Taehyung membuka matanya. Lelaki tampan dengan senyum yang selalu terlihat seperti cengiran itu menggoyang tubuh Kibum yang tertidur sambil bersidekap di atas kursi tunggu di sisi tempat tidurnya. Kibum terbangun—tak butuh waktu lama, dia tertidur tetap dalam keadaan siaga. Pekerjaannya memaksanya untuk itu. Dia melirik Taehyung—remaja lelaki itu mencoba bangun.
"Jam berapa ini?" Tanya Taehyung. Dia tak punya jam tangan dan pemandangan Kibum dengan jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kokohnya menyapa Taehyung ketika membuka matanya. Kibum melirik jam tangannya, memberi tahukan bahwa sudah sore, hampir jam lima. Mereka terlalu lama ketiduran dan tak ada yang membangunkan.
Kemana Jisoo dan Kyuhyun? Harusnya dua gadis itu pasti mendatangi mereka atau setidaknya duduk di ruangan yang sama hanya untuk menunggu keduanya terbangun.
Mencoba bangun, Taehyung mengecek ponselnya. Tidak ada satupun pesan di sana. Sepertinya jelas kalau Kyuhyun tak menghubunginya untuk mengajak pulang bersama. Ada yang tidak beres dengan adiknya. Apa Kyuhyun berniat pulang dengan Kibum? Tapi Kibum jelas ada bersamanya.
"Apa kau tak mendapat pesan dari Kyuhyun?" Tanya Taehyung. Kibum menyipitkan matanya, dahinya mengekerut. Kyuhyun itu sebenarnya adik siapa? "Kau kekasih Kyuhyun" Taehyung sepertinya mengerti kalau Kibum terkadang suka amnesia atau dia menderita penyakit pikun. Kibum harus di bantu untuk mengingat. Apalagi yang berhubungan dengan sang adik. Taehyung jadi penasaran, mengapa Kyuhyun bisa tergila gila dengan si brengsek ini.
Mencoba meronggoh sakunya. Kibum tak menemukan ponselnya. Ah dia baru ingat bahwa ponselnya berada di saku blazernya dan dia mengikatnya di pinggang Kyuhyun. "Aku meninggalkannya pada Kyuhyun"
"Wah, manis sekali" cibir Taehyung. "Kau sudah menepis semua prasangka buruk Kyuhyun bahwa kau seorang cassanova. Kyuhyun selalu berceloteh tentang kau yang akan mencampakkannya" Kibum tak ingat bahwa ia sudah mengangkat Kyuhyun menjadi sesuatu sebelum hari ini. Bagaimana ceritanya Kibum mencampakkan Kyuhyun? "Sudah tukar tukaran ponsel, sepertinya aku harus meminta nomormu nanti"
"Masalahnya bukan disitu" Kibum akhirnya berbicara. "Dimana Kyuhyun? Dia membawa ponselku" Kibum sedikit khawatir dengan Hyuna yang tiba tiba menelpon atau Donghae yang memberikan informasi baru.
"Aku juga tidak tahu, sebaiknya aku pulang, dia mungkin sudah ada di rumah" ujar Taehyung.
Little Flower
.
.
Ika. Zordick
"ARGHH!" Kyuhyun berteriak kesakitan ketika rambutnya di jambak kuat. Dirinya di seret, di dudukkan di sebuah kursi dan lampu gantung itu di arahkan tepat di wajahnya.
"Dia sangat cantik" Hani—gadis yang tak sedang terikat dengan senyuman mengerikan itulah yang mengarahkan lampu gantung ke arah wajah Kyuhyun. "Kalian memiliki hubungan sehingga kaulah yang datang menemui Jisoo? Bukankah kau menghubungi kekasih Jisoo, pak guru?" Hani membalikkan tubuhnya menatap penuh rasa penasaran pada lelaki yang tengah merokok. Kakinya di naikkan di atas meja dan punggungnya dengan nyaman bersandar di kursi.
"Ya, dan gadis itu yang membawa ponselnya. Sepertinya Kibum itu memang seorang playboy" lelaki yang di sebut sebagai guru itu melempar asal ponsel Kibum yang sudah di nonaktifkan. "Dia memang cukup tampan untuk merebut hati dua gadis cantik" guru itu terkekeh. Senyumannya masih terlihat meneduhkan. Sama persis ketika dia berterimakasih pada Jisoo—siswi yang selalu membawakan buku buku ke mejanya.
Kyuhyun meronta. Dia dapat menemukan Jisoo dengan dahi berdarah yang terikat tak jauh darinya. "Bukankah kau guru magang itu?" Kyuhyun bertanya. Dia menatap tajam pada sosok guru yang kini mematikan rokoknya. Dia guru yang punya senyum jahat—menurut cerita kakaknya dan cukup popular di kalangan siswi di kelas sang kakak. Dia bersyukur sering bergosip dengan Taehyung. Setidaknya ia mengenali pria itu.
"Wah kau mengetahuinya?" Tanya sang guru. Wajahnya masih tersenyum. "Kau seorang bocah SMP yang cerdas" dia bertepuk untuk mengapresiasikan betapa dia kagum pada Kyuhyun. Bocah itu lebih menghibur dari Jisoo. Wajah cantiknya pasti mengagumkan ketika tumbuh besar nanti. Dia berjongkok, menatap wajah Kyuhyun dari bawah. "Aku kagum pada kecantikanmu" dia tulus berkata itu.
Hani memajukan mulutnya. "Guru!" dia berteriak tak terima.
"Ya, Hani?" sang guru tak melepas perhatiannya pada Kyuhyun. Masih betah menatapi wajah tanpa cacat milik Kyuhyun.
"Kau berjanji untuk melakukan hard sex denganku! Bukan dengan yang lain!" teriaknya—tak terima dengan jemari sang guru yang merayap mengelus paha dalam Kyuhyun.
"SINGKIRKAN TANGANMU, BRENGSEK!" Kyuhyun meronta, mencoba memaki pria mengerikan berkedok guru ramah di hadapannya.
"Buka pakaiannya dan lakban mulutnya" sang guru menjauh dari Kyuhyun. Dia mengambil tempat di kursi tempatnya menikmati rokoknya sedari tadi. Dia menyulut satu batang rokok lagi, menghisap benda mungil itu dan menghembuskan keras asap dari mulutnya.
"Guru!" Hani merengek. Tak terima ketika gurunya ingin menikmati tubuh lain selain tubuhnya.
"LAKUKAN HANI!" teriak si pria. Hani memajukan mulutnya. Dia patuh juga. Dia mengambil lakban ukuran besar, menyumpal mulut Kyuhyun sementara si gadis masih meronta tak terima. Bulir bening mengalir di pipinya.
"Papa!"
"Mama!"
"Kibum!"
"TAEHYUNG! TOLONG AKU!" Kyuhyun berteriak di dalam hatinya. Seirama dengan air mata yang mengalir deras di pipinya menatapi tangan jahat yang mulai menelanjanginya.
Ika. Zordick
Tersentak.
Taehyung menghentikan langkahnya yang tengah menuju pintu gerbang sekolahnya. "Ada apa?" Tanya Kibum yang berjalan bersisian dengan Taehyung. Sedikit penasaran dengan Taehyung yang melihat ke kiri dan ke kanan. Seperti mencari seseorang.
"Aku merasa Kyuhyun memanggil"
Kibum ikut melihat ke sekelilingnya. Tak ada siapapun di halaman sekolah itu kecuali mereka berdua. "Sepertinya adikku sedang dalam keadaan tidak baik baik saja, Kibum" Taehyung merasakan firasat tidak enak menghantam dadanya. Kibum menatap Taehyung, otaknya menganalisa dan ia rasa Kyuhyun memang dalam keadaan tidak baik baik saja.
Ia sudah lama menjadi polisi, mengenal banyak orang dan beberapa diantara mereka karena terlalu saling menyayangi, firasatnya tentang orang lain selalu benar. Kibum yang selalu benar tentang penjahat karena obesesinya untuk menangkap mereka dan Kibum yakin, Taehyung sama sepertinya. Taehyung pasti selalu benar tentang Kyuhyun, karena dia terlalu menyayangi sang adik.
"Kita akan menemukannya!" ucap Kibum. Dan saat itu Donghae menunjukkan diri di depan gerbang. Melambaikan tangannya semangat. Kibum buru buru menarik tangan Taehyung, mereka menghampiri Donghae.
"Dia, polisi yang—" Taehyung menunjuk wajah Donghae dengan cara yang tidak sopan. "Kibum, ayahmu seorang polisi kan? Kau pasti dekat dengan polisi polisi rekan ayahmu atau kau bisa minta agar ayahmu menemukan adikku!" permohonan itu memberondong Kibum. Donghae mengiba pada bocah nakal yang selalu di nasihatinya dengan berbagai petuah. Dia menepuk bahu Taehyung.
"Aku akan menemukannya, aku sudah mengatakannya padamu!" ucap Kibum. Dia menatap Donghae. Menyuruh pria itu untuk berbicara apapun secara jelas. Seolah tidak masalah jika Taehyung mengetahui jati dirinya. "Katakanlah, kasus ini sudah sampai pada puncaknya. Mereka hanya penjahat amatir"
Kibum mengeram. Giginya bergemelatuk. Dia marah, setiap ia mengingat wajah manis Kyuhyun yang memanggil namanya seperti orang hutan. Mendadak dia rindu dengan wajah malu malu kucing milik gadis tomboy itu. "Berani sekali menyentuh kekasihku" Kibum kehilangan akal sehatnya, dia baru saja mengakui bahwa Kyuhyun adalah kekasihnya.
Donghae tertegun. Sudah lama sejak tak menemukan Kibum yang mengklaim seorang wanita sebagai miliknya. Terakhir kali, Kibum jatuh cinta dengan atasan mereka dan kemudian di campakkan dengan alasan profesionalitas. Donghae memberikan posisi tegak, tangannya berada di pelipisnya—memberikan pose hormat. "Lapor, aku menemukan hubungan antar korban!"
Kibum mengeriyit ketika mendengar Donghae berbicara begitu formal. "Katakan saja, jangan berakting bahwa kau sangat menghormatiku!" Donghae mencebik. Kibum benar benar tak bisa menikmati masa masa di hormati kecuali sedang memberikan hukuman.
"Korbannya adalah Bae Suzy. Dia cantik dan populer serta di sukai banyak lelaki di sekolahnya. Pelaku menangkap dan menawannya kemudian menghubungi satu per satu pria yang menyukainya. Kemudian membunuh mereka. Mayat Bae Suzy baru saja di temukan"
"Benar benar amatir" Kibum membolak balik berkas di tangannya yang di berikan oleh Donghae. "Bisakah kau membuka GPS dan menunjukkannya padaku?" Taehyung yang sedari tadi terbengok cepat membuka ponselnya, membuka aplikasi GPS dan memberikannya pada Kibum. "Hubungi Hyuna!" tangannya sibuk memperbesar dan memperkecil daerah di sekitar mereka.
"Tersambung!" ucap Donghae. Dia menyerahkan pada Kibum.
"Gudang H? Ada apa dengan Gudang itu?" Tanya Kibum ketika jemarinya berhenti pada layar ponsel Taehyung. Otaknya cepat memproses dimana kira kira pembunuhan dengan kurun waktu panjang dan berantai itu di lakukan. Tempat yang tak di endus oleh polisi sebelumnya karena tak mencurigakan sama sekali. Tempat yang bisa cepat di temukan oleh orang orang yang diminta menemui kekasihnya dan melakukan maksiat secara gratis. Kibum hanya bisa menemukan tempat itu sebagai tempat terdekat dari tempat mereka berada saat ini.
"Tempat itu tak layak di gunakan lagi. Terbakar setahun lalu dan polisi sudah mencari di sana, tak di temukan apapun" ucap Hyuna di seberang sana. Kibum ragu sesaat. "Hanya ada abu bekas terbakar"
"Adakah korban?"
"Ya, sekitar empat orang, mereka tewas menjadi abu akibat insiden tersebut"
"Kita ke sana!" Kibum menutup ponselnya. Dia meregangkan tubuhnya. Melemparkan ponsel 2G milik Donghae pada pemiliknya. Dia memberikan ponsel Taehyung. "Kau ingin ikut menyelamatkan adikmu?" tanyanya.
Taehyung mengangguk. Dia tersenyum karena diberikan kesempatan untuk memastikan kondisi adiknya baik baik saja. "Berikan keterangan dan minta surat penangkapan pada pusat!" perintahnya pada Donghae.
"Hei, kau tak bisa membawa Taehyung!" Donghae kenal bocah brengsek yang selalu egois itu.
"Dia di bawah tanggung jawabku. Ada pertanyaan lain, Donghae Lee?" Donghae terdiam. Kibum memang suka seenaknya. Dia memberikan pose hormat, mengucapkan kalimat tegas bahwa ia akan melakukan tugasnya dengan baik.
Ika. Zordick
"Siapa kau sebenarnya?" Taehyung hanya penasaran dan dia mendapatkan jawabannya tanpa bertanya. Dia hanya bergumam tak jelas menatap punggung lebar tanpa blazer yang tersampir di tubuh atletis itu. Dia tahu pria dengan jaket usangnya, dengan tampang brewokan yang sangat di benci Taehyung. Dia pria itu—seseorang yang sepertinya sedang melakukan tugas penting dan menyamar ke dalam sekolahnya.
Taehyung rasa, Kibum seperti tokoh utama dalam film film bergenre action yang sangat ia sukai. Ia ingin menjadi seorang polisi saja, dia akan meminta pada ayahnya agar bisnisnya di berikan pada Kyuhyun saja. Taehyung tak sadar bahwa musuh bebuyutannya sudah menjadi sosok yang ia idolakan.
Mereka berlari.
Berakhir dengan menemukan gudang yang menjadi tujuan akhir mereka. Kibum mencoba menyentuh pinggangnya—mencari sesuatu yang berbau senjata di sana. Sial! Dia lupa kalau dia sedang menyamar sebagai lelaki SMA. Siswa yang baik tak membawa senjata api atau belati di tubuhnya.
Tangan kosong! Oh Tidak!
"Aku akan masuk" ucap Kibum. Taehyung mengangguk. Kibum bisa mendengar melodi yang seperti earworm di telinganya. Lagu Bon Jovi – Always. Dia sedang mempertaruhkan nyawanya untuk menangkap penjahat dan seorang gadis kecil yang cukup berwarna.
Dan—
Sebuah pemandangan yang cukup membuat Taehyung menganga. Pemandangan ajaib dari seorang guru yang dikenalnya dengan wanita berambut pendek di atas sebuah meja berdebu.
"Ah ah ah ah ah" suara desahan itu seirama dengan suara genjot menggenjot si pria dengan si wanita yang terlihat sexy di bawah tubuhnya. Mereka sedang bercinta, melenguh dan—Taehyung jelas melihat rokok yang menyala yang di antara jemari si pria mengarah pada payudara si wanita. Dia meletakkan bara api itu di puncak payudara si wanita. Bukannya terangsang karena akitifitas sex secara langsung, Taehyung mengaduh jijik.
Suara erangan lain terdengar. Kibum dan Taehyung yang masih melotot melihat pemandangan manis di atas meja mengalihkan pandangan mereka. Pada seorang remaja berambut pendek yang terikat mengangkang di kursi. Tubuhnya polos tanpa busana, wajahnya terlihat menyedihkan di penuhi air mata. Meronta ronta meminta pertolongan.
"Brengsek" dan sepasang manusia yang sedang bercinta itu menyadari keberadaan Kibum beserta Taehyung. Jisoo mendongak, seseorang yang berusaha untuk menutup matanya menatap berbinar penuh syukur pada dua pria yang datang. Tapi dia juga sedikit takut, bagaimana jika keduanya terluka. Kibum mencoba menutupi raut ingin bercintanya melihat itu, dia lelaki dewasa—ingat lelaki dewasa.
Ia mengalihkan pandangan. Dan—
Shit!
Pemandangan yang membuat dirinya lebih panas dingin tersaji. Kyuhyun tanpa busana dengan dada mungil serta selangkangan yang terlihat sangat jelas—kini tanpa tutupan celana dalam polkadot atau putih. Kibum tak menyesal mengatai Kyuhyun itu kekasihnya saat ini. Dia harus meminta jatah nanti, setelah menyingkirkan lelaki bajingan yang suka menyiksa wanita dengan hard sex.
Tapi Kibum tak bisa mengatakan ia tak suka gaya bercinta seperti itu. Dia lumayan menikmatinya—terakhir kali ia melakukannya dengan salah satu jaksa wanita. "Kyuhyun! Kau baik baik saja?"
"JANGAN MENDEKATINYA!" si lelaki berteriak. Seperti auman harimau, di tangannya terdapat senjata api. Siap tertodong dan melubangi kepala siapapun yang menganggunya. Taehyung membatu di tempatnya. Adiknya tak boleh terluka. Kibum mengambil blazernya yang berdebu yang terdapat di lantai, menepuknya sesekali. Dia membungkuk dan wajah Kyuhyun yang meneteskan air mata dapat ia lihat dengan jelas. Seolah sangat menyedihkan. Berbeda dengan si ceria yang selalu menganggu hidup Kibum.
Sedikit sesak.
Di hati sekaligus celana Kibum. Brengsek sekali si bajingan yang melihat wajah mulus Kyuhyunnya. Atau jangan jangan dia sudah mengambil keperawanan Kyuhyun. Mata Kibum cepat melihat ke arah selangkangan Kyuhyun, sedikit mendesah lega karena tak ada tanda tanda darah perawan di sana. Seharusnya bukan hal seperti itu yang ia perhatikan.
Dari pada si penjahat, Taehyung mungkin ingin menikam Kibum yang sibuk menelisik adiknya.
Kibum tersadar ketika Taehyung berdehem. "Ah maaf, boleh aku bergabung?" Kibum menghampiri lelaki itu. Cara memegang senjata apinya cenderung amatir. Dia takkan mengenai Kibum jika Kibum bergerak. Dia mengambil kotak rokok di atas meja, menyulut satu dan menghisapnya. "Kenapa kalian tak lanjutkan?" tubuh mereka masih saling bertaut. Di tangkap dalam posisi masih membengkak seperti itu, Kibum rasa kurang pantas dan sangat memalukan.
Si lelaki melepas tautan tubuhnya, menodong Kibum langsung di pelipis. Semuanya menjadi hening. Kibum mencengkram tangan itu dan mempelintirnya, membuat senjata yang di pegang sang pria jatuh. Lalu—
"ARGHH!" pria itu berteriak ke sakitan. Kibum meninju telak rusuknya, membuatnya berteriak kesakitan. Taehyung meringis, ia jelas melihat lebam yang sepertinya lebih parah di tubuh kurus lelaki itu.
"Sejujurnya tanganmu sangat kecil kalau ingin melayangkan tinju untukku" kata Kibum. Dia mengambil asal sebuah tali khusus dari kantongnya, mengikat tali itu pada pergelangan si pria di punggungnya. "Selesai" ucapnya.
Dia menghampiri Kyuhyun dan segera menutupi tubuh gadis itu dengan blazernya. Dia membuka penutup mulut Kyuhyun. Jisoo mencoba meronta dari kursinya, sementara Taehyung membantu melepaskan ikatan tangan Kyuhyun. "WANITA ITU JAHAT!" teriak Kyuhyun. Dia cepat menarik tubuh Kibum ketika Hani hampir menyambarkan martil di tangannya ke kepala Kibum.
Ini di luar rencana.
Kibum kehilangan kendalinya. Wajahnya membentur dada mungil itu rasanya lumayan. Berbeda dengan dada kenyal milik wanita wanita yang selama ini ia tiduri yang berdada besar. Dada di bawah standarnya itu sedikit memberikan sensasi yang tidak ia mengerti.
"Kau benar benar tampan! Ingin menjadi master baruku?" wanita itu tersenyum sangat lebar hingga Taehyung jatuh dari posisi jongkoknya saking takutnya. Belum lagi wanita itu telanjang bulat dan terdapat martil di tangannya.
Kibum bangkit dari tubuh Kyuhyun yang memeluknya. Dia menepuk kepala si gadis dengan lembut. Tersenyum dengan baik dan ia harap Hani berhasil memukul kepalanya, agar sadar dari posisi pikiran kotornya. Wajahnya memerah, Kibum menyadari bahwa ia tak bernafsu dengan tubuh mempesona milik si wanita pembunuh di hadapannya.
Dada yang berisi.
Selangkangan yang basah.
Senyum yang menggoda.
Dia harus coret itu semua sebagai tipenya dalam mencari ketegangan demi selangkangannya. Karena dia baru saja menyukai kulit lembut Kyuhyun. "Aku sudah punya kekasih" Kibum berkata lugas. Dia belum putus dari Kyuhyun.
"Aku akan membunuhnya untukmu" jawab si wanita dengan santai. Kibum berdecak. Gadis remaja saat ini memang mengerikan. Mereka tidak masalah bertelanjang bulat saat berbicara dengan lelaki. Kibum jadi tidak nafsu. Ia suka yang malu malu kucing dan mencakar seperti Kyuhyun.
Kibum bingung kenapa setiap pemikirannya bermuara pada Kyuhyun.
PLAAAK
Itu suara tamparan. Cukup kuat dan Taehyung ingat ketika dia di tampar dengan tenaga yang serupa. Rasanya sakit dan perih. Wanita itu hampir menangis, ada air mata di tepi kelopak matanya tapi bibirnya tersenyum senang. "Aku menyukai rasanya, kau sungguh membuatku bergairah"
Kibum lelaki yang kasar. Menghadapi penjahat wanita, Kibum tak mengizinkan dirinya untuk mendiskriminasi. Dia takkan membunuh penjahat, tapi dia takkan membiarkan mereka kabur atau berlaku seenaknya di depan aparat seperti dirinya. "Sentuh aku!" wanita itu memohon, merendahkan dirinya dan mencoba membuka sabuk yang melingkar di pinggang Kibum.
"KIBUM!" Kyuhyun melotot tak terima. Kenapa Kibum hanya diam ketika wanita brengsek itu hampir membuka celananya. "Yang boleh menyentuhmu, hanya aku!" Kyuhyun hanya bocah labil yang tak terima kekasihnya di sentuh wanita lain.
Ah Kibum lupa. Ada Kyuhyun di sini.
Dia hampir saja menikmati sedikit. Kibum meraih tangan si wanita, dengan gampang mengikat ke dua tangan ramping itu di belakang tubuh si wanita. Kibum tersenyum, Ia berjongkok. "Kalau ada kesempatan, aku akan membunuhmu sambil bercinta. Jangan pernah sakiti wanitaku!" Kibum mendesah lega. Ketika suara sirine polisi terdengar di luar sana.
Dia menghampiri Jisoo. Membuka ikatan wanita itu dan melepas lakban di bibirnya. Jisoo memeluk Kibum. "Syukurlah! Syukurlah! Aku takut sekali!" tangisnya pecah.
Beberapa orang polisi menerobos masuk. Mereka menangkap ke dua pelaku dan memberikan hormat pada Kibum. "Berikan wewenang pada Hyuna untuk melakukan introgasi!" peritah Kibum dan mereka mengatakan kata siap.
"Kalian ikutlah ke kantor polisi untuk memberikan keterangan!" ujar Kibum pada ketiga remaja.
Ika. Zordick
Some that made us laugh, some that made us cry
One that made you have to say goodbye
What I'd give to run my fingers through your hair
To touch your lips, to hold you near
When you say your prayers, try to understand
I've made mistakes, I'm just a man
Kibum kembali menjadi dirinya yang suka bernyanyi dengan suara keras di meja salah satu inspektur di kantor kepolisian itu. Dia menaikkan kakinya di meja, memejamkan matanya dan menikmati buaian lagu rock favoritnya tersebut. Tidak pernah bosan meski banyak lagu yang baru yang bergenre sama.
Rasanya, ia semakin menyukai lagu itu. Ketika setiap liriknya mengingatkannya pada Kyuhyun.
Astaga.
Masih saja bermuara pada Kyuhyun. "Kibum, aku bisa meminta bantuanmu?" kali ini Donghae berbicara lagi. Kenapa Donghae tak pernah melakukan hal yang benar bahkan hanya sekedar mengintrogasi. "Dia tak ingin berbicara" ujar Donghae dan Kibum membuka matanya, menemukan Kyuhyun yang duduk berhadapan dengan Donghae tak jauh dari meja inspektur yang kini ia perlakukan seperti miliknya sendiri.
Kibum menegakkan tubuhnya. "Aku akan mengintrogasinya di ruangan introgasi" Kyuhyun itu korban dan dia adalah saksi penting. Tak seharusnya dia di masukkan ke ruangan introgasi. Tapi Donghae mengabulkan saja, ingat! Kibum itu atasannya. Perintah atasan itu mutlak untuk aparat Negara seperti mereka.
Donghae mengajak Kyuhyun untuk ke ruang introgasi. Gadis itu tersenyum pada Taehyung dan Donghae meyakinkan pada Taehyung, adiknya akan baik baik saja. Taehyung semakin posesif pada adiknya itu, ia seolah tak bisa membiarkan Kyuhyun hilang dari pandangannya sedikit saja.
Ika. Zordick
Melihat sekelilingnya. Kyuhyun merasa tempat ini asing, ada cermin besar yang memantulkan dirinya di sana, ruangannya serba putih dengan sebuah meja di depannya, serta sebuah kursi. Ia duduk di kursi lain yang membuatnya berhadapan dengan kursi lain yang di halangi oleh sebuah meja. Kyuhyun memainkan ujung blazer Kibum yang melekat di tubuhnya—meski ia sudah kembali memakai seragamnya, rasa takutnya akan menghilang jika blazer Kibum terpasang di tubuhnya.
Suara pintu terbuka terdengar. Kibum memberikan perintah pada bawahannya untuk enyah dari ruangan di depan ruang introgasi untuk mendengar keterangan saksi. Kyuhyun beranjak dari kursinya ketika mendapati Kibum yang melangkah masuk. "Silahkan duduk!" kata Kibum sopan. Dia mendudukkan dirinya di kursi kosong di hadapan Kibum, dia memainkan sebuah alat perekam di jemarinya.
"Kibum, a—"
"Aku akan menjawab semua pertanyaanmu setelah kau menjawab pertanyaanku, Kyuhyun" ucap Kibum. Kyuhyun mengangguk patuh. Dia menundukkan wajahnya. Kibum menghidupkan alat perekam di tangannya. "Rekaman ini akan menjadi pengganti dirimu di persidangan. Lebih baik jika kau tak menjadi saksi langsung di persidangan itu" Kyuhyun mengangguk mengerti. "Kau mengenal pelaku?"
"Tidak. Aku tak mengenal mereka. Tapi Taehyung, kakakku sering bercerita tentang gurunya yang selalu tersenyum dan bertampang baik yang di sukai para gadis"
Kibum bergumam. "Kenapa kau bisa di tempat kejadian perkara?"
Kyuhyun menatap Kibum tajam, matanya berkaca kaca. "Karena aku mengira kekasihku berselingkuh dengan Jisoo. Aku menerima pesan singkat kalau Jisoo menunggunya di gudang H karena merindukannya. Aku hanya ingin memberikan peringatan pada Jisoo agar tak mengganggu kekasihku, tapi aku malah tertangkap"
Kibum berdehem, tentu ia mengerti kalau kekasih yang dimaksud Kyuhyun adalah dirinya. "Apa yang tersangka lakukan padamu?"
Air mata itu menetes. Kyuhyun terisak. Dia mengingat semua perbuatan penjahat itu padanya dan dia tak yakin mampu menceritakannya. "Sampai sebatas mana tersangka menyentuhmu?" Kibum mengeram. Dia marah. Entah kenapa. Harusnya ia sadar, ia harus professional dalam menghadapi korban dan tersangka.
"Dia menelanjangiku, menyuruhku membuka lebar pahaku" Kibum terdiam, matanya menatap dalam iris coklat kelam milik Kyuhyun. "Dia menyentuh pahaku" gigi Kibum bergemelatuk. "Dia menyetubuhi wanita jahat itu dengan kasar. Aku takut. Dia terus memanggil namaku. Matanya menatapku"
BRAAAKK
Kibum menghempas meja. Emosinya sudah sampai ke ubun ubun. Dia mematikan rekaman di tangannya. Membuka pintu lain selain pintu masuk ke ruangan introgasi itu. Dia masuk ke dalam ruangan itu, menemukan laki laki yang menjadi tersangka dalam kasusunya yang tengah di introgasi Hyuna. "Hei, Kibum. Kau butuh sesuatu?" Tanya Hyuna. Dia memberikan rekaman di tangannya pada polisi wanita itu.
Menghampiri si guru jahat yang menjadi dalang kejahatan pembunuhan beruntun. "Kenapa kau membunuh?" Hyuna mengerutkan kening. Dia memilih mematikan rekaman introgasinya. Menyuruh pembuat laporan untuk tak menggambarkan kondisi yang sedang terjadi. Kibum sepertinya sedang dalam mode marahnya.
"Aku menjual organ remaja sehat" itu jawaban. Tapi Kibum tak meminta jawaban itu.
"Mengapa Kyuhyun yang kau perlakukan seperti itu?" suaranya terdengar tercekat. Kibum mencoba menahan amarahnya yang siap meledak.
"Dia cantik. Tidak ada gadis yang kutemui secantik dirinya. Dia membuatku gi—"
BRAAAK
"KIM KIBUM!" Hyuna berteriak. Dia mencoba menghentikan Kibum yang menghantukkan kepala terdakwa ke meja besi yang dingin di hadapan mereka. Kibum mengangkat kepala si tersangka, menarik rambutnya kuat hingga mendongak. Hyuna jelas melihat darah yang mengalir dari pelipisnya. Tersangka itu tertawa.
"Aku berpikir, jika dia lebih dewasa lagi, dia akan tumbuh menjadi sangat cantik"
BRAAAK
"KIBUM!" sekali lagi membanting kepala si tersangka ke meja. Hyuna harus mencegah ini sebelum si tersangka mati karena Kibum. "Kau ingin membunuhnya?"
"Ya, dia harus mati" jawab Kibum santai.
"Kyuhyun sedang menunggumu, kau tak harus mengotori tanganmu hanya untuk menghukum si brengsek ini. Ayolah Kibum!" mencoba menghasut Kibum. Kibum menghela nafasnya. Dia melepas tangannya dari helai rambut si tersangka. "Aku akan menyerahkannya pada jaksa yang mengerikan. Akan kupastikan dia di hukum mati" bujukan Hyuna adalah yang terbaik. Kibum kembali ke ruangan Kyuhyun setelahnya.
Ika. Zordick
"Kibum" Kyuhyun memanggil. Ketika pria dengan raut wajah mengeras itu mendudukkan kembali dirinya di kursi di hadapan Kyuhyun. Kibum mendongak, menemukan raut khawatir Kyuhyun. Matanya bahkan seperti boneka, wajahnya pucat, memberikan kesan dia boneka hidup. Kibum lekat melihat bola mata coklat kelam Kyuhyun, bulu mata lentiknya memberikan kesan keindahan yang lebih.
Kemarahan itu menghilang. Kibum bersyukur Kyuhyun baik baik saja. Dia tak mengerti apa yang ada di hatinya. Tapi tidak baik jika Kyuhyun terluka. Gadis ini, selain memanjakan matanya, menggoda birahinya, gadis ini juga seolah mempermainkan hatinya. Kibum bukan seorang remaja lagi hingga dia harus merasakan debaran aneh di jantungnya, tapi pikirannya yang tak bisa lepas dan kecemasan berlebihan serta tindakan tak profesionalnya membuatnya yakin gadis itu menangkapnya.
Gadis berusia tiga belas tahun itu mengerikan.
Dia memporak porandakan Kibum dan membuat Kibum harusnya memilih menjadi perwira yang baik saja agar tak membuat masalah. Gadis ini—
"Kibum, bolehkah aku bertanya padamu?" tanyanya.
Kibum menyukainya. Sifat malu malunya dan kadang terkesan sesukanya. Dia kadang menyuarakan keinginannya tapi kadang takut jika isi hatinya ketahuan.
"Tidak boleh" menimbulkan decakan Kyuhyun. Bibirnya mengerucut, dia mulai mengutuk Kibum yang tak pengertian. Dia penasaran dan dia butuh penjelasan. "Aku bercanda, silahkan~" Kibum tersenyum, membuat hati Kyuhyun yang khawatir menghangat.
"Kurasa kau bukan anak sekolahan, kau terlihat akrab dengan para polisi. Ayahmu pasti bekerja keras dan kau di izinkan untuk melakukan sesukamu"
Kibum tersenyum. Benar benar polos.
Kibum menyamankan posisi duduknya. Tanganya bersidekap. Dia rindu Kyuhyun yang akan duduk di meja dan berceloteh tentang apapun itu. "Aku itu seorang polisi. Ayahku juga sudah lama sekali meninggal" ucap Kibum.
Kyuhyun membeo. "Jadi?"
Kibum menjulurkan tangannya. "Aku Kim Kibum, dua puluh delapan tahun. Seorang polisi!" Kyuhyun tak mengerti mengapa jantungnya terasa di cengkram dengan kuat. Haruskah dia kecewa? "Kau cantik, cantik sekali" Kibum mengulurkan tangannya. Dia memuji untuk melepaskan perasaan yang seolah menghantam dadanya. Dia ingin Kyuhyun tahu kalau dia sungguh menilai Kyuhyun seorang wanita yang sangat cantik.
"Tersangka menjadikan gadis cantik yang popular agar di selamatkan para pangerannya dan kemudian membunuh para lelaki itu dan menjual organnya" Kibum menjelaskan. "Sepertinya mereka salah paham, mereka menghubungiku karena aku dekat dengan Jisoo"
Kyuhyun mendongak. Menatap ke dalam bola mata Kibum. "Kau akan tetap ke sana karena Jisoo"
"Ya, itu pekerjaanku" Kyuhyun kecewa. Dia tak berada di tempat yang special di hati Kibum. "Tapi alasanku ke tempat itu saat ini adalah karena kau. Meski aku bukan seorang polisi, aku akan ke tempat itu untukmu"
Hening—
Kyuhyun memerah. Sangat merah hingga merambat ke telinganya. Dia menunduk dalam, tak bisa menatap mata Kibum yang tengah menatapnya. Dia mengutuk lelaki sialan tampan yang sedang mempermainkan hatinya.
Tangan Kibum terulur, mengusap rambut pendek Kyuhyun yang terasa lembut di tangannya. "Kyuhyun" Kibum memanggil. Suaranya berat dan Kyuhyun sangat yakin, Kibum itu jauh lebih dewasa di banding kakaknya dan dia benar. "Ayo putus!"
Kyuhyun terisak. Kali ini meraung seperti bayi. Dia tak ingin putus dari Kibum, dia sangat menyukai om om yang terlihat gagah sekali di matanya itu. "Kenapa?"
"Tugasku sudah selesai"
"Kau bisa menjadi kekasihku di luar tugasmu" Kyuhyun hanyalah remaja bandel. Dia tentu tak terima dijadikan kekasih bohongan.
"Usiaku dua kali ditambah dua umurmu" itu tak menyurutkan niatan Kyuhyun. Dia menatap Kibum, dia tak ingin diputuskan dan itu terlihat di matanya. "Aku akan menjadi seorang kakek ketika kau seusiaku"
"Aku tidak masalah bersama kakek kakek. Itu urusanku, bukankah kau seharusnya senang karena aku akan selalu bugar meski kau sudah kakek kakek. Kurasa semua pria suka yang muda apalagi yang sudah tua sepertimu" Kibum sedikit merasa tertohok. Kyuhyun jelas sekali mengatai dia tua. "Aku menyukaimu! Sangat menyukaimu"
"Tapi aku tidak" Kibum harus berbohong. "Aku tidak suka gadis yang belum dewasa. Aku tidak suka yang berdada rata dan aku tak suka dengan gadis yang tak pandai bercinta."
"AKU BISA BELAJAR!" semangat luar biasa. Kibum bahkan mengangakan mulutnya. Dia tak percaya Kyuhyun akan bereaksi seperti itu.
"Aku tidak bernafsu padamu"
Hening.
Kyuhyun menatap tajam pada Kibum. Harga dirinya terinjak injak. Dia bangkit. Kibum sampai berjengit di kursinya. Kyuhyun memanjat meja dingin itu, dia berdiri di atasnya. Dan—
Mengangkat roknya.
Sekali lagi Kibum terperangah. Dia bahkan berdoa pada Tuhan. Apa yang terjadi dengan generasi bangsa sekarang ini. "Cho Kyuhyun, turun!" maksud Kibum turunkan rok itu. Wajah Kibum memerah. Dia kalah telak. Kyuhyun melompat turun dari meja, dia berkacak pinggang, menatap Kibum dengan matanya yang masih memerah karena tangis.
"AKU TAK MAU PUTUS DARIMU!" pekiknya keras.
"Kita harus putus" Kibum mencoba memberi penjelasan.
"Baiklah, katakan kau ingin putus dariku ketika aku telanjang di sini"
"Baiklah, kita tak putus!" ujar Kibum cepat. Memperkosa bocah dibawah umur di kantor polisi bisa membuatnya di penjara dan di hukum berat. Kibum masih suka profesinya sebagai penegak hukum, bukan tersangka.
Kyuhyun tersenyum puas. Dia mendekatkan bibirnya ke pipi Kibum. Mengecupnya ringan. Terasa manis sekali. "Bisakah aku pulang? Taehyung pasti menungguku. Datanglah ke apartemenku sesekali!" pinta Kyuhyun mengedipkan mata kirinya.
Heart attack!
Kibum memegangi jantungnya. Tepat ketika Kyuhyun menghilang dari balik pintu. Dia kemudian melangkah keluar, menghampiri Donghae yang sepertinya sedang minum kopi bersama rekan kerja yang lain. Dia menarik kerah baju Donghae. "Hei brengsek, bukankah kau melaporkan siswa yang menjadi korban adalah orang popular?"
"I—itu hipotesa sementara, dan memang orang orang popular kan?"
"Lalu kenapa Hyuna menyuruhku menjaga Taehyung dengan memacari adiknya?" Kibum bertanya lagi. Donghae gelagapan. Dia cepat menghempas tangan Kibum di kerah kemejanya.
"Kenapa kau Tanya aku? Itu kan masalahmu dengan Hyuna"
Hyuna tertawa. Dia berada di sana. Dengan kopi di tangannya dan beberapa berkas di tangannya yang lain. "Astaga Kibum, aku hanya membantumu. Kau tak tertarik dengan lelaki, kau juga tidak tertarik dengan wanita dalam waktu yang lama. Jadi ku pikir selera sex mu pastilah pada anak kecil. Aku hanya membantumu menemukannya"
Hyuna sukses mengolok olok Kibum untuk hari hari selanjutnya. Brengsek!
"Tenang, jika dia mencampakkanmu, aku akan mengangkang untukmu" ini persis seperti kata kata Kibum tempo hari.
Kibum ingin pergi berdoa dulu. Dia juga akan menghindarkan menonton video porno. Dia harus pastikan pikiran sexynya tak menggerogoti otaknya ketika dia bersama bocah cantik itu. Dia juga harus memastikan bahwa ia tak putus dengan cepat agar Hyuna berhenti mengoloknya.
TBC
Benar benar mengalir T o T
Ka seperti menemukan jati diri saat membuat sesuatu yang bergenre crime huweheheheehe
