan IQ kalian yang tinggi, ingat keluarga Nijimura juga sama. Ingatlah, ibu kalian itu berasal dari keluarga Nijimura" Celetuk Nijimura Shuuzou dengan mata menantang.

"Kau membanggakan sesuatu Shuuzou?" Seijuurou yang duduk berhadapan dengan Nijimura memasang wajah sinis sekaligus meremehkan.

"Ayolah Sei, kau baru sekali mendengar aku membanggakan marga keluarga yang ku sandang sudah memasang wajah yang seperti itu, kau juga bagian dari Nijimura, Sei" Seijuurou tersenyum kecil. "Baiklah, kita kembali ke topik pembicaraan. Kita akan menyusun rencana untuk menangkap si Haizaki Shogo – Teme itu"

"Caranya bagaimana-ssu? Kita tak cukup punya bukti-ssu" Ryouta angkat bicara.

"Soal bukti itu hanya masalah kecil, kau fikir kemampuanku sebagai polisi yang sudah sering memecahkan kasus memudar hanya karna menjadi pelatih basket, Ryouta" Daiki tersenyum bangga.

"Huh, jangan terlalu sombong Daiki Nii-cchi, aku yakin otakmu itu sudah tumpul karna hanya berisi tentang basket-ssu" Satu jitakan langsung melayang ke dahi si surai kuning. "Daiki-nii, Ittai-ssu." Rengek Ryouta.

"Kalian berisik, Nanodayo." Bentak Shintarou yang langsung membungkam Daiki juga Ryouta. Menghela nafas sejenak, Shintarou menaikkan kacamatanya dan melirik ke arah mereka yang ada di dalam ruangan. "Aku yakin soal bukti Daiki akan mendapatkannya dengan mudah. Tapi masalahnya, yang tau wajah Haizaki itu Cuma Seijuurou dan Shuuzou-nii, lalu bagaimana cara kita menangkapnya? Bisa saja dia berada di sekitar kita" Baru saja Seijuurou akan membuka mulut, Ryouta menyela.

"Aku pernah melihatnya beberapa kali datang ke Caffe" Dahi Seijuurou juga orang – orang yang ada di sana mengernyit.

"Pernah ke Caffe? He~~ Kenapa aku tak ingat dia pernah menjadi pelanggan" Ucap Atsushi.

"Kau yakin dia pernah ke Caffe kalian, Ryouta?" Seijuurou menatap sang adik penuh selidik juga keingin tahuan.

"Haii-ssu, sudah beberapa kali, bahkan saat pertama kali dia datang, dia sudah bisa membongkar rahasia kami. Terakhir kali dia datang adalah untuk mengancam kita dan saat itu aku tak percaya sampai akhirnya Tetsuya-cchi menunjukkan foto Haizaki dan segala kelicikkannya"

"Tetsuya sudah tau?" Tanya Seijuurou, Ryouta mengangguk.

"Tetsuya-cchi bahkan lebih dulu tau daripada aku-ssu."

"Ma, kalau seperti itu kita tak perlu khawatir terjadi sesuatu padanya saat bertemu dengan Haizaki itu. Aku yakin dia bisa lebih berhati – hati, Nanodayo" Ujar Shintarou.

"Itu benar, sekarang rencana selanjutnya bagaimana?" Atsushi mengembalikan ke topik utama.

"Kalau begitu…." Nijimura mulai menceritakan rencana – rencana selanjutnya.

Butuh waktu 2 jam untuk mengatur segala rencana, penyusunan rencana sangat detail meski membutuhkan waktu yang lebih lama. Ketika selesai, satu persatu dari mereka mulai meninggalkan ruangan bermaksud menuju kamar Tetsuya dan menjaganya kembali. Di sisi lain, tanpa pengetahuan siapapun, di dalam kamarnya, Tetsuya sesungguhnya tak tidur bahkan ia mengalami mimpi buruk. Kelereng Baby Bluenya menatap sendu sekelilingnya, ah ia baru sadar jika tak ada seorangpun disana.

Untuk pertama kalinya, ia meremas ujung selimut dengan bibir yang bergetar. Tanpa perlu menunggu waktu lama, butir – butir airmata jatuh dari pelupuk matanya dengan isakkan menyayat bagi siapapun yang mendengarnya. Ah, siapapun pasti akan merasakan kesedihan juga keputus asaan yang sama saat takdir buruk harus ditelan suka maupun tidak. Siapa di dunia ini yang mau mengalami kelumpuhan? Tetsuya berani bertaruh milyaran Yen jika ada yang mau lumpuh seumur hidup di usia muda.

Hey! Tetsuya masih remaja berusia 16 tahun, memikul beban yang lebih berat dari kelima saudara yang lain. Dengan kondisinya yang biasa saja sudah sulit mengalahkan kakak – kakaknya, bagaimana dengan keadaan yang sekarang? Apa Cuma mitos untuknya bisa lebih dari kelima kakak-kakaknya? Basket yang menjadi tolak ukur kesuksesan kakak – kakaknya kini tak bisa ia mainkan lagi, bukan tanpa alasan, kedua tangan dan kakinya menjadi lumpuh semi – akan mudah mati rasa di saat tak terduga.

Tetsuya bukan penderita Ataxia yang lumpuh secara perlahan dan berakhir dengan bertahan hidup di tempat tidur. Dia masih bisa berjalan, berlari, menggunakan kedua dan kaki layaknya anak normal meski dalam waktu singkat. Memiliki tubuh yang lemah bukan sebuah pilihan, tapi apa daya, inilah keadaan yang harus diterima saat keluarganya kembali berkumpul seperti semula. Di tengah kekayaaan dan kemewahan yang ia rasakan, tak ada yang lebih indah selain bisa seperti kakak-kakaknya yang terlihat seperti seekor Elang yang terbang dengan sepasang sayap yang kokoh. Tetsuya Cuma bisa melihat mereka dengan sepasang sayap yang masih belum bisa mengepak sempurna.

Ruangan sepi menjadi saksi bagaimana tangis bungsu keluarga akashi pecah, isakkan juga butir – butiran mengalir begitu deras seolah tak akan pernah ada niat berhenti. Menghantarkan jutaan rasa sakit yang terpendam dan tak mungkin memperlihatkannya di depan orang lain – terlebih di depan kakak – kakaknya. Tetsuya terus bergulung pada kesedihan dalam kesendirian di ruang kamar, hingga tanpa ia sadari pintu kamarnya terbuka dan seseorang mulai mendekatinya secara perlahan.

Suara sol sepatu yang bergesekkan dengan lantai sedikit membuatnya tersentak, saat itu pula kelereng birunya menatap seseorang yang kini sudah berdiri dihadapannya – ah tidak, sudah duduk di samping ranjangnya sembari menghapus butiran bening yang turun. Tanpa menunggu perintah, otaknya mulai memberi intruksi pada tubuhnya untuk bergerak dan memeluk orang yang baru saja datang itu. Sungguh, ia mengabaikan jika tangannya hanya bisa memeluk dalam waktu singkat, tapi balasan dari pelukkkan itu membuatnya ingin bertahan diposisi yang sama dalam waktu lama.

"Daijoubu, keluarkan segala kesedihanmu." Gumam orang itu tepat saat Tetsuya menenggelamkan tubuhnya dalam pelukkan hangat.

Kali ini Tetsuya membuang segala hal tabu yang mengatakan pria tak boleh menangis karna kesedihan. Tetsuya menumpahkan segala perasaannya dalam pelukkan hangat orang itu, mengungkapkan segala yang ia rasakan seperti seseorang yang mencurahkan segala keluh kesah meski hanya dalam sebuah isakkan kencang. Tak hanya dari sebuah isakkan, tapi terdengar pula lirihan – lirihan yang tak jelas karna sesenggukkan.

Tangan lembut membelai helaian Baby Blue, berusaha memberi ketenangan juga menyalurkan kekuatan yang ada. Berharap si Baby Blue menyerap energi positif dan kembali seperti semula. Tepukkan di punggung – seolah memanjakan – Tetsuya untuk terus mengadu apa yang ia rasakan. Remaja yang masih membutuhkan peran orangtua untuk berbagi kisah dan membantunya. Saudara memang berperan untuk menjadi teman juga sebagai pelindung, tapi orang tua berperan lebih sebagai tempat berkeluh kesah, dan itu pula yang tak Tetsuya miliki semenjak ia berusia 5 tahun.

Dari balik pintu kamar, 6 orang pemuda hanya bisa diam mematung menyaksikan apa yang terjadi di dalam kamar. Bibir mereka terkatub rapat dengan tangan yang mengepal kesal. Mata mereka mengekspresikan kekhawatiran, kesakitan, juga kemarahan disaat yang sama. Sumpah demi sumpah mereka ucapkan dalam hati, berharap secepatnya menghukum orang yang telah membuat harta berharga mereka merasakan kesakitan yang sangat parah. Bukan hanya dari segi fisik, tapi juga mental si bungsu.

'BERSIAPLAH, HAIZAKI-TEME!'

To Be Continue...

.

.

.

Doumo Minna, Lian udah kembali dengan chapter 17nya,, gimana? apa feelnya udah dapat? mungkin masih belum sih, lian masih perlu belajar lebih lagi.. FF ini mungkin akan selesai sampai 20 Chapter, tapi kalau kiranya masih menggantung LIan akan bikin sampek 23 Chapter mungkin.. Hehehehe

Kalian tenang ajah, Lian bakalan ngetik FF lagi koq, setelah White Crystal selesai, Lian udah siapin FF baru meskipun masih dalam tahap pengembangan ide juga karakter.. Judul sama alur udah dapat koq.. Judulnya 'I'm In Your Eyes' setelah FF white Crystal selesai, lian akan mencoba untuk bikin FF genre angst yang lebih dari yang pernah lian ketik. Mungkin sedikit sulit nentuin diksi yang mudah di pahami juga mneyentuh, namun setidaknya lian akan mencoba lebih baik lagi.. Oh ya,, ada juga sih yang nyumbangin ide ke lian.. Makasih banget, Ide itu bisa jadi buat masukkan FF Lian lainnya..

Akhir kata, Lian mau ucapin makasih banyak yang sudah nunggu FF LIan.. Untuk yang review, Favorite, dan Follow. Untuk kali ini lian mohon maaf gak bisa balas review karna LIan mau ngeluangin waktu lebih banyak untuk ngetik FF lagi.. Thanks you so much for you all.

Nb : Tolong jangan kirimi Lian Kuntilanak, GUnting terbang + Roh gentayangan karna Fanfic yang sering To Be Continue di saat tak terduga juga bikin Baper.. (LIan seringan ngetik tengah malam tauk) serem kalau ada yang nemeni ngetik, bukannya jadi genre family, ntar jadi cerita horor.. -_-"

Next Chapter 18 : This is Akashi