Tittle : White Crystal

Maincast : -Akashi Seijuurou

- Kuroko Tetsuya

- Aomine Daiki

- Kise Ryouta

- Murasakibara Atsushi

- Midorima Shintarou

Suport Cast : - All of Kuroko No Basuke Chara

Author : Lian (VT_Lian1995)

Genre : Family, Slice Of Life, School Life, Brotheship, Little Comedy, Sad, Hurt.

Attention : This chara not mine, this chara from Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi – sensei.

Little information : Seluruh nama Cast akan menggunakan nama Akashi karna ini berhubungan dengan kisah keluarga Akashi. Jadi di mulai dari Tetsuya sampai Shintarou akan menggunakan nama depan Akashi.

Summary : Akashi Tetsuya, bungsu dari 6 bersaudara keluarga Akashi harus menangung beban berat di pundak untuk memberikan kesan betapa hebatnya keluarga Akashi. Tapi sayangnya, apapun yang ia lakukan pasti sudah pernah dilakukan oleh ke – 5 kakaknya. Apapun itu, segala yang Akashi Tetsuya raih seolah hanya sia – sia, terlebih jika dibandingkan dengan fisik ke – 5 kakaknya, Tetsuya jauh lebih lemah, namun tak menampik kemungkinan ia bisa jadi lebih kuat walau usahanya akan mendapat resiko yang tinggi. Ini demi menjunjung tinggi motto dari sang Ayah yang telah tiada "Pemenang akan mengukir sejarah dan yang kalah akan menjadi pecundang yang terlupakan."

"Jika kau katakan menjadi bungsu keluarga Akashi merupakan anugrah, tapi bagiku tidak. Beban yang ku tanggung lebih besar dari Ke-5 saudaraku yang lain"

Chapter 21 End

%^ Second Knife^%

Tiupan peluit pertanda berakhirnya turnamen Basket Nasional tingkat Menengah Atas berbunyi nyaring. Sorak sorai penonton dengan gelak tawa terdengar ke penjuru Gymnasium terbesar di Tokyo. Papan skor menunjukkan kemenangan telak untuk sekolah yang sudah 3 kali berturut-turut menang dalam kejuaraan Winter-Cup. Riuh tepuk tangan beserta ucapan selamat menggaung bagaikan alunan musik yang indah. Pita dan potongan kertas kecil bertaburan dari atas Gymnasium seolah turut memeriahkan kemenangan telak yang di dapatkan sekolah dengan nama 'Seirin' pada jersey pemain.

Masing-masing Tim berbaris rapi untuk menerima penghargaan atas kerja kerasnya, satu persatu gelar kebanggaan disebutkan. Di mulai dari Kapten terbaik, pemaian pencetak skor terbanyak sampai dengan pemain terbaik. Jika tahun lalu gelar 'The Phantom Six Man' tidak disebutkan karna sang pemilik gelar tidak ikut bertanding, maka kini gelar itu kembali disebutkan dan suatu kebanggaan bisa mendapatkan gelar itu sekali lagi.

"Pemain dengan gelar kehormatan The Phantom Six Man, Akashi Tetsuya" Suara MC menyebut nama sang bayangan Seirin. Sontak saja pria itu membungkuk sedikit sembari tersenyum menuju podium sederhana untuk menerima hadiahnya.

"Selamat atas kemenanganmu, Akashi Tetsuya-kun" Pendiri Winter Cup memberikan ucapan selamat sekaligus Sertifikat untuk Tetsuya.

"Arigatougozaimasu" ucap Tetsuya sembari tersenyum ramah.

Sorot camera yang mengambil ekspresi itu sontak membuat seluruh mata penonton yang ada di Gym tertuju pada si baby blue yang sudah lama tak terlihat. Di mata penonton, Tetsuya begitu terlihat tampan, terlebih wajah dengan rahang tegas, sorot mata baby blue yang masih terlihat polos namun lebih tajam, wajahnya yang manis bercampur tampan menjadikan dirinya terlihat seperti pengeran, dan jangan lupakan ia memiliki senyuman yang indah, tak heran banyak gadis-gadis yang wajahnya memerah bahkan ada pula yang mimisan melihat wajah Tetsuya meski hanya dari layar besar yang dipasang di setiap sudut Gym.

Setelah menerima gelarnya, Tetsuya turun dari podium, setiap langkah kaki Tetsuya, bagaikan magnet yang menarik setiap orang untuk melihat pemain dengan nomor punggung 11 itu. Oh Tuhan, betapa cepatnya waktu berlalu. Punggung kecil itu biasanya terlihat biasa dan terlalu rapuh kini berubah menjadi punggung yang lebih lebar dan sangat kontras dengan tinggi tubuh serta porsi yang tak kalah dengan pemain basket lainnya yang ada di lapangan. Ketika sampai pada barisan Seirin, hampir saja Tetsuya terjatuh jika Kagami yang tak jauh darinya tidak menahannya.

"Kau bisa duduk jika tidak sanggup" Bisik Kagami pelan.

"Aku masih sanggup, Kagami-kun. Hanya tersandung" elak Tetsuya.

"Jangan berbohong, aku sudah tau kondisimu, baka" Gerutu Kagami.

"Aku tau, dan aku rasa tidak sopan jika duduk saat penerimaan hadiah"

"Ck, kau masih saja keras kepala. Baiklah, sebentar lagi pembagian piala kemenangan." Kagami berhenti sejenak, "Kali ini kau harus mengangkat piala itu setinggi mungkin dan buktikankan pada kelima kakakmu itu, kalau kau setara dengan mereka"

"Tentu saja, Kagami-kun. Kemenangan kita kali ini akan menjadi tolak ukur jika aku bisa mengalahkan mereka."

"He? Maksudmu?"

"Kau tau, Shuuzou-nii memberitahuku kelemahan aniki-tachi. Aku kira mereka sempurna dan hebat, tapi kenyataannya mereka punya kelemahan yang membuatku ingin tertawa" Senyuman semakin lebar mengukir di bibir Tetsuya.

"Kau sudah tau kelemahan mereka?" Tetsuya mengangguk.

"Un, Mengalahkan mereka menjadi jalan untukku agar bisa mandiri dan bebas dari para bodyguard"

"Kau boleh ingin bebas, tapi jangan memaksakan dirimu. Kau sudah berjuang terlalu keras" Tetsuya mengangguk sekali lagi.

"Haii, arigatougozaimasu atas saranmu, Kagami-kun" Kagami menepuk pelan puncak kepala Tetsuya yang kini lebih tinggi.

Mereka kembali mengikuti acara terakhir dari Winter Cup, ketika tiba giliran Seirin menerima hadiah. Tetsuya menjadi perwakilan untuk menerima piala itu dan mengangkatnya setinggi mungkin. Seluruh pemain ikut bersorak terlebih sang pelatih –Aida Riko- dan mantan Captain mereka –Hyuuga Junpei- yang menjadi penanggung jawab kegiatan Basketball Club. Momoi sebagai manager ikut melompat senang, bahkan tak segan merangkul leher Tetsuya dan Kagami bersamaan, mengundang decak iri wanita – wanita yang ada dan berharap bisa bertukar tempat dengan Momoi saat ini juga.

Usai acara penutupan Winter Cup, seluruh pemain mengganti pakaian dan bersiap untuk pulang. Sebelum mereka benar – benar keluar dari ruangan yang disediakan, Tetsuya sempat menarik tangan Momoi dan menyerahkan sertifikat beserta beberapa penghargaan yang sempat ia terima tanpa seorangpun yang tahu.

"Dengan ini semuanya lengkapkan, Satsuki?" Tanya Tetsuya lembut.

"Tentu saja, ini sudah lengkap. Aku sudah menyiapkan pita dengan warna terbaru dan bungkus dengan warna yang Tetsu-kun minta." Momoi menampilkan senyuman manisnya, "Tanggal 20 december nanti, aku akan mengantarkannya ke rumahmu, Tetsu-kun"

"Soukka, tapi aku yakin itu terlalu berat. Aku akan meminta Tanaka-san untuk menjemputmu"

"Eh? Apa itu tidak merepotkan Tetsu-kun? Aku yakin hari itu semuanya sedang sibuk mempersiapkan hari ulang tahun Akashi Seijuurou-san kan?" Tetsuya tersenyum simpul.

"Memang ada berapa pelayan di rumahku, Satsuki? Jika hanya Tanaka-san, aku rasa tidak akan berpengaruh. Sei-nii sudah menyuruh Mayuzumi-san untuk menyiapkan segalanya dibantu dengan Mabuchi-san, jadi tak masalah jika Tanaka-san menjemputmu"

"Hm, kalau begitu, aku akan mengenakan pakaian terbaik agar tidak membuatmu malu di pesta meriah itu, Tetsu-kun"

"Aku akan menunggunya" Momoi berniat untuk mengambil tasnya, namun sejenak berbalik saat Tetsuya kembali memanggilnya, "Eum, Satsuki"

"Haii?"

"Aku akan menitipkan gaun yang harus kau kenakan saat pesta nanti"

"Ne?"

Tetsuya memalingkan wajahnya sejenak dengan senyuman simpul mengukir di sana. Tak ingin menjawab sedikitpun rasa penasaran yang tergambar di wajah Satsuki. Tetsuya segera beranjak dan permisi untuk pulang lebih dahulu dengan alasan sudah ditunggu oleh kelima kakaknya yang masih saja protectif. Ketika ia keluar dari Gym, Tetsuya bisa melihat surai warna – warni menunggunya di depan sebuah Limousin tanpa peduli akan turunnya salju yang tidak terlalu lebat tapi menumpuk. Begitu sosoknya terlihat, surai kuning langsung berlari dan menubruknya dengan cepat.

"Kau lama sekali Tetsu" Protes sang kakak paling gelap, Daiki.

"Tetsuya-cchi, Omedetou. Aku bangga punya adik sepertimu-ssu" Surai kuning-Ryouta sibuk memeluk Tetsuya erat.

"Jangan memeluknya terlalu erat, Nanodayo. Jika Tetsuya terkena sesak nafas lagi, aku akan menggantungmu di atap Ryouta" Ancam si surai Hijau-Shintarou sambil menaikkan bingkai kacamata yang tidak turun sama sekali. "Ingat, bukannya aku peduli, hanya antisipasi" Ia membuang wajahnya ke arah lain.

"He~~ Ayo kita pulang, aku sudah lapar dan tak sabar untuk merayakan kemenangan Tetsu-chin" Uapan lembut keluar dari bibir si surai ungu-Atsushi dengan nada malasnya.

"Itu benar, ayo kita pulang Tetsuya. Udara semakin dingin, tidak baik untuk kesehatanmu." Si surai merah-Seijuurou melirik ke arah Ryouta yang masih memeluk si bungsu, "Ryouta, bisa lepaskan Tetsuya sekarang?" Aura intimidasi langsung menguar, mau tak mau Ryouta langsung melepaskan pelukannya dan memamerkan senyuman yang polos.

"Gomen-ssu, aku hanya memberikan ucapan selamat untuk Tetsuya-cchi" ucapnya ceria.

"Ya sudah, ayo masuk. Aku tak mau Tetsuya jatuh sakit lagi karna di luar terlalu lama" Ucap Seijuurou.

"Aku tak selemah itu, Sei-nii" Sungut Tetsuya memasuki Limousin diikuti kakak-kakak lainnya.

Limousin yang senantiasa menemani kini sedikit terasa lebih sempit, bukan Limousin yang mengecil tapi para penumpangnya yang sekarang terasa mulai beranjak dewasa dan yang terpenting tinggi mereka diatas 170cm. Mengabaikan rasa sempit, seluruh surai warna –warni terfokus pada sosok pria yang dulu mungil kini sudah menampakkan ketegasan wajah dan bentuk rahang. Bukan lagi bayi kecil yang menjadi incaran cubitan gemas, melainkan sosok yang sekarang lebih pantas disebut pria dewasa.

Meski baru selesai pertandingan dan bau keringat yang menguar meski sudah dikeringkan, tak menyurutkan niat si surai kuning untuk terus memeluk protectif sedangkan yang surai Navy Blue sibuk mengelus surai baby blue hingga menampakkan badhair parah lebih dari biasanya saat ia bangun pagi. Ujung –ujung yang memanjang sontak mencuat di segala area dan membuat penampilannya yang biasa terlihat menggemaskan kini seperti bad Boy. Menyadari perubahan yang signifikan pada raut sang adik, Shintarou mengeluarkan sebuah sisir dengan ujungnya bermotif katak kerosuke –Lucky Item Cancer hari ini-

"Berhenti mengelus rambut Tetsuya seperti itu, Nanodayo. Kau membuat rambutnya sangat berantakan" Tegur Shintarou dengan tatapan tak pedulinya, "Ryouta, kau bisa pindah tempat duduk? Aku harus merapikan kembali rambut Tetsuya yang berantakan" Shintarou memalingkan wajahnya, ia menaikkan bingkai kacamata hitam sembari menghela nafas pelan, "Bukannya aku tidak suka dengan gaya rambut berantakan, hanya saja itu mengganggu, Nanodayo." 3 pasang bola mata berputar malas ayolah, setelah semua yang terjadi, bagaimana bisa kakak mereka ini tak bisa mengurangi sifat tsunderenya?

"Shintarou-nii akan menyisir rambutku?" Tanya Tetsuya polos. Dengan wajah yang lebih tegas dan rambut berantakkan, ekspresi yang diberikan terkesan seperti anak anjing berbulu lebat dan menggemaskan. Shintarou yang tadinya hanya menatap biasa, tak sengaja memberikan warna merah menghias di pipi putihnya.

"Jangan membuat ekspresi seperti itu, Nanodayo. Tidak sesuai dengan penampilanmu yang beranjak dewasa" Tukas Shintarou mengalihkan perhatian.

"Benarkah aku sudah dewasa?" Kali ini ekspresi wajah Tetsuya berbubah drastis, ada pancaran semangat dibalik punggungnya.

"Yeah, kau sedikit lebih dewasa Tetsu" Daiki berbicara sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Apa itu benar, Sei-nii?" kali ini pandangan tetsuya melirik ke arah Seijuurou yang sedari tadi duduk diam dengan tangan yang berlipat dan kaki yang duduk bertumpu.

"Seharusnya kau sudah menyadarinya Tetsuya. Bulan depan usiamu memasuki 18 tahun, berarti kau sudah cukup dewasa bukan" Tetsuya mengangguk.

"Hm, aku rasa sekarang saatnya mengambil keputusan" 5 pasang alis mengernyit bingung, keputusan? Memangnya keputusan apa yang akan diambil si bungsu.

"Keputusan? Keputusan apa Tetsu-chin?" Atsushi membuka suara.

"Keputusan untuk mengalahkan kalian saat hari ulang tahunku nanti" Senyuman miring tertoreh dari wajah kelima surai warna – warni, ah, akan tiba juga saat itu ternyata.

"Boleh saja, aku akan mengambil cuti untuk hari spesialmu, Tetsu" Ucap Daiki.

"Aku juga-ssu, aku akan mengosongkan jadwal penerbangan dan beberapa pemotretan untuk iklan-ssu" Ryouta tak kalah semangat.

"Aku akan menyerahkan semua tugasku ke Muro-chin" Atsushi berbicara malas tapi ada keantusiasan disana.

"Aku akan mengambil cuti juga, lagi pula itu masih bulan Januari jadi bisa bersantai sedikit" ucap Seijuurou final. Kini seluruh pandangan tertuju pada Shintarou, merasa dilihat, ia menaikkan bingkai kacamata dengan tangan yang telah selesai menyisir rambut Tetsuya menjadi lebih rapi.

"Hmph, aku akan libur jika tidak ada pasien yang butuh pertolongan, Nanodayo"

"YOSH! Bagaimana kalau ulang tahunmu kali ini kita rayakan besar-besaran-ssu? Aku akan memesan pakaian yang terbaik dengan designer kelas dunia-ssu" Ryouta bersemangat.

"Jangan berlebihan Ryouta-nii, lebih baik siapkan hadiah untuk Sei-nii." Celetuk Tetsuya.

"Itu mudah Tetsuya-cchi, Sei-nii akan menerima apapun yang kita berikan. Benarkan Sei-nii?" Tanya Si surai kuning semangat.

"Ku rasa begitu" Seijuurou berbicara seadanya.

"Soal hadiah, apa kau sudah menyiapkannya Tetsu?" Tetsuya menggangguk.

"Sudah, dan ku titipkan pada Satsuki. Saat pesta nanti, dia akan datang membawa hadiah dariku untuk Sei-nii" Seijuurou tersenyum puas, memang adiknya yang satu ini berbeda dari yang lainnya.

"Apa hadiah yang akan kau berikan, Tetsu-chin?" Tetsuya tersenyum jahil, wajahnya terlihat lebih ceria dan membuat siapapun yang melihatnya ikut tersenyum senang sekaligus tak ingin melewatkan ekspresinya yang langka.

"Rahasia"

_ooOOOoo_

Ada yang berbeda saat mengunjungi 'AKASHI PURPLE', Restoran bintang lima yang dikelola oleh Akash Atsushi dan berhasil menjadi restoran termewah di Jepang. Jika biasanya restoran itu ramai dengan pelanggan yang ingin makan, kali ini restoran itu dipenuhi oleh para tamu yang luar biasa. Dari berbagai macam pekerjaan hingga orang-orang penting di negeri. Para pria dan wanita datang dengan pakaian terbaik mereka, tak luput benda-benda bermerek tertempel di tubuh seolah memberi petunjuk identitas mereka dalam masyarakat.

Mobil-mobil mewah seketika memenuhi basement dan juga tempat parkir, bahkan ada pula yang rela parkir di tempat lain karna tidak kebagian tempat. Para wanita bersuami terlihat mengenakan gaun mewah dengan berlian di beberapa bagian tubuh dan mengungkapkan sekaya apa suaminya. Para pria beristri juga tak kalah berpenampilan menarik, sepatu berkilat, jam tangan merek dan jas yang terbuat dari kain mahal. Para gadis berpakaian seanggun dan secantik mungkin, berharap bisa menggandeng salah satu dari keenam pria yang menyandang marga Akashi, sedangkan yang laki-laki memilih memakai pakaian yang rapi untuk membuat penampilannya tak kalah dengan sang tuan rumah.

Saat memasuki pintu utama, para tamu disambut dengan red karpet dan para pelayan yang mengenakan Kimono sebagai penyambut. Di dalam ruangan utama, terdapat segala jenis makanan. Mulai dari pembuka, utama sampai penutup. Beberapa bir juga tersedia untuk pria dewasa serta jus bagi yang tidak bisa mabuk. Mewah dan berkelas, satu hal yang menggambarkan untuk pesta pria berusia 28 tahun yang sudah mapan.

Pertama kali yang terlihat diantara kumpulan tamu adalah Akashi Shintarou yang menyambut sekaligus berbincang-bincang dengan beberapa tamu yang datang. Rambut hijaunya dibuat sedemikian rupa, tak lupa ia mengenakan jas berwarna cream dengan liris hijau lembut, sangat pas dengan sosoknya yang perfectionis dan juga tampan. Beruntunglah Lucky itemnya hari ini adalah dasi dengan warna hijau bergaris jadi bisa dipadukan dengan jas yang ia kenakan.

Di sudut lain, Akashi Atsuhi sedang memeriksa beberapa makanan penutup yang sudah tersusun rapi. Takut-takut kalau ada yant tidak sesuai dan mengecewakan para tamu yang datang. Niatnya seperti itu, tapi namanya juga pecinta makanan, sesekali Atsushi mengambil Cheese Cake dan memakannya dalam sekali suapan. Beberapa gadis melihatnya hanya tersenyum, dengan stelan jas hitam bercampur Ungu, dasi yang melingkar rapi tapi saat makan ia terkesan hati-hati dan tak ingin mengotori jasnya. Sangat lucu dan terksesan polos meskipun usianya sudah 26 tahun 2 bulan lalu.

Di tempat lainnya, ah atau tepatnya dimana banyak kumpulan gadis-gadis yang mengenakan pakaian ketat serta beberapa lainnya sibuk memamerkan benda favorite Pria bersurai Navy Blue, Akashi Daiki duduk manis dan meminum jus jeruknya santai. Seperti mendapatkan pancaran dan angin Surga, fikiran Daiki melayang ntah kemana terlebih biasanya ia hanya bisa melihat hanya dari majalah yang ia beli, kini sang model sudah berdiri di depannya sembari tersenyum. Wanita yang ia kenal dengan sebutan Horikita Mai atau sering dipanggil Mai-chan oleh Daiki berdiri dengan gaun sebatas lutut dengan dua tali yang mengikat di bagian leher. Punggung putih terekspos sempurna terlebih gaun itu terlihat bolong pada bagian perut hingga belahan dada atas.

Pemandangan realita yang gratis bukan? Daiki tak perlu mengeluarkan uang untuk membeli majalah yang berisi model yang selalu dipujanya. Pria yang mengenakan stelan kemeja Navy Blue dengan dua kancing terbuka tanpa mengenakan dasi namun karismanya terlihat dari jas hitam yang ia kenakan. Kedua mata Daiki sangat berbinar ketika fokusnya hanya pada Mai-chan seorang, jika saja sebuah suara cempreng tidak menganggunya.

Di atas panggung, surai kuning mencuat dengan kacamata hitam dan pakaian nyentrik meski masih dalam taham formal. Jas putih dengan kemeja kuning yang dimodifikasi serta tambahan dasi kupu-kupu bergaris membuat sang model dengan nama Akashi Ryouta jauh lebih tampan dari yang terlihat di majalah. Suara cempreng yang biasanya hanya digunakan untuk berteriak kini digunakan untuk hal yang mungkin berguna untuk pesta. Ketika musik berbunyi, Akashi Ryouta langsung menyumbangkan suaranya. Lagu yang dibawakan adalah lagu yang sering ia nyanyikan bersama si bungsu dan lainnya dengan judul Regal Generation versi Ryouta sendiri.

Sang bintang dalam acara ini terlihat sibuk dengan beberapa kolega penting, di tangannya terdapat gelas berisi cairan berwarna merah kental. Surai merah yang ditata rapi bercampur dengan jas marun dan jas berwarna terang membuat penampilan pemilik AKASHI CORP semakin berkarisma. Akashi Seijuurou, sang bintang dalam pesta ini malah sibuk berbincang-bincang dengan orang-orang yang menguntungkan.

Contohnya Akabane Karma pemimpin baru Akabane Group yang baru – baru ini menjalin kerjasama. Ada pula Yagami Tomoe, mantan pelari Stride yang kini sukses dengan pabrik rotinya dan memperkenalkan sang adik Yagami Riku yang merupakan pemilik dari pabrik rotinya. Tak hanya itu, salah satu pemilik sekolah sekaligus entertiaiment terkenal, Shining Saotome juga datang. Kepala kepolisian Jepang, Ichinose Guren dan wakilnya, Hiiragi Sinya juga datang. Kurang apa lagi pesta ini? Sangat meriah dan menjadi tempat bertemunya semua orang-orang penting.

Lain hal dengan kelima kakaknya, si bungsu Akashi Tetsuya sibuk memperhatikan jam tangan berlapis emas yang dibelikan Seijuurou sebagai kado natal yang melingkar ditangannya. Rambut Baby blue tersisir rapi ke atas, kemeja kotak-kotak berwarna Merah gelap dan hitam berpadu dengan rompi Baby blue lembut dan celana hitam panjang, tak luput sepatu yang senada dengan kemeja menjadikan penampilannya ciri khas remaja yang beranjak 18 tahun. Tidak terlalu formal namun terkesan cassual untuk sebuah pesta mewah. Siapa yang menyangka si bungsu akan berpenampilan sedikit berbeda.

Jangan salah, ini semua adalah usulan dari Ryouta sang model yang tak ingin adiknya digodai oleh wanita yang lebih tua dan salahkan Daiki yang turut menyetujuinya. Rambut yang biasanya hanya disisir, kini di tata hingga membuatnya terlihat tampan juga memikat. Para tamu yang melihat Tetsuya sebenarnya sedikit mencuri pandang, ingin menegur tapi takut salah jika itu bukan si bungsu. Alasannya klise, hanya Tetsuya yang tidak mengenakan Jas sedangkan kelima kakaknya mengenakan jas. Tetsuya mengetuk ujung sepatunya tak sabar, seharusnya orang yang ditunggunya sudah datang, tapi kenapa belum?

"T-Tetsu-kun?" Tetsuya tersentak mendengar suara familiar yang daritadi ditunggungya. Senyuman lega kini terbentuk dibibir Tetsuya saat melihat kedatangan gadis yang sedari tadi ditunggunya.

"Akhirnya kau sampai juga, Satsuki. Kau bawa pesananku?" Momoi Satsuki, gadis yang sedari tadi ia tunggu. Anggukan pasti diberikan dan gadis itu melirik ke arah Tanaka dan Mabuchi serta beberapa pelayan yang membawa 4 kotak besar hadiah dari Tetsuya untuk Seijuurou.

"Tentu saja" Momoi menampilkan senyuman manisnya.

"Baiklah, ayo kita masuk. Acara akan segera dimulai" Momoi mengangguk dan langsung melingkarkan tangannya di tangan Tetsuya yang kini terlihat lebih tinggi padahal Momoi sudah mengenakan Heels 7 Cm.

Seluruh fokus tertuju pada Tetsuya, ayolah, imajer hati retak bertebaran dimana-mana. Ada yang menyesal tidak menegur Tetsuya yang sedari tadi sendiri, ada pula yang baru menyadari ketampanan Tetsuya namun patah hati saat ada gadis lain yang merangkul manja tangan Tetsuya. Ada pula sorot mata yang kagum dengan gadis bersurai pink itu, patah hati karna pilihan Tetsuya bergitu cantik. Gaun panjang yang menutupi kaki jenjang Momoi berwarna biru lembut nyaris seperti baby blue pucat dengan tambahan kelopak mawar diantara kain-kain yang menjuntai.

Pinggang yang ramping berhias mutiara kecil-kecil namun melingkar, belum lagi pada bagian dada terdapat lipatan kain serupa milik Cinderella namun sedikit modifikasi. Lengan Momoi bebas tanpa tertutup kecuai Bahu kanan yang terdapan bagian lengan yang dibiarkan menjuntai. Kalung berlian berbentuk kelopak mawar dengan gantungan huruf T&S menjadi identitas jika ia adalah milik seorang Akashi Tetsuya.

Mengganggu atau mencibir, sama saja mencari mati karna seluruh orang penting ada disini, oh atau masih ada lupa jika putri seorang mafia dan sekaligus istri dari kepala Yakuza di Jepang ikut bergabung di pesta ini. Siapa lagi kalau bukan Ichijou Chitoge dan Ichijou Raku, pesta di restoran mewah ini bisa jadi debu hanya dalam waktu sekejab dan dipastikan hanya orang-orang yang tidak bersalah yang akan selamat. Abaikan Ichinose Guren dan Hiiragi Sinya, bahkan Daiki juga bakalan angkat tangan atau mungkin ikut membasmi.

Ketika suara MC menginterupsi, seluruh tamu yang datang langsung mendekat ke arah panggung karna itu pertanda acara akan segera dimulai. Kue raksasa buatan Atsushi dengan warna merah dari Strawberry terlihat sangat mewah. Nama si sulung sampai si bungsu tercetak, bahkan ada miniatur wajah mereka dan menjadi gambaran jika mereka adalah saudara yang saling membutuhkan. Angka 28 pada puncak menjadi penunjuk berapa usia si sulung.

Tidak seperti pesta dengan tiupan lilin yang biasa terjadi, melainkan ucapan terima kasih serta harapan untuk hidup kedepannya menjadi semakin baik. Segelas cairan berwarna merah diangkat setinggi mungkin untuk saling bersulang sebagai simbolis untuk kebahagiaan si Akashi sulung. Wajah – wajah dengan senyuman bahagia menghias di setiap tamu yang datang. Si sulung yang masih berdiri diatas panggung mulai berjalan mendekati kue raksasa buatan adiknya, memotongnya sedikit dan mencicipi dengan sendok khusus sebagai simbolis ucapan terima kasih yang sangat dalam untuk adiknya yang berwarna ungu itu.

Sisa kue yang belum dipotong, Seijuurou serahkan pada para chef lainnya untuk di potong dan dibagikan pada tamu yang datang. Kegiatan pesta berlanjut hingga sebuah suara menginterupsi dari sisi kanan panggung. Pria dengan tinggi 178 Cm berdiri di dekat sebuah piano besar berwarna hitam nan mewah memandang Seijuurou dengan sebuah senyuman bangga. Pengeras suara digenggam lembut sementara matanya fokus pada sang kakak.

"Tanjoubi omedetou, Sei-nii" Ucapan itu meluncur bebas dari bibir mungil Tetsuya, ada kehangatan tak kasat mata yang terlihat di mata Seijuurou. Mata baby blue yang selalu mengingatkannya dengan sang ibu kini terlihat jelas di mata si bungsu yang semakin dewasa.

"Arigatou, Tetsuya" Jawab Seijuurou pelan namun bisa di dengar oleh sebagian orang.

"Maaf jika aku tak bisa memberikan hadiah mewah seperti para tamu dan Aniki Tachi" Tetsuya diam sejenak, "Lagi pula, apa yang selama ini Sei-nii inginkan selalu Sei-nii dapatkan. Hanya saja…" Tetsuya melirik ujung sepatunya, menimang-nimang dan mengumpulkan sebuah keberanian, "Aku ingin Sei-nii mendengarkan hadiah dariku"

Tetsuya melangkah pelan menuju piano yang ada di dekatnya, duduk di depan barisan tuth berwarna putih dan hitam. Microfon sudah terpasang tepat di depan wajahnya dan menjadikan suaranya bisa terdengar ke seluruh penjuru ruangan. Jemari putih itu mulai menempel di beberapa bagian tuth piano, tarikan nafas pelan ia lakukan secara perlahan untuk menetralkan rasa gugup yang entah sejak kapan menyerang. Para tamu dan kelima kakaknya terlihat memandang Tetsuya dengan rasa penasaran yang sama, pasalnya mereka tak pernah tau jika si bungsu bisa memainkan benda yang nyaris tak pernah Tetsuya sentuh.

Ketika keyakinan sudah menggelayut di hatinya, Tetsuya mulai menarikan jari jemarinya di atas tuth piano. Melody lembut mulai mengalun perlahan, bukan sebuah alunan yang biasa terdengar. Rasanya musik itu belum pernah mereka dengar sama sekali, tidak, memang belum pernah mereka dengar. Bahkan sang composer terkenal seperti Arima Kouse juga belum pernah mendengar alunan yang mulai menghipnotis itu.

Tak berselang lama, suara si bungsu terdengar diikuti beberapa band pengiring yang sengaja Seijuurou sewa untuk pesta ulang tahunnya. Suara si bungsu sangat berbeda dari yang pernah terdengar, lembut juga terselib nada berat di sana. Sangat berbeda dengan Seijuurou yang memiliki suara berat yang tipis, Ryouta dengan nada terkadang cempreng, Daiki yang manly, Shintarou yang masih sering terkesan tsundere saat bernyanyi sekalipun dan mungkin suara Atsushi yang berubah 180 derajat saat bernyanyi, suara malasnya nyaris hilang.

Selesai bernyanyi, Tetsuya berdiri dan membungkuk ke arah para tamu dan juga kakak-kakaknya yang memberikan tepuk tangan serta teriakkan kuat bak melihat sebuah mini konser. Tetsuya mendekat ke arah Seijuurou dan tersenyum puas, akhirnya ia bisa memperlihatkan pada kakak sulungnya jika ia juga bisa memainkan Piano sama seperti Seijuurou, bahkan bisa fokus bernyanyi sambil terus memainkan piano dengan jemarinya.

"Itu adalah hadiah dariku. Lagu yang ku ciptakan untuk Sei-nii dengan judul Boku No Omoi." Tetsuya menunduk sejenak, mengumpulkan sedikit nafas untuk mengucapkan kalimat selanjutnya, "M-Mungkin masih tersengar amatir, t-tapi aku harap Sei-nii suka" Oh Shit! Tetsuya bisa gugup juga saat ini, sejak kapan ia belajar bahasa gagu seperti itu di depan kakaknya? Tetsuya memalingkan wajah, tak berani menatap kakaknya karna apa yang ia lakukan itu sangat memalukan. Namun, ketika tubuhnya ditarik dalam pelukkan hangat sang kakak yang kini tingginya tak terlalu jauh darinya, membuat Tetsuya sadar jika kakaknya itu sangat menyukai hadiahnya.

"Arigatou Tetsuya, itu lagu yang indah." Seijuurou melepaskan pelukkannya, "Aku tak menyangka jika kau bisa memainkan Piano itu, setau Nii-san kau Cuma bisa memainkan Gitar dan Violin" Tetsuya ingat, dia sering mencuri waktu di sekolah untuk belajar musik dengan guru musiknya, bahkan sering meminta Tanaka mendatangkan guru privat tanpa diketahui kelima kakaknya yang selalu sibuk.

"Bukankah itu tak penting Nii-san, lagi pula" Tetsuya memberikan senyuman kebanggaannya, senyuman yang membuat Seijuurou mengernyit heran, "Aku berhasil mengalahkan Sei-nii di bidang musik"

Bola mata Seijuurou membulat, kenapa ia tak sadar jika ini adalah serangan pertama dari si bungsu dengan alibi sebagai hadiah ulang tahun. Ck, rasanya Seijuurou seperti membuka sebuah kotak kado yang terlihat bagus nan mewah namun berisi mainan yang bisa saja membunuhnya secara tiba-tiba. Seijuurou memang ahli memainkan alat musik, tapi sayangnya ia belum pernah menciptakan sebuah lagu dan Si bungsu berhasil menciptakan sebuah lagu layaknya orang profesional. Ah ya, ini bukan hanya kekalahannya sendiri, Daiki, Ryouta, Shintarou dan Atsushi juga kalah secara bersamaan. Poin pertama yang Tetsuya dapatkan untuk melampaui kakak-kakaknya.

"Bagaimana bisa kau tau soal ini, Tetsuya?" Tanya Seijuurou penuh selidik. Mata Tetsuya melirik ke arah pria tinggi berambut hitam yang sibuk memberi makan seekor anjing berwarna hitam putih yang diberi nama Nigou.

"Shuuzou-nii yang memberitahuku soal ini" Mata Seijuurou menyipit menatap Nijimura Shuuzou yang masih santai bermain dengan Nigou di tengah pesta, tak memperdulikan Stelan jas berwarna hitam dengan kemeja putih terlihat kusut karna ia sedang berjongkok untuk mengelus bulu lebat sang anjing.

"Hm, baiklah, kau menang Tetsuya. Tapi kemenanganmu kali ini belum tentu membuat Nii-san berubah pikiran untuk mengizinkanmu kuliah di Harvard"

"Tenang saja Sei-nii, masih banyak cara untuk mengalahkan Sei-nii"

Tetsuya tersenyum jahil melihat Seijuurou mulai memasang wajah was-was. Daiki, Shintarou, Atsushi dan Ryouta merasakan jika si bungsu sudah menyiapkan berbagai rencana untuk mengalahkan mereka. Satu hal yang mereka takutkan adalah keinginan Tetsuya jika berhasil mengalahkan mereka semua.

'Tetsuya sudah berniat untuk kuliah di Universitas Harvard dan ingin hidup mandiri tanpa bantuan dari kelima kakaknya.'

Oh Ayolah, Tetsuya memiliki tubuh yang sangat lemah bahkan ia masih sering terjatuh walau tak sesering dulu. Sejauh ini, selama musim dingin ia gampang terkena flue dan demam. Jika saja hari ini Tetsuya tak beristirahat total, jangan harap ia bisa bangkit dari tempat tidur. Tapi seorang Akashi Tetsuya memang keras kepala dan lihatlah, tekadnya sudah bulat dan ia berhasil mengalahkan tubuhnya yang lemah. Sekarang Tetsuya tinggal menghitung hari untuk bisa mengalahkan kelima kakaknya, ia sudah siap dengan semuanya.

"Bersiap-siaplah, aniki-tachi"

_ooOOOoo_

Tetsuya berdiri di depan pintu kediaman Akashi dengan kaki yang mengetuk lantai karna tak sabar. Tangan kanan memegang sebuah koper yang cukup besar sementara tangan kiri sibuk menyentuh layar Smartphonenya. Dengan stelan jaket berhoodie warna putih dan kaos merah marun dan celana berwarna biru pucat serta sepatu putih, Tetsuya siap untuk segera berangkat ke suatu tempat. Helaian Baby blue yang beberapa waktu lalu memanjang, kini sedikit dipangkas untuk mengurangi bedhair saat bangun pagi. Tangan kiri Tetsuya yang putih kini memakai sebuah gelang berwarna hitam, ada rajutan marga yang ia sandang – Hadiah ulang tahun dari pelayan pribadinya, Tanaka.

Tetsuya kembali melirik jam tangannya, sepertinya kelima kakaknya sengaja memperlambat dirinya. Ayolah, sebentar lagi pesawat yang akan membawanya ke USA akan segera berangkat, dan kelima kakaknya belum juga keluar untuk mengantarkannya menuju bandara. Tetsuya berani bertaruh jika kelima kakaknya sengaja melakukan ini agar ia tak jadi berangkat. Tentu saja, kelima kakaknya masih belum menerima kekalahan yang beberapa waktu lalu sempat Tetsuya lakukan.

Ah ya, beberapa bulan yang lalu, tepat di bulan Januari setelah perayaan Tahun baru, Tetsuya mulai melakukan serangannya. Mengalahkan kelima kakaknya dengan menggunakan kelemahan mereka. Di mulai dari mengalahkan Atsushi dalam hal memasukan benang ke Jarum, lalu membuat makanan penutup dengan bahan utama Vanila Milkshake, tak hanya itu, Tetsuya sengaja membawa Atsushi ke taman burung dan alhasil, kakaknya itu lari ketakutan saat melihat burung gagak yang dibiarkan terbang bebas di dalam sangkar raksasa. Atsushi langsung menyerah kalah.

Kedua ia mengalahkan Shintarou dalam hal mencari Lucky Item tercepat, lalu ia mengajak Shintarou yang sudah jelas seorang dokter untuk membantu mengerjalan ratusan soal yang berhubungan dengan Sains. Karna terlalu percaya diri atau memang karna ia percaya dengan pensil dewa pemalas, Shintarou kalah 7 poin dari Tetsuya sebentar lagi lulus dari Sekolah Menengah Atasnya. Sama Seperti Atsushi yang takut pada burung gagak, Shintarou juga takut dengan kucing, Tetsuya menjahili Shintarou saat sedang duduk di ruang tamu, ia membawa seekor kucing berwarna putih dan mengelus bulunya tepat di samping Shintarou. Karna terkejut, tak sengaja Shintarou melompat dan mendapatkan sebuah cakaran pada lengan karna tak sengaja membuat kucing di pangkuan Tetsuya terjatuh ke tubuhnya. Shintarou langsung mengangkat bendera putih untuk mengaku kalah.

Ketiga Daiki, agak sulit mengalah kakaknya yang sedari dulu selalu mencetak point tertinggi dalam olah raga basket. Tetsuya sempat emutar otak, dan siapa sangka kakaknya itu sangat lemah dalam soal Matematika. Tetsuya dengan mudah mengalahkan Daiki dengan mengandalkan soal Matematika, namun ada lagi yang membuat Tetsuya harus tertawa karna kakaknya yang paling gelap itu paling tidak suka dengan Lebah tapi menyukai madunya. Saat Shuuzou mengajaknya untuk mengambil madu di peternakan lebah hutan milik keluarga Asahina. Daiki ketakutan dan berlari sekncang mungkin sambil berteriak jika dia kalah, bahkan dia rela membakar semua majalah Mai-chan asalkan tak pernah lagi menginjakkan kaki di peternakan lebah.

Diantara semuanya, Ryoutalah yang paling mudah dikalahkan, bahkan hanya sekali serangan ia mengaku kalah. Bagaimana tidak, Tetsuya menyuruh Ryouta untuk membantunya menanam pohon Bonsai sebagai tambahan koleksi di taman belakang, tapi hasilnnya Ryouta lari sambil menangis saat melihat cacing tanah menggeliat di tangan Tetsuya. Padahal, cacing sangat membantu untuk membuat tanah menjadi subur, tapi kakaknya itu malah berlari sambil menangis seperti anak kecil yang ketakutan melihat hantu. Tetsuya tak menerima ucapan Ryouta yang mengaku kalah di awal, akhirnya ia bertekad mengalahkan kakaknya untuk menjadi sampul disalah satu majalah yang cukup terkenal.

Dengan bantuan Shuuzou yang mengambil gambar, Tetsuya berpose layaknya badboy dengan rambut yang terangkat naik, kerabu palsu di telinga dan aksesoris berbau tengkorak menempel di tubuhnya. Jangan lupa jaket kulit dan riasan yang membuatnya terlihat sangar juga membuat para gadis mimisan di tempat. Foto itu sukses membuat Tetsuya menjadi model pada sampul bagian depan dan profil lengkap Tetsuya tercetak di dua lembar halaman penuh. Ryouta hampir saja membenturkan kepalanya ke dinding karna melihat Tetsuya berada di bagian sampul majalah terkenal yang ia sendiri gagal menjadi sampulnya dan hanya mengisi satu halaman mengenai profilnya.

Tinggal satu orang lagi, Kakak sulung yang selalu mengatakan dirinya selalu benar dan tak akan pernah kalah. Jangan lupakan semboyan yang selalu ia pegang teguh dari sang ayah yang telah tiada. Kemenangan adalah segalanya, pemenang akan mengukir sejarah sedangkan pecundang akan dilupakan. Sulit mengalahkan si sulung yang memiliki segudang prestasi dengan kelemahan yang sulit dideteksi. Meski Tetsuya sempat mengalahkannya dalam soal musik, tapi nyatanya Seijuurou telah menyiapkan segala hal agar Tetsuya tak bisa mengalahkannya.

Sepandai-pandainya Tupai melompat, pasti pernah jatuh juga. Pribahasa yang cocok mengungkapkan sisi lain dari seorang Seijuurou. Ketika Tetsuya bermain bersama Nigou dan kelima kakaknya, Tetsuya mengajarkan Nigou bermain dengan kayu dan beberapa mainan anjing lainnya. Tawa renyah seketika keluar saat Nigou berlari kencang sembari menangkap tongkat yang dilempar. Karna tak ingin hanya menonton dan diam, Seijuurou berinisiatif untuk ikut bermain dan sedikit melatih Nigou belajar melompat tinggi dengan menggunakan alat khusus yang baru mereka beli.

"Tetsuya, bagaimana kalau Nigou kita ajarkan melompat menggunakan alat ini" Tetsuya mengangguk pelan, menandakan ia setuju.

"Boleh saja Sei-nii, aku akan mengajarinya" Tetsuya dengan semangat memanggil Nigou sebelum suara Ryouta dan Daiki melengking karna Nigou berlari menjauh ke arah Atsushi.

"Nigou, tunggu-ssu." Teriak Ryouta dengan susah payah karna Nigou berlari kencang sementara Atsushi dengan sengaja memperlebar jarak.

"Hora! Atsushi-nii, berhenti memperlebar jarak. Kami susah mengejar Nigou!" Desah Daiki frustasi.

"He~~ Nigou yang mengejarku, jadi ini bukan salahku~" Ucap Daiki malas tapi tetap saja terus memperlebar jarak hingga panggilan Tetsuya membuat Nigou berhenti berlari.

Melihat Nigou yang berhenti tiba-tiba, sontak Daiki ikut berhenti hingga tak sengaja Ryouta yang di belakangnya menubruk Daiki yang tak siap. Tak perlu ditanya apa yang akan terjadi selanjutnya, tentu saja Daiki dan Ryouta jatuh bersamaan dengan bertumpu. Protesan keberatan dari Daiki dan Suara Ryouta yang merasa tak bersalah menjadi pemandangan yang lucu, terlebih Nigou dengan santai berlari melewati dua orang sedari tadi mengejarnya. Sampai pada tuannya, Nigou merasakan tangan putih itu mengelus bulunya yang tebal dengan penuh kasih sayang.

"Bagus Nigou, sekarang kita belajar untuk melompat tinggi dengan alat ini" Tetsuya menunjukkan alat khusus yang dimaksud, Nigou menggonggong bertanda ia antusias. Sekali lagi elusan di dapat oleh anjing yang sudah kelihatan lebih besar, bukan lagi Puppy yang masih kecil. Baru akan mulai mengajari Nigou melompat, Seijuurou mencegahnya.

"Boleh Sei-nii yang mengajarkan Nigou, Tetsuya?" Tetsuya mengernyit bingung, sejak kapan kakak sulungnya peduli terhadap hewan peliharaan? Biasanya kakaknya hanya suka melihat saat Tetsuya mengajari Nigou sesuatu, tapi kali ini berbeda. Baiklah, mungkin sebuah kesempatan untuk Tetsuya.

"Bisa saja, Sei-nii. Tapi ini akan jadi pertandingan untuk kita berdua"

"Pertandingan?" Dahi Seijuurou mengernyit, ayolah, dia tak sebodoh itu.

"Sei-nii tau maksudku" Tantang Tetsuya, senyuman remeh didapat.

"Baiklah, bersiaplah untuk kalah Tetsuya"

"Tidak akan, lagi pula Sei-nii ingat kan hadiah ulang tahun Sei-nii kemarin?" Bagaimana bisa lupa, Seijuurou sangat ingat hadiah berupa lagu yang dinyanyikan oleh Tetsuya khusus untuknya dan kotak – kotak besar beririsi Piala yang total jumlahnya sama bahkan lebih seperti kelima kakaknya.

Kotak-kotak piala yang menjadikan si bungsu setara dengan kelima kakak-kakaknya yang sudah sukses terlebih dahulu. Mungkin saat itu Tetsuya mendapatkan sebuah keberuntungan atau memang karna prestasinya sedikit lebih baik, total pialanya lebih sekitar 10 buah dan itu melampaui Seijuurou. Senyuman Tetsuya seketika mengembang lebar mengetahui hal itu, lemari prestasi yang selama ini kosong kini terisi penuh bahkan berlebih hingga tidak muat. Sungguh, siapapun akan sadar jika keluarga Akashi itu sudah semakin kuat bahkan tak tertembus.

Seijuurou mengambil langkah untuk mendekati Nigou, bermaksud mengelus bulu tebal berwarna hitam lembuut yang terawat. Bulu Nigou sangat bersih, bahkan terkesan harum karna perawatannya tak kalah dari perawatan tubuh manusia, jadi jangan heran jika banyak yang menyukai anjing imut itu, bahkan ekspresi wajah Nigou terkadang mirip dengan ekspresi wajah Tetsuya sehingga membuat keempat kakaknya menatap gemas. Memang Nigou Anjing yang pintar juga penurut, hanya saja itu tak berlaku bagi Seijuurou.

Nigou dengan pintarnya mengalihkan pandangan ke arah lain dan tak ingin disentuh oleh Seijuurou. Sesekali Seijuurou mencoba membuat Nigou mengikuti dirinya, tapi sayangnya Nigou menolak. Hal itu tak luput dari perhatian kelima adik Seijuurou, ayolah sejak kapan si tuan Absolut terlihat memalukan hanya karna seekor anjing? Tak menyerah, Seijuurou mencoba menarik perhatian Nigou dengan melempar tongkat kayu, tapi sayangnya Nigou tak ingin mengejarnya sama sekali.

Okey, Cukup sudah! Perempatan merah muncul di pipi, dahi dan punggung tangan Seijuurou, ia membenci anjing yang tidak menurut dan itu membuatnya kesal setengah mati. Karna kesalnya, Seijuurou bahkan sempat menghembus nafas kesal dan menyuruh Tetsuya untuk mengajari Nigou. Parahnya, Nigou mau berlatih melompat bahkan terlihat sangat lincah bermain dengan tuan yang bersurai warna-warni kecuali warna merah. Saat itulah, kelima putra keluarga Akashi mengetahui si sulung punya kelemahan dalam mengajari hewan peliharaan dan setibanya di rumah, sang kepala pelayan –Mabuchi- memberitahu jika si sulung payah dalam mengendalikan hewan, termasuk si kuda kesayangan yang diberi nama Yukimaru.

Butuh waktu sekitar 1 tahun penuh bagi Seijuurou bisa mengendalikan Yukimaru padahal Yukimaru termasuk kuda terpintar di jenisnya dna merupakan hadiah dari sang ibu. Sontak saja cerita itu membuat tawa Daiki dan Ryouta menggelegar diseluruh ruangan, Shintarou terlihat menggembungkan pipi sembari memalingkan wajah agar tak terlihat menahan tawa. Atsushi sendiri terlihat membelakangi Seijuurou untuk mengeluarkan tawanya. Tetsuya? Jangan tanya, ia tertawa puas bersama Daiki dan Ryouta. Jika saja aura gelap kakaknya tak keluar, mungkin mereka akan terawa semalaman karna kelemahan kakaknya yang konyol, alhasil mereka segera berlari menuju kamar masing-masing untuk kembali tertawa sambil berguling di tempat tidur King Size-nya masing-masing.

Sekarang, setelah berulang kali mengalahkan kakak-kakaknya dan telah berhasil mendapatkan tiket menuju USA untuk kuliah di universitas teranama Harvard, Tetsuya harus merasa jengkel setengah mati karna kakak-kakaknya masih tak setuju dengan keputusannya. Tetsuya terus melirik detikkan jarum jam dengan delikan tajam, berharap waktu berhenti sepersekian detik untuk menunggu keberangkatan pesawat yang akan membawanya ke USA. Sekian kalinya Tetsuya menghela nafas dan akhirnya kelima kakaknya keluar dari rumah mereka.

"Apa kami membuatmu menunggu terlalu lama, Tetsuya?" Si sulung membuka suara sementara perempatan sudah muncul di dahi kanan si bungsu.

"Menurut Sei-nii?" Tanya Tetsuya kesal.

"Sumanai, persiapan ini membuatmu menunggu lama" ucap Seijuurou dengan senyuman tulus meski di mata Tetsuya senyuman itu penuh dengan makna tersembunyi.

"Baiklah, aku memafkan Sei – nii dan Nii-san Tachi. Sekarang bisa antarkan aku ke bandara? Aku tak ingin ketinggalan pesawat, masih banyak yang harus ku lakukan sebelum mulai masuk kuliah" Sungut Tetsuya.

"Tenang saja-ssu, kami akan membantumu-ssu" Mulut Tetsuya terbuka lebar mendengar ucapan Ryouta yang diiringi beberapa pelayan yang mengemasi 5 buah koper ukuran besar.

"Rumah kita di sana sudah di bersihkan oleh beberapa pelayan, jadi kita tinggal bersantai disana, Tetsu" Daiki memberikan cengiran khas, oh kakaknya sedang memikirkan hal aneh rupanya di negara sana.

"Hm, aku juga sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan beberapa bahan makanan, jadi untuk makanan serahkan saja padaku" Nada malas Atsushi membuat ekspresi datar Tetsuya semakin datar. Imajer kekesalan timbul seiring dengan prempatan merah yang semakin banyak timbul di wajah Tetsuya.

"Peralatan kedokteran di sana jauh lengkap Nanodayo, bukannya aku ingin ikut, hanya saja ada dokter di sana yang ingin bertemu denganku, Nanodayo" Alasan tak masuk akal keluar dari bibir Shintarou dan di tanggapi dengan tatapan datar dari Tetsuya.

"Kau dengar, Tetsuya. Kami akan ikut ke USA, dan mungkin akan tinggal disana bersamamu. Kalaupun kau ketinggalan pesawat, Nii-san sudah menyiapkan pesawat pribadi dengan Ryouta yang menjadi pilot untuk mengantarkan kita semua ke sana"

Cukup! Tetsuya sudah cukup jengah dengan sikap kakak-kakaknya yang semakin over protectif dan menyebabkan kesabaran Tetsuya terkikis habis. Sebelum kakak-kakaknya melangkah dan merangkulnya, sebuah cetusan keluar dari bibir Tetsuya dan membungkam kelima kakaknya dalam sekejab.

"Nii-san Tachi menyebalkan!" Ekspresi bahagia yang terlihat di wajah kelima kakaknya sontak mengendur secara perlahan. "Aku memilih Harvard untuk bisa mandiri, aku bisa melakukannya sendiri." Dengusan terdengar, "Tanaka-san dan beberapa Maid maupun buttler sudah dipersiapkan untukku. Aku juga sudah membeli sebuah apartemen di dekat kampus, jadi ini sudah lebih dari cukup untuk membuatku tercukupi tanpa bantuan Nii-san Tachi" Putus Tetsuya.

"Bagaimana soal kesehatan, Nanodayo" Tanya Shintarou dengan sedikit Modus.

"Tidak masalah, bukannya teman Shintarou-nii ada yang bekerja di sana. Kalau aku tidak salah namanya Irie Nawaki, dokter dari Jepang yang juga bekerja di sana. Aku tak perlu khawati soal kesehatan." Atsushi berniat menyela, namun tatapan tajam Tetsuya membungkamnya, "jangan khawatir soal makanan, maid dan buttler bisa menyiapkannya untukku" Okey, menyerah adalah kata yang tabu untuk kelima surai warna – warni jika menyangkut si bungsu. Si sulung mulai bertindak.

"Baiklah, kalau begitu kalahkan aku sekali lagi dan kau boleh pergi" Imajer kekesalan semakin memuncak di dahi Tetsuya. Kakaknya yang satu ini semakin menjengkelkan.

"Aku sedang tak punya waktu untuk bermain shogi ataupun berpacu kuda, aku tak punya waktu Sei-nii"

"Kalau begitu, kenapa tak tunda keberangkatanmu dan kalahkan aku dengan caramu memimpin sebuah usaha hingga sukses?" Bohlam lampu seketika berpijar di atas kepala Tetsuya, kenapa ia bisa lupa jika ia masih punya satu senjata lagi.

"Aku sudah melakukannya" Tetsuya melirik ke arah Tanaka, "Tanaka-san, bisa ambilkan tabletku?" Tanaka mengerti dan mengangguk.

"Haii, Tetsuya-sama" Tanaka menyerahkan benda petak yang berukuran lebih besar dari Smartphone. Tetsuya segera menyentuh layar dan membuka sebuah aplikasi, ketika sampai pada tujuannya ia memperlihatkan data statistik pada kelima kakaknya.

"Ini adalah data statistik dari Basketball Caffee yang ku bangun ulang. Dengan bantuan dari teman-teman dan Senpai juga para Kouhai, Basketball Caffee kembali berjalan. Aku berperan sebagai Manager yang mengatur segalanya dan bertanggung jawab atas kelangsungan Basketball Caffee." Tetsuya berhenti sejenak, "Sekarang aku alihkan ke Hyuuga-senpai untuk mengaturnya, Aida-senpai sebagai supervisor yang mengatur jalan kerja pelayan dan juga Chef."

"K-Kau menjalankan kembali Basketball caffee?" celetuk Daiki tak percaya dengan suara pelan serupa angin.

"Dengan bantuan Kagami-kun sebagai Chef, Kiyoshi –senpai sebagai pembuat minuman dan tentu saja masih banyak lagi pemain basket yang mengisi waktu luang mereka dengan bekerja disana, dan sebagian besar alasan mereka adalah keuangan. Tapi karna kerja sama yang baik, sekarang Caffee ini sudah jauh lebih baik dari yang pernah kita jalankan" Tetsuya mengakhiri penjelasannya. "Jadi, apa aku boleh pergi sekarang?"

"Tunggu dulu, syaratnya Sei-nii ganti" Tetsuya memutar bola mata malas. Sekeras apa kepala kakaknya ini? ada saja cara untuk mencegahnya pergi.

"Apa lagi syaratnya, Sei-nii?" Tanyanya malas.

"Kau memang sudah mengalahkan Sei-nii, tapi kalian semua belum pernah mengalahkan Sei-nii sekaligus" Navy Blue, kuning, Hijau, Baby blue dan Ungu sontak melirik ke arah surai Merah yang menunjukkan keangkuhannya. Ia yakin jika kelima adiknya belum pernah sekalipun bisa mengalahkannya secara bersamaan.

'Ck, dia meremehkanku' fikir Daiki.

'Tsk, Seijuurou memang belum pernah ku kalahkan, Nanodayo. Ah, sialan, kenapa aku kesal padahal ini bagus untuk menunda keberangkatan Tetsuya' Fikir Shintarou.

'Aku belum pernah memikirkan untuk mengalahkan Sei nii-chin' fikir Atsushi.

'Mou~~ Sei-nii curang-ssu. Aku bahkan Cuma sekali mengalahkannya, itupun karna kebeuntungan. Bagaimana bisa mengalahkannya lagi-ssu?' fikir menyerah tertoreh di wajah keempat kakaknya dan wajah Seijuurou menunjukkan keangkuhan serta keabsolutan yang tak bisa di tentang.

"Mereka sudah mengalahkan Sei-nii, dan tinggal menunggu waktu, aku akan mengalahkan Sei-nii" Alis seijuurou meluncur tajam, ah tidak mungkin Atsushi, Shintarou, Daiki dan Ryouta pernah mengalahkannya, ia tak ingat jika mereka berempat pernah mengalahkannya.

"Jangan bergurau, Tetsuya. Mereka belum pernah mengalahkanku" Ucap Seijuurou angkuh.

"Haruskah aku mengambil meteran untuk menunjukkan jika tinggi badan Atsushi-nii, Shintarou-nii, Daiki-nii dan Ryouta-nii sudah melewati tinggi tubuh Sei-nii?"

Mata dengan iris ruby itu melebar mendengar ucapan polos tak berdosa dari Tetsuya. Wajah dengan tampang datar itu berbicara tenang tapi Seijuurou seolah mendapatkan imajer panah tak kasat mata yang langsung menancap tepat di jantungnya. Seperti terjun ke jurang terdalam, Seijuurou merasa ingin mengutuk tinggi tubuh adik-adiknya yang diatas rata-rata kecuali Tetsuya yang sekarang terpaut beberapa cm. Seketika otak Seijuurou macet untuk berfikir dan tak ada alasan lagi untuk mencegah keberangkatan Tetsuya ke USA.

"Sekarang aku boleh pergi, Sei-nii?" Tanya Tetsuya polos.

"Ah, i-itu" Seijuurou benar-benar kehabisan kata-kata, sekarang ia kesal setengah mati saat Tetsuya berjalan menuju mobil hitam mewah yang akan mengantarkannya ke Bandara. Beberapa langkah lagi akan sampai ke pintu mobil, Tetsuya berbalik.

"Ah, Sei-nii. Sei-nii tak perlu repot untuk menghentikan peredaran susu penambah tinggi badan di USA. Aku sudah meminta Satsuki untuk membawa Susu Vanilla yang bisa ku nikmati setiap hari"

"Satsuki? Maksudnya?"

"Aku dan Satsuki lolos untuk masuk di Harvard, jadi daripada Satsuki menyewa apartemen, jadi aku putuskan untuk tinggal satu apartemen dengannya." Tetsuya melirik ke arah Smartphone yang berbunyi, "Ah sudah waktunya, Sayonara Nii-san. Aku akan pulang satu tahun sekali dan bisa menikmati tinggal bersama dengan Satsuki serta Susu Vanilla setiap pagi" Tetsuya bergitu sumringah saat mengucapkannya sementara kelima kakaknya hanya bisa membuka mulut selebar-lebarnya.

Apakah yang diucapkan Tetsuya itu adalah hal ambigu? Benarkah itu Ambigu?! Oh NO! kalau itu benar-benar hal ambigu dan adik kesayangan yang polos mereka sudah mengenal hal-hal aneh, bisa berbahaya terlebih kehidupan di sana yang terkenal sangat bebas. Big No! Mereka tak ingin adik kesayangan mereka yang paling disayangi itu rusak bahkan melakukan hal tidak baik dengan seorang wanita di dalam apartemen yang sama.

Ketika suara mobil yang ditumpangi Tetsuya mulai keluar dari gerbang besar kediaman keluarga Akashi, barulah kelima orang itu sadar dari lamunan dan segera berlari keluar sementara mobil sudah tak terlihat lagi. Untuk pertama kali dalam sejarah keluarga Akashi yang terkenal akan ketampanan putra-putranya, serta jangan lupakan segala kesempurnaan serta harga diri yang tinggi, kini lima orang dengan surai warna-warni berteriak kencang seperti orang gila yang berlari mengejar hal tak pasti.

"TETSUYA!"

Kikik geli keluar dari bibir Tetsuya yang sudah jauh dari gerbang utama keluarga Akashi tapi masih mendengar teriakkan menggema dari kelima kakaknya. Menyenangkan bisa mengalahkan kakak sulungnya bahkan membuat sebuah keambiguan yang tak ia sengaja. Ayolah, Tetsuya bahkan tak sadar jika kata 'susu' bisa menjadi hal ambigu untuk kelima kakaknya sedangkan yang ia maksud adalah susu penambah tinggi badan agar bisa mengalahkan Seijuurou sama seperti yang lain. Okey, tolong ingatkan Tetsuya untuk tidak mengkonsumsi secara berlebihan, jangan sampai makhluk yang imut kesayangan surai warna-warni berubah jadi titan mengerikan karna tinggi diatas rata-rata.

"Lain kali aku akan mengalahkan Nii-san tachi lagi" Kikik Tetsuya jahil.

END

Haloo.. Apa kabar? Lian kembali setelah sekian lama..

Lian mohon maaf untuk readers semua, Maaf karna Lian terlalu lama Update Chapter terakhir. Bukan niat, hanya saja Laptop Lian sudah hampir 1 tahun rusak dan bermasalah. Baru di perbaiki bulan februari kemarin. Lian baru bisa update sekarang juga karna Lian masih pastiin bahwa Laptop lian udah baik - baik aja. Dan, Lian juga mau ucapin terima kasih untuk readers yang rela nunggu selama ini, Terima kasih banyak atas dukungannya.

Begitu banyak yang ingin lian sampaikan untuk kalian semua. Lian sebenarnya gak pergi kemanapun, lian tetap sering baca komentar dan baca ff lain melalui smartphone lian. Segala komentar dan masukkan menjadi motivasi lian untuk jadi yang lebih baiik..

FF ini sudah lian ketik lama banget, setelah chapter 20 update, lian udah ketik ff ini. Bahkan di jaman nisekoi baru tamat, ff ini udah lian ketik, jadi nyambung semua jadi satu apa yang saat itu lian tonton dan lian baca. Seharusnya, FF ini juga ada epilog dimana Tetsuya kembali dari Harvard untuk berlibur, hari dimana dia mengalahkan lagi kakak-kakaknya dan membuat heboh seluruh tokyo. Tapi, sepertinya Lian belum punya waktu untuk itu..

hmm... bukan karna gak ingin ngetik, tapi lian lagi ada projek baru... Doakan lian yang semua, Mimpi lian untuk menjadi novelis sebentar lagi akan terwujud. Pintu menuju novelis sedang terbuka lebar untuk lian.. Nanti akan Lian infokan dimana Lian akan bertengger bersama para novelis lainnya. Yang lian butuhkan adalah doa dari kalian. Lian akan berjuang meraih mimpi dan harapan yang selama ini Lian impikan...

Satu hal yang gak akan lian lupakan adalah,, Kamu semua yang pernah menjadi bagian dari lian di Lavender Lian, Wattpad Lian VT_Lian dan di Fanfiction net. Lian berterima kasih. ^_^

Mimpi akan tercapai jika kamu mau menerima kritik dan saran dari pembaca.. Mohon doa dan semangatnya semua.. Sampai jumpa dengan karya lian yang lain.. Ingat yah.. VT_Lian...

Arigatou gozaimasu...

Gamsahamnida...

Thank you all...

^_^ Salam sayang dari Lian...