VS – chapter 8
VS
Versus
.
Cerita sebelumnya...
Menunggu setengah jam tanpa hasil membuat Chanyeol panik. Apalagi pesan singkatnya dua jam yang lalu juga belum dibalas Baekhyun.
'Kalau ke toilet seharusnya tidak selama ini,' pikir Chanyeol.
'Atau dia dimarahi manajer Shin lagi?' lanjutnya lagi dalam hati.
Lima menit kemudian Chanyeol memutuskan untuk menelepon Baekhyun saja.
"Baek?" seru Chanyeol langsung saat mendengar bunyi panggilan diangkat.
"Oh, Anda mencari Baekhyun?" Alih-alih mendengar suara sang kekasih, Chanyeol malah mendengar suara yeoja.
"Si-siapa Anda?" tanya Chanyeol dengan kening berkerut.
.
Chapter 8
.
"Aku seorang dokter," jawab suara di seberang. Chanyeol mengernyit bingung. Namun hatinya merasa cemas.
"Kebetulan sekali kau menelepon. Apakah kau temannya Baekhyun-ssi?" tanya dokter itu lagi.
"N-ne."
"Baekhyun-ssi saat ini sedang di klinik Park corp. Dia demam dan mendadak pingsan tadi pagi."
"MWO?" Chanyeol kaget setengah mati mendengar kabar ini. Matanya membelalak. Tanpa diperintah, kakinya langsung melangkah secepat kilat ke arah klinik perusahaan yang berada di lantai bawah. Ia tak mendengarkan jelas penjelasan dokter di telepon. Ia hanya fokus berjalan cepat.
Sesampainya di klinik, Chanyeol langsung masuk tanpa izin. Ia semakin panik saat melihat Baekhyun yang begitu pucat sedang tidur di atas kasur. Seorang yeoja berjas putih sedang memberikan gel kompresan di samping Baekhyun.
"Apa kau temannya Baekhyun?"
Chanyeol mengangguk. Wajahnya yang panik langsung disambut senyuman hangat dari dokter itu. "Tenang saja, dia hanya tertidur. Dia demam dan kelelahan. Tadi Baekhyun-ssi sudah sempat sadar. Setelah makan sedikit dan minum obat penurun deman, aku memberinya obat tidur agar ia bisa istirahat. Sepertinya ia sangat kelelahan. Tensinya rendah dan wajahnya pucat."
Chanyeol mengangguk paham dengan penjelasan panjang lebar dari sang dokter. Namun saat ia bermaksud mendekat dan sekedar mengelus sang kekasih, ponselnya bergetar.
"Aish...," Chanyeol merutuk sebal. Rupanya itu telepon dari sekretarisnya yang melapor bahwa anak presdir Wu ingin bicara dengan Chanyeol. Chanyeol pun teringat bahwa ia memang sudah ada janji online call dengan Kris.
Chanyeol terpaksa harus pergi. Setelah menyampaikan pesan kepada dokter klinik jika ada apa-apa harap segera menghubunginya, Chanyeol pun pamit pergi.
Mata Chanyeol menyipit ketika melihat sesuatu yang menyilaukan matanya saat berjalan kembali ke ruangannya. Menyilaukan mata? Ugh, itu hanya kiasan. Tapi apa yang baru saja dilihatnya memang benar-benar menyilaukan: Kyungsoo sedang bergelayutan mesra di lengan Kai, sedangkan Kai melingkarkan tangannya di pinggang Kyungsoo. Keduanya sedang bersenda gurau sambil menunggu naik lift. Chanyeol yang mengantre tepat di belakang mereka pun sengaja berdehem keras.
"Ehem!"
Kai dan Kyungsoo kontan berbalik melihat siapa yang mengeluarkan suara aneh tersebut. Keduanya kaget saat melihat sosok Chanyeol berdiri dengan pandangan curiga. Kyungsoo buru-buru melepaskan gelayutannya, begitu juga Kai.
"Oh, jadi begini kelakuan manajer dan asistennya? Kencan pada jam kerja eoh?" sindir Chanyeol.
Kyungsoo langsung menggelengkan kepalanya dan menyahut "Bukan-bukan begitu. K-kami hanya teman. Iya, hanya teman."
Chanyeol tersenyum menarik ujung bibirnya. Sedangkan Kai tampak kecewa dengan jawaban Kyungsoo.
.
.
"Chanyeol? Kau masih mendengarkanku kan?" Suara dari seberang membuat Chanyeol tersadar dari pikirannya. Oh gosh, demi apa dia mendadak blank di saat sedang bertelepon dengan Kris membicarakan masalah penting peluncuran produk mereka.
"O-oh maaf Kris. Aku sedang memikirkan...umm... kekasihku. Dia sedang sakit."
"Ah, ternyata itu masalahmu. Wow, kau romantis juga ternyata."
"Bukan begitu. Aku mendadak mendapat kabar jika kekasihku sakit bahkan sampai pingsan, namun aku belum sempat melihat keadaannya."
"Aku bisa mengerti. Lebih baik kau urus saja kekasihmu itu. Aku juga begitu panik saat Tao sakit. Aku malah sampai tidak masuk kerja karena Tao sangat manja."
"Tao? Nugu?"
"A-ah itu nama tunanganku. Hahahaha" Kris tertawa di seberang sana."Jadi, tunggu apa lagi, kau harus menjaga kekasihmu seharian ini supaya dia tidak marah."
"Hey-hey, Baekie tidak manja seperti Tao-mu itu. Aku tau akhir-akhir ini dia bekerja keras demi peluncuran produk kita ini, tapi dia sama sekali tak pernah mengeluh."
Kris mengernyit mendengar Chanyeol. "Tunggu! Peluncuran produk KITA? Kekasihmu bekerja satu kantor denganmu?"
"U-mm," jawab Chanyeol sambil mengangguk.
"Kalau begitu, itu salahmu sendiri kenapa kau tega membuatnya bekerja keras. Harusnya kau sebagai presdir tidak memberinya pekerjaan yang berat tau!"
"I-tuu... Ummmm, sebenarnya sampai sekarang Baek belum tau kalau aku presdir baru menggantikan ayahku. Kami sudah lama berteman saat kuliah dulu. Dan beberapa bulan yang lalu kami tak sengaja bertemu lagi saat aku balik dari Amerika. Kau tau lah, first love in the first sight. Dia begitu manis dan cute... eh? Kenapa aku jadi bicara ini denganmu?" Chanyeol jadi salah tingkah sendiri.
Kris tertawa melihatnya. "Hahahaha, aku seperti sedang menonton drama. Aku sudah tak sabar bertemu kalian berdua. Nanti akan kukenalkan dengan Tao juga. Sampai bertemu besok lusa di Seoul, Chanyeol!"
Seusai menutup telepon dari Kris, tanpa buang waktu Chanyeol langsung menuju ke klinik lagi. Masa bodoh dengan pekerjaannya hari ini. Ia sudah titip pesan pada sekretarisnya jika ia izin pulang cepat.
Di klinik, ia mendapat kabar bahwa Baekhyun belum bangun. Demamnya juga belum turun. Chanyeol sedih melihat Baekhyun-nya masih terbaring lemah di tempat tidur. Wajahnya pucat dan berkeringat. Chanyeol jadi cemas.
Chanyeol memutuskan untuk membawa Baekhyun pulang saja. Dokter bahkan berpesan jika sampai besok demamnya belum turun lebih baik Baekhyun dibawa ke rumah sakit, membuat Chanyeol jadi makin panik.
'Kriet' Chanyeol membuka pintu apartemen Baekhyun dengan sedikit susah payah karena kedua tangannya digunakan untuk menggendong Baekhyun.
Apartemen tempat Baekhyun tinggal tidak besar, namun cukup untuk ditinggali 1 orang. Hanya ada 1 kamar tidur di apartemen ini. Baekhyun memang tinggal sendirian. Keluarganya tinggal di Bucheon. Dia tinggal sendirian di Seoul karena pekerjaannya.
"Kasihan Baekhyunee..." Chanyeol telah membaringkan kekasihnya itu ke atas tempat tidur. Tangan besarnya menyingkap poni Baekhyun yang telah basah oleh keringat.
"Kau keringatan dan wajahmu pucat." Chanyeol menatap bulir-bulir keringat yang membasahi wajah pucat Baekhyun.
"Tapi ini tanda yang baik kan? Seharusnya sebentar lagi demam mu turun." Chanyeol tersenyum sambil masih mengelus-elus rambut Baekhyun. Suatu keajaiban bahwa Baekhyun tidak terbangun dengan sentuhan-sentuhan Chanyeol. Namja itu masih belum bangun dari tidurnya.
'Cup' bahkan Baekhyun tidak terusik saat Chanyeol mengecup keningnya.
"Pasti kau sangat kelelahan." Chanyeol masih terus bicara sendiri. "Kau harus istirahat yang banyak." Chanyeol memandangi kekasihnya itu dengan serius. Ia memperhatikan setiap jengkal tubuh Baekhyun yang sepertinya rapuh. "Eits..." Chanyeol menyadari sesuatu.
"Kemejamu basah, Baek." Kemudian presdir muda itu tampak berpikir cukup lama.
"Maafkan aku, sepertinya aku harus menggantinya." Akhirnya keputusan ini muncul. Chanyeol berdiri dan menuju lemari pakaian Baekhyun. Ia mengambil sebuah kaus dan celana tidur. "A-aku janji tidak berbuat macam-macam kok. Hihihihi." Chanyeol tertawa kecil menutupi gugupnya.
"Pfiuh..." Chanyeol menghembuskan napasnya setelah sukses menggantikan baju buat Baekhyun. Ia mengecup dahi Baekhyun sekali lagi sambil mengucapkan selamat malam. "Good night, Baekhyunee. Tidur yang nyenyak."
.
"Hoaaam...
Keesokan harinya Baekhyun baru terbangun dari tidurnya. Ia membuka mata perlahan dan menyesuaikan diri dengan terangnya sinar matahari pagi yang masuk ke kamarnya. Ia ingin langsung bergerak, namun ototnya terasa kaku. Terpaksa ia berdiam diri dulu selama beberapa menit.
"Kenapa aku bisa di rumah?" tanyanya pada diri sendiri setelah 100% sadar. Ia ingat bahwa terakhir kali terbaring di klinik Park corp. Lalu, siapa dong yang membawanya pulang?
Baekhyun mengerjap-erjapkan matanya. Saat tenaga dan pikirannya sudah terkumpul, ia bangkit dari tempat tidur dengan pelan.
'Krek' Pintu kamar Baekhyun mendadak terbuka.
"Astaga!" Seru Baekhyun kaget sampai terjatuh lagi di kasurnya. Untung saja ada kasur empuk yang masih menopang tubuhnya.
"Ya ampun Baekhyunee?! Sudah bangun?" Sang pelaku pembuka kamar Baekhyun segera berlari mendekatinya. "Masih sakit? Masih tidak enak badan? Beritau aku apa kau masih merasa sakit," lanjut sang pelaku sambil mengelus-elus kepala Baekhyun.
"Chanyeol? Kenapa kau bisa di sini?" tanya Baekhyun heran sambil memandang Chanyeol yang tampak panik. Namja tinggi itu memakai kemeja dan celana kerja, walaupun sudah terlihat tidak rapi lagi.
"Jawab pertanyaanku dulu, Baek. Apa masih merasa tak enak badan? Ayo kita ke rumah sakit saja."
Baekhyun buru-buru menggeleng. "Aku sudah tidak apa-apa."
"Jinja?"
"Um!" Baekhyun mengangguk. "Hanya saja, sekarang perutku lapar," lanjutnya lagi.
"Lapar?" Chanyeol langsung teringat sesuatu. "Ah, tunggu di sini! Aku bawakan makanan untukmu. Tunggu sebentar nee!" Dengan secepat kilat namja tinggi itu berlari keluar. Tak lama kemudian ia sudah berada di depan Baekhyun lagi dengan semangkuk sup hangat.
"Wow, kenapa dengan cepat bisa ada sup?" Baekhyun takjub dengan sup hangat yang ada di depannya. Chanyeol duduk di sampingnya tampak meniup-niup sup dan siap menyuapkannya kepada Baekhyun.
"Aku membelinya khusus untukmu. Nah sekarang buka mulutmu. Aaaaa..." Ia menyodorkan sesendok sup ke arah Baekhyun.
"Yeolie, apa kau yang membawaku pulang?" Bukannya memakan sup yang disodorkan Chanyeol, Baekhyun justru sibuk bertanya.
"Ne. Saat aku meneleponmu, dokter klinik Park Corp yang mengangkatnya. Dokter bilang, kau sakit. Ia memberimu obat tidur karena katanya kau kelelahan. Karena sampai sore kau tidak sadar, aku membawamu pulang. Aku panik sekali tau! Kau benar sudah tidak apa-apa?"
Baekhyun merasa tidak enak lagi-lagi merepotkan kekasihnya. Ia hanya menunduk sambil mengucapkan maaf dan terima kasih.
"Aish, kenapa kau malah minta maaf dan berterima kasih? Ini seharusnya salahku karena tidak menyadari kau kelelahan," balas Chanyeol. Ia akhirnya meletakkan sup di meja dan kini memegang wajah Baekhyun agar melihatnya. "Sekarang kau cerita padaku, kenapa kau bisa sampai kelelahan."
Baekhyun berusaha menunduk lagi walaupun Chanyeol memegangi wajahnya. Ia merasa bersalah karena membuat kekasihnya cemas. "Maafkan aku."
"Aigoo... aku tidak memarahimu, Baek. Aku hanya ingin kau menjaga kesehatanmu. Aku tak mau kau sakit lagi."
Baekhyun mengangguk. "Aku janji akan jaga kesehatan."
"Janji tidak akan pulang malam lagi?"
"Umm, aku janji."
"Baiklah, kalau begitu, sekarang makan sup-nya."
Baekhyun yang lapar akhirnya memakan sup dengan lahap. Chanyeol jadi lega melihatnya.
"Eh, Chanyeol!" Mendadak Baekhyun berseru keras. Chanyeol yang sedang asik memandang kekasihnya makan sampai kaget. "Oh my gosh, aku terlambat! Ini jam berapa? Aku pasti sudah terlambat!" Seru Baekhyun sambil bergegas berdiri dan berjalan membuka lemari pakaiannya.
'Tap' Chanyeol memegangi tangan Baekhyun mencegahnya melanjutkan aktivitasnya.
"Kau barusan berjanji akan menjaga kesehatanmu," kata Chanyeol masih dengan memegangi Baekhyun dengan kuat.
"Aish Chanyeol, lapaskan aku. Aku sudah terlambat."
"Tidak. Hari ini kau masih harus istirahat."
"Tapi nanti manajerku pasti marah..."
"Tidak. Percayalah padaku. Kemarin aku sudah minta surat izin tidak masuk dari dokter klinik Park Corp."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapi-an. Sekarang, lanjutkan makannya."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi..." Belum sempat Chanyeol selesai bicara, Baekhyun sudah menyelanya.
"Tapi bagaimana denganmu, Yeolie? Kau harus masuk kantor juga." Baekhyun panik melihat sampai jam segini Chanyeol masih berada di rumahnya. "Bosmu bisa marah..."
"Aigoo... tenanglah." Chanyeol menepuk-nepuk pundak Baekhyun. "Aku sudah minta izin tidak masuk. Pekerjaanku hanya sekedar mengecek kerjaan anak buah. Aku sudah titip pesan jika ada sesuatu, sekretarisku akan menelepon."
"Chanyeol..."
"Sssttt..." Chanyeol memeluk Baekhyun dengan erat, mencegah kekasihnya bicara lebih banyak. "Jangan mengkhawatirkanku. Sekarang yang terpenting adalah kau sehat lagi, sayang..."
Baekhyun merona dengan panggilan sayang Chanyeol. "Chanyeolie..." Namun ia tak menampik pelukan sang kekasih. Baekhyun justru balas melingkarkan tangannya di tubuh tinggi itu.
.
.
Dengan tubuh yang sudah segar, pagi ini Baekhyun kembali bekerja. Perhatian dari Chanyeol seharian kemarin membuatnya cepat sembuh. Seharian kemarin, Chanyeol berada di rumahnya. Bahkan namja tinggi itu sebenarnya bersikeras mau menginap lagi. Namun Baekhyun bilang ia sudah sehat. Karena memang kondisi Baekhyun membaik, akhirnya Chanyeol pulang.
Walaupun sudah sehat, sayangnya nasib baik belum berpihak padanya. Sang asisten manajer bernama Do Kyungsoo rupanya justru memanfaatkan Baekhyun yang izin sakit dengan memberikan pekerjaan ekstra.
"Karena kemarin sudah tidur seharian, maka hari ini sudah sewajarnya kau berolah raga. Betul kan?" Begitu kata Kyungsoo dengan santainya sambil meletakkan setumpuk berkas di meja Baekhyun.
"Sabarlah Baek... Sabar... Sabar...," kata Baekhyun sambil memandangi setumpuk berkas di depannya. Berkas-berkas ini harus ia fotokopi dan ia serahkan kepada divisi-divisi lain. Itu berarti, ia harus memeras keringat lagi angkut-angkut dan naik turun (untung saja ada lift). Sebenanrnya pekerjaan seperti ini bukan yah kau taulah sifat manajer dan asistennya yang menjengkelkan itu.
"Aaaah lelahnyaaa..." Baekhyun baru saja selesai mengantarkan berkas dari lantai 1 saat matanya memandang seseorang yang terlihat kebingungan sedang berputar-putar di sekitar lobi Park Corp. Orang itu seperti bukan orang Korea. Ia tampak bertanya-tanya kepada pegawai Park Corp yang kebetulan lewat. Sayangnya pegawai Park Corp yang ditanyanya justru menghindar ketakutan.
"Kenapa mereka kelihatan takut? Apa wajahku seram? Tapi gege bilang aku ini panda yang cute...," ucap namja itu seorang diri dengan bahasa mandarin. Baekhyun yang kebetulan mengerti mandarin dan mendengar ucapan namja itu, langsung mendekatinya.
"Hai, kau sepertinya kebingungan? Apa yang bisa kubantu?" tanyanya dengan bahasa mandarin. Sewaktu di Amerika sana, Baekhyun (dan juga Chanyeol) memang sengaja belajar bahasa ini. Maklumlah, sebagian besar orang Asia di sana adalah orang Cina.
Namja berwajah sangar itu telihat senang bertemu orang yang bisa mengerti bahasanya. "Na-namaku Tao. Aku sedang mencari ruang presdir. Tunanganku bilang ia ada meeting. Tapi dia sudah janji mau makan siang bersamaku."
Baekhyun mengangguk paham. Tao ini pasti tunangan salah satu petinggi Wu Corp yang memang sudah seminggu ini berada di Seoul dalam rangka kerjasama dengan Park Corp. "Aku Baekhyun, karyawan di sini. Ayo kuantar!" Ajak Baekhyun. Tao tersenyum senang.
.
Baekhyun dan Tao sudah berada di lantai paling atas yang berisi deretan ruang rapat dan kantor presdir. Tao terlihat kecewa saat mendengar penjelasan bahwa meeting belum selesai.
"Huuu...huuu... gege bohong... lagi-lagi dia bohong padaku. Katanya mau makan siang bersama... Huuu huuuuu huuuu..." Melihat Tao sedih, Baekhyun langsung menghiburnya.
"Menurutku tunanganmu memang pasti sibuk Tao. Peluncuran produk baru tinggal sebentar lagi. Presdir kami juga sibuk sekali."
"Huu...huuu... tapi gege sudah bohong untuk kesekian kalinya..." Tao yang tidak bisa bahasa Korea akhirnya menyuruh Baekhyun menyampaikan sesuatu pada sekretaris presdir. "Bisakah kau minta tolong menyuruh tunanganku keluar sebentar? Ponselnya tidak aktif, padahal aku ingin sekali menamparnya."
Baekhyun melotot. "Tao?! Kau tidak boleh berbuat kasar pada tunaganmu."
"Aku hanya bercanda Baekhyun. Aku hanya ingin bicara sebentar pada tunanganku."
"Baiklah, siapa namanya?"
"Kris. Bilang saja tunangan Kris menunggunya di luar."
Baekhyun lalu bicara pada sekretaris presdir. Awalnya sekretaris presdir tidak setuju untuk memanggilkan Kris karena ia takut menganggu meeting. Namun setelah Baekhyun memohon-mohon (dan bilang bahwa Tao akan menangis jika tidak dipanggilkan tunangannya), akhirnya sang sekretaris luluh juga.
Tak lama kemudian, seorang namja tinggi, sedikit lebih tinggi dari Chanyeol keluar dari ruangan meeting. Tao langsung tersenyum senang "Gege...!" panggilnya dengan manja.
Mereka berdua tampak bicara sebentar sebelum akhirnya namja tinggi itu masuk lagi ke ruangan meeting. Tao sendiri tampak murung lagi.
"Gege bilang dia sibuk dan tak bisa makan siang bersama," Ucap Tao pada Baekhyun ketika mereka memutuskan untuk turun lagi ke lobi, menghantarkan Tao yang ingin pulang saja. Saat mereka sudah tiba di lobi, Baekhyun melihat air mata Tao mulai keluar lagi. Aigoo aigoo...
'Harus cari jalan supaya anak ini tidak menangis nih,' batin Baekhyun.
"Ah, Tao, kenapa kau menangis lagi? Ummm... Kau mau jalan-jalan? Atau makan? Ah, karena ini jam makan siang, bagaimana kalau kita makan siang bersama? Aku akan memperkenalkan makanan-makanan Korea padamu. Bagaimana? Kau mau?"
Tao yang sedih memandang Baekhyun yang menunjukkan senyum manisnya. Perlahan Tao jadi terhibur. "Mau! Mau! Kebetulan aku lapar sekali..."
'Anak ini lucu sekali,' batin Baekhyun sambil tertawa dalam hati.
.
.
"Pfiuhhh..." Baekhyun kembali merenggangkan tubuhnya untuk kesekian kali. Ini sudah hampir jam 9 malam dan dia masih bertahan di meja kerjanya. Thanks to Kai. Manajernya yang baik hati itu memberinya pekerjaan lagi.
Sebenarnya setumpuk pekerjaan dari Kyungsoo sudah selesai dikerjakannya. Namun karena ia menghabiskan jam istirahat siang melebihi ketentuan (karena menemani Tao), Kai menegurnya dan memberi pekerjaan tambahan sebagai hukuman.
"Duet sialan itu benar-benar menyusahkanku..." Baekhyun menggerak-gerakkan kepalanya yang mulai pegal.
'Dddrrrttttt...'
Ponselnya berbunyi. Baekhyun mengecek siapa yang meneleponnya.
"Chanyeol?" sahutnya pelan sambil takut-takut. Aduh, bisa gawat kalau Chanyeol tau jam segini dia masih di kantor. Padahal baru saja kemarin ia janji tidak akan pulang malam.
"Ye-yeoboseyo...," Baekhyun menjawab teleponnya dengan sedikit takut-takut.
"Baek, sudah makan?"
"U-umm... sebentar lagi."
"Eh? Belum makan? Ini sudah jam berapa?"
"Iya. Sebentar lagi." Kata Baekhyun sambil membereskan mejanya.
'BRUK!' Tak sengaja, ia menyenggol setumpuk map di mejanya. Dari seberang sana, Chanyeol mengernyit heran mendengar suara-suara aneh.
"Baek? Bunyi apa itu? Kau ada di mana sekarang?"
Baekhyun menggigit bibirnya. 'Aduh, Chanyeol bisa marah nih...' batinnya.
"Baek? Kau masih di kantor ya?"
.
TBC
.
Wow, ternyata ada readers yang bisa nebak siapa yeoja yang angkat teleponnya Chanyeol. *excited*
Sekarang coba tebak lagi apakah Chanyeol marah kalau tau Baek masih pulang malam?
See u next chap!
