Halo lagi! Maaf yah telat :') tapi masih di hari yang sama sih yah jadi harusnya sih masih tepat waktu wwww.
Yak sekut mari kita lanjutkan! Happy reading!
Suara teriak, tembakan, ledakan dan yang lainnya memenuhi daerah itu. Boboiboy dengan menggunakan kuasanya berusaha untuk melawan musuh yang mulai berusaha untuk menangkapnya. Para laksamana dan kawan-kawannya pun berusaha untuk menahan musuh yang berniat untuk mengepung mereka mengingat sebenarnya mereka sudah kalah jumlah dari awal. Ditambah dengan berkurangnya Kaizo yang sedang membawa Fang ke medik membuat pertahanan mereka berkurang sehingga mereka harus berimprovisasi.
Boboiboy melihat ke sekitarnya untuk memastikan kembali rencana yang ia pikirkan sebelumnnya. Ayahnya kini sedang berdiri di sebelah Aztryx, kemungkinan masih memasang peran mendukung pihak lawan jika Boboiboy berhasil tertangkap. Jauh di belakangnya, para laksamana dan teman-temannya berusaha melawan jumlah musuh yang terlalu banyak. Tarung dan Ying berusaha fokus menyerang dalam sementara Maskmana, Yaya dan Gopal dibelakang mereka fokus dengan pertahanan mereka diikuti dengan prajurit bala bantuan dari TAPOPS. Lambat memang karena mereka terkepung, namun tidak terlalu memakan banyak korban. Merasa sudah waktunya untuk menjalankan rencana, Boboiboy menyalakan alat komunikasinya untuk menghubungi Maskmana.
"Laksamana, sudah waktunya." Ucap Boboiboy yang kemudian dibalas gumaman singkat dari yang bersangkutan.
Tak lama, Boboiboy mendengar teriakan "MUNDUR!" dari Tarung disusul dengan pasukan TAPOPS mundur perlahan. Disusul dengan semakin banyaknya prajurit yang mengepungnya saat mereka menyadari bahwa TAPOPS bukan prioritas mereka sekarang. Boboiboy melihat kearah pasukan TAPOPS dan memperkirakan waktu yang mereka butuhkan untuk keluar.
'15, ah tidak, mungkin 10 menit. Aku harus bertahan 10 menit.' Batinnya.
Boboiboy kembali fokus dalam pertarungannya sembari menyusun strategi dalam otaknya. Ia tidak bisa terus menerus berpecah menjadi tiga jika ia ingin fokus pada penyerangan dan daya tahannya menghadapi serangan musuh, tapi dia juga tidak bisa terus menerus sendirian karena dari awal, dia sudah kalah jumlah dan hanya dengan berpecah jadi tiga dia bisa mengecoh musuhnya. Ia tidak berniat untuk melakukan fusion karena jika semua kemampuannya terbaca oleh Aztryx—yang kini sedang memperhatikannya dan kemungkinan akan turun tangan setelah melihat semua kemampuan Boboiboy-, ia sudah terbaca dan kemungkinan besar untuk kalah. Yang bisa ia lakukan sekarang adalah bertahan dengan mengatur kapan ia harus berpecah tiga dan kapan harus kembali fokus pada salah satu elemennya, bukan masalah mengingat dia sudah banyak berlatih dan berpengalaman dalam perang seperti ini.
Setelah merasa waktu perkiraan sudah lewat, Boboiboy berpecah menjadi tiga. Boboiboy Taufan, Boboiboy Halilintar dan Boboiboy Es. Boboiboy Taufan terbang keatas seakan berniat untuk menyerang, namun sebenarnya ia kembali mengedarkan pandangannya ke area di sekitar mereka dan memeriksa apakah pasukan TAPOPS sudah ada di tempat yang aman. Setelah dirasa sudah cukup dan pasukan TAPOPS sudah ada di tempat yang aman, ia menggunakan kuasa puting beliungnya untuk memberikan ruang bagi Halilintar dan Es. Setelah dirasa musuh sudah berada dijarak yang aman, dia kembali turun dan memegang tangan Halilitar dan Es yang tidak mengapresiasi angin puting beliung Taufan yang membuat baju mereka.
"Kalian siap?" ucapnya sambil menahan tawa melihat Halilintar dan Es menatap sinis kearahnya.
"Lain kali, tolong diperhatikan kemana kau mengarahkan puting beliungmu, Taufan." Ucap Halilintar sambil membenarkan topinya.
"Taufan, jangan iseng." Ucap Boboiboy Es malas.
"Hahaha... maaf, maaf." Taufan meminta maaf.
"Sudah, kita tidak punya banyak waktu. Es, Taufan, jalankan." Perintah Halilintar.
Boboiboy Es mengangguk dan menoleh kearah Taufan. Taufan yang semangat menarik tangan Es dan terbang sebelum melempar Es lebih tinggi. Es yang merasa ketinggiannya sudah cukup kemudian melihat kebawah dan menggunakan kekuatannya.
"Paus air."
Seketika, paus air raksasa menutupi langit dan melayang diatas mereka. Para prajurit musuh yang berada dibawah Es mulai menembak kearahnya, namun karena pausnya, sesuai dengan namanya, hanya terbuat dari air, peluru dan laser mereka hanya teredam didalamnya.
"Cih, aku kira mereka lebih pintar daripada itu." Ucap Es bosan
Sementara pasukan musuh mengalihkan perhatian mereka kearah paus air yang ada diatas mereka, Taufan kembali turun ke tempat Halilintar.
"Oke, tugas ku sudah selesai. Sekarang saatnya berganti dengan Gempa." Ucap Taufan sementara Halilintar hanya diam, melihat Taufan yang berganti dengan Gempa.
"Jadi bagaimana rencananya?" Tanya Gempa.
"Gempa, kita satu orang berpecah jadi beberapa elemen. Kau tau apa rencananya." Jawab Halilintar datar.
Gempa mengangkat bahunya, "Ya, aku tau. Hanya berbasa-basi saja. Kau harus senyum sesekali, Hali." Kemudian Gempa menghantamkan tangannya ke tanah, "TEMBOK TANAH."
Kemudian empat dinding tanah muncul mengelilingi mereka dengan rapat tanpa jalan keluar. Tanpa waktu lama, Es pun menggunakan kekuatannya.
"Tamparan Ombak Raksasa."
Kemudian, dari atas, volume air yang besar turun dengan kecepatan tinggi. Halilintar memegang tangan Gempa dan melompat tinggi untuk menjauhi daerah itu sementara ombak itu menghantam pasukan musuh, menenggelamkan mereka. Halilintar melihat waktunya sudah tepat dan kemudian menoleh kearah gempa dan es, menggabungkan diri mereka kembali. Halilintar kemudian mengeluarkan pedang halilintarnya dan melemparnya ke berbagai arah. Setelah itu dirasa cukup, ia pun menggunakan kekuatannya.
"Serangan Halilintar!"
Kilatan halilintar bergerak cepat kolam air dan diperkuat dengan pedang halilintar yang ada membuat pasukan musuh yang berada didalamnya tersengat listrik. Serangan bertubi-tubi membuat tembok tanah yang menahan air hancur dan menyebarkan air ke berbagai arah, membuat para prajurit yang tidak sadarkan diri berserakan dimana-mana. Merasa semua prajurit musuh sudah teratasi, Halilintar mengeluarkan pedang Halilintarnya dan bergerak dengan cepat ke depan Aztryx, mengarahkan pedangnya ke leher Aztryx.
"Kau tidak sekuat apa kata orang. Menyedihkan." Ucap Halilintar datar.
Aztryx merasa dirinya terancam melihat kearah Amato, "Kau ada dipihak ku bukan? Habisi dia."
Amato tertawa pelan kemudian menggeleng, "Hah... Azzy, aku sudah memberitahu mu berbagai kesempatan kita bisa membunuhnya, tapi kau tidak mendengarku. Kenapa aku harus mendengarkanmu?"
"Cih, kalau begitu aku sendiri yang akan menghabisinya."
Aztryx kemudian menggerakan tangannya, mencoba mencari pedannya. Namun, benda yang ia cari tidak ia temukan.
"Oh, Azzy, kau mencari ini?" Ucap Amato sambil mengangkat pedangnya.
"Kau- Sejak kapan?!"
Amato tersenyum, "Hm... sejak kau tidak mau mendengarkanku?" kemudian Amato bergerak dengan cepat menarik tangan Aztryx—yang membuat Aztryx terkejut dan Halilintar mengangkat alisnya, tidak menyangka Amato bisa bergerak secepat itu-, kemudian memasangkan borgol dengan kekuatan tingkat tinggi di pergelangan tangan Aztryx. Amato pun mendekatkan bibirnya kearah telinga Aztryx dan berbisik,
"Sudah aku bilang aku bosan jadi orang baik,'kan? Licik lebih menyenangkan."
Amato menjauhkan wajahnya dan tersenyum kembali kearah Aztryx, Halilintar bisa melihat aura mendominasi dari Amato.
"Nah, sekarang apa yang biasa diberikan untuk anak yang tidak pernah mendengar nasihat, hm?"
Di markas, Kaizo menemani Fang yang kini sedang tertidur. Melihat berbagai perban yang ada di wajah, tangan dan kakinya. Kemudian, ia mendengar derap langkah kaki banyak orang. Ia berlari keluar dan menganktifkan topengnya, bersiap jika musuh datang dan menyerang base mereka. Namun, bukan pasukan musuh yang ia lihat, melainkan Maskmana , Tarung, kawan-kawan Boboiboy dan pasukan yang kembali.
"Laksamana, apa yang terjadi?" Tanya Kaizo heran.
"Boboiboy mengatakan dia akan berencana untuk menenggelamkan dan menyengat pasukan musuh, jadi ia butuh kita membuat pasukan mereka lelah lalu keluar dari daerah itu. Soal Aztryx, aku yakin pada Amato. Kita percayakan saja kepada mereka" Jelas Maskmana kemudian memerintahkan pasukannya untuk ke medik untuk memeriksa siapa yang terluka.
"Bagaimana dengan Fang?" Tanya Tarung sembari melepas kostumnya.
"Selain dari luka dan lebam, tidak ada yang parah. Sekarang sedang tertidur, Laksamana." Jawab Kaizo yang dibalas anggukan puas dari Tarung.
"Lebih baik kau kembali temani adik mu, Kaizo. Jangan sampai dia bangun sendirian setelah diculik oleh mereka. Aku yakin dia pasti panik kalau dia bangun sendirian." Ucap Maskmana.
"Baik, laksamana." Kaizo pun kembali berjalan ke ruang tempat Fang dirawat.
Saat Maskmana dan Tarung sedang ikut membantu merawat prajurit mereka yang terluka , dari jauh Maskmana melihat dua figur manusia dan satu figur golem membawa dua bola berjalan kearah mereka. Maskmana menghela napas lega melihat ternyata figur itu Amato, Boboiboy dan golem tanahnya.
"Kami kembali!" Teriak Amato dengan riang.
"Kalian butuh waktu lama juga." Ejek Tarung namun senyum bangga terpasang di wajahnya.
"Kalau anak yang satu ini tidak pamer kuasa," Amato kemudian mencubit gemas pipi Boboiboy, "Setelahnya kalian pergi, mungkin sepuluh menit kemudian kita bisa menyusul."
"Ayah, hentikan! Sakit!" ucap Boboiboy, berusaha melepaskan cubitan ayahnya yang dibalas tawa dari ayahnya.
"Apa aman beransumsi orang yang kau panggul di bahu mu adalah Aztryx dan orang- orang yang ada di dalam bola anyaman daun yang besar itu pasukannya?" Tanya Maskmana yang dibalas anggukan dari kedua ayah-anak didepannya.
"Oh iya, base mereka sudah dihancurkan oleh Blaze. Sayang aku tidak bisa mengambil senjata mereka." Tambah Amato.
"Kerja bagus kalian berdua. Sekarang pergi ke medik dan periksa keadaan kalian." Perintah Maskmana.
"Ya, ya... setelah aku menaruh makhluk ini ke tempaynya." Balas Amato.
"Bagaimana dengan Fang, Yaya, Ying dan Gopal, laksamana?" tanya Boboiboy.
"Kau bisa menjenguk Fang di kamar rawat setelah kau selesai dari medik. Untuk Gopal, Yaya dan Ying, mereka juga sedang di medik sekarang. " Jawab Maskmana.
"Baik, terima kasih, laksamana."
"Ayo, Boboiboy. Mungkin mereka punya warm patch untuk punggung. Hah.. aku terlalu tua untuk mengangkat orang lain.." keluh Amato sambil membenarkan posisi Aztryx yang sedang tidak sadarkan diri dibahunya.
"Ayah memang sudah tua,'kan?" Ucap Boboiboy kemudian tertawa sambil berlari kearah medik.
"Hey! Kau mengejek ayah? Sini kau!" teriak Amato kemudian mengejar Boboiboy.
"Tidak mauuu!"
Tarung yang melihat itu tertawa. "Kapan mereka bisa bersifat sesuai umur?"
Maskmana terdiam sebentar dan menggelengkan kepalanya, "Mereka tidak akan pernah dewasa." Kemudian kembali kearah prajurit mereka. "Ayo, Tarung. Semakin cepat kita keluar dan mereka ditahan di tempat yang semestinya, semakin baik."
Boboiboy yang baru saja masuk ke dalam ruang medik kemudian diserang dengan pelukan dari ketiga kawannya.
"Boboiboy! Kau selamat!"
"Dey! Boboiboy! Huhu, syukurlah kau selamat!"
"Boboiboy! Kau baik baik saja kah?"
Boboiboy bingung apa harus membalas apa kepada teman-temannya membalas tawa canggung dan membalas pelukan teman-temannya.
"Maaf membuat kalian khawatir."Ucapnya.
"Lain kali jangan buat kita khawatir!" Ucap Ying marah.
Mereka berpelukan cukup lama sampai sebuah suara menegur mereka,
"Sudah, sudah.. berpelukannya dilanjutkan nanti, perban kalian belum selesai. Boboiboy, pergi ke sana. Setelah aku selesai, aku akan memeriksamu. " ucap salah satu perawat disitu dengan lembut.
Kemudian Boboiboy dan teman-temannya melepaskan pelukan mereka dan kembali menjalani perawatan mereka, sementara Boboiboy duduk dan termenung memikirkan bagaimana kondisi Fang.
YEAH SELESAI PERANG!
Bolak balik wikia buat nyari nama jurus Boboiboy makan waktu juga yah hahaha, tapi worth it sih jadi no regret.
Btw, sebelum kalian bertanya-tanya kenapa Boboiboy Es disini make kuasa Boboiboy Air, karena Es itu tingkat duanya Air, jadi aku pikir Es tetep bisa make kekuatannya Air karena mereka sama aja... bedanya Es versi upgradenya Air doang.
Iyak sekian hari ini. Komentarnya kakak kakak? :3
