Summary: Semua orang mendadak jadi aneh. Mereka seperti bernafsu pada Harry. Oh Merlin, ini semua akibat Harry yang meminjam parfum Ron sembarangan, tanpa sempat tahu bahwa cairan tersebut ternyata merupakan potion love dengan tingkat tinggi.
Pairing: All x Harry
Rated: M
Warning! Cerita ini mengandung unsur M/M, bl, shounen-ai, yaoi, atau apapun itu sebutan kalian. Juga akan ada sedikit bumbu pedophile, sehingga bagi kalian yang tidak suka/tidak nyaman, dipersilahkan meninggalkan lapak ini. Saran, kritik, dan review akan dengan senang hati saya terima.
"Ron, kamu dimana?" Entah sudah keberapa kalinya Harry menyebut nama itu, namun sang pemilik tak kunjung menampilkan batang hidungnya.
Arghh, Harry jadi merasa sebal sendiri. Padahal dia sedang membutuhkan anak itu untuk membantu tugas detensinya yang diberikan oleh Profesor Snape. Tapi dia malah menghilang!
"Awh!" Oh kesialan apa lagi sekarang? Dia hanya ingin duduk di kasur saja tapi malah menduduki sebuah benda keras yang entah apa itu. Sialan memang, bokong cantiknya kan jadi kesakitan.
"Hm? What is this?" gumamnya tanpa sadar begitu melihat sebuah botol parfum kecil berisi cairan berwarna ungu. Ia memperhatikan botol tersebut secara teliti. Benda apa sebenarnya ini? Kenapa ada di kasurnya?
Ah! Mungkin ini parfum.
Tapi tunggu sebentar— ini parfum milik siapa? Harry tidak merasa pernah memiliki parfum sejenis ini. Oh lebih tepatnya, ia tidak pernah menggunakan parfum.
Tutup botol sewarna silver itu dibuka. Ia mencoba menciumnya, hmmm, tidak terlalu buruk. Harry tidak dapat mendeskripsikan aroma apa yang ia cium, namun satu hal yang pasti, baunya sangat harum dan menenangkan.
"Apa boleh aku pakai?"
Entah bertanya pada siapa, namun pertanyaan tersebut seolah tidak berguna. Sebab, ia langsung menyemprotkannya.
Kesialan pun datang lagi. Ternyata botol itu tidak tertutup dengan rapat, sehingga cairannya pun tumpah membasahi tubuh Harry ketika ia hendak menyemprotkan ke leher.
"Bloody hell!" Harry tidak dapat berkata-kata lagi. Kenapa hari ini ia sangat sial sih?!
Baru saja ia ingin mengelap lehernya, namun entah kenapa, cairan tersebut seolah terserap ke dalam tubuh Harry. Harry terperangah. Bagaimana bisa? Bahkan leher dan tubuh serta pakaiannya terasa kering, padahal ia yakin sudah menumpahkan satu botol penuh parfum aneh itu.
Ah persetan, ada hal yang lebih penting saat ini. Ia harus mencari Ron!
Entah kenapa, Harry merasa aneh.
Maksudku, kenapa sepanjang jalan yang ia lewati, hampir semua orang—tidak, tapi seisi Hogwarts menatapnya tanpa berkedip? Seolah ia adalah ikan segar yang tengah berenang di hadapan ratusan kucing.
Oke, Harry akui dia memang terkenal, tampan, dan berprestasi. Tapi masa iya sampai ditatap sebegitunya? Itu mata minta dicolok?!
Remaja bermanik emerald pun terus berjalan, menghiraukan pandangan aneh setiap murid, hingga akirnya ia tiba di sebuah padang rumput yang luas. Tidak ada apa-apa di sini, kecuali pohon beringin yang menghadap ke danau.
Harry berniat untuk duduk di bawah pohon beringin tersebut, namun matanya menangkap sesosok lelaki blonde yang tak lain dan tak bukan ialah Draco Malfoy. Manusia arogan yang manja dan senang sekali mengganggu hidupnya.
Sialnya lagi, anak itu menyadari kehadiran Harry terlebih dahulu sebelum ia sempat beranjak kabur.
"Apa liat-liat?!" Harry berujar garang. Entah kenapa hari ini mood-nya sangat buruk.
Draco pun tersentak kecil. "Dih kok ngamuk?!"
Harry tidak menjawab, namun masih setia memasang tampang harimau ngamuknya. Sampai akhirnya sang lawan bicara menyodorkan sebuah apel hijau.
"Laper kan? Aku tahu kamu resek kalo lagi laper."
Harry semakin melotot garang dong.
"Gak dikasih racun kok," Draco berujar seolah dapat membaca pikiran anak di hadapannya.
Harry meski awalnya tampak ragu, namun perlahan ia coba mendekat dan mengambil apel tersebut, lalu duduk di samping si blonde.
Ternyata dia benar, apel ini tidak beracun. Bahkan rasanya sangat manis, Harry menyukainya.
Mereka berdua makan dengan khidmat ditemani hembusan angin yang menenangkan. Seorang Draco Malfoy dan Harry Potter duduk berdua di tepi danau? Sungguh pemandangan yang sangat langkah!
Awalnya tidak ada yang aneh dengan suasana ini. Sampai akhirnya Draco mulai merasa gelisah. Entah apa yang terjadi, namun ia merasa ada hawa panas yang membakar tubuhnya saat ini.
Ketika manik perak kebiruan miliknya tidak sengaja menatap ke arah Harry, fokusnya langsung tertuju pada bibir merah mengkilap yang tengah mengunyah apel hijau dengan pipi menggembung layaknya hamster.
Shit! Perasaan aneh apa ini? Kenapa ia merasa tertarik dengan bibir itu? Kenapa ia merasa ingin mencobanya?
Harry mungkin merasa jika ada yang memperhatikannya saat ini. Ketika menoleh, ia mendapatkan Draco tengah menatap dalam dirinya.
"Dray, ada apa?"
Tidak ada jawaban. Harry mulai curiga.
"Draco Malfoy, kamu kerasukan?"
Lagi, tak ada balasan. Harry jadi semakin yakin jika anak ini tengah dirasuki hantu penunggu danau yang konon kata anak-anak Hogwarts, suka mengganggu lelaki tampan.
"Drac— emmhh!"
Damn, Draco benar-benar tidak dapat menahan hasratnya. Tubuhnya seolah bergejolak ingin segera merasakan bibir lembab si kaca mata.
Harry sendiri jangan ditanya. Ia sangat terkejut! Bahkan matanya masih melotot horror di saat Draco sendiri sudah memejamkannya.
Ciuman ringan kedua bibir tersebut, lama kelamaan berubah menjadi ciuman yang lebih panas. Draco tidak main-main ketika melumat bibir merah alami milik sang rival. Bahkan ketika Harry mendesah kecil, ia langsung memasuki lidahnya dan mengobrak-abrik seisi mulut hangat itu.
"Dracohh... s-stophh emhhh!"
Pikiran Harry berkecamuk. Ketika yang lebih tinggi mencoba mengelus bagian dadanya, ia segera mendorong kuat dada Draco hingga anak tersebut terdorong ke belakang.
Kesempatan itu ia gunakan untuk beranjak pergi dan kabur sesegera mungkin.
Sialan! Sebenarnya dia habis kena kutukan apa sih?!
Harry benar-benar tidak habis pikir. Kenapa hari ini ada begitu banyak hal aneh yang terjadi?
Ketika ia hendak melewati koridor Hogwarts yang entah kenapa tampak sangat sepi, ia tidak sengaja menabrak seseorang dan nyaris terjatuh jika saja sang pelaku tidak sigap menangkap tubuhnya.
"Harry, apa kamu,"
"Baik-baik saja?"
Tunggu, sepertinya ia kenal suara ini. Mendongak, ah benar saja. Si kembang Weasley ternyata.
"Fred? George? Ma-maaf aku tidak memperhatikan."
Fred, yang masih memegang punggung Harry, mengibaskan tangannya di udara seolah hal tersebut bukanlah masalah besar. "Don't worry."
"By the way, habis dari mana?"
"Sampai terlihat pucat begitu?" Seperti biasa, Fred akan melanjutkan kata-kata kembarannya.
"Umm... tidak ada, aku hanya kurang fokus." Bohong. Harry tidak mungkin kan memberitahu mereka berdua bahwa ia baru saja diperawani (bibirnya) oleh si Malfoy muda itu?
Pasangan saudara kembar Weasley hanya balas mengangguk.
Namun tidak lama kemudian, mereka merasakan sesuatu yang aneh.
Mereka berdua seolah mencium aroma yang unik dan memabukkan dari tubuh remaja di hadapannya. Aroma yang menimbulkan gejolak panas dalam dada.
George merasa semakin buruk ketika ia melihat setetes keringat mengalir dengan indahnya di leher porselen sang junior. Ia menelan ludah gugup.
"Harry tampaknya sedang lelahh..." Oh bahkan napasnya saat ini terasa berat.
George menarik tengkuk Harry agar mendekat. Sebelah tangannya yang lain bergerak menyusuri leher mulus yang tampak menggoda.
Harry mulai merasa tidak enak. Apalagi ketika Fred memeluk pinggangnya dari belakang dan mulai menjilati cuping telinganya.
Harry hendak protes, namun suaranya tercekat begitu merasakan benda lunak nan basah yang menyentuh leher. George ternyata sudah mulai menjilati lehernya.
"Enghh..."
What the fuck?! Kenapa justru suara itu yang keluar dari mulutnya?!
"Anghh..." Lagi, suara itu keluar tanpa sengaja ketika George mulai menghisap dan menggigit lehernya. Di saat bersamaan, tangan Fred sudah mulai meraba ke dalam kaos seragamnya, menyentuh bagian pusar dengan telunjuk dan memutarinya seolah itu adalah mainan.
"Harry... you're so,"
"Fucking sexy."
