VS – chapter 6
VS
Versus
.
Cerita sebelumnya
.
"K-Kyungsoo..." tepat setelah Chanyeol menyebut nama Kyungsoo, ia merasakan bibir hangat menempel di bibirnya. Tangan Kyungsoo juga telah melingkar di lehernya. Dan... Kyungsoo sudah duduk manis di pahanya.
"K-kyung...mmmmph..." Chanyeol tak kuasa mendesah saat menerima ciuman hot dari Kyungsoo. Namja bermata besar ini rupanya begitu ahli dalam urusan berciuman. Ditambah lagi Kyungsoo yang sengaja menggeliat-geliat, membuat adik kecilnya ikut tersengat.
Aroma parfumnya yang eksotis tercium sempurna di hidung Chanyeol. Kulitnya yang halus juga bergesekkan sempurna dengan kulit Chanyeol.
Kyungsoo menguatkan pelukannya di tubuh Chanyeol dan memperdalam ciuman mereka.
'Oh, tidak... ada apa denganku?' batin Chanyeol dengan tubuh makin memanas.
.
Chapter 6
.
'Oh, tidak tidak... aku tidak boleh tergoda...'
Chanyeol menggelengkan kepalanya dengan keras. Ia berusaha menepis semua pikiran dan keinginan kotornya.
Untung saja akal sehatnya masih berjalan.
Tangan Chanyeol berhasil memegangi tubuh mungil Kyungsoo dan mendorong tubuh itu menjauh. "Sepertinya aku harus pulang sekarang."
"Chanyeol..." Kyungsoo memegangi tangan Chanyeol, mencegah namja itu pergi.
"Aku akan bayar wine-nya," ucap Chanyeol sambil berdiri.
"Chanyeol tunggu!" seru Kyungsoo. Namun Chanyeol buru-buru membayar wine yang dipesan Kyungsoo, setelah itu langsung kabur meninggalkan namja mungil yang memandangnya dengan kecewa.
'Sial!' geram Kyungsoo. Rencananya gagal. Dengan hati panas ia menghabiskan seluruh wine yang tersisa, kemudian menangis tanpa suara. Hatinya kecewa bukan kepalang. Kyungsoo bahkan membiarkan para namja genit meggodanya dan bebas menyentuhnya malam itu.
.
.
Hari ini Chanyeol menyempatkan diri diam-diam mendatangi ruang tes Baekhyun. Ia sungguh ingin tau bagaimana keadaan kekasihnya itu. Apakah Baekhyun baik-baik saja? Apakah topik yang diusulkannya kepada panita tes itu terlalu sulit bagi Baekhyun?
Oleh karena itu, selesai menghadiri rapat dengan para editor, ia langsung ke tempat tes. Para panitia tes tentu kaget dengan kehadiran sang presdir. Banyak yang baru tau mengenai Chanyeol. Mereka berbisik-bisik mengenai presdir baru yang ternyata tampan sekali. Chanyeol sadar ia tak memakai kacamata dan maskernya. Dengan kata lain, ia sudah membuka kedoknya kepada beberapa orang di tempat ini. Namun ia berusaha cuek karena ingin menengok Baekhyun.
Dari pojok ruangan, sengaja bersembunyi di antara orang-orang, mata besar Chanyeol langsung berkeliling mencari sosok yang dicarinya. Chanyeol memang menolak untuk berkeliling ruang tes dengan alasan takut mengganggu. Ia hanya berdiri di pojok ruangan, bersembunyi di antara orang-orang. Untung saja tubuhnya yang tinggi itu mampu menjangkau ke seluruh ruangan tanpa halangan.
'Tap'
Chanyeol tersenyum senang saat akhirnya melihat sosok yang dicarinya. Baekhyun tampak duduk serius di depan komputernya dan lincah memainkan mouse serta keyboard.
'Fighting Baekhyunee!' batin Chanyeol.
.
.
Baekhyun berlari senang ke arah Chanyeol yang telah menunggunya di depan Park corp seperti biasa. Wajahnya tampak cerah dan senyum mengembang di bibirnya.
"Chanyeolie!"
"Baekie, kau tampak senang. Bisa mengerjakan tesnya?"
Baekhyun mengangguk sambil meraih lengan Chanyeol. "Topiknya mengenai membuat 12 efek superpower. Aku membuat efek api, air, angin, petir, cahaya, ummm..." Baekhyun meletakkan telunjuknya di bibirnya, mengingat ingat efek apa lagi yang dibuatnya.
Chanyeol ikut tersenyum melihat kekasihnya yang cute itu. Tangannya langsung mengacak-acak rambut Baekhyun. "Kau telah melakukan yang terbaik. Sebagai hadiahnya, bagaimana kalau hari ini kutratir?"
"Jinja?"
"Ne!" Chanyeol mengeratkan tangan Baekhyun yang sedaritadi sudah melingkar di lengannya. "Kajja!"
.
Berbeda 180 derajat dari Baekhyun, Kyungsoo tampak kacau. Matanya merah akibat kemarin mabuk-mabukkan sehingga kurang tidur. Matanya semakin merah karena Kyungsoo sedari tadi menangis. Ia membenamkan wajahnya di meja Kai sambil terus terisak.
Ia tak bisa menyelesaikan tes dengan baik. Seharusnya dengan kemampuannya ia mampu mengerjakannya. Namun karena otaknya yang memikirkan banyak hal, kepalanya yang pusing, ditambah lagi dirinya yang kurang tidur, membuatnya tak bisa berpikir jernih.
"Kyungie!" suara Kai menyadarkan Kyungsoo dari tangisannya.
"Kenapa kau menangis?" Kai langsung mendatangi Kyungsoo yang duduk menangis di meja kerjanya. Ia sendiri tak menyangka menemukan Kyungsoo di ruangannya sambil menangis.
"Hiks..hiks... Kai..."
"Apa yang terjadi Kyung? Ceritakan padaku."
"Hiks... a-aku..." Kyungsoo mengelap air matanya. Ia pun tiba-tiba mencengkeram lengan Kai.
"Tolong aku Kai. Jebal... Kali ini kau harus menolongku... Jebal... Jebal..." Pintanya sambil menatap mata Kai dengan intens.
Kai memandang namja di depannya dengan heran. "S-sebenarnya ada apa? Aku pasti menolongmu," balasnya sambil mengelus rambut Kyungsoo.
"Kai, tolonglah aku. Tolong lakukan segala cara untuk menolongku. Aku harus dapat promosi jabatan itu! Aku tidak mau jadi karyawan rendahan terus. Jebal Kai... Jebal tolong aku..." ucap Kyungsoo sambil menggoyang-goyangkan lengan Kai.
"T-tunggu dulu Kyung. Coba jelaskan padaku apa yang terjadi."
Kyungsoo pun akhirnya menceritakan masalahnya. Ia berbohong bahwa ia sakit dan tidak bisa berkonsentrasi saat tes. Dengan wajah penuh harap ia terus merayu Kai agar mau membantunya.
"Aku hanya memiliki dirimu, Kai. Please tolonglah aku. Jika aku berhasil jadi asistenmu, tentu kau juga yang senang kan?" Kyungsoo perlahan mendorong tubuh Kai ke arah sofa yang ada di pojok ruangan. Kai pun jatuh terduduk, dan Kyungsoo langsung duduk di atas tubuh manajer muda itu.
"Kenapa kau tak menjawabku? Kau mau membantuku kan?" tanya Kyungsoo sekali lagi, kali ini tepat di telinga Kai, dan dengan nada seductive. Tangan kecilnya telah berada di dada Kai, menelusup ke dalam kemejanya.
"Uughh, K-kyungg..." Kai mulai terangsang dengan sentuhan dan hembusan napas Kyungsoo. Tangannya meraih pinggang kecil Kyungsoo dan membawa namja itu semakin dekat dengannya. Tak menyia-nyiakan Kai yang sudah tergoda, Kyungsoo langsung meraih bibir Kai dan menciumnya dalam-dalam. Tak lupa tangannya ikut membuka satu per satu kancing kemeja Kai. Kai pun melakukan hal serupa. Tak heran dalam hitungan detik baju keduanya telah berserakan di lantai.
"Sentuh aku," ucap Kyungsoo yang langsung dijawab dengan tangan Kai yang bermain dengan sesuatu di balik celananya.
"Kaaai... oooouh..." Posisi mereka kini terbalik. Kyungsoo terbaring lelah di atas sofa, dengan Kai menimpa dirinya. Sepertinya sofa Kai lagi-lagi jadi korban aktivitas mereka. Untung saja Kai sudah mengganti sofa beludrunya dengan sofa kulit sehingga lebih mudah membersihkan sisa-sisa aktivitas mereka.
"Kyungie, aku mencintaimu..." Seucap kata cinta terlontar dari bibir Kai. Kyungsoo hanya tersenyum kecil.
"Buktikan cintamu. Kau akan membantuku mendapatkan jabatan itu kan?"
"Tentu sayangku."
.
.
Keesokan harinya, pagi-pagi benar Kai sudah mendatangi Chanyeol. Pasalnya, ia sudah mendatangi manajer Shin menanyakan siapa yang menilai hasil tes dan manajer Shin bilang ia tidak tau menahu. Kai pun akhirnya terpaksa mendatangi Chanyeol karena setau dia, materi tes kemarin berasal dari usulan Chanyeol. Jadi, siapa tau Chanyeol tau mengenai tim penilai.
"Kai? Tumben sekali kau mendatangiku?" Chanyeol yang baru saja sampai sempat heran dengan sosok Kai yang menunggu di depan kantornya.
"Annyeong hyung!" sapa Kai sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Itu... Aku hanya ingin bertanya satu hal padamu."
"Apa itu? Ayo masuk." Chanyeol mengajak Kai masuk ke kantornya. Kai mengikuti dari belakang.
"Jadi? Apa yang mau kau tanyakan?"
Kai menghembuskan napasnya sebelum mulai bicara. "Hyung..., hyung tau kan bahwa di divisiku kemarin mengadakan tes."
Chanyeol mengangguk.
"Nah, aku hanya ingin tau hasilnya. Apa kau yang memeriksa hasil tes itu?" lanjut Kai.
Chanyeol menggelengkan kepalanya. "Aku menyerahkan semuanya kepada para editor. Mereka punya selera lebih bagus."
"Editor? Nugu?"
"Kau bisa bertanya pada Mrs. Lee, salah satu senior editor di sini."
"Aaah, Mrs. Lee? Baiklah. Gomawo hyung," kata Kai sambil tersenyum senang.
.
.
Kai tersenyum puas melihat hard disk hasil peserta tes kemarin. Tak sia-sia ia merayu Mrs. Lee untuk menyerahkan seluruh wewenang penilaian kepadanya. Kai berargumen bahwa posisi yang ditawarkan adalah sebagai asistennya. Oleh karena itu, yang harus dipilih haruslah orang yang sesuai dengan style Kai.
Mrs. Lee sempat menolak dengan alasan presdir telah menyuruhnya sebagai penilai. Namun dengan sedikit (maksudnya banyak mengedipkan mata) dan menunjukkan otot-otot seksinya, ditambah dengan rayuan ber-jam-jam, akhirnya Mrs. Lee luluh padanya.
"Huh, aku tidak membutuhkan benda ini lagi!" Kai menyambungkan hard disk itu ke komputernya, lalu menghapus semua file di dalamnya. Setelah itu ia membuka daftar para peserta, lalu secara random Kai menempatkan nama-nama itu ke list urutan yang sudah dibuatnya. Urutan nomor 1, tentu saja Do Kyungsoo.
.
.
Banyak mata menatap papan pengumuman dengan tidak percaya, termasuk Baekhyun. Ia bahkan membaca berulang kali untuk memastikan bahwa namanya hanya terdapat di urutan ke 32 dari 51 peserta. Temannya yang lain pun juga tampak kaget. Ada yang kaget karena senang, namun ada yang kaget karena kecewa.
Baekhyun meninggalkan papan pengumuman itu dengan kepala tertunduk. Ia berjalan lesu kembali ke meja kerjanya. Di tengah jalan, tak sengaja ia bertemu Kyungsoo yang memandangnya dengan senyum mencela.
"Chukkae," kata Baekhyun pelan.
"Ternyata hanya segini kemampuanmu. Cih, kau seharusnya berusaha lebih keras lagi," balas Kyungsoo puas.
Dari kejauhan, seorang namja melihat semua kejadian itu di balik kacamata hitamnya. Namja itu memegangi dadanya seakan turut merasakan kekecewaan namja cantik yang baru saja kembali ke ruangannya.
"Presdir Park."
"Ah!" Namja berkacamata hitam itu kaget ketika ada orang yang memanggilnya.
"Apa Anda ada keperluan di sini?" sambung orang itu lagi yang tak lain adalah manajer Shin.
"O-oh, aku hanya ingin tau hasil tes karyawan di divisi ini."
"Oooo, hasil tes promosi jabatan itu? Peringkat pertamanya adalah Kyungsoo-ssi. Mulai besok dia akan naik jabatan jadi asisten manajer."
"Begitu ya? Terima kasih manajer Shin. Kalau begitu aku kembali dulu," sahut Chanyeol. Ia berbalik untuk kembali menuju ruangannya.
'Kyungsoo?' Chanyeol mengernyit heran mendengar nama itu disebut. 'Bukankah sehari sebelum tes dia mabuk berat? Bagaimana bisa dia dapat peringkat 1?'
'Ini aneh,' batin Chanyeol lagi. Namun ia merasa tak mau mencari tau hal ini. Baginya, asalkan Baekhyun tetap bekerja di sini, ia sudah lega.
.
.
Sudah seminggu ini Baekhyun pulang malam. Ia terpaksa lembur gara-gara diberi tambahan pekerjaan oleh manajer dan asisten manajernya yang tak lain tak bukan adalah duet Kai-Kyungsoo.
Rasanya, ingin sekali protes dan marah-marah. Namun Baekhyun sadar jika dia nekat marah-marah, dia berpotensi untuk dipecat. Dia tak punya kuasa apa-apa. Jika dia resign-pun, perusahaan tak akan mempermasalahkannya karena masih banyak orang hebat yang mengantre untuk bekerja di Park corp. Baekhyun masih mau bekerja di salah satu perusahaan IT terbesar di dunia ini. Susah payah ia diterima di sini. Jadi, solusi terbaik saat ini adalah tetap tenang dan mengerjakan tugasnya dengan baik. Jika dia tenang, toh seharusnya setumpuk pekerjaan ini akan cepat selesai.
'Drrrt...ddrrrrt' ponselnya bergetar. Baekhyun melihat nama Chanyeol di layar. Ada rasa bersalah juga karena dia selalu menolak ajakan Chanyeol pulang bersama gara-gara harus lembur.
"Chanyeolie?"
"Kau belum pulang?"
"Ne. Kebetulan karena besok weekend, aku mau menyelesaikan sisa pekerjaanku hari ini. Jadi, besok aku bisa istirahat."
"Ini sudah hampir jam 9, Baek. Apa masih banyak? Kau sudah makan kan?" suara Chanyeol terdengar sangat khawatir.
Baekhyun sendiri tak sadar ternyata sudah semalam ini. Ia melirik ke jam tangannya dan ternyata 5 menit lagi jam 9 malam.
"Aku sudah makan cemilan. Sebentar lagi aku pulang."
"Kalau kau capek, pulang saja," kata Chanyeol. "Ah, bagaimana kalau aku menjemputmu?" lanjutnya.
"Eh? Tidak usah-tidak usah. Aku bisa pulang sendiri. Maaf membuatmu khawatir, Yeolie."
"Benar tidak apa-apa? Hati-hati pulang malam. Saranghae..."
"Hihihi..." Baekhyun terkikik kecil. Kata terakhir dari Chanyeol seperti membuat energinya terkumpul kembali. "Nado."
Chanyeol ikut terkikik mendengarnya. Tentu saja Baekhyun harus tau bahwa Chanyeol sangat sayang pada dirinya. Yang tidak Baekhyun tau adalah bahwa sebenarnya Chanyeol meneleponnya dari kantornya.
Yah, sudah seminggu ini Chanyeol juga ikut pulang malam. Pulang lebih malam dari Baekhyun bahkan. Chanyeol sengaja menunggu kekasihnya untuk memastikan bahwa Baekhyun tidak pulang terlalu larut. Untung saja selama ini ketika Chanyeol pulang malam, Baekhyun sudah pulang duluan. Itu artinya, Baekhyun-nya tidak pulang terlalu larut.
.
Sama seperti hari sebelumnya, tepat pukul sepuluh Chanyeol keluar dari ruangannya, kemudian turun ke lantai 5 dan mampir di ruangan Baekhyun. Ia mengernyit heran melihat ruangan itu masih terang. Itu artinya masih ada orang di dalamnya. Sambil terburu-buru memakai kacamata dan maskernya, Chanyeol membuka pintu dengan kartu akses yang dimilikinya.
Ruangan ini sepi, tidak ada suara satupun. Namun kenapa lampunya masih menyala? Seluruh ruangan di Park Corp dilengkapi dengan lampu yang bisa menyala-mati otomatis karena sensor. Jika masih ada orang di dalamnya, maka lampu otomatis akan menyala.
Dengan perlahan Chanyeol masuk menelusuri deretan cubicle tempat karyawannya bekerja. Yang ditujunya tentu saja meja Baekhyun. Walaupun selama ini jika Chanyeol mampir ke ruangan Baek dia hanya berdiri di dekat pintu masuk, namun ia tau benar di mana meja kekasihnya itu.
'Tap' Langkah tanpa suara Chanyeol terhenti saat melihat Baekhyun masih di mejanya, namun dalam posisi menelungkup di meja. Baekhyun ketiduran.
Ingin sekali saat ini juga Chanyeol memeluk atau paling tidak mengelus rambut sang kekasih. Namun ia tak boleh sampai membangunkannya.
'Ini sudah malam. Bagaimana aku membangunkannya?'Chanyeol memutuskan untuk keluar dan menelepon Baekhyun dari luar. Berharap bahwa Baekhyun terbangun dengan dering teleponnya.
Benar saja, setelah tiga kali menelepon, Baekhyun akhirnya mengangkat ponselnya.
"Sudah pulang sayang?"
"Eh?" Baekhyun yang baru terbangun jadi kaget dan panik. "Y-yeolie? I-itu..."
"Kau belum pulang?!" Chanyeol meninggikan nada bicaranya seakan-akan kaget.
"A-aku... ya ampun, aku ketiduran. Jam berapa ini? Oh oh sudah jam sepuluh lebih. Sebentar lagi bus terakhir akan datang..." Suara Baekhyun tampak panik. Ada bunyi keyboard komputer dan juga laci meja. Mungkin Baekhyun sedang beres-beres.
Chanyeol melenguh mendengar Baekhyun yang panik sendiri. "Tunggu sepuluh menit. Aku akan menjemputmu. Tunggu aku di pintu masuk. Jangan pulang sendiri. Ini sudah malam. Arasseo?"
"Eh?"
"Tidak ada penolakan, Baek. Tunggu aku di lobi sepuluh menit lagi." Dan Chanyeol pun buru-buru turun ke lobi.
.
.
Mati satu tumbuh seribu.
Selesai pekerjaan satu, datang lagi pekerjaan lain yang tak habis-habisnya.
Sepertinya hal di atas tepat sekali untuk menggambarkan Baekhyun saat ini.
"Pfiuh..." Baekhyun kembali mendesah saat mendapat pekerjaan lagi. Kali ini karena Park corp akan meluncurkan produk baru. Bukan rahasia lagi kalau sebentar lagi Park corp yang bekerja sama dengan perusahaan asal Cina, Wu corp akan meluncurkan ponsel pintar baru.
Pekerjaan asli saja sudah banyak, dan itu akan bertambah banyak lagi jika kau punya manajer yang tidak bisa apa-apa (dan juga asisten manajer yang malas-malasan). Pekerjaan Baekhyun pun jadi 2 kali lipat.
Bukan hanya Baekhyun yang kesal, tampaknya Chanyeol bahkan lebih kesal. Bukan karena ia harus ikut pulang malam, tapi ia lebih mencemaskan keadaan kekasihnya yang semakin kurus dan kurang tidur itu. Setelah berpikir semalaman, akhirnya pagi ini Chanyeol memutuskan untuk bicara pada manajer Shin. Chanyeol ingin mengusulkan untuk menambah karyawan saja. Tak masalah menambah sepuluh orang langsung, asalkan kekasihnya tidak tersiksa.
Baru saja sampai di depan ruangan manajer Shin, Chanyeol sudah mendengar suara lelaki setengah baya itu marah-marah.
"Ini peringatan pertamamu Baekhyun. Kalau aku melihatmu tidur lagi di tengah jam kerja, aku akan langsung memecatmu!"
Chanyeol shock berat mendengarnya. Baekhyun mau dipecat?
Lalu terdengarlah suara Baekhyun minta maaf. "Maafkan aku manajer Shin. Ini tidak akan terulang lagi. Aku minta maaf..."
Mendengar suara kekasihnya, rasanya hati Chanyeol makin sakit saja.
"Baru jam segini saja sudah tidur, jangan-jangan kemarin malam kau pergi ke klub malam?!"
Chanyeol menggeram marah mendengarnya. Enak saja ada orang yang menuduh pacarnya. Namun Chanyeol tak bisa serta merta mendobrak pintu di depannya ini. Ia memutuskan untuk menyingkir dan menunggu Baekhyun keluar dari ruangan manajer Shin.
Betul saja, tak lama kemudian sosok namja mungil keluar sambil menunduk. Pundaknya naik turun dan Chanyeol bisa mendengar suara isakan pelan.
'Kau berani membuat Baekhyun menangis?!' Tanpa menunggu lama, Chanyeol masuk ke ruangan manajer Shin dan menutup pintunya rapat-rapat. Manajer Shin tentu saja kaget mendapat kunjungan mendadak dari sang presdir.
"Kulihat kau baru saja memarahi seorang karyawan?"
"Ah, itu karena dia tidak disiplin presdir Park. Aku menangkap basah dirinya sedang tertidur."
"Kau marah-marah tanpa mengecek banyaknya pekerjaannya. Mungkin saja itu karena kau terlalu banyak memberinya pekerjaan."
"Tidak. Aku tidak memberikan pekerjaan tambahan padanya. Semua karyawan mendapat jatah yang sama."
Chanyeol terdiam mendengarnya. Kalau begitu, kenapa Baekhyun sampai lembur segala? Kekasihnya itu juga bilang jika pekerjaannya jadi lebih banyak... Ah tunggu! Sepertinya Chanyeol melupakan nama Kai dan Kyungsoo. Bukankah dulu Baekhyun pernah bercerita tentang manajernya yang suka memberinya limpahan pekerjaan?
"Aish!" Chanyeol mendesah kesal. Ia tak bisa marah-marah dengan manajer Shin. Oke, kalau begitu, kembali pada rencana awalnya.
"Kupikir sudah waktunya kita menambah karyawan."
Manajer Shin memandang Chanyeol heran. Jabatan setinggi presdir seharusnya tidak pernah mengurusi masalah penambahan karyawan. Entahlah rasanya akhir-akhir ini sikap presdirnya jadi aneh. Mulai dari ikut campur dalam urusan tes kenaikan jabatan karyawan dan sekarang tentang penambahan karyawan? Harusnya presdir itu mengurus hal lain yang lebih penting. Kerja sama dengan Wu corp misalnya.
"Jangan bertanya kenapa. Pokoknya aku ingin divisimu ini menambah minimal sepuluh orang, lalu kurangi pekerjaan karyawan lama. Kurasa instruksiku sudah jelas."
"Dan satu lagi, mulai sekarang yang berhak memecat karyawan di sini adalah presdir. Jadi, kau tidak berhak asal pecat orang."
Selesai bicara, Chanyeol pun langsung keluar tanpa melihat wajah manajer Shin yang semakin mengernyit penuh tanya.
.
.
Saat ini Chanyeol berada di sebuah bakery yang terletak di samping Park corp. Ia bermaksud membeli roti dan kopi untuk kekasihnya. Chanyeol baru saja menelepon Baekhyun dan mendapat kabar bahwa Baek mau lembur lagi hari ini. Chanyeol jadi kesal. Sepertinya besok ia harus mendatangi lagi manajer Shin untuk memberi aturan larangan lembur.
Sedang asik menunggu pesanan kopinya jadi, Chanyeol mendengar sekelompok orang sedang ngobrol. Oww tentu saja Chanyeol bukan tipe orang yang suka curi dengar pembicaraan orang lain, kecuali: mereka menyebut-nyebut nama Baekhyun.
"Apa kau tau kalau Baekhyun-ssi dimarahi manajer Shin tadi pagi?" tanya namja pertama.
"Ah, iya aku mendengarnya. Kasihan sekali dia. Padahal itu kan karena Baek lembur hampir setiap hari gara-gara diberi tugas tambahan oleh Kyungsoo," jawab namja kedua.
"Dan ngomong-ngomong tentang Kyungsoo, aku tak percaya dia bisa dapat peringkat satu tes kenaikan jabatan kemarin. Uhmm, bukan maksudku meragukan kemampuannya, tapi..." belum selesai namja pertama bicara, namja kedua sudah menyelanya.
"Aku tau kekecewaanmu hyung. Aku juga kaget kau bisa dapat peringkat terakhir."
"Sebenarnya, aku curiga ada yang salah dengan hasil tes kemarin. Maksudku, sebenarnya aku cuma mengerjakan 5 efek superpower yang diminta, tapi ternyata aku bisa masuk 10 besar. Sedangkan hyung yang selesai mengerjakan semuanya justru dapat peringkat terakhir," ucap namja ketiga kepada namja pertama.
Chanyeol tak sempat mendengar kelanjutan obrolan mereka karena pesanan kopinya sudah jadi. Namun dalam hati Chanyeol bertekad akan menyelidiki keanehan ini.
'Sepertinya aku jadi paham dengan semua yang terjadi,' batin Chanyeol.
.
TBC
.
Halo readers, mianhae baru sempat menyapa.
Terima kasih buat yang mau baca fic ini, terutama buat readers yang menyempatkan menulis review. Maap kalau ngga bisa balas pertanyaan-pertanyaan review. Bukan karena apa-apa, tapi ngga seru kalau kasih spoiler ceritanya. Hohoho.
See u at next chap
