Tittle : White Crystal

Maincast : -Akashi Seijuurou

- Kuroko Tetsuya

- Aomine Daiki

- Kise Ryouta

- Murasakibara Atsushi

- Midorima Shintarou

Suport Cast : - All of Kuroko No Basuke Chara

Author : Lian (VT_Lian1995)

Genre : Family, Slice Of Life, School Life, Brotheship, Little Comedy, Sad, Hurt.

Attention : This chara not mine, this chara from Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi – sensei.

Little information : Seluruh nama Cast akan menggunakan nama Akashi karna ini berhubungan dengan kisah keluarga Akashi. Jadi di mulai dari Tetsuya sampai Shintarou akan menggunakan nama depan Akashi.

Summary : Akashi Tetsuya, bungsu dari 6 bersaudara keluarga Akashi harus menangung beban berat di pundak untuk memberikan kesan betapa hebatnya keluarga Akashi. Tapi sayangnya, apapun yang ia lakukan pasti sudah pernah dilakukan oleh ke – 5 kakaknya. Apapun itu, segala yang Akashi Tetsuya raih seolah hanya sia – sia, terlebih jika dibandingkan dengan fisik ke – 5 kakaknya, Tetsuya jauh lebih lemah, namun tak menampik kemungkinan ia bisa jadi lebih kuat walau usahanya akan mendapat resiko yang tinggi. Ini demi menjunjung tinggi motto dari sang Ayah yang telah tiada "Pemenang akan mengukir sejarah dan yang kalah akan menjadi pecundang yang terlupakan."

"Jika kau katakan menjadi bungsu keluarga Akashi merupakan anugrah, tapi bagiku tidak. Beban yang ku tanggung lebih besar dari Ke-5 saudaraku yang lain"

_ooOOOoo_

Chapter 18

%^This is Akashi^%

Saluran TV seluruh jepang seketika dihebohkan oleh berita terbaru dari salah satu model yang menghilang selama lebih dari 6 bulan muncul kembali. Tak hanya itu, Polisi muda terbaik yang namanya sudah terkenal, Chef dengan kemampuan taraf internasional dan Dokter muda yang sudah diakui seluruh Asia juga muncul disaat yang bersamaan. Seluruh media meliput dan mencari tahu apa yang terjadi pada mereka semua, termasuk menghilangnya mereka tanpa jejak.

6 Orang pemuda duduk bersebelahan di belakang meja panjang beserta Microfon di depan mereka masing – masing, tak luput sorotan lampu juga kamera menjadi pemandangan yang tak asing lagi bagi mereka. Jepretan flash kamera yang menyilaukan terus – terusan mengambil potret gambar orang – orang yang sebenarnya berpengaruh di seluruh negeri bahkan kesempurnaan yang dimiliki sudah terkenal seantero Jepang.

"Akashi Ryouta-kun, Kau seorang model yang semakin bersinar, kemana saja Kau dan juga kakak – kakakmu 6 bulan belakangan ini? Apa yang terjadi sampai kami tak bisa menemukan jejak kemana kalian pergi?" tanya salah satu wartawan di Televisi.

"Ah, Gomen-ssu. Bukannya aku mau menghilang, tapi aku dihukum oleh Sei Nii-cchi" Ryouta menjawab dengan sebuah senyuman manis di bibirnya.

"Apa itu benar, Akashi Seijuurou-sama?" Tanya Wartawan lain.

"Haii, hanya memberikan hukuman kecil pada mereka" Seijuurou membenarkan.

"Memangnya apa hukuman untuk kalian?" Wartawan lain juga ikut bertanya.

"Kami hanya berusaha melakukan segala hal tanpa menggunakan nama Akashi juga harta yang terlah kami miliki. Yah, setidaknya aku melepaskan jabatanku sebagai Polisi dan berpindah profesi sebagai pelatih basket" Daiki menjawab santai.

"Hmm~~ Aku juga harus menjadi Chef di Caffe kecil bersama Shin Nii-chin sebagai pembuat Minuman" Atsushi menambahkan.

"Kami membuat usaha kecil berupa sebuah Caffe dan yang menjalankannya adalah kami semua, Seijuurou hanya ingin menguji bagaimana kemampuan kami jika tak menggunakan marga Akashi, Nanodayo" Shintarou menaikkan bingkai kacamatanya. "Bukannya aku melebihkan, tapi kami memang berhasil meski sekarang Caffe itu terbakar habis, Nodayo"

"Terbakar?" Salah satu wartawan mengernyit.

"Haii-ssu, padahal itu adalah Caffe yang kami kerjakan bersama tapi harus terbakar habis.-ssu. Karna itulah, Seii-Nii menghapus hukuman dan mengembalikan pekerjaan kami semula" Ryouta tersenyum getir.

"Lalu, kenapa Nijimura Shuuzou-sama ada di sini?" Salah satu wartawan kembali bertanya.

"Kalau soal itu, aku hanya kebetulan bersama mereka belakangan ini. Tak salahkan jika aku mengunjungi sepupu – sepupuku?" Senyuman lega tertoreh di wajah 5 orang pemilik marga Akashi itu.

"Shuuzou-Nii memang sedang berkunjung, sekalian kami sedang ingin berkumpul, sebentar lagi ulang tahun Daiki-nii, jadi kami berniat untuk merayakannya bersama" Jawab Daiki.

"Ch, seperti selalu berkumpul saat merayakan hari ulang tahun meski bukan remaja lagi." Daiki menjawab seadanya.

"Sebentar, sepertinya ada yang kurang dari jumlah kalian. Bukannya kalian 6 bersaudara kan?" Tanya lainnya.

"Kami memang 6 bersaudara, tapi~~" Atsushi memasang wajah sedih, termasuk lainnya dengan wajah tertunduk.

"Gomen, kami baru saja berduka." Ucapan si sulung membuat suasana serentak menjadi sunyi, "Kami kehilangan salah satu anggota keluarga kami karna insiden kebakaran di Caffe yang mereka dirikan" Seijuurou menunduk – diikuti yang lainnya.

"Adik paling kecil mereka terjebak dalam kebakaran di Caffe, waktu itu kami sempat mengeluarkannya dari tempat kejadian, tapi nyawanya tak sempat tertolong karna sejak kecil ia memiliki sesak nafas dan menurut pemeriksaan, dia terlalu banyak menghirup asap. Luka bakar yang ia terima juga cukup parah dan yah,, kami sekarang harus kehilangannya" Nijimura menjelaskan panjang.

"Apa yang kalian maksud si bungsu Akashi Tetsuya yang seminggu lalu membawa Seirin menjadi pemenang Inter High dua kali berturut – turut?"

"Haii-ssu" Gumam Ryouta pelan dengan butiran – butiran air mata yang jatuh dari kelopak matanya.

"Kami turut berduka cita" Salah satu wartawan mengucapkan turut berbela sungkawa.

"Arigatougozaimasu" Ucap Seijuurou dengan wajah tenang tapi mengekspresikan kesedihannya.

Berita itu dengan cepat tersebar ke seluruh Jepang, tak luput seluruh Sekolah juga telah mendengar mengenai berita pemain bayangan Seirin yang sudah terkenal itu. Para pemain basket sudah pasti mengenal Tetsuya mengucapkan bela sungkawa juga mengungkapkan kesedihan mereka. Diantara seluruh sekolah, Seirin lah yang sebenarnya paling terpukul karna kehilangan Kouhai, teman juga rekan yang membantu mereka untuk menjadi juara serta membuat Seirin menjadi salah satu sekolah yang terkenal.

Gymnasium Seirin sekarang berisikan segala kesedihan juga duka terlebih Momoi serta Kagami yang menangis kencang saat mendengar berita itu. Aida Riko yang merupakan pelatih mereka juga tak kuasa menahan airmatanya saat mendengar berita itu. Guru – guru beserta para murid mengungkapkan turut berduka cita atas apa yang menimpa Tetsuya. Hari itu, tim basket Seirin sengaja diliburkan dari latihan untuk memberikan waktu bagi para pemain agar menjadi lebih tenang.

Selesai mengadakan pembicaraan terbuka itu, Seluruh anggota keluarga Akashi beserta Nijimura bergegas pergi. Wajah – wajah suram masih tergambar di sana, terlebih Ryouta yang masih setia menghapus cairan bening di pipinya. Ketika tak ada lagi kerumunan atau orang – orang disekitar mereka, saat itu pula senyuman lega juga wajah – wajah tenang kembali terlihat. Ryouta bahkan dengan santai menghapus cairan bening yang sempat tumpah dengan sapu tangan dan tersenyum senang.

"Acting ku baguskan-ssu?" Tanya Ryouta ceria.

"Hmph, Biasa saja Nanodayo" komentar Shintarou.

"Acting Ryouta-chin sudah biasa, tanpa acting juga, Ryouta-chin sudah terbiasa menangis. Apa lagi saat Tetsuya-cchi menolak ajakkan Ryouta-chin" Atsushi menjawab dengan cemilan di tangannya.

"Hidoii-ssu! Nii-cchi tachi tak pernah menganggapku benar – benar bisa-ssu. Hidoi-ssu!" Ryouta menghentak – hentakkan kakinya kesal.

"Berisik Ryouta! Kau mau orang – orang mendengar suaramu" Daiki memukul pelan kepala Ryouta.

"Ma, berhentilah bertengkar. Aku rasa usia kalian sudah lebih dari cukup untuk berfikir dewasa" Nijimura menengahi. "Sekarang tinggal melakukan rencana selanjutnya, bagaimana menurutmu Sei?"

"Kalian lanjutkan saja, kartu As disimpan untuk hal penting kan?" Seijuurou menjawab tenang.

"He~~ Selama kami melanjutkan rencana, apa yang akan Sei Nii-chin lakukan?" tanya Atsushi.

"Menghabiskan waktu bersama Tetsuya… mungkin" Seketika tatapan tak suka beserta keinginan untuk protes tercetak di wajah keempat adik – adiknya.

"Sei, sebentar lagi mereka akan mengamuk padamu" Nijimura menyindir.

"Oh, Soukka. Aku tak peduli mereka mau protes ataupun mengamuk, rencana ini juga sudah mereka setujui" Seijuurou terus melangkah dan membuka pintu mobil dengan santai.

"Curang-ssu, mengambil kesempatan dalam kesempitan-ssu" Ryouta protes.

"Bukannya aku ingin ikutan, tapi seharusnya menghabiskan waktu dengan Tetsuya lebih banyak adalah aku, Nanodayo. Aku dokter yang harusnya mengurus Tetsuya, Nanodayo" Shintarou ikut melancarkan protesnya.

"Aku juga harus membuatkan makanan untuk Tetsu-chin" Atsushi melancarkan Protes dengan nada malas.

"Ch, kenapa Cuma aku yang tak punya alasan untuk bisa menjaga Tetsu?!" Gerutu Daiki. Nijimura yang melihat hanya bisa menghela nafas.

"Sudalah, setelah ini selesai, kalian bisa menghabiskan waktu dengan Tetsuya" Tak ada lagi protesan terdengar dari mulut mereka, terlebih Seijuurou sudah terlihat menjauh dengan Mobilnya.

Nijimura dan Shintarou langsung pergi menggunakan mobilnya menuju Mansion Akashi sedangkan Daiki, Ryouta, dan Atsushi mulai bergegas ke tempat mereka bekerja masing – masing sembari menyiapkan rencana selanjutnya. Jangan tanyakan kenapa mereka memutar balikkan fakta mengenai Tetsuya, ini hanya salah satu rencana untuk melindungi si Baby Blue sampai ia kembali seperti semula.

Langkah Seijuurou terlampau tenang terlebih dengan senyuman merekah di bibirnya bersama dengan sekantung Vanilla milkshake juga makanan yang menjadi Favorite si bungsu. Segelintir orang – orang di rumah sakit yang menyadari kehadiran Seijuurou mengingat ia menggunakan lift khusus yang langsung terhubung dengan kamar si bungsu. Begitu pintu lift terbuka, ia segera masuk tanpa mengetuk atau setidaknya memberi isyarat akan segera masuk.

Pemandangan yang tertangkap mata rubynya adalah Tetsuya yang sedang tersenyum sembari sedikit bergurau dengan seseorang. Senyuman seketika merekah di bibir Seijuurou melihat adik bungsunya lebih ceria juga lebih tegar dari biasanya. Langkahnya perlahan sedikit mencuri pandang ke arah Seijuurou, Tetsuya tersenyum hangat beserta sapaan khas yang menyentuh telinganya.

"Nii-san?" Sapa Tetsuya.

"Yo, Tetsuya" Seijuurou mendekat dan mengusap pelan surai Baby Blue lembut itu.

"Konichiwa, Seijuurou-sama" Sapa pria yang menemani Tetsuya.

"Konichiwa, Tanaka-san. Arigatou karna sudah menjaga Tetsuya selama kami pergi" Tanaka tersenyum simpul.

"Itu sudah menjadi kewajiban saya, Seijuurou-sama" Tanaka membungkuk hormat.

"Sebaiknya kau istirahat saja Tanaka-san, aku ingin menghabiskan waktu bersama Tetsuya" Tanaka membungkuk lagi.

"Haii" Tanaka menatap Tetsuya sejenak kemudian berpamitan. "Saya duluan, Tetsuya-sama"

"Haii" Tetsuya tersenyum manis, Tanaka segera beranjak dan kembali pulang untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Kini tinggallah si sulung beserta si bungsu berdua.

"Bagaimana keadaanmu sekarang Tetsuya?" Seijuurou masih mengelus rambut Si bungsu.

"Seperti yang Nii-san lihat, masih sama dan belum ada perubahan yang berarti." Tetsuya menghela nafas dan memutar bola mata lelah. "Boleh aku tanya sesuatu Nii-san?"

"Hm?"

"Bukan hal penting, hanya saja aku mau protes mengenai berita tentangku. Aku masih hidup, tapi kenapa Nii-san mengatakan aku sudah mati? Ayolah Nii-san, itu menjengkelkan" Okeh, Ini untuk pertama kalinya Seijuurou ingin mencubit pipi Tetsuya sekuat mungkin sampai memerah. Ekspresi yang biasanya datar, atau mungkin hanya seadanya kini terlihat sangat menggemaskan. Bibir terpaut, alis yang mengerut serta tatapan protes dengan pipi yang menggembung menjadikan wajah si bungsu 1000 kali lebih imut meski usianya sudah 16 tahun.

"Jangan memberikan ekspresi kesal seperti itu, Tetsuya. Ini kami lakukan untuk melindungimu" Seijuurou mengambil bungkusan Vanila Milkshake dan menunjukkan dengan wajah jahil. "Nii-san akan memberikan Milkshake ini jika Tetsuya mau mendengar penjelasan dari Nii-san" Mendengar minuman favoritenya disebut, Tetsuya sontak melirik ke arah Seijuurou. Benar saja, kakaknya sedang tersenyum jahil dengan iming – iming Vanilla Milkshake di tangannya.

"Nii-san curang, kenapa bawa – bawa Vanilla Milkshake hanya untuk menjelaskan" Tetsuya kembali menggembungkan pipinya namun tangannya menerima minuman yang tak bisa ia tolak.

"Sekali – sekali berbuat curang bukan masalah kan?" Tetsuya hanya mendengus kesal. "Baiklah, Nii-san minta maaf karna memalsukan keadaanmu di depan publik karna ini bagian dari rencana yang kami susun. Berita palsu ini tak hanya melindungimu, tapi ini juga akan memancing Haizaki itu untuk keluar dari persembunyiannya" Tetsuya mengernyit.

"Kalian bermaksud menangkap Haizaki itu?" Seijuurou mengangguk.

"Haii, kami akan menangkapnya dan memberikan hukuman setimpal karna perbuatannya yang mengganggu ketenangan keluarga kita, terlebih padamu Tetsuya" Tetsuya tersenyum miris, ah ia teringat lagi dengan apa yang terjadi padanya. "Tenang saja, dia akan membayarnya"

"Dia memang membayar segalanya Nii-san, tapi tetap saja aku tak bisa kembali bermain basket. Ah tidak hanya basket, segala aktivitasku juga terhambat karna kondisiku. Dan untuk sekolah—" Tetsuya berhenti sejenak, dia ingat satu hal. Buru – buru ia melirik ke arah Seijuurou, "Nii-san, bagaimana dengan sekolahku? Mereka pasti percaya jika aku mati" Tetsuya langsung panik seketika.

"Tenang saja, kau bisa menghubungi gadis itu dan mengatakan kalau kau masih hidup. Jangan lupa katakan padanya untuk merahasiakan keadaanmu dari siapapun, setelah semua selesai, kau akan kembali ke sekolah dan kami akan mengkonfirmasi ulang mengenai keadaanmu di depan media." Seijuurou tersenyum lembut. "Akashi Tetsuya masih hidup dan semuanya hanya sandiwara untuk menangkap seseorang"

"Lalu bagaimana dengan sekolahku?"

"Kau bisa masuk seperti biasa, tapi Nii-san akan siapkan beberapa bodyguard untuk mengawasimu"

"He? Kenapa?"

"Hanya untuk antisipasi jika sewaktu – waktu kau akan terjatuh atau terjadi sesuatu yang tak diinginkan, mereka bisa melindungimu, Tetsuya" Tetsuya segera memalingkan wajahnya kesal.

"Aku tak selemah itu, Nii-san"

"Kau memang tak lemah, kau bahkan lebih kuat dari pada kami semuanya. Ini Nii-san lakukan hanya untuk menjagamu Tetsuya, kau tau sendirikan kondisimu bagaimana?" Tetsuya mengangguk.

"Aku tau, tapi aku tak mau sampai ada bodyguard yang menjagaku. Mungkin Kagami-kun sudah cukup"

"Jangan merepotkan orang lain, Tetsuya. Nii-san hanya ingin yang terbaik untukmu" Tetsuya mendesah kecil, rasanya ingin protes lagi, tapi ia urungkan karna percuma. Sifat absolut kakaknya memang tak bisa lagi ditolerir.

Tetsuya memalingkan wajah sembari menatap Vanilla Milkshake nya. Baru saja akan meminumnya, kembali tangannya mati rasa hingga gelas plastik itu meluncur jatuh dari tangannya. Reflek yang dimiliki Seijuurou memang hebat, tangannya dengan cepat menangkap gelas itu dan hampir saja membuat selimut beserta ranjang Tetsuya basah. Tangan putih pucat Tetsuya terkulai begitu saja, ah ini memang bukan yang pertama tapi ntah kenapa ada tusukan tajam yang menembus jantung Tetsuya saat melihat keadaannya yang lemah.

Sapuan halus di rambutnya membuat Tetsuya bergeming, tangan besar yang akhir – akhir ini sangat lembut seperti mentransfer energi positif untuknya. Dapat Tetsuya rasakan tangan itu menariknya dan menyatukan dua surai berbeda warna dengan jarak yang dekat. Ah, Perlakuan yang sama saat ia masih kecil dulu. Saat Tetsuya demam juga saat dimana Tetsuya merasakan menjadi orang yang paling rapuh, Seijuurou akan melakukan hal yang sama. Menempelkan kedua kepala mereka sembari tangannya mengelus lembut surai Baby Blue milik Tetsuya.

Sensasi lembut juga tulus membuat fikiran yang tadinya kalut perlahan – lahan mulai tenang. Tetsuya bersyukur memiliki kakak yang memperlakukannya seperti ini, selalu ada saat dirinya benar – benar jatuh juga terpuruk. Disaat kedua orangtuanya tak ada, kakak – kakaknya selalu ada disampingnya. Menyalurkan curahan kasih sayang juga ribuan kesenangan beserta tingkah konyolnya agar senyuman di bibir Tetsuya tak luntur

"Daijoubu, kau bisa melewati ini. Nanti saat kau sudah lelah menjalani segalanya, serahkan semuanya pada Nii-san tachi-mu. Katakan segala alasan dari kelelahan yang kau rasakan, setelahnya, kami akan berusaha untuk merampas rasa lelahmu" Seijuurou menghela nafas sejenak. "Kau tak sendiri Tetsuya, Nii-san tachi selalu ada disampingmu. Segala hal yang akan kau lalui kedepannya memang akan semakin sulit, tapi kau memiliki satu hal yang tak kami punya saat seusiamu" Tetsuya menatap Seijuurou bingung.

"Apa itu Nii-san" Seijuurou tersenyum lembut.

"Kau pantang menyerah, Tetsuya. Nii-san tachi-mu tak memiliki itu karna dahulu kami melakukannya dengan sangat mudah, berbeda denganmu yang harus berusaha lebih gigih. Jika Nii-san di posisimu, mungkin Nii-san akan menyerah diawal"

"Jadi… Apa hanya dengan pantang menyerah aku bisa mengalahkan Nii-san tachi?" Tanya Tetsuya, Seijuurou mengangguk.

"Berusahalah, kerja keras itu tak akan sia–sa, Tetsuya. Semakin banyak hal yang kau coba, maka kesempatanmu akan semakin banyak" Seulas senyuman terukir di bibir mungil Tetsuya.

"Soukka, aku akan berusaha" Sejuurou sedikit menjauhkan dirinya namun tak melepaskan usapan lembut di kepala Tetsuya.

"Bagus, kau memang adik kebanggaan kami" ucap Seijuurou lembut.

"Ah, Nii-san, boleh aku meminta sesuatu?"

"Apa itu?"

"Aku rasa Seirin dan yang lainnya tak perlu tau jika aku masih hidup, lambat laun mereka juga akan tau dan bisa jadi itu akan menjadi kejutan untuk mereka"

"Haii, Nii-san mengerti"

_ooOOOoo_

Pria bersurai Abu – abu terlihat tengah tertawa bahagia melihat setiap stasiun televisi menampilkan berita kematian Akashi Tetsuya. Tawanya semakin meledak saat melihat ekspresi – ekpresi anggota keluarga Akashi yang meneteskan airmata juga memperlihatkan raut wajah sedih. Ia sangat senang, bahkan ia sudah mempersiapkan berbotol – botol Wine untuk pesta. Tak tanggung – tanggung, meskipun Cuma bawahan di perusahaan Akashi Corp, tapi ia memiliki banyak uang untuk sekedar dihamburkan.

"Sudah ku katakan, berhati – hatilah terhadap bom waktu yang ku pasang. Sekarang, kalian yang kuat sudah runtuh, yah, meskipun kalian kembali ke pekerjaan awal, tapi aku rasa tak ada alasan untuk kalian bekerja jika yang kalian lindungi sudah tak ada" Pria itu menghardikkan bahunya.

Senyuman, tawa dan segalanya benar – benar membuatnya tertawa senang. Ketika layar televisi memperlihatkan bagaimana Caffe yang rata dengan tanah membuatnya semakin tertawa terpingkal, kemenangan yang manis. Malam ini, Haizaki siap menikmati kemenangan atas mantan bosnya yang berkepala merah dengan segala kesempurnaan yang berhasil ia hancurkan.

Sementara itu, Ryouta telah siap ke lokasi pemotretan selanjutnya. Lokasi kali ini diambil di pesisir pantai dengan tema 'End of summer'. Sejujurnya mata Ryouta sedikit risih dengan para gadis – gadis yang akan menjadi background pemotretannya kali ini. Meskipun baru saja kembali kedunia model, sang manager – Kasamatsu Yukio – sama sekali tak memberikan keringanan sedikitpun. Temanya memang 'End Of Summer' tapi hal yang paling ia benci adalah harus berfoto dengan para gadis yang memakai bikini. Ugh, saat ini Ryouta berharap sebuah keajaiban yang bisa menukar posisinya dengan sang kakak yang mempunyai kadar mesum tertinggi – Akashi Daiki.

"Haruskah aku berfoto dengan mereka-ssu?" Gerutu Ryouta saat sedang sibuk merapikan tatanan rambutnya.

"Bukankah itu suatu keuntungan, banyak model di luar sana yang berharap bisa berfoto dengan para gadis itu" respon Kasamatsu sembari memeriksa jadwal Ryouta selanjutnya.

"Itu membuatku risih-ssu"

"Lalu kau mau bagaimana? Para gadis itu di butuhkan sebagai model untuk trend bikini terbaru"

"Soal itu aku mengerti-ssu. Yang membuatku risih, kenapa aku harus berpose seperti orang mesum sedangkan mereka berpose sexy?! Aaaah,,, aku jadi ingin menolak tawaran ini dan menemani –" Ryouta buru – buru menutup mulutnya. Hampir saja ia menyebut nama sang adik yang harus di sembunyikan.

"Menemani? Menemani siapa?" Kasamatsu mengernyit saat melihat gelagat aneh dari modelnya ini.

"I-itu, aku akan menemani Shintarou-Nii di rumah sakit atau mungkin mengganggu para maid di rumah" Ryouta segera menyelesaikan tatanan rambutnya dan langsung bergegas ke lokasi.

Pemandangan pantai yang indah juga lautan biru yang berkilau bak taburan berlian indah menghias. Mata Ryouta berbinar bahagia menatap pemandangan indah itu, ah mengingatkannya pada pantai pulau pribadi milik keluarga Akashi yang pernah sang Ayah beli. Tempat yang selalu menjadi tujuan saat mereka liburan musim panas selama seminggu tanpa ingin diganggu oeh rekan bisnis maupun oleh kenalan, liburan yang hanya diisi oleh seluruh keluarga Akashi.

"Ryouta, kau akan berpasangan dengan beberapa gadis dengan posisimu yang ada di tengah" Bibir Ryouta seketika mengerucut tajam.

"Kenapa harus berpose seperti itu-ssu? Bisakah yang lain-ssu?"

"Kalau kau ada ide bagus, mungkin bisa ku pikirkan"

"Bagaimana jika aku berpose sendirian seperti biasa sedangkan mereka terlihat seolah – olah hanya pengunjung biasa-ssu?" Dahi sang fotografer mengernyit dengan dagu bertumpu pada ibu jari dan jari telunjuk. "Ah, maksudku membuat seolah – olah mereka tak perduli-ssu. Temanya 'End Of Summer' jadi aku fikir lebih baik terlihat normal dari pada terlihat seperti berfoto bersama" Sang fotografer masih berfikir.

"Hm, mungkin itu bisa dicoba. Masalah utamanya adalah kita juga sedang memperkenalkan pakaian renang wanita terbaru dan terlihat seolah – olah kau menyukainya"

"Itu mudah-ssu, aku tak perlu berfoto dengan mereka cukup tambahkan sedikit tulisan mengenai pakaian renang wanita yang ku suka lalu buat fotonya seolah – olah aku sedang mengkhayalkan mereka memakai pakaian yang ku sukai itu. Mudahkan-ssu?"

"Baiklah, tapi kau harus profesional dalam memasang berbagai ekspresi"

"Okey-ssu" Ryouta mengacungkan ibu jarinya dan mulai bersiap.

Ryouta sangat trampil memainkan 1001 ekspresi yang sesuai untuk kebutuhan sang fotografer. Begitu banyak foto yang diambil bahkan lebih dari yang seharusnya, meskipun tak semuanya akan dicetak dalam photobooknya, sisa foto akan dijual sebagai bonus juga sebagai fans service. Keuntungan yang Ryouta dapatkan akan disumbangkan untuk orang – orang yang kurang mampu dan untuk sebagian anak – anak yang sempat putus sekolah. Ini sudah di setujui oleh agensi juga para staff yang membantunya. Jika masih ada lebih, Ryouta dengan suka rela membagi – bagikannya untuk mereka yang sudah membantu.

Meskipun dahulu juga sering ia lakukan, tapi dulu ekspresi wajahnya seolah tak peduli karna kekayaan keluarganya tak akan habis hanya dengan menghamburkan uang, tapi kali ini ada senyuman tulus yang tercetak di bibir Ryouta. Setidaknya ia pernah mengalami kehidupan yang sulit tanpa uang bersama 4 saudaranya, sekarang ia kembali menikmati kemewahan juga penghasilannya sebagai model juga sebagai pilot muda.

Selesai pemotretan, Ryouta kembali ke penginapan dan bersiap untuk jadwal selanjutnya. Ketika ia hendak bersantai sejenak, getaran pada smartphone membuatnya terkesiap. Nama Daiki-Nii tertera pada layar ponsel, seulas senyuman simpul terukir dibibirnya. Ia menyentuh layar dan menjawab sambungan telfon itu.

"Moshi – moshi, Ryouta desu" jawabnya dengan suara jahil.

"Hentikan nada bodohmu itu, Ryouta" Gertak suara di sebrang sana, Ryouta memajukan bibirnya kesal.

"Haii-ssu, ada apa Nii-cchi?"

"Aku sudah menemukan lokasi si Teme itu" Mata Ryouta berbinar senang.

"Sugoii na, kita berhasil menemukannya secepat ini. padahal belum sampai satu hari kita mengumumkan berita palsu itu-ssu"

"Kau menganggap remeh kemampuanku, Ryouta?"

"Tidak, bahkan aku kagum-ssu. Ternyata aku memiliki seorang Aniki yang tak hanya sebagai seorang yang mesum, tapi memiliki otak yang berfungsi" Daiki berdecih.

"Kau memuji atau menghina Ryouta?" Nada Daiki meninggi.

"Hahahaha, Gomen-ssu, aku hanya bercanda Nii-cchi"

"Cih, jika berdebat denganmu aku yakin tak ada habisnya Ryouta." Daiki terdiam sejenak, "Lokasi si teme itu akan sama dengan lokasi pemotretanmu minggu depan. Selesai pemotretan, kau harus mengawasinya selama yang kau bisa. Aku akan menyuruh Sei-Nii untuk membuat jadwalmu lebih kosong untuk mengawasinya"

"Itu mudah-ssu, lalu apa Nii-cchi sudah berhasil menguasai teknik baru itu-ssu?"

"Maksudmu pengincaran titik vital itu?" Ryouta tak menjawab, tapi Daiki sudah mengerti apa yang dimaksud sang adik. "itu mudah, tinggal menunggu penyusunan rencana dari Sei-Nii, pengarahan dari Shuuzou-Nii dan tentu saja umpan yang sudah di siapkan oleh Shintarou- Nii dan Atsushi-Nii"

"Haaah,, aku tak sabar untuk segera menangkap orang itu-ssu"

"Aku juga, bahkan aku tak sabar untuk melumpuhkan tubuhnya dan membuatnya menderita seumur hidup karna telah membuat Tetsu seperti itu" Ryouta menghela nafas dengan tangan yang mengepal.

"Etto, selain pengintaian, boleh aku meminta satu hal padamu Nii-cchi?"

"Kau mau meminta apa, Ryouta?"

"Izinkan aku ikut dalam penangkapanya-ssu" Ryouta menggigit bibirnya dalam, "A-aku, aku ingin benar–benar melihatnya tertangkap dengan mata kepalaku sendiri-ssu. Aku—" Ucapan Ryota terputus saat Daiki menjawab cepat.

"Tentu saja, kau akan membawa helikopter kepolisian. Aku sudah meminta izin pada komandan tertinggi dan mereka mengizinkannya, sebaiknya kau persiapkan mental dan untuk rutenya, akan ku beri tahu nanti" Ryouta tersenyum kecil, namun entah kenapa sebutir airmata jatuh dari pelupuk matanya.

"Arigatou Nii-cchi, aku akan lakukan yang terbaik untuk Tetsuya-cchi" suaranya terasa bergetar juga serak.

"Hoi, jangan bilang kau sedang menangis disana Ryouta? Kau sudah 21 tahun dan sikapmu masih saja seperti anak kecil yang cengeng" sindir Daiki.

"Aku tidak menangis-ssu, a-aku sedang senang"

"Baka, kau fikir siapa yang sudah bersamamu sejak kita kecil hah? Semua juga tau kalau kau itu cengeng, apa lagi menyangkut Tetsu"

"Nii-cchi!" bentak Ryouta yang berusaha untuk tak terdengar serak. "Nii-cchi tau sendirikan aku dulunya yang paling kecil diantara kalian? Selalu diperlakukan seperti aku yang paling manja, dan jangan lupakan apa yang kalian lakukan padaku sama sekali tak bisa ku lakuan pada kalian. Sampai akhirnya Tetsuya-cchi lahir dan aku mengganti peran dari adik menjadi seorang kakak, berperan sebagai pelindung bukan lagi sebagai yang dilindungi. Aku hanya –"

"Aku tau perasaanmu, Ryouta. Apa yang kami rasakan untuk Tetsu itu sama, bukankah alasan itu sama seperti yang pernah Tou-san dan Kaa-san katakan. Kita berlima ada untuk melindungi Tetsu, menggantikan kedua orangtua kita dan siap untuk melindungi Tetsu. Pekerjaan kita yang sekarang juga karna Tetsu, jadi apapun yang terjadi pada Tetsu, kita berlima akan membantunya bersamakan?"

"Umh"

"Meskipun keadaan Tetsu sekarang membutuhkan lebih dari kata dukungan, tapi selama kita ada, dia akan baik – baik saja. Selesaikan ini dan kita bisa berkumpul untuk menghabiskan waktu lebih banyak"

"Haii-ssu"

"Jya na, aku akan mengumpulkan segala bukti yang akan membuat Si teme itu mendapat hukuman yang berat."

"Jya, Nii-cchi"

Pip

Sambungan telfon itu terputus, Ryouta yang berdiri di dekat jendela merasakan hembusan angin yang masuk dengan lembut. Menerbangkan helaian – helaian kuning cerahnya serta butiran bening yang tadi sempat jatuh kini terhambur bersama dengan laju angin yang berhembus. Bagimu yang biasanya menjadi anak bungsu dan selalu dilindungi, akan mengerti bagaimana rasanya ketika menjadi seorang kakak yang bisa melindungi seorang adik kecil yang berbeda. Bukan karna dia idiot atau kecacatan yang lain, tapi seorang adik yang lemah secara fisik namun memiliki tekad kuat yang tak sebanding dengan kondisinya.

Seorang kakak yang hebat adalah kakak yang mampu menjaga, melindungi dan menyalurkan semangat agar sang adik bisa melampaui batas dari dirinya. Ryouta tak akan pernah lupa untuk pertama kalinya saat adik kecilnya memanggil dirinya dengan panggilan 'Nii-chan' dengan suara polos juga nyaring. Ekspresi si bungsu yang membuatnya ingin selalu memeluk juga selalu disamping si bungsu. Ryouta mencengkram erat ujung bajunya hingga kusut menahan amarah karna terlambat menyadari maksud dari seseorang yang sudah beberapa kali mengancamnya. Sedikit menyalahkan diri karna pergi pada malam itu, meskipun adiknya selamat, tapi keadaan fisiknya tak sama.

"Aku berjanji, Tetsuya-cchi. Aku tak akan membiarkan Si Teme itu lolos dari pengintaianku nanti. Rencana yang sudah kami susun tak akan gagal-ssu"

_ooOOOoo_

Shintarou tengah sibuk berkutat pada bahan – bahan kimia juga hewan – hewan percobaannya. Beberapa kali ia mencoba untuk membuat penemuan yang baru mengenai obat – obatan yang seperti racun pelumpuh tanpa warna juga tanpa bau. Mulai dari yang berbentuk bubuk hingga cairan. Mencoba untuk membuat racun yang tidak berbahaya namun memberikan efek yang cukup untuk membuat seseorang merasakan apa yang si bungsu rasakan. Dengan menggunakan peralatan yang canggih juga beberapa tikus percobaan, Shintarou sudah berhasil membuat beberapa, namun masih ada yang kurang.

"Sudah menemukannya, Shin-chan?" Tegur seorang dokter muda yang sama sepertinya.

"Aku sudah menemukan beberapa, tapi masih belum memuaskan"

"Hee~ Kau ingin membuat yang seperti apa?"

"Membuat efek racun yang tak berbahaya namun seumur hidup, nanodayo"

"Kau ini, itu sama saja berbahaya Shin-chan"

"Tidak, racun ini sama seperti obat bius yang melumpuhkan sistem saraf sementara. Tapi aku menginginkan yang bersifat berulang dalam jangka waktu yang tak bisa ditentukan. Orang yang terkena racun ini kaan mengalami mati rasa tiba – tiba dan hampir sama dengan apa yang Tetsuya rasakan, nodayo"

"jangan bilang ini untuk membantu penangkapan orang itu"

"Hmph, itu benar."

"Bukannya membalas adalah perbuatan yang tak baik Shin-chan?"

"Aku tau, nanodayo. Aku hanya ingin dia merasakan apa yang Tetsuya rasakan, ini bukan dendam, hanya ingin memberi pelajaran" Shintarou masih fokus pada bahan – bahan percobaannya sementara Takao mengambil posisi duduk di sudut lab.

"terserah kau saja, tapi aku tak yakin kau akan mendapat izin untuk membuat racun yang seperti itu" Shintarou menaikkan bingkai kacamatanya dan tersenyum simpul.

"Aku tak butuh izin untuk racun ini, nanodayo. Siapapun tak akan menyangka jika seseorang bisa terkena racun yang ku buat meskipun dengan deteksi darah maupun pemeriksaan lainnya" Takao baru saja mengambil sebuah buku langsung menatap Shintarou dengan tatapan tak percaya.

"Shin-chan, kau berguraukan?" Shintarou menggeleng.

"Aku tak bergurau, Takao."

Detik itu juga, Takao sadar jika rekannya yang memiliki marga Akashi itu sama sekali tak pernah main – main dengan apa yang di ucapkan dan jangan pernah membuat hal aneh pada si bungsu jika ingin hidupmu selamat. Takao yang tadinya berniat untuk duduk dan sedikit bersantai dengan sebuah buku langsung mengurungkan niatnya dan bergegas pergi untuk mencari kesibukkan. Ia tak ingin menganggu si hijau yang sudah disibukkan dengan racun yang menurutnya lebih dari kata sempurna.

Takao berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang hari ini sedikit lengang, tampak hanya beberapa perawat yang hilir mudik untuk memeriksa keadaan pasien. Ada pula yang sibuk dengan mencatatan obat juga pemeriksaan persediaan kantung darah jika sewaktu – waktu dibutuhkan. Takao terus berjalan menyusuri lorong hingga kakinya membawa ke tempat ruangan VVIP atau mungkin lebih dari itu karna bersifat pribadi. Karna ia merupakan teman terdekat Akashi Shintarou sang pemilik rumah sakit juga merupakan dokter kepercayaan keluarga Akashi setelah Shintarou, Takao mendapat izin untuk bisa memasuki ruangan pribadi itu.

Perlahan, Takao membuka ruangan itu dan menemukan pria bertubuh mungil dengan surai Baby Blue tengah tertidur pulas di ranjang Queen Sizenya. Tak jauh dari pria itu, seorang pria yang lebih tua dengan surai merah tengah duduk dengan tangan yang terlipat sembari menatap lekat ke arah si Baby Blue meskipun diharapannya sudah ada papan Shogi beserta bidak – bidaknya yang tersusun membentuk sebuah pola yang kurang dimengerti oleh Takao.

"Apa kau datang untuk memeriksa Tetsuya, Takao?" Takao menerjab pelan, ia terkejut saat si surai merah berbicara tanpa menoleh ke arahnya.

"Iie, aku hanya ingin mengobrol dengan Tetsu-chan,tapi karna ia sedang tidur aku rasa mungkin nanti"

"Soukka, aku fikir kau akan memeriksa keadaan tetsuya"

"Untuk kali ini sepertinya tidak" Takao bermaksud untuk keluar, namun tertahan oleh panggilan seijuurou.

"Takao, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Nani?"

"2 minggu dari sekarang, bisakah Tetsuya keluar dari rumah sakit untuk sementara?"

"2 minggu dari sekarang? Mungkin sudah bisa, hanya saja masih menggunakan kursi roda karna kakinya masih belum bisa menopang beban tubuh juga ia tak bisa lelah."

"Apa saja yang di butuhkan saat Tetsuya berada di luar nanti?"

"Tidak terlalu banyak, hanya pakaian tebal, kursi roda dan tabung Oxygen karna menurut catatan Shin-chan, ia masih belum bisa menghirup udara bebas secara langsung"

"Hmm,, kalau begitu semua persiapan selesai"

"Eh?" Takao memperhatikan salah satu bidak Shogi berpindah tempat dan seolah – olah membuat incaran menjadi Checkmate.

"Tinggal menghitung hari sampai semua terealisasikan. Hm,, ini mudah"

"Etto, Akashi-san. Apa maksudmu dengan menghitung hari?" Tanya Takao ragu.

"Bukan apa – apa, hanya kejutan kecil" Takao masih bermaksud menanyakan lebih jauh, namun erangan kecil dari pemuda Baby Blue yang sedang istirahat mengalihkan perhatiannya. Benar saja, tanpa membutuh waktu lama, bola mata biru cerah si Baby Blue terlihat dan sesekali terlihat terbuka juga tertutup perlahan.

Seijuurou bangkit dari posisinya dan menghampiri si Baby Blue yang baru saja bangun dari istirahatnya. Mengelus surai itu lembut juga memberikan sebuah senyuman hangat seolah menyambut si Baby Blue ke dunia nyata. Takao bahkan sama sekali hampir tak bergerak melihat wajah seorang Akashi Seijuurou sang pemimpin Akashi Corp yang terkenal akan ketegasan juga contoh untuk adik – adiknya ternyata memiliki ekspresi yang cukup berbeda.

"Kau sudah bangun Tetsuya?" Tanyanya lembut, si Baby Blue yang masih mengumpul sebagian nyawa yang melayang karna tertidur kini mulai mengangguk, berusaha menjawab meski tenggorokkannya terasa kering.

"Umh, aku merasa haus Nii-san"

"Soukka, mau Nii-san ambilkan?" Tetsuya mengangguk pelan.

"Haii" Tangan putih itu mengambil segelas air putih yang ada di meja kecil dan memberikan ke arah sang adik tersayang.

"Kau bisa minum sendiri atau butuh bantuan Hm?" Berniat untuk menggerakkan tangan, tapi ia urungkan karna sama sekali tak bisa bergerak. Ia memutuskan untuk menghempas nafas kasar dan meminta bantuan.

"Jika Nii-san tak keberatan" Seijuurou membantu mengambilkan sedotan dan membantu si bungsu untuk bangkit. Dari pemandangan yang ada, sepertinya Takao mulai mengerti bagaimana keluarga Akashi memperlakukan saudara mereka terlebih si bungsu.

Terhenyak sejenak, Takao dapat mengerti apa yang keluarga Akashi rasakan. Bagaimana perasaan mereka mengetahui anggota yang berharga harus terbaring di ranjang rumah sakit dengan kondisi yang sudah dipastikan tak akan pernah sembuh total. Teringat akan bagaimana keadaan keluarga Akashi yang waktu itu sempat terpecah dan sahabat dekatnya – Shintarou – melepas jabatan sebagai seorang dokter. Dengan keadaan yang seperti itu, Takao bisa melihat Shintarou rela melepaskan sifat Tsundere dengan meminta bantuannya saat Tetsuya terkena demam waktu itu.

"Takao-nii?" suara lembut yang sedikit serak menarik kembali Takao dari khayalannya.

"Yo~ Tetsu-chan? Apa kabarmu hm?" Takao bertanya dengan suara nyaring juga ekspresi ceria seolah tak ada kejadian apapun.

"Aku? Aku masih sama seperti kemarin, belum ada yang berubah secara signifikan" jawabnya dengan nada yang kentara datar.

"Kau yakin? Padahal jika hari ini ada kemajuan, mungkin besok kita akan memeriksamu lebih lanjut untuk mempercepat theraphy" Tak ada dusta dari ucapan itu, malah sebaliknya, ucapan berupa semangat ingin membuat sebuah motivasi yang membangun untuk si Baby Blue.

"Apa itu benar Sei-nii?" Tanya nya pada pria bersurai merah yang masih duduk disampingnya.

"Hmm,, mungkin saja jika Tetsuya merasa ada sebuah kemajuan" Jawaban menyetujui menjadi lampu hijau untuk memberikan motivasi yang lebih kuat.

"Kau dengar itu kan Tetsu-chan? Kau akan lebih cepat berjalan seperti semula jika ada kemajuan" Takao memberikan senyuman ceria yang terbaiknya meskipun hanya mendapatkan tatapan datar dari si Baby Blue.

"Tapi, aku sama sekali belum merasakan sebuah kamajuan Takao-nii"

Satu jawaban membuang kebungkaman menyelimuti keadaan kamar yang tadinya berusaha untuk dibangun kini seolah kembali dalam keadaan hampa. Baik Seijuurou maupun Takao tak ada yang membuka suara. Bibir terkatub rapat tak ingin terbuka sama sekali, begitu berat dan sungguh terasa sangat membekukan. Mereka tak sedang berada di dalam lemari Es yang sangat dingin tapi dinginnya melebihi kutub utara maupun selatan. Pupus sudah harapan untuk memberikan sebuah harapan meskipun seperti menggapai angan tinggi yang kosong.

To Be Continue...

_ooOOOoo_

Guest : Arigatou na.. ^^ lian akan berusaha buat yang bagus

Janely430 : Haii,, sama - sama. Lian berusaha yang terbaik koq, jujur ini masih belum memuaskan untuk lian.

MR SEOK : Sebenarnya Lian gak niat bikin tragis, soalnya ini kayak FF pertama setelah sekian lama hiatus dari fandom lain. FF ini sebenarnya hanya nguji sampai mana lian bisa bikin FF terbaik mengenai Brothership.. Jujur, Lian kapok nyediain tisu buat reader (Lavender) di blog lian yang sekarang masih Hiatus. Di sana kisahnya terlalu tragis, jadi untuk buat yang lebih tragis lagi, koq rasanya agak lain. jadi lian mutusin untuk coba di fandom lain, dan ini lah FF yang lian bikin. Masih perlu belajar lagi untuk FF yang lebih baik.. Kalau mau baca kisah tragis, bisa kunjungi blog lian.. Liat ajah di profil lian, di sana ada koq nama wordpressnya dan jujur itu khusus fandom korea. Kalau suka EXO atau BTS, silahkan mampir. ^^ Oh ya, NUlis FF itu gak segampang khayalin di kepala lho, kalau update 2 hari sekali, jari - jari lian bisa patah lho. ngetik itu mesti sesuai suasana hati, udah gitu belum lagi edit buat liat typo. lalu LIan kebiasaan bikin COver sendiri, dan butuh waktu berjam - jam untuk bikin cover terbaik. LIhat ajah di blog lian, disana updatenya selalu satu minggu sekali, kecuali yang terakhir karna hiatus tiba - tiba. T^T

Lhiae932 : Arigatou na,, oh iya, ide kamu udah aku ketik, tapi nyeleweng dari cerita aslinya. jadi mungkin menunggu waktu buat rilis. Lian kasih judul December Night. tapi mungkin gak terlalu banyak chapternya. soalnya, lian takut klu nanti nge-blank tiba - tiba. Nanti lian kasih tau detailnya lewat PM yah.. ^^

Nyanko Kawaii : (ngumpet di balik punggung Sei) Jangan donk, ntar kalau Lian di penggal siapa yang lanjutin FF ini? (HIsteris sambil mojok). Beneran ini sudah kerasa feelnya? Lian rasa masih ada yang kurang, ntahlah.. berasa jadi aneh dengan FF sendiri..

eri kirei : Gomennasai-ssu, Lian selalu bikin baper. Silahkan gantung lian di pohon bonsai deh.. gak masalah, lian terima.. Arigatou na..

CeiCuyaCelamanya : Arigatou (Peluk erat), iya lian berusaha untuk AkaKuro dan GOM lainnya. ^^

hanyo4 : Untuk komentar kamu sih Lian setuju, LIan juga udah rubah chapter sebelumnya setelah pergi ke toko buku buat baca mengenai sistem gerak tubuh yang lebih lengkap sekaligus nonton film yang berhubungan dengan ff ini. Yah, mungkin bener kalau lian kurang referensi, soalnya biasanya lian baca buku tentang psycology dan lainnya. Belajar bikin FF juga ototdidak, jadi sama sekali gak pernah baca bagaimana penulisan EYD yang bener. Beberapa kali kena teguran dari Readers di Blog pribadi lian, tapi LIan udah coba, kebiasaan mengetik yang masih dalam tahap perubahan. Jujur ajah, Lian juga sering salah penggunaan Di- Ke- dan lainnya dala penggabungan huruf. padahal nilai bahasa indo ku selalu dia atas 90 kalau ujian, tapi urusan EYD pasti blank.. T^T, arigatou udah ingatin lian.. m(._.)m

RYU : Haii, Lian akan berusaha. ^^

fraukreuz67 :Siapa yah? Tenang ajah, itu pelayan pribadinya Tetsu-kun koq.. Itu Tanaka-san (lho koq saia kasih tau). Arigatou na..

manamichan : Puk puk Mana-cchi, tenang ajah, LIan gak akan kejam koq untuk FF ini. ^^

Dewi15 : Haii, Lian akan berusaha

xolovxy : Ike?! Kyaaaa! Jeongmal? Ike? ingat lho, Eonni gak akan lupa sama LAvender yang selalu kasih review.. Ya ampun, kenapa gak bilang dari awal, Eonni kan kangen juga sih sama Lavender semua. Tapi, Eonni belum update di wordpress karna blank. Ini ajah FF yang jujur ajah bukan eonni banget. Eonni lagi berusaha bikin ide yang bagus biar bisa udpate lagi. MAsih nunggu kah buat Eonni Comeback di wordpress? (berharap)

Jooxxy : Ne?

Guest077 : Sabar, nagalahin Sei itu gak perlu mikir keras, masih ada cara koq.. ^^

Iftiyan Herliani253 : Hee?! Kalu Tetsu-kun jadi manager, terus momoi jadi apa?

ShirShira : Serius,, Gomennasai.. (sodorin tisu)

kyuzi4869 : Gamsahamnida chingu-ya, Lian juga suka koq baca FF koreaa, bahkan Lian awalnya juga author dari fanfic Korea, tapi bukan author di evil magnae kurang ajar kayak Kyu (Di gaplok elf). Lian dari fandom EXO dan BTS, jadi untuk bahasa Korea dan Jepang udah terbiasa. Lian juga suka koq tindasin para magnae, terlebih si Sehun. Di blog lama, Lian lebih sering untuk Baekhyun dan Taehyung, soalnya itu blog gabungan fandom untuk EXO-L sama ARMY. Kalau mau singgah, silahkan, bisa liat alamat wordpressnya di profil lian. Jujur ajah, ini juga FF pertama lian mengenai fandom ini, Lian juga udah 3 tahun lebih di fandom korea, tapi hasil FFnya masih belum bagus.. Lian juga gak ahli dalam FF romance, LIan lebih ke genre brothership dan family life. permasalahan keluaga atau mungkin Real Life (maksdunya kehidupan sehari - hari yang mungkin terjadi). Soal bahasa jepang yang lian pakai, ini sama umumnya koq kayak di korea. contoh Gomennasai = Mianhamnida, Arigatou gozaimasu = gamsahamnida, Dare desuka = Nugu-ya/Nuguseo, Nii-chan/san/cchi/chin = Hyeong, Haii=ne, Baka/Aho = Pabo-ya, Daijoubu(ka) = Gwaenchana (Yeo), Eumh apa lagi yah,, intinya Lian itu pakai yang bahasanya sering lian pakai saat ngetik FF korea.. eumh, satu lagi Hounto = Jeongmal/Jinjja. Hehehehe,,

diia : Arigatou na

yukino : Haii, lian akan berusaha.

N Rani kudo : Sabar ne, kan masih ada theraphy, soalnya lian juga masih mikirin gimana kelanjutannya.

Sri Silvi Wahyu : Lian desu, jangan panggil min.. Para author lebih suka di panggil pennamenya dari pada di panggil admin.. Hehehe, LIan akan berusaha..

_oooOOOOooo_

Yosh! Lian udah siap balas semua review. Oh iya, mungkin ada yang nanya racun apa yang di buat sama shin-chan (gak peduli oi!), Lian ambil referensi dari racun buatan Tsunade dengan efek melumpuhkan. Kalau gak percaya, bisa cari ajah di episode berapa gitu, Lian ada liat. mungkin di dunia nyata itu impossible, tapi ini hanya kebutuhan cerita.

Oh iya, jujur ajah senang masih ada yang nunggu FF lian, soalnya ini FF pertama lian setelah cukup lama hiatus dari dunia fanfiction, jadi Lian mohon jangan terlalu banyak berharap dengan FF lian ini. FF ini juga awalnya hanya sekedar iseng pengen ngetik lagi sekalian pelampiasan buat lian untuk FF yang sering lian baca tapi gak update - update. Jadi FF ini hadir buat kepentingan pribadi (Awalnya), tapi karna banyak yang suka, lian jadi berusaha bikin yang tebaik untuk FF ini. Untuk saat ini, Lian mohon jangan terlalu berharap terlalu tinggi yah, Lian masih perlu belajar lagi, bahkan perlu membaca lebih baik lagi.

Setiap author memiliki ciri khas penulisan yang berbeda, termasuk lian. JIka kalian ingin angst, Lian masih berusaha kembali untuk bisa bikin konflik yang lebih dari ini, bahkan bisa jauuuuuh lebih sakit dari pada FF ini. Hanya ajah, Lian belum dapat alur yang tepat juga bahasa penggambaran yang tepat.. Terima kasih buat dukungannya, Lian berusaha yang terbaik.

Oh iya, Minggu depan lian gak akan publis White Crystal chapter 19 : Sayonara, soalnya FFnya lagi dalam proses pengetikkan karna harus ada perubahan. Lian juga sambilan dengan FF yang lain.. Gomennasai m(._.)m

Sampai jumpa 2 minggu lagi.. ^^