HAI SEMUA! MAAF TERLAMBAT huhuhu... tugas di rl numpuk dan harus bolak balik ngejer deadline bikin hampir aja gak bisa post hari ini.

oh iya ini aslinya ada dua part, tapi ku pikir karena udah telat jadi ku pikir up dulu aja yang part 1, yang part 2 ku up besok atau lusa. Maaf yah pendek jadinya huhuhu tapi part selanjutnya bakal ke momen hati ke hati, buat sekarang momen fluffnya aja dulu www. Silahkan menikmati part 1, HAPPY READING!


Sesaat Boboiboy sampai di depan pintu kamar kamar Fang, ia bingung apa yang harus ia lakukan. Ia takut Fang masih beristirahat dan ia tidak ingin mengganggu istirahat Fang. Walau begitu, di satu sisi ia juga butuh jawaban dari Fang dan kalau dia tidak segera menanyakannya, siapa yang tahu ia masih bisa bertemu Fang atau tidak setelah ini. Boboiboy masih ingat kata-kata Ochobot soal Fang yang akan pindah ke planet lain setelah misi ini selesai. Mungkin setelah Fang sadar, ia langsung pergi dan saat itu Boboiboy harus menunggu sampai mereka bertemu di TAPOPS, itupun kalau Fang tidak mengundurkan dari TAPOPS setelah misi ini selesai. Kalau itu benar terjadi, Boboiboy benar-benar tidak akan punya kesempatan untuk meminta penjelasan Fang. Boboiboy terlarut dalam pikirannya sampai pintu didepannya terbuka, memperlihatkan Kaizo yang terlihat lelah dibalik ekspresinya yang datar.

"Salam, Kapten Kaizo." Sapa Boboiboy sambil memberi gestur hormat.

Kaizo melihat Boboiboy sejenak kemudian mengangkat tangannya, mengisyaratkan untuk menurunkan tangannya. "Kebetulan kau disini. Aku butuh bantuan, Boboiboy."

Mendengar lelah dibalik ucapan Kaizo, Boboiboy bertanya. "Ada apa, kapten?"

"Aku dipanggil oleh Laksamana Amato namun aku tidak mau Fang bangun sendirian nanti. Aku baru saja berniat memanggil Isa." Jawabnya kemudian menghela napas. "Kau bisa menggantikanku selama aku dipanggil laksamana?" lanjutnya bertanya kepada Boboiboy.

"Siap bisa, kapten." Ucap Boboiboy menyanggupi.

"Hah, syukurlah. Kalau begitu masuklah. Jika Fang sadar, kau bisa panggil Isa untuk memeriksa keadaannya nanti." Ucap Kaizo sambil mempersiapkan datapadnya dan bersiap keluar.

"Baik, kapten."

"Aku pergi dulu. Jaga Fang baik-baik, Boboiboy."

"Baik, kapten."

Setelah Kaizo keluar, Boboiboy duduk di kursi di sebelah kanan tempat tidur Fang. Boboiboy memandangi wajah Fang yang sekarang dililit perban, mata kanannya yang tertutup semacam plester dan gips di tangan kirinya. Boboiboy merasakan hatinya sesak dan perutnya yang berputar melihat kondisi Fang.

'Aku tidak ingat Fang terluka parah seperti ini di perang tadi... atau aku yang tidak peka?' Batinnya.

Boboiboy meraih tangan kanan Fang, menggengamnya erat di kedua tangannya seakan memberi semangat kepada Fang dan juga takut jika ia melepaskannya, Fang yang ada dihadapannya pergi ke tempat yang tidak bisa ia jangkau. Ingatannya kembali ke kejadian saat Fang difitnah oleh teman-temannya di bumi.

"Kau dibandingkan dengan Boboiboy? Kau saja tidak layak dibandingkan dengannya!"

"Ya! Lebih baik kau keluar saja dari sekolah ini!"

"Kau hanya membuat kami merasa tidak nyaman!"

Ekspresi Fang yang menahan tangisannya saat itu.

"Itu yang kalian inginkan? Baik. Hari ini aku akan mengajukan surat keluar kepada Kepala Sekolah. Aku juga tidak sudi satu sekolah dengan mahluk rendah seperti kalian."

Ia masih bisa merasakan dorongan tangan Fang di bahunya saat Fang mendorongnya sebelum berlari keluar sekolah.

Lalu kabar dari Ochobot yang mengatakan Fang tidak akan kembali ke bumi.

Fang yang diculik oleh musuh, dipukul habis-habisan hingga seperti ini.

Ia kembali melihat Fang. Ia bisa merasakan sesak di dadanya semakin besar dan mulai menyakitkan. Rasa marah, kesal, menyesal, lemah dan tidak berguna mulai menghampiri dirinya. Ia mengeratkan genggamannya dan menundukan kepalanya, menahan sesak dan air mata yang hampir berjatuhan.

"Maaf, Fang. Kalau saja aku lebih berusaha untuk meyakinkan mereka, kalau saja aku lebih cepat sadar saat kau mulai menjauh, kalau saja aku lebih berusaha untuk mencari tahu apa sebab mu menjauh... kau tidak akan seperti ini."

Kemudian ruangan hening sejenak sebelum isak tangis perlahan mengisi ruangan tersebut.


Fang membuka matanya perlahan, menyesuaikan matanya dengan terang ruangan. Ia mencoba memproses sekitarnya. Matanya masih buram karena silau cahaya yang memasuki matanya, kepalanya terasa berat, badannya yang tertutup selimut, tangan kirinya sekarang dibalut oleh sesuatu dan hangat dari tangan yang menggenggam tangan kanannya. Ia menolehkan kepalanya perlahan kearah kanannya, mencoba melihat siapa yang menggenggap tangannya. Matanya masih mencoba menyesuaikan dengan cahaya, namun ia bisa melihat kepala yang menunduk dengan surai hitam dan garis putih. Tak lama telinganya menangkap suara isak tangis yang datang dari orang yang menggenggam tangannya.

'Boboiboy? Kenapa disini? Kenapa menangis?' batin Fang terheran-heran.

Kemudian ia mendengar maaf yang diucapkan berulang kali. Ia masih tidak mengerti kenapa Boboiboy ada disebelahnya. Fang membuka mulutnya, mencoba memanggil pemuda yang kini sedang terisak sembari memegang tangannya, namun yang keluar hanya napas dan rintihan. Walaupun begitu, sepertinya Boboiboy mendengarnya dan langsung mengakat kepala dan menatapnya. Kemudian ia mendengar suara teriakan yang jauh.

"Fa... kau ...dah sa..ar?! Ak.. ...gil ..ak Isa! ..ung.. ...en..ar!"

Fang merasakan genggaman di tangannya mulai lepas dan rasa takut menghampiri dirinya. Reflek, Fang mengeratkan genggaman tangannya sekuat yang ia bisa, berharap dalam diam supaya ia tidak ditinggalkan sendirian. Ia membuka mulutnya, mencoba berbicara.

"Ja..gn p..gi... kh-ku.. mo.. hn.." ucapnya walau yang terdengar di telinganya hanya rintihan.

Boboiboy terlihat paham apa yang ingin diucapkan dan kembali menggenggam tangannya. Ketika merasa yakin Boboiboy tidak akan kemana-mana, ia menolehkan kepalanya kearah langit-langit kamarnya dan mencoba beradaptasi kembali dengan ruangannya. Matanya kembali fokus, ia bisa mendengar suara Boboiboy berbicara kearah jamnya dan mengucapkan sesuatu yang masih samar di telinganya, merasakan lembut selimut yang menyentuh kakinya dan aroma steril kamar itu. Tak lama, ia mendengar suara pintu terbuka dan suara lembut yang memanggil namanya.

'Ah... Kak Isa...' batinnya.

Ia mendengar suara Isa yang mengatakan Isa akan memeriksanya. Dingin stetoskop menyentuh dadanya dan sesuatu yang mengembang perlahan melingkari lengannya sebelum akhirnya benda itu mengempis. Matanya melihat tangan Isa yang kini melihat infus yang menetes sembari membandingkannya dengan jam tangannya kemudian mengangguk puas. Ia merasakan tangan Isa menepuk pelan bahunya dan mengatakan sesuatu yang terdengar seperti rasa bangga dan keyakinan kepadanya yang membuat hatinya hangat. Ia hanya bisa mengangguk pelan kearah Isa yang kemudian dibalas senyum lebar dari yang bersangkutan. Kemudian, Isa mengatakan sesuatu kepada Boboiboy dan Boboiboy mengangguk. Ia merasakan tangan Isa mengelus lembut kepalanya sebelum ia pergi keluar. Fang menoleh kearah Boboiboy dan memasang ekspresi heran. Seakan mengerti kebingungan Fang, Boboiboy menjawab,

"Kak Isa bilang dia akan mengambil sup dan air untuk mu."

Entah kenapa sekarang ia bisa mendengar suara Boboiboy dengan jelas namun ia memutuskan untuk tidak ambil pusing. Ia kembali memfokuskan dirinya, mencoba mengembalikan kesadaran dan fungsi indranya secara utuh.


YAK SEGITU DULU! DITUNGGU SELANJUTNYA BESOK ATAU LUSAA!

MAAF YAH READER-READER SEKALIAN!

p.s: aku juga bacain review kalian satu-satu. trus ternyata gak cuma cerita ini doang yang dibaca, di ff lain juga ada yang review jadi bikin aku pengen lanjut cerita yang lain. Ato mungkin kalian ada ide atau mo diskusi masalah ship sama aku juga pm ku terbuka kok, jangan sungkan-sungkan yaa~ Makasih loh kalian yang mo review jadi bikin aku semangat :")