Disclaimer: seluruh tokoh bukan milik saya. Tidak mengambil keuntungan apa pun dalam membuat fanfiksi ini. Dibuat hanya untuk senang-senang

Main pair: Fang x fem! All elemental Boboiboy

Selamat membaca...

.

[Pick Me; pretty u]

—chapter 5: BLAZE and FANG—

.

Blaze itu sangat kekanak-kanakan.

Dia itu; cengeng, mudah terluka, mudah tersentuh, mudah dibohongi, mudah marah, dan—ah, intinya dia sangat kekanak-kanakan. Boboiboy tertua setelah Halilintar, Taufan, dan Gempa. Hobinya makan permen kapas, pergi ke taman bermain, dan juga dandan. Ya, dia amat sangat feminim dan juga pintar (oh, semua kembar Boboiboy itu pintar—bahkan Taufan yang sebegitu nakal dan Ice yang sebegitu malas pun memiliki IQ yang tak diragukan).

Sebenarnya Blaze itu polos dan lugu. Tidak tahu-menahu tentang cinta dan pria. Tapi, untuk pertama kalinya ia merasakan cinta pada pandangan pertama dengan kakak kelasnya—Fang. Blaze jadi terus mencari informasi tentang; how to be a perfect woman, how to make a man falling in love, dan masih banyak lagi. Biasa, masa-masa pubertas. Bahkan Blaze sampai rela bersaing dengan kembar-kembar yang lain untuk mendapatkan perhatian Fang.

Di hari libur ini, niatnya Blaze ingin mengajak kembar-kembar yang lain pergi ke taman bermain—kebetulan, ia baru saja dapat tiket gratis untuk dua orang. Tapi sepertinya kembaran yang lain tidak bisa. Halilintar yang memang pada dasarnya tidak suka tempat ramai dan sesak penuh manusia, Taufan memiliki acara sendiri dengan teman-temannya, Gempa sedang sibuk mengikuti acara seminar, dan Ice yang terlalu malas untuk diajak bepergian.

Blaze pun berniat mengajak Ochobot untuk pergi. Tapi sepertinya lelaki itu tidak bisa ikut karena harus membantu Tok Aba di kedai. Teman-temannya pun tidak ada yang bisa diajak pergi. Hah, Blaze bingung ingin mengajak siapa.

"Ya sudah, aku pergi sendiri saja." Blaze meyakinkan dalam hati. Ya, selama ini dirinya tidak pernah diperbolehkan pergi sendiri ke mana-mana oleh kembaran yang lain—sebab, Blaze ini orangnya polos bin lugu dan juga tukang nyasar. Kalau dia menghilang bagaimana? Kasihan Tok Aba nanti.

Tapi kini Blaze sudah besar, sudah berani. Maka dari itu Blaze bersiap-siap untuk pergi ke taman bermain.

.

Kini, Blaze berada di halte bus. Ah, dengan bermodal google maps dan juga peta ia memberanikan diri untuk menaiki bus sendirian. Ingatkan, untuk pertama kali. Ia mengatakan ada tugas kelompok yang harus dikerjakan di rumah teman. Ya, sebenarnya memang ada tugas—tetapi kelompok Blaze sudah mengerjakannya kemarin di sekolah.

Sungguh tidak patut dicontoh.

Banyak sekali yang menaiki bus hari ini. Blaze kira bus akan sepi karena ini hari libur, ternyata sama saja. Blaze yang tidak kebagian kursi pun hanya bisa berdiri sembari memegang pegangan agar tidak terjatuh. Matanya menatap gedung-gedung tingkat lewat jendela. Ah, rasanya indah jika tidak berdesak-desakan seperti sekarang. Blaze merasa kepanasan.

Matanya membulat sempurna ketika merasakan pantatnya diremas. Oh, Blaze melirik ke belakang—seorang pria tengah mendekatkan dirinya pada Blaze. Ia merasakan sekarang si pria dengan sengaja menggesekkan penisnya pada pantat Blaze. Demi Tuhan, rasanya Blaze ingin menangis sekarang. Ia berusaha menyingkirkan tangan nakal si pria.

Oh, apa ini azab yang diberikan Tuhan karena dirinya sudah berbohong pada Tok Aba dan yang lainnya? Kalau iya, tolong maafkan kelakuan Blaze, Tuhan. Blaze berjanji tidak akan berbohong lagi pada Tok Aba.

"Jangan sentuh-sentuh, bajingan."

Blaze mendengar suara seseorang. Suara yang tidak asing lagi bagi dirinya. Suara berat yang mampu membuatnya melambung ke atas langit. Ah, suara yang benar-benar Blaze kenal. Perlahan, matanya melirik ke belakang—Ya Tuhan, itu kekasihnya—ah, calon kekasihnya.

"Kak Fang..." Blaze ingin menangis rasanya. Ia ketakutan sejak tadi. Fang yang mendengar panggilan Blaze pun tersenyum, "Tidak usah takut. Ada aku di sini."

Dan detik itu pula, Blaze langsung berhamburan di dalam pelukan Fang.

.

"Sudah, sudah. Jangan menangis lagi. Malu dilihat orang."

Kini, mereka berdua duduk di bangku dekat air mancur. Fang masih sibuk mendiamkan Blaze agar berhenti menangis. Ah, Fang mengerti perasaan Blaze—pasti sangat tidak nyaman. Blaze sendiri nampaknya masih trauma akan kejadian tadi. Kalau saja Halilintar sampai tahu apa yang terjadi, sudah dipastikan si pria di dalam bus tadi sudah tidak sadarkan diri selama satu bulan di dalam rumah sakit.

Fang melihat ada yang menjual cokelat serta permen kapas di seberang sana. Pria berambut raven itu berlari untuk membeli cokelat dan permen kapas untuk Blaze, "Hei, lihatlah Boboiboy. Aku membawakan apa."

Blaze berhenti menangis sejenak. Matanya melirik ke arah Fang yang tengah tersenyum, "Cokelat dan permen kapas!"

"Hiks—terima kasih, Kak." jari-jemari Blaze berusaha memegang makanan pemberian Fang. Ah, makanan manis selalu membuat moodnya menjadi lebih baik.

Fang tersenyum, "Lain kali, jika kejadian seperti itu terjadi lagi, berteriaklah sekeras mungkin."

Blaze pun mengangguk layaknya anak kecil. Mulut mungilnya tengah sibuk mengunyah permen kapas yang diberikan sang ketua OSIS.

"Blaze ingin pergi ke mana? Tumben sekali tidak ditemani yang lain." perlahan-lahan, Fang mulai bisa membedakan para kembaran Boboiboy. Dan Blaze termasuk yang mudah dibedakan karena ciri khasnya yaitu; selalu memakai bando dan hiasan seperti anak kecil.

"Aku ingin pergi ke taman bermain. Tadinya aku ingin mengajak salah satu kembaranku, tapi tidak ada yang bisa. Dan lagi—kalau tidak ditemani sebenarnya aku tidak diperbolehkan pergi." jelas Blaze.

Fang pun mulai bertanya kembali, "Lalu, kenapa kamu bisa pergi sendiri?"

Blaze tersedak. Ah, ia keceplosan. Matanya tidak berani menatap wajah Fang.

"Blaze, jawab aku." ucap Fang dengan nada yang rendah.

Ah, Blaze mana tahan dengan suara Fang yang seperti ini. Ia semakin menundukkam wajahnya ke bawah—sehingga rambut panjangnya yang tergerai bebas pun menutup wajahnya, "A—aku berbohong pada Tok Aba kalau aku ada kerja kelompok di rumah teman."

Begitu rupanya. Fang mengerti, "Dasar anak nakal."

Blaze semakin menundukkan wajahnya. Ah, malu sekali rasanya. Bayangkan saja jika kamu ketahuan melakukan perilaku tidak terpuji oleh orang yang kamu sukai. Fang hanya bisa tersenyum, lalu mengusap lembut pucuk rambut Blaze, "Lain kali jangan begitu lagi, ya."

"I—iya Kak!" jawab Blaze dengan spontan. Oh, dirinya mengingat jika ia punya dua tiket untuk masuk ke dalam taman bermain, "Kak Fang setelah ini ada acara?"

"Hmmm... tidak, tadi aku habis dari perpustakaan kota. Memang ada apa?"

Blaze melebarkan senyum, "Aku punya dua tiket untuk masuk ke dalam taman bermain. Apa Kak Fang mau ikut denganku?"

Fang memasang pose berpikir. Blaze harap-harap cemas; semoga Kak Fang mau diajak bermain. Amin.

"Boleh."

Syukurlah. Blaze bersyukur dalam hati. Terima kasih Tuhan sudah mendengar doaku hari ini.

.

Taman bermain nampak ramai hari ini.

Mata Blaze terlihat berkaca-kaca saat melihat wahana tinggi yang ia nanti-nantikan sejak tadi. Ia ingin naik ini dan itu—ah, terlalu banyak yang ingin ia taiki. Fang di belakang hanya mengikuti ke mana perginya Blaze. Fang sudah tahu sifat asli Blaze; polos dan lugu. Bahaya kalau anak perawan yang satu itu menghilang.

"Kak Fang, ayo kita naik itu!" Blaze menunjuk satu wahana. Fang menganggukkan kepala, "Ayo!"

Dan tanpa sadar, Fang menggenggam lembut jari-jemari Blaze. Dan itu membuat si gadis merona hebat. Karena pada dasarnya, ini adalah pertama kali Blaze digenggam seorang pria selain ayah, Tok Aba, dan Ochobot. Mereka berdua menaiki beberapa wahana. Blaze tertawa sangat lepas, dan Fang senang melihat wajah riang Blaze. Entah kenapa, dirinya jadi mulai akrab dengan beberapa kembar Boboiboy.

"Oh ya, Blaze. Aku ingin bertanya." Fang mulai bertanya pada Blaze.

Yang ditanya pun menyahut, "Iya Kak?"

"Kenapa kamu menyukaiku?"

Blaze menghentikan langkahnya. Terdiam sejenak, Fang yang di sebelahnya pun ikut berhenti. Sang gadis menatap wajah kakak kelasnya yang terpancar sinar matahari, "Karena Kak Fang itu baik dan juga ramah. Oh, ditambah juga tampan! Hehehe."

Fang terkekeh. Ah, jawaban yang sangat polos sekali, "Hahaha, lucu sekali." lalu diusapnya lembut pucuk kepala Blaze.

Tanpa sadar, itu menimbulkan seburat merah di pipi gembil sang gadis.

.

Senja sudah menyapa Pulau Rintis. Itu berarti saatnya Blaze dan Fang untuk pulang.

Mereka berdua kembali menaiki bus—ya, walaupun awalnya Blaze merasa enggan karena masih trauma dengan kejadian tadi siang. Tapi karena ada Fang, kini Blaze mau. Di dalam bus pun sudah tidak terlalu ramai macam tadi, Fang dan Blaze mengambil kursi duduk di tempat yang masih tersisa. Ah, bus kembali dan menaikkan dua orangtua yang sudah sepuh. Tidak ada tempat duduk lagi untuk mereka.

"Kakek, Nenek, silakan duduk di sini." itu suara Blaze. Dengan senyuman secerah mentari ia memberikan kursi duduknya pada orang yang lebih tua.

Fang yang melihat sikap Blaze pun tersenyum. Kemudian ia ikut bangkit dari kursi, "Silakan duduk di sini juga."

"Terima kasih anak muda." nenek dan kakek pun duduk di kursi yang sudah disediakan Blaze dan Fang.

Blaze menatap Fang, "Maaf ya Kak Fang, kita jadi harus berdiri."

"Tidak apa. Justru bagus bukan? Aku bangga denganmu." lalu kembali diusapnya kepala Blaze dengan sayang.

Jantung Blaze sudah berdetak tak karuan sejak tadi.

.

"Terima kasih Kak Fang sudah menemaniku jalan-jalan hari ini."

Kini mereka berdua tengah berjalan di trotoar. Blaze masih tidak menyangka dengan apa yang dialaminya seharian ini. Apa ini hanya mimpi belaka? Bayangkan saja dirinya jalan-jalan berdua dengan orang yang disukai. Fang sendiri nampaknya senang-senang saja, "Sama-sama. Aku tidak menyangka jika kamu orang yang menyenangkan."

"Memangnya aku terlihat seperti tidak menyenangkan?" Blaze tiba-tiba mengerucutkan bibir dengan lucu. Dan menurut Fang itu sangatlah menggemaskan, "Bukan begitu. Habisnya kalian (kembar Boboiboy) terlihat begitu menyeramkan ketika sedang memperebutkanku."

Ah, Blaze menganggukkan kepala. Jika dipikir-pikir mereka memang sangat menyeramkan. Pantas saja Fang selalu lari terbirit-birit. Blaze mendadak tertawa, membayangkan bagaimana lucunya ekspresi sang kakak kelas ketika ketakutan. Fang yang bingung dengan Blaze pun bergidik ngeri, "Blaze... kamu kenapa?"

"Ah... tidak." Blaze menghentikan tawa. Perlahan matanya menatap Fang, "Kak Fang. Apa pun yang terjadi, Kak Fang harus memilihku, ya!"

Fang terkekeh. Ah, masih saja.

"Oh, sudah sampai." ucapan Blaze membuyarkan lamunan Fang. Kini, gadis menggunakan bando itu tersenyum manis, "Terima kasih Kak. Ingin mampir?"

"Terima kasih Blaze. Mungkin lain kali saja." sebenarnya Fang ingin mampir. Hanya saja ia tidak ingin terjadi perang dunia ketiga di rumah Boboiboy bersaudara (oh, bayangkan saja jika kembaran yang lain tahu kalau Blaze bersamanya seharian ini. Bisa-bisa terjadi pertumpahan darah yang ada).

Blaze berlarian ke rumah layaknya anak kecil. Fang terkekeh sejenak melihatnya. Tiba-tiba langkah gadis itu terhenti, lalu ia membalikkan badannya. Fang termenung sesaat menatap wajah Blaze; cantik dan menggemaskan. Langkah gadis itu mendekat perlahan. Fang masih terbuai dengan angan-angannya—sampai ia tidak sadar jika Blaze sudah di hadapannya, dan...

Chu.

"Selamat malam, Kak Fang."

Lalu pertemuan mereka diakhiri dengan ciuman manis di pipi Fang.

.

tbc

Cirebon, 9 Januari 2019 - 12:55 AM

a/n: halo semua. haha maafkan saya terlalu lama melanjutkan fanfik ini /cry. akhir-akhir ini lagi disibukkan dengan jadwal kuliah yang (sangat) padat. terima kasih sudah membaca

luv, Dianzu