Kanibal II
Chapter yang ini kalau terlalu di hayati nanti bisa menyebabkan sedikit mual. Wakakkaka xD
Tak ingat tepatnya. Pemuda tampan, berkulit Tan yang sempurna karena aksesoris hidung mancung dan mata tajam di wajahnya tampak bingung berada di kamar tidur yang jelas bukan kamar tidurnya. Dia sedang duduk bersandar, dengan bed cover putih merah muda—terlalu feminism sebagai pilihan warnanya yang menutupi tubuhnya.
Dia Kibum, lelaki dewasa berusia dua puluh delapan yang suka minum bir—dia punya banyak uang tapi minuman yang di sukainya seolah menjelaskan betapa sikapnya terlalu merakyat nyaris gembel. Dia lihat ada beberapa kaleng bir di nakas dekat tempat tidur berukuran king size tersebut. Kibum mencoba mengingat, dimana dia. Apa yang sedang ia lakukan di sini?
"Kibum" suara itu terdengar manis, bulu bulu di sekitaran tubuh Kibum hampir tegak karenanya. Kibum juga baru sadar dia bertelanjang dada. Mungkin dia mabuk di bar, kemudian terdampar dengan seorang wanita yang acak terbawa pulang. Itu hal yang biasa terjadi, beruntung Kibum tak suka membawa identitas kepolisiannya kemana mana, jadinya ia tak perlu takut di tipu dan kartu identitas kepolisiannya di bawa kabur pelacur.
"Kibum" eh—wanita itu tahu namanya. Kibum jarang memberitahukan namanya. "Bisa bawakan handuk di tempat tidur?" Kibum dapat menemukan handuk yang tergeletak tak jauh darinya.
Membangunkan tubuhnya, dia masih memakai celana jeans panjangnya. Kibum menyerahkan handuk yang diminta oleh tangan terjulur dari sebuah pintu. Tangannya kecil dan ramping, kulitnya juga terlihat putih lembut. Kibum bersyukur dia tak pernah membawa wanita jelek untuk di tiduri.
Kibum melihat sekeliling kamar itu, bernuansa putih, pink dan cream. Warna yang terkesan sangat girly. "Kibum" wanita itu memanggil lagi. Kali ini tepat di belakang Kibum. Kibum berbalik, matanya melotot tak percaya. "Kenapa kau terkejut seperti itu?"
"Kyu—" suara Kibum bahkan tercekat untuk memanggil nama seseorang yang ia kenali sebagai Kyuhyun. Gadis itu sedikit berbeda, wajahnya terlihat jauh lebih cantik, matanya masih sama, hidungnya masih sama dan yang penting bibirnya juga sama. Hanya saja, rambut basah panjang dengan air menetes di bahunya, tubuh yang lebih tinggi dari biasanya. Kibum bahkan bisa melihat ukuran dada Kyuhyun yang biasanya mungil kini membesar, terlihat mengintip dari handuk putihnya yang membelit tubuhnya. Pinggul yang sedikit membesar, hingga membentuk tubuh bak gitar spanyol belum lagi paha yang terekspos, putih dan lembut. "Kyuhyun?"
"Ada apa denganmu?" Tanya Kyuhyun bingung dengan reaksi Kibum yang seperti melihat hantu ketika menatapnya.
"Ti—tidak" Kibum panas dingin. Kyuhyun berbeda tapi masih gadis yang sama yang selalu mengikutinya.
Kyuhyun menghampiri Kibum, menarik tangan Kibum lembut—mendorong Kibum ke tempat tidur kemudian menindih pria itu. Memainkan jemari lentiknya di dada telanjang berotot milik Kibum dengan sensual, membuat Kibum kembali meremang. Dia membungkuk—Kibum bisa melihat belahan dada montok itu.
Sial, Kibum menegang! Apalagi Kyuhyun tepat menduduki selangkangannya.
Suara ponsel berdering terdengar. "Mengganggu saja" Kyuhyun menegakkan tubuhnya. Tanpa memindahkan tubuhnya, ia mencoba meraih ponselnya. Dia meletakkan jemarinya di bibir, mengisyaratkan Kibum untuk tenang. Mungkin Kyuhyun sedang menerima telepon dari Taehyung. "Ya, sayang?" suara itu mendayu.
Kibum menatap Kyuhyun. Sayang? "Kau bilang, kau akan pulang terlambat." Itu pembicaraan searah. Kibum tak tahu siapa yang menelpon Kyuhyun di kondisi terdesak seperti ini. "Iya, besok aku akan menjemputmu di bandara, kau puas? Selamat malam!" Kyuhyun mematikan ponselnya dan melemparnnya asal.
"Siapa?" Kibum seolah menuntut. Menatap dalam bola mata coklat kelam itu.
"Suamiku" Jawabnya acuh. Dia membuka handuknya tapi di hentikan Kibum. "Ada apa denganmu?" Kyuhyun protes.
"Sejak kapan kau punya suami?" Kibum tak paham, dadanya sesak. Ia menggulingkan Kyuhyun dari tubuhnya.
"Apa apaan kau ini, Kibum?" Kyuhyun terlihat tak mengerti. "Kau sendiri yang bilang kau tak mencintaiku, kau sendiri yang bilang kalau aku boleh datang kalau suamiku tak di rumah, kau sendiri yang bilang kau lebih suka free sex! Kau—"
PLAAK
Itu suara tamparan, Kibum tak memukulkan keras tapi dia rasa dia butuh memukul Kyuhyun. "Maaf" itu ucapan dari bibir Kibum. Dia menatap Kyuhyun, tak tega melihat gadis kecilnya yang tiba tiba tumbuh seperti ini, mulai menangis dalam diam.
"Kau sendiri yang bilang kalau kau tak menginginkanku" Kyuhyun menangis. Kibum memeluk tubuh itu, membiarkan Kyuhyun menangis dalam rengkuhannya.
Kibum tak tahu, tapi getaran dari tubuh itu perlahan menghilang, di gantikan dengan deru nafas putus putus. Kibum melepas pelukannya pada tubuh Kyuhyun, tubuh itu merosot jatuh dengan dahi berlubang. "Kyu—" mata itu terpejam. Tubuh itu tak lagi bernyawa. "KYUHYUN!" panggil Kibum.
"KYUHYUN!" teriaknya.
BRAAK
Hening—
When he holds you close, when he pulls you near
When he says the words you've been needing to hear
I'll wish I was him 'cause those words are mine
To say to you 'til the end of time
Lagu favorit Kibum, masih sama dan masih bergaung di seluruh kantor kepolisian itu. Kibum melihat sekelilingnya, dia berdiri dan seluruh bawahannya—rekan kerjannya menatapnya dengan tatapan jenaka. "Kibum, kau bermimpi jorok tentang Kyuhyun ya?" sela salah satu dari mereka. Menghasilkan cebikan Kibum. Dia sedang bermimpi dan untunglah hanya mimpi.
Mereka tertawa. Mentertawakan Kibum pastinya.
"Kibum" itu suara Hyuna. Menatap agak cemas pada rekannya. "Kau agak pucat. Apa kau baik baik saja?" Kibum melirik jam dinding, masih pukul Sembilan. Kibum rasa dia masih ada kesempatan untuk melihat Kyuhyun. Memastikan bocah berpipi gembil itu baik baik saja.
"Aku keluar" Kibum meraih jaket kulitnya, memakainya dan berjalan terburu nyaris berlari keluar kantor polisi. Dihadiahi tatapan heran para rekan polisinya.
Little Flower
.
.
Ika. Zordick
"Mau apa kau datang kemari?" Taehyung yang selalu membuka pintu untuk Kibum. Dia berdecak dan kemudian menggerutu. Dia tak suka pria itu, meski mereka banyak melakukan hal yang dapat menjadikan keduanya akrab.
"Mana Kyuhyun?" Taehyung itu idiot, karena sudah sangat jelas siapa yang akan di temui Kibum tak kenal waktu jika ke apartemennya. Tentu saja bertemu adiknya yang cantik, yang manis, yang luar biasa dan—Taehyung nyaris menghabiskan beberapa paragraph jika menjelaskan keelokan paras Kyuhyun.
"KYUHYUN, PACARMU DATANG!" Taehyung tak punya pilihan untuk mengakui Kibum itu pacar Kyuhyun. Adiknya tergila gila pada pria itu, jika Taehyung masih menentang ada kemungkinan Kyuhyun akan marah padanya. Karena Taehyung masih tidak suka Kibum, jadi dia tak perlu menunjukkan sopan santun. Dia tak akan mengizinkan Kibum masuk.
Kibum bisa mendengar suara langkah. "Suruh Kibum masuk, Taehyung!" Kyuhyun mengomel. Kakaknya itu benar benar menyebalkan kalau sudah berhubungan dengan Kibum. Tapi sepertinya Kibum sendiri tak ingin masuk ke dalam apartemen Cho bersaudara. Dia masih betah menunggu di depan pintu, dengan wajah tanpa ekspresinya—seperti seorang lelaki yang ingin menemui kekasihnya tapi dihalangi oleh kakak lelaki sang kekasih. Tapi memang benar kejadiannya begitu, tapi sepertinya Kibum lebih cocok di posisi Taehyung.
Anggaplah Kibum menghormati kasih sayang Taehyung, meski ia bisa saja menendang bocah belagu itu. "Kibum, ada apa kau datang?" Kyuhyun dengan wajah cerianya. Senyumannya yang indah dan matanya yang memancarkan kepolosan. Kibum tak bisa membayangkan Kyuhyun yang ada di mimpinya, meski lebih cantik dan lebih menggairahkan.
Kibum menarik Kyuhyun dalam pelukannya. Merengkuhnya erat seolah dia sangat merindukan Kyuhyun. "Kibum" Kyuhyun dengan suara yang lembut selalu membuat Kibum tenang. Bagian Kibum meremang itu nanti saja, cukup dalam mimpi. "Kau baik baik saja? Ayo masuk!"
Taehyung berdecak sekali lagi. Dia memisahkan orang tua mesum bajingan itu dari adiknya. Ia menutup pintu apartemen mereka. "Aku akan berada di kamar, jangan masuk ke kamar Kyuhyun, mengerti kau?" Taehyung mencoba memberikan ruang pribadi. Kibum sepertinya membutuhkan adiknya. Taehyung masih muda, Taehyung tak tahu masalah masalah berat di dunia orang dewasa. Dia sendiri paham, terkadang kita hanya butuh seseorang yang tepat untuk menumpahkan segalanya.
Kyuhyun berterima kasih untuk kakaknya yang pengertian. Dia kemudian menatap Kibum, rasa khawatirnya memuncak. Kibum diam saja, hanya terus menatapinya dalam diam. "Kibum" Kyuhyun memanggil lagi, sedikit mengguncang lengan Kibum.
Kembali rengkuhan itu di terimanya. Sangat erat sampai tubuh Kyuhyun terangkat. Jika seperti ini Kyuhyun bukan di peluk, tapi di gendong Kibum. Tinggi mereka tidak sinkorn sekali, Kyuhyun harus banyak minum susu setidaknya membuat Kibum tidak lelah dalam memeluknya. Punggung Kibum pasti sakit karena membungkuk terlalu dalam.
Tangan Kyuhyun terulur, menepuk nepuk punggung Kibum kemudian mengelusnya. "Ada apa?" tanyanya lembut. Kalau seperti ini, Kyuhyun sepertinya jauh lebih dewasa dari Kibum.
"Tidak ada" Kibum mana sanggup mengatakan bahwa ia mimpi buruk tentang Kyuhyun yang menikah dengan orang lain kemudian mati ketika ingin melakukan Sembilan belas plus dengan dirinya. Kibum mengingat sosok Kyuhyun di mimpinya saja seolah melecehkan Kyuhyun. Tapi Kibum juga tak bisa bilang dia rindu Kyuhyun. Harga dirinya sebagai orang dewasa akan lenyap. "Aku hanya ingin memelukmu"
"Sepertinya kau terlalu lelah bekerja, istirahatlah!" Kyuhyun bahkan jarang bertemu Kibum di kantor belakangan. Pria itu sibuk ke sana ke mari. Seingat Kyuhyun terakhir kali dia bertemu Kibum itu sebulan yang lalu. Terkadang dia hanya menitipkan makan siang saja kemudian pergi, karena tak akan mungkin bisa menemui Kibum.
Mengangguk saja. Kalau seperti ini, biar saja Kyuhyun yang seolah tahu segalanya. Kyuhyun menuntun Kibum duduk di sofa, Kyuhyun sendiri pergi ke dapur, menyiapkan coklat panas tanpa gula dan susu untuk Kibum. Tak butuh waktu lama, ia kembali dan menyodorkan gelas dengan asap mengepul pada Kibum. Dia duduk di samping Kibum, menaikkan kakinya dan memeluk lututnya.
"Kau bertingkah seperti istriku saja" Kibum mencoba menggoda Kyuhyun.
Hanya tersenyum. Kyuhyun menatap wajah Kibum dari samping kemudian, wajah Kibum ketika meminum coklat panas juga sempurna di mata Kyuhyun. "Aku ingin cepat besar agar aku bisa menjadi istrimu" Kyuhyun berbicara.
"Boleh aku menginap?" Eh? Kyuhyun tak salah dengar? Kibum akan menginap?
Kyuhyun menurunkan kakinya, mencoba duduk secara tegak. Dia gugup. Dia mengutuk teman teman lelaki sekelasnya yang pernah mencekokinya film biru. Bayang bayang si lelaki yang bergumul dengan si wanita mulai menghantui kepala Kyuhyun. Kyuhyun merasa dia dan Kibum yang menjadi tokoh utama di film itu. "I—itu" Kyuhyun ingin menepuk mulutnya yang gugup di saat yang tidak tepat. Wajahnya memanas.
"Di sini dingin, kau bisa kembali ke kamarmu." Kibum mengelus rambut pendek hitam Kyuhyun. Kyuhyun jadi tambah malu, dia sudah berpikir adegan intim tapi Kibum malah menyuruhnya masuk ke dalam kamar.
Kyuhyun rasa itu yang paling baik. Dia melangkahkan kakinya ke dalam kamarnya, menutup pintu kamar dan Kibum masih menikmati coklat panasnya. Hingga tak lama kemudian, Kyuhyun keluar dari kamarnya. "Kibum" dia memanggil, membuat Kibum kembali menoleh. "Aku kemarin belanja dan menemukan baju yang lucu. Ku rasa kau tak mungkin memakainya, makanya aku kembali menyimpannya. Tapi kurasa, ini lebih nyaman di pakai untuk tidur" Kyuhyun menunjukkan sweeter biru muda di tangannya.
Kibum meraih sweeter itu, membuka jaket kulitnya dan kemudian kaosnya. "Ki—Kibum!" Kyuhyun buru buru menghentikan. "Bisa kau bertukar di kamar mandi?" Kibum yang buka baju, dia yang malu. Kibum membawa sweeternya, berjalan santai ke kamar mandi. Kyuhyun mendudukkan dirinya di sofa, menutupi wajahnya. "Astaga, jantungku jantungku~" dia mengipasi wajahnya. Dia kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya, mengambil bantal dan juga selimut. Taehyung takkan mau berbagi kamar.
Ika. Zordick
Taehyung menggeliat, suara alarmnya sukses membangunkannya di saat yang tepat. Tangannya terulur, sinar matahari membuat matanya silau, tapi dia berusaha keras menyeret tubuhnya. Mematikan alarm dan—
GEDEBUM
Dia terjatuh di tempat tidurnya. Sial sekali.
Nyawanya jadi terkumpul mau tidak mau. Taehyung beranjak ke kamar mandi yang terletak di kamarnya yang bernuansa coklat gold, hitam, putih dan kuning itu. Tipe kamar tidur remaja yang terbilang cukup mewah. Dia kembali menabrak tembok—salah masuk. Dia cepat membersihkan tubuhnya, memandikan tubuh telanjangnya di bawah guyuran air hangat shower.
Tidak lupa menggosok giginya dan mengecek apakah bulu bulu di wajahnya tak menunjukkan diri. Taehyung mendesah puas. Wajahnya masih tampan, bibirnya masih sexy dan yang paling penting rambutnya sempurna. Taehyung ingin mencoba model klimis, tapi ia rasa itu kurang cocok dengan potongan wajah tampan imut manisnya. Taehyung itu paket komplit dalam satu wajah. Tidak heran dia cukup banyak diminati wanita.
Tapi sebuah berakhir runyam.
Ketika—
Taehyung sudah beres dengan penampilannya, dengan seragam sekolahnya dan dengan dasinya. Dia membuka pintu kamarnya. Ingin memanggil Kyuhyun, dia akan mengajak adik tercintanya itu untuk sarapan bersama.
Matanya melotot. Bibirnya terbuka. Giginya bergemelatuk. Taehyung mengeluarkan suara eraman.
Dia marah. Tentu saja dia harus murka.
Kyuhyun yang tengah duduk di samping Kibum dengan berbalut seragam lengkap. Memandangi wajah Kibum yang fokus pada TV. Bukan bukan itu yang membuat dia marah.
Melainkan, tangan si polisi mesum yang tengah mengelus paha putih lembut adiknya yang sedikit terekspos karena rok pendeknya. "Kibum" Kyuhyun bahkan tak terganggu dengan tangan besar pria itu.
"Hm" Kibum hanya bergumam tapi tangannya tak berhenti mengelus.
Brengsek, bajingan, ku potong tanganmu! Ku potong tanganmu!
Taehyung masih menahan hasrat ingin membunuhnya. Bertahan di depan pintu kamarnya. "Kau tampan" adiknya terlalu memuja.
"Kyuhyun" dan kali ini Kibum yang memanggil Kyuhyun. Kyuhyun bergumam, masih tak bisa membuang tatapan dari wajah Kibum. "Apa warna celana dalammu hari ini?"
"Anjing!" teriak Taehyung. Melempar sepatunya tepat mengenai kepala Kibum.
"TAEHYUNG, KENAPA KAU MELEMPAR KIBUM?" pekik Kyuhyun tak terima penganiyayaan sang kakak pada kekasihnya.
Taehyung tersenyum garing. "Tanganku terpeleset Kyuhyun waktu ingin memakai sepatu" ujarnya. Matanya menatap nyalang pada Kibum yang meliriknya.
Inilah mengapa Taehyung tidak laku di kalangan wanita. Dia terlalu menyayangi adiknya. Bahkan memberitahukan bahwa adiknya telah di lecehkan pun Taehyung tak mampu.
Ika. Zordick
Kyuhyun tersenyum cerah di siang hari itu. Perutnya sudah kenyang, bel pulang sudah berbunyi dan yang terpenting Kibum akan menjemputnya siang ini. Dia melirik pada teman temannya, ada Amber dan Krystal. "Kau serius memiliki kekasih yang keren?" Tanya Krystal penuh selidik. Dia sebenarnya tak terima kalau teman se gengnya itu mendapat pacar terlebih dahulu, keren pula.
Tentu Kyuhyun mengiyakan. Dia selalu membanggakan Kibum di depan teman temannya. Tapi Kyuhyun tak memberitahukan mereka soal pekerjaan dan usia Kibum. "Aneh sekali, dia masih mau bersamamu setelah insiden membelikan pembalut untukmu, Kyu?" celutuk Amber membuat Kyuhyun meringis. Dia meminta agar Amber tak membahas kejadian memalukan itu. "Punya pacar yang lebih tua itu memang menyenangkan ya"
"Kyuhyun, kapan kau akan mengenalkan Taehyung padaku?" Krystal merengek. Kyuhyun tentu tahu sebagian teman temannya tergila gila pada Taehyung. Mereka selalu menggosipkan Taehyung dan berakhir nama Jisoo di bawa bawa. Menyedihkan sekali.
Kyuhyun memasang pose berpikir keras. Dia mengetukkan telunjuknya ke dagu. "Entahlah, kakakku tampaknya sangat sibuk dengan Hoseok" Kyuhyun ingat bagaimana ceritanya dia di perbolehkan di jemput pulang oleh Kibum. Itupun karena Taehyung ingin ke game center bersama Hoseok. Keduanya tampak akrab dan Taehyung bilang dia bertanya banyak tentang cara merawat adik perempuan pada Hoseok.
"Hoseok itu pecundang" Amber berkomentar. Kyuhyun mengeriyitkan dahinya, tak terima juga teman kakaknya yang baik itu dikatai pecundang. "Dia melepas jabatannya sebagai boss di sekolahnya" Amber itu biang gossip—sama seperti Krystal. Bedanya Amber itu seperti majalah gossip olahraga, temanya tentang perkelahian dan yang sedang hot di kalangan anak lelaki. Sementara Krystal dari majalah gossip wanita, dari profil sampai make up sampai cerita pendek ada semua.
"Wah menyedihkan sekali, tapi kalian tahu kalau dia sudah ada penggantinya?" ujar Krystal. Persis seperti tante tante yang menceritakan tetangganya yang selingkuh.
Kyuhyun sedikit takut, bagaimana jika kakaknya harus masuk ke kantor polisi lagi karena berkelahi. Kyuhyun kan bisa malu di olok olok oleh rekan rekan Kibum. Mana ada calon istri polisi yang punya kakak hobi berkelahi.
Tidak tidak! Kyuhyun butuh pencerahan. Agar Taehyung tidak berkelahi lagi. "Siapa yang menggantikannya?"
"Ku dengar dia tampan, dia juga kaya dan yang paling penting dia kuat. Dia bisa mengalahkan orang dewasa" Kalau itu Hoseok juga bisa. Tapi Hoseok mungkin tidak kaya, dia kaya hati. Dia kadang memasak di rumah Kyuhyun, mengatakan kalau Taehyung tidak becus membeli makanan di luar yang tak jelas kualitas kesehatannya.
Krystal menyetujui perkataan Amber. "Ku dengar, dia juga merayakan ulang tahunnya, dia ingin mengundang orang orang penting dari semua sekolah di kota kita" Kyuhyun juga heran, kandidat orang penting itu yang suka berkelahi atau anggota OSIS?
"Kau Kyuhyun?" Kyuhyun mendongak, menemukan pria tinggi menjulang bertubuh kurus. Dia tersenyum—nyaris mirip cengiran. Krystal dan Amber sibuk menyikut tubuh Kyuhyun. Kyuhyun hanya mengangguk.
"Dia orangnya, kenapa bisa di sini?" seragamnya mirip dengan Hoseok. Berwarna hitam dan kerahnya menutupi leher. Seorang dewasa berjalan di belakangnya, dengan kaca mata dan setelan rapi.
"Siapa kau?" Kyuhyun tahu seseorang di hadapannya itu terlihat seperti orang penting. Dia juga pasti seusia dengan kakaknya. Kyuhyun hanya kurang mengerti masalah sopan santun. Jadi dia rasa tak usah berbasa basi dengan si brengsek yang seenaknya menghalangi jalannya ke gerbang.
Remaja tinggi itu mengulurkan tangannya. "Aku Shim Changmin" memperkenalkan dirinya. Kyuhyun bersidekap. Merasa tak harus membalas uluran tangan dari orang yang tak ingin ia kenal. "Aku ulang tahun sabtu ini, aku mengundangmu"
"Kita bukan teman dekat" sahut Kyuhyun acuh. "Ayo kita pergi!" katanya pada teman temannya yang lain. Changmin—remaja tinggi itu menatap tak percaya. Kyuhyun mungkin orang pertama yang menolaknya. Gadis itu cantik dan manis kalau Changmin perhatikan. Dia mengundang Kyuhyun karena Taehyung adalah seseorang yang berpengaruh di yayasan sekolah ini. Taehyung hanya seseorang yang suka anggar jago.
"Aku mengundang Taehyung, awalnya" Kyuhyun menghentikan langkahnya ketika nama kakaknya di sebut. Tatapan mata Kyuhyun menajam.
"Maaf, tapi kakakku sedang tidak tertarik dengan adu jotos. Jika kau mengangguku, aku tak akan mengadukannya padanya tapi langsung menendang jatuh dirimu" Kyuhyun sedang menunjukkan ancaman, tapi apa yang gadis kecil sepertinnya bisa lakukan. Kakaknya yang suka bela diri, dia hanya suka menonton Taehyung berlatih.
"Aku hanya ingin kau datang ke pestaku dan menjadi pasanganku. Ku rasa itu termasuk ide brilian agar sekolah kakakmu dan sekolahku tidak berperang" apa apaan ini? Kenapa Kyuhyun harus mengorbankan dirinya untuk membuat kakaknya tak berkelahi. Taehyung bisa membela dirinya sendiri jika terjadi hal hal sejenis perang atau sejenisnya. Kyuhyun hanya tak ingin namanya buruk kemudian secara tak sadar menggores nama baik Kibum, tapi jika dia bersama dengan lelaki ini, kemudian gossip sampai ke telinga Kibum tentang dia yang menjadi pasangan orang tak dikenalnya, bisa bisa Kibum marah.
Kyuhyun tak mau, cerita cintanya menyedihkan. Seperti film film drama dengan tokoh protagonist yang selalu mengalah. Ini jamannya sabu sabu bukan di jaman batu. Kyuhyun tak perlu bertindak menyedihkan untuk memetik hal baik di akhir cerita. Kyuhyun harus berhati hati.
"Kalau begitu perang saja, aku tak tertarik menjadi pasanganmu" terlihat santai.
Hening—
Changmin tak menyangka dia akan mendapat penolakan sedemikian kasarnya. Dia jadi semakin suka. "Kau ingin aku antar pulang?"
"Tidak" Krystal dan Amber tertawa melihat kegigihan Changmin. Rasanya lucu juga melihat seseorang yang di elu elukan sebagai sosok penguasa tampan itu harus tunduk pada teman mereka.
"Kyuhyun sudah punya pacar" celetuk Amber.
"Putuskan saja!" Changmin sepertinya berhasil membuat Kyuhyun berbalik dan menatapnya tajam. "Aku rasa aku pastilah lebih baik darinya. Aku kaya, pintar, aku juga tampan dan aku bisa melindungimu!" Changmin itu terlahir sempurna dan dia cukup percaya diri.
"Susah jika berhadapan dengan orang sok pamer" Kyuhyun mendesah malas. Persis seperti tante tante yang dikejar kejar berondong. "Pergi sana, aku tak tertarik"
Changmin mengikuti Kyuhyun sampai di gerbang depan. Tak peduli bahwa penjaganya agak kerepotan mengikuti langkah kakinya. "Kyuhyun!" panggil Changmin. Dia menunjuk limosinnya yang terparkir apik di depan gerbang sekolah. Tipikal anak pamer yang berlebihan. Untuk apa dia memakai mobil sepanjang dua meter lebih itu hanya untuk pergi ke sekolah.
"Wow dia keren, Kyuhyun!" Krystal tak bisa menutupi keinginannya untuk naik mobil mewah itu.
"Ayo, kuantar pulang! Aku akan mengantarkan pulang teman temanmu juga" ucap Changmin. Supirnya sudah membukakan pintu untuknya.
Sebuah motor sport berhenti tepat di depan gerbang. Masih di atas motornya, dia membuka helmnya, menunjukkan wajah yang jelas familiar di mata Kyuhyun. "Kibum, kau datang!" teriaknya ceria. Dia berjalan riang, menarik teman temannya untuk mendekat. Krystal dan Amber berdecak, pacarnya Kyuhyun benar benar keren. Dewasa—sepertinya anak kuliahan, meski pilihan pakaiannya seperti preman. Dimana gerangan Kyuhyun bertemu dengannya? Di bar? Ah, Kyuhyun kan belum cukup umur untuk masuk bar.
"Kibum, kenalkan ini Amber dan ini Krystal. Mereka teman akrabku" Kibum menggigit ujung sarung tangannya, melepas sarung tangan kulit berwarna coklat itu dengan gaya yang terlihat keren dimata remaja remaja labil sejenis Kyuhyun dan kawan kawannya. Kibum menjulurkan tangan telanjangnya pada teman Kyuhyun, menyalami mereka satu per satu.
"Senang berkenalan" kata Kibum. "Ayo naik, aku punya banyak pekerjaan!" Kibum hanya menyempatkan diri. Oleh karenanya dia harus mengenakan motor bukan menjemput Kyuhyun dengan angkutan umum. Kibum mengambil helm lain yang berukuran lebih kecil, memakaikannya penuh perhatian ke kepala Kyuhyun.
"Kibum" Amber memanggil. Kibum sedikit mengeriyit ketika teman Kibum yang mirip lelaki itu memanggilnya. "Apa kau merokok?" Kibum bingung menjawab ini.
"Ya" dia memang perokok apalagi ketika dia tak punya kerjaan. Amber ingin berteriak tapi tertahan. Menurutnya lelaki perokok sangat keren. Terlihat jantan dan misterius. "Kau jangan coba merokok" Kibum menasihati bocah SMP sebagaimana yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa sepertinya
"Kibum" Kibum mengeram. Dia mau melajukan motornya tapi teman Kyuhyun yang lain menghentikannya. "Apa kau punya tattoo?"
Kibum kembali mengeriyit bingung. "Ya, aku punya" ucap Kibum. Kembali ia mendapatkan respon teman Kyuhyun yang terpekik tertahan. Untuk Krystal, pria yang bertatto adalah idaman. Mereka gagah dan kuat. "Jangan coba melukis tubuhmu!" lagi lagi Kibum menasihat layaknya orang dewasa.
Kibum sudah siap kembali dengan motornya, tinggal masukkan gigi dan memutar gas—tapi kembali seseorang menginterupsinya. Kibum rasanya ingin berteriak 'apa lagi?'. Rakyat sipil itu harus di lindungi bukan di bentak, terlebih mereka adalah teman Kyuhyun. Kali ini teman Kyuhyun yang pria, Kibum belum di beritahu namanya. "Aku memberikan undangan ulang tahun ini, untuk Taehyung dan Kyuhyun" Kibum mengambilnya. Memberikannya pada Kyuhyun dibelakangnya. "Aku akan menjadi kekasih Kyuhyun" remaja tinggi yang Kibum rasa seusia Hoseok dan Taehyung itu mungkin sama dengan keduanya. Sok jago.
"Aku tak mau pergi Kibum! Jangan dengar perkataannya!" kata Kyuhyun.
"Aku serius! Ayo berkelahi! Siapa yang menang dapat Kyuhyun" Kyuhyun jadi cemas.
"Wanita itu soal hati bukan soal tinju" Kibum berkata. Kali ini dia harus menasihati anak bau kencur lagi. Dia mengutip perkataan Donghae. Membuat wanita yang berada di sana jadi ke semsem sendiri. "Kalau kau pergi juga tidak apa apa, Kyuhyun. Taehyung akan menjagamu" kakaknya Kyuhyun itu kuat. Dia berkali kali menghajar Kibum dan tenaganya semakin hari semakin mampu membuat tubuh Kibum memar. Sepertinya tubuh Kibum dijadikan media latihan bakat atlet terpendamnya.
"Kami pergi" ucap Kibum melajukan motor sportnya.
"Sekretaris Kang" Changmin memanggil pria yang selalu mengikutinya. "Cari tahu tentang pria yang bersama wanitaku itu!"
Ika. Zordick
Meregangkan tubuhnya, Kibum menyesap rokok di bibirnya, dia membaca satu per satu laporan yang di berikan oleh satuan timnya. Dia melirik Hyuna yang persis duduk tak sopan di dekat mejanya—dia juga duduk sama tak sopannya. Kaki di selonjorkan di atas meja dan punggungnya merosot di kursi. Sama sama menyesap rokok, dengan merk sama dan dari kotak yang sama. Hyuna Cuma minta sebatang, dia sudah pusing mendapati kasus yang tak berujung ini.
"Panggil trio baru itu" perintah Kibum. Donghae yang baru saja ingin mencoba rokok pertama terkejut—seperti baru saja kedapatan mengintip isi rok Hyuna. Walaupun ingin, dia takkan melakukannya. Donghae meletakkan rokoknya, melangkahkan kakinya keluar dari salah satu ruangan introgasi. Mencari cari tiga anak baru yang di tugaskan oleh Kibum.
"Siapa yang menulis ini?" Kibum melemparkan berkas laporannya tepat di depan meja yang di hadapannya sudah ada Dasom, Sehun dan Chanyeol. Tiga polisi muda yang awalnya berada di divisi kriminalitas itu di pindahkan pada Kibum. Oleh Jendral sendiri. Mana berani perwira di bawah jabatan Kibum memberikan bawahan yang teledor pada Kibum.
"Aku" kata Sehun. Tatapannya datar, mengintimidasi dan membuat Kibum merasa jengah.
"Lalu dua rekanmu tahu, apa yang kau tulis?"
"Tidak" Chanyeol berdesis. Sehun seharusnya berbohong saja, setidaknya ia takkan di salahkan. Chanyeol bisa berpura pura bahwa ia lupa isi laporannya.
"Benar benar tak tahu diri" Bukan Kibum yang berbicara—meski Kibum ingin berbicara prihal yang sama. Bukan Hyuna juga. Dia lebih memilih menikmati rokoknya. Di sana ada Donghae, polisi yang sama seniornya dengan dua rekannya yang lain. "Kau kira kau sedang berada di sekolah dan mengerjakan tugas kelompok?" Donghae mengeram marah. Sehun itu anak pintar yang kurang ajar.
Kibum diam saja. Kalau soal seperti ini, Donghae memang paling pantas memarahi orang. "Kurasa anda tidak pantas menasihati saya, jabatan anda sepantaran dengan saya"
Hyuna bahkan bersiul takjub. Si pemula ini bahkan berani membahas jabatan. Donghae terdiam. "Lanjutkan!" Hyuna berbicara. "Kau memiliki kata kata lagi, sejenis kritik membangun misalnya?"
"Kau dan Donghae bertingkah seolah kalian adalah seorang perwira di kantor ini, bertingkah memerintah ini itu dan menyimpulkan segalanya, kemudian melaporkan menurut sudut pandang subjektif kalian" Hyuna manggut manggut saja. "Kita aparat Negara, bukankah seharusnya menghormati pangkat. Sir Kibum juga tak seharusnya berada di sini, dia memiliki pangkat di sisi Jendral" Sehun berbicara lugas. "Kalian penegak hukum, tapi aku melihat tidak ada satupun di kantor ini yang menegakkan aturan dengan benar"
"Kau mengerti apa yang kau katakan?" Hyuna bertanya.
"Tentu. Saya menghormati anda sebagai wanita dan senior. Saya akan menyampaikan sesuatu yang salah karena permintaan anda" tak ada ketakutan di mata itu.
Kibum bangkit dari kursinya. Mengulurkan tangannya pada Sehun. Lelaki yang lebih muda dari Kibum itu mengeriyit. Tidak mengerti apa yang diinginkan oleh Kibum. "Berikan lencanamu! Kau berhenti saja jadi polisi" ucapnya datar. Sama datar dan tegasnya dengan penjelasan Sehun.
"Kenapa?"
"Karena pangkatku jauh lebih tinggi darimu dan aku punya wewenang memberhentikan bintara yang tidak patuh, mencelakakan rekannya, berlagak hebat dan tidak menyenangkan sepertimu" Sehun tentu tak terima dengan dua alasan terakhir. "Kau tak cocok jadi polisi, kau lebih cocok menjadi seorang guru kewarganegaraan yang menggurui siswa belum cukup umur"
"Aku tidak bisa menerima itu, Sir!"
"Lalu kau pikir rekan rekanku dapat menerima itu?" bentak Kibum. "Kau tak percaya kanibalisme dan menyeret nyeret pembunuh berantai yang tak ada hubungannya dengan kasus ini dalam laporanmu?"
Chanyeol dan Dasom menatap tak percaya pada Sehun. "Kau menangkap seseorang dan mengatakan dirinya tersangkanya. Kau menemukan bukti dia bersalah dan menghubungkan secara paksa satu korban dengan korban lain yang tak berhubungan. Kau gila atau bodoh?" Sehun terdiam. Dia yakin laporannya sudah sempurna. Dia yakin analisisnya tak meleset. "KAU MASIH MAMPU MENGATAKAN DIRIMU POLISI? KAU PERSIS SEPERTI PEJABAT YANG MENUTUPI SATU KASUS DENGAN KASUS LAIN"
Hening—
"Berhenti jadi polisi!"
"Saya tidak bisa!"
"Ini perintah!" Kibum melempar laporan milik Sehun tepat di wajahnya.
Sehun mengeluarkan identitas kepolisiannya, meletakkannya di atas meja besi hitam itu. "Permisi"
"Kibum ada yang mencarimu!" ini Key. Dia sedikit terkejut ketika Sehun melewatinya begitu saja. "Kau memecatnya?" Tanya Key.
Kibum menggedikkan bahunya. "Kau sudah melakukan perintahku?" tanyanya pada Hyuna kemudian. Hyuna mengangguk. Kibum berjalan santai keluar ruang introgasi. "Kali ini bagianmu, Donghae"
Ika. Zordick
Sedikit mengeriyit. Kibum tahu siapa bocah yang sedang mendatanginya ini. Dia teman Kyuhyun bukan? Yang ingin merebut Kyuhyun darinya. Kibum mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang dekat dengan Changmin—bocah tinggi yang seusia dengan Taehyung dan Hoseok. "Kau mencariku?"
"Ya" Kibum pikir dia tak punya masalah dengan bocah kelebihan harta ini. Kibum menghitung beberapa orang berpakaian hitam yang bertingkah seperti pengawal presiden. Mengganggu matanya saja. "Dimana ruanganmu, kita butuh ruang pribadi?" umurnya saja belum pantas memiliki identitas pribadi. Kibum lagi lagi harus takjub melihat anak sekarang. Lagaknya melebih lebihi orang tua.
"Aku tak punya ruang pribadi" Kibum bicara benar. Dia tak ingin memiliki ruang pribadi dan mati bosan di ruangan itu. Memeriksa laporan yang jelas sudah di periksa oleh perwira lain dan kemudian mengeluarkan surat izin ini itu kemudian marah marah tak jelas. Kalau begitu Kibum cepat tua. Dia lebih suka mengambil alih meja kerja seorang inspektur dan melihat penjahat penjahat kelas teri yang sedang di introgasi.
Changmin tersenyum miring. Pantas saja Kibum itu tindak tanduknya seperti preman. Pakaiannya lusuh dan wajahnya seperti boyband. Dia itu lebih pantas dikatakan sebagai polisi tak niat. Polisi muda yang tak punya jabatan. Jadi ini saingannya? Yang benar saja! Dia tak sudi di banding bandingkan dengan gembel sejenis Kibum meski tubuhnya bagus.
"Ku kira kau seorang montir"
Kibum bertanya Tanya, apa hubungan Changmin dengan profesinya dan bidang keahliannya atau hobinya. "Aku lumayan bisa bertukang" Kibum jujur soal ini. Dia belajar banyak hal. Menangkap orang juga mengharuskannya belajar banyak hal.
"Kalau berkebun?" seluruh polisi yang sibuk dengan pekerjaan masing masing berhenti melakukan tugas mereka. Fokus pada pembicaraan bocah berseragam itu pada atasan mereka. Perasaan mereka tidak enak.
"Aku tak terlalu suka. Itu pekerjaan wanita" Kibum menjawab santai. Kibum itu anti dengan pekerjaan yang tidak lantang. Kibum mengambil rokok dari kantong jaketnya, menyulutnya dan kemudian menghembuskan rokoknya ke hadapan wajah Changmin.
"Ku kira kau akan melakukan apapun untuk mendapatkan uang" benarkan firasat mereka. Donghae meringis, Kibum paling tidak suka di katai tak punya uang meski penampilannya sebelas dua belas dengan gembel. Kibum itu kaya, dia punya dua kartu kredit unlimited di dompetnya. Dia juga punya banyak gaji, tunjangan, bonus dan penghargaan Negara yang kapan saja bisa di uangkan. Jumlahnya tidak sedikit. Dia juga bisa membeli mobil dan rumah sesukanya—tapi tak ia lakukan. Kibum itu seseorang yang tak tahu cara menghabiskan uang.
Berdehem. Kibum menghisap rokoknya lagi, sampai pipinya menirus—sepertinya ia sedang menahan emosi. Rekan rekan kerjanya yang lain kembali sibuk. Yang mengintrogasi penjahat kelas teri pun mencoba memberi pertanyaan yang sudah lari dari subjek. Membuat si tersangka sedikit bingung. "Aku akan membayarmu berapapun, asalkan kau melepaskan Kyuhyun untukku" berbicara dengan sangat sombong.
Hyuna merasa tak seharusnya ia turut ikut campur. Tapi Kibum benar benar akan meledak. Rekan seangkatannya itu selalu tempramen kalau berhubungan dengan Kyuhyun. "Kau sedang melakukan penyuapan terhadap aparat Negara?" Kibum bertanya.
"Bisa jadi. Atau aku harus menelpon atasanmu kemudian menyuapnya agar kau luntang lantung di jalanan." Wajahnya ramah tapi tidak sinkorn dengan perkataan. Hyuna beranggapan anak ini memiliki hati yang lebih keji dari Taehyung. Anak itu meskipun sombong tapi dia takkan mau melakukan yang tidak tidak apalagi menghancurkan hidup orang lain. "Atau kau ingin bekerja denganku? Aku bayar kau empat kali lipat dari gaji aparat Negara"
Hening—
Kembali para polisi di sekitaran Kibum menghentikan kegiatan mereka. Beberapa diantara mereka bahkan menahan nafas. Kibum akan mengamuk. Pasti akan mengamuk. Salah satu perwira yang hendak keluar untuk menanyakan laporan bahkan kembali masuk keruangannya karena merasakan aura tak mengenakkan dari Kibum.
"Sebaiknya kau pulang, bocah" Hyuna hendak menepuk bahu Changmin, tapi seseorang dari beberapa bodyguard Changmin menghentikannya. Mereka mencengkram tangan polisi wanita cantik itu, membuat Hyuna sedikit meringis.
"Hei kau" Kibum melempar puntung rokoknya di lantai. Dia mendongak, menatap dalam ke dalam bola mata Changmin. "Jangan mencemarkan nama baik polisi! Kau ingin ku tuntut?"
Changmin mengedikkan bahunya. "Hukum itu bisa di permainkan"
"Tapi kau sepertinya salah paham. Kau takkan mendapatkan apapun jika itu berhubungan denganku. Tidak Kyuhyun, atau bahkan makanan yang lezat" Changmin mengeriyit.
Hyuna menendang tulang kering seseorang yang mencengkram pergelangan tangannya, menggerakkan tubuhnya melakukan gerakan ippon. Membanting keras seseorang berjas hitam ke lantai, tak peduli perbedaan besar tubuh. Polisi sexy yang selalu suka mengenakan rok mini dan heels itu berdiri di depan Changmin. Menundukkan tubuhnya hingga, belahan dadanya dapat di lihat jelas oleh si bocah berandalan.
Terkejut?
Tentu saja.
Kibum bahkan harus berdehem sedikit ketika di tawarkan bokong sexy Hyuna yang kini tepat di depan wajahnya. Sialan sekali si Hyuna itu. "Aku baru saja mendapatkan pelecehan dari seorang bawahanmu" Hyuna berbicara, jemarinya bermain di rahang Changminn, menatapnya sensual. "Dan kini kau yang melecehkanku dengan menatap dadaku"
"Kibum jangan sentuh" Shit! Kibum hampir saja bisa meremas bokong Hyuna tapi dihentikan oleh Donghae. Donghae itu adanya di pihak Kyuhyun. Sebelum Kibum kilaf dia selalu meluruskan kelakuan pria cabul itu.
"Sini kau, biar ku borgol dan ku masukkan dalam penjara" tentu saja ini hanya aksi menakut nakuti. Hyuna bahkan menyiapkan borgol di tangannya. Ia menegakkan tubuhnya, menjilat permukaan borgol yang menjadi teman setianya menangkap penjahat. Changmin bergedik.
Para penjaga Changmin mengambil tempat di depan Changmin. Kaki Hyuna naik ke atas, menyambar salah satu kepala orang di hadapannya. Di tangkis dengan gesit, Hyuna mengankat tubuhnya ketika kakinya di cengkram kuat, kakinya satu lagi kali ini tepat menghempas kepala targetnya. Peduli setan jika celana dalamnya kelihatan. Donghae ikut ikutan menarik kursinya di samping Kibum. Hyuna yang berkelahi adalah tontonan favorit mereka. Dari dulu.
Tangan Hyuna boleh kecil, tapi dia menguasai teknik bertarung. Dia menutupi tenaganya yang lemah dengan mempelajari titik titik vital yang jika di serang langsung merobohkan lawan. Tapi dia tak pernah bisa mengalahkan Donghae dalam tarung satu lawan satu. Kalau Kibum, mereka tak pernah dalam kondisi tarung. Kibum selalu latih tarung dengan guru.
Kibum dan Donghae bertepuk tangan ketika Hyuna menghajar yang lainnya, memukul satu per satu sampai tumbang. Mereka bersorak. Apalagi ketika paha Hyuna tersingkap dan celana dalamnya kelihatan. Itu pemandangan luar biasa.
"Kibum tutup matamu, nanti Kyuhyun marah" Donghae memperingatkan.
"Kalau kau menutup mulut akan kutraktir kau makan. Diam saja!" begitulah Kibum. Di beritahu tak tahu untung.
Ika. Zordick
"Aku sudah melihat bagaimana sosok Kim Kibum, dia tak ada turun tangan, tapi dia punya rekan yang cukup tangguh. Seorang wanita menghajar beberapa orang bertubuh besar" seorang dengan kacamata, berjas formal membungkuk pada seorang pria. "Tapi dia tak cukup pintar."
Pria itu tersenyum. Dia mengelus seorang wanita yang tertidur di atas mejanya. Tubuhnya telanjang, rambutnya panjang dan terdapat rantai yang mengikat lehernya. "Ku dengar dia bahkan terlalu sombong. Dia memecat salah satu anggotanya yang cerdas?"
"Ya" si pria berkacamata membuka pintu berukiran indah di belakangnya. "Namanya Oh Sehun" katanya dan pria berkulit pucat, berwajah tampan menunjukkan dirinya.
"Jadi bagaimana kau mengetahui bahwa Yongil adalah seorang pemakan manusia, kawan?" si pria bertanya. Sehun bergeming. Dia tersenyum miring.
"Dia sepertinya sangat menyukai daging manusia dan membenci manusia sehingga tidak terlalu pintar memilih tempat untuk melahap makanannya. Semua jejak tertuju padanya, dia bahkan lupa untuk mengelap mulutnya setelah makan" terdengar mengejek. Sehun memang tak pintar untuk berbicara secara mendayu setidaknya untuk mendapatkan kepercayaan orang di depannya.
"Ah, kita harus menyuruh yang lain lebih berhati hati" si Pria menghela nafas. "Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Apa yang seorang mantan polisi sepertiku dapat lakukan?" Sehun bertanya. Dia menjilat bibir atas bawahnya, mencoba membasahi bibir bibirnya.
"Apa yang kau inginkan?" si pria bertanya.
"Bisakah kau menghancurkan Kim Kibum untukku? Seperti dia menghancurkan cita citaku?"
"Tentu, tapi bukankah kalau kau ingin berkerja sama denganku, kau harus menjadi keluargaku?" Tanya si pria. Seperti memberikan penawaran. "Sejujurnya aku juga ingin menghancurkan Kim Kibum, dia menganggu ketertiban yang kuciptakan dengan susah payah"
Sehun menaikkan sebelah alisnya. "Tapi aku akan membuat event special agar kau yang merobek dagingnya. Memakannya hidup hidup"
Si pria mengulurkan tangannya. Si kacamata menyerahkan sebuah belati padanya. "Sebelum itu jadilah keluargaku, Oh Sehun"
"Apapun itu, asalkan kau menepati janjimu menghancurkan Kibum dan aku yang merobek dagingnya" Sehun tak terlalu peduli yang lain. Dia hanya butuh inti percakapan. Si pria kembali mengelus si gadis yang kini tertidur dengan posisi punggung di atas, bergelung seperti kucing. Si pria menelusuri bahu si gadis, meraih jemarinya dan—
"ARGHH!" suara teriakan mengiris hati terdengar.
Sehun melotot melihat si pria itu memotong jari telunjuk si gadis. Membuat gadis itu terbangun dan berteriak spontan. "Maafkan aku, apa aku membangunkanmu" dia menepuk nepuk kepala si gadis. Sehun jelas melihatnya, jemari di tangan lainnya si gadis telah menghilang. Tak ada jari lagi di sana. "Obati lukanya Mr. Yang!" perintahnya pada si kacamata.
"Makanlah ini! Agar kita terikat sebagai keluarga" mengulurkan jemari yang sudah terpisah dari tubuh si wanita. Sehun menelan ludahnya. Dia tersenyum kemudian, menghirup aroma dari jemari itu. Dia mencabut kuku yang ada di sana. Memasukkan jemari itu dalam mulutnya. Mengunyahnya. "Bagus sekali. Kau menyukainya?"
Sehun memilih mengangguk. "Aku akan memberikan daging Kibum untukmu" kemudian Sehun tersenyum senang.
TBC
Tidak ada pertanyaan di chapter sebelumnya, jadinya gak ada yang harus ka jawab. Muahahaahhaha xD
