Chapter 19
%^Sayonara ^%
Gemerincing lonceng mengusik ketengan sebuah restoran kecil di pusat kota Tokyo, seorang pria bersurai hitam dengan campuran abu - abu berjalan angkuh mencari satu tempat kosong. Berniat hanya menegak segelas Coffee hangat sembari menikmati sedikit Panekuk untuk mengisi perut yang meronta, namun pandangannya kini teralih pada benda bersegi panjang yang sedang menampilkan berita dunia artis. Iris hitam menangkap sosok surai kuning yang terlihat ceria di luar namun runtuh saat yang bersamaan.
Cih, seberapa hebatpun perias wajah artis untuk membuat wajah seseorang menjadi lebih tampan namun tetap saja ada yang tak bisa mereka lakukan. Dua iris hitam memperhatikan jeli bagian bawah mata pemuda surai kuning itu, iris madu yang redup beserta kantung mata panda menghias disana. Tanpa mencari tau penyebab, sang Iris hitam sudah pasti tau jawabannya.
"Huh, ternyata mereka hanya terlihat kuat di luar, namun nyatanya mereka lebih lemah dari yang ku duga." Ia menghardikkan bahunya dan meneguk secangkir Coffee yang baru saja sampai pada mejanya. "Tsk, ini lebih baik daripada berbotol bir yang ku minum. Si sempurna Akashi sudah hancur satu persatu" Gumamnya sendiri.
Dia – Haizaki Shogo – memperoleh samaran yang sempurna sehingga tak ada satupun yang akan mengenali dirinya meski teman dekat sekalipun. Sejak ia memutuskan untuk membakar habis Basketball Caffe dan membunuh satu orang yang ada di dalam café itu, Haizaki mengganti model rambut dan mengecatnya secara keseluruhan. Ia menambahkan beberapa tindikkan di wajah untuk menyamarkan wajah aslinya. Jangan lupa ia juga mengubah identitasnya. Ia yakin jika polisi hebat sekalipun tak akan ada yang mampu mengenali dirinya, bahkan sang mantan bos sendiri – Akashi Seijuurou.
Tepat di meja belakangnya, seorang pria tengah duduk sembari menyesap segelas lemon tea dengan senyuman tipis tersungging di bibirnya. Surai kuning yang tertutup oleh jaket ber-Hoodie serta riasan Make Up membuat wajahnya sedikit berbeda. Bermodal keahlian Perfect Copy dan sebuah Smartphone serta earphone yang ada di telinganya, kegiatan pengintaian selama satu minggu berjalan dengan sukses.
Akashi Ryouta – sang model terkenal – seolah kembali hilang bak ditelan bumi meskipun beberapa berita dunia artis masih memberitakan tentang dirinya. Acara – acara TV juga pemotretan ia lakukan selama satu minggu sebelum kegiatannya telah selesai dan tinggal menayangkan di TV. Selebihnya, Ryouta membuat sebuah Video palsu berupa permohonan maaf karna ia hanya berakting di depan publik dan penggemar dengan senyumannya.
Dengan bantuan Kasamatsu Yukio – Sang manager – Ryouta ber-acting layaknya seseorang yang putus asa. Perias Make Up membuat wajahnya yang tampan menjadi kusut juga berantakkan. Air mata yang memang sudah terbiasa mengalir saat mengingat keadaan sang adik yang paling ia sayangi dengan mudah menghipnotis seluruh penggemar. Kini berita dunia artis kembali menayangkan video yang telah ia upload ke media sosial dan jujur saja, sudah banyak wartawan yang mencari keberadaan Ryouta, namun tak berhasil juga. Bahkan tak jarang mereka datang ke kediaman keluarga Akashi yang megah, para pelayan dengan kompak menjawab jika Akashi Ryouta sedang tak ada di rumah ataupun ada yang mengatakan jika Ryouta tengah menenangkan diri di tempat yang dirahasiakan.
Jika bertanya langsung pada keluarga Akashi, mereka tentu saja sudah tau alasan kenapa seorang Akashi Ryouta tak bisa ditemukan. Selama satu minggu lebih ia terus berganti tempat, mengikuti jejak seorang Haizaki Shogo yang selalu berpindah tiap 3 jam sekali dengan rute yang tak mudah ditebak. Seiring berjalannya waktu, Ryouta mulai mendapatkan petunjuk karna Haizaki Shogo sering mengucapkan tujuannya saat melihat salah satu anggota keluarga Akashi di televisi maupun dipemberitaan lainnya.
"Cih, mungkin setelah ini aku akan mampir ke Maji Burger untuk makan malam. Setidaknya rute pelarianku sudah matang, malam ini aku akan menginap di tempat biasa dan tinggal menunggu jadwal keberangkatan menuju Brazil"
Ryouta mendengarnya, smarphone yang sedari tadi hanya menjadi Kamuflase untuk mendengarkan lagu kini sudah merekam ucapan Haizaki. Mengetik beberapa digit huruf, sebuah E_Mail terkirim ke 4 alamat E_mail berbeda. 4 orang yang menerimanya segera membuka dan jelas terpampang senyuman puas di bibir mereka. Satu fikiran yang sama juga satu kemarahan yang sama. 5 orang bersurai beda warna menyiapkan ini untuk membuat seseorang menebus apa yang telah mereka alami.
'Bersiaplah, Haizaki Teme!'
Ryouta meletakkan beberapa lembar uang dan bergegas pergi dari tempat itu sebelum para pelanggan datang dan mengenali jika dia seorang Akashi Ryouta, bisa hancur segala rencana yang telah disiapkan matang – matang. Sebelum benar – benar pergi, ia meminta salah seorang pelayan mengantarkan secarik kertas kecil untuk diberikan ke Haizaki. Begitu Ryouta sudah keluar, kertas itu sampai di tangan Haizaki secara tak sengaja – Ryouta menyuruh pelayan itu berpura – pura menjatuhkan kertasnya tepat di depan Haizaki dan mengaku jika itu miliknya - .
'Uang di bayar uang, Nyawa dibayar Nyawa dan kelumpuhan dibayar dengan kelumpuhan juga'
Haizaki mengernyit membaca secarik kertas yang tak sengaja dijatuhkan tepat di depannya. Karna tak ingin ambil pusing, Haizaki memanggil pelayan tersebut dan menanyakan mengenai kertas yang ia jatuhkan. Sesuai perkataan Ryouta, pelayan itu menganggukkan kepala dan meminta kembali kertasnya. Baru saja Haizaki akan membuka mulut untuk bertanya, sang pelayan langsung permisi dan kembali bekerja.
"Mungkin itu Cuma perasaanku saja, itu hanya kertas biasa" Gumam Haizaki tak peduli.
Sementara itu Ryouta langsung bergegas kembali ke kediamannya untuk rapat darurat sebagai langkah akhir untuk menangkap Haizaki. Sebuah mobil Sport berwarna Navy Blue mewah berhenti tak jauh darinya dan menampakkan pria dengan seragam kepolisian tersenyum ke arahnya. Ryouta memalingkan sedikit wajahnya namun senyuman bangga tercertak dari dirinya.
"Kau mau pulang bersama atau mau ku panggilkan taxi?" canda si surai Navy Blue – Akashi Daiki –.
"Kalau tak berniat menjemputku, tak usah datang-ssu" Ryouta mengercutkan bibir meskipun ada selipan candaan disana.
"Cih, seharusnya kau berterima kasih karna aku rela menjemputmu"
"Untuk apa, kantor polisi juga dekat dari arah sini dan aku yakin, Nii-Cchi datang karna searahkan-ssu?" Sindir Ryouta.
"Tebakkanmu hebat, Ryouta. Aku rasa kau jauh lebih baik dan bukan lagi Ryouta yang cengeng meskipun masih sering menangis"
"Jangan menyindirku-ssu, tanpa pengintaianku, rencana kita bisa gagal-ssu"
"Haii, Haii. Sebaiknya kita cepat, Sei – Nii sudah menunggu di kamar Tetsu" Ryouta langsung masuk ke dalam mobil dan duduk disamping Daiki.
"He? Bukannya kita pulang ke rumah?" Daiki menggeleng.
"Tidak bisa, aku baru saja dapat kabar kalau Tetsu sudah mulai ikut Theraphy tapi hasilnya nyaris 0% jika tak ada Shintarou-Nii dan Sei-Nii disana" Pandangan Ryouta yang tadinya ke dapan kini menatap Daiki terkejut.
"A-apa maksudnya-ssu? Jangan bilang kalau Tetsuya-Cchi –"
"Jangan berkata macam – macam Ryouta, ini masih Theraphy pertama dan masih ada Theraphy selanjutnya. Sei-Nii mengatakan kalau Tetsu sedikit terkejut dengan Theraphy yang dilakukan"
"Maksudnya?"
"Theraphy yang Tetsu jalani sedikit berbeda dari perkiraan Shintarou-Nii. Selama 2 minggu lebih tetsu memang hanya boleh duduk di kursi roda dan tak boleh bergerak sama sekali, hari ini Tetsu mengatakan ia ingin segera berjalan lagi, jadi ia memutuskan untuk Theraphy secepatnya"
"Lalu apa masalahnya?"
"Sebelum melakukan Theraphy, Takao-Nii membawa Tetsu ke Lab untuk pemeriksaan bagian kaki dan tenagannya. Hasil pemeriksaan mengatakan jika Tetsu belum bisa melakukannya, Tetsu memaksa dan yah.. baru saja akan turun dari kursi roda ia sudah terjatuh."
"…" Ryouta terdiam, ia tak bisa mengatakan apapun kecuali bibirnya bergetar.
"Aku dengar Tetsu terlihat kacau dan terus memaksa, tapi hasilnya tetap sama bahkan di tengah – tengah keputus asaannya, ia masih sempat mendorong kursi rodanya menjauh. Untuk saat ini, karna tak ingin membuat Tetsu Trauma, Shintarou – Nii membantu Tetsu untuk kembali ke kamar dengan cara mengendongnya sementara Sei-Nii membawa kembali kursi roda dibantu Takao-Nii"
"Lalu keadaan Tetsuya-Cchi bagaimana sekarang-ssu?"
"Ia tak mau ditinggal sama sekali, bahkan Sei-Nii dan Shintarou-Nii tak bisa keluar dari kamar Tetsu"
"Apa Shuuzou – Nii dan Atsushi-Nii sudah tau?"
"Haii, mereka sekarang sudah berkumpul di kamar Tetsu dan tinggal menunggu kita"
"Kalau begitu, kita harus cepat Nii-Cchi. Aku ingin menemani Tetsuya-Cchi juga-ssu"
"Aku tau, tapi kau harus membersihkan dirimu dulu. Kau baru pulang, setidaknya istirahat sejenak karna malam ini kita akan melakukan penangkapan dengan taktik gila dari Sei-Nii"
"Un, aku mengerti-ssu"
_ooOOOoo_
Wajah dipalingkan ke sisi kanan, mengabaikan setiap mata memandang dengan nafas pasrah. Surai Baby Blue yang memanjang menutupi kedua bola mata dengan warna senada seolah menyembunyikan ekspresi yang terpendam. Ujung selimut digenggam erat sementara ada getaran tak kasat mata di punggung pemuda yang menyandang status bungsu keluarga Akashi. Kesal, frustasi dan segalanya berkecamuk dalam cetakan wajah datar yang minim ekspresi. Bibir mungil pucat terkatub rapat dengan hati yang mendongkol. Niat hati ingin memaki, tapi pada siapa? Tak ada yang bisa disalahkan atas yang terjadi, jika pun ada, percuma karna semua tak akan kembali.
"Tetsuya" Teguran suara familiar tak membuat pemuda yang dipanggil Tetsuya bergeming, "Tetsuya" panggilan sekali lagi, tapi tak ada niat sedikitpun untuk bergeming, helaan nafas berat terdengar sebagai tanda mengalah untuk si bungsu. "Baiklah, Nii-San mengalah, tapi dengarkan Nii-San"
"…" Masih enggan memalingkan wajah, Tetsuya diam sembari menatap selimut yang terasa lebih menarik.
"Tetsuya, untuk yang tadi tak perlu kau fikirkan. Masih ada Theraphy kedua, Nii-San yakin tubuhmu masih mencoba beradaptasi dengan sekitar" Tak ada balasan dari ucapan itu, mencoba untuk mendekat dan duduk disamping ranjang si bungsu. "Tetsuya, lihat Nii-San" Dua tangan putih menarik wajah pucat Tetsuya dengan paksa, menampilkan ekspresi wajah yang tadinya tertutup oleh helaian rambut. "Jangan seperti ini, Nii-San mohon. Kau tak lihat, semua Nii-San tachi mengkhawatirkanmu. Jangan hanya diam, bukankah Nii-San sudah mengatakan jika kau lelah atau menyerah, ceritakan segala keluh kesahmu dan kami akan membantumu" Wajah pucat itu berniat untuk berpaling, ingin menyembunyikan kembali ekspresi yang tak bisa ditebak namun tertahan.
"Tetsuya, Semua yang dikatakan Seijuurou itu benar, Nanodayo. Untuk apa aku jadi dokter jika aku tak bisa menyembuhkan orang yang sakit?" Surai Hijau -Shintarou- menaikkan bingkai kacamatanya dan ikut mendekat ke arah si bungsu dengan si sulung yang masih duduk disamping ranjang sembari menyentuh wajah si bungsu untuk tetap menatapnya. "Masih ada waktu untuk menyembuhkanmu, Nodayo. Percayalah pada Nii-Sanmu" Shintarou memalingkan wajahnya, sedikit menyembunyikan ekspresi yang menurutnya cukup memalukan, dasar tsundere.
"Tetsu-Chin, jangan menyerah." Satu kalimat dengan nada malas terdengar meski kekhawatiran tersirat dari pantulan iris ungu –Atsushi–.
"Dengar, semua mengkhawatirkanmu Tetsuya. Katakan apa yang sedang kau rasa, ingat kita bisa membaginya" Si sulung –Seijuurou–.mencoba membujuk. Masih keras kepala, Tetsuya sama sekali tak membuka mulut bahkan arah bola matanya menuju ke arah lain, tak ingin menatap bola mata ruby yang penuh wibawa kepemimpinannya.
"Hah, kenapa kau jadi keras kepala Tetsuya? Cobalah berbicara, jangan buat kami bingung dengan sikapmu itu. Kau tak ingin sendirian, tapi disisi lain kau tak ingin berbicara sedikitpun. Lalu kau mau apa?" Shuuzou yang sedari tadi menjadi penonton terlihat kesal sendiri, pasalnya mereka sudah berada di ruangan itu selama 4 jam dan selama itu pula Seijuurou, Atsushi dan Shintarou membujuk Tetsuya untuk sekedar bercerita tapi tetap saja tak ada sepatah katapun yang keluar.
"Shuuzou, apa kau ingin terkena gunting merah dia?" Ancam Seijuurou.
"Ough Sei, sudah ku bilang jangan bermain – main dengan benda itu, kau ingin dia muncul lagi?" Gerutu Shuuzou kesal.
"Dia tak akan muncul, karna dia adalah aku" Mata Seijuurou memicing pertanda ia tak suka dengan sikap Shuuzou yang terdengar seperti menekan si bungsu meski niatnya baik.
"Cih, jika hari ini bukan hari penting, aku tak akan berbicara seperti itu Sei. Kau tau ini hari yang tepat untuk menangkap si abu – abu itu, jika Tetsuya seperti ini, semua rencana akan berantakan" Shuuzou melirik ke arah Tetsuya yang masih diposisi duduk dan wajah yang tertahan oleh tangan Seijuurou. "Kau tau Tetsuya, semua mengkhawatirkanmu bahkan semua Aniki tachi mu sedang berusaha untuk membuatmu kembali seperti semula. Mereka memikirkan segala cara untuk membuatmu bisa berjalan dengan cepat dan jangan lupa, mereka juga sudah menyiapkan segala rencana untuk menangkan si Haizaki-Teme. Seharusnya kau sadar, masa lalu memang tak bisa diubah, tapi masa depan bisa. Sekarang kau memang lemah, kemungkinan untuk kedepannya kita tak akan tau." Kilatan tajam dari sepasang ruby membungkam ucapan Shuuzou, ia hampir saja melepaskan semuanya.
"Shuuzou—" Sekelebat aura hitam menguar, namun dalam sekejab hilang saat lirihan lembut terdengar.
"Gomennasai" 4 kepala berpaling ke sumber suara. "Gomennasai telah membuat kalian khawatir, a-aku" Jeda sejenak untuk menghentikan sesuatu yang menggenang di pelupuk mata. "A-aku, aku h-hanya–" Bibir itu terbungkam saat jari telunjuk menyentuhnya.
"Sudahlah, kami mengerti. Ini memang terlalu cepat untuk memulainya dari awal dan jangan membuat kami khawatir dengan sikapmu. Untuk ucapan Shuuzou, lebih baik kau lupakan karna itu beban yang Nii-San tachimu tanggung"
"Tapi Sei-Nii" belum lagi sebuah kalimat terlontar, sebuah suara menginterupsi.
"Jangan mencoba menangung semuanya sendiri, Nodayo. Sekuat apapun kau bertahan, pasti akan tumbang jika tak ada yang menopangmu." Shintarou ikut berbicara. Tepukkan halus membuat Tetsuya mendongak.
"Tetsu-Chin lebih hebat dari kami, jadi sekarang waktunya untukmu sedikit istirahat. Nanti kalau sudah saatnya tiba, Tetsu-Chin kembali dan mengalahkan kami lagi" Atsushi memberikan sebuah senyuman, senyuman yang sangat tulus dan berbeda.
Meski canggung, ulasan senyuman tergores di bibir pucat Tetsuya. Meluap sudah perasaan kesal dan frustasi yang ia pendam. Shuuzou yang ada di ruangan itu kini menghembus nafas lega. Sudut mata Tetsuya yang masih membendung sedikit cairan bening terhapus oleh ujung jari telunjuk dan sebuah pelukkan hangat. Baru saja merasakan ketenangan, pintu kamar terbuka dengan keras dan menampilkan dua pria berbeda warna kulit yang kontras. Hanya dalam hitungan sepersekian detik, suara melengking dan deru langkah kaki yang berlari menggema hingga berakhir dengan tubrukkan ke tubuh Tetsuya yang menyebabkan tubuhnya terjatuh karna tak kuat menopang badan yang lebih berat.
"Tetsuya-Cchi, aku sangat merindukkanmu-ssu" Tubuh mungil menjadi sasaran empuk untuk di dekap seerat mungkin, mengabaikan paru – paru si mungil yang kehabisan oxygen.
"Ryouta, lepas Tetsuya sekarang" Suara dingin Seijuurou membuat Ryouta bergidik ngeri, ia buru – buru melepas tubuh Tetsuya dan saat itu ia sadar jika ia hampir membuat sesak nafas Tetsuya kambuh.
"Ceh, kau bertindak bodoh lagi Ryouta? Sudah ku bilang untuk tidak memeluk Tetsu" Celoteh Si kulit Tan –Daiki-.
"Gomen-ssu, aku sangat merindukkan Tetsuya-Cchi. Sudah seminggu tak bertemu dengannya dan aku sangat merindukkan adikku" Sungut Ryouta.
"Kau boleh memeluknya, tapi jangan terlalu erat sampai ia kehabisan nafas, Nanodayo. Jika sesak nafas Tetsuya kumat, mungkin matahari tak akan bersinar untukmu Ryouta" Ancam Shintarou, "Aku tidak menirumu Seijuurou, aku hanya tak ingin Tetsuya mengalami sesak nafas lagi" Elak Shintarou saat sadar jika ia bersikap seperti Seijuurou.
"Tak masalah, kalau hanya Ryouta, itu tak akan memberikan efek untuk kita. Mungkin satu orang berkurang itu akan lebih bagus" Ucap Seijuurou santai, Shuuzou yang menjadi penonton ikut membuka suara.
"Daripada kalian hanya sekedar mengancam, kenapa tidak jadikan umpan untuk rencana hari ini?" Merasa dalam bahaya, Ryouta langsung menatap semuanya dengan garang.
"Ryouta-Chin sudah jadi umpan kan? Tapi sayangnya dia selamat" Kali ini iris madu itu membulat besar, benar – benar empat saudaranya itu, jadi ia selama ini menjadi pengintai hanya untuk menjadi umpan, tatapan garang tertuju pada Daiki yang menggaruk leher.
"Daiki-Nii, apa maksudnya aku jadi umpan-ssu?" Iris madu itu menyipit.
"Aku tak tau Ryouta, mungkin mereka bosan memiliki adik berisik sepertimu" Imajer airmata buaya mengalir dari mata Ryouta. Merutuk kesal karna baru saja pulang tapi sudah kembali menjadi bulan – bulanan untuk kakaknya yang jahil.
"Hidoii-ssu" Rengek Ryouta dan memberikan ulasan senyuman terpatri di bibir Tetsuya. Senyuman tipis beserta sebuah ketulusan disana. Tuhan, jika diizinkan seluruh orang yang ada disana untuk meminta, mereka hanya ingin satu,
'Jangan pernah hapus senyuman itu meski hanya sedetik'
Sejenak ruangan itu serasa seperti dihipnotis oleh senyuman Tetsuya yang semakin mengembang saat melihat Ryouta tak henti – hentinya menjadi korban dari bullyan kakak – kakaknya, bahkan tak jarang Ryouta mendapatkan tatapan pembunuh saat memeluk Tetsuya protectif. Ada tawa lepas yang memenuhi ruangan, tawa yang selama ini menghilang tertelan waktu kini kembali. Ruangan menjadi sedikit hening saat dehaman menghentikan kegiatan mereka.
"Ma, sebaiknya kita mulai bergegas. Waktu kita tidak banyak" Shuuzou memberikan intruksi.
"Soukka, aku baru sadar. Ryouta, apa kau sudah menemukan lokasinya?" Seijuurou menatap Ryouta yang masih bersungut karna bully-an tadi.
"Sudah-ssu, Maji Buger saat jam makan malam. Mungkin 4 jam lagi-ssu" Ryouta masih memajukan bibirnya karna kesal.
"Kau sudah dewasa, Ryouta. Bersikaplah selayaknya pria berumur 21 tahun, Nodayo" Tegur si surai hijau.
"Percuma Shintarou-Nii, dia tak akan mendengarnya. Biarkan saja seperti itu, yang penting misi kali ini sukses" Celetuk Daiki.
"Itu benar." Suara Seijuurou menginterupsi, ia melirik ke arah adiknya yang memiliki tubuh paling besar. "Atsushi,kau bisa mengatur restoran cepat saji itu kan?"
"Okey" jawabnya singkat dengan nada malas.
"Baiklah, sekarang tinggal bagi tugas untuk yang lain." Seijuurou menghela nafas dan menatap seluruh orang yang ada disana. " Shintarou dan Atsushi, kalian bertugas mengawasi di maji burger dan ingat, jangan lupa untuk melumpuhkannya"
"Aku mengerti, Nodayo" Ucap Shintarou cepat.
"Daiki dan Ryouta akan bertugas saat penangkapan, kalian melalui jalur udara dan jangan lupa menghubungi Imayoshi untuk pengepungan jalur darat"
"Okey/-ssu" Daiki dan Ryouta menjawab serentak.
"Shuuzou—" Belum lagi Seijuurou selesai berbicara, Shuuzou langsung memotong cepat.
"Tenang saja, Tetsuya aman bersamaku dan Takao untuk berjaga" Sebenarnya Seijuurou jengkel karna ucapannya dipotong, jika saja ada waktu ia ingin sekali memukul kepala pria yang satu tahun lebih tua darinya.
"Aku ikut Nii-San? Bukannya kau belum bisa berjalan?" Tanya Tetsuya mengerutkan dahinya.
"Tak akan menarik jika kau tak ikut Tetsuya, semua sudah sesuai dengan strategi yang ku susun" Seijuurou menampilkan senyuman samar yang terlihat seperti psikopat liar dan akan menangkap mangsa. "Kali ini kita akan melihat bagaimana ekspresi si bodoh itu"
_ooOOOoo_
Pukul 06:00 malam, tepat saat makan malam. Maji buger tengah ramai dengan para pengunjung yang datang. 3 orang karyawan yang bertugas di kasir tengah sibuk – sibuknya mencatat dan mengambil pesanan pelanggan. Ada pula pelayan yang simpang siur membersihkan meja kotor, pemandangan klise di tengah kesibukkan kota Tokyo di Malam hari. Gemerincing lonceng pertanda ada pelanggan masuk sedikit menarik perhatian, seorang pria dengan rambut yang berwarna hitam dengan wajah yang menjadi kejaran keluarga Akashi mulai menampakkan diri.
Dengan penyamaran yang sempurna, pria itu –Haizaki Shogo– tak menyadari jika ada 6 pasang mata yang menggawasi. Seorang pria dengan kaos polos berwarna oranye dengan rambut tertutup oleh topi dengan koran sebagai penutup wajah menampilkan senyuman kecil. Sementara 3 petugas kasir saling memicingkan mata menatap pria itu, setelah mengangguk mereka mulai menjalankan akting sebagai petugas kasir. Dari dapur, seorang pria sedang menyiapkan beberapa pesanan dan menajamkan telinga untuk mendengar dengan jelas pesanan orang itu.
"Selamat siang, mau makan disini atau dibawa pulang?" Kasir dengan rambut panjang menutupi mata –Himoro Tatsuya– bertanya dengan senyuman khas.
"Aku pesan cheese burger 2, Teriyaki burger 3, Cola 2 dan French Fried 2" Himuro mengangguk dan menghitung.
"Total 2.500 yen" Haizaki menyerahkan beberapa lembar uang dengan acuh.
Himuro segera memberikan kode untuk pesanan khusus Haizaki, pria yang ada di dapur segera memberikan pesanan dengan sedikit tambahan. Himuro memberikan nampan berisi pesanan Haizaki dengan senyuman indah namun dalam hati ia berteriak senang karna berhasil memancing seekor tikus untuk masuk dalam perangkap.
"Ini pesanan anda tuan" Himuro berbicara sopan.
"Tunggu, aku tidak memesan Cherry Sunday"
"Oh itu bonus untuk anda karna memesan cukup banyak"
"Huh"
Tanpa ambil pusing, Haizaki mengambil tempat yang kosong. Memakan pesanan dengan lahap tanpa peduli hal sekitar. Setelah menghabiskan 5 burger, 1 gelas cola, 1 French Fried dan satu Cherry Sunday, Ia mencoba duduk lebih santai. Perutnya sangat kenyang tapi masih ada 1 cola dan 1 french Fried yang belum dimakan. Haizaki makan dengan lebih lambat sembari menyesap colanya, saat ia terbuai akan ketenangan untuk membuang waktu, tiba – tiba saja ada seseorang yang menegurnya.
"Boleh aku duduk disini" Sebuah suara menginterupsi, karna tak ingin mengambil pusing, Haizaki menjawab tanpa melihat orang yang berbicara dengannya.
"Duduklah sesukamu" Jawabnya Acuh sembari menatap keluar jendela.
"He~ ternyata kau orang baik" Haizaki terkesiap cepat saat orang itu sudah duduk di depannya. Wajahnya seketika memucat dengan tubuh yang mematung, pria di depannya adalah orang yang selama ini ia benci dan ia hindari. Oh Tuhan, apa ini nasib sialnya?
"A-Akashi?" Suaranya tercekat, tak bisa bergerak sama sekali. Pria yang ia panggil Akashi itu duduk santai sembari menyilangkan kedua kakinya.
"Apa kau terkejut karna tuan muda sepertiku bisa berada disini Hm?" nada itu sangat tenang tapi entah kenapa terasa mencekam. "Oh ya, sebelum aku menikmati hidangan makan malam ini. ada satu hal yang ingin ku beri tahu padamu"
"…" Nafas Haizaki tercekat, ia bahkan tak bisa mengeluarkan sepatah katapun saat mata ruby itu menatapnya penuh intimidasi.
"Rasanya kurang menarik jika makan siang tanpa adanya sedikit pertunjukkan" Seijuurou menampilkan senyuman miring. "Ne Haizaki-San, sepertinya sedikit hiburan darimu akan membuat selera makanku bertambah" tepat selesai Seijuurou berbicara, sebuah petikkan jari menyadarkan Haizaki maksud dari ucapan itu.
Seketika, Haizaki merasakan kepalanya pusing, sangat pusing bahkan serasa ingin pecah. Disaat yang bersamaan pula, terdengar langkah kaki orang – orang berseragam dan menggunakan pistol memasuki restoran cepat saji itu. Ketika ia melihat sekeliling, para karyawan juga menatap tajam kearahnya beserta sebuah Sniper di tangan. Haizaki berdecak, ia menampilkan sebuah senyuman dan menatap ke arah Seijuurou.
"He~ Kau ingin membunuhku Akashi?" Tanyanya tajam, mengabaikan kepala yang semakin terasa pusing.
"Iie, hanya menangkap orang yang berusaha membunuh adik kandungku dan menghancurkan keluargaku" Haizaki mengepalkan tangan kesal.
"Coba saja menangkapku di sini, kau lihat, semua pengunjung akan menjadi saksi dari kesadisanmu Akashi. Kau tau, aku bisa mengambil celah saat mereka panik" Haizaki menatap remeh ke arah akashi, mencoba mengambil segenap kekuatan padahal sendirinya masih gugup.
"Tenang saja, aku tak akan takut meskipun kau mengancam dengan sebuah pistol sekalipun." Seijuurou mempertahankan posisi santainya sementara Haizaki sudah menatap sekitar. Menghitung waktu yang tepat untuk melarikan diri, hanya tinggal 1 jam lagi maka ia akan terbebas karna ia akan segera berangkat ke Brazil.
"Huh, Untuk apa aku menodongkan pistol jika aku bisa mengambil kesempatan untuk melarikan di—" Ucapan Haizaki terpotong saat Seijuurou kembali memetik jarinya. Saat itu, pengunjung yang tadinya terlihat biasa saja menampilkan senyuman remeh, apa lagi Shintarou yang duduk di belakang Haizaki sudah menampakkan diri dengan tangan kiri menggenggam sebuah Pistol mini-Lucky Item- tapi mampu membunuh.
Haizaki mendengar deruan kipas raksasa yang menerbangkan pepohonan yang berada di luar, jendela restoran cepat saji itu bergetar hebat diterpa angin yang kuat. Mata Haizaki menyipit tajam saat melihat sebuah Helicopter yang terbang rendah dengan seorang pembidik berambut Navy Blue dan ia sudah tau hanya satu orang yang memiliki surai seperti itu. Tarikan senyuman mereng semakin jelas menghias dibibir Haizaki, kepala yang tadi pusing sekarang menguap seketika.
"Bagaimana Haizaki-San? Ingin kabur?" Haizaki diam, mencari sedikit celah untuk melarikan diri ke arah mobil yang terparkir tepat di dekat jendela. "Kau tak akan lari kemanapun, jikapun kau bisa lari, akan ku pastikan kaki mu berlubang"
"Kuso!"Gerutu Haizaki menatap tajam ke arah Seijuurou. "Akashi, jangan kau fikir aku menyerah hanya dengan kepungan seperti ini. Aku bahkan tak akan pernah takut dengan para Sniper handal ataupun Sniper palsu yang kau sewa"
"Palsu? Semua yang ada disini adalah Sniper asli. Kau ingin coba?"
"Ouh, Asli tapi aku rasa sebagian dari mereka amatir yang hanya bisa menggertak, terlebih pria berambut hitam dengan sebelah mata tertutup disana" Haizaki menunjuk ke arah Himuro Tatsuya yang memegang Pistol jarak jauh dibalik mesin kasir. Tentu saja ia masih amatir, dia seorang chef bukan seorang Sniper. Bukannya takut, Seijuurou tertawa renyah dengan senyuman sadis.
"Dia memang bukan penembak sesungguhnya, tapi dia penembak dari dalam" Seijuurou memasang pose jari yang akan menembak. Jari manis dan kelingking di tekuk dengan jari tengah beserta jari telunjuk mengarah tepat ke bagian jantung Haizaki. "Bang!"
Bukan sebuah hipnotis, tapi Haizaki terduduk seketika. Tubuhnya tidak bisa merasakan apapun, bahkan bergerakpun tidak bisa. Menggeleng kuat, Haizaki berniat menepis asumsi – asumsi jika ini semua kebetulan, semuanya hanya kebetulan. Seijuurou tersenyum penuh kemenangan, ia kira ini akan sulit tapi nyatanya lebih mudah dari dugaan. Shintarou yang berada di belakang Haizaki hanya menatap diam apa yang tengah Seijuurou lakukan. Tak ingin protes apalagi untuk berbicara, ia lebih suka melihat.
"Ck, Sei-Nii menyebalkan. Seharusnya ini giliranku" Gerutu Daiki yang masih membidik sasaran.
"Tenang-ssu, nanti akan ada giliranmu Daiki Nii-Cchi" Ryouta yang menjadi pilot terkekeh kecil melihat tingkah sang kakak yang tak sabaran.
"Tapi ini tugasku untuk membidik dan menembaknya, mereka semua Cuma memegang pistol tanpa peluru" Celoteh Daiki.
"Meskipun itu pistol tanpa peluru, tapi si Teme sepertinya sudah tak berdaya-ssu"
"Ck, sebenarnya racun apa yang dibuat oleh Shintarou-Nii sampai melumpuhkan secepat itu?" Ryouta menghhardikkan bahunya.
"Aku tidak tau-ssu, Shintarou-Nii sangat jenius bisa membuatnya dan menyatukannya dengan resep di Maji burger-ssu."
"Atsushi-Nii memang ahli dalam meniru rasa makanan dan mengolahnya menjadi mirip meskipun bahannya berbeda." Daiki masih membidik, "Aku curiga Atsushi – Nii mencampurkan bahan tak layak untuk pesanan si teme itu"
"Bisa jadi-ssu, Atsushi –Nii tak akan segan melakukan apapun jika itu berhubungan dengan keluarga kita-ssu"
"Haii, kalau soal itu jangan kau tanya. Aku tak berani membayangkan jika Atsushi-Nii mengamuk. Maji burger bisa tinggal serpihan tanah" Daiki bergidik ngeri saat membayangkan kakak titannya itu mengamuk. Ring basket yang sangat kokoh bisa runtuh, apa lagi dengan maji bangunan Maji burger yang sebagian hanya berlapis Kaca?
"Apa sudah ada pergerakan dari si Teme itu Nii-Cchi?"
"Belum, tapi akan"
"Heh?"
"Dia terlihat sedang mencari celah untuk lari, perkiraanku dia akan lari dari jendela itu dan berlari menuju mobil yang terparkir disana." Dahi Daiki mengerut, ia tersenyum ketika otaknya menemukan sebuah titik celah. "Ini akan jauh lebih menarik dibanding rencana Sei-Nii"
Kedua alis Ryouta mengerut tajam, tak mengerti dengan jalan pikiran sang kakak mesum. Bisanya segala rencana yang tertuang darinya selalu berhubungan dengan Mai-Chan, Kalau sudah seperti itu, Seijuurou bertindak untuk membungkam mulutnya dengan tatapan tajam. Sementara itu, sebuah mobil berwarna silver, 3 orang sedang memperhatikan setiap kejadian melalui televisi mini. Satu berpusat sebagai pengendali jarak jauh, mengidentifikasikan setiap kejadian mencurigakan yang bisa saja seorang Seijuurou lewatkan. Dia-Nijimura Shuuzou- sudah bersiap untuk memberikan intruksi.
Di samping Shuuzou, pria mungil bersurai Baby Blue menatap datar layar televisi yang menampilkan seluruh saudara – saudara juga beberapa orang yang ia kenal terlebih pandangannya terfokus pada si surai hitam dengan campuran abu – abu. Iris Baby Blue menatap datar tapi bibirnya tergigit untuk menenangkan fikiran buruk yang melintas. Dia-Akashi Tetsuya- bungsu keluarga Akashi yang paling dijaga. Tepat disamping Tetsuya, ada Takao Kazunari yang bersiap dengan obat – obatan jika sewaktu – waktu dibutuhkan. Semua sesuai kendali bahkan semua yang terjadi sesuai dengan taktik yang Seijuurou sampaikan.
"Sempurna, semua sesuai dengan rencana. Satu tembakan dan dia akan tamat" Gumam Shuuzou.
"K-Kalian tidak akan membunuhnya kan?" Shuuzou tertawa pelan.
"Jangan bodoh, untuk apa kami membunuhnya secepat ini Tetsuya. Lebih baik melihatnya hidup tersiksa daripada membunuhnya, kita tak perlu mengotori tangan kita dengan darahnya" ujar Shuuzou
"Bukankah itu kejam Nii-San?" Shuuzou berniat membuka mulut sebelum suara Takao memotongnya.
"Itu tak kejam Tetsu-Chan, ia hanya akan merasakan penderitaan yang sama denganmu. Dan dengan seperti itu, aku rasa semuanya impas."
"Kalian berniat menghancurkan hidupnya?" Tanya Tetsuya polos.
"Jangan terlalu mengasihani orang lain Tetsuya, cobalah untuk lebih mengasihani kakak – kakakmu yang sekarang sedang berjuang. Ingatlah, mereka jauh lebih menderita dibandingkan Haizaki itu. Melihatmu seperti ini sama menusukkan panah yang menembus jantung mereka secara berulang" Shuuzou berhenti sejenak. "Aku juga sama Tetsuya, aku anak tunggal dari keluarga Nijimura. Aku sering berkunjung ke mansion kalian karna disana ramai, meskipun kita semua bukan lagi anak kecil, tapi bersama kalian membuatku merasa nyaman. Yah, aku merasa ada sesuatu yang harus ku jaga"
"Nii-San"
"Kalian masih bagian dari Nijimura meskipun nama depan kalian adalah Akashi, salah satu dari kalian tersakiti ataupun butuh bantuan, aku dengan senang hati akan turun tangan. Memang beberapa tahun belakangan ini aku lebih sibuk, bukan karna tak ingin menyempatkan waktu, hanya saja perkembangan perusahaanku sedang berada di puncak" Shuuzou menghela nafas pelan. "Setelah ini berakhir, aku akan sering mengunjungimu. Aku sangat berharap kau bisa sehat dan nanti, setelah kau bisa semuanya, akan ku beri satu hadiah"
"Hadiah?" ada nada antusias yang terdengar.
"Haii, hadiah untuk membuatmu lebih hebat dari kelima kakakmu dan memberitahumu sedikit tentang kelemahan Seijuurou, Shintarou, Atsushi, Daiki dan Ryouta"
"Nii-San tak berbohong?"
"Aku tak akan bohong"
"Wakatta, tapi boleh aku tidur. Aku tak bisa melihat setiap kejadian di layar" Shuuzou tersenyum.
"tentu saja, Takao akan menjagamu" Shuuzou melirik ke arah Takao. "Benarkan Takao?" Takao mengangguk. Hanya dalam hitungan detik, iris Baby Blue itu menutup. Ulasan senyuman semakin mengukir di bibir Shuuzou, "Kau terlalu baik Tetsuya"
Fokus kembali ke layar, menampakkan Seijuurou yang tersenyum angkuh dengan Haizaki yang terduduk di kaki Seijuurou. Karna bosan tak ada perlawanan dari Haizaki, Seijuurou bangkit dari duduknya, membuka jendela restoran cepat saji dan memberikan celah dari langit. Haizaki tak bisa bergerak sama sekali, berniat untuk memukul si surai merah dan melarikan diri. Kaki yang lemas kini terasa kesemutan, bahkan tak bisa bergerak. Hanya decihan yang keluar dari bibirnya.
"Kalau kau ingin menangkapku, tangkaplah sekarang. Aku muak menunggu"
"Jangan terburu – buru, aku masih menikmati apa yang terjadi padamu." Seijuurou tersenyum dingin.. "Bagaimana jika aku buat sebuah eksperimen kecil sebelum sebuah peluru menembus kepalamu"
"Kau apa lagi? Kau mau menyiksaku?"
"Mungkin iya, mungkin juga tidak. Aku hanya ingin melihatmu berteriak kesakitan, sama seperti yang tetsuya rasakan" Wajah Haizaki memerah kesal.
"Cih, kau pikir dengan menyiksaku, si bocah lemah itu akan kembali hidup? Jangan bodoh, Akashi"
"Tunggu, mati? Siapa?" Seijuurou memiringkan kepalanya.
"Huh, kau semakin menyebalkan. Bukannya kau ingin membalas dendam atas kematian adikmu itu" Seijuurou tertawa renyah sembari menggeleng. Ia melirik ke arah Shintarou.
"Shintarou, haruskah kita memberitahunya tentang Tetsuya?" Shintarou yang dari tadi hanya jadi penonton kini menaikkan bingkai kacamata yang tak melorot.
"Terserah kau saja, Nanodayo. Bukannya aku tak mau memberi pendapat, tapi kau lebih tau soal ini, Nodayo"
"Hm, atau aku lebih baik langsung memperlihatkan kebenarannya?" Shintarou mendengus.
"Jangan lakukan hal ceroboh, Seijuurou. Ini menyangkut nyawa seseorang"
"Wakatta, lebih baik memberitahukannya" Seijuurou mendekat ke arah Haizaki yang terduduk tanpa ada perlawanan sedikitpun. Menarik ujung rambut dan iris berbeda warna itu akhirnya bertemu. "Akashi selalu absolut dan apa yang kami lakukan selalu benar. Jangan berfikir mudah menghancurkan bagian terdalam yang kami lindungi, meski lemah dan paling mudah dihancurkan, bukan berarti ia selemah itu kan"
"….." Haizaki tak berbicara, kepalanya terasa mau pecah karna tarikkan kuat dari tangan Seijuurou.
"Akashi Tetsuya tak semudah itu mati hanya karna sebuah kebakaran" Bola mata itu membulat besar, mulut terbuka lebar, tergugu seolah ingin membantah. "Jadi, lebih baik kita akhir ini secepatnya sebelum efek dari pelumpuh itu hilang"
'Tsk! Sialan! Pantas saja aku tak bisa bergerak, ternyata mereka memasukkan racun pelumpuh. Akh, bagaimana bisa aku tak tau!' umpat Haizaki dalam hati.
"Shintarou, hubungi Daiki. Kita lanjutkan rencana kedua" Tanpa banyak bicara, Shintarou langsung menatap ke arah Helicopter yang terbang rencah. Memberikan kode dari tangan untuk melancarkan rencana kedua.
"Tsk, kenapa harus rencana kedua. Ini tidak menarik" Gerutu Daiki membaca gerakkan tangan kakak kedua. Ia menarik kembali Snipernya dan mengganti peluru yang telah di persiapkan.
"kenapa diganti-ssu? Jangan – jangan dia menyerah?" Daiki mendengus.
"Begitulah, aku malas dengan misi ini. Aku kira ini akan menyenangkan, ternyata dia menyerah" Daiki membidik dan menarik pelatuknya. Dalam hitungan detik, peluru yang disiapkan menancap tepat pada sasaran. "Ch, ternyata dia hanya pria yang berani meneror dan melakukannya dari belakang. Pria yang tidak menarik sama sekali"
"Jadi sekarang kita bagaimana Nii-Cchi?" Daiki mengambil kursi yang tersedia dan merebahkan tubuhnya.
"Kita kembalikan Helicopter ini ke markas dan berkumpul di tempat yang sudah Sei-Nii katakan"
"Okey-ssu"
Helicopter menjauh menuju markas, meninggalkan lokasi penyergapan yang saat ini mulai dikerumuni oleh wartawan yang datang. Haizaki yang jatuh pinsan tepat di kaki Seijuurou segera diangkat oleh petugas yang tadi menyamar. Sembari membersihkan debu yang kiranya menempel, Seijuurou berjalan angkuh diikuti Shintarou, Atsushi dan Himuro menuju mobil pribadi yang telah disiapkan. Para petugas yang tadi ikut menyergap langsung mengikuti langkah kaki sang kaisar meninggalkan restoran cepat saji yang dipenuhi oleh wartawan yang mencari informasi, namun tidak mendapatkan jawaban yang pasti. Ah, setiap manusia akan mudah membungkam mulut jika diberikan uang bukan?
_ooOOOoo_
Satu pria dengan seragam tahanan diikat di sebuah kursi. Ikatan tali melilit seluruh bagian tangan dari sebatas dada hingga perut. Kedua kaki terborgol dan jangan lupakan ruangan yang saat ini ia tempati jauh dari kata baik. Ruangan pengap dengan cahaya lampu kecil, jeruji besi dan dinding tebal mengelilingi dirinya. Aroma busuk dari toilet menyesakkan indra penciuman, sama sekali tidak baik untuk paru-paru yang butuh udara segar.
Lenguhan pelan dari pria itu menjadi pemandangan tersendiri untuk 6 pria yang berdiri di tempat yang agak jauh dari tempat itu. Pria itu-Haizaki- terbangun dari tidur panjang yang melelahkan. Berharap saat semua yang terjadi hanyalah sebuah mimpi belaka namun ketika ia memfokuskan mata dan memandang 6 orang dengan surai warna – warni, ia akhirnya mengerti jika itu semua bukan sebuah mimpi.
"Ohayo-ssu, kau sudah bangun?" Celetuk Suara nyaring model berambut kuning-Akashi Ryouta.
"Yo, bagaimana rasanya bangun di tempat seperti itu?" Kali ini si surai Navy Blue dengan seragam polisi-Akashi Daiki- bertanya.
"Hm, apa dia lapar? Dari tadi tidak menjawab, apa aku harus membawakan kue 4 hari yang lalu?" Si surai ungu –Akashi Atsushi- menunjukkan ketidaksukaannya dengan nada malas.
"Hmph, aku yakin dia masih merasa pusing karna efek obat yang ku buat, Nanodayo" Si surai hijau dengan seragam dokter-Akashi Shintarou- menaikkan bingkai kacamata yang tak turun.
"Itu bukan obat, Shin. Kau membuat racun pelumpuh" Celetuk si surai Hitam-Nijimura Shuuzou-.
"Diamlah kalian, aku ingin melihat wajahnya untuk yang terakhir kali" Masing – masing yang mendengar langsung menutup mulut mendengar ucapan sang kaisar merah –Akashi Seijuurou-, bibir menyunggingkan sebuah senyuman remah beserta tatapan tak suka. "Haizaki Shogo, apa kau menikmati tempat tinggal barumu"
"…." Haizaki masih terdiam, iris matanya berusaha mengumpulkan sedikit cahaya untuk mengembalikan fokus.
"Ah, kami kesini hanya ingin menyampaikan satu hal" Seijuurou berbalik dan memanggil seseorang, "Takao, bawa Tetsuya kemari"
Perintah mutlak terlantun di bibir Seijuurou, sang pemilik nama bergegas menjalankan perintah untuk membawa seseorang yang masih duduk diam di kursi roda dengan hidung yang terbalut alat bantu pernafasan. Derit roda berputar beriringan dengan sol sepatu yang menyentuh lantai dingin, perlahan – lahan surai Baby Blue menyembul diikuti iris Baby Blue yang menyejukkan, tak luput wajah pucat yang selalu datar menghampiri mereka.
Tangan Seijuurou terulur menyambut kedatangan sang adik tersayang, surai warna – warni lainnya ikut mengerubungi tapi sedikit memberi jarak agar sang adik tak merasa pengap meskipun sudah memakai alat bantu pernafasan. Seijuurou berdiri di belakang kursi roda Tetsuya, disamping kanan ada Shintarou beserta Atsushi sedangkan di samping Kiri ada Daiki dan Ryouta. Shuuzou sendiri mengambil posisi mendekat ke arah Haizaki sedangkan Takao mengambil satu langkah ke belakang.
"Haizaki Shogo, apa kau tau siapa aku" Pria beriris hitam itu menatap Haizaki tajam, rambut hitamnya sedikit jatuh mengenai jeruji besi yang dingin.
"…" Haizaki tidak menjawab.
"Soukka, kau memiliki dendam pada keluarga Akashi tapi tidak tau sama sekali jika mereka juga mempunyai pelindung dari keluarga Nijimura" Shuuzou tersenyum sinis. "Perkenalkan, aku Nijimura Shuuzou pemilik Nijimura Corp dan merupakan kakak sepupu mereka"
"Aku tau, kau sudah muncul saat wawancara itu"
"Tepat, lalu jangan fikir aku sama seperti mereka. Memang Nijimura masih bawahan dari keluarga Akashi, tapi kemampuan kami juga perlu kau perhitungkan. Akibat ulahmu, aku harus turun tangan untuk masalah yang menyangkut nyawa orang – orang yang berharga untukku" Shuuzou berbalik dan memanggil seseorang, "Daiki"
"Haii" Mengerti apa yang dimaksud, Daiki menyerahkan beberapa lembar berkas.
"Berkas ini berisi segala kesalahanmu dan aku bisa pastikan kau akan menanggung konsekuensi dari semua perbuatanmu" Mata Shuuzou menyipit tak suka. "Jangan remehkan bukti yang Daiki kumpulkan, Strategi yang Sei lakukan, racun pelumpuh buatan Shintarou, resep Atsushi yang menyamarkan rasa racun, pengendalian Helicopter ryouta dan…" Shuuzou berhenti sejenak. "Jangan remehkan sesuatu yang lemah, karna bisa jadi yang lemah itu adalah pemicu untuk kekuatan yang lebih besar" Shuuzou mengakhiri ucapannya.
"Ne, Haizaki. Kau lihat sendiri, Tetsuya sedang bersama kami dan aku harus katakan satu hal, butuh waktu 1000 tahun bagimu untuk menghancurkan kami. Jadi, Sayonara." Seijuurou tersenyum tipis, "Nikmati akhir hidupmu di tempat ini dan nikmati apa yang telah kau lakukan pada keluarga kami"
Seijuurou membawa kursi roda Tetsuya berbalik dan menjauh, Ryouta, Daiki, Shuuzou, Shintarou, Atsushi dan Takao mengikuti langkah Seijuurou. Misi selesai dan berkas diberikan pada Imayoshi untuk segera ditangani. Laporan tertulis dengan detail lengkap dengan segala bukti. Mengumpat, menyumpah bahkan berontakpun tak ada guna bagi seorang Haizaki Shogo. Tak akan ada yang bisa menyelamatkannya, terlebih kekuasaan Akashi dan Nijimura yang bersatu. 0% kemungkinan bebas bagi mereka yang mengusik ketenangan keluarga Akashi.
"Jadi, ini sudah berakhir?"
To be Continue...
Mohon maaf atas keterlambatan lian update, kemarin laptop di pinjam, jadi gak bisa update T^T.. 2-3 chapter lagi selesai..
Makasih buat yang udah nunggu, and selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan.. ^^
Chapter selanjutnya Chapter 20 - Stay With You.
