Halo semua! perang sudah berakhir, sekarang fokus kita bisa ke ship kita uwu Happy reading!


Fang perlahan membuka matanya dan hanya bisa melihat gelap dari balik kacamatanya yang pecah. Ketika ia kesadarannya kembali, ia menyadari kini dada, tangan dan kakinya terikat di sebuah kursi d isuatu ruangan. Ia juga bisa merasakan rasa sakit yang perlahan mulai muncul di belakang kepalanya. Saat ia ingin menolehkan kepalanya keatas, rasa sakit di lehernya begitu kuat sehingga ia tidak bisa mengangkatnya. Ia terdiam sejenak memikirkan apa yang terjadi sebelum ia tak sadarkan diri.

'ugh... tertangkap lagi? Bagaimana mereka bisa menganggkapku? Aku yakin aku sudah cukup cepat tadi.' Batinnya.

Ia pun melihat kearah tangannya dan melihat jam kuasa yang masih ada dipergelangannya. Ekspresi bingung terpasang di wajahnya. Ia pikir setelah tertangkap, jam kuasanya akan diambil.

'Mungkin mereka pikir ini hanya jam tangan biasa. Kalau begitu aku masih ada kesempatan keluar lagi.'

Kemudian ia mendengar suara langkah kaki dan suara berat yang berjalan mendekatinya. Menyadari itu adalah orang yang sempat mengunjunginya saat ia ditahan pertama kali, ia kembali menutup matanya., berpura-pura tidak sadar. Tak lama, ia mendengar suara kunci dibuka dan suara langkah kaki yang mendekatinya.

"Bocah ini menyusahkan. Seharusnya kita patahkan kakinya saja sekarang."

"Hey, hey, bos akan membunuh kita jika kita merusaknya. Memberi pelajaran boleh, tapi jangan dihancurkan. Harganya tinggi."

"Cih."

Senyap sejenak.

"Hey, bocah. Aku tahu kau bangun."

Fang tidak merespon, berusaha tetap tenang dan mengontrol nafasnya.

"Aku juga tau kau mendengar pembicaraan kita sebelumnnya." Lanjutnya.

Tidak ada respon. Namun, kemudian Fang merasakan ada orang yang menarik rambutnya. Ia mengerang kesakitan. Ia membuka matanya dan menatap tajam orang yang menarik rambutnya. Orang itu mendekatkan wajahnya ke wajah Fang. Fang bisa merasakan aura berbahaya yang keluar dari orang yang ada di hadapannya.

"Kau tidak sepintar, itu. Kau hanya anak kecil, tawanan."

"Oho.. kau lihat itu? Dia mulai memasang ekspresi kucing besarnya. Hahahaha, menarik."

Fang tidak menjawab, terus menatap tajam orang yang ada dihadapannya.

"Kau tahu? Kau memang cantik bocah, aku sendiri ingin memakanmu. Sayangnya aku akan kehilangan nyawaku jika aku melakukannya."

Kemudian orang yang ada dihadapannya mendekatkan wajahnya kearah telinga Fang. Fang bisa mendengar danmerasakan napas berat yang menerpa tengkuknya dan aroma asap yang keluar dari mulutnya.

"Tapi aku bisa memberi warna di kulitmu... bagaimana dengan warna ungu dan biru kehitaman. Mungkin sedikit merah, hm?"

Kemudian Fang melihat tongkat besar datang dengan cepat kearahnya-


"AAAAAA"

Kaizo terkejut melihat adiknya yang tiba-tiba terbangun dan berteriak. Adiknya menaikan tangannya ke depan kepalanya dan meringkuk, mencoba menghalangi apapun yang menyerangnya. Tubuhnya pun bergetar hebat. Adiknya terlihat ketakutan. Kaizo pun menggenggam bahu adiknya, mencoba menenangkan adiknya, namun Fang berteriak dan bergerak dengan liar, mencoba menjauhkan dirinya dari apapun yang ada di dekatnya.

"HENTIKAN! HENTIKAN! MAAFKAN AKU!"

Kaizo merasakan hatinya seperti diremas dan perutnya tertusuk sesuatu. Ia ingin sekali membunuh orang-orang yang sudah membuat adiknya seperti ini. Namun adiknya sekarang lebih penting. Ia menggeser pikiran itu dari kepalanya dan mencoba memeluk dan menenangkan Fang.

"Fang. Fang! Ini abangmu, Kaizo! Fang!"

Mendengar nama dan suaranya abangnya, Fang menoleh keatas dan mendapati wajah abangnya.

"A.. bang..."

"Iya, ini abang Fang."

Fang melihat abangnya kemudian mengalihkan pandangannya ke ruangan tempat ia berada. Ia merasakan lembut dari selimut yang ada di tangannya dan dinginnya ruangan sebelum kembali menatap abangnya. mencoba mencerna apa yang terjadi namun rasa ingin menangis kembali menerjang dirinya. Ia membenamkan wajahnya ke dada kakaknya dan mengenggam erat baju abangnya, seakan takut jika ia lepas, itu semua hanya mimpi dan ia kembali di ruangan gelap dan dipukul habis-habisan oleh alien itu.

"Tidak apa-apa, Fang. Abang disini. Jangan takut lagi." Ucap kaizo kemudian memeluk erat Fang dan mengelus lembut kepala Fang.


"Yap, sudah selesai. Beruntung kali ini hanya luka kecil dan sedikit lebam, Boboiboy. Aku kira kau akan datang dengan patah tulang sekujur badan." Ucap perawat yang kini sedang membereskan peralatannya.

"Ehhh... Kak Isa jahat. Aku tidak seceroboh itu." Balas Boboiboy sambil mengenakan pakaiannya.

"Hm? Dua tahun yang lalu tangan dan kaki kiri mu patah. Itu belum termasuk dengan tulang rusuk mu dan kau yang tidak sadarkan diri selama tiga hari, Boboiboy."

"U-ugh... kalau saat itu aku memang ceroboh. Ta-tapi, sekarang aku lebih pintar!"

Perawat itu—Isa-, tertawa kecil mendengar balasan Boboiboy, "Ya,ya... saat itu juga tidak ada pilihan. Saat itu, Fang yang terluka parah menyuruhku untuk merawatmu dulu baru merawatnya, padahal sudah aku bilang kau tidak apa-apa." Ucapnya tanpa menghentikan kegiatannya.

"Hm? Iyakah?"

"Iya. Dia sepertinya khawatir kau benar-benar mati saat itu."

Boboiboy kemudian terdiam. Ia berusaha kembali mengingat-ingat apa yang terjadi dua tahun lalu namun hanya bisa mengingat pecahan-pecahan peristiwa dan tidak bisa mengingat keseluruhannya.

"Hm... kalau tidak salah itu misi untuk mengambil salah satu power sphere? Aku ingat misi itu berhasil tapi setelah itu ada perompak angkasa, tapi aku tidak ingat kejadian setelah itu."

"Eh? Kau tidak ingat? Waktu itu mereka menjadikan Fang sandera. Mereka bahkan memukul Fang sampai tidak sadarkan diri memasang bom di dadanya."

"Bom?"

"Ah... kau benar-benar tidak ingat. Kau masih mau mendengar ceritanya? Sepertinya lebih baik kau lupakan..."

"Tidak, tidak, tidak, aku mau dengar."

Isa merasa tidak yakin untuk memenuhi permintaan Boboiboy, "Eh... tapi..."

"Kak Isaaa..." bujuk Boboiboy sembari memasang puppy eyesnya.

"Ughhh..."

"Kak Isa, cuma kakak yang bisa. Ayolah kak..." Boboiboy kembali membujuk.

"Iya, iya, baiklah! Hentikan itu!"

"Yeay! Kak Isa baik!" Ucap Boboiboy sambil melompat merayakan kemenangannya.

"Ugh... kau dan tampang mu bisa jadi alasan aku kena serangan jantung. Sudah, duduk sana. Aku ceritakan."

Boboiboy pun duduk, memasang ekspresi serius. Isa menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, kemudian mulai bercerita.

"Baiklah, jadi dari yang aku tahu, kalian berlima diperintahkan untuk mengambil power sphere. Lewati bagian itu karena misi kalian berhasil saat mengambil power sphere itu. Hanya saja saat kalian ingin kembali ke kapal angkasa, perompak angkasa sudah menunggu kalian. Singkat cerita, mereka menginginkan power sphere yang baru saja kalian ambil. Kalian tidak mungkin menyerahkannya, perompak itu tetap kekeuh untuk mendapatkan power sphere itu, kalian mulai bertarung, blablabla, kalian lengah, Fang terkepung kemudian diserang hingga tak sadarkan diri. Mereka tahu Fang adalah salah satu anak dari pejabat di planet GogoBugi jadi mereka menyandra mereka dan memasang bom di badannya. Mereka juga tahu kalian tidak mungkin membiarkan Fang mati jadi mereka memainkan kartu barter. Untungnya saat itu kau sedang berubah menjadi Solar, jadi otak mu lebih pintar. Kemudian-"

"Kak Isa, aku juga pintar tanpa harus berubah menjadi Solar!" Potong Boboiboy merasa tersinggung dengan cerita Isa.

"Hahaha, maaf, maaf. Tapi memang seperti itu kan?"

"Ya memang Solar lebih cepat berpikir.. T-tapi bukan berarti aku bodoh!"

Isa terkekeh mendengar jawaban Boboiboy kemudian berucap "Yasudah, maaf. Jadi, bisa kita teruskan?"

"Iya, teruskan kak." Ucap Boboiboy masih kesal namun tetap penasaran dengan cerita selanjutnya.

"Sampai mana tadi, ah, Solar. Ya, jadi saat itu kau bernegosiasi. Negosiasi berhasil, tapi mereka licik. Mereka mengembalikan Fang namun tanpa mematikan bom yang ada di badan Fang. Mereka berusaha kabur namun ditahan oleh Yaya, Ying dan Gopal. Kau berusaha menonaktifkan bom yang ada di badan Fang. Kau berhasil melepasnya namun ternyata, timer di bom terus berjalan dan sisa waktu tinggal sedikit. Kau berubah menjadi Halilintar, melesat ke angkasa, melempar bom keatas supaya jaraknya cukup jauh dari teman-teman mu yang dibawah. Tapi saat kau baru saja melemparnya keatas dan jaraknya masih cukup dekat denganmu, bom itu meledak dan kau terlempar ke bawah. Setelah itu kau dibawa ke medik dan kau tahu sisa ceritanya." Ucap Isa menyelesaikan ceritanya.

Boboiboy terdiam, mencoba mencerna cerita Isa.

"Oh.. kalau dipikir-pikir, setelah kau sadar, Fang jadi menjaga jarak denganmu. Tapi aku bingung kenapa..." Tambah Isa dengan nada heran.

Boboiboy mengangkat kepalanya cepat mendengar lanjutan dari Isa. Ia pun berdiri tiba-tiba, mengejutkan Isa.

"Boboiboy?"

"Aku boleh ke kamar Fang?"

"Ya, boleh."

"Terima kasih, kak. Aku pergi dulu." Ucap Boboiboy kemudian berjalan keluar.

"Sama-sama. Oh, tapi jangan ganggu dia kalau dia sedang beristirahat, Boboiboy."

"Baik, kak."

Setelah ia di koridor, ia pun mulai berlari ke satu tujuan di kepalanya. Kamar Fang.

'Fang, apa alasanmu menjauhiku ada hubungannya dengan misi itu?' batin Boboiboy sambil berlari ke kamar Fang.


yak segitu dulu! See you next week!