0w0
Hellow there :D
(Author Note dibawah ;D)
Chapter 6
"Ma pulang dulu. Ingat jangan lupa beri kabar sekali-kali."
"Iya, Ma. Ma juga hati-hati." Ucap Kaizo setelah membantu ibunya memasuki kapal angkasanya.
Beliau terdiam sejenak memandangi kedua anaknya sebelum akhirnya tersenyum dan memeluk mereka, "Kalian berdua juga hati-hati di misi nanti."
Keduanya terkejut namun kemudian memeluk ibu mereka. Beliau merasakan anggukan kepala dari keduanya. Jujur, beliau akui agak sedih ketika hanya bisa bertemu dengan kedua anaknya pada saat-saat tertentu dan kadang hanya sebentar, tapi dia juga sadar kalau anak mereka sudah menemukan jalan hidup mereka dan suatu saat dia harus melepas mereka. Beliau hanya sedikit tidak rela harus secepat ini.
Beliau melepas pelukannya dan kembali melihat kedua anaknya kemudian tersenyum dan mengelus lembut kepala mereka. "Ma tunggu kalian di rumah, ya?"
Mereka membalas mengangguk.
"Yang Mulia, kita sudah siap berangkat."
"Ah, sudah siap rupanya. Ma, masuk dulu. Kaizo, Fang, jaga kesehatan kalian ya." ucap beliau kemudian memasuki kapal angkasa.
Di dalam kapal angkasanya, beliau bisa melihat kedua anaknya dari jendela. Beliau tersenyum dan melambaikan tangannya yang dibalas senyum dari Kaizo dan lambaian tangan dari Fang.
"Yang Mulia, apa kita sudah bisa berangkat."
"Ya,kita berangkat."
Kemudian terdengar suara kapal angkasa lepas landas.
Di bumi Boboiboy berbaring di kamarnya, masih memikirkan Fang. Dia sempat menanyakan misi yang akan Fang jalankan kepada Ochobot -Ia pikir mungkin saat berpamitan dengan Ochobot, Fang atau mungkin Kapten Kaizo menceritakan sedikit soal misi mereka—yang hanya dibalas, "Aku tidak tahu, Boboiboy. Kapten Kaizo bilang kalau misi ini tidak boleh diketahui oleh orang diluar misi.". Boboiboy juga menanyakan hal yang sama pada Atoknya, namun hasilnya juga sama saja.
Boboiboy kembali menghela napas dan memejamkan matanya. Entah sudah berapa kali dia menghela napas semenjak kejadian itu. Sekarang yang bisa dia lakukan hanya belajar untuk ujian nanti... dan mungkin termenung sesekali. Ia sempat kesal kenapa disaat-saat seperti ini mereka harus ujian dan tidak bisa pergi ke Stasiun TAPOPS, tapi ia juga sadar dia harus menyelesaikan sekolahnya terlebih dahulu agar dia bisa lebih fokus di misi nanti. Ayahnya juga yang menyarankannya menyelesaikan sekolahnya terlebih dahulu. "Sekolah biasanya ada batasan umurnya, jadi kalian lebih baik selesaikan sekolah kalian dulu. Masalah misi bisa dilanjutkan setelah kalian selesai. Lagipula sebelum ada kalian, TAPOPS masih bisa berjalan.". Ucapan ayahnya masuk akal. Boboiboy juga berpikir, Ayahnya juga masih melakukan pekerjaannya sebagai duta ketika dia ada di Bumi. Menjadi prajurit luar angkasa pun pasti ada masa dimana mereka akan dibebas-tugaskan jika terjadi sesuatu pada mereka yang membuat mereka tidak mungkin kembali bertugas dilapangan. Disaat itu, mungkin mereka harus bekerja di Bumi dan mencari pekerjaan di bumi. Dia larut dalam pikirannya hingga tiba-tiba,
BANG!
"Boboiboy!"
"HUWAA!" Boboiboy yang terkejut lantas loncat dari kasurnya, namun kemudian terjatuh dari kasur dengan tidak elitnya.
Ochobot yang melihat temannya seperti itu kemudian tertawa puas. Boboiboy yang kesal mulai menggerutu. "Sudah puas tertawanya? Bantu aku bangun la."
Ochobot masih tertawa namun tetap membantu Boboiboy bangun. Setelah membantu Boboiboy dan yang bersangkutan kembali duduk di kasurnya, Ochobot masih tertawa walau sudah sedikit reda. Boboiboy mengusap kepalanya akibat jatuh tadi dan sedikit menggerutu. "Ish, Ochobot. Kalau masuk, ketuk pintu lah dulu, jangan banting pintu."
Ochobot yang sudah mulai berhenti tertawa kemudian mendekati Boboiboy. "Maaf, maaf. Habis dari tadi aku ketuk pintu tidak dijawab jadi aku banting pintu tadi."
Boboiboy menatap heran power sphere yang ada didepannya sambil tetap mengusap kepalanya. "Hah, aku tidak dengar..."
"Boboiboy, jangan-jangan kau mulai kehilangan pendengaranmu karena makin tua." Ochobot tertawa.
"Ish, apalah Ochobot ni. Aku cuma sedang memikirkan sesuatu makanya tidak dengar."
"Sedang berpikir apa sampai tidak dengar?"
Boboiboy membalas dengan helaan napas.
"Masih berpikir soal Fang?"
Boboiboy mengangguk.
"Kau masih belum cerita apa yang terjadi pada Fang?"
Boboiboy kembali menghela napas, merasa malas untuk meceritakan itu ketiga kalinya, tapi akhirnya dia bercerita. Selesai bercerita Ochobot akhirnya mengerti kenapa temannya seperti itu dan Fang pergi hanya pamit kepada dia dan Atok.
Melihat kawannya itu kembali tidak bersemangat, Ochobot menepuk pelan punggung Boboiboy. "Tenanglah, Boboiboy. Selesai ujian kita masih bisa bertemu Fang."
"Ku harap seperti itu..."
Mereka berdua kemudian terdiam sejenak sebelum akhirnya Ochobot bertanya, "Boboiboy, aku mau bertanya, boleh?"
"Hmm?"
"Cuma perasaan ku atau mungkin Fang iri padamu?"
Boboiboy tidak menjawab, hanya memasang raut heran diwajahnya.
"Maksudku, mungkin dia merasa kalau kau punya segala yang dia tidak miliki."
"Kenapa dia harus iri?"
Melihat Boboiboy masih memasang wajah heran, Ochobot menggerutu pelan. "Kau ini, pahlawan pulau rintis, suka menolong, selalu mengorbankan diri sendiri demi orang lain tapi ternyata untuk masalah seperti ini selalu bermasalah."
Boboiboy semakin bingung dengan perkataan Ochobot lantas membalas, "Aku serius Ochobot. Kalau masalah popularitas, bukannya itu sudah berhenti semenjak SMP? Apa dari diriku yang bisa membuatnya iri?"
Ochobot mengeluarkan suara seperti menghela napas kemudian lanjut menjelaskan. "Ini cuma pemikiranku, tapi coba Boboiboy bayangkan kalau kau ada diposisi Fang. Kau melihat orang yang satu tim dengan mu selalu dipuji dan dibanggakan, padahal kau juga turut serta dalam misi. Belum ditambah dengan dia selalu punya teman dan keluarga yang selalu ada disekitar dia sementara kau hanya bisa melihat dia dan yang lain berkumpul bersama karena merasa tidak punya tempat disana. Sedikit banyak kau pasti merasa iri kan? Mungkin itu yang dirasakan Fang."
Boboiboy terdiam mendengar penjelasan Ochobot. Penjelasan Ochobot masuk akal. Boboiboy teringat dengan kata-kata Fang.
"KAU PIKIR AKU PUNYA TEMAN, HAH?! TIDAK ADA SEORANG PUN YANG MAU BERTEMAN DENGAN KU!"
Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di kepalanya semenjak Fang mengucapkan hal itu. Dia masih bingung kenapa Fang berkata seperti itu sampai ia mendengar penjelasan Ochobot. Ia membanyangkan apa yang Fang rasakan setiap kali melihat yang lain selalu menerima Boboiboy sementara dia selalu dianggap sebagai mahkluk asing. Boboiboy kemudian menunduk, merasa dirinya sendiri bodoh karena tidak memikirkan hal itu.
"Kalau begini, semakin banyak alasan aku harus minta maaf kepada Fang secepatnya..." ucapnya lirih.
Ochobot melihat kawannya dan teringat satu hal, "Oh iya, Boboiboy aku mau tanya lagi."
"Hmm?"
Ochobot terdiam, bingung bagaimana menanyakan hal ini pada Boboiboy. Boboiboy merasa temannya itu seperti enggan mengucapkan sesuatu. "Dah la Ochobot, tanya saja."
Ochobot terdiam sebentar mendengar itu kemudian bertanya, "Ini cuma pengamatanku saja... tapi... kau suka pada Fang yah?"
"Hah?"
Iyess... segini dulu gaes...
akhirnya ada kemajuan di hubungan mereka walau cuma dikit yah...
tunggu chap selanjutnyaaa~
