Tittle: Coffee Addict

Main Cast:

- Jeon Wonwoo

- Kim Mingyu

- Min Yoongi

- Jung Hoseok

- Others

.

.

.

.

Preview

.

Wonwoo tertegun ketika begitu ia berbalik, seseorang yang selalu muncul di dalam mimpinya kini sudah berdiri di hadapannya dengan buket bunga kesukaannya.

"Si-silahkan"

Wonwoo memberikan satu gelas besar iced americano pesanan wanita di hadapannya dengan tangan gemetar. Tiba-tiba saja ia gugup untuk bertatap muka dengan Mingyu.

"Hi"

Sapaan kaku keluar dari bibir Mingyu.

"Aku datang untuk mengambil payung ku. Apa kau tidak keberatan untuk berbincang dengan ku sepulang kerja?"

Wonwoo mengangguk kaku. Lidahnya terlalu kelu untuk digerakkan.

"Kalau begitu aku ingin satu gelas besar mocca latte float dengan banyak cinta di dalamnya"

Semua orang melihatnya dan menjerit dalam hati, ketika seulas senyum yang begitu manis tersemat di bibir Jeon Wonwoo yang biasa irit ekspresi. Beruntung begi bebrapa pengunjung yang merekam kejadian langka tersebut. Namun lebih beruntung bagi Mingyu karena senyuman itu ditujukan untuknya.

Mingyu duduk di pojok ruangan. Ia tidak ingin ada banyak mata yang menyaksikannya. Dengan gerakan tubuhnya ia meminta pengunjung untuk tidak merekam atau memotretnya. Ia ingin hari ini menjadi hari yang tenang baginya dan Wonwoo.

Preview END


Mingyu duduk dengan tenang di pojok cafe, tidak mengindahkan gangguan-gangguan kecil seperti ada yang diam-diam memotret atau merekamnya meskipun sudah ia minta dengan baik-baik bahwa ia tidak ingin diganggu dengan segala macam kamera. Hari ini ia datang ke Almond Tree Cafe bukan sebagai artis Kim Mingyu yang mengejar mimpinya untuk menjadi seorang bintang papan atas, melainkan seorang mahasiswa biasa yang sedang memperjuangkan perasaannya.

Mingyu sesekali mencuri lihat setiap kegiatan yang Wonwoo lakukan. Ia begitu mengagumi bagaimana profesioalitas kerja Wonwoo, kehadiran Mingyu dan banyak pasang mata yang terus memperhatikannya tidak menurunkan konsentrasinya dalam bekerja. Wonwoo tetap cekatan dengan apa yang ia kerjakan. Senyuman sebagai bentuk formalitas sebagai waiters sesekali terlihat meskipun terkadang masih terlihat kaku.

Pukul 09.00 p.m tepat Jin keluar bersamaan dengan Hoseok dari arah dapur dalam untuk menggantikan posisi Wonwoo dan Minghao di counter. Ia sedikit terkejut melihat adanya gerombolan gadis remaja di luar cafe sedang sibuk dengan smartphone dan kamera-kamera mahal. Jin baru menyadari seseorang yang wajahnya sering menghiasi layar televisi dan surat kabar tengah duduk dengan gelisah sambil mengamati sesuatu atau seseorang di balik counter. Ia mengikuti arah pandang Mingyu dan menemukan Wonwoo yang mulai terlihat sama gelisahnya dengan Mingyu. Instingnya menangkap gosip panas akan segera tersebar.

Wonwoo menyerahkan apron berwarna tawny kepada Jin, telapak tangannya langsung membekap bibir sexy Jin yang baru saja akan berucap.

"Jangan sekarang hyung, besok akan ku jelaskan. Tidak untuk saat ini."

Hoseok yang juga terlihat bingung dengan keadaan cafe yang mendadak sangat ramai dari hari-hari biasanya meminta penjelasan pada Minghao, namun hanya gelengan dan apron yang ia dapat. Minghao mengikuti langkah Wonwoo menuju ruang ganti di dekat dapur belakang.

"Sejak kapan kau mengenal Kim Mingyu?"

Minghao mendadak heboh di dalam ruang ganti. Tatapannya terlihat lapar akan gosip.

"Molla. Hanya begitu saja."

Minghao mendesis sebal karena Wonwoo tidak mau menceritakan dengan jelas, ia tidak menyerah.

"Apa setelah ini kalian akan berkencan?"

"Kau akan menaiki audi mahal di depan cafe?"

Wonwoo yang merasa jengah kemudian menghela nafas dan menatap Minghao dengan tajam.

"Jangan menyebarkan gosip. Besok aku akan menceritakan semuanya, arra?"

Minghao menciut, ia tidak bisa memaksakan untuk bertanya kembali pada Wonwoo jika lelaki itu sudah kembali ke dalam mode emo.

Wonwoo mengancingkan kancing kemeja paling atas kemudian menggulung lengan kemeja sebanyak dua tekukan, membiarkan kaos hitamnya terlihat.

"Aku pulang dulu."

Minghao mengangguk, "Jangan lupa kau masih berhutang cerita."

Wonwoo tidak menjawab. Ia hanya memberikan lambaian tangan lalu menghilang di balik pintu ruang ganti.

Wonwoo menyenderkan punggungnya sejenak didepan dinding ruang ganti. Sejujurnya saat ini perasaan Wonwoo sedang tidak menentu. Lambungnya tiba-tiba saja berkontraksi secara tidak wajar karena terlalu gugup, sedangkan jantungnya berdetak terlalu keras hingga rasanya seperti akan keluar dari rongganya. Ia tidak menyangka seorang Kim Mingyu akan benar-benar mendatanginya. Ia merengkuh papper bag dalam dekapannya, coat dan payung milik Mingyu sudah berada di dalam papper bag yang selalu ia simpan di dalam loker. Tidak menyangka suatu saat akan ia kembalikan pada pemilik sesungguhnya.

Wonwoo menghembuskan nafas, mencoba mengendaikan ekspresinya agar tidak terlihat gugup. Wonwoo keluar dari ruangan staff, arah pandahnya tertuju pada kursi yang semula Mingyu duduki kini sudah kosong. Sepasang manik Wonwoo menyusuri setiap sudut cafe dan mendapati Mingyu sudah menunggunya depan cafe, di samping audi putihnya. Ia melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah, mencoba berjalan senormal mungkin. Hingga akhirnya langkahnya terhenti tepat di depan lelaki tan dengan tubuh tinggi menjulang. Mingyu menyerahkan buket bunga lilly yang ia beli dalam perjalanan menuju cafe kemudian membukakan pintu audinya untuk Wonwoo. Pipi Wonwoo menghangat diperlakukan begitu manis oleh Mingyu.


Setelah dua puluh menit perjalanan dalam kecanggungan, audi putih yang dikendarai Mingyu memasuki halaman parkir restoran. Bukan sebuah restoran mewah seperti yang sering kalian lihat di televisi. Restoran ini berada di salah satu sudut kota, berada jauh dari keramaian, bangunannya terlihat seperti rumah biasa, bergaya minimalis dengan didominasi furnitur kayu mahoni dan dinding berwarna putih gading. Cahaya kuning yang terpancar dari dalam restoran berasal dari bolham yang menggantung di setiap sudut ruangan dan lilin-lilin dalam gelas kaca. Berbagai hiasan lampu bohlam kuning dengan ukuran lebih kecil juga menjalar di pohon oak yang cukup besar di halaman restoran, menambah kesan romantis yang hangat.

Wonwoo berjalan dengan mata berbinar ketika Mingyu membawanya pada salah satu meja di tengah halaman restoran, di bawah pohon oak, dengan lampu-lampu menyerupai lilin yang menggantung manis.

Mingyu tersenyum menatap kekaguman di balik manik rubah Wonwoo. Ia sudah menyiapkan semuanya demi hari ini. Seluruh informasi mengenai hal-hal yang disukai lelaki manis di hadapannya sudah ia peroleh dengan susah payah.

"Dari mana kau tau tempat ini?"

Wonwoo menatap Mingyu dengan binar yang masih melekat di sepasang maniknya.

"Seseorang merekomendasikan tempat ini pada ku."

Bohong.

Mingyu baru saja berbohong mengenai rekomendasi dari seseorang. Pada kenyataannya selama tiga hari di Bali, ketika waktu luangnya dapat ia gunakan untuk berkeliling manikmati pemandangan Bali atau beristirahat, yang ia lakukan adalah mengurung diri di kamar hotel dan mencari restoran yang sesuai dengan kriteria yang ia inginkan. Berbagai situs ia buka, satu persatu review ia baca, sesekali ia akan menghubungi informannya untuk menanyakan pendapat dan berujung dengan makian karena mengganggu tidur malamnya.

Seorang pelayan membawa nampan dengan dua piring putih di dalamnya. Ia menyerahkan carbonara pasta di hadapan Wonwoo dan marinara pasta untuk Mingyu. Binar dalam manik Wonwoo semakin terlihat, sedikit naif karena tidak terbesit sedikit pun fikiran buruk terhadap lelaki tan dihadapannya.

"Kau tau kesukaan ku?"

Mingyu tersenyum kembali, "Aku hanya menebak"

Daging, keju, pasta dan susu. Jangan lupakan junk food dan coca cola. Kau tergila-gila dengan itu semua- Kim Mingyu

Mingyu kembali berbohong dengan wajah tenangnya. Ia mempersilahkan Wonwoo untuk memakan pastanya sebelum dingin.

Wonwoo menikmati hidangan pastanya dengan bahagia. Ia terlalu jatuh cinta dengan semua olahan pasta dan keju. Baginya pasta adalah salah satu hal terbaik dalam hidupnya. Saat Jeon eomma masih hidup, ia sering membuat pasta yang lezat ketika keadaan hati Wonwoo sedang tidak baik. Perasaannya akan setingkat lebih baik di tiap suapan dan akan semakin baik ketika telapak tangan hangat sang eomma mengusap pucuk kepalanya sayang.

"Kau baik-baik saja?"

Ada nada khawatir dari kalimat Mingyu ketika tetesan bening meluncur perlahan dari kepingan hitam Wonwoo.

"Apa aku membuat kesalahan?"

Mingyu berjongkok di sebelah Wonwoo dengan salah satu lutut yang menumpu tubuhnya, Wonwoo terlihat canggung dengan perubahan atmosfer diantara mereka. Ia terkejut dengan reaksinya sendiri ketika teringat kenangannya dengan mendiang sang eomma.

"Apa rasanya tidak cocok dengan lidah mu? Ingin ku pesankan yang lain?"

Wonwoo menggeleng. Ia sedikit menunduk menatap manik coklat Mingyu.

"Gwenchana, aku menyukainya."

Hati Mingyu berdesir melihat senyuman getir Wonwoo. Perasaan untuk melindungi lelaki di hadapannya semakin besar. Ia memberanikan diri menggenggam tangan Wonwoo dengan lembut. Bisa ia rasakan telapak tangan yang lebih kecil dari miliknya perlahan mulai lembab karena keringat dingin.

"Hi, maaf lagi-lagi aku lupa untuk memperkenalkan diri"

Kedua pasang manik berbeda warna saling mengunci satu sama lain. Ada kegugupan yang dirasakan keduanya dikala menanti setiap kalimat yang akan diucapkan lelaki tan.

"Aku, Kim Mingyu—"

.

.

.

"—Lelaki yang sudah lama menginginkan mu menjadi kekasih ku."

.

.

.

.

Mingyu memberi jeda karena terlalu gugup.

.

.

.

"Will you—"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mingyu mengeluarkan kotak beludru kecil berwarna merah entah dari mana kemudian memasangkan cincin emas putih dengan ukiran sederhana di jari manis Wonwoo.

.

.

.

"—marry me?"

.

.

HAH? – Jeon Wonwoo


Hoseok berjalan sendirian di tengah kegelapan malam. Hanya ada lampu-lampu jalanan yang menemani perjalanannya pulang ke rumah. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam hoodie karena udara yang semakin dingin ketika hampir mendekati tengah malam. Beberapa saat lalu Hoseok mendapatkan pesan bahwa Wonwoo akan pulang sedikit terlambat dan mengatakan padanya untuk tidak khawatir.

Bagaimana Hoseok tidak khawatir jika yang membawa keponakannya pergi adalah Kim Mingyu?

Ya, Hoseok mengenal Mingyu sebelum lelaki tan itu mengenal Wonwoo. Tidak ada alasan baginya untuk membenci Mingyu kecuali karena dia adalah teman dekat dari lelaki yang sangat Hoseok benci. Secara tidak langsung Hoseok merasa khawatir, ia tidak ingin keponakan satu-satunya bernasib sama dengannya, dulu.

Hoseok sudah memutuskan untuk tidak berurusan lagi dengan lelaki bermulut tajam yang dulu sempat memporak porandakan hatinya. Ia sudah berusaha memaafkannya sejak tiga tahun lalu. Namun pertemuan tidak sengaja di kedai tteokbokki beberapa hari lalu menyebabkan luka lama kembali menganga. Kejadian-kejadian yang ingin ia lupakan seketika kembali teringat dengan jelas. Hingga ia berhalusinasi melihat lelaki yang ia benci berdiri di depan pagar rumahnya.

Langkah Hoseok terhenti, seketika ia terpaku ketika sosok di depannya juga melakukan hal yang sama. Sosok yang Hoseok lihat saat ini bukan sekedar halusinasinya saja.

"Kau pulang terlambat?"

Suara husky itu. Hosoek sudah lama tidak mendengarnya secara langsung. Ada sedikit rindu bermunculan. Namun rasa sakit lebih mendominasi.

"Apa yang kau lakukan di depan rumah ku—"

"—Min Yoongi-ssi?"

Bibir Yoongi membuka lalu menutup tanpa ada satu patah kata yang terucap, ia melakukannya berulang hingga membuatnya frustasi.

"Jika tidak ada kepentingan sebaiknya kau segera pergi"

Hoseok berjalan melewati Yoongi tanpa memperdulikan tatapan memohon yang ditunjukkan padanya. Ia sudah akan membuka pagar rumahnya ketika—

Grepp

Tubuh Hoseok berjenggit ketika lengan kekar milik Yoongi sudah menyelimuti tubuhnya dan keningnya berada di bahu Hoseok.

"Maafkan aku"

"Ku mohon jangan lagi menghindari ku"

Pelukan Yoongi di punggung Hoseok semakin mengerat, membuat sesak di dadanya semakin menjadi.

Hoseok menangis. Ia tidak tahan lagi. Tubuhnya bergetar menahan suara iasakan yang sesekali berhasil lolos dari bibirnya. Yoongi memutar tubuh dalam dekapannya untuk menghadap ke arahnya. Jemari Yoongi menangkup pipi tembam Hoseok, sedikit mengangkatnya agar ia dapat menatap indahnya manik doe yang sejak dulu hingga saat ini selalu ia damba. Ibu jarinya mengusap lelehan bening di kedua pipinya.

"Berikan aku satu kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita"

"Aku mohon..."

Hoseok yang sempat terpaku dengan kesungguhan Yoongi akhirnya kembali tersadar. Ia mendorong tubuh lelaki salju di hadapannya dengan sisa tenaga yang ia miliki.

"Aku sudah memaafkan mu. Kau bisa pergi hyung"

Yoongi memejamkan matanyanya rapat.

"Apa kau sudah tidak memiliki perasaan pada ku?"

Ia menatap kembali manik doe Hoseok. Manik doe itu bergetar menahan kristal beningnya agar tidak keluar lebih banyak lagi.

".. Ya.."

Ada sebuah senyuman sinis terpatri di bibir Yoongi.

"Kau tidak akan pernah bisa berbohong pada ku."

Yoongi kembali menarik tubuh Hoseok dalam dekapannya. Satu tangannya menahan tengkuk lelaki manisnya, satu tangan lagi ia gunakan untuk mengunci pergerakan.

"Apa yang kau lakukan hyung?" Alarm bahaya berdering nyaring dalam kepalanya ketika secara perlahan wajah Yoongi semakin mendekat. Hoseok yang tidak dapat bergerak hanya dapat memejamkan sepasang maniknya erat.

Ia merasakan sapuan lembut bibir Yoongi. Bukan di bibirnya, melainkan di kening Hoseok, cukup lama. Hoseok tidak berani membuka kembali maniknya ketika bibir Yoongi sudah tidak ia rasakan lagi di keningnya.

"Hei, tatap aku."

Hoseok membuka kembali matanya dengan ragu karena masih merasakan deru nafas Yoongi di hadapannya.

"Aku ingin kau kembali pada ku"

"Bagaimana pun caranya... aku hanya ingin Jung Hoseok"

.

.

END

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tapi boong :'))

Pinginnya sih udah end aja tapi sepertinya masih ada sesuatu yang ngeganjel gitu ya. Menurut kalian gimana nih? Lanjut apa end aja udah?