Silahkan Skip yang ingin di skip muehehehehe…
Kontennya sexual dan blood lho!
"I'll love you baby!" Kibum—seorang lelaki dewasa yang mengenakan seragam sekolah salah satu sekolah swasta itu masih betah mendendangkan lagu kebangsaannya. Dia terlalu menyukai lagu yang dilantunkan Bon Jovi tersebut—meski kenyataannya ia bukan penggemar berat band rock tersebut.
"I see, I love you toooo~" Kibum menghela nafas, ia melirik ke samping menemukan remaja dengan seragam sekolah menangah pertama yang membungkukkan tubuhnya demi menatapi wajah Kibum. Remaja yang selalu mengikuti Kibum, mengucapkan kata cinta yang seharusnya tak pantas di ucapkan oleh seseorang yang butuh didikan sepertinya.
Mencuekinya sampai membuat dia lelah ternyata bukan pilihan yang bijak. Anak perempuan yang selalu Kibum buat malu itu tak bergeming untuk menggapai ambisinya. Kibum harus menjadi miliknya.
Kyuhyun itu sungguh menganggu.
"Ki Buuum~" Kyuhyun kembali memanggil Kibum, kini si bocah SMP itu mendudukkan tubuhnya di meja Kibum. Niat sekali merampas perhatian Kibum. Tidak bergeming, Kibum rasa tidak seharusnya dia melakukan sesuatu yang tidak berguna seperti bercinta dengan bocah kecil yang berdada rata sejenis Kyuhyun. Kibum lupa, Kyuhyun itu dalam masa pertumbuhan.
Kibum meronggoh sakunya saat merasakan getaran. Dia melihat smartphonenya—menemukan nama 'ibu' sebagai pemanggil. Kibum mengangkatnya, meletakkan jemarinya di bibirnya—menyuruh Kyuhyun untuk tenang sedikit. Dia tak ingin membuat Hyuna di seberang sana tak mendengar perkataannya.
"Mereka sepertinya mengetahui kalau polisi tengah mengincar mereka, Kibum" Hyuna berbicara. Suaranya terdengar serius dan membuka beberapa dokumen di tangannya. Kibum mengerti apa yang dibicarakan Hyuna. Hal itu terbukti tak ada kasus sejak Kibum memasuki sekolah dan menyamar menjadi siswa. "Tapi Donghae menemukan keterkaitan para siswa yang menghilang dan dibunuh di sekolah sebelumnya. Beberapa diantara mereka adalah anak yang cukup populer"
Kibum memutar otaknya, ia melirik pada Kyuhyun. Dia tentu harus memikirkan cara lain agar ia bisa menangkap para pembunuh itu dan pergi dari sekolah ini. Dia kurang suka makanan di kantinnya—seperti masakan penjara. Kurang sedap di lidahnya..
"Apa kau sudah makan, ibu?" Kibum bertanya—tidak nyambung dengan penuturan Hyuna tentu saja. "Aku melakukan semuanya dengan baik, tidak usah khawatir"
"Aku serius dengan pernyataan mereka mengetahui ada polisi. Ku harap kau tidak di curigai. Kau harus bertingkah laku selayaknya siswa biasa!" Hyuna berdecih. Jelas ia tahu Kibum sedang bersama bocah bocah lain. Tapi ia tak yakin Kibum berbaur dengan yang lainnya. Sifat Kibum yang seenaknya dan sedikit acuh itu terasa sangat menyebalkan.
"Kibum, itu ibumu?" Hyuna dapat mendengar suara imut seorang wanita di dekat Kibum. Hyuna dapat menduga duga siapa gerangan wanita itu. Mungkin seseorang yang naksir Kibum, terdengar dari keingintahuannya.
"Dia seorang anak perempuan?" Hyuna bertanya. Ide jahat terlintas di otaknya. Dia harus mengerjai Kibum dan sekaligus melakukan misi dengan sempurna. Dia butuh promosi juga—tapi dia juga ingin membuat Kibum merasa sedikit kerepotan tanpa kecurigaan.
"Ya" jawab Kibum. Meski tubuh Kyuhyun itu tinggi, rambutnya pendek tapi wajahnya cantik dan manis. Kibum akan memaafkan payudara yang belum tumbuh milik Kyuhyun jika melihat kulit putih Kyuhyun yang terlihat seperti kapas.
"Apakah dia manis?" Kibum mengiyakan untuk pertanyaan itu. Hyuna paham betul kalau Kibum mengungkapkan seorang wanita dengan sebutan manis, berarti wanita itu membuat Kibum cukup penasaran tentang rasa. Kibum jarang mengatai wanita dengan sebutan manis karena dia suka wanita yang panas. Hyuna tak yakin anak SMP memperoleh nilai panas dari Kibum. "Berkencanlah dengannya! Agar kau terlihat lebih normal!"
Kibum merasa sangsi dengan sebutan normal yang dilontarkan Hyuna dari seberang sana. Ia melihat Kyuhyun yang tersenyum padanya—tepat duduk diatas mejanya dengan kedua betisnya menjulur. Kibum duduk bersandar malas—kedua lutut Kyuhyun yang tertutup rapat tepat berada di depan wajah Kibum. Jika saja si bocah itu membuka lututnya—Kibum jelas melihat celana dalamnya sekali lagi. Apakah bocah sialan ini sengaja menggodanya?
"Aku akan cari yang lain saja" Kibum menjawab. Dia tak mau bermain menjadi pacar yang baik dengan seeorang yang mirip stalkernya belakangan.
"Hei Kibum, kau butuh informasi! Ku dengar dia adik orang yang cukup populer di sekolah itu" untuk bagian ini entah dari mana Hyuna mengetahuinya. "Aku melihat dia mengikutimu pulang, jadi ku cari tahu saja tentangnya. Dia bisa menjadi sumber informasi yang bagus" bagian ini Kibum rasa Hyuna ada benarnya. Dia harusnya professional, dia harus memanfaatkan apapun yang bisa membantunya menangkap penjahat. Jika ia terlalu banyak pertimbangan—apalagi dengan embel embel keegoisannya, ia takkan mendapatkan apapun.
"Baiklah, aku mengerti"
"Berikan ponselmu padanya, aku akan membantumu mendapatkannya" tanpa Hyuna membantu pun, hati Kyuhyun sudah milik Kibum seutuhnya. Cinta Kyuhyun itu masih setara cinta monyet tapi bisa di pastikan cinta pertama seorang remaja. Dia akan susah berpindah hati pada lelaki tangguh itu.
"Ibuku ingin bicara denganmu" ucap Kibum menyerahkan ponselnya. Kyuhyun membulatkan matanya—terkesan lucu dan Kibum merasa gelisah dengan tubuh bagian bawah Kyuhyun. Roknya terkesan pendek dan kaos kakinya terlalu tinggi—dia bahkan lebih menggairahkan dari teman teman wanita sekelasnya yang jelas lebih dewasa. Kibum mencuri pandang pada Jisoo—si ketua kelas yang sedari tadi memperhatikannya. Kyuhyun menerima ponsel itu.
Jisoo tersenyum pada Kibum, Kibum menegakkan tubuhnya. Dia beranjak, Kyuhyun sepertinya sangat serius berbicara dengan Hyuna di seberang sana. "Ada yang bisa ku bantu?" Kibum membantu Jisoo mengambil sebagian buku buku di tangannya. Kibum tentu dengan enteng membawanya.
"Kau sudah membantu tanpa aku harus menjawab terlebih dahulu" Jisoo berkata. Melirik sedikit pada Kyuhyun dan melangkahkan kakinya keluar kelas. "Dia dan kakaknya tidak jauh berbeda, suka sekali menganggu hidup orang" Jisoo dongkol. Tidak ada yang berani menganggu adik dari Cho Taehyung. Taehyung akan menyiksa siapapun yang mencoba membuat adiknya cemberut—tidak peduli pria atau wanita.
Kibum terkekeh. "Bagaimana hubunganmu dengan Taehyung?" Tanya Kibum mencoba mengubah topik pembicaraan. Dia suka melihat wajah cantik Jisoo—sesekali memanjakan mata, meski ia sering di sungguhi wajah cantik wanita tapi wajah Jisoo itu meneduhkan.
"Dia tetap menyebalkan. Dan kali ini dia tak terlalu peduli padaku karena kau mengancam hati adiknya" Jisoo tertawa. Tawa lembut seperti melodi pengantar tidur—berbeda sekali dengan Kyuhyun. "Lalu kau? Kau masih hobi mengintip celana dalam Kyuhyun?"
Kibum tak menyangka, Jisoo akan menyindirnya dengan telak. Dia teringat ketika Taehyung berteriak ke arahnya. Ia kira ia harus berkelahi dengan bocah berisik itu—tapi Kyuhyun sungguh mengendalikan sang kakak. Hanya dengan suara terdengar mengintimidasi, Taehyung mundur dari tempatnya. "Angin yang menunjukkannya padaku, aku tak bermaksud" ucap Kibum. Tapi ia masih mengingat dengan jelas bentuk celana dalam itu. Benar benar brengsek.
Jisoo manggut manggut. Dia rasa pembelaan diri Kibum dapat di terima akal sehat. Ia kemudian berbelok, membuka sebuah pintu yang terhubung dengan ruang guru. Kibum dengan jeli memperhatikan seluruh gurunya. Jisoo berhenti di sebuah meja dengan sekat milik seorang guru muda. "Terima kasih Jisoo, dan kau adalah—" Kibum buru buru meletakkan benda yang di pegangnya ke tumpukan meja guru tersebut. Dia membungkukkan tubuhnya.
"Aku Kibum" katanya.
"Dia siswa baru di kelasku" Jisoo menjelaskan. Si guru itu tersenyum ramah.
"Kau sangat baik membantu, Jisoo" katanya. Kibum menegakkan tubuhnya. Memandang si guru, terlihat sangat muda. Kibum rasa dia lebih tua dari guru tersebut.
Kibum tersenyum. "Tentu, aku hanya berharap bisa dekat dengan dia. Dia cantik" kata Kibum. Hal itu cukup membuat Jisoo memerah. "Kami permisi" kata Kibum.
Little Flower
.
.
KiHyun
Warn: mengandung konten dewasa dan darah
"Siapa guru tadi?" Tanya Kibum. Dia penasaran—sekaligus memecah kecanggungan antara ia dan Jisoo.
Jisoo merasa Kibum tak sungguh sungguh dengan ucapan memujanya tadi. "Dia guru magang" jawab Jisoo. "Kau sedang mempermainkanku di depan guru itu?" mencoba menantang Kibum. Jisoo punya kepercayaan diri tentang penampilannya, dia juga berasal dari keluarga yang membesarkannya menjadi wanita berkpribadian baik, pintar dan sopan. Dia rasa, Kibum itu cukup tampan untuk menjadi tambatan hatinya. Kibum juga sopan dan tak berandalan. Lelaki itu pintar—terbukti dengan dia yang mampu menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh guru.
"Tidak juga, aku serius tentang kau yang cantik" Kibum rasa ia sedang memuji adik perempuannya. "Tapi mungkin kau kurang manis" Jisoo tertawa. Kibum itu orang yang humori menurutnya.
"KIBUUUUM!" dan suara teriakan Kyuhyun dengan Taehyung di belakangnya membuat keduanya menoleh pada dua kakak beradik yang selalu berwarna itu. "Ibumu menyuruhku datang ke rumahmu" Kyuhyun terlihat heboh sementara Taehyung tampak tak terima dengan pernyataan itu. Kibum benar benar akan merebut adik manisnya. Dia menatap Kibum dengan pandangan kejam. Ia ingin ikut ke rumah Kibum tentu saja—tapi ia takut jika harus bertemu ayah Kibum. Dia jadi galau.
Kibum menghampiri Kyuhyun, merebut ponselnya dan mengangkatnya tinggi tinggi agar Kyuhyun melompat mengambilnya. "Kalau begitu kau datang saja" kata Kibum santai. Dia mengecek kembali ponselnya dan sepertinya Kyuhyun tepat waktu mengembalikan ponselnya. "Aku tunggu sepulang sekolah di depan"
Cukup membuat Taehyung dan Jisoo menatap tak percaya pada Kibum. Sejak kapan pria yang terlihat selalu acuh pada Kyuhyun itu mulai membawa arus menerima Kyuhyun. Jisoo baru saja hendak menyerahkan hatinya dan lelakinya sepertinya sangat susah di dapat. Jisoo harus berusaha lebih keras. "Hei Kibum! Jangan mengambil adikku!"
"Kalau kau mau, kau boleh ikut!" ucap Kibum acuh.
"Ti—tidak bisa" Taehyung masih takut Kibum versi dewasa yang meremukkan tangannya.
Ika. Zordick
Penerangan di tempat itu terasa remang. Lampu gantung terlihat stabil di langit langit rendah ruangan itu. Tangannya terulur, mengambil sebuah penggaris besi yang teronggok di atas meja. Langkahnya terkesan malas, tubuhnya membungkuk menghampiri gadis berambut panjang dengan tangan dan kaki terikat di atas kursi.
"Lihat siapa yang menangis? Kau tidak lelah?" dia bertanya. Suaranya serak mengerikan. Gadis itu melotot, merasa takut. "Keterlaluan sekali, kau seharusnya tidak serakah hanya karena memiliki wajah yang cantik"—menjambak rambut sang gadis.
Dengan mulut yang terlakban sempurna, gadis berseragam sekolah itu terisak. Dia tak bisa melupakan wajah itu—wajah seseorang yang mengambil nyawa kekasihnya dan orang orang yang mencoba menyelamatkannya. Membelah mereka tepat di depan wajahnya. Dia berjalan melingkar, mencoba mengelilingi si gadis cantik dengan lampu gantung di atasnya. "Kau punya dada yang indah" dia berbicara nyaris berbisik di telinga si gadis. Menghembuskan nafasnya di telinga gadis tersebut.
Tangan terulur, meletakkan penggaris besi itu di paha sang gadis. "Dengarkan aku! Jika kau tak mendesah, akan ku paksa kau mendesah dengan memasukkan penggaris ini ke dalam rok mu. Aku ingin tahu ukuran ke dalamannya" cukup membuat si gadis gemetar takut.
Membuka lakban di mulut si gadis. Dia tersenyum, giginya terlihat—senyumnya terkembang sangat lebar. Terkesan mengerikan dari pada dikatai ramah. "Kau hanya boleh mendesah tidak boleh melakukan apapun selain itu, mengerti?"
Mengangguk. Gadis itu terlalu sering melihat sesuatu yang mengerikan hingga ia paham jika ia akan mati jika tak menurut. Gadis itu juga paham kalau seseorang yang di hadapannya itu orang yang tak ikrar janji. Dia sungguh pasti akan menyiksanya dengan penggaris besi itu jika sampai tak menuruti kemauannya.
Si gadis tak menolak. Tak juga bertanya kenapa. Dia mengigit bibir bawahnya, matanya dengan liar menatap jemari yang meraih kancing bajunya. Membuka satu per satu kancing baju itu. Rasanya sangat kotor.
Dia mengangkat bra putih dengan renda pink yang menyanggah dada si gadis. Menariknya ke atas—mempertontonkan dada indah sang wanita. Dia menjilat permukaan bibirnya. "Berbeda sekali dengan milikku, membuatku iri saja" dia terkekeh. Senang menyentuh puncak payudara si gadis dengan jemari telanjangnya. Menariknya.
PLAAAAK
Dan menampar wajah si gadis. "Aku menyuruhmu mendesah!" Gadis itu melakukannya. Mendesah dalam ketakutannya.
Lagu terdengar—salah satu ost dalam film terkenal fifty shades of grey. Dia mencibir. Siapa gerangan yang menganggu kesenangannya. "Ya ya ada apa?" katanya.
"Aku sudah dapat orang baru" itu membuat kekesalannya menguar.
"Apakah dia cantik?"
"Tentu. Jadi singkirkan gadis itu, aku akan memberikan mainan baru" kata seseorang di seberang sana. Dia mematikan ponselnya. Menatap dengan garis mata menyipit dan bibir melengkung—menunjukkan bahwa ia sedang dalam keadaan sangat senang.
Dia mengambil benda lain dari dalam tasnya. Sesuatu yang yang keras, yang bisa memecahkan batu. Martil itu mendadak berubah fungsi. "Ja—jangan" si gadis mencoba menghentikan. "A—aku akan lakukan apapun yang kau inginkan!" berusaha mempertahankan nyawanya. Tidak masalah jika ia akan di lecehkan, ia hanya ingin bertahan hidup. Ia ingin bertemu kembali dengan ke dua orang tuanya.
BUGHH—
Kepala martil itu melayang dengan ringan. Menghempas tempurung kepala si gadis. "Padahal kau punya payudara yang indah" dia memasang wajah kasihan. Ingin menangis tapi berakhir dengan tawa ketika si gadis mencoba meronta.
BUGH
BUGH
BUGH
Berkali kali, martil itu menghempas kepala si gadis. Hingga tak ada pergerakan berarti lagi. Sesuatu yang kental berwarna merah menyembur ketika dia menghantam kepala sang gadis untuk terakhir kalinya. "Warna otakmu hampir sama dengan warna nipplemu" dia tersenyum. Melirik ke arah roknya yang kotor. "Astaga manis sekali kata kataku! Dasar jalang! Bisa sekali kau merebut perhatian guru kesayanganku!"
Ika. Zordick
Jantung Kyuhyun berdebar. Dia akan mengunjungi calon mertuanya—Kyuhyun takut tapi ia juga ingin berkenalan dengan ibu pria tampan yang tengah ia ikuti sepanjang hari. Ini kesempatannya.
Ia harus mendapatkan Kibum. Apapun yang terjadi?
Dia bahkan sudah menelpon ayahnya tentang pria idamannya itu. Sialnya dia mengatakan kalau dia sudah memacari Kibum. Dia jadi setengah berbohong dan ayahnya tak suka ia berbohong. Dia harus segera membuat Kibum menjadikan dirinya sebagai kekasih.
"Silahkan masuk!" kata Kibum. Dia membuka pintu apartementnya. "Aku pulang ibu" kata Kibum—suaranya terdengar berat. Ini kata kata pertama yang diucapkan Kibum dengan lantang. Kyuhyun rasanya ingin meluber.
"Ah kau datang" Kyuhyun melotot tak percaya. Wanita di depannya terlihat sangat amat cantik dan—muda. Kyuhyun punya ibu yang selalu menjaga diri dengan segala jenis perawatan tapi tetap saja tak semuda ibu Kibum. "Jadi inikah Kyuhyun? Astaga kau sangat manis!" Hyuna berlari, memeluk Kyuhyun. Hyuna berterus terang tentang betapa manisnya Kyuhyun. Anak itu nyaris seperti boneka hidup dengan wajah kecil, mata yang besar, hidung yang mencung dan bibir yang terlihat manis.
"Anda terlihat sangat muda" Kyuhyun membuat Hyuna terkekeh.
"Benarkah? Kau pintar sekali memuji, aku jadi tersipu" Kyuhyun tak bermaksud memuji. Dia berkata jujur tentang betapa mudanya si ibu tersebut. "Aku di hamili ayah Kibum saat seusia denganmu" Hyuna mengedipkan sebelah matanya, sukses membuat Kibum yang tengah meminum air mineral dari botol di dalam kulkas menyemburkan airnya. Pintar sekali rekan kerjanya itu membohongi anak polos macam Kyuhyun.
"Be—benarkah?" Kyuhyun memerah. Ibu Kibum frontal sekali.
Hyuna mengangguk angguk dengan senyum di wajahnya. "Kibum, bawakan minum untuk Kyuhyun, dia pasti haus" Hyuna sengaja berteriak. Kapan lagi dia bisa menyuruh nyuruh Kibum yang selalu memperlakukannya seperti babu.
Kibum mencibir ketika wajahnya melongok masuk ke dalam kulkas, mencari cari sesuatu yang cocok dengan cita rasa Kyuhyun. Sialnya ia hanya mempunyai bir di kulkasnya. Dia membuka pintu lain kulkasnya, syukurlah dia menemukan jus kotak. Hyuna pasti mengisi kulkasnya dengan makanan dan minuman sehat. Kibum menuang isi jus kotak itu ke dalam tiga buah gelas. Membawanya ke meja tempat Hyuna membawa Kyuhyun duduk.
Kyuhyun mengedarkan pandangannya dan menemukan figura. Di sana ada seseorang yang mirip Kibum—atau memang orang itu adalah Kibum. "Dia mirip sekali dengan Kibum, seseorang yang berdiri di sebelahmu di foto itu" kata Kyuhyun, langsung menyuarakan hatinya.
Sedikit gelagapan. "Itu ayahku" ucap Kibum—ia teringat Taehyung yang mengatainya tempo hari. "Dia seorang polisi"
"Itulah mengapa dia jarang pulang. Dia bekerja sangat giat untuk menangkap penjahat" Hyuna berbicara mendayu. Kibum merasa aksi Hyuna terlihat berlebihan. "Kibum selalu membuatku tak kesepian. Dia menuruni 100 persen gen ayahnya" tentu saja. Itu dirinya sendiri.
"Dia terlihat sangat gagah, kurasa Kibum ketika dewasa akan sangat persis sepertinya"
"Sebenarnya tidak usah menunggunya dewasa, suruh saja si bajingan ini makan daging yang banyak!" jerit Hyuna dalam hatinya. Kibum menyetujui tentang dirinya yang gagah.
Ika. Zordick
Menenteng tasnya. Kibum menghentikan langkahnya, ia melirik ke belakang—ia merasa di ikuti. Ia tahu dengan jelas bahwa langkah itu berbeda dengan langkah Kyuhyun. Gadis kecil itu biasanya membuatnya terkekeh dengan langkahnya yang jelas sangat gegabah dalam mengikutinya. Kali ini langkahnya lebih berhati hati. Siapa gerangan?
Kibum berbalik. "Pagi Kibum" seseorang menepuk bahu Kibum dari belakang. Dia Jisoo, gadis cantik yang terlihat anggun dengan senyuman manis di bibirnya. Kibum menyambut salam itu.
"HEI KIBUM!" dan itu seseorang berisik lainnya yang selalu menganggu hari Kibum. Dia Cho Taehyung, lelaki angkuh yang menjadi kakak nyaris budak Kyuhyun. Dia melangkahkan kakinya, orang orang mengikuti di belakangnya—hampir seluruh anak nakal di sekolahnya. Taehyung sedang menunjukkan kekuasaannya.
"Ada apa denganmu?" Kibum menaikkan sebelah alisnya.
"Kau apakan adikku semalam? Dia tak berhenti tersenyum sejak pulang dari rumahmu! Dia bahkan mengucapkan selamat malam padaku!" ucap Taehyung, menuding Kibum tentang sesuatu yang salah dengan Kyuhyunnya. Kibum kini mengerutkan dahi, dia tahu sekali seseorang seperti Kyuhyun bukan tipenya sekali. Selain berdada rata, memakai celana dalam motif polkadot, Kyuhyun juga tidak ada unsur keibuan.
Kibum memilih mengacuhkan, dia tak ingat melakukan sesuatu dengan gadis yang bahkan belum dewasa. Kibum tidak bernafsu dengan Kyuhyun meski bayang celana dalam polkadotnya kadang membuat Kibum menepukkan kepalanya di meja. "Tidak ada" Kibum menjawab. Tak ingin dirinya tertuduh sebagai pedofilia dengan memerawani gadis berkesan tomboy itu.
"Kau itu aneh! Bagaimana mungkin kau tidak melakukan sesuatu pada adikku! Dia itu manis, wajahnya seperti boneka, dia juga imut! Kulitnya putih dan lucu" Taehyung selalu memuja adiknya. Dia tak terima kalau adiknya dikatai tak menarik. Apalagi oleh seseorang bermarga Kim—seorang anak yang ayahnya adalah musuh bebuyutan Taehyung. "Pipinya itu menggemaskan! Kemudian—" Taehyung sepertinya berniat menghabiskan satu chapter hanya untuk menjelaskan betapa hebatnya Kyuhyun.
"Dadanya kecil"
Hening—
"Kau bilang, kau tak tertarik dengan adikku dan tak melakukan sesuatu dengannya karena dadanya kecil?" Taehyung itu sepertinya tidak sadar telah mempermalukan sang adik. Sebenarnya, dia marah pada Kibum karena tidak melakukan sesuatu pada adiknya atau karena mengatai dada adiknya kecil. Taehyung mengeram.
"Tentu. Dadanya memang kecil" Kibum juga tidak sadar bahwa ia terlalu frontal mengatakan dada seorang gadis terlalu kecil untuk ukuran dambaannya.
"Lalu kau ingin yang ukuran seperti apa?" Taehyung juga tak sadar diri, dia menengadahkan tangannya—melengkungkan sedikit telapak tangannya. Ia mencoba membayangkan ukuran yang pas untuk seorang wanita. "Aku tidak suka yang terlalu besar, rasanya menyeramkan" tema pembicaraan mereka di koridor mendadak berubah.
"Aku setuju, yang pas di tangan saja" Kibum ikut menengadahkan tangannya. Dan mereka berdua sontak beralih menatap Jisoo, mata mereka melecehkan sang ketua kelas. Pandangan mereka tepat jatuh pada dada Jisoo membuat wanita itu memerah dan menutupi tubuhnya dengan kedua lengannya.
"Kibuuuuummmmm!" hanya satu orang yang akan memanggil Kibum dengan nada seperti tarzan. Kibum dan Taehyung cepat menurunkan tangan mereka. Menatap pada gadis cantik dengan pita di rambutnya. Dia sedikit lebih feminism pagi ini, membuat seluruh bawahan kakaknya memandang heran. Dia cepat merangkul tangan Kibum, menampilkan senyuman seindah mentari di luar sana.
"Jika kau tak bisa menyukai gadis itu, rencana kita akan kacau Kibum! Kau harus bisa dekat dengan kakaknya dan memastikan lelaki populer itu baik baik saja!" ucapan Hyuna terngiang di kepalanya. Kibum menghela nafas.
Kibum memandang Kyuhyun. Menatap dalam manik bewarna coklat gelap itu. Mencoba mencari sesuatu yang bagus dari bocah ini. Dadanya benar benar datar dan Kibum merasa rasa sukanya sungguh sirna karena hal itu. Dan—
Suara angin bertiup kencang terdengar. Jendela di koridor tempat mereka berdiri terbuka, menghadiahkan tiupan angin yang cukup menerbangkan rambut Jisoo dan—
Rok pendek Kyuhyun.
Lagi lagi, Kibum ingin sekali membeturkan kepalanya di kaca jendela, kenapa jendela itu bisa terbuka di saat penting seperti ini. Membuat Kibum kembali menangkap pemandangan indah berupa selangkangan Kyuhyun dengan celana dalam berwarna putih—tanpa motif.
Hening—
Taehyung melotot menatap rok adiknya yang berkibar. Dia kemudian menatap mata Kibum yang jelas menatap tanpa berkedip isi rok sang adik. "BAJINGAN! APA YANG KAU LIHAT!"
BUGH—
Kibum tak punya pertahanan. Tinju Taehyung melayang di wajah Kibum. Persis menghantam hidung mancungnya. "Mampus kau KIM KIBUM! Akan kubunuh kau!" Taehyung menindih tubuh Kibum. Memukul berkali kali wajah Kibum.
"ASTAGA TAEHYUNG!" Jisoo mencoba menarik Taehyung dari tubuh Kibum.
"TAEHYUNG, APA YANG KAU LAKUKAN!" Kyuhyun tak ingin wajah Kibum babak belur.
Tapi—
Kibum menarik kerah seragam Taehyung. Memukul bagian perut Taehyung dan dia membalik tubuhnya. Kini dia yang menindih tubuh Taehyung. "Putih! Kurasa aku tertarik dengan adikmu. Berikan dia padaku!" Kibum beruntung karena Taehyung memukulnya. Dia pria dewasa—hormonnya berteriak keras untuk menyerang Kyuhyun setiap kali rok gadis itu melambai tertiup angin. Kibum mengutuk angin. Kibum juga mengutuk celana dalam warna putih polos, film porno pertama yang ia tonton adalah film jepang dengan gadis yang memakai celana dalam berwarna putih. Pengalaman pertamanya menonton film panas dan merasa itu adalah film terpanas yang pernah ia tonton.
Sementara Kyuhyun, dia merasa ini pernyataan cinta yang paling romantic yang pernah ada. Kibum memintanya pada Taehyung setelah mengalahkan kakaknya bertarung. Sepertinya Kyuhyun lupa bahwa Kibum mengucapkan warna celana dalamnya dan Taehyung memukul Kibum bukan karena lelaki itu mengatakan menyukai Kyuhyun melainkan karena melihat isi rok Kyuhyun.
Jika jadi Jisoo, hatiku pastilah hancur. Orang yang disukainya, membuatnya merasa di cintai baru saja menyatakan cintanya pada anak SMP yang jelas jelas memiliki dada yang rata. "Kalian harus mengobati luka kalian" Kibum memiliki lebam di wajahnya dan Taehyung meringis sakit di bagian perutnya. Jisoo akan pikirkan nanti tentang perasaannya pada Kibum.
Ika. Zordick
Kyuhyun menunduk. Sangat dalam hingga wajahnya tak terlihat. Kibum yang tengah mencoba mengobati lukanya sendiri dengan bantuan cermin, kadang melirik Kyuhyun. Bocah itu sibuk memainkan ujung bajunya, memilin milin tak jelas. Taehyung ada di tempat tidur di sebelah. Kibum rasa ia memukul perut Taehyung terlalu keras. "Ini lebam" bisik Jisoo tak percaya, ia meringis melihat bekas keunguan di bagian perut Taehyung.
"Dia terlalu manja" Kibum bangkit dari posisinya. Dia diam diam melihat ke arah Kibum.
"Apakah itu sakit?" Tanya Kyuhyun saat melihat luka sang kakak. Takut juga jika Taehyung berkondisi parah.
"Seperti di gigit semut. Aku tak apa apa Kyuhyun" Kibum memutar bola matanya bosan, jelas saja itu sangat sakit. Taehyung tak pernah di pukul sekuat itu ternyata. Kibum duduk di sisi Taehyung, meraih salep untuk luka memar di tangan Jisoo.
"Bagaimana kau bisa mengobatinya kalau kau takut melihat lukanya. Itu tak berdarah" Kibum berbicara. Dia mengoleskan salepnya pada luka Taehyung, mengurutnya dengan benar. Mereka pernah dapat pengajaran tentang ini. Taehyung meringis tapi dia tak melawan. Dia takut terlihat lemah di mata Kyuhyun.
"Kenapa kalian tak kembali saja ke kelas? Aku akan merawat Taehyung" ucap Kibum membuat keduanya saling berpandangan. Kibum menatap Kyuhyun yang sepertinya enggan untuk meninggalkan sang kakak atau dirinya.
"Bagaimana jika kalian berkelahi lagi?" Kyuhyun mencemaskan keduanya. Kibum tersenyum. Dia rasa dia suka dengan sifat polos si bocah kalau bagian ini. Seandainya bersikap manis seperti saat ini, Kibum pasti sangat menyukai Kyuhyun. Kibum melepas blazernya, membuat kedua wanita yang berada di sana sedikit terperangah. Tubuh Kibum terlalu menggoda untuk mata. Kemeja putih itu membuat mereka dengan jelas melihat bayang bayang hot chocolate abs si pria.
Kibum mengampiri Kyuhyun. Mengikat blazernya di pinggang ramping Kyuhyun. Kibum berharap blazernya akan sedikit menghalau angin. "Kembalilah ke kelasmu!" menepuk dan kemudian mengacak rambut Kyuhyun gemas. Jisoo mengigit pipi bagian dalamnya, sedikit cemburu melihat adegan manis itu.
Kedua gadis cantik beda usia itu melangkah keluar ruang UKS. "Jangan menatap Kibum lagi! Dia milikku!" Kyuhyun gadis egois yang tak suka miliknya di sentuh. Ia berbicara, menohok hati Jisoo tapi Jisoo hanya membalas senyuman. Mereka kemudian berpisah di salah satu jalan bercabang untuk sampai ke kelas masing masing.
Ika. Zordick
Gadis cantik yang memiliki perawakan feminism itu mendongakkan wajahnya, menemukan seorang wanita lain yang tersenyum ceria padanya. Rambutnya pendek seleher dengan pakaian seragam yang berbeda dengan miliknya. "Hi, siapa namamu?" dia bertanya. Dengan senyuman manis bertengger di wajahnya.
Jisoo melihat sekelilingnya. Dia tak tahu dimana dia. Hanya ada lampu yang tergantung rendah. Salah satunya tepat di atas kepalanya. Ia terikat, dengan tangan dan kaki di kursi yang tengah ia duduki. Bau anyir tercium di hidungnya—tubuhnya merinding seketika. Dia menunduk ke bawah menemukan tetes demi tetes darah, yang mengalir dari wajahnya ke rok seragamnya.
"Aku dimana?" Jisoo tak menjawab. Dia bertanya balik dan wanita yang tersenyum manis di depannya itu menarik kuat rambutnya. Membuahkan ringisan di bibir sensual milik Jisoo.
"Jawab jika aku bertanya padamu!" terdengar memaksa. Jisoo menelan ludahnya. Darah itu miliknya, darah menetes melewati alisnya dan membuat matanya perih.
"Jisoo, namaku Jisoo" Jisoo menjawab. Wanita itu bertubuh mungil, tapi jujur membuatnya merasa sangat ketakutan. Belum lagi martil yang ada di tangannya, Jisoo melihat darah di sana.
Gadis itu kembali tersenyum cerah. "Nama yang bagus. Aku jadi ingin tahu, sebagus apa tubuhmu"
"Hentikan itu Hani!" suara yang familiar terdengar. Jisoo terbelalak melihat seseorang yang ia kenal di sana, berdiri dengan santai sambil menyesap rokok yang berada di antara jari telunjuk dan tengahnya. "Kita harus membuatnya menghadirkan para pangerannya"
"Aku iri dengan wajah cantiknya, biar aku menggoresnya"
"Tidak Hani!" kata pria itu tegas. "Jadi bagaimana jika kita mulai dengan Kibum?" Jisoo terdiam ketakutan.
Ika. Zordick
Kyuhyun melangkahkan kakinya riang. Dia harus bertemu Kibum, ia ingin mengajak lelaki itu untuk kencan atau setidaknya membiarkannya untuk mempelototi wajah Kibum. Dia bahkan masih mengingat bagaimana bentuk bentuk tubuh Kibum di balik kemeja seragam putih. Wajah Kyuhyun memerah. Dia tak menyangka akan punya kekasih setampan Kibum. Nanti ia akan bercerita pada ibunya, agar ibunya iri.
Sesuatu bergetar di sekitar pinggangnya. Kyuhyun mencoba meraba blazer Kibum yang masih betah tersampir di pinggannya. Ia menemukan ponsel lelaki itu. Menemukan sebuah pesan di sana. Kyuhyun menyipitikan matanya saat melihat nama Jisoo di sana.
Datanglah ke gudang H, ada yang ingin ku bicarakan. Aku merindukanmu.
Kyuhyun mencebik. "Dasar wanita jalang. Jelas jelas Kibum suka aku" Kyuhyun tak suka miliknya di ganggu. Dia akan mendatangi Jisoo, menarik rambutnya kemudian mencakar wajahnya. Jisoo harus diingatkan bahwa kakaknya, Taehyung masih menunggu.
"Eunha, kau tahu dimana gudang H?" Kyuhyun bertanya pada teman sekelasnya yang baru saja keluar dari kelas.
TBC
Lagi ngalir buat ide FF ini, jadi lanjut ini saja.
Mohon reviewnya~~
Q : Sebenarnya umur Kibum berapa?
A : Ka Typo memang, umurnya Kibum itu dua puluh delapan tahun
Q : Ini GS?
A : Ya, ini GS tenang saja ada sentuhan BL juga. Hanya saja Kyuhyun harus cewe untuk kelancaran cerita
Q : Polkadot?
A : Sekarang sudah ganti warna putih
Q : Kibum pedofil?
A : Sekarang belum positif, tapi yakinilah dia sungguh akan menjadi pedofil meskipun dia selesai dengan tugasnya di sekolah Taehyung.
Q : Kim Taehyung atau Cho Taehyung?
A : Cho Taehyung, karena V dijadikan kakak pengertian untuk Kyuhyun di FF ini.
Q : Lullaby kapan update?
A : Masih 1k+ tulisannya. Belum dapat mood yang berarti. Lagi pengen yang berdarah dengan sentuhan sensual vulgar wkakakakaka
