[ disclaimer ]

Seluruh karakter milik Haruichi Furudate. Pitik hanya bikin FF, tidak mengambil keuntungan apapun selain rasa senang

. . .

Entah sudah berapa gelas yang Oikawa habiskan malam itu, malam di mana Iwaizumi Hajime secara resmi mengatakan hubungan mereka harus berakhir. Tepat sebelum pesawat menuju Sydney lepas landas dari Bandara Haneda, sebelum Iwaizumi melambaikan tangan dan menarik koper hitamnya, mengapa harus kata-kata itu yang terucap? Oikawa tidak habis pikir.

"Aku tidak akan kembali dalam waktu dekat. Aku tidak bisa. Jadi, ayo akhiri hubungan ini."

Benar. Kata-kata itu. Ada tiga kalimat yang selalu berputar di benaknya sejak sore hingga dini hari. Kedua manik coklat itu sudah sayu. Pemandangan bar di hadapan Oikawa tidak lagi tampak jelas. Suara denting botol dan gelas juga terdengar begitu samar. Namun satu hal, air matanya tetap mengalir. Lelaki itu menunduk di atas meja, menyembunyikan wajah yang sudah tak karuan lagi.

Oikawa hancur. Ia tidak bisa menerima ucapan sang mantan. Mereka bisa saja menjalani hubungan jarak jauh. Oikawa tidak akan—oke, mungkin sedikit keberatan. Tapi itu jauh lebih baik dari tiba-tiba meminta putus. Setidaknya mereka pernah mencoba.

"Iwa-chan," rengek lelaki itu.

"Iwa-chan," ucap Oikawa lagi. Ia terus menyebut nama itu tanpa memikirkan seberapa keras volume suara yang dikeluarkan.

"Iwa—hiks—chan." Ketiga kalinya, Oikawa memanggil sambil terisak lagi. Tangannya menggenggam gelas kaca kosong erat-erat, membayangkan gelas itu seolah tangan Iwaizumi Hajime yang harusnya ia tahan. Lalu Oikawa juga mengangkatnya, menempelkan bibirnya pada pinggir gelas seolah sedang memberikan kecup perpisahan yang tidak pernah tersampaikan.

"Kau tidak bisa—hiks—pergi seperti itu," rengek lelaki berambut coklat itu lagi.

"Kau tidak bisa—"

Ucapan Oikawa tergantung di udara ketika seseorang menariknya, menaruh tangan kanan Oikawa pada bahu kirinya. Lampu bercahaya hangat di bar satu persatu padam. Rak dan gelas sudah ditutupi kain. Tempat itu sebentar lagi akan tutup. Alasan mengapa sekarang Oikawa dipaksa bangkit adalah karena bar tidak melayani sewa tempat untuk meratapi patah hati.

Sepanjang jalanan Tokyo, bunga sakura bermekaran dengan indah. Angin hangat musim semi berhembus di malam hari. Suasana yang sangat cocok untuk merasakan cinta. Tapi tidak bagi Oikawa Tooru. Ini musim semi terburuk sepanjang hidupnya. Bahkan lebih buruk dibandingkan jatuh sakit ketika semua temannya sedang mengunjungi festival.

"Iwa-chan," racau lelaki itu sambil berjalan tertatih-tatih.

Oikawa tidak tahu ke mana ia dibawa. Seseorang masih dengan hati-hati memegangi pinggang dan tangannya agar tidak limbung. Perlu waktu agak lama sampai lelaki itu tiba di atas ranjang—mungkin ranjang penginapan karena Oikawa tidak menemukan selimut bulu kesayangannya saat meraba-raba permukaan seprai.

Tapi persetan. Siapa yang peduli di mana selimut bulunya. Oikawa hanya ingin tempat untuk meratapi kesedihan. Sayang, detik setelahnya ratapan itu harus tertunda oleh mual. Lelaki berambut coklat itu bangun dan dengan langkah sempoyongan mencari kamar mandi. Karena tak kunjung menemukan, pakaian malam itu menjadi korban muntahannya.

Saat ini Oikawa duduk di atas lantai, meratapi nasib sial. Matanya menatap ke depan, masih samar karena efek alkohol. Perutnya masih bergejolak dan sekarang ditambah pusing kepala yang menjadi-jadi. Jika berani, Oikawa ingin mati saja.

Tiba-tiba seseorang meraih lengannya, memapah Oikawa menuju kamar mandi yang gagal ia temukan tadi. Tanpa pikir panjang, Oikawa langsung melepas jaket, kaus, dan jeans-nya yang kotor. Ia meraba-raba sekitar dan menemukan kloset. Dengan sisa tenaga, lelaki itu memuntahkan isi perut lagi.

Badannya terasa lemas setelah itu. Oikawa terduduk di lantai kamar mandi hanya mengenakan celana boxer-nya. Hawa dingin dan lembab menyelimuti tubuh. Ia tidak sanggup bangun untuk sekadar menekan tombol flush dan membiarkan orang lain melakukannya. Lengannya diangkat lagi, dipaksa berubah posisi agar bathrobe penginapan bisa terpasang dengan benar.

Setelah tali jubah mandi itu terikat, ia digendong keluar. Tangan menggantung lemah saat tubuhnya diangkat dan dibaringkan kembali ke atas ranjang. Oikawa mengerjap pelan, melirik sosok yang sejak tadi membantu. Tangannya terulur untuk meraih pergelangan sosok itu, menahannya untuk melangkah lebih jauh.

"Jangan pergi," mohonnya masih dengan mata sembab dan isakan pelan.

"Jangan tinggalkan aku, Iwa-chan."

. . .

A Getaway

. . .

Pengar tak kunjung lenyap dari tubuhnya. Ada perasaan mual dan pusing yang memukulnya secara bertubi. Ditambah perih yang belum hilang sejak perpisahan kemarin

Tentu tidak ada hal lain yang bisa membuat seorang Oikawa Tooru sefrustasi ini hingga tenggelam dalam bergelas-gelas alkohol. Entah di belahan Jepang mana dia berada sekarang, Oikawa tidak peduli. Setidaknya—oh, bukan. Masih hidup dan bisa membuka mata tanpa kesulitan bukanlah hal yang bisa ia syukuri.

Oikawa ingin pergi saja. Ia tidak akan bisa hidup sambil menumpuk luka demi luka hingga hatinya benar-benar hancur. Lelaki itu tidak mungkin bisa hidup tanpa Iwaizumi Hajime. Tidak setelah tiga tahun kencan selepas lulus sekolah menengah atas. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat, bukan kurun waktu yang Oikawa harapkan untuk berakhir sia-sia dengan alasan perbedaan jarak.

"Iwa-chan..." lirihnya dengan suara terisak. Air mata mengalir lagi, menambah kadar kesembapan di wajahnya.

"Permisi," interupsi sebuah suara bariton. Mengganggu saja.

Oikawa ingin waktu privatnya. Ia ingin menangis dengan bebas tanpa ada yang mengganggu atau berkata 'permisi' dengan suara berat tepat di samping telinganya.

Benar. Di samping telinganya.

"Kalau kau sudah sepenuhnya bangun, bolehkah aku pulang?" Suara berat itu muncul lagi di samping telinganya. Kini mata sembabnya terbuka lebar karena merasakan deru napas menerpa pelipis.

Sesaat kemudian Oikawa menoleh dan tersadar di mana dirinya berada, sebuah kamar penginapan bernuansa krem dengan seorang laki-laki berwajah tegas dan suara berat berbaring di sisinya.

Mungkinkah dia—ini gila.

Sontak, Oikawa langsung melompat turun dan menatap horror laki-laki asing itu. Ia jelas bukan Iwaizumi. Wajahnya berbeda. Dan tidak mungkin sang mantan mau tidur bersama tepat setelah putus. Lagipula Iwaizumi baru saja terbang ke Australia. Oikawa melihat pesawatnya terbang dengan mata kepala sendiri.

"Apa kau mengambil kesempatan saat aku mabuk dan—,"

Ucapan Oikawa terputus. Ia menyentuh pakaian dan hanya menemukan bathrobe. Tanpa dalaman apapun selain celana boxer.

"Di mana pakaianku?" Lelaki itu menatap sosok asing di atas ranjang sambil melotot. "Jawab!"

Pemuda itu mengangkat tangannya sambil menyahut, "Pakaianmu penuh dengan bekas muntahan jadi kuberikan pada petugas laundry."

Sepasang manik coklat terbelalak, rautnya penuh dengan keterkejutan. "K-kau menelanjangiku?"

"Tidak. Kau yang membuka bajumu sendiri di kamar mandi." Jawaban itu disampaikan dengan tenang dan lancar, seperti tidak ada sedikitpun kebohongan dari ucapannya.

"Aku yang melakukannya sendiri?" ulang Oikawa sambil memukul-mukul dadanya sendiri. Pertanyaan itu dibalas angguk singkat.

"Ya dan apa kau baik-baik saja?"

"Kau bertanya apakah aku baik setelah menghabiskan malam dengan minuman beralkohol? Tentu saja tidak," cerocos lelaki berambut coklat itu kemudian menunjuk mata sembabnya, "kau lihat ini? Benar. Aku hancur."

Yang masih duduk di ranjang tidak mengalihkan tatap, masih memperhatikan Oikawa meratapi kesedihannya.

"Jika kau perlu waktu untuk sendiri. Aku akan pergi sekarang," ujar sosok itu seraya beranjak dari ranjang.

"Kau tidak perlu meminta izin untuk—uhuk." Ucapan ketus itu diakhiri dengan batuk keras. Oikawa langsung menutup mulut dan memegangi perutnya. Ia hendak berlari ke arah kamar mandi. Namun tidak tahu arah.

Pemuda asing langsung merangkul Oikawa. Ia jelas tahu di arah mana kamar mandinya berada karena semalam menggiring si rambut coklat ke depan kloset dan membiarkannya muntah hingga lega.

Orang asing itu menunggu di luar pintu. Tidak ingin menginterupsi apapun yang Oikawa lakukan. Namun ia masih berjaga, takut jika tiba-tiba lelaki rambut coklat itu tidak sadarkan diri atau terlalu lemah untuk berdiri. Ia tidak mau disalahkan.

Beberapa menit berlalu dengan suara muntah. Pemuda itu mengintip ke dalam kamar mandi, menemukan Oikawa yang masih menyandarkan tangan pada tutup kloset. Si rambut coklat sudah selesai dengan kegiatannya dan menoleh ke arah pintu.

"Kau masih di sini?" ketus Oikawa

"Aku ingin memastikan tidak ada yang pingsan saat aku pergi."

Lelaki di dalam kamar mandi mendudukkan diri di lantai dan terkekeh pelan. Senyum getir terbentuk di wajahnya ketika mengucapkan kata-kata ironis. "Manis sekali."

"Andai saja kau mantanku yang tidak jadi pergi ke Australia dan menjemputku di bar karena berubah pikiran." Ucapan itu hanya omong kosong. Tidak akan mungkin terjadi. Iwaizumi bukanlah seseorang yang akan mengingkari kata-kata sendiri.

"Kalau kau masih mencintainya, kejarlah."

Oikawa tidak menyahut. Ia masih duduk di tempatnya, menatap kosong ke arah kloset. Biarpun Oikawa tidak mengenal pemuda itu, kata-kata tadi terus terngiang di benaknya.

"Melakukan sesuatu untuk mengatasinya akan jauh lebih efektif dibanding menghabiskan malam dengan minuman beralkohol."

Benar. Seharusnya ia melakukan sesuatu. Seharusnya ia tidak menghabiskan waktu di sini. Seharusnya Oikawa pergi ke Sydney, menyusul Iwaizumi, dan bicara empat mata dengan lelaki itu.

"Kau masih bisa berdiri, kan?" celetuk pemuda asing di ambang pintu.

Manik coklat melirik motivator dadakan yang masih memperhatikannya. "Pergilah. Aku masih perlu vitamin, protein, bajuku yang kau berikan pada petugas laundry, dan sedikit tidur."

Hening sejenak karena Oikawa sedang berpikir. Detik setelahnya ia menoleh, menatap pemuda asing itu dengan sorot yakin dan sebuah seringai.

"Dan mungkin juga satu tiket pesawat ke Australia."

. . .

Hanya butuh satu hari untuk membulatkan tekad. Oikawa sudah menenteng tas besar toskanya ke bandara Haneda keesokan harinya. Dengan bangga ia memegang tiket pesawat dua belas jamnya. Berangkat pukul sembilan pagi berarti ia akan sampai di Sydney pukul sembilan malam waktu Tokyo. Perbedaan dua jam antara dua kota itu membuatnya tiba di sana pukul sebelas malam waktu sekitar.

Hanya memikirkan jam kedatangan saja sudah membuat jantung Oikawa tidak karuan. Ia sengaja tidak memberitahukan siapapun tentang kepergiannya ke Australia. Apalagi Iwaizumi Hajime. Dia adalah orang terakhir yang boleh mengetahui rencana hari ini.

Oikawa memasuki ruang tunggu yang penuh dengan calon penumpang. Ia sudah melakukan cek paspor dan tiket sebelum tiba di tempat ini. Namun sekarang ia merasa benar-benar perlu ke toilet. Diliriknya tas besar toska di bahu. Sebaiknya ia menaruh beban ini di suatu tempat.

Tanpa pikir panjang, lelaki itu melepas tasnya di atas deretan kursi tunggu. Seorang wanita paruh baya tengah duduk di sebelah tas itu menatapnya bingung. "Permisi. Maaf jika merepotkan, oba-san. Bolehkah aku menaruh tasku di sini sementara aku pergi ke kamar kecil. Hanya sebentar."

Dengan nada sopan dan wajah rupawan, tidak mungkin wanita itu menolak. "Tentu saja. Silakan nikmati waktumu," balasnya kemudian memberikan gestur mengusir. Oikawa balas tersenyum dan langsung berjalan ke toilet.

Jam di arlojinya masih menunjukkan pukul delapan lebih lima belas menit. Masih ada cukup waktu sebelum panggilan masuk ke dalam pesawat. Ditaruhnya boarding pass ke dalam saku celana agar ia bisa segera meraihnya saat pengecekan akhir.

Tidak perlu waktu lama untuk menuntaskan panggilan alamnya, Oikawa langsung keluar setelah menekan tombol penyiram. Namun hal yang membuatnya tertegun adalah mengapa tasnya kini berada di luar pintu toilet, teronggok begitu saja di lantai. Kepalanya mendongak, mencari keberadaan wanita paruh baya yang ia mintai tolong beberapa saat lalu. Namun tidak menemukan siapa yang dicari.

"Apa ia meninggalkannya di sini?" gumam Oikawa lantas mengambil tas toska itu dan berjalan ke arah pintu masuk. Kebetulan para penumpang pesawat menuju Sydney sudah dipanggil melalui pengeras suara. Oikawa langsung berjalan menuju pintu masuk. Ia menunjukkan boarding pass pada petugas dan segera menaiki bus menuju pesawat.

. . .

Ushijima Wakatoshi mendengus gusar. Ia menatap ponselnya sendiri begitu lama dan membaca sebuah pesan berulang-ulang.

"Aku ingin mengobrol sekali lagi denganmu sebelum resmi bertunangan."

Hanya satu kalimat. Namun sudah bisa membuatnya terjaga semalaman. Hanya satu kalimat. Namun sudah bisa membuatnya kelabakan dan bergegas ke bandara secepat mungkin. Ushijima tidak peduli berapa banyak ongkos yang harus ia habiskan demi sebuah tiket ke negara lain. Ia hanya ingin mengabulkan harapan itu, walaupun sosok yang mengirimkan pesan bukan lagi seseorang yang bisa diraih.

Ibu jari pemuda itu bergeser, membaca ulang jawaban yang ia berikan semalam.

"Aku bisa ke sana dan mengunjungimu sebentar."

Untuk apa Ushijima menjanjikan sesuatu yang konyol? Tunangan sosok itu tidak akan mungkin melepaskan seseorang sebaik Shirabu Kenjiro.

Pemuda itu melirik jam digital di dekat pintu kedatangan. Masih tersisa sepuluh menit sebelum pemanggilan penumpang. Perjalanan ke Sydney akan sangat lama. Jadi Ushijima memutuskan untuk pergi ke toilet terlebih dahulu agar bisa menghabiskan waktu penerbangan dengan tidur. Ditaruhnya tas warna toska yang ia bawa ke depan pintu toilet. Lelaki bertubuh tegap itu kemudian masuk dan menghabiskan beberapa menit untuk menuntaskan panggilan alam.

Ketika Ushijima melangkah keluar toilet, betapa terkejutnya lelaki itu bahwa ia tidak menemukan apapun di depan pintu. Pengeras suara telah berbunyi, memanggil para penumpang menuju Sydney. Kedua matanya menyisir area sekitar dengan panik. Siapa yang begitu menyebalkannya sampai mencuri tas seseorang yang akan berangkat beberapa menit lagi.

"Astaga," umpat Ushijima pelan sembari memijat pelipis. Untungnya tiket pesawat, dompet, dan ponselnya ada di dalam saku. Tapi pergi keluar negeri selama beberapa hari tanpa membawa pakaian adalah tindakan bodoh. Ia enggan menghabiskan uang hanya agar bisa berganti pakaian.

Dengan was-was, Ushijima berjalan keliling ruang tunggu sambil memperhatikan apakah tasnya berada di antara mereka. Dan saat itu ia melihat seorang wanita paruh baya dengan tas yang sama, juga ekspresi was-was yang sama dengannya.

"Permisi, apakah kau baru saja dari kamar kecil? Ada seorang lelaki tampan, berkacamata, dan sopan yang menitipkan tas ini padaku dan ia belum kunjung tiba. Pesawatku sebentar lagi akan berangkat. Apakah kau melihatnya?"

Ushijima tidak bisa menerka siapa lelaki tampan, berkacamata, dan sopan itu karena ciri yang disebutkan wanita itu sangat tidak spesifik. Tapi yang pasti, lelaki itu sudah salah mengambil tas.

"Oba-san, aku akan mencarikan pemilk tas ini," ujar Ushijima menawarkan diri.

Panggilan bagi para penumpang pesawat sudah diulang untuk kedua kalinya. Meskipun sudah menemukan titik terang, Ushijima tetap tidak bisa tenang. Tas ini tetap saja milik orang lain—walaupun sepertinya tertukar dengan miliknya.

Sekali lagi, penuh harap, Ushijima mengedarkan pandang, menatap ke arah pintu keberangkatan. Dan di sanalah orang yang sedang ia cari, memakai tas besar toska, tengah menunjukkan boarding pass pada petugas bandara.

Kaki pemuda itu berlari cepat, menghampiri antrian calon penumpang. Ia melongok dengan was-was karena sosok itu sudah lebih dahulu menuju bus. Dalam hati, Ushijima hanya berharap mereka bisa bertemu dan bertukar tas.

Ketika petugas bandara selesai melihat boarding pass-nya, pemuda itu langsung berhambur ke dalam bus. Ia memperhatikan sekitar, mencari tas besar toskanya. Butuh beberapa saat hingga manik olive-nya menemukan yang dicari; seorang lelaki tengah berpegangan pada tali. Rambutnya berwarna coklat dengan ada kacamata frame hitam membingkai wajah. Pada bahu terdapat tas besar toska bermodel sama persis seperti miliknya.

Perlahan Ushijima mendekat, menelusup di antara para calon penumpang. Setelah perjuangan singkat, ia berhasil tiba, berdiri tepat di samping sosok itu.

"Permisi," interupsinya dengan volume rendah. Lelaki berambut coklat tampak sedang larut dalam pikiran. Ushijima tidak ingin sampai mengganggu. Ia hanya ingin tasnya kembali dengan selamat.

Sosok itu menoleh, memandang Ushijima dengan tatapan jengkel. Namun beberapa saat kemudian matanya terbelalak. Bibirnya sedikit terbuka karena terkejut.

"Apa kau stalker? Mengapa kau mengikutiku hingga kemari?"

. . .

To be continued

Ini mungkin akan jadi proyek agak panjang... karena satu chapter udah 2k kata lebih mennn ;;_;;

Semoga awal Desember kelar karena selak ada event lain dan utang-utang yang belum selesai