Sial!

Sehun mengaduh dalam hatinya. Ia menatap makanan yang terpampang di depannya. Hanya nasi, sup rumput laut dan irisan ikan yang masih dengan asap mengepul. Sehun menatap datar, lidahnya rasanya tak enak untuk memakan makanan itu. Ada rasa lain yang sudah meluber di lidahnya. Dia menatap sosok cantik berkulit coklat yang tengah menuangkan air di dalam gelasnya.

"Ada apa?" Tanyanya. Sehun tersenyum kecut kemudian menggeleng.

"Aku baik baik saja" Sehun mengambil sumpit, mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.

Sesuatu bergejolak di dalam perutnya. Mengaduk aduk, Sehun memejamkan matanya. Rasa jemari gadis bertelanjang yang semalam di kecap lidahnya masih dapat ia ingat. Otaknya secara otomatis mengingat rasa itu. Dia menutup mulutnya, memaksa menelan makanan yang memenuhi mulutnya. Sedikit takut menyakiti perasaan wanita yang membuatkan makanan enak untuk dirinya.

"Sehun?" Tanya sang wanita. Mengeriyit heran. "Kau tak bernafsu makan? Atau makanan yang ku buat tidak sesuai dengan seleramu?" Tanya si wanita.

Dengan tangan lain, Sehun mengungkapkan bahwa dia baik baik saja. Dia berhasil menelannya.

Sebentar—

Lalu dia berlari ke arah washtafel, memuntahkan isi perutnya di sana. "Sehun?" si wanita mengikuti arah langkah Sehun, menepuk nepuk punggung Sehun. Memijat lembut bahu itu.

"Kibum sialan!" Sehun mengumpat. Dia benar benar harus merobek daging Kibum. Rasa dendamnya semakin memuncak dan dia memuntahkan isi perutnya lagi.

"Apakah atasanmu menyulitkanmu?" si wanita bertanya. Perutnya yang membuncit sedikit membuatnya kesusahan menuntun Sehun ke dalam kamar. Suami—lebih tepatnya calon suaminya itu sepertinya belum bisa makan. Dia akan bawakan air hangat saja nanti. Sehun hanya tersenyum, mengelus pipi si wanita.

"Aku baik baik saja, Kai. Tapi bisakah kau berjanji padaku, ketika aku tak ada di rumah, tetaplah di kamar. Jangan keluar!" ini perintah ayah dari bayinya. Tentu saja wanita yang di panggil Kai oleh Sehun itu memilih mengangguk menuruti. Pekerjaan Sehun itu berbahaya—tapi Kai bersyukur Sehun bukan tentara yang jarang pulang. "Aku akan istirahat sebentar, kau lanjutkanlah makanmu" pinta Sehun. Dia mengecup perut membuncit si wanita kemudian mengecup bibir si wanita.

Little Flower

.

.

Ika. Zordick

Kibum mengetuk ngetuk jemarinya di atas meja, sedikit keras hingga membuat rekan rekan lainnya terganggu. Dia tak terlalu peduli kenyamanan yang lain. Dia menikmati.

Menikmati tiap lantunan lirik lagu kesukaannya, menyanyikannya dengan suara pas pas'an miliknya. Jika ada yang protes dia takkan memperdulikannya. Yang penting dia senang.

"Ada apa dengannya?" Tanya Chanyeol—orang baru yang kini mejanya berada di samping meja Donghae. Mencoba bertanya dengan senior polisinya itu tentang atasan mereka yang memang selalu aneh dan suka seenaknya. Chanyeol harus mendekatkan diri pada Kibum, agar Kibum mau mengembalikan sahabatnya, Sehun. Chanyeol sendiri tak yakin Sehun suka kalau dirinya mengklaim Sehun sebagai sahabat.

Donghae memilih menyodorkan earphone pada Chanyeol. Itu suatu bentuk solusi. Kenyamanan dan ketentraman kalau berhubungan dengan Kibum adalah tidak ada.

Dasom bangkit dari kursinya. Melangkahkan kakinya yang berbalut celana panjang berbahan kain berwarna abu abu ke meja tempat Kibum bersantai—tak ada yang berpikir ia sedang bekerja. "Sir" Dasom meletakkan sebuah botol berisikan vitamin pada Kibum. Mencoba mencari perhatian Kibum, tapi dia masih takut takut. "Kurasa kau lelah, bukankah sebaiknya kau minum vitamin?"

Kibum membuka matanya yang terpejam, melirik Dasom yang mencoba kukuh ingin menatapnya. Tapi tiga detik kemudian dia menunduk. Takut bertemu pandang dengan Kibum. "Ada apa?" Kibum tentu tahu, Dasom pasti punya maksud terselubung. "Panggil aku, Kibum!" ini perintah.

"Bisakah kau menarik ucapanmu dan mengembalikan identitas kepolisian Sehun?" Tanya Dasom. Dia lumayan frontal dan Chanyeol takut kalau berikutnya Dasom yang di pecat. Tapi dia bangkit dari kursinya, mencoba berdiri di sisi Dasom. Wajahnya memelas juga, minta Kibum mengasihi keduanya. "Dia memiliki kehidupan yang sulit. Istrinya—maksudku calon istrinya sedang hamil dan dia pasti butuh biaya persalinan dan pernikahan" Dasom kenal Sehun. Chanyeol juga. Meski kurang akrab dengan Sehun, tapi mereka tahu latar belakang pria dingin yang cerdas itu.,

Kibum acuh. Memang apa pedulinya. Mau Sehun jomblo seumur hidup pun, dia tak peduli. Siapa suruh tak main aman hingga bisa hamil begitu.

"Itu bukan urusanku" Dasom mendesah kecewa. Hyuna jadi tak tega melihat rekannya yang sesama polisi wanita tersebut. Dia menarik tubuh Dasom. Mengatakan bahwa itu sudah keputusan mutlak atasan, susah mencabutnya. Maksudnya kalau Kibum sudah menancapkan kuku kekuasaan, susah mencabutnya.

"MANA SI BOCAH NAKAL ITU?" itu sebuah suara berat. Terdengar keras, bergaung dan hampir seperti eraman singa. Seorang lelaki dengan seragam polisinya—lencana lencana kehormatan memenuhi seluruh pakaiannya. Seluruh pekerja di kantor kepolisian itu menegakkan tubuh mereka, memberi hormat pada lelaki bertubuh tegap bermata musang yang baru saja memasuki kantor mereka. Berteriak tak tentu arah. "KIBUM!" dan Kibum mendesah malas.

Dia jelas tahu siapa yang datang. Mengatainya yang dewasa ini sebagai bocah. Yang berteriak teriak sesuka hati di daerah kekuasaan Kibum. Kemudian semuanya memberikan tingkah formal berupa penghormatan. Kenapa si Jendral Besar Jung Yunho harus repot repot mengunjunginya? Benar benar merepotkan.

Hyuna cepat cepat menepuk kepala Kibum. Menyuruh Kibum berdiri dan memberikan penghormatan sebagaimana seharusnya. Kibum mendesah malas, tapi dia berdiri juga. "Ada apa kau datang kemari? Ini daerah kekuasaanku"

"Apa maksudmu kekuasaan?" Kibum suka menggunakan istilah istilah aneh. Yunho sendiri sudah hampir kena stroke kalau berhubungan dengan Kibum.

"Aku sudah mengencingi pagar depan, agar kau sadar ini tempatku! Kenapa kau datang kemari?" Yunho menepuk kepala Kibum yang jelas tak sopan padanya. Itu sudah biasa. Pria dua puluh delapan tahun itu memang selalu kurang ajar padanya. Bahkan ketika Kibum masih belum berpangkat di kepolisian.

Ini kali pertama. Mereka—rekan rekan Kibum yang bekerja lama untuk kantor kepolisian ini melihat kalau atasan mereka itu bisa juga bertingkah kurang ajar dengan yang pangkatnya lebih tinggi. Terlebih lagi Yunho sampai repot repot mendatangi Kibum. Kibum meringis, pukulan Yunho itu sakit, sama seperti pukulan almarhum ayahnya.

"Mengunjungimu!" Yunho berbicara santai. Seorang perwira bahkan mencoba meminta Yunho untuk masuk ke dalam ruangannya. Rasanya dia dan Yunho itu pangkatnya bagai langit dan bumi. Sangat jauh. Mana pas Yunho berada di ruangannya yang sempit. Tapi lebih segan lagi kalau Yunho sampai berdiri diri di sini. "Apa yang kau mau dari Sehun?"

Kibum memilih kembali mendudukkan dirinya. Dia mengerti maksud Yunho, dia sudah menyatakannya dengan secara tidak formal tentang tindakannya pada si bawahan. "Itu bukan urusanmu, kau menyerahkannya padaku. Jadi terserahku ingin melakukan apa" membuahkan dengusan kesal oleh sang atasan. Dia melirik seluruh bawahannya yang berada di kantor polisian itu.

"Kalian boleh duduk. Hei, bisakah kau menarikkan kursi itu untukku?" bernada perintah. Chanyeol yang diminta pun buru buru menggeser kursi di dekat tempatnya berdiri ke dekat Yunho. "Kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian, aku ada urusan dengan si bajingan tengik ini"

"Berhentilah memperlakukanku non formal, Sir" Kibum mendesah.

"Mana ada keadaan formal kau duduk di kursi yang nyaman lalu mengatakan kau ingin melakukan apapun sesukamu. Biarkan aku duduk di situ, kau berdiri dan siap ku teriaki!" bentak Yunho.

"Aku tak sudi" dan dia benar benar tidak sadar untung. Yunho mendesah tak percaya. Benar benar bawahan berpangkat tinggi yang terbiasa di lapangan. Ia tak diajarkan tentang tata aturan sebagai perwira sepertinya.

"Dengar Kibum, aku melihat si Sehun itu sepertimu, oleh karenanya aku memintanya untuk bergabung dalam pengawasanmu" Yunho pikir Kibum itu seorang pelatih di akademi? Dia tak pernah tertarik dengan bintara baru. "Dia itu jenius brilian yang kuharapkan bisa menjadi seperti dirimu, kelak" mencoba bernegosiasi. Salahnya juga yang percaya meletakkan Sehun di bawah Kibum. Dua orang itu sama, oleh karenanya tolak menolak—bagaikan kutub magnet.

"Jadi apa maumu?"

"AKU MINTA DIA DIHADIRKAN DI SINI SEGERA! BRENGSEK! KAU BENAR BENAR MEMBUATKU HABIS KESABARAN! KEMBALI KE KANTOR PUSAT KAU, JANGAN LAKUKAN SEMUANYA SEENAKMU" Yunho lepas kendali. Dia yang selalu marah marah, memerintah ini itu—kenapa harus bertindak manis di depan anak buah keparat macam Kibum. Dan kini, Kibum sukses membuat darah tingginya kumat karena telah menendang jauh anak buahnya. Anak buah kesayangannya setelah Kibum, tentunya.

Kibum tertawa. "Kau ingin kehilangan dua bawahan terbaikmu?" seolah mengolok olok Yunho. "Kau tak bisa berada di kursimu tanpa kami, Yunho. Jangan membuat sulit keadaan! Kembali ke tempatmu dan perintah yang lain. Aku akan melakukan yang terbaik seperti yang kau inginkan."

Hening—

Seluruh manusia di ruangan itu mencoba menutup telinga mereka. Menganggap bahwa kata kata Kibum baru saja tak pernah terucap. "Setelah ini kasus ini berakhir, aku siap terima sanksi darimu karena tak mengindahkan perintah. Bagaimana?"

Penawaran itu cukup menggiurkan. Yunho sepertinya sudah kebal dengan perkataan tak senonoh Kibum. "Baiklah, aku setuju!" katanya cepat dan melenggang pergi dari kantor itu.

"Kibum" Donghae menatap Kibum. Merasa bahwa ia harus segera membawa Sehun kembali. Donghae tidak suka Kibum yang sesukanya berada di lingkungan kepolisian yang tak seharusnya tapi Kibum pasti akan sering stress mengenakan seragam. Donghae juga bingung.

"Tenanglah, kawan!" Kibum berbicara. "Kita hampir sampai." Menepuk bahu Donghae dan memilih enyah dari ruangan tersebut.

Ika. Zordick

"Ada apa denganmu? Kau benar benar seperti paman kesepian" Taehyung menatap jijik pada Kibum yang duduk di sampingnya. Menghabiskan kaleng demi kaleng bir dingin yang memang sengaja ia simpan di dalam lemari es apartemen Cho bersaudara tersebut. Dia lebih suka pulang ke apartemen ini, apartemennya sendiri di huni oleh Hyuna atau mungkin Donghae. Terserah mereka bagaimana berbagi apartemen Kibum. Donghae itu orang lurus, dia bahkan tidak merokok dan minum alcohol.

Donghae itu tidak normal di mata Kibum. Tapi Donghae orang yang jujur, ia bilang ia takut Tuhan. Dia juga tak pernah bermain wanita. Meski Kibum sering mengajak Donghae untuk mengerjai tubuh tubuh wanita di hotel, tapi lelaki itu menolak dan lebih memilih membawa Kibum yang mabuk kembali setelah kegiatan bercinta.

"Hei, Taehyung" dia berbicara. Taehyung mendesah malas. "Aku ingin memberitahukanmu suatu rahasia" Kibum sepertinya mulai mabuk tapi dia tak kehilangan kesadaran sempurna. Dia sudah berlatih untuk tak membocorkan rahasia dari mulut mabuknya. Kibum serius memberitahukan Taehyung sebuah rahasia.

Suara pintu apartemen terbuka membuat keduanya menoleh kemudian. Kibum kembali menutup mulutnya. "Hujannya benar benar mengerikan" suara Hoseok—pria yang menjadi sahabat Taehyung itu sering mengunjungi Taehyung. Sedikit khawatir kalau kalau apartemen Taehyung memperoleh musibah mendadak. Seperti Kyuhyun yang sakit misalnya.

"Aku basah kuyup" kali ini suara Kyuhyun mengalun.

Keduanya memasuki ruangan tengah—tempat Kibum dan Taehyung berada. Kondisi keduanya baik baik saja, hanya sedikit basah. Sepertinya mereka menerobos hujan deras di luar sana. Dengan sebuah payung—terdengar romantis. "Kenapa kalian melihatku begitu?" Hoseok terdiam. Merasa di pelototi dengan tajam oleh kedua lelaki beda usia yang masih betah duduk di atas sofa.

"Kau ingin mengambil Kyuhyunku?" keduanya berucap sama. Mengklaim seseorang yang memang milik mereka. Kyuhyun hanya mendesah malas, toh ia tahu akhirnya Kibum dan Taehyung lah yang berkelahi.

"Aku akan ganti baju" Kyuhyun berujar ketika Taehyung dan Kibum sudah saling menatap. Saling tak terima Kyuhyun diklaim seenaknya. "Kibum, berhentilah minum!" peringat Kyuhyun yang langsung dihadiahi cebikan Kibum. Kyuhyun tega sekali melarangnya minum, tapi ia lakukan juga.

"Kyuhyun, kau akan langsung tidur?" Taehyung bertanya. Dia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan jam tidur Kyuhyun. Hoseok juga sepertinya akan menginap, setidaknya besok hari Sabtu. Mereka libur. Kyuhyun mengangguk. Dia tipe anak gadis yang takut ada kantung mata yang bisa merusak paras cantiknya. Kibum bisa tak menyukainya lagi. Kibum mendesah kecewa, tapi dia tak punya ambil resiko memasuki kamar Kyuhyun hanya untuk sekedar memeluk gadis pujaannya. Taehyung bisa memasang plat di depan kamar apartemen, 'untuk Kibum di larang masuk'.

Ika. Zordick

Merenggangkan tubuhnya, Kyuhyun melirik jam waker di kamarnya. Jam itu tak berbunyi, dia sengaja menyetelnya agar tak berbunyi—ini hari Sabtu. Dia libur, begitu juga dengan semua orang di rumah ini. Kecuali Kibum mungkin, pria itu kadang ke kantor polisi hari Minggu. Dia akan berdalih tentang kewajiban aparat Negara dan criminal tak libur melakukan kejahatan meski tanggal merah.

Dengan gaun tidurnya, Kyuhyun melangkahkan kaki telanjanngnya ke luar kamar. Mendapati dua orang pria yang ia kenali sebagai Taehyung dan Hoseok terkapar di ruang tengah. Mereka sepertinya bergadang bertanding game bola atau hanya sekedar football manager. Kyuhyun mendesah, dia akan kerepotan membersihkan kaleng kaleng bir, soda dan makanan ringan yang berserakan di sana. Hoseok dan Taehyung tidak mabuk tapi kenapa mereka seperti manusia yang hangover jika berkumpul bersama sama. Nilai tambahnya ada Kibum di sana.

Ngomong ngomong soal Kibum, Kyuhyun tak menemukannya.

Kyuhyun tak salah ingat kalau sekarang masih sangat pagi, Kibum suka datang terlambat ke kantor polisi dan seingat Kyuhyun, Kibum juga takkan bangun sepagi ini. Kyuhyun melihat kesekeliling, siapa tahu dia menemukan Kibum. Sebuah suara sedikit mengagetkan Kyuhyun, Kibum pastilah di dapur.

"Kau sedang apa?" Kyuhyun bertanya ketika Kibum tampak sibuk mencari cari sesuatu di dalam kulkas. Kibum tampak membenarkan penglihatannya, ketika Kyuhyun menghidupkan saklar lampu dapur. Kibum tersenyum ketika melihat sosok cantik mungil itu. "Kau mabuk?" itu pertanyaan.

Kibum mengedikkan bahu. Tak ada niat menjawab pertanyaan itu, tenggorokan Kibum kering. Dia butuh air sekarang dan sialnya matanya sedikit berkunang. Kyuhyun melangkahkan kakinya ke dapur, berada di depan Kibum, mengambil alih pekerjaan pria itu mencari cari sesuatu di dalam kulkas. Kyuhyun langsung menemukan sebotol air mineral di sana, membuka tutupnya dan memberikan pada Kibum. "Kau tak terlihat baik baik saja" suaranya merdu mendayu. Pelan karena itu masih dini hari.

"Ku rasa begitu" Kibum meneguk air itu hingga habis. "Kau tampak cantik" Kibum sedang dalam moodnya. Dia selalu mengatakan wanita 'cantik' jika ia menginginkannya. Kyuhyun bersemu sebagai respon, Kibum selalu menggoda di matanya. Lelaki itu, Kyuhyun menggilainya. Tangan Kibum mengurung Kyuhyun diantara meja dapur dan tubuh besarnnya. Wajahnya sangat dekat dengan Kyuhyun, menerpa wajah si gadis dengan nafas berbau bir kalengan.

Mereka berciuman, Kibum dengan sangat rakus sudah melahap bibir Kyuhyun tanpa aba aba. Kyuhyun sendiri menyambut itu dengan baik. Kibum tidak mengajarinya, dia belajar otodidak dari instingnya. Dia kesulitan, tinggi tubuhnya dan bibirnya yang tidak berpengalaman sepertinya cukup membuatnya tak bisa menikmati ciuman kasar penuh nafsu dari Kibum. Kibum cukup membantunya, mengangkat tubuhnya duduk di meja dapur tanpa melepas tautan bibir mereka.

Tangan Kyuhyun terulur, menarik leher Kibum yang bisa di jamahnya, tangannya meremas rambut hitam si pria. Kyuhyun merasa berhasrat, Kibum pintar memancing gairahnya—persis seperti yang bisa di banggakan dari seorang pria dewasa. Kibum menarik lidah Kyuhyun, membuat saliva Kyuhyun bercecer, dia menyesap dagu Kyuhyun, membiarkan Kyuhyun menarik nafasnya lagi dan kembali menyambar bibir itu ketika Kyuhyun ia rasa cukup meraup oksigen.

"Eunghh" sebuah lenguhan. Aba aba bahwa morning kiss telah berubah menjadi morning sex untuk si dewasa. Tangan Kibum dengan usil merayap masuk ke dalam gaun Kyuhyun, meraba paha mulus Kyuhyun yang selalu masuk ke dalam mimpi basahnya belakangan. Dia akan merubahnya menjadi realita secepatnya. Persetan dengan nasihat Donghae tentang Kyuhyun yang mungkin bahkan belum masuk bab reproduksi pada pelajaran Biologi di sekolahnya.

"Aku berjanji tidak akan sakit" itu bisikkan setan. Kyuhyun hanya mengangguk, dia bahkan tak mendengar kata kata Kibum saat Kibum dengan berani menjilat belakang telinganya. Dia terlalu sibuk—sibuk mengerang ketika tangan yang ia rasa asing menggelitik permukaan tubuhnya. Tangan Kibum dengan berani naik dan menangkup payudara mungil Kyuhyun.

Dan—

BUGH!

Sebuah kepalan tangan tepat menarik tubuh Kibum, memukul telak wajah tampan si pria yang tengah bergairah itu. "PAPAA!" itu teriakan Kyuhyun. Kibum merasa sekitarnya berputar. Hidungnya terasa sangat perih, sesuatu mengalir dari hidungnya.

Ika. Zordick

"Itu pasti sangat sakit" Donghae meringis ketika Hyuna mencoba memencet hidung Kibum dan menyelamatkan rekan kerja mereka itu dari pendarahan. "Pria itu hebat, bisa membuat pembuluh di hidungmu patah, sepertinya kau akan kalah jika kau harus berkelahi dengannya" lanjut Donghae, bukan bermaksud mengolok Kibum lebih, dia hanya terlalu kagum dengan seseorang yang mampu membuat Kibum berdarah dan berlari terbirit birit.

"Ini benar benar parah, Kibum" Hyuna cengengesan ketika memasang plaster di batang tulang hidung Kibum, kulitnya lecet seperti terkena cincin. "Salahmu yang ingin memperkosa anak gadis orang di hadapan orang tuanya." Membuat Kibum cukup merasakan desingan di kepalanya. Ia tengah berdiri dengan bertumpu pada tangannya di salah satu sudut kantor polisi.

Donghae mendudukkan dirinya di salah satu kursi, tertawa keras melihat wajah datar Kibum yang sepertinya menjadi bahan olokan pagi ini. "Pukulan yang sakit itu adalah pukulan mendiang ayahmu, kemudian Jendral yang merawatmu dari kau kecil—" Donghae menutup mulutnya. Tatapan matanya terlihat jenaka melirik Hyuna. "—Kemudian calon mertua. Kau benar benar dalam masalah. Kau selamanya takkan pernah bisa menikahi Kyuhyun"

Hyuna tertawa.

Cukup keras hingga seluruh kantor polisi pagi itu penuh dengan tawa bersambut. "Sekarang aku mengerti, maksud dari anak gadis yang cantik selalu memiliki harder di sampingnya" Park Kyung, salah satu bawahan Kibum yang terbilang pintar itu menggunjing Kibum bersama Key. Mereka tampak asyik mengolok Kibum yang dalam masa berkabungnya. Berkabung atas hidungnya yang bergeser, wajahnya yang memar dan tentu saja putusnya ia dengan kekasihnya karena restu—ah karena dia tertangkap basah ingin meniduri Kyuhyun di dapur oleh ayah sang gadis yang tiba tiba pulang.

"Kau menyedihkan" Hyuna terdengar bersimpati tapi wajahnya penuh dengan ekspresi mengejek kentara. Tidak ada yang tulus di kantor polisi ini—tidak ada satupun. Kibum rasa, dia benar benar malang hari ini. Hyuna kemudian menyumpal tisu ke dalam hidung Kibum, cukup membantu agar darahnya tidak mengucur lagi. Kibum banyak kehilangan darah dan nyali pagi ini. "Kau tak melawan?"

"Aku tak bisa. Dia memiliki gerakan yang cepat" Kibum serius tentang dia yang kalah telak. Pria yang menjadi ayah Kyuhyun adalah pria yang benar benar mengerikan. Pria mengerikan dan anak perempuan yang cantik adalah perpaduan sempurna yang menjatuhkan Kibum. Kibum tak yakin dia bisa menemui Kyuhyun lagi. "Lupakan itu sekarang, berikan aku laporannya!"

Hyuna mendengus tak suka. Seseorang yang bisa mengalahkan Kibum pastilah seorang pria yang sexy. Dia ingin tahu bagaimana orangnya. Dia cukup penasaran, sialnya dia memiliki seorang istri. "Berhentilah memikirkan pria yang membuatku babak belur, Hyuna!" ini perintah. "Dia beristri dan mencintai kedua anaknya, kau akan patah hati dan berakhir mengangkang untukku" dan selebihnya hanya olokkan.

"Kau butuh mengangkang kali ini, dan aku yang menghiburmu" Hyuna tertawa. "Jangan ajak ajak aku dalam kemalanganmu, aku hanya sedikit penasaran"

"Setelah menangkap para kanibal ini, aku sungguh akan menidurimu" ini bukan ancaman, tapi semacam godaan. Hyuna hanya mendengus, memberikan sebuah map ke tangan Kibum. "Dugaanmu benar tentang meletakkan seseorang yang pintar di sector ini"

Ika. Zordick

Malam ini terasa sedikit lebih dingin, Kibum memasang earphone di telinganya, dengan jaket yang terpasang apik di tubuh berisinya dan tak lupa topi yang menutupi sebagian wajahnya. Hyuna melempar sesuatu ke hadapannya, Kibum menangkapnya—itu kartu identitasnya. Sesuatu yang menjelaskan pekerjaannya sebagai aparat Negara yang mengamankan penduduk sipil.

"Mereka pintar, bisa bisa kau yang harus kami tangkap karena kau melupakan kartu identitasmu" Hyuna mengikat rambut pirang panjangnya—mempertontonkan leher jenjangnya. Dia kemudian membenarkan sarung tangannya. "Surat penangkapannya bagaimana Donghae?" Hyuna bertanya dan Donghae menunjukkan sebuah kertas di tangannya.

"Pastikan operasi kali ini tanpa kelemahan" Kibum menyimpan pistolnya dengan benar kali ini. Dia sedang tak dalam pekerjaan sebagai seorang bocah pelajar. "Para binatang itu tidak buta hukum" ringisnya. Dia tentu saja tahu siapa para pemuja Tuhan yang mengharuskan memakan sesama. Dia perlu menangkap para pemuka agama dan itu sedikit membuatnya merasa harus lebih dari siap.

"Bergerak!" perintah Kibum dan beberapa anak buahnya membuka pintu di hadapan mereka. Sebuah hotel berbintang. "Jika kalian berdua berhasil menangkap tiga masing masing, akan ku kembalikan Sehun pada kalian" lanjut Kibum menatap dua bawahan barunya—Chanyeol dan Dasom. Keduanya saling bertatapan dan terlihat antusias bahwa mereka harus melakukan tanggung jawab dengan hadiah berupa kesetiakawanan.

"Kau sangat baik, Sir" olok Donghae.

Hyuna tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya. "Kibum baru saja ingin menunjukkan betapa tampannya ketika dia bertindak benar" ini olokan lain.

"Masuk!" perintah Kibum selanjutnya, membawa rombongannya dengan santai ke dalam hotel tersebut, menunjukkan surat penangkapan pada bidang keamanan. "Dan kau kami tahan, teman!" katanya dingin pada sang penjaga keamanan.

Ika. Zordick

"HEI, ADA APA INI?" Taehyung berada di sana. Terkejut ketika kegiatannya yang sedang menari di temani gadis gadis seusianya di lantai dansa diinterupsi oleh sekumpulan orang dewasa. Hoseok yang duduk tak jauh dari tempat Taehyung berada bahkan menyemburkan soda kalengnya. Taehyung menatap Hoseok, mereka jelas melihat Kibum di sana—dan beberapa polisi yang pernah menjadi kenalan mereka ketika mereka hobi berkelahi dahulu.

"Dimana pemilik pesta?" Kibum bertanya. Ini pesta ulang tahun Changmin—undangannya pernah Kibum pegang. Seorang bocah yang pernah berkelahi dengan Kibum dan Hyuna di kantor polisi tempo hari.

"Hei Hei Kibum. Karena kau tak di restui ayahku, jangan membuat keributan dengan Changmin." Taehyung dengan kesoktahuannya mencegat langkah Kibum. Kibum menaikkan sedikit topinya, menatap Taehyung sekilas. "Dia bahkan masih dalam tahap perencanaan dalam mendekati adikku" lanjut Taehyung.

"Aku tidak ada urusan dengan Kyuhyun." Ucapan itu terdengar kejam. "Adikmu memang seharusnya di pisahkan dariku"

"HEI! ADIKKU MENANGIS SEHARIAN!" teriak Taehyung, ingin memulai perkelahian.

"Kami menemukannya, Sir!" pria tinggi yang asing di mata Taehyung menyeret Changmin. Membawa Changmin tepat ke hadapan Kibum.

"Dimana si kacamata yang selalu bersama denganmu?" satu satunya orang yang pernah tertangkap basah oleh Kibum mengawasinya hanyalah si kacamata yang selalu bersama dengan Changmin. "Jika kau bersedia kau boleh menunjukkan dimana ayahmu sekalian" ini lanjutan dari Key. Dialah yang mengusut kasus pelarian si boss kanibal—dan sedikit kejutan bahwa anaknya yang datang sendiri ke kantor polisi.

"Tangkap dia!" Kibum berbicara menuju Changmin dengan dagunya.

"HEI APA MAKSUDMU INI?" Changmin berteriak. Tidak pernah sekalipun ia merasa di bekuk oleh orang orang yang tidak ia kenal, ini seperti pelecehan untuk dirinya yang merupakan kalangan atas—menurutnya.

Hyuna menghela nafas, dia mengambil alih Changmin dari tangan salah seorang polisi, memasangkan tali yang terbuat dari polimer kuat, dan mengunci pergelangan tangan Changmin dengan cekatan. "Ayahmu dan orang orang yang bekerja di hotel ini, memakan manusia. Mereka menyebabkan terror akan kematian oleh warga Negara dan kami adalah aparat yang harus membuatnya membayar semua perbuatannya"

"Ayahku?" Changmin tak percaya dan Hyuna tahu sekali kalau anak lelaki ini sungguh tak mengetahui apapun.

Insting seorang polisi.

"Kau sedang bekerja?" Taehyung merasa malu kali ini.

"Ya, dan jangan ganggu aku! Ikutlah dengan mereka!" Kibum menunjuk beberapa bawahannya.

Ika. Zordick

Aksi heroik.

Jangan terlalu mengharapkan adegan perkelahian aparat polisi dengan para pemangsa manusia yang berpendidikan tinggi. Mereka duduk dengan benar ketika tak menemukan celah melarikan diri. Menatap bengis pada para polisi dan mengatakan bahwa mereka orang lurus yang memperjuangkan agama. Kibum bersyukur tentang itu. Selebihnya biarkan para jaksa yang pusing.

Para pembunuh dengan kedok manusia disiplin yang tahu hukum adalah musuh penegak hukum. Kibum menghela nafas, menaikkan kakinya ke atas meja, menggoyang goyangkannya dengan tidak tahu sopan santun di depan pria yang jelas lebih tua darinya. "Panggil pengacaraku!"

"Pengacara yang lain, pengacaramu juga baru saja di tangkap!" Donghae meluruskan perkataan si pria. Dia yang bertugas mengintrogasi pengacara para kanibalisme itu. "Kibum!" Donghae melemparkan sebuah recorder pada Kibum.

Kibum menangkapnya. Terlihat santai memutar rekaman di dalamnya.

Suara percakapan. Suara si pria itu tentang pengakuannya memakan manusia dan suara beberapa orang bawahannya. "Dari mana kau dapatkan itu?"

"Siapa bilang criminal lebih pintar dari polisi?" Kibum menyimpan kembali rekamannya. "Kau melakukan banyak kesalahan, karena kalian meninggalkan bangkai" Kibum mengambil beberapa foto di dalam map di dekat sisi tangannya. Foto foto beberapa mayat. "Katakan pada bawahanmu untuk makan dengan pelan dan tidak terburu buru"

Terdiam.

"Aku sudah mencurigaimu, tapi tidak ada bukti. Semua desas desus mengarah pada orang kaya yang menelpon pada jam setengah sepuluh malam pada hari Rabu, kau pikir ketika menangkap salah satu pembunuh berantai, aku takkan pernah mengaitkannya dengan kasus kanibalisme?" mentertawakan dengan gaya yang sangat remeh. Kibum menunjukkan dirinya sebagai seorang sosok polisi yang sedang menang. "Akulah yang mendapatkannya dan Sehun yang menangkapnya kemudian membuat laporan konyol penuh kelemahan agar aku bisa menendangnya"

"SIAL!"

BRUGHHH—

"BAGAIMANA BISA KAU MEMAKAN SATU PER SATU JARI SEORANG WANITA, BRENGSEK!" dan itu suara teriakan Hyuna dan pukulan kerasnnya. Heelsnya teracung pada wajah sang konglomerat, kemudian mengganti tendangannya dengan punggung kakinya, agar dia tak meninggalkan luka di wajah. Dia tak ingin di panggil sebagai seorang saksi di persidangan.

"Hei hei, singkirkan dia!" Kibum tak terlalu terkejut. Hyuna tokoh emansipasi wanita yang akan selalu kilaf jika berhubungan dengan kejahatan melibatkan wanita sebagai korban. "Suruh Sehun masuk!"

"Aku tak pernah memecatnya" Kibum berbicara, ia menengadahkan tangan dan Sehun membawakan sebuah alat penyadap yang di pasang dengan apik di beberapa bagian kantor polisi. "Aku hanya menyita kartu identitasnya agar ia terlihat seperti membelot. Kau kurang mengenali bawahanmu, kawan"

Sehun membungkuk dalam. "Misi selesai, Sir!"

Ika. Zordick

This Romeo is bleeding but you can't see his blood

Lagu itu kembali menggema, dengan irama sendu dan suara si vokalis yang terasa penuh kekuatan. Kibum suka, selalu menyukai lagu itu. Karena sekarang, ia sedang terluka.

Ia teringat Kyuhyun, memimpikan Kyuhyun dan hebatnya, dia memanggil semua nama bawahannya dengan nama Kyuhyun.

Yang benar saja, mana mungkin hal konyol seperti itu bisa terjadi.

"Kyuhyun, dimana berkas kasus yang baru?"—ternyata benar benar terjadi. Dia baru saja memanggil entah siapa dengan nama Kyuhyun. Seluruh bawahannya di dalam kantor polisi itu hanya menghela nafas. Kibum itu cinta, tapi dia gengsi. Dia tak bisa menerima dirinya yang seorang dewasa jatuh cinta dengan bocah SMP.

Dua bulan tak bertemu sejak pengusirannya oleh ayah Kyuhyun sukses membuatnya uring uringan. Sebentar sebentar Kyuhyun, bahkan ketika Hyuna menungging dan menunjukkan celana dalam yang berwarna polkadot, Kibum menampar wajahnya sendiri. Karena ia pikir itu celana dalam Kyuhyun.

"Kurasa kau tidak baik baik saja, Sir" Dasom terlihat cemas pada si atasan. Kibum itu memang tak lebih dari sekedar pengangguran dua bulan ini. Dia bahkan tak mendapat satu kasuspun karena masih masuk dalam deretan kasus mudah. Ditambah dengan tingkahnya yang suka merecoki bawahannya yang lain di kantor polisi ini, Kibum persis seperti atasan tua yang akan pensiun.

"Dia akan segera mati, jika tidak menemukan Kyuhyun" tawa gurih Donghae terdengar. Dia sedang mengintrogasi pelajar yang tawuran lagi. Sebentar lagi dia akan mendapat gelar 'si pemecah tawuran'. Hanya dia yang dapat bersikap manis untuk para bocah belum cukup umur dan menelpon satu per satu keluarga mereka serta memberi penjelasan.

"Aku butuh kasus" Kibum membela dirinya. Seluruh karyawannya terkekeh. "Berikan aku Kyuhyun!" dia salah ucap lagi. "Maksudku kasus!"

PLAAAK

Dan sebuah map menimpuk kepalanya dari belakang. Seluruh manusia di kantor polisi yang menjabat sebagai aparat di sana buru buru berdiri. Memberikan hormat seperti yang seharusnya pada Jendral yang dari tadi mengisyaratkan mereka agar Kibum tak menyadari keberadaannya. "Kalau kau benar benar ingin makan gaji buta jangan menganggu bawahanmu!" ini petuah yang normal sebagai bentuk basa basi. "Aku ada kasus untukmu" dan ini inti pembicaraan.

"Kau ingin menerimanya?"

Kibum bahkan belum membaca berkasnya dan Yunho—jendral berkarisma itu sudah bertanya tentang menerima atau tidak. "Kau anggota terbaik kami, aku tak punya pilihan lain selain menempatkanmu" Yunho mulai rengekan bersahajanya. Dia harus membuat Kibum bekerja. Misi ini sulit karena mereka mendapatkan permintaan yang sulit.

"Kau menyuruhku menjadi baby sitter?" sebelah alis Kibum terangkat. Dia tak suka dengan kasus semacam ini. "Suruh saja yang lain, aku divisi criminal tingkat atas, kenapa harus menjaga anak orang"

"Kibum, anaknya itu di incar oleh para mafia China, kau bahkan di perizinkan membunuh pada misi ini."

"Suruh saja para pengawal presiden, mereka ahli tentang melindungi orang. Aku menolak" Hyuna iseng mengambil berkas di tangan Kibum, membolak baliknya dan membaca dengan lebih teliti. Kibum masih kukuh menolak dan Yunho masih keras Kibum harus mengambil misi itu.

"Mana bisa menteri pertahanan memberikan misi itu pada pengawal presiden. Kau dengar, seseorang ini menyimpan bukti penyelewengan dana dan pembunuhan besar besaran oleh mafia Cina, dia harus memberikan bukti itu di persidangan dalam waktu sebulan ini, dan masalahnya adalah anaknya keluar masuk rumah sakit karena menjadi ancaman. Jika kita tak memberikan perlindungan, kau kira Negara kita akan jadi seperti apa? Ini perintah langsung presiden, kau tak menonton berita bahwa sekarang sedang sangat kacau?"

"Tidak" Kibum menjawab dengan santai. Sepertinya ia tak mendengar atau mempertimbangkan perkataan Yunho sedikit pun.

"Dia memiliki dua anak" Hyuna menyeletuk.

"Serahkan kasus itu pada Hyuna, perempuan pintar menjaga anak" Kibum mulai rasis.

Yunho menatap tajam bawahannya yang benar benar kurang ajar itu. "Nama mereka Cho Taehyung dan Cho Kyuhyun"

Hening—

"Disini tertulis, anak perempuannya, Cho Kyuhyun di rawat di rumah sakit karena bom yang meledak di apartemennya" Hyuna membaca dengan sangat keras.

Kibum merebut isi map itu. Membuka dengan panik lembar demi lembar dan menemukan foto kedua bocah adik beradik yang dikenalnya di sana. "Bagaimana bisa?"

"Ayah mereka menjalankan bisnis pertanahan di daerah Cina dan tanpa sengaja berurusan dengan mafia di sana. Ia pria hebat yang memberikan keuntungan bilateral antara Cina dan Korea" Yunho pikir Kibum butuh di berikan masukan sedikit tentang klien mereka yang sangat di hormati Negara.

"Pukulannya juga sakit" Donghae menyelutuk dari mejanya. "Kau terima saja, kurasa anak anaknya sangat membutuhkan orang hebat untuk melindungi mereka"

"KAU BENAR!" Yunho mulai excited.

"Aku terima, aku yang akan memimpin misi ini" Kibum berbicara akhirnya. Pikirannya berkecamuk dan berakhir dengan satu nama. "Kyuhyun" suara nafasnya tercekat. "Apa dia baik baik saja?"

TBC

Kibum sudah memberi clue penjahatnya sebenarnya dan Sehun juga memberi clue juga. Hanya saja pembaca sepertinya focus pada pemanis "pengemis yang di tolong Kyuhyun". Hahahaha xD

Oke ^^ mohon reviewnya.