A/N: Halo reader semua! Aku terharu banget ternyata ada yang masih baca cerita absurd ini :') aslinya tuh niat ku bener bener pengen revamp ini cerita awalnya, tapi karena udah jauh jadi ku pikir tetep ke ide original aja lah yah... Oh iya aku juga masih mau lanjutin cerita BoiFang yang lain plus tebar-tebar oneshot mungkin?

Oh sekalian aku mo ngasih tau kalo cerita ini bakal diapdet tiap hari kamis, sedikit bonus mungkin kalo ide datengnya kenceng www.

Oke gak usah lama-lama lagi, happy reading!


Boboiboy yang sedang duduk dan menunggu di luar kapal angkasa kembali memeriksa jam kuasanya dan topinya untuk kesekian kali. Yaya, Ying dan Gopal sedang bersama Laksamana Tarung membicarakan yang berhubungan dengan misi nanti. Ia menengadah ke langit planet tersebut, melihat warna merah, jingga dan sedikit putih yang bercampur bergerak melingkar.

'Ah, planet yang aneh... tapi indah...' Batinnya.

Perasaaan gugup dan harap cemas mendatanginya mengingat sebentar lagi mereka akan kembali ke medan perang. Boboiboy menutup matanya dan mengambil napas dalam dan mencoba fokus kepada hal yang ada disekitarnya. Terpaan angin yang terasa sedikit panas di kulitnya, hangatnya kursi yang ia duduki, suara langkah kaki lambat dan cepat dan sahutan dari dokter kepada para prajurit yang terluka. Ia kembali teringat dengan rencana ayahnya saat diskusi tadi.

"Negosiasi, itu yang pertama. Disini aku dan Laksamana yang lain yang akan melakukannya. Aku tidak akan mengatakan apa yang aku akan negosiasikan karena aku butuh ekspresi kalian yang sebenarnya nanti dan aku ingin kalian percaya kepada ku, aku pasti akan membawa pulang kalian dengan selamat. Namun selama itu, pasang ekspresi selelah mungkin seakan kalian semua sudah muak dengan semua ini. Jika negosiasi berhasil, ini akan cepat selesai. Jika negosiasi gagal, kita pergi dan tinggalkan mereka. Disini aku mau kalian menahan diri kalian untuk lari ke dalam dan menolong Fang. Anggap Fang hanya salah satu prajurit lain. Aku tahu tidak semua dari kalian pandai bersandawara, namun aku mau kalian berusaha. Yang kedua, kita akan membagi tim. Aku dan Boboiboy, Maskmana dan Kaizo, Tarung dengan Yaya, Ying dan Gopal. Kalian ikuti intruksi dari kami entah negosiasi berhasil atau gagal. Ingat, jika kalian ingin tetap bertemu dengan keluarga kalian dan tidak ingin dijual entah sebagai apa oleh mereka, kalian harus lakukan yang terbaik. Kerjasama, komunikasi, improvisasi, keluarkan semua yang kalian punya."

Entah apa yang ada dipikiran ayahnya itu. Kenyataan itu jelas membuatnya frustasi dan sedikit sedih mengingat selama Ia kecil, Ia jarang bertemu dengan ayahnya karena tugas "kedutaannya"—entah kedutaan negara atau duta bumi di persatuan planet yang Ia tidak tahu- yang membuat interaksinya dengan ayahnya hanya saat ayahnya menegoknya ke Pulau Rintis. Boboiboy membuka matanya dan menghela napas. Ia memeriksa kembali jam kuasanya dan melihat masih tersisa satu jam lagi sebelum mereka berangkat.

Pikiran Boboiboy kembali melayang kepada beberapa hal sampai akhirnnya berhenti di Fang. Boboiboy kembali merasakan sesuatu seperti terikat di dada dan lambungnya. Perasaan bersalah bercampur dengan marah mulai mendatanginya. Ia mulai memikirkan beberapa skenario jika saja dahulu dia lebih berusaha meyakinkan kepada orang-orang yang ada di Pulau Rintis kalau Fang bukan seseorang yang patut diwaspadai atau bahkan dicap sebagai orang yang akan menghancurkan tempat tinggal tersayang mereka. Fang sama seperti mereka, hanya berbeda tempat tinggal saja. Bahkan saat Adu Du berulah atau ada alien yang datang ingin mencuri entah coklat atau power sphere, Fang membantu mereka. Bahkan kadang mereka makan dan jalan-jalan bersama. Boboiboy ingat saat mereka pergi memancing bersama, pergi ke sirkus di planet lain saat mereka sudah selesai misi. Boboiboy juga ingat saat ia dan Fang pergi bersama entah hanya sekedar sparring, berenang di pantai, pergi ke Festival, membeli makanan dan melihat bibir Fang yang bersinar karena minyak dari donat yang baru saja digoreng memantulkan cahaya lampu festival tersenyum saat memakan donat kesukaannya dan kilauan lampu festival yang bersinar dibelakangnya membuatnya terlihat semakin can-

'HUSH! Apa yang kupikirkan?! Bukan saatnya berpikiran seperti itu!'

Boboiboy berusaha menghilangkan pikiran-pikirannya sampai akhirnya ia tersadar sesuatu.

'Sebentar, Fang sempat dekat denganku dan yang lain... Sejak kapan dia menjauhkan diri?'

Boboiboy kembali memutar otaknya, memikirkan dan mengingat kembali apa yang membuat Fang menjauhkan diri darinya dan teman-temannya yang lain. Mungkin mereka pernah bertengkar? Boboiboy tidak pernah merasa bertengkar parah dengan Fang sebelum yang di sekolah. Itupun sebenarnya bermula dari salah paham dan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Mungkin kesalahan saat mereka misi mengingat Fang pernah mengatakan kalau Yaya, Ying dan Gopal lebih memperhatikan Boboiboy ketimbang Fang ketika mereka terluka. Tapi rasanya setelah misi itu mereka masih dekat dan masih jalan-jalan bersama. Mungkin salah paham? Tapi karena apa? Boboiboy larut dalam pikiran kemungkinan apa saja yang membuat Fang menjauhi mereka sampai Ia tidak menyadari Gopal yang kembali dan berdiri di depannya.

"...boy. Bo...Boy! HOY BOBOIBOY!"

"WHOA!" Boboiboy tersentak kaget. Untung ia tidak terjatuh dari kursinya.

Gopal tertawa melihat reaksi Boboiboy kemudian duduk di sebelah Boboiboy. Boboiboy memasang ekspresi jengkel dan membenarkan topi dan jaket kesayangannya.

"Ish, apalah Gopal..."

Gopal kembali terkekeh, "Kau yang apalah. Apa yang kau pikirkan sampai serius begitu? Nanti rambutmu putih semua baru tahu rasa kau."

"Yaya dan Ying?"

"Di ruang kontrol. Mungkin sedang menghubungi Komandan Kokoci dan bala bantuan. Soda dingin?" tawar Gopal.

"Darima- oh iya, kuasa mu."

"Kau terlihat kaku dan planet ini panas jadi apa salahnya?"

Boboiboy tertawa pelan dan mengambil kaleng soda dari tangan gopal. "Terima kasih, Gopal."

Mereka terdiam sejenak meminum minuman mereka masing-masing sampai Boboiboy angkat bicara, "Kita pernah akrab dengan Fang, bukan?"

"Iya, saat kita SD dan SMP. Tapi setelah SMA..."

"Aku heran, kenapa dia menjauhi kita? Kau ingat sesuatu yang mungkin alasan kenapa dia begitu, Gopal?"

Gopal memasang gestur berpikir, mencoba mengingat namun kemudian menggelengkan kepalanya, "Entahlah."

Boboiboy menghela napas. "Itulah yang aku pikirkan daritadi. Kenapa dia menjauhi kita? Dimana letak salahnya? Apa yang terjadi pada Fang? Apa yang kita lakukan sampai fang menjauhi kita? Pasti ada yang salah. Tapi dimana? Mungkin kalau kita sadar lebih awal, Fang tidak akan disan-"

"Boboiboy, aku ingin bertanya padamu." Gopal memotong monolog Boboiboy.

Boboiboy mengangkat kepalanya dan melihat kearah Gopal dengan ekspresi heran. "Hm?"

"Kau ini suka pada Fang kah?"

"Suka. Kalau tidak aku tidak akan berteman dengannya apalagi menolongnya."

Gopal menahan diri untuk tidak menepuk kepalanya. Kadang ia lupa kalau sahabatnya ini bodoh dalam urusan perasaan.

"Bukan itu maksudku. Maksudku suka dalam artian ingin menjadikannya pacar."

Boboiboy membuka mulutnya hendak menjawab, namun akhirnya menutup kembali mulutnya. Ia menyukai Fang? Ia tidak pernah memikirkan hal itu. Ia melihat Fang sebagai teman, rival, orang yang menjadi alasan Boboiboy untuk mengasah kemampuannya setiap kali mereka latih tanding . Tapi jika dipikir-pikir lagi, ia tidak keberatan jika hal itu terjadi.

"Menurutmu?" ucap Boboiboy dengan wajah tidak yakin.

Gopal menepuk wajahnya. "Aku tidak tahu, bodoh. Tanya pada dirimu sendiri." Ucapnya kemudian kembali meminum sodanya.

Boboiboy memikirkan kembali pertanyaan Gopal. Ia tidak tahu ia menyukai Fang atau tidak. Ya, mungkin Boboiboy pernah memikirkan Fang dan semakin mereka beranjak dewasa, Boboiboy menyadari Fang mempunyai fitur wajah dan tubuh yang bisa dibilang cantik. Ia kembali teringat dengan ingatannya saat Fang memakan donatnya di Festival dan-

"Boboiboy, berhenti menggoyangkan kakimu! Sudah cukup pusing aku karena penjelasan Laksamana Tarung, ini pula kursi bergoyang karena kau tidak bisa diam." Keluh Gopal.

"Ah, maaf, aku tidak sadar." Ucap Boboiboy kemudian kembali memposisikan dirinya untuk duduk lebih nyaman dan meminum sodanya.

Hening kembali melanda.

"Mungkin aku menyukainya? Aku sendiri tidak yakin." Ucap Boboiboy memecah keheningan.

Gopal mengelengkan kepalanya dan tertawa kecil. Boboiboy heran dengan respon sahabatnya itu kemudian bertanya, "Kenapa?"

"Tidak, tidak apa-apa. Kalau memang pikiranmu seperti itu, ya bukan tempatku untuk komentar bukan? Masalahmu, kau sendiri yang urus." Jawab Gopal.

Boboiboy tidak mengerti jawaban dari Gopal namun Ia memutuskan untuk membiarkannya saja. Ia melirik jam tangannya. Dua puluh menit lagi sebelum mereka berangkat. Boboiboy menenggak habis sodanya dan membuangnya di tempat sampah dalam pesawat luar angkasa.

"Cepat habiskan, Gopal. Mungkin bala bantuan akan datang sebentar lagi."


Ketika bala bantuan sudah datang dan mendarat, Laksamana Amato langsung memberikan pengarahan kepada mereka tentang rencana yang akan mereka gunakan. Boboiboy sempat melihat sedikit ekspresi tidak yakin dari para prajurit sebelum berubah menjadi senyum yakin. Ia masih tidak tahu apa yang akan ayahnya lakukan nanti dan entah kenapa dia punya firasat burut. Bahkan, Laksamana Maskmana dan Laksamana Tarung yang ada disebelah ayahnya seperti tidak yakin dengan apa yang diucapkan ayahnya kepada para prajurit namun memilih untuk diam, percaya penuh dengan keputusan rekan mereka. Ia harap, apapun itu, mereka masih bisa memegang kendali situasi nanti.

Setelah selesai memberikan pengarahan kepada para prajurit bala bantuan, Amato kemudian memecah bala bantuan tersebut menjadi empat kelompok. Satu dengan Amato dan Boboiboy; satu dengan Maskmana dan Kaizo; satu dengan Laksamana Tarung, Yaya, Ying dan Gopal; satu menjaga kamp mereka, berjaga-jaga ada serangan dari belakang. Setelah dirasa cukup Amato mengangguk puas dan memasang senyum yang Boboiboy sendiri bergidik ngeri melihatnya. Jika tidak tahu ayahnya bukan salah satu laksamana di TAPOPS, mungkin ia akan mengira bahwa ayahnya adalah musuh yang berbahaya. Seumur-umur bersama Ayahnya, ia tidak pernah melihat ayahnya tersenyum seperti itu, namun hampir sepertiga hidupnya sampai sekarang ia tidak pernah bersama dengan ayahnya jadi tahu apa dia soal apa yang dilakukan ayahnya saat ia tidak bersama Boboiboy?

Amato kemudian menepuk tangannya, membuat semua fokus beralih kepadanya. Ia kembali memasang senyum cerianya. Boboiboy dan kawan-kawannya bisa merasakan tekanan yang membuatnya sulit bernapas dan gemetar yang berjalan di tulang belakang mereka. Kemudian, mereka mendengar Amato berbicara dengan nada rendah,

.

.

.

"Saatnya kita habisi mereka."


Ohohoho... jujur chap kali ini seru buat ditulis.

ya segitu dulu lah yah... komennya kakak? Atau mungkin say hi?