VS – chapter 11

VS

Versus

.

.

Cerita sebelumnya...

'Deg!' Jantung Baekhyun berdetak keras dan matanya membesar saat melihat sosok tinggi yang tak asing lagi menjawab panggilan sekretaris presdir. Kebetulan sekali sekretaris presdir menunjuk ke arah dirinya sehingga Chanyeol menoleh juga ke arah Baekhyun.

Mereka pun berpandangan...

"Chan...yeol?" lirih Baekhyun tak percaya.

.

Chapter 11

.

"Chan... yeol?" Baekhyun segera menutup mulutnya yang menganga tak percaya. Air mata juga tampak membasahi pipinya. Kebetulan sekali bunyi lift terbuka terdengar. Ia segera masuk ke dalam lift dengan penuh emosi dan kekecewaan.

"Baekhyun!" Chanyeol berlari ke arah lift dan mencegah lift tertutup. Ia merasa ada yang tidak beres. Apalagi saat melihat Baekhyun yang menangis.

"Baekhyun!" Untung saja dengan kakinya yang panjang itu Chanyeol berhasil mencegah lift tertutup. "Baek, kenapa menangis? Ada apa?" Hati Chanyeol terasa sesak saat melihat orang yang dicintainya itu menangis. Chanyeol memegang pundak Baekhyun yang masih terisak.

"Aku kecewa padamu, Yeol. Hiks..hiks...," ucap Baekhyun di sela-sela isakannya. Ternyata apa yang dikatakan Kyungsoo benar. Baekhyun merasa ia sungguh bodoh tak tau siapa presdir tempatnya bekerja. Ia juga kecewa karena merasa dibohongi oleh kekasihnya sendiri.

"Baekhyun..." Chanyeol masih buta dengan apa yang membuat Baekhyun menangis.

"Kenapa selama ini kau bohong tentang pekerjaanmu? Hiks... hiks..." Chanyeol kaget mendengar pertanyaan Baekhyun.

Chanyeol juga baru sadar bahwa saat ini ia sedang berhadapan dengan Baekhyun.

Di Park Corp.

Chanyeol langsung menyadari apa yang membuat Baekhyun seperti ini. Saat Chanyeol sedang terdiam , Baekhyun mendorong pelan tubuh Chanyeol dan menekan tombol agar lift tertutup.

Saat sudah tersadar dari kagetnya, Chanyeol menekan tombol lift satunya lagi.

Dengan secepat kilat ia berlari menuju ruangan Baekhyun.

"Ya ampun si Baekhyun itu benar-benar tak tau malu ya."

"Betul. Betul. Masa demi jadi spokesperson produk saja dia sampai menjual diri sih."

'Deg'

Chanyeol membeku saat mendengar gosip-gosip yang bersautan. Padahal ia baru selangkah menginjakkan kaki di ruangan Baekhyun. Sepertinya karyawan di sini sedang asik bergosip hingga tak sadar Chanyeol ada di sini.

"Tau tidak, katanya sih Baekhyun tak tau malu itu tadi langsung ke ruangan presdir. Mungkin mau cari perlindungan karena sudah ketauan."

"Atau mungkin mohon-mohon supaya tidak diputusin."

"Iiih, ga tau malu amat sih."

Mereka masih asik bergosip.

"DIAM SEMUANYA!" teriak Chanyeol geram. Semua mata langsung menuju ke arahnya. Tak ada lagi suara yang terdengar.

"Siapa yang berani bicara lagi lebih baik keluar dari perusahaan ini!"

.

.

Chanyeol tampak pucat saat kembali ke ruangannya. Ia tak berhasil menemukan Baekhyun. Padahal ia sudah berkeliling Park Corp. Ponsel kekasihnya itu juga tidak aktif. Chanyeol berjalan dengan pandangan kosong. Ia bahkan tak sadar ada Kris di ruangannya.

"Hei Chanyeol?" panggil Kris. Chanyeol masih terdiam.

"Chanyeol?" Baru ketika Kris menepuk pundaknya, Chanyeol merespon singkat "Hmmm?"

"Mau makan siang bersama? Kau terlihat tidak sehat. Ayo makan ke kantin," ajak Kris. Chanyeol hanya mengangguk. Sepertinya otaknya memang sedang kacau.

.

"Aku tak menyangka Baekhyun ternyata orang seperti itu."

"Pantas saja dia terpilih. Ternyata dia merayu presdir."

Tubuh Chanyeol kembali memanas saat mendengar suara-suara tak enak di kantin Park Corp. Kenapa semua orang di Park Corp mendadak jadi penggosip seperti ini? Sedari tadi yang ia dengar cuma orang yang menjelekkan Baekhyun.

"Sejak awal aku menjagokan Kyungsoo. Dia cute dan seksi. Tapi ternyata Baekhyun yang terpilih. Ugh, pantas saja. Ternyata dia lewat jalur belakang."

"Hmmm, sebenarnya sih Baekhyun manis juga. Wajahnya innocent. Tapi ternyata kelakuannya tak se-innocent wajahnya."

"Namja licik!"

Chanyeol tak tahan lagi dengan suara sumbang yang memenuhi kantin. Bagaimana bisa semua orang menjelek-jelekkan Baekhyun-nya?

'BRUK!'

Chnayeol menggebrak meja. Semua orang kaget dan terdiam. Kris yang tak tau apa-apa juga ikut kaget melihatnya.

"Kalau kalian menjelekkan Baekhyun lagi, aku tak akan segan memecat kalian!" Serunya penuh emosi. "Karena kalian semua bodoh percaya dengan gosip murahan itu!" lanjut Chanyeol dengan sangat geram.

.

.

'Ting tong'

'Ting tong'

Ini sudah kesekian kalinya Chanyeol menekan bel apartemen Baekhyun. Namun Baekhyun tidak juga membukakan pintu.

Jari-jari Chanyeol juga sudah kesekian kalinya menekan nomor ponsel Baekhyun. Tapi tak ada jawaban dari sang kekasih.

Chanyeol khawatir. Ia benar-benar khawatir. Gosip-gosip itu memang kejam. Pasti Baekhyun shock. Chanyeol juga merasa bersalah karena selama ini ia tak berterus terang tentang pekerjaannya. Jadi, tugasnya sekarang adalah menemui Baekhyun dan menjelaskan semuanya padanya.

'Baekhyun, jebal... jawab teleponku. Aku akan menjelaskan semuanya.'

.

.

Esok harinya, Chanyeol datang ke kantor bagaikan mayat hidup. Pandangannya kosong dan ketara sekali ia sedang kacau.

Chanyeol semakin kacau lagi saat baru duduk di kursinya dan disambut ketua promosi yang menyampaikan kabar kalau spokesperson produk mereka baru saja mengundurkan diri.

"Baekhyun-ssi baru saja datang dan menyerahkan surat pengunduran diri menjadi spokesperson. Kabarnya, ia juga mengundurkan diri dari perusahaan. Dia..." Belum selesai tamu Chanyeol itu bicara, presdir muda itu sudah berlari keluar ruangannya.

"Baekhyun!" Teriaknya saat secepat kilat sudah berada di ruangan Baekhyun. Untung kali ini ia tidak terlambat. Ia melihat Baekhyun sedang mengemasi barang-barang di mejanya sambil ditemani belasan pasang mata yang memperhatikan sambil bisik-bisik mencelanya.

'Grep' Tanpa banyak berpikir, Chanyeol langsung menarik Baekhyun keluar ruangan.

.

.

'Hiks...hiks...'

Dengan hati sakit Chanyeol hanya bisa menatap sang kekasih yang terisak.

"Aku benar-benar bodoh..." ucap Baekhyun pelan di tengah isakkannya.

"Baek...," desah Chanyeol. Ia makin mendekatkan diri ke tubuh Baekhyun dan memeluk sang kekasih.

Baekhyun mendorong pelan tubuh Chanyeol. "Maafkan aku. Aku sungguh tak bermaksud merayumu, Chanyeol. Aku... a-aku..."

'Grep' Chanyeol kembali memeluk Baekhyun, kali ini dengan erat. "Sttt... aku yang minta maaf Baek. Aku yang harusnya minta maaf."

'Hikss...hiks...'

"Maaf aku harusnya berterus terang padamu. Tapi percayalah, mau aku presdir atau bukan, ini tak akan mengubah apapun. Aku akan tetap mencintaimu Baekhyun."

'Hiks..hiks...hiks...' Dan Baekhyun pun semakin terisak. "Aku membencimu, Chanyeol." Dengan kasar ia mendorong Chanyeol, melepaskan diri dari pelukan namja tinggi ini. Kemudian Baekhyun berlari menjauhi Chanyeol.

Chanyeol sempat mengejar Baekhyun yang secepat kilat menyetop taksi. Tak mau kalah, Chanyeol ikut menyetop taksi yang lewat berikutnya. Ia mengejar Baekhyun hingga ke apartemennya. Namun sama seperti sebelumnya, Baekhyun tidak membukakan pintu walaupun Chanyeol sudah menekan bel berjuta-juta kali.

Chanyeol yang shock dan sedih kembali ke kantornya. Ia tak bicara sepatah katapun, bahkan tak menjawab saat Kris mengajaknya bicara. Chanyeol hanya membenamkan kepalanya di atas meja kerjanya.

Baekhyun membencinya?

Andwe!

.

Kyungsoo sangat tau mengenai kondisi Chanyeol. Oleh karena itu keesokan harinya dengan sengaja ia mendatangi ruangan Chanyeol, menemukan sang presdir masih terkulai lemas di atas meja kerjanya. Bahkan kabarnya, kemarin malam presdir tidur di kantornya.

"Chanyeol..." Kyungsoo mendekati Chanyeol dan mengelus rambutnya. Chanyeol hanya diam saja. Oh lebih tepatnya, sejak kemarin dia memang diam bagaikan mayat hidup.

"Saat mengalami masalah, kau butuh minum untuk melupakannya. Apa kau mau minum? Aku bersedia menemanimu," kata Kyungsoo dengan lembut.

Tanpa diduga, Chanyeol mengiyakan ajakan Kyungsoo. Kyungsoo pun tersenyum licik.

.

"Baekhyuuuuun..." racau Chanyeol dengan kesadaran makin minim. Ia sudah sering mengalami masalah dan selama ini ia berhasil mengatasinya. Namun jika masalah itu berhubungan dengan Baekhyun, Chanyeol tak kuasa menghadapinya.

Ia sungguh mencintai Baekhyun sejak kuliah dulu. Sejak lama ia memendam perasaannya. Ketika akhirnya Baekhyun menerima perasaannya, Chanyeol bersumpah tak akan mau memutuskan hubungan ini. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika Baekhyun meninggalkannya.

"Baeeeekkk..." Chanyeol berjalan timpang. Ia juga hampir jatuh berkali-kali. Untunglah ada Kyungsoo yang memapahnya.

"Aigoo, aku tak menyangka kau semabuk ini Chanyeol. Ugh, kau berat," dengan bersusah payah Kyungsoo memapah tubuh lunglai Chanyeol.

"Baeeeeeeekhyuuuun..." Chanyeol masih saja berteriak-teriak. Padahal saat ini mereka sudah meninggalkan bar.

"Chanyeol, lupakan saja Baekhyun," ucap Kyungsoo di sela-sela menunggu taksi lewat.

"Baekhyun... jangan tinggalkan akuuu..." Beberapa orang lewat memperhatikan mereka berdua. Untungnya beberapa saat kemudian ada taksi lewat. Kyungsoo membawa Chanyeol pulang ke rumahnya.

"Baekhyun... Baekhyunee..." Sampai di kamarnya, Chanyeol masih mericaukan nama Baekhyun. Kyungsoo jadi sebal dibuatnya.

"Berhenti menyebut namanya!" bentak Kyungsoo. Tapi Chanyeol yang mabuk tentu tak mendengarkan. Kyungsoo jadi sebal.

Padahal awalnya kan ia bermaksud mengajak Chanyeol minum hingga mabuk, tapi tidak sampai mabuk berat seperti ini. Sejak tegukan pertama hingga presdir tampan ini mabuk berat, yang terucap dari mulutnya cuma nama Baekhyun.

"Baekhyuuuuun. Maafkan aku. Maafkan aku sayang." Chanyeol mengigau dan tak lama kemudian tertidur.

"Oh, akhirnya kau berhenti menyebut namanya..." Kyungsoo mendengus mendengarnya. Ia memandangi Chanyeol yang pulas tersebut.

'Baiklah karena kau tak mau menuruti perintahku, selanjutnya akan kubuat kau patuh padaku presdir Park.' Kyungsoo tersenyum licik. Ia berjalan mendekati Chanyeol yang sudah tak sadarkan diri di atas kasur. Sambil tersenyum penuh arti ia membuka kemejanya dan kemeja Chanyeol. Kemudian ia meletakkan ponselnya di atas meja, mengatur sedemikian rupa sehingga mereka berdua tertangkap lensa kamera...

.

.

TBC

.

Note:

Kemarin salah posting... maap readers.