Tittle : White Crystal
Maincast : -Akashi Seijuurou
- Kuroko Tetsuya
- Aomine Daiki
- Kise Ryouta
- Murasakibara Atsushi
- Midorima Shintarou
Suport Cast : - All of Kuroko No Basuke Chara
Author : Lian (VT_Lian1995)
Genre : Family, Slice Of Life, School Life, Brotheship, Little Comedy, Sad, Hurt.
Attention : This chara not mine, this chara from Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi – sensei.
Little information : Seluruh nama Cast akan menggunakan nama Akashi karna ini berhubungan dengan kisah keluarga Akashi. Jadi di mulai dari Tetsuya sampai Shintarou akan menggunakan nama depan Akashi.
Summary : Akashi Tetsuya, bungsu dari 6 bersaudara keluarga Akashi harus menangung beban berat di pundak untuk memberikan kesan betapa hebatnya keluarga Akashi. Tapi sayangnya, apapun yang ia lakukan pasti sudah pernah dilakukan oleh ke – 5 kakaknya. Apapun itu, segala yang Akashi Tetsuya raih seolah hanya sia – sia, terlebih jika dibandingkan dengan fisik ke – 5 kakaknya, Tetsuya jauh lebih lemah, namun tak menampik kemungkinan ia bisa jadi lebih kuat walau usahanya akan mendapat resiko yang tinggi. Ini demi menjunjung tinggi motto dari sang Ayah yang telah tiada "Pemenang akan mengukir sejarah dan yang kalah akan menjadi pecundang yang terlupakan."
"Jika kau katakan menjadi bungsu keluarga Akashi merupakan anugrah, tapi bagiku tidak. Beban yang ku tanggung lebih besar dari Ke-5 saudaraku yang lain"
_ooOOOoo_
Chapter 20
%^Stay With Us^%
Berita menggemparkan kembali menarik perhatian seluruh jepang pada keluarga terkaya di negara itu. Aksi penangkapan seorang yang nyaris nihil dalam catatan kepolisian ternyata berani mengusik ketenangan keluarga dengan segudang prestasi dan keahliannya. Koran dan berita memuat wajah – wajah pemilik marga Akashi beserta seorang dengan marga Nijimura disana. Berita palsu mengenai kematian Tetsuya segera dikonfirmasi meskipun mereka masih menyembunyikan keberadaan Tetsuya dengan alasan agar lebih aman.
Kelegaan seketika memenuhi rongga dada seluruh pemain basket yang mengenal The Phantom Six Man, terlebih Seirin yang menyambut gembira kabar itu. Sesuai dengan kondisi Tetsuya yang tak memungkinkan untuk sekolah, Seijuurou sebagai wali meminta izin agar Tetsuya cuti selama 1 tahun untuk pemulihan. Selama masa Cuti, Tetsuya tidak diizinkan berada disekolah namun tetap bisa mengikuti ujian semester dan ujian kenaikan kelas. Tanpa mengikuti kegiatan rutin, nama Akashi Tetsuya tak pernah bergeser dari posisi pertama ujian. Decak kagum juga sebal terdengar setiap kali para siswa maupun siswi Seirin melihat nama Tetsuya yang terpampang besar.
Keikutsertaan Tetsuya dalam anggota dewan sekolah diwakilkan oleh Hyuuga Junpei dan melalui perantara Mabuchi –Pelayan pribadi keluarga Akashi – Tetsuya sering kali mengungkapkan ide juga gagasan untuk semakin menaikkan pamor sekolah. Meski ini tahun terakhir Hyuuga berada di Seirin, tapi berhasil membuat sekolah itu semakin terkenal juga banyak siswa menengah pertama yang mengincar Seirin sebagai sekolah tujuan. Terlebih kabar jika Akashi Tetsuya akan kembali ketika tahun terakhir, menjadikan banyak siswa dan siswi yang ingin masuk sekolah itu.
Untuk para siswi sudah jelas karna kagum akan sosok Tetsuya yang tampan juga segala kesempurnaan yang mereka ketahui dari marga Akashi yang disandang. Untuk para Siswa, mereka rata – rata mengejar kegiatan Club Basket dan ingin bermain bersama sang Phantom Six Man. Sosok Tetsuya yang tak terlihat, kini diagung – agungkan dan sangat di tunggu kedatangannya di Sekolah Seirin.
Winter Cup yang Tetsuya lewatkan bukan berarti lepas dari pengamatannya, Seirin tetap menjadi juara Winter Cup tanpa Tetsuya disana. Terdengar jelas saat penerimaan hadiah, Seluruh member Club mengucapkan rasa rindu juga menunggu kembalinya seorang Akashi Tetsuya. Jujur saja, mereka hanya tau jika Tetsuya sedang dalam pengawasan ketat karna baru saja menjadi incaran orang yang tak bertanggung jawab, tanpa tau jika saat ini Tetsuya juga sedang berusaha untuk kembali bisa berjalan dan kembali bermain basket.
Ruangan luas dengan aneka alat – alat yang digunakan untuk Theraphy tersusun disegala tempat. Remaja bersurai Baby Blue dengan piyama biru tua membalut tubuh kurusnya. Dua tangan memegang palang besi kokoh sementara kedua kaki berusaha untuk bergerak perlahan. Lantai dingin tertutupi oleh matras lembut sebagai bahan pijakan kaki yang sering tak seimbang. Peluh bercucuran seiring dengan setiap langkah ia buat namun tak menyurutkan tekad juga semangat untuk bisa berjalan.
"Jangan dipaksakan Tetsu-chan, kalau lelah kau bisa istirahat sebentar" Suara pria bersurai hitam dengan rambut belah tengah dan mata elangnya, - Takao Kazunari – sang dokter yang bertugas untuk menemani bungsu Akashi untuk mengikuti Theraphy agar bisa berjalan lagi.
"Masih belum Takao-Nii, aku masih belum lelah" Sifat keras kepala dengan pantang menyerah itu beda tipis, penggambaran yang pas untuk seorang Akashi Tetsuya. Helaan nafas terdengar di bibir Takao, ia tak bisa memaksa dan hanya bisa menurut dengan kemauan Tetsuya.
"Terserah Tetsu-chan, aku akan terus mengawasi"
"Un, aku merasa sudah bisa berjalan seperti biasa, tapi ketahanannya masih terlalu cepat"
"Kau memang sudah bisa berjalan normal, tapi dalam jangka waktu sebentar. Jika sering dilatih, mungkin akan memperlama ketahan tubuhmu." Takao mengambil sebuah catatan, "Hm, aku rasa kemajuanmu cukup pesat Tetsu-chan, bisa jadi 6 bulan lagi kau sudah bisa normal"
"Benarkah?" Binar antusias terlihat dari kedua iris Baby Blue itu.
"Haii, tapi masih harus dalam pengawasan. Ingat, normal untukmu berbeda dengan normal untuk mereka yang memang benar – benar bisa berjalan" Bibir mungil mengerucut tajam, hempasan nafas kesal terdengar kentara dari pemilik wajah datar itu.
"Tidak lucu mengingatkan hal yang sama Takao-Nii, jika Shintarou – Nii dengar, aku akan meminta Shintarou-Nii untuk menghukum Takao-Nii. Kalau tak salah hari ini Lucky Item Shintarou-Nii adalah pisau bedah." ancam si Baby Blue, tawa hambar seketika terdengar dari bibir Takao.
"Gomen, aku hanya bercanda Tetsu-chan. Jangan katakan soal ini pada Shin-chan, kau tau sendiri kakakmu yang satu itu bisa jadi psikopat dalam hitungan detik kalau terjadi sesuatu pada adik kesayangannya" Takao seketika bergidik ngeri membayangkan apa yang terjadi pada Haizaki yang pernah ditangkap oleh kelima ah tidak, keenam kakak Tetsuya.
"Aku rasa penangkapan yang lalu itu terlalu berlebihan" Takao mengernyit.
"Berlebihan, sepertinya itu wajar" sanggah Takao.
"Untuk penangkapan memang wajar, tapi yang aku dengar, Haizaki-san mengalami kelumpuhan sepertiku. Bahkan dia mengalami lumpuh permanen, bukankah itu berlebihan?" Satu elusan mendarat di surai Baby Blue.
"Karma itu ada Tetsu-chan, siapapun yang berbuat jahat pasti akan mendapat balasannya" Senyuman mengembang, Tetsuya mengangguk cepat.
"Memang Karma itu ada Takao-Nii, kalau tidak ada, aku rasa produk keluarga Akabane akan hancur" Takao mengernyit, sejenak ia mendengar nama sebuah marga disebut.
"Oh Ayolah Tetsu-chan, kenapa kau harus menyebut nama Marga yang 11-12 sadisnya dengan marga yang kau sandang" Tetsuya menghardikkan bahunya acuh.
"Takao-Nii yang membawa nama anak pemilik Akabane Grub" Mata Takao membulat, ah ia sadar siapa yang tadi ia sebut.
"Ck, Aku bilang Karma dalam hal lain. Bukan Akabane Karma yang sifat psikopatnya seperti alter egonya Akashi Seijuurou" Takao menghela nafas dalam. "Aku tak bisa bayangkan jika Akashi Corp dan Akabane Grub bergabung" Gumam Takao.
"Jika mereka bergabung, tak akan ada lagi perusahaan yang mampu menyaingi keduanya" Suara berat yang familiar menarik fokus dua orang yang ada di ruangan itu.
"Sei-Nii" Ucap Tetsuya dengan senyuman.
"Yo Tetsuya, bagaimana keadaanmu?" Tangan besar si surai merah – Akashi Seijuurou- mengelus helaian rambut Baby Blue itu.
"Aku baik – baik saja, Sei-Nii. Takao-Nii mengatakan aku ada perkembangan" Senyuman dikulum.
"Yokatta"Seijuurou mengalihkan perhatian ke arah Takao yang sudah merasa horror karna tak sengaja mengatakan Seijuurou sebagai psikopat, ah,maksudnya Alter Ego Seijuurou. "Jadi Takao, Akashi Corp memang akan bergabung dengan Akabane Grub. Penerus yang baru menawarkan penawaran yang menarik, dan kau baru saja menyebutkan namanya. Nama Akashi akan semakin melebar dan menjadi perusahaan yang sangat diperhitungkan"
"M-Maji? Akabane Grub akan bergabung dengan Akashi Corp?" Seijuurou mengangguk.
"Un, mungkin dalam waktu dekat" Tatapan horror kembali terlihat di wajah Takao. Ough, jangan tanya seperti apa pemilik baru Akabane Corp. Jika Seijuurou memiliki Alter Ego seorang pecinta gunting akut, maka seorang Akabane Karma adalah pecinta pisau akut. Di kepala Takao sudah berputar bagaimana mengkhayalkan dua iblis menjadi satu, mungkin hujan gunting dan pisau yang katanya mitos akan segera menjadi kenyataan.
Sudut mata Takao melirik Tetsuya yang masih saja dengan tatapan datarnya sementara Seijuurou memasang senyuman rupawan yang ditujukan hanya untuk saudara juga orang – orang yang ia akui. Tetsuya sendiri kembali belajar berjalan, meski lamban juga masih sering kehilangan keseimbangan, namun semangatnya tak luntur. Tak jarang ketika kakak – kakaknya datang dan memaksa Tetsuya untuk istirahat, Tetsuya dengan sifat keras kepala menolak dan terus berlatih yang berujung dirinya terjatuh, bahkan lebih parah lagi ia bisa pingsan.
"Sudah berapa jam kau berlatih Hm?" Seijuurou bertanya lembut pada Tetsuya yang masih belajar berjalan.
"Baru 3 jam Sei-Nii" Jawab Tetsuya jujur.
"Kau sudah istirahat?" Tetsuya menggeleng.
"Belum, sebentar lagi. Aku masih ingin berlatih"
"Jangan memaksakan dirimu, sekarang berhenti dan kita kembali ke kamar" Bibir mungil mengerucut tak suka.
"Sebentar lagi Sei-Nii, aku hampir memulihkan tenagaku seperti dulu" Seijuurou memicingkan matanya, memang adiknya yang satu ini sangat keras kepala.
"Istirahat atau Sei-Nii seret ke kamar dan memberikan Theraphy plus – plus?" Alis Tetsuya mengerut, apa maksud ancaman itu?
"Theraphy Plus-plus?" Seijuurou mengangguk.
"Theraphy plus – plus untuk Tetsuya yang keras kepala"
"Theraphy apa itu Sei-Nii?" Pertanyaan polos terlontar dan membuat seringai jahil tergambar di wajah Seijuurou.
"Theraphy yang membuatmu tidak bisa bangkit selama 1 minggu dari tempat tidur"
"Eh? Theraphy seperti apa itu Sei-Nii?" Seringai jahil semakin kentara di wajah sang kakak.
"Theraphy khas di ranjang tempat tidurmu Tetsuya" Bukannya penasaran, Tetsuya mengambil langkah mundur.
"Di tolak, Sei-Nii menyebalkan." Dengus Tetsuya dan mendapatkan tawa renyah dari Seijuurou. Takao mendengar pembicaraan itu sontak menatap tak percaya dengan si sulung dan bungsu Akashi, hukuman macam apa yang ada di ranjang?
"Ne? Tetsuya mau kena Theraphy atau istirahat sekarang" Sedikit tak rela, Tetsuya mengangguk.
"Aku akan istirahat, tapi aku akan berjalan menuju kamar, tidak menggunakan kursi roda" Seijuurou mengangguk setuju, Takao yang masih berfikir macam – macam terdiam di tempatnya, jika suara Tetsuya tak menginterupsi, bisa saja ia berfikir negatif. "Takao-Nii, Theraphy yang akan Sei-Nii lakukan adalah Theraphy yang membuatku istirahat total, seperti Theraphy untuk penderita insomnia. Jangan berfikiran yang aneh – aneh"
Seijuurou melangkah berdampingan dengan Tetsuya, langkah Tetsuya lambat cenderung hati – hati. Seijuurou mengawasi dari samping dengan tangan direntangkan, menjaga jika ketahanan tubuh Tetsuya goyah, ia bisa langsung menangkapnya. Selama perjalanan, beberapa perawat menegur dengan senyuman juga tundukkan kepala pertanda penghormatan mereka. Tetsuya terus berjalan dengan perlahan, ketika sudah dekat dengan pintu kamar, sebuah terjangan maut sontak membuat Tetsuya yang tak siap harus terjatuh. Seijuurou yang ada di sampingnya tak mampu menahan berat badan yang dua kali lipat lebih berat dan ikut terjatuh.
"Tetsuya-cchi, aku kangen-ssu" Surai kuning menyumbul diantara piyama biru yang Tetsuya kenakan.
"R-Ryouta-Nii b-berat" bisik Tetsuya pelan.
"Ryota, bangkit sekarang atau tidur dengan kumpulan cacing tanah malam ini" Tanpa fikir panjang, Ryouta segera bangkit dan berdiri dengan kokoh.
"Gomen-ssu, aku tak sengaja Nii-san. Aku terlalu kangern dengan Tetsuya-cchi" Tetsuya mencoba bangkit, namun pandanganya langsung berputar, jadilah ia terduduk dengan menyentuh kepala yang pusing.
"Daijoubuka Tetsuya?" Tanya Seijuurou ketika menangkap gelagat aneh dari adiknya.
"Daijoubu Nii-san, hanya pusing karna terbentur" jelas Tetsuya membuat Seijuurou memasang wajah kejam.
"Kau yakin?" Tetsuya mengangguk.
"Haii, mungkin sebentar lagi akan mendingan" Tetsuya berniat bangkit, namun sebuah tangan menghalangi dirinya. "Sei-Nii"
"Lebih baik Ryouta menggendongmu dan membawa ke kamar daripada kau terjatuh lagi" Seijuurou menatap Ryouta, "Ryouta, kau tau tugasmu" Senyuman cerah Ryouta pamerkan.
"Haii-ssu" Ryouta mengambil posisi membungkuk, "Naiklah Tetsuya-cchi, aku akan membawamu ke kamar"
Tak ada jawaban dari Tetsuya, kedua tangan mengalung pada leher Ryouta dan tubuh mungil itu terangkat. Meski sudah memasuki usia 17 tahun, tapi berat badannya sama seperti remaja bersia 14 tahun. Sangat ringan meski Atsushi sudah membuatkan makanan yang bisa menambah berat badan, bahkan susu vanilla dengan penambah berat badan juga sudah di berikan. Pada dasarnya si bungsu memang memiliki tubuh kurus, sangat sulit menaikkan berat badan namun sangat mudah membuatnya turun drastis.
Pintu ruangan VVIP atau bisa dikatakan ruangan pribadi itu terbuka, beberapa langkah kaki masuk dan saat itu pula tercium aroma masakan menguar dari arah dapur. Pria dengan surai ungu sudah bergumul pada aneka bahan makanan. Tak jauh darinya, surai Navy Blue terlihat tengah memperhatikan sekaligus sesekali mencuri cemilan yang baru selesai dibuat. Sedikit gaduh saat suara malas si surai ungu –Atsushi– memperingatkan si surai Navy Blue –Daiki– untuk berhenti mencuri makanan dan ditanggapi dengan uapan lebar beserta alasan perut yang lapar.
Di dekat tempat tidur, terlihat surai hijau mencuat dari balik tirai. Sudah di duga jika itu adalah Shintarou yang memeriksa segala peralatan yang mungkin akan Tetsuya gunakan disaat terdesak maupun kritis. Diam – diam Tetsuya berdesis pelan dan sangat berharap jika ia tak akan pernah menggunakan alat – alat itu, walau sudah terbiasa tapi tetap saja itu mengerikan, Sampai di sudut ranjang, Ryouta menurunkan Tetsuya dan mendudukkannya di sana.
"Sekarang saatnya Tetsuya-cchi istirahat setelah makan siang-ssu" Ucap Ryouta ceria.
"…." Tak ada jawaban dari Tetsuya, ia hanya diam, jengah dengan hari – hari yang serasa monoton.
"Apa kau bosan, Nanodayo?" Tanya Shintarou yang sudah selesai dengan pekerjaannya. Tetsuya masih diam dan memancing kernyitan di dahi Seijuurou.
"Jika kau bosan, kau bisa memberitahu kami Tetsuya. Jangan hanya diam, ini bukan dirimu yang biasanya" Tetsuya menghela nafas.
"Menurut Sei-Nii, Shintarou-Nii dan Ryouta-Nii, berada di tempat yang sama selama berbulan – bulan dengan aroma yang sama juga kegiatan yang sama itu membosankan atau tidak?" mengerti akan apa yang dimaksud, Shintarou membuka suara.
"Memang membosankan, Nodayo. Tapi ini demi kebaikkanm Tetsuya, nanti setelah kau bisa berjalan lagi dan keadaanmu jauh lebih baik, kau akan bisa keluar dari sini dan pulang ke mansion, Nanodayo" Tetsuya mendengus.
"Tapi kapan Shintarou-Nii? Takao-Nii mengatakan paling cepat 6 bulan lagi, sedangkan aku sudah mulai masuk tahun ketiga di sekolah." Tetsuya menghela nafas, "Aku juga ingin bermain basket lagi dengan yang lain"
"Tenang saja Tetsu, kalau kau sering berlatih, kau pasti bisa" Daiki keluar dari dapur sembari membawa nampan berisi mangkuk dan sendok serta beberapa sumpit. "Bersabarlah dulu, nanti kau akan bisa kembali bermain basket. Jika butuh bantuan untuk mempelajari kembali cara bermain basket, Nii-san akan membantumu" Ucap Daiki semangat.
"He? Bukan hanya Nii-cchi yang akan membantu, aku juga akan membantu Tetsuya-cchi. Aku akan mengajarinya perfect Copy-ssu" Ryouta bersemangat.
"Jangan lupa jika keluarga kita di sebut sebagai Kiseki No Sedai karna kekuatan kita dalam bermain basket, Tetsu-chin" Atsushi membawa sepanci sup dengan asap mengepul dan aroma menggugah selera.
"Aku tau Nii-san, tapi…" Tetsuya terdiam.
"Tapi?"
"Tapi aku ingin bermain bersama Seirin di Inter-high juga di Winter Cup tahun terakhir aku sekolah" Tetsuya menunduk.
"Jangan berfikiran konyol, Nanodayo. Untuk keadaanmu saat ini, mustahil bisa bermain untuk kompetisi di inter-high nanti. Ketahanan tubuhmu juga belum kuat, lebih baik fokus pada Theraphy daripada terjadi sesuatu yang tak diinginkan" Shintarou menaikkan bingkai kacamatanya. "ingat, aku hanya tak ingin terjadi sesuatu bukan berarti aku melarangnya, Nanodayo"
"Aku sudah lebih baik, Shintarou-Nii."
"Jangan memaksakan dirimu, Nanodayo" Untuk urusan kesehatan, Shintarou memang keras kepala. Raut wajah Tetsuya semakin terlihat sendu, ah sangat tak tega melihatnya seperti itu.
"Begini saja, bagaimana jika selama satu bulan ini kau Theraphy secara rutin dan jika ada perubahan, bulan depan kau boleh pulang dan kembali masuk sekolah?" Seijuurou berbicara, sudut mata Shintarou menatap tak suka.
"Seijuurou—" Belum lagi Shintarou berbicara, Seijuurou kembali berbicara.
"Aku tak akan bertindak bodoh untuk kedua kalinya, Shintarou. Tetsuya memang kembali ke sekolah, tapi aku akan membatasi setiap kegiatannya termasuk basket" Seijuurou tersenyum lembut, "Untuk penjagaan, sesuai dengan ucapanku yang sebelumnya, aku sudah menyewa beberapa Body Guard jadi Tetsuya akan aman"
"Hah? Siapa?"
"Tenang saja, Serahkan semua pada Nii-sanmu ini"
"Apa Shuuzou-Nii sudah tau keputusanmu, Nii-san?" tanya Daiki.
"Haii, bahkan Shuuzou yang mencarikan para Body Guard terpercaya" Seijuurou melirik Tetsuya, "Jadi bagaimana Tetsuya? Kau mau?" Tetsuya mengangguk.
"Aku akan berusaha Nii-san"
Keheningan sejenak tercipta hingga suara perut yang minta diisi membuat tawa renyah keluar dari bibir pemilik marga Akashi itu. Mereka kini berkumpul pada meja bundar dan Tetsuya yang menjadi pusat perhatian. Sesekali Shintarou, Seijuurou, Daiki, Ryouta dan Atsushi bergantian memberikan makanan dan menyuapi tatkala Tetsuya berhenti makan. Iming – iming Vanilla Milkshake menjadi lelucon tersendiri untuk menjahili si bungsu agar memakan porsi yang lebih banyak. Sejujurnya, ini adalah kebersamaan keluaga Akashi yang sesungguhnya meski tanpa kedua orangtua mereka tentunya.
_ooOOOoo_
Musim panas berlalu, daun – daun Meaple mengering dan begitu ringan tertiup angin. Kumpulan siswa/siswi mengenakan blazer sembari mengeratkan syal untuk memberikan sebuah kehangatan si musim gugur. Benda bulat besar di menara sekolah menunjukkan waktu untuk seluruh siswa dan siswi pulang sekolah, sebagian ada yang masih berkumpul untuk kegiatan Club sementara sebagian lagi langsung pulang.
Sebuah mobil Lamborghini Veneno memasuki lapangan sekolah, memancing seluruh penghuni sekolah yang belum pulang untuk melihat siapa yang datang. Jika perkiraan mereka benar, maka yang ada di dalam mobil itu adalah salah satu dari keluarga Akashi yang terkenal. Sembari menebak, apakah seorang Akashi Ryouta sang model terkenal, atau Akashi Daiki sang Polisi pujaan, mungkin saja sang Chef terkenal Akashi Atsushi, ah bisa saja sang Dokter Tsundere Akashi Shintarou yang datang sebagai perwakilan si bungsu Akashi Tetsuya.
Begitu pintu terbuka, dua orang mengenakan jas serba hitam dan kacamata hitam dengan tubuh tinggi tegap setengah berlari membuka dua pintu belakang. Sejenak terasa hembusan nafas berhenti untuk melihat siapa yang datang, surai Merah mencuat perlahan diikuti surai Baby Blue yang turun dari sana. Jas putih membalut tubuh Si surai merah, menampakkan karisma seorang pemimpin Akashi Corp yang berjaya sedangkan yang satunya mengenakan jaket yang terbuat dari bahan kain Jins berwarna hitam berpadu dengan kemeja merah kotak – kotak hitam tangan panjang. Celana jins ketat berpadu dengan sepatu merah senada dengan kemeja, penampilan khas remaja 17 tahun yang memberikan decak kagum.
"I-Itu Akashi Tetsuya. Dia kembali" Teriak salah satu siswi yang ada di sana.
"B-Benar, dia bersama Akashi Seijuurou, pemilik Akashi Corp" Decak kagum lainnya terdengar seiring dengan orang – orang yang sibuk berkumpul.
Mengabaikan decakkan kagum itu, Seijuurou membimbing Tetsuya untuk segera ke ruang kepala sekolah. Sebagai wali, Seijuurou memang bertugas untuk mengurus segala kebutuhan Tetsuya termasuk izin untuk kembali masuk sekolah setelah sekian lama tak masuk. Memang terdengar sepele, tapi bukan Seijuurou jika ia hanya meminta izin untuk membuat Tetsuya masuk sekolah seperti biasa. Seijuurou meminta izin agar dua orang Body Guard dibiarkan tetap disamping Tetsuya dengan alasan kesehatan dan keamanan.
Selesai dengan urusan kepala sekolah, keduanya langsung beranjak setelah membungkukkan badan pertanda hormat. Seijuurou berjalan selambat mungkin untuk mengimbangi langkah Tetsuya yang terkadang pelan terkadang cepat, penyesuaian terhadap Theraphy yang ia lakukan. Di belakang mereka, para Body Guard senantiasa berjaga agar selalu siap sedia. Sepanjang lorong, Tetsuya dapat melihat siswa dan siswi yang selesai dengan kegiatan club terlihat memperhatikan dirinya. Tetsuya tersenyum lembut, sedangkan sang kakak hanya bersikap acuh.
"Semuanya sudah selesai, sebaiknya kita langsung pulang. Kau harus banyak istirahat, senin nanti baru kegiatanmu kembali normal" Nasihat Seijuurou ditengah perjalanan mereka.
"Haii, Nii-san. Tapi, boleh aku ke Gym Sebentar?"
"Kau ingin bertemu mereka sekarang?"
"Begitulah, meski para Senpai sudah lulus tahun lalu, aku yakin mereka masih sering mengawasi tim basket Seirin." Tetsuya diam sejenak, "Kalau aku tidak salah dengar, Aida – Senpai masih menjadi pelatih di sini"
"Baiklah, tapi hanya sebentar. Nii-san tak mau terjadi sesuatu padamu jika terlalu lama"
"Tenang saja Sei-Nii, Shintarou-Nii mengatakan jika aku baik – baik saja."
"Haii, Nii-san tau kau kuat. Sebaiknya kita cepat, Nii-san yakin mereka tengah beres-beres sebalum pulang"
"Soal itu tenang saja Sei-Nii, mereka akan pulang terlambat hari ini"
"Kenapa?"
"Persiapan Winter Cup akan dilatih 3 kali lipat lebih keras dari yang sebelumnya"
Ah, Seijuurou hampir lupa jika Winter Cup sudah dekat dan latihan yang dijalani semakin berat. Terlebih, Winter Cup selalu menjadi kegiatan yang paling dinanti, terlebih karna setiap tahunnya, para pemain basket akan menjadi lebih kuat dari yang sebelumnya. Kaki Seijuurou dan Tetsuya terus melangkah menuju Gym, sayup – sayup terdengar suara decitan sepatu beserta peluit. Ada pula teriakkan frustasi juga lelah serta beberapa kali terdengar bola memantul dengan keras. Ciri khas latihan Basket yang sangat Tetsuya rindukan.
Perlahan, kedua tangannya membuka pintu Gym yang tertutup. Hanya dengan gerakan lembut, seluruh penghuni Gym langsung melihat kearahnya. Sorot seluruh mata tertuju hanya pada si Baby Blue yang menjadi The Phantom Six Man. Ough, sepertinya hawa keberadaan Tetsuya yang biasanya tipis kini terasa bersinar karna kedatangannya yang tak terduga.
"Akashi-Kun?" Gumam Aida Riko sang pelatih.
"Tetsuya?!" Celetuk Kagami Taiga dengan bola basket ditangannya.
"Tetsu-Kun?" Lirihan pelan dari Momoi Satsuki, sang manager sekaligus kekasih hati Tetsuya. Tanpa seizinnya, butiran bening jatuh dari pelupuk mata Momoi. Bibirnya terbekap oleh kedua tangan dengan ketidak percayaan atas apa yang ia lihat sekarang.
"Doumo, Minna-san. Genki Desuka?" Sapa Tetsuya ramah seperti biasanya.
"K-Kau benar – benar Akashi Tetsuya?" tanya seseorang yang diyakini seorang Kouhai.
"Haii, aku sudah lama tidak datang sekolah dan latihan, jadi aku berniat menyapa sebelum kembali sepenuhnya" Tercengang akan apa yang mereka lihat, tak ada satupun yang bergerak hingga Momoi yang berlari mendekat dan memeluk erat pujaan hati yang ia tunggu.
"Tetsu-Kun…" Lirih Momoi Pelan diiringi isak tangisnya. Tetsuya yang memiliki hati lembut menepuk puncak kepala Momoi bermaksud untuk menenangkan meskipun pelukkan itu terlalu kuat dan membuatnya sedikit sesak.
"Aho, kau terlalu lama menghilang. Kemanan saja kau Tetsuya? Kami mengkhawatirkanmu, aho" Taiga yang sedari tadi hanya terbodoh melihat dan tak sadar masih memegang bola basket langsung mendekat sembari mengelus surai sahabatnya yang mungil itu.
"Gomennasai, aku terlalu lama kembali. Tapi itu semua bukan karna keinginanku, tapi—"
"Siapa yang peduli akan hal itu, Akashi-Kun. Yang penting kau kembali" Kawahara memotong ucapan Tetsuya.
"Cukup Tetsuya, kalian boleh memanggilku seperti itu"
"Mou! Kau hampir membuatku dan yang lainnya terkena serangan jantung karna berita kematianmu yang tersebar. Kau tau, Teppei-Kun dan Hyuuga-Kun sampai menangis karna berita itu" Riko mengeluarkan semua isi hatinya. "Jika aku tidak ingat kau sedang berkunjung hari ini, mungkin aku sudah menghukummu dengan latihan sebanyak 4 kali lipat Tetsuya-Kun" Gerutu Riko.
"Oi, Riko. Aku tidak menangis, hanya Kiyoshi yang menangis" Semburat merah terlihat di wajah mantan Captain Seirin itu. "Ah, selamat datang kembali Tetsuya. Etto, Kiyoshi dan lainnya sudah melanjutkan ke perguruan tinggi di tempat berbeda. Beruntung aku dan Riko kuliah di dekat sini dan jadwalnya tidak terlalu padat, jadi kami masih bisa melatih disini" Jelas Hyuuga.
"Yokatta, aku senang mendengarnya" jawab Tetsuya tersenyum.
"Kau tak ingin menyapa Kouhai kita Tetsuya?" Furihata menginterupsi.
"Ah, setidaknya kau memperkenalkan dirimu pada mereka" Hiroshi menunjukkan anggota Club basket Seirin yang jumlahnya 8 kali lipat selama 2 tahun terakhir. Tetsuya mengangguk, ia berniat membungkuk, tapi Momoi masih enggan melepaskan pelukannya. Jadinya ia hanya menatap pada Kouhai sembari tersenyum ramah.
"Akashi Tetsuya desu, Yoroshiku onegaishimasu" Tetsuya hanya menganggukkan kepala sebagai penghormatan. Para Kouhai yang ada disana langsung menyambutnya dengan senyuman dan bungkukkan badan dengan horman.
"Yoroshiku Onegaishimasu, Akashi Tetsuya – Senpai" ucap mereka sembari membungkuk.
"Kau lihat, mereka sangat bersemangat. Tahun ini Seirin akan menjadi juara Winter Cup tiga tahun berturut" Ujar Kagami.
"Tentu saja, Aho. The Phantom Six Man kembali, jadi tak ada yang perlu ditakutkan" Celetuk Hyuuga.
"Ah, soal itu. Aku mungkin hanya bermain sebentar saat Winter Cup nanti, Shintarou-Nii mengatakan aku tidak boleh terlalu lelah" Desahan kecewa terdengar dan raut wajah pun berubah.
"Soukka, apa ini karna kecelakaan yang kau alami?" Tetsuya mengangguk.
"Un, jelasnya, aku masih bisa bermain, tapi tidak dalam waktu lama"
"Bukannya itu tak apa, Tetsuya-Kun? Dengan seperti itu, kau bisa lihat bagaimana perkembangan dari Seirin" Kawahara berteriak semangat.
"Benar juga, kau lihat saja nanti. Aku akan menajdi cahaya yang semakin terang, Tetsuya" Kagami memberikan senyuman percaya dirinya.
Nostalgia, itulah yang Tetsuya rasakan saat ini. Sejenak apa yang telah menimpanya menguap begitu saja. Candaan serta perbincangan terjadi meski posisi mereka masih berdiri dan jangan lupakan Momoi masih belum mau melepas pelukannya. Bukannya terganggu, Tetsuya hanya membiarkannya begitu saja. Tau betul bagaimana gadis itu merindukannya setelah satu tahun lebih tak pernah memberikannya kabar. 2 Body Guard Tetsuya berdiri di luar Gym sedangkan Seijuurou yang sebenarnya jengkel karna seluruh perhatian tertuju pada adiknya, hanya diam bersanda pada daun pintu.
"Ekhem" Satu dehaman mencuri perhatian, siapa lagi kalau bukan Seijuurou yang jengah melihat adiknya masih dipeluk oleh seorang gadis berambut pink. "Tetsuya, sudah waktunya pulang" Mengerti, Tetsuya mengangguk.
"Haii,, sebentar Sei-Nii" Tetsuya melirik ke arah Tim Seirin, sepertinya mereka tak asing. "Ah, kalian pasti belum pernah bertemu dengan Sei-Nii." Tetsuya melirik kearah Seijuurou, "Sei-Nii, perkenalkan dirimu. Mereka semua sudah mengenal Shintarou-Nii, Atsushi-Nii, Daiki-Nii dan Ryouta-Nii, bahkan Shuuzou – Nii juga, hanya Sei-Nii yang belum memperkenalkan diri.
"Haruskah? Nii-san mengingatkanmu untuk segera pulang, ingat jadwalmu" Seijuurou beralasan.
"Hanya sebentar Sei-Nii, izinkan mereka mengenal Sei-Nii" mengalah, Seijuurou masuk ke dalam Gym. Aura kepemimpinannya sangat terasa, beberapa orang sempat bergidik ngeri akan kehadirannya.
"Baiklah, karna Tetsuya yang minta" Tetsuya tersenyum.
"Jangan mengeluarkan aura gelap, Sei-Nii. Yang ku tau, Sei-Nii itu ramah" Canda Tetsuya.
"Haii" Jawab Seijuurou, ia melirik ke arah Seirin yang masih menatapnya intens. "Akashi Seijuurou desu, Kakak sulung Tetsuya." Perkenalan singkat.
"Sugoii, aku tak menyangka jika kakakmu berambut merah dan mirip denganmu Tetsuya." Celetuk Kagami. "Kagami Taiga desu, yoroshiku" ucap Kagami memperkenalkan diri.
"Aku sudah mengenalmu Kagami-Kun, ah iie, aku sudah mengenal semua anggota Seirin. Ingat di tahun pertamamu, aku yang mengatur seluruh latihan meski belum pernah berjumpa"
"Ah, aku ingat itu. Arigatou gozaimasu, itu sangat membantu" Kagami membungkuk hormat.
"Hm, bisa kita pulang sekarang Tetsuya. Atsushi pasti sudah hampir selesai membuat makan malam" Tetsuya mengangguk.
"Haii" Tetsuya menatap Seirin, "Minna, aku harus pulang sekarang. Hari senin aku akan kembali berlatih" Pamit Tetsuya, "Eum, Satsuki. Bisa aku pulang sekarang?" berusaha berpamitan dengan gadis yang masih memeluknya hingga sekarang.
"….." Momoi tak menjawab, ia hanya menggeleng. Hembusan nafas terdengar.
"Soukka, bagaimana jika aku mengantarmu pulang?" Momoi mengangguk, namun enggan melepaskan pelukkannya. "Sei-Nii, boleh aku mengantar Satsuki pulang?" Seijuurou hanya mengangguk, ough, tak tau kan Tetsuya seijuurou tengah cemburu besar.
'Tsk, kau terlalu cepat tumbuh dewasa Tetsuya' gumam Seijuurou dalam hati.
"Saa, kita ke mobil Sei-Nii. Eumh, bisa kita berjalan biasa saja Satsuki? Aku susah berjalan jika seperti ini" Mau tak mau, Momoi melepaskan pelukkannya. Wajahnya terlihat sembab karna habis menangis. "Dimana tasmu?"
"Tetsuya-Kun, ini Tas Momoi-chan" Ucap Hiroshi memberikan tas Momoi yang disambut oleh Tetsuya.
"Arigatou, Fukuda-san. Saa, kita pulang Satsuki" Momoi mengangguk, tangannya melingkar di lengan Tetsuya, tak ingin melepaskan walau hanya sedetik.
Setelah melambaikan tangan, mereka segera berpamitan dari anggota Club basket Seirin. Seijuurou berjalan di depan mereka, karna tak ingin berdempetan di mobil, Seijuurou sempat menghubungi Tanaka-supir pribadi Tetsuya- untuk membawakan Limousin agar muat untuk mereka bertiga. Tanpa menunggu waktu lama, Limousin itu membawa mereka untuk membelah kota Tokyo. Sementara di dalam Gym Seirin, bisikan dari para Kouhai terdengar.
"Senpai, boleh aku tanya sesuatu" salah seorang menginterupsi.
"Nani?"
"Apa hubungan antara Momoi Satsuki-san dengan Akashi Tetsuya-san, mereka sepertinya sangat dekat"
"Tentu saja, aho. Mereka sudah menjadi kekasih saat ditahun pertama" ucapan Hyuuga sontak mematahkan hati para pemain yang notabenenya menyukai Momoi dan menjadikan Momoi sebagai alasan ikut Club Basket.
"Enaknya menjadi Akashi Tetsuya, selain dari keluarga Hebat dia juga mendapatkan kekasih secantik Momoi-san" Imajer aura gelap mengitari para Kouhai, jangan lupakan mereka malah terduduk menyudut dengan wajah frustasi.
"Aho, jika kalian tak tau apapun tentang Tetsuya-Kun, sebaiknya kalian diam dan kembali latihan" Perintah Riko dan membuat mereka kembali ke rutinitasnya.
Sementara itu di Limousin, Seijuurou serasa seperti obat nyamuk atau mungkin patung lilin yang menyaksikan sepasang kekasih yang memadu rindu setelah lama tak bertemu. Meskipun pada dasarnya hanya Momoi yang memeluk lengan Tetsuya sedangkan Tetsuya hanya diam dan tak melakukan apapun, tapi di mata Seijuurou mereka terlihat seperti beradegan drama romantis. Jika saja tak ada Body Guard yang ia sewa, bisa saja Seijuurou benar – benar menjadi obat nyamuk. Jangan tanyakan kemana Mobil lamborghini venenonya, Seijuurou sudah menyuruh pelayannya untuk membawa pulang.
Sampai di depan rumah Momoi, Tetsuya mengantarkannya hingga turun. Kedua mata Seijuurou menyipit untuk melihat apa yang adiknya lakukan. Oh, dia masih belum rela si bungsu menjadi lebih dewasa dan melakukan adegan romantis seperti remaja lainnya. Jika itu terjadi, Seijuurou sudah siap mengeluarkan suaranya agar menghentikan kegiatan yang sudah bersarang di kepalanya. Setelah menepuk puncak kepala Momoi dan berbicara sedikit, akhirnya Momoi masuk ke dalam rumah sedangkan Tetsuya kembali ke dalam Limousin. Udara di luar mulai semakin dingin dan ia tak mau di rawat lagi karna demam.
"Kau sudah menyiapkan segala perlengkapan sekolahmu, Tetsuya?" Seijuurou membuka suara ketika Limousin itu kembali berjalan.
"Mungkin lusa Sei-Nii, Daiki-Nii dan Atsushi-Nii akan menemaniku ke Toko buku"jawab Tetsuya kalem.
"Kalau begitu, lusa kita pergi mencari semua peralatan yang kau butuhkan"
"Eh? Bukannya Sei-Nii ada kesibukan yang lain?"
"Aku sudah Cancel semuanya, jadi ada waktu luang untuk 2 hari kedepan" bohong, Seijuurou sebenarnya memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, bahkan tak ada waktu untuk beristirahat. Tapi namanya sulung Akashi yang tak bisa ditentang dan selalu benar, jadilah sang Sekretaris Mayuzumi Chihiro dan beberapa bawahannya yang menggantikan segala tugasnya.
"Baiklah, aku rasa meski ini tahun terakhir, tapi blazer dan celanaku sudah tidak muat, jadi harus beli baru"
"He~ Kau semakin berisi berarti" Tetsuya menggeleng cepat.
"Bukan Sei-Nii, Celananya sudah gantung, kemejanya juga terasa pendek. Kemarin aku ukur tinggi bersama Shintarou-Nii, tinggiku mencapai 178 Cm, naik 10 Cm saat awal masuk Seirin" Okey, ini memang perasaan Tetsuya saja, atau memang ada aura gelap yang keluar dari tubuh kakaknya?
"Kau terlalu cepat dewasa Tetsuya" Komentarnya singkat.
"Benarkah? Berarti aku sudah bisa mandiri saat masuk Universitas nanti" Seijuurou hampir saja terlonjak mendengar penuturan Tetsuya.
"Mandiri?"
"Haii, aku akan mencoba ikut test universitas luar negeri. Harvard mungkin" Seijuurou menggeleng lagi.
"Tidak boleh, kau akan kuliah di Universitas Tokyo dan tak ada kata untuk mandiri. Ingat kondisimu Tetsuya" Bibir mungil melengkung ke bawah, ah benar – benar kakaknya yang satu ini. Sejak kapan jadi sangat protectif?
"Aku sudah sehat Sei-Nii, bahkan Takao-Nii dan Shintarou-Nii mengatakan ini hampir mustahil. Tapi nyatanya aku sehat dengan cepat"
"Itu memang mustahil, kau tak bisa sembuh total—"
"Tapi aku bisa bergerak dengan bebas lebih lama"
"Kalau kau tiba – tiba terjatuh bagaimana?"
"Tidak akan Sei-Nii, aku bisa jaga diri."
"Tetsuya—"
"Daijoubu, aku bahkan sudah siap untuk berlatih" Lirikkan tajam terlihat dari mata Seijuurou, adiknya ini sangat keras kepala. Ia mengusap wajahnya frustasi, ingin sekali memarahi si bungsu karna sifatnya, hanya saja sifat itu juga sama seperti Seijuurou yang keras kepala.
"Wakatta, yang tau kondisi tubuhmu adalah dirimu sendiri. Ingat Tetsuya, Sei-Nii tak akan membiarkanmu kuliah di luar Negri dengan alasan apapun kecuali.." Seringai terpampang di bibir Seijuurou, "Kalahkan aku" Tetsuya tersenyum lembut.
"Haii, aku akan mengalahkan Nii-san. Tunggu saja"
Tetsuya tersenyum lembut, sebuah senyuman bagaikan malaikat yang turun ke bumi dengan sayapnya yang indah. Seijuurou sendiri, ia mengeluarkan senyuman bangga, hingga saat ini belum pernah ada yang mengalahkannya dalam hal apapun kecuali Ryouta yang sudah berpenghasilan sejak duduk di bangku menengah. Tapi untuk Tetsuya, itu sudah terlambat. Jadi, Seijuurou yakin Tetsuya tak akan bisa mengalahkannya. Jika pun bisa, ia pasti butuh waktu.
_ooOOOoo_
Perempatan merah muncul di dahi Tetsuya. Kesal, Geram bahkan rasanya ingin melempar sesuatu hingga pecah dan perasaannya akan puas. Menarik nafas dalam dan berusaha untuk tetap mempertahankan wajah datarnya, ia melirik ke arah orang yang sedari tadi membuatnya jengkel setengah mati. Niat hati hanya ingin membeli perlengkapan sekolahnya setelah itu pulang, ini malah menjadi acara jalan – jalan keluarga dan menyebabkan ia belum sekalipun mendapatkan perlengkapan sekolah.
Alasannya Klise, mulai dari tadi pagi saat akan berangkat. Tetsuya dibuat tercengang saat melihat kelima kakaknya sudah rapi dan jangan lupakan tampilan salah satu yang berwarna kuning yang sangat mencolok mata. Seijuurou memakai pakaian yang tidak formal cenderung santai, menjadikan kamuflase usia yang sudah lewat setengah dari setengah abad tertutupi. Shintarou mengenakan kemeja formal, Atsushi yang asal pakai yang penting nyaman, Daiki yang berantakan dan yang satu ini membuat Tetsuya jengkel.
Jangan tanya kenapa, Tetsuya hanya ingin ke perlengkapan sekolah dan ke toko baju sekolah, tapi kakaknya yang berwarna kuning memakai pakaian seperti ingin berdansa. Kelap – kelip di segala tempat. Kerah baju terbuka lebar dengan celana yang lebar pada bagian bawah, ugh, jangan lupakan kacamata hitam yang membuatnya semakin menjadi tontonan jika keluar. Alhasil, Tetsuya mengatakan akan pergi dengan Tanaka atau Mabuchi jika Ryouta sama sekali tak mengganti bajunya. Akhirnya, tanpa mengurangi fashionnya sebagai seorang model, Ryouta mengenakan pakaian yang lebih santai dengan tambahan Jaket.
Tak berhenti sampai di situ, saat memilih celana dan blazer, kakak-kakaknya pada sibuk menentukan mana yang pantas untuk Tetsuya. Mulai dari bahan, cara jahit, ketebalan kain dan segala macam hal absurb sampai celetukan sang kakak nomor 3 –Atsushi- membuat Tetsuya melempar wajah garang. Bagaimana tidak, kakaknya menyuruh untuk membuat banyak kantung agar Tetsuya bisa membawa lebih banyak makanan. Tsck, Tetsuya benar – benar harus mengelus dada.
Setelah mendapatkan semuanya, mereka mampir ke salah satu restoran yang cukup besar. Memesan makanan sebanyak mungkin dengan porsi luar biasa, soal uang? Hanya petik jari, Seijuurou bisa mendapatkan 10 kali lipat. Sebenarnya tak ada yang salah saat mereka makan, tapi seluruh fokus pengunjung hanya pada mereka semuanya. Bagaikan tontonan yang menarik, binar-binar mata fans Girl dari Ryouta dan orang – orang yang sudah mengenal keluarga Akashi sontak saja tak menyia – nyiakan kesempatan untuk memotret mereka.
'Terganggu?' jawabannya
'Tidak sama sekali'
Pihak restoran memberikan tempat berlapis kaca khusus yang bisa tembus dari luar, para fans hanya bisa melihat dari luar tapi tak bisa mendekat agar tidak mengganggu. Dua Body Guard sudah disiapkan Seijuurou jika ada sesuatu yang kiranya akan mengganggu. Tak tanggung – tanggung, beberapa orang polisi juga berjaga selama mereka berada di luar. Oh astaga, kenapa kakak – kakaknya bertindak berlebihan seperti ini? Meski alasannya hanya untuk melindungi Tetsuya, tapi ini terlalu berlebihan.
Memang, mereka akui jika sifat serta keramahan mereka sangat berubah, tapi kalau soal perlindungan. Mereka bagaikan benteng besi yang kuat, tebal dan rapat, tak akan ada celah untuk menerobos baik dari sisi manapun, terlebih untuk melindungi harta berharga mereka yang rapuh. Tetsuya berulang kali menghela nafas, sembari memasukkan udang goreng mentega ke mulutnya, Tetsuya melirik ke arah kakak – kakaknya yang sibuk bersenda gurau.
"Daiki-Nii, kau tau, kemarin aku sesi pemotretan dengan menggunakan seragam pilot-ssu. Fansku sangat menyukainya, bahkan rela membeli tiket pesawat dengan segala tujuan asalkan aku yang mengemudikannya-ssu" Celoteh Ryouta.
"Bukannya itu kejahatan, Ryouta-chin?" Komentar Atsushi.
"Kejahatan? Profesi sebagai pilot adalah kejahatan-ssu?" Ryouta mengerutkan dahinya.
"Bukan profesimu, tapi kelakuanmu, Nanodayo" Shintarou berbicara sembari menikmati santapannya.
"Hah?" Ryouta masih terdiam, melirik ke arah Daiki yang masih sibuk dengan Teriyakinya.
"Mempengaruhi seseorang untuk membeli tiket tanpa tujuan itu sama saja tindakan kejahatan Ryouta" Seijuurou berkomentar.
"Hidoii-ssu, aku tidak memaksannya" Protes Ryouta.
"Kau memaksa, Ryouta-chin" Tuduh Atsushi, "Sebaiknya, setelah selesai makan, Daiki-chin membawa Ryouta–chin ke kantor polisi dan dipenjarakan" Butiran air mata siap tumpah, meski tak berniat modusin si bungsu, Ryouta melirik ke arah Tetsuya dengan mata anak anjing yang terbuang.
"Tetsuya-cchi"Tetsuya baru saja selesai mengunyah dan meminum Vanilla Milkshake pesanannya, ia melirik sekilas dan berdeham pelan.
"Nii-san tak ingin masuk penjara?" Ryouta mengangguk, Tetsuya mengerti langsung melirik ke arah Daiki, "Daiki-Nii, masukkan saja Ryouta-Nii ke dalam Sel tahanan dengan kasus pemaksaan" Celetuk Tetsuya dan semakin menjadilah kekesalan Ryouta.
"Okey, Tetsu" Diaki memberikan senyuman puas.
"HIDOII-ssu!" Teriak Ryouta, mengabaikan fans yang tertawa karna ulahnya yang lucu meskipun tanpa suara karna ruangan yang kedap suara.
"Berisik/Nanodayo" Celetuk kelima kakaknya dan Ryouta bungkam. Tetsuya melihat itu tersenyum simpul, ah rasanya ia sangat nyaman jika melihat kakaknya mulai bertengkar bahkan bertingkah seperti saat mereka kecil dulu.
Mereka melanjutkan acara makan bersama, terkadang ada kejahilan antara mereka saat melihat porsi makan Tetsuya yang sudah lebih banyak. Ugh, berterima kasihlah pada Shintarou yang pandai membuat penafsu makan dengan kamuflase dari makanan buatan Atsushi. Sekarang hasilnya? Tetsuya juga lebih berisi dengan porsi yang lebih banyak, meski terkadang masih saja Tetsuya mengurangi porsi dengan alasan tak ingin makan berlebihan. Di tengah – tengah kesenangan mereka, getaran serta bunyi panggilan masuk berasal dari smartphone berwarna Baby Blue. Sang pemilik langsung mengambil dan tersenyum melihat nama pemanggil.
"Moshi-moshi, Tetsuya desu" jawabnya ramah.
"Genki desuka, Tetsuya?" suara di seberang memberikan kesan yang berbeda saat mendengarnya.
"Genki desu, Shuuzou-Nii Genki desuka?" saat nama Shuuzou disebut, sontak seluruh mata menatap ke arah Tetsuya. Takut – takut jika si sepupu memonopoli Tetsuya yang polos.
"Aku tak sepertimu yang selalu harus ditanya kabarnya Tetsuya" tawa kecil terdengar dari seberang sana. "Aku baik – baik saja, mungkin seminggu lagi pekerjaanku selesai dan bisa berkunjung. Aku ingin melihatmu kembali ke sekolah, melihatmu memakai jersey Seirin rasanya akan menarik"
"Lusa aku sudah masuk sekolah, Shuuzou-Nii. Shintarou-Nii masih melarangku untuk latihan terlalu berat, jadi hanya melihat dari pinggir lapangan."
"Bukannya itu tak masalah Tetsuya? Masih banyak waktu untuk bisa menjadi pemain basket profesional, meski kehidupan harus berlanjut" Tetsuya mengerut.
"Maksudnya?"
"Nanti setelah kau selesai kuliah atau mungkin 1 tahun setelah lulus, kau akan mengerti apa yang ku maksud"
"Ah, jangan bilang ini mengenai masa depan, Shuuzou-Nii" Tebak Tetsuya.
"Yah, sepertinya kau mengerti"
"Tenang saja, Shuuzou-Nii. Aku sudah menentukan hal apa yang akan ku perbuat"
"Apa itu?" Tetsuya tersenyum jahil.
"Rahasia" Tetsuya terkekeh pelan, sementara 5 pria di depannya memandangnya dengan ekspresi bahagia. Adiknya sudah kembali ke Tetsuya yang ceria.
"He~~, sejak kapan kau merahasiakan sesuatu dari Sepupu sekaligus Aniki-mu hm?"
"Bukannya ini impas? Shuuzou-Nii belum memberitahuku mengenai kelemahan Nii-san Tachi" Ekspresi bahagia langsung luntur tergantikan ekspresi horor dari kelima kakaknya.
"Ah soal itu, aku akan memberitahumu nanti"
"Aku rasa itu keputusan tepat Shuuzou-Nii, Nii-san tachi sekarang menatap aneh ke arahku" Bisik Tetsuya pelan. Nijimura Shuuzou bisa menggambarkan ekspresi apa yang dikeluarkan adik – adiknya itu. Selain tak ingin mengalah, mereka juga menjadikan kekuatan mereka untuk bisa mengatur Tetsuya sesuka hati. Tak ada niat jahat, hanya ingin yang terbaik.
"Baiklah, Nii-san tutup telfonnya sekarang. Kau tau sendiri jika kakakmu bisa jadi psikopat jika menyangkut dirimu. Nii-san juga bosan dengan ancaman gunting melayang dari Sei, takutnya smartphone-mu yang jadi sasaran"Nasihat Shuuzou.
"Tidak akan Shuuzou-Nii, kalau begitu sampai jumpa lagi"
"Haii"
Pip
Tetsuya segera memasukkan smartphonenya pada saku jeket, takut – takut jika mereka menyitanya. Acara makan kembali berlanjut hingga piring dan gelas tak terlihat lagi sisa makanannya. Selesai makan dan membayar, mereka langsung beranjak dari tempat itu. Bukan langsung pulang, melainkan Tetsuya mengajak mereka untuk menghabiskan waktu lebih lama di luar. Sudah lama juga tidak keluar bersama, semenjak Tetsuya lulus Sekolah menengah hingga kini, baru saat inilah mereka mendapatkan waktu yang tepat.
Segala perlengkapan Tetsuya sudah di masukkan ke dalam Limousin, tinggallah para kumpulan gulali tersebut berkeliling lebih lama. Tatapan kagum serta binar – binar mata wanita yang melihat idolanya dari dekat seolah menjadi hal yang biasa. Ryouta terlebih dahulu dibungkam agar tak melambaikan tangan atau memberikan sign disaat mereka menghabiskan waktu.
Segala yang tak pernah mereka lakukan, semuanya terbayar hari ini. Sungguh puas rasanya, pekerjaan Shintarou sudah diambil alih oleh Takao. Daiki sudah memberikannya tugasnya pada Imayoshi, Ryouta izin selama seminggu lebih dan Kasamatsu yang mengurus segalanya. Restoran Atsushi masih berjalan dengan Himuro yang menjalankannya. Seijuurou? Ah Mayuzumi Chihiro sudah menyelesaikan lebih cepat dari sebelumnya.
Satu hari ini merupakan hari yang paling berharga bagi mereka semua, usia mungkin bukan remaja lagi bagi Sei, Atsushi, Shintarou, Daiki dan Ryouta, tapi untuk menyenangkan si bungsu, bertindak sebagai remaja boleh saja kan? Toh wajah mereka semua Baby Face dan tak akan menyangka sudah berkepala 2. Dengan penjagaan yang ketat, Tetsuya bertahan jauh lebih lama dan hanya beberapa kali terjatuh dan tepat saat itu juga semua langsung menariknya agar tak terjatuh ke lantai.
Ketika pulang, Tetsuya terlihat sangat kelelahan. Atsushi berinisiatif menggendong Tetsuya di punggungnya. Meski sudah bertambah beratnya, bagi Atsushi masih sama seperti kapas yang ringan. Tetsuya tertidur lelap di atas ranjang, mimpi indah menyambutnya dengan senyuman. Kelima kakaknya juga mulai berisitirahat karna tubuh yang lelah juga mereka bersiap untuk menyambut tumpukan pekerjaan lagi. Membawa Tetsuya hari ini seolah menguapkan beban berat yang harus mereka tanggung sehari – harinya.
"Ne Tetsuya, apa kau benar – benar tahu kelemahan dan cara mengalahkan kami?"
To Be COntinue..
HAii MInna-cchi, Genki Desuka. Selamat hari raya idul fitri bagi yang merayakannya, MOhon maaf lahir dan Batin yah. Lian mohon maaf atas keterlambatan Updatenya, Selama bulan ramadhan Lian sangat sibuk jadi gak ada wkatu buat ngetik. Terima kasih buat yang sudah mengikuti FF in dari awal hingga sekarang. Buat yang favorite, Comment dan kasih masukkan, semuanya LIan terima dengan baik. Segala masukan menjadi vitamin penyemangat untuk menjadikan FF ini menjadi lebih baik lagi.
Lian akui masih banyak kekurangan dari FF ini, ntah itu dari segi alur, penokohannya bahkan bahasa yang sejujurnya selalu salah. Lian mohon maaf untuk ketidaknyamanannya selama membaca FF lian. Lian punya sedikit pengumuman, FF ini akan segera berakhir dan maaf jika kurang puas.
Untuk chapter selanjutnya, Lian belum tau kapan update, bukan karna tak ingin cepat, tapi memang Lian belum ada ketik sama sekali. Chapter selanjutnya akan menjadi CHapter terakhir dari WHite Crystal. Lian sebenarnya pengen bikin FF ini sampek 40 chapter, tapi LIan rasa ini sudah cukup. Terlalu banyak juga sering membuat Lian pusing memikirkan tragedy atau apapun itu yang membangun, Lian sering Blank untuk nerusinnya meskipun segala khayalan udah tertera di otak.
FF White Crystal memang akan berakhir, tapi tenang aja. Lian bakalan update cerita baru. Semuanya sudah lian bikin kerangkanya dalam buku catatan kecil, jadi tinggal menulis cerita dan konfliknya. FF ini akan lian publish di dua tempat, pertama disini, yang satu lagi di akun Wattpad Pribadu Lian, jika berkenan untuk mampir, silahkan Follow VT_Lian.. di sana juga update White Crystal meski baru beberapa Chapter.
Akhir kata, Sampai jumpa di Last Chapter 21 End : Second Knife + Epiloge
