[ disclaimer ]
Seluruh karakter milik Haruichi Furudate. Pitik hanya bikin FF, tidak mengambil keuntungan apapun selain rasa senang

.

.

.

"Oikawa," sebut Iwaizumi Hajime seraya meraih jemari lentik di hadapannya. Sebuah kecup mendarat pada punggung, membuat si pemilik merona merah.

"Iwa-chan. Kenapa kau meninggalkanku ke Australia?" tanya Oikawa penuh dengan nada kecewa.

"Aku tidak benar-benar meninggalkanmu, sayang," ucap lelaki itu kemudian merogoh sesuatu dari dalam saku.

Sebuah kotak beludru berwarna hitam. Jangan-jangan-

Oikawa belum siap.

Sebuah cincin tampak berkilau dari dalam kotak. Mereka bahkan baru saja putus. Mengapa Iwaizumi malah berlutut di hadapannya dan bertingkah romantis seperti ini?

"Aku sedang mempersiapkan diri untuk menjadi lebih mapan. Sekarang aku ingin melamarmu."

Astaga.

"Teman Wakatoshi-kun, maukah kau bangun dari tidur?"

Tunggu. Sepertinya ada yang aneh.

"Teman Wakatoshi-kun! Jika kau ingin sarapan, harap bangun dari mimpimu!"

Oikawa mendadak terjaga dan duduk di atas ranjang. Kepalanya terasa pusing karena bangun dalam kondisi terkejut.

Walaupun baru mendengar suara itu semalam, Oikawa sudah bisa menebak siapa pemiliknya. Seseorang bernama Tendou-yang memberi harga khusus lima puluh dolar untuk menyewa sebuah kamar sempit di sisi tangga rooftop.

"Aku sudah bangun," seru Oikawa dengan suara melintasi pintu.

Ia menggerutu karena alarm menyebalkan itu. Jam berapa sekarang sampai si Tendou itu dengan kurang ajarnya menganggu sebuah mimpi indah?

Ibu jari Oikawa menekan tombol ponsel dan melihat angka sebelas tertera jelas pada layar.

Woah, pantas saja.

"Kau mau mengambil jatah sarapanmu atau tidak?" teriak Tendou lagi dari luar.

Jujur, Oikawa begitu malas. Apalagi bila harus bertemu dengan laki-laki menyebalkan dengan rambut merah menyala seperti timbunan rasa jengkel yang ia alami ketika melihat wajah menyebalkan itu.

"Ambil saja jatahku! Aku butuh istirahat!"

Kemudian dengan kontrasnya perut Oikawa berbunyi. Ia baru saja bangun dari hibernasi setelah menaiki pesawat seharian. Semalam setelah sampai di guest house, lelaki itu langsung membanting tubuh ke atas ranjang. Tanpa berganti baju atau membereskan barang, ia langsung terlelap dan dilamar Iwaizumi. Namun gagal karena Tendou membangunkannya.

Hari pertama yang menjengkelkan.

Karena Oikawa sudah menolak jatah sarapan di guest house, ia harus mengakalinya dengan makan hal lain. Tapi di mana? Ia buta Sydney, bahkan Australia. Ia harus mencari seseorang untuk menjadi tour guide-nya dalam mencari pengganjal perut.

Oh benar.

Ada satu kandidat yang bisa melakukannya.

Oikawa beranjak dari ranjang dan membuka tirai jendela. Semalam ia hanya melihat hamparan rumput dan tanaman di dalam pot. Sekarang ia mendapat pemandangan daun-daun yang menguning di halaman belakang. Padahal sakura tengah bermekaran di Jepang.

Laki-laki rambut coklat itu mengambil setelan di dalam tas toska kemudian melesat ke dalam kamar mandi. Kebetulan tempat mandi itu berada di luar kamar. Jadi Oikawa tetap harus terpapar dunia luar.

Dapur dan ruang makan ada di lantai satu. Syukurlah dirinya tidak perlu bertemu dengan si rambut merah.

Cepat-cepat Oikawa mandi dan mempersiapkan diri untuk perjalanan keluar guest house. Misi utamanya sekarang adalah tanpa ketahuan membujuk seseorang untuk mengantarkannya makan.

Langkahnya pelan menuruni tangga. Sepasang manik coklat meneliti sekitar, mencari seseorang yang perlu ia temui

Dan tepat sekali Ushijima Wakatoshi berada di depan pintu kamar-mungkin kamarnya. Ia mengenakan pakaian pergi yang hangat, sweater hitam dengan trench coat krem. Sepertinya daun-daun kuning yang Oikawa lihat dari jendela adalah simbol musim gugur.

"Oi, teman Wakatoshi-kun. Kau benar-benar tidak ingin sarapan? Rotinya masih ada, lho," sapa Tendou dari ruang makan. Ia melambaikan tangan seolah sudah akrab dengan Oikawa.

Ushijima yang masih berdiri di depan pintu refleks menoleh ke arah Tendou. Tapi kemudian pandangannya berpindah pada Oikawa dan saling bertemu.

Waktu yang tepat untuk kabur dari pertanyaan seputar sarapan. Kakinya melesat menuju Ushijima. Ia mendekatkan badan hingga lengan mereka menempel dan tidak ada seorang pun yang bisa mendengar bisik-bisik setelahnya.

"Bawa aku pergi dari sini. Ke mana saja. Terserah," sebut Oikawa dengan terburu-buru.

"Oke." Jawaban yang terdengar menyenangkan. Sekarang Oikawa tidak perlu bertemu dengan Tendou lagi-setidaknya untuk hari ini.

"Kau jadi meminjam mobilku, Wakatoshi-kun?" celetuk Tendou tiba-tiba saja sudah berdiri di dekat mereka.

Oikawa menoleh dan menatap horor kenalan Ushijima itu. Apakah dia titisan Flash sampai memiliki kecepatan seperti itu?

"Ya," sahut Ushijima sembari mengunci pintu kamarnya, "aku punya janji untuk bertemu Shirabu hari ini."

Shirabu? Siapa dia?

Tendou mengangguk dan memberikan kunci mobil pada Ushijima, "Kau mau bertemu mantanmu?"

Tunggu.

"Bersama dia?" Tendou bertanya sambil menunjuk Oikawa.

"Ya."

Seingat Oikawa Tooru, pemuda besar di sebelahnya ini berkata bahwa tujuannya ke Sydney adalah untuk bicara santai dengan sang mantan-mungkin Shirabu yang disebut tadi. Jika Oikawa ikut serta, bukankah itu sedikit mengganggu quality time keduanya?

Oh! Atau jangan-jangan Ushijima membiarkannya ikut untuk menjadi-

"Wakatoshi-kun, apa kau ingin pamer kekasih baru juga karena Shirabu sebentar lagi bertunangan?"

"Tidak. Oikawa-san hanya ingin-,"

"Ayo pergi, Ushiwaka-chan! Nanti kau terlambat," ucap lelaki itu terburu-buru. Dengan segera Oikawa menarik lengan Ushijima menuju pintu keluar. Ia tidak ingin Tendou tahu bahwa dirinya yang memohon pada Ushijima untuk dibawa pergi.

"Aku pergi, Tendou," pamit pemuda itu sebelum Oikawa menariknya lebih kuat lagi.

.

.

.

A Getaway

.

.

.

Oikawa duduk di sebelah kursi pengemudi, sesekali melirik Ushijima yang sedang sibuk menyetir. Ia membuka mulutnya, ingin sekali menanyakan banyak hal. Namun semuanya seolah tertelan kembali karena bingung.

"Kau ingin kubawa pergi ke mana?" Ushijima mencuri start dan bertanya terlebih dahulu.

"Bukankah sudah kubilang ke mana saja?" sahut Oikawa tanpa menoleh. Ia pura-pura antusias memperhatikan setiap sudut kota. Cuaca terasa dingin ketika mereka keluar dari guest house. Padahal sudah siang. Jaket bomber ungunya tidak bisa diandalkan.

Pemuda di sebelahnya tidak membalas. Ia sibuk memperhatikan jalan hingga suara perut keroncongan Oikawa mengisi keheningan.

"Ke tempat makan mana saja?" ralat Ushijima.

Itu tujuan awal yang belum sempat Oikawa Tooru ucapkan. Ia bersyukur pemuda berwajah datar ini sudah tahu. Tapi ia tetap merasa malu karena bukan mulutnya yang bicara, melainkan perut.

"Ya. Tolong," cicitnya.

Untuk sekejap, Oikawa melihat Ushijima terkekeh. Hei, apakah pemuda itu menganggapnya sebagai lelucon?

"Jangan menertawai orang lapar! Kau tidak tahu bagaimana rasanya sampai mengalami sendiri," protes Oikawa.

Ushijima tidak membalas. Ia hanya sedikit melirik lelaki berambut coklat itu kemudian fokus kembali pada kegiatan menyetir. "Sebelum ke tempat makan, aku perlu membeli sesuatu."

Biarpun ingin protes, Oikawa tidak akan melakukannya. Ushijima memegang kendali penuh pada mobil dan pelariannya. Yang akan lelaki itu lakukan sekarang adalah merespons dengan cepat agar segala permasalahan sebelum mencapai tempat makan lekas terselesaikan.

"Sesuatu? Apa? Untuk siapa?" Oikawa menghujani pemuda di sebelah dengan berbagai pertanyaan.

"Untuk Shirabu. Menurutmu apa yang harus-,"

"Jangan berikan apapun," potong Oikawa. Ia berkata sambil melayangkan tatapan tajam pada Ushijima. Pemuda itu hampir saja menginjak pedal rem saking terkejutnya.

"Kenapa?"

Dan Oikawa terkejut mengapa orang ini heran dengan jawabannya.

"Bukankah dia mantanmu yang mau bertunangan? Untuk apa memberinya sesuatu saat bertemu? Apakah kalian sedang berkencan? Ushiwaka-chan, kau harus memberi batas dalam hubungan kalian," cerocos lelaki rambut coklat itu.

"Begitukah?"

Oikawa tertegun. Jika ia tidak pergi bersama Ushijima, entah apa yang terjadi bila pemuda itu membawa bunga dan memberikan sebuah 'tanda-belum-move-on' pada sang mantan.

"Tepat sekali. Kau tidak perlu membelikan apapun. Kalian hanya perlu makan dan bicara dengan santai seperti katamu kemarin," sahut Oikawa, "oh, dan apakah dia bilang calon tunangannya akan ikut makan bersama?"

Ushijima mengendikkan bahu. "Aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu."

"Apa kau tidak memikirkan kondisimu? Maksudku, kau bisa saja terlihat menyedihkan jika berangkat seorang diri," sebut Oikawa tanpa pikir panjang.

Kata-katanya terdengar sedikit kejam. Tapi Ushijima tidak terlihat marah.

"Lalu, apa kau mau pergi bersamaku? Supaya aku tidak terlihat menyedihkan?" cetus pemuda berambut olive itu sambil masih sibuk dengan setir kemudi.

Oikawa mengumpat dalam hati. Meskipun ia berterima kasih karena Ushijima Wakatoshi berbaik hati membawanya kabur dari guest house, tapi Oikawa benar-benar tidak ingin ikut campur dalam rumah tangga orang.

"Ngomong-ngomong di mana kalian akan bicara santai?" tanya lelaki itu sambil mengalihkan bahasan.

Mobil berbelok ke jalan pertokoan. Di sisi trotoar Oikawa melihat pohon yang rindang serta bangunan yang dipasangi kanopi.

"Bourke Street," sebut Ushijima, menyambut pergantian topik tanpa protes. Oikawa Tooru bingung, tidak tahu apa yang dijual di sana.

"Itu toko roti di sudut jalan. Mereka juga memiliki kafe. Apa kau keberatan dengan roti?

"Aku suka," sahut Oikawa dengan mata berbinar. Ia mengatupkan kedua tangan, begitu bahagia dengan tempat bicara santai Ushijima dan mantannya. "Aku sangat suka roti. Apakah ini sebuah takdir?"

"Kalau begitu silakan menikmati sarapanmu, Oikawa-san," balas si pemuda sembari memelankan laju mobil.

"Oikawa-san," panggil Ushijima lagi.

"Ya?" Jawaban yang terdengar ringan, tanpa beban sebelum ia mendengar perkataan setelahnya.

"Apa kau sudah menghubungi mantanmu?"

Jawabannya masih sama seperti kemarin. Belum. Tentu saja. Oikawa lebih mementingkan urusan perut dibanding alasan utamanya berada di Sydney.

"Sebaiknya kau harus segera memberi kabar. Kepastian akan menjauhkanmu dari rasa gugup." Nasehat barusan seolah menusuk tepat di hati Oikawa. Ia belum siap. Tidak siap dengan kemungkinan baik ataupun buruk yang akan terjadi.

"Akan kulakukan nanti," jawab Oikawa tanpa menoleh.

Tak lama mobil berhenti. Mereka tiba di sebuah toko roti di sudut jalan. Oikawa bisa melihat kursi dan meja di luar. Beberapa pengunjung sedang menikmati kudapan ringan. Manik coklatnya memandang lebih jauh ke dalam. Ada dua rak etalase yang memajang roti-roti hangat dari oven. Perutnya sudah terlalu keroncongan untuk menahan ini semua.

Ushijima memarkirnya pada garis jalan lalu keluar. Ia berjalan mengampiri Oikawa dan membukakan pintunya.Namun ia menolah mentah-mentah.

"Pergilah pada mantanmu! Aku tidak ingin bergabung dengan kalian," protesnya. Ushijima menunduk sekilas- seperti memberi hormat dan undur diri untuk memenuhi janji.

Oikawa sendiri menunggu di mobil selama beberapa menit. Setelah ia memastikan Ushijima sudah menghampiri seseorang di kafe, lelaki itu turun. Ushijima duduk di depan etalase. Jadi Oikawa mungkin akan mengambil tempat yang agak jauh, di sisi terluar kafe.

Setelah mengambil tiga potong roti susu dari etalase serta segelas kopi dan membayar pada kasir, lelaki berambut coklat itu duduk pada kuris targetnya. Ia melirik Ushijima dan sang mantan. Mereka sibuk berbicara. Sesekali Oikawa melihat lelaki di depan rekan seperjuangannya tersenyum kalem. Dia tampak manis. Tidak salah Ushijima pernah menaruh hati.

Kembali lagi pada roti susunya. Oikawa langsung melahap satu. Rasa laparnya berangsur-angsur reda. Bahkan hilang setelah ketiga potong roti itu habis. Oikawa kemudian menyesap kopi paginya, mendesah puas karena sarapan ini terasa amat tenang tanpa gangguan manusia rambut merah.

Sekarang tinggal satu masalah lagi. Oikawa melirik singkat Ushijima dan Shirabu, sang mantan lalu kembali pada mejanya. Lelaki itu perlu melakukan sesuatu, sebuah kegiatan yang bisa mendistraksinya dari kemungkinan bahwa penantian ini akan panjang.

Pasti panjang, bila memperhatikan bagaimana dua insan si sisi etalase roti asyik berbicara.

Oikawa melirik ponsel di sebelah nampan. Ushijima mengingatkannya saat perjalanan tadi untuk segera menghubungi Iwaizumi. Oikawa memang harus melakukannya.

Dan ia pun menekan kontak sang mantan, menatap namanya lamat-lamat untuk memfokuskan diri.

"Ayo," gumam Oikawa pelan.

Akhirnya ibu jari menekan ikon pesan lalu mengetik sesuatu

untuk: Iwa-chan
Iwa-chan, apakah kau masih di Australia?

Terkirim.

Setelah itu timbul penantian beberapa detik yang seakan tak berujung. Oikawa memegang erat ponselnya, menggigit bibir gugup sembari menatap layar berisi pesan dengan sang mantan.

Tiga detik kemudian pesan baru muncul.

dari: Iwa-chan
Masih. Ada apa?

Dari pesannya, Iwaizumi tampak biasa saja. Seakan tidak terganggu oleh berakhirnya hubungan romantis mereka.

Oikawa menghela napas sejak. Ia tinggal mengetik saja, memberi tahu bahwa dirinya juga berada di Australia dan ingin bertemu, bicara dengan- Oikawa tidak yakin- santai.

untuk: Iwa-chan
Aku juga berada di Australia sekarang, di Sydney. Apakah kita bisa bertemu dalam waktu dekat?

Oikawa menaruh ponsel, kemudian membenturkan dahi ke bawah dengan frustasi. Kenapa bahasanya menjadi seformal itu?

Lalu getaran terasa dari atas meja. Oikawa terbelalak karena nama 'Iwa-chan' muncul di layar ponsel, sedang menunggu panggilannya dijawab.

Oikawa terkesiap, langsung meraih ponsel dan menekan tombol hijau.

"Moshi moshi," sebutnya pelan.

'Oikawa, kau berada di Sydney? Sejak kapan? Kenapa kau tidak mengabariku?'

Nadanya terdengar sedikit khawatir Oikawa menghabiskan waktu berhari-hari memikirkan alasan mengapa Iwaizumi meminta putus, dan sekarang lelaki itu menjawab percakapan seolah mereka masih berhubungan; banyak pertanyaan dan beruntun. Apakah ia masih memiliki tempat di hati Iwaizumi?

"Aku baru sampai kemarin. Aku hibernasi sebelum memutuskan untuk menghubungimu," jawab Oikawa dengan raut cemas. Ia tidak bisa memprediksi jawaban selanjutnya.

Kemudian, di seberang sana, Oikawa mendengar kekeh pelan.

Astaga, mereka baru saja putus. Mengapa Iwaizumi bersikap seolah tidak terjadi apa-apa?

'Ayo bertemu. Oh-,'

"Oh?" bingung lelaki rambut coklat itu sembari mengetuk-ngetukkan sepatu ke tanah.

'Aku memiliki janji sebentar lagi. Akan kuhubungi kau setelah selesai. Sampai nanti.'

Lalu sambungan diputus.

Oikawa Tooru berhasil menghubungi Iwaizumi Hajime. Ia sudah melakukannya.

Sekarang tinggal menunggu sang mantan memenuhi janjinya- yang entah apa- dan mereka akan bertemu, menyelesaikan semuanya di sini.

Bermenit-menit Oikawa Tooru berimajinasi di kursinya saat kemudian ia mendengar suara familiar dari belakang. Manik coklatnya menoleh pada meja Ushijima, berpikir suara itu berasal dari sana.

Benar. Ia familiar dengan suara Ushijima Wakatoshi. Tapi bukan itu suara yang ia maksud. Pundaknya menegang saat seorang laki-laki datang menghampiri meja Ushijima dan Shirabu. Sosok itu mengenakan kemeja biru muda, lengan digulung hingga siku. Rambutnya hitam, jabrik dan alisnya tegas. Tangan kokoh sosok itu sedang menjabat Ushijima-

Tunggu. Apa Oikawa tidak salah lihat?

Lelaki itu menajamkan telinga, mencuri dengar apa yang dibicarakan pada meja itu.

"Ushijima-san, perkenalkan ini Iwaizumi Hajime," sebut suara kalem yang sempat Oikawa puji beberapa saat lalu.

"Minggu depan kita akan bertunangan."

.

.

.

To be continued

JENG JENG!

Updet tertunda di FFN karena mager ewkekeke

Apakah cukup plot twist?