Tittle: Coffee Addict
Main Cast:
- Jeon Wonwoo
- Kim Mingyu
- Min Yoongi
- Jung Hoseok
- Others
.
.
.
Mingyu's POV
.
Jeon Wonwoo. Semula aku tidak mengenalnya. Hanya saja aku sering melihatnya tertidur di sudut perpustakaan kampus setiap kali aku harus mencari buku referensi untuk mata kuliah yang tertinggal. Dia selalu tertidur dengan posisi duduk di atas lantai, menyender pada dinding sambil sebelah lengannya memeluk buku yang mungkin sempat ia baca. Kacamata bulatnya yang bertengger manis di hidungnya seperti akan terjatuh ketika kepalanya mulai terantuk-antuk kedepan.
Aku bukan termasuk manusia penggila buku yang akan menghabiskan waktu luang di tempat bernama perpustakaan. Kehadiran ku di kampus saja dalam sebulan masih dapat dihitung dengan jari. Namun entah kenapa sosok seorang Jeon Wonwoo membuatku selalu menyempatkan diri untuk sekedar singgah di perpustakaan disela-sela kesibukan.
Aku dapat menemukannya sosoknya setiap hari selasa, rabu dan jumat sekitar pukul 11.30am hingga 1.30pm di sudut ruangan paling belakang. Hanya hari-hari tersebut kelasnya selesai lebih cepat. Ada kalanya dia tertidur dan bangun lebih dari pukul 1.30pm dan berakhir dengan berlari terburu-buru menuju cafe tempatnya bekerja paruh waktu. Hari senin dan kamis kelasnya akan selesai cukup sore sehingga aku hanya dapat melihatnya beberapa kali dari sebrang cafe tempatnya bekerja.
Semula aku merasa tidak memiliki perasaan apa pun padanya, hanya rasa penasaran terhadap sosoknya yang terlihat berbeda dari orang-orang yang pernah ku temui selama ini. Namun semakin lama aku menyadari satu hal.
Aku,
.
.
.
.
Kim Mingyu
.
.
.
.
Seorang aktor tampan yang sedang naik daun
.
.
.
.
Adalah...
.
.
.
.
Stalker dari lelaki bernama Jeon Wonwoo?
.
.
.
Hahahahaha
.
.
Aku tidak akan menyangkalnya.
.
.
.
Karena selama ini aku melakukannya dengan sadar.
.
Berawal dari mencari tahu nama, jurusan, jadwal perkuliahannya hingga keadaan keluarganya. Kemudian ketika aku tidak ada jadwal shooting, aku akan mengikutinya hingga ia sampai di tempat kerja paruh waktuya. Begitu juga ketika pulang kerja, aku akan menunggu lima belas menit sebelum jam kerjanya berakhir dan kembali mengkutinya hingga sampai di rumah. Sekedar memastikannya sampai di rumah dengan selamat.
.
Mingyu's POV END
Tetesan air turun semakin deras. Kilatan petir menyambar diiringi dengan suara menggelegar yang menggetarkan kaca perpustakaan. Wonwoo yang saat itu akan berlari menembus hujan mengurunkan niatnya dan memilih berjongkok, memeluk dirinya sendiri di belakang pot tanaman hias di lobby perpustakaan. Salah satu hal yang ia benci di dunia selain kehilangan kedua orang tuanya dan hidup sendiri adalah petir!
.
Kenangan tidak menyenangkan dalam hidupnya selalu dilatari dengan kilat putih dan suara petir yang menggelegar. Wonwoo membencinya. Hingga tanpa sadar membuatnya menjadi trauma yang mendalam.
Kedua telapak tangannya ia gunakan untuk menutup telinga dengan erat. Tubuhnya menggigil bukan karena kedinginan. Ia begitu ketakutan hingga air matanya keluar begitu saja.
Tubuhnya tidak dapat bergerak ketika sebuah coat tebal menyelimuti dan seseorang memeluk tubuhnya dengan erat dari belakang.
.
"Jangan takut. Semua akan baik-baik saja"
Wonwoo terdiam. Ia tidak mengenal pemilik suara husky yang baru saja menyapa pendengarannya. Namun yang ia rasakan saat ini, pelukan lelaki asing itu terasa menenangkan. Tubuhnya tak lagi bergetar. Ia mulai bisa mengendalikan ketakutannya berkat lelaki tak dikenal.
Ada sedikit kekecewaan ketika pelukan itu tidak ia rasakan lagi. Suara petir sudah berhenti dan lelaki itu pergi begitu saja tanpa berkata apapun. Wonwoo hanya dapat menatap punggungnya, lelaki itu berjalan semakin menjauh dengan kemeja putih yang telah basah kemudian masuk ke dalam mobil BMW yang telah menunggunya. Wonwoo memandang coat berwarna creme dan payung yang semula tidak ada di sebelahnya.
Mingyu baru saja akan meninggalkan lobby agensinya sebelum suara baritone menganggu pendengarannya.
.
"Gyu!"
.
"Ya! Aku memanggil mu brengsek"
Mingyu mendengus ketika lengan Min Yoongi atau kerap disapa Suga sudah bertengger manis di bahunya.
"Wae hyung?"
Yoongi mendecih melihat ekspresi Mingyu yang seakan terganggu dengan kehadirannya.
"Temani aku makan malam di dekat sini. Dengan mobil mu"
"Kenapa kau tidak pergi sendiri hyung? Aku sudah ada janji dengan seseorang."
Yoongi memutar bola matanya jengah.
"Beberapa bulan ini kau selalu langsung pulang ketika pekerjaan mu selesai. Kali ini kau harus menuruti ku brengsek"
Mingyu menghela nafas pasrah. Ia kemudian masuk melalui pintu kemudi disebelah Yoongi yang sudah duduk dengan nyaman.
"Kita ke kedai langganan kita dulu"
.
Mingyu hanya menggumam malas karena tidak ada gunanya berdebat dengan seorang Min Yoongi, seniornya di agensi yang entah sejak kapan dekat dengannya. Padahal mereka berdua memiliki karakter yang berbeda. Yoongi yang seorang jenius, perilakunya kasar dan kata-kata yang diucapkannya adalah absolute. Sedangkan Mingyu adalah tipe orang yang santai dan tidak begitu perduli dengan lingkungan sosial.
.
Namun entah mengapa Mingyu merasa lebih nyaman bersama dengan Yoongi. Ia tidak akan menemukan kata-kata manis yang dibuat-buat hanya sekedar untuk mencari perhatiannya. Kata-kata kasar Yoongi terkadang membuatnya menyadari beberapa hal yang semula tidak ia sadari dan menjadikan koreksi baginya untuk memperbaiki diri.
.
Mobil BMW hitam metaliknya berhenti di sebrang kedai tteokbokki yang sudah menjadi langganan mereka sejak jaman trainee. Tidak ada yang berubah dari kedai itu kecuali pengunjung yang semakin banyak berdatangan. Kedua lelaki berbeda tinggi badan itu menyebrangi jalanan yang sudah mulai lenggang meskipun baru pukul 10.30pm.
.
Mingyu berhenti di tengah jalan ketika sosok yang selalu ia fikirkan keluar dari kedai tteokbokki yang sama dengan tujuannya. Hatinya berdesir katika melihat Wonwoo berdiri menyender pada dinding kedai.
.
"Hey bodoh! Apa yang kau lakukan di tengah jalan?"
Mingyu tersadar dari lamunannya berkat teriakan Yoongi dan segera menyusul Yoongi yang sudah berada diatas trotoar.
"Hyung kau masuklah dulu. Aku ada sedikit keperluan."
Yoongi menaikan satu alisnya, "Keperluan apa?"
"Tidak usah banyak tanya. Masuk saja, kka!"
.
.
Yoongi menggerutu namun tetap menuruti perintah Mingyu untuk masuk kedalam kedai terlebih dahulu. Sedangkan Mingyu merasa jantungnya akan copot ketika jaraknya dengan Wonwoo hanya tersisa tidak lebih dari 3 meter.
.
"Jeon Wonwoo?"
.
Wonwoo yang merasa namanya dipanggil mengalihkan perhatiannya dari smartphone yang ia genggam.
.
"Ya?"
Jantung Mingyu berdebar kencang ketika sepasang manik itu menatapnya dalam.
.
Apa yang harus aku katakan? Apa aku harus mengenalkan diri terlebih dahulu? Atau aku harus basa basi menanyakan kabarnya? – Kim Mingyu
.
.
.
Perdebatan sepersekian detik dalam otaknya membuat Mingyu pusing. Lidahnya seakan kelu hanya untuk sekedar memperkenalkan dirinya.
.
"Berkencanlah dengan ku."
Hingga pada akhirnya kalimat bodoh yang terucapkan, membuat ia merutuki mulutnya yang tidak dapat ia kendalikan.
.
.
.
"Kau tidak waras."
.
Matilah kau Kim Mingyu! Sekarang kau sudah di cap sebagai lelaki tidak waras oleh orang yang kau sukai.
Mingyu meringis bodoh, teriris dalam hati. Kenapa kalimat yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata keramat yang akan membuat mu terlihat seperti seorang stalker? Ahh, dia memang stalker.
.
"Bukankah seharusnya kau memperkenalkan diri baru mengajak ku berkencan?"
Kedua manik coklat Mingyu membola. Sepertinya baru saja ia salah dengar.
"Kau yang saat itu meminjamkan coat berwarna creme dan payung bukan?"
Mingyu mengangguk pelan, masih dalam keadaan tidak percaya dengan pendengarannya.
"Kalau ada waktu kau bisa datang ke cafe tempat ku bekerja. Aku akan mengembalikan coat dan payung mu disana."
"Eumm, baiklah..."
.
Belum sempat Mingyu menyelesaikan kalimatnya, Hoseok sudah berdiri tepat di samping Wonwoo. Ia mengamit pergelangan tangan Wonwoo dan menariknya menjauh dari sana.
.
"Kita pulang. Sekarang."
.
.
Wonwoo yang merasakan ada yang tidak beres dengan pamannya hanya dapat mengikuti langkah lebarnya. Ia menengok ke belakang, dimana Mingyu masih memperhatikan Wonwoo yang berjalan semakin jauh. Mingyu baru masuk ke dalam kedai ketika pada akhirnya Wonwoo tak terlihat lagi.
.
Seulas senyum tersemat dan tidak ingin hilang dari wajahnya ketika kata-kata Wonwoo terus terulang seperti kaset rekaman. Mingyu menemukan Yoongi duduk dengan diam sambil menatap meja penuh makanan. Ada yang aneh dengan tatapan matanya yang terlihat kosong. Ada sesuatu yang mengganggunya ketika Mingyu tidak ada disana.
.
"Ada apa hyung?"
Tidak ada sahutan dari Yoongi. Ia terus menatap makanan di hadapannya dengan pandangan kosong. Mingyu mengabaikannya dengan mengambil setusuk odeng dan melahapnya dengan bahagia.
.
"Apa menurut mu aku brengsek?"
Mingyu tersedak odeng ketika pertanyaan random Yoongi mulai keluar dari mulutnya.
"Apa karena aku brengsek maka aku tak pantas lagi untuknya?"
.
Mingyu menyadari satu hal yang luput dari perhatiannya. "Apakah ini semua ada kaitannya dengan Jung Hoseok?"
Yoongi menghela nafas, lalu mengangguk lemah.
"Aku tidak menyangka akan benar-benar bertemu lagi dengannya ditempat ini"
.
.
.
TBC
.
.
Adakah yang nungguin ff ini?
Jangan lupa reviewnya yaa
