[ disclaimer ]
Seluruh karakter milik Haruichi Furudate. Pitik hanya bikin FF, tidak mengambil keuntungan apapun selain rasa senang
.
.
.
Membayangkan bagaimana ekspresi Iwaizumi ketika ia memberikan kejutan adalah aktivitas yang Oikawa lakukan untuk menghabiskan waktu. Sepasang manik coklat menatap jendela bus. Hanya jendela-karena pikirannya tengah berkelana. Beberapa menit berimajinasi, pintu bus ditutup. Kendaraan itu melaju ke arah pesawat.
Sebentar lagi, setelah ia menaiki kapal terbang itu, kakinya akan menginjak daratan yang sama dengan Iwaizumi.
"Permisi," sebut suara bariton di sisinya.
Oikawa tidak tahu mengapa harinya tidak luput dari suara itu, suara yang juga mengusik kesedihannya di penginapan pagi sebelumnya. Apa mungkin ia hanya berhalusinasi?
Tapi halusinasi tidak akan terdengar senyata ini.
Jadi, lelaki rambut coklat itu menoleh, menemukan seseorang di sebelahnya. Ia terbelalak. Bibirnya sedikit terbuka karena rasa terkejut. Orang yang baru saja mengatakan 'permisi' dengan suara berat itu adalah orang yang sama; motivator dadakan yang mendorongnya untuk membeli sebuah tiket pesawat ke Sydney.
Tapi mengapa orang itu berada di sini? Di sebelahnya? Ia mungkin satu-satunya yang tahu dirinya akan pergi ke Australia karena Oikawa belum memberi tahu siapapun. Jangan-jangan-
"Apa kau stalker? Mengapa kau mengikutiku hingga kemari?" hardiknya tanpa berpikir panjang.
Pemuda di sisinya mengerjap pelan. Tatapannya tenang. Tidak menyiratkan ia sedang tertangkap basah. Telunjuk kirinya mengarah pada tas besar toska di bahu Oikawa.
"Kau lelaki tampan, berkacamata, dan sopan itu? Sepertinya tas kita tertukar," ucap lelaki itu dengan hati-hati. Mungkin sedikit gugup karena Oikawa sudah memasang tatapan tajam. Ia tak kunjung memberi balasan, malah mengedarkan pandangan dari ujung kaki hingga ujung kepala orang itu.
"Aku bersungguh-sungguh. Ada seorang wanita yang menyuruhku menemukan orang dengan ciri-ciri itu," tambah si pemuda sembari mengerjap.
"Jadi menurutmu aku tampan?" Oikawa menyahut tanpa mengalihkan pandangan. "Terima kasih."
Masih ada sedikit curiga yang tertinggal dalam diri Oikawa Tooru ketika sosok asing itu justru mengalihkan pandangan. Ia menaruh kepalan tangan di depan mulut dan berdehem pelan. "Apakah kau menemukan tas itu di depan toilet? Kalau benar, berarti tas kita tertukar," ucapnya lagi seraya mengulurkan tas pada bahunya.
Satu hal yang membuat Oikawa bingung adalah bahwa pemuda di depannya-yang mengenakan pakaian serba hitam-tidak mungkin memiliki selera warna tas yang berwarna semencolok toska. Sangat bertolak belakang. Apakah jangan-jangan pemuda itu menirunya?
"Kita punya tas yang sama persis," sindirnya sembari mengulurkan tas di bahu tanpa sedikitpun permintaan maaf. Mungkin kata 'sopan' tidak cocok bila menjadi deskripsi dirinya. Tapi untuk kondisi sekarang, di mana Oikawa perlu memverifikasi sesuatu, kata 'sopan' harus ia buang jauh-jauh.
"Ini-," sahut si pemuda kemudian terdiam sejenak, "-hadiah dari seseorang."
"Seseorangmu punya selera yang bagus," cetus Oikawa kemudian menerima pertukaran mereka.
"Terima kasih."
Terima kasih? Oikawa bahkan tidak memujinya. Mengapa tingkahnya sedikit aneh?
"Hei, katakan padaku. Apakah kau juga akan pergi ke Sydney?" bisik Oikawa di tengah perjalanan bus mereka.
"Hm." Gumam pelan itu jawabannya. Begitu singkat.
"Apakah kau sedang liburan?" tanya Oikawa lagi.
"Tidak."
"Mengapa kau pergi ke Sydney?"
Mereka benar-benar tidak saling kenal. Pertemuan pertama kedua orang itu bahkan bukan saat yang baik. Tapi Oikawa tidak suka berada dalam situasi sekaku ini. Ia merasa perlu terus mengajak pemuda itu bicara.
"Untuk bertemu seseorang," sahut sosok itu singkat.
"Seseorang yang memberimu hadiah tas ini?" Pertanyaan tadi dibalas dengan sebuah anggukan.
"Temanmu?" Oikawa bertanya lagi, menolak untuk menyudahi percakapan mereka.
"Mantan pacar."
Tiba-tiba lelaki rambut coklat itu tersedak ludahnya sendiri. Suaranya agak keras hingga membuat beberapa orang di dalam bus menoleh.
"Ada apa?" tanya pemuda itu seraya menaikkan alis.
"Tidak apa," balas Oikawa kemudian berdehem, "aku merasa punya rekan seperjuangan."
"Baiklah."
Kemudian hening. Keduanya diam hingga bus berhenti di sisi pesawat. Oikawa naik terlebih dahulu dan mencari kursi sesuai tiketnya. Ia mendapatkan tempat duduk di sisi belakang pesawat pada bagian tengah dari tiga kursi yang berjejer.
Tanpa menunggu lama, Oikawa langsung menaruh tas pada bagasi di atas dan menempati kursinya. Matanya terpejam, menikmati suasana tenang sebelum keberangkatan.
Beberapa saat berlalu sampai suara familiar lagi-lagi sampai pada telinganya. "Permisi." Ya. Suara berat itu lagi. Oikawa tidak repot untuk membuka lebar kedua matanya untuk tahu bahwa pemuda motivator itu berada di dekatnya, satu deret kursinya.
Tunggu-
Lelaki rambut coklat itu terjaga, memperhatikan pemuda berpakaian serba hitam menelusup dan menempati kursi di samping jendela. Oikawa sudah mengobservasi peringainya dan lelaki itu adalah tipe pendiam. Ia hanya bicara seperlunya. Jika mereka bersebelahan, rasanya akan sangat canggung. Pasti.
"Hai," sapa Oikawa sambil melambaikan tangan. Entah kenapa ia merasakan urgensi besar untuk menyapa orang yang entah mengapa selalu dipertemukan dengan dirinya.
"Hai," sahut pemuda itu singkat, juga ikut melambaikan tangan dengan ekspresi datar.
Lalu hening kembali.
Oikawa mendengus pelan karena setelah para pramugari selesai memberikan demonstrasi keselamatan dalam bahasa Jepang juga Inggris, pemuda di sebelahnya langsung larut dalam mimpi.
Semoga itu mimpi yang membuatnya sadar bahwa manusia di sebelah butuh seorang teman untuk bicara sepanjang perjalanan setengah hari ini.
Lupakan saja.
Setengah hari di dalam pesawat begitu membosankan. Oikawa Tooru memang mendapat makanan yang cukup lezat. Namun kenyang perut tidak sebanding dengan keheningan di kedua sisi. Lelaki itu sempat berpikir untuk mengajak bicara penumpang di kursi dekat koridor. Namun ia tampak sibuk dengan laptopnya-mungkin pekerjaan.
Oikawa tidak bisa diam. Lelaki itu sudah menghabiskan sepanjang siang untuk membaca majalah yang sama berulang kali. Mungkin sekarang ia sudah hafal apa saja sponsor yang tertera di halaman belakang.
Manik coklat lelaki itu melirik pada jendela yang terbuka-juga pemuda yang entah mengapa selalu dipertemukan dengannya itu. Awalnya Oikawa hanya ingin melihat pemandangan awan dan langit yang sudah memiliki semburat jingga. Tapi pada akhirnya, ia malah membiarkan dirinya sendiri meneliti profil samping seseorang.
Cukup lama.
Lama hingga Oikawa tidak sadar mata sosok itu sudah mengerjap, perlahan-lahan terbuka dan menyadari ia sedang ditatap.
"S-selamat sore," ucap Oikawa terbata.
Yang baru saja bangun bergumam pelan sembari kemudian menoleh ke arah jendela. Sudah benar-benar sore.
"Apa kau ingin ke kamar kecil?" celetuk Oikawa pelan.
"Tidak." Balasan singkat yang mengakhiri fase pertama percakapan sore itu.
Dengusan pelan lolos dari mulutnya. "Baiklah," sahut Oikawa.
"Apa kau kurang suka bicara dengan orang lain?" tanya lelaki rambut coklat itu sambil meraih majalah pada kantung kursi, pura-pura sibuk membaca untuk ke sekian kali.
"Aku sudah berencana untuk tidur," balas sosok itu sambil memperhatikan gaya Oikawa-kaki yang menyilang, jemari yang membolak-balikkan halaman tentang pariwisata Australia.
"Kau-,"
Oikawa terperanjat, menghentikan gerak jari ketika sosok itu memulai topik untuk yang pertama kali. Baru satu kata. Namun satu kata itu mungkin wujud pengabulan doanya tadi pagi.
"-sudah menghubungi mantanmu?"
Kenapa pertanyaan itu?
Sejak semalam Oikawa memang selalu girang membayangkan ekspresi Iwaizumi Hajime ketika tahu ia berada di Sydney. Tapi kenyataannya lelaki itu merencanakan apapun. Oikawa bahkan tidak tahu di belahan Sydney mana Iwaizumi berada. Namun tidak mungkin ia bertanya langsung pada mantan kekasihnya. Ini tidak akan menjadi sebuah kejutan. Lalu bagaimana-
"Belum, ya?"
"Iya. Belum," sahut Oikawa pelan.
"Kau harus menghubunginya. Setidaknya setelah sampai. Tapi pesawat ini akan sampai tengah malam. Apakah mantanmu tidak keberatan?"
Oikawa menatap pemuda di sebelahnya selama melontarkan beberapa penjelasan ditambah sebuah pertanyaan. Di bus tadi ia memang sudah mendeklarasikan hubungan mereka sebagai rekan seperjuangan tapi Oikawa tidak menyangka pemuda ini akan menganggapnya serius.
"Itu yang menjadi masalahku," keluh lelaki rambut coklat pelan, "kalau kau? Ke mana kau akan pergi setelah pesawat mendarat?"
"Penginapan."
"Hotel?"
Sosok itu melirik ke atas, memasang ekspresi berpikir. "Bukan. Guest house milik temanku. Tapi aku tidak sempat menghubunginya karena insiden tadi pagi."
Oikawa terkekeh canggung. Ia adalah pihak yang seharusnya disalahkan karena sembarangan mengambil tas. Tapi pemuda di sebelahnya tidak menunjukkan tanda-tanda dendam. Mungkin tidak terlalu memikirkannya lagi adalah pilihan yang bagus.
"Sepertinya aku akan ke sana dengan taksi saja. Apa kau sudah memesan penginapan?"
"Kau menawariku untuk menginap di guest house temanmu?"
Sangat mulus.
"Aku selalu mendapat harga khusus. Mungkin jika kau pergi bersamaku, mereka bisa memberikan harga khusus juga."
Penawaran yang cukup bagus karena Oikawa juga sebenarnya tidak tahu hendak pergi ke mana setelah turun dari pesawat.
"Boleh juga."
.
.
.
A Getaway
.
.
.
Perbedaan besar Sydney dan Tokyo di malam hari mungkin cahayanya. Warna lampu di sepanjang jalan terasa hangat alih-alih mencolok. Oikawa menghabiskan waktu untuk mendongak selama menuju parkiran taksi. Pemuda di sebelahnya sesekali melirik, memperhatikan bagaimana rupa lelaki rambut coklat itu sekarang-seperti anak kecil yang baru pertama kali pergi ke taman rekreasi.
Pemuda itu menahan bahu Oikawa ketika mereka tiba di sisi sebuah mobil berwarna abu-abu metalik. Seseorang berambut pirang menampakkan wajah dari kaca jendela.
"Taxi?"
"Yes," sahut rekan seperjuangan Oikawa.
Mereka masuk ke bagian tengah, duduk bersebelahan saat mobil perlahan melaju, menyusuri aspal. Sydney penuh dengan bangunan berbagai macam gaya. Percampuran selalu terjadi seiring era berganti. Bukan suatu hal yang aneh jika menemukan gedung bergaya victoria bersebelahan dengan arsitektur ramah lingkungan.
Jalanan cenderung lengang karena amat larut. Hanya ada lampu jalan dan beberapa kedai makanan yang masih buka.
"What's your destination, sir?" interupsi sang sopir taksi. Oikawa terkesiap dan melirik pemuda di sebelahnya. Ia tidak memiliki orientasi arah terhadap Sydney.
"20 David Avenue, North Ryde 2113," sebut sosok berperawakan besar itu dengan lancar. Oikawa hanya mengangguk di tempat, mengiyakan apapun yang diucapkan kemudian menengok keluar jendela lagi.
"Pajak jam buka usaha di sini cukup tinggi. Jadi tidak banyak toko yang buka menjelang malam," celetuk rekan seperjuangannya sembari mengikuti arah pandang Oikawa.
"Terima kasih atas tour guide-nya," sahut lelaki berambut coklat itu pelan. Ia melirik si pemuda, menemukan ekspresi yang datar.
"Sama-sama."
Oikawa menghela napas pelan.
"Kau tahu kita melewatkan hal penting dalam menjalin hubungan sebagai rekan seperjuangan?" tanyanya sembari melipat tangan dan menyilangkan kaki. Mata lelaki itu terpejam dan dengusan lolos dari bibirnya.
"Apa?"
"Kita belum tahu nama satu sama lain. Bagaimana aku akan mendapatkan harga khusus di guest house temanmu jika aku bahkan tidak bisa menyebutkan namamu?"
Logika Oikawa malam ini ada benarnya. Jika ia mengikuti pemuda itu demi mendapat harga khusus penginapan, setidaknya ia harus tahu nama dan sedikit asal usul.
"Ushijima Wakatoshi," sebut pemuda di sebelahnya, "namamu?"
"Oikawa Tooru," balas lelaki rambut coklat sembari meraih tangan Ushijima dan menjabatnya.
"Baiklah, Ushiwaka-chan. Terima kasih sudah membantuku selama beberapa menit di Sydney. Kuharap hubungan kita tetap baik sampai aku bertemu dengan mantanku dan kembali ke Tokyo."
Pemuda itu mengerjap pelan saat mendengar ucapan Oikawa.
"Ushi... waka?" Ia bergumam pelan menyebutkan nama panggilan yang baru saja dicetuskan.
"Panggilan akrab. Kau juga boleh membuat satu untukku." Satu hal yang selalu menjadi kebiasaan Oikawa Tooru adalah dia tidak pernah terlalu berpikir sebelum mengatakan sesuatu. Tapi sejauh ini, kehidupannya belum bermasalah karena sifat itu.
"Aku tidak terpikir satu panggilan akrab pun untukmu, Oikawa-san," balas Ushijima dengan nada bingung.
"Baiklah. Panggil saja sesukamu."
"We're arrived!" interupsi sopir taksi setelah mobil yang mereka tumpangi berhenti di area perumahan.
Keduanya turun dari taksi. Oikawa langsung berdiri di depan jalan setapak. Ada guest house tujuan mereka pada ujungnya-rumah lantai dua bercat putih yang dihias dengan beberapa pot tanaman.
"Thank you, sir," celetuk suara sopir taksi di belakang.
Oikawa segera tersadar akan sesuatu, kemudian menoleh dan menatap Ushijima heran. "Kau membayar ongkos taksinya?"
"Hm." Jawaban yang singkat. Namun membuat lelaki rambut coklat itu berdecak kagum.
"Oh, kau sangat manis. Aku yakin mantan kekasihmu menyesal karena kalian berpisah," ucap Oikawa tanpa pikir panjang.
"Tapi sebentar lagi dia akan bertunangan."
Hening mengisi jarak di antara dua rekan seperjuangan itu. Setelah beberapa detik, Oikawa baru mengiyakan pernyataan mengejutkan tadi. Kalau mantan Ushijima sebentar lagi akan bertunangan, mengapa dia mau bertemu hingga repot-repot terbang ke negara lain? Apa mungkin laki-laki ini belum-
"Hei, kau tidak berencana menghentikan mantanmu bertunangan, kan?" tanya Oikawa sembari berlari kecil menyusul langkah Ushijima.
"Tidak. Kami hanya ingin bicara," sahut pemuda itu lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, "dengan santai."
Oikawa mengangguk pelan walaupun ia menduga 'bicara dengan santai' itu tidak sesantai kedengarannya. Tapi pertama-tama, mencampuri hubungan orang lain adalah tindakan yang tidak seharusnya ia lakukan.
Mereka tiba di teras guest house. Dari sana Oikawa bisa melihat hamparan rumput di halaman-mungkin tempat yang disediakan untuk pesta barbekue saat malam. Kemudian manik coklatnya memperhatikan pot-pot tanaman yang digantung. Sentuhan hijau-hijau ini membuat guest house terasa lebih nyaman.
"Wakatoshi-kun!" Sebuah seruan disertai dobrakan pintu mengejutkan Oikawa. Ia menatap horor ke arah Ushijima dan melihat laki-laki berambut merah mencolok sedang menyambut, merentangkan tangan untuk memeluk pemuda besar itu.
"Tendou," sahut pemuda itu dengan nada datar, "maaf aku lupa menghubungimu sebelum terbang."
"Biarlah." Sosok yang disebut Tendo melambaikan tangan, membuat gestur seolah berkata 'bukan masalah'. "Lagipula aku selalu tidur larut." Kemudian arah pandangnya menuju pada Oikawa.
"Apakah kau membawa teman perjalanan? Pacar baru?"
Pacar-apa? Secepat kilat Oikawa melesat ke tengah-tengah dua orang itu dan menolak. "Aku bukan pacarnya," ucap lelaki itu dengan bersemangat.
"Oh, kalau begitu calon?" Entah mengapa tapi lelaki bernama Tendou ini sangat bersikeras.
"Bukan juga. Aku hanya teman Ushiwaka-chan. Benar, kan? Jawab aku," ujar Oikawa sambil menyikut lengan Ushijima.
"Dia ingin menginap di sini. Apakah masih ada kamar kosong?" tanya Ushijima langsung pada inti.
Tendou menaikkan sebelah alis, menatap Oikawa sambil bersandar pada daun pintu. "Kami punya satu kamar lagi di lantai dua. Jika kau mau."
"Apakah ada harga khusus bagiku? Karena aku datang bersama Wakatoshi-kun?" sebut Oikawa sembari menekankan pada panggilan 'Wakatoshi-kun'.
"Biasanya kami memberi harga empat puluh lima dolar bagi turis biasa. Tapi karena kau teman Wakatoshi-kun, akan kuberi harga khusus," ucap Tendo sembari mengacungkan telunjuk ke atas.
Oikawa hanya ingin melampiaskan kesal karena dituduh sebagai pacar baru pemuda yang sepertinya miskin akan ekspresi itu. Tapi Tendou mungkin menganggap serius soal 'harga khusus' yang disinggung Oikawa. Ushijima di belakang hanya menatap dua orang itu tanpa ingin ikut campur.
"Lima puluh dolar."
Sial-kenapa jadi lebih mahal?
"Lupakan harga khusus! Empat puluh lima dolar. Mana kamarku?"
.
.
.
To be continued
Hai, Pitik kambek dengan pt 2 tapi tertunda karena di wattpad udah publish sejak… kapan ya? Aku lupa. Intinya pas aku nyoba submit doc di ffn error aja :")
