Chapter 1 : Godaan Rayuan Pagi

365

Cast:

Lu Han, Se Hun

Baekhyun, Kyungsoo

EXO Members

Romance, a little bit Humor and Drama

This is Genderswitch.

.

.

Seoul, Now.

Dalam diam, mata cokelatnya memperhatikan semua gerakan yang dihasilkan gadis itu. Sejak awal ia membuka matanya dan duduk dalam keadaan jiwa yang masih berterbangan entah dimana itu, ia berusaha memfokuskan dirinya untuk menikmati bagaimana gadis cantik yang mungil itu keluar dari pintu yang ada di sudut kamar mereka. Melangkah dengan anggun di atas kaki kecilnya menuju meja rias sederhana sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Ia sedikit memutar badannya untuk bisa memperhatikan bagaimana cara gadis itu duduk dengan cantiknya di hadapan kaca besar itu, cara jemari mungil mulai menyisir helaian rambutnya, cara gadis itu membubuhkan sedikit make up untuk wajah manisnya.

Ia berusaha menangkap dan mengingat semuanya dengan baik bahkan sampai ke akar-akarnya. Bukan karena ia akan mati sebentar lagi, hanya saja ia sangat menyukai berbagai ekspresi yang ditampilnya gadis itu ketika melakukan sesuatu. Sangat menggemaskan dan terlalu sayang untuk dilewatkan.

"Oh, kau sudah bangun? Selamat pagi." Sapa gadis itu ketika ia dan Sehun saling beradu pandang melalui kaca rias. Sehun hanya tersenyum sambil mengusap matanya yang masih terasa berkabut akibat tidurnya. Ia juga sedikit merenggangkan tubuhnya sebelum akhirnya bangun menuju kamar mandi.

"Kau tahu," Luhan –gadis yang sejak tadi Sehun perhatikan itu duduk dengan tenang di depan meja riasnya, "Kau tampan kalau baru bangun tidur seperti itu." Tambahnya yang membuat Sehun menghentikan langkahnya menuju kamar mandi dan berbalik untuk memberikan sebuah ciuman ringan di pipi gadis itu.

"Au tau." (Aku tahu).

Luhan membiarkan Sehun yang kemudian berlalu menuju kamar mandi lagi untuk membersihkan dirinya. Gadis itu kemudian mengalihkan pandangannya pada tempat tidur mereka yang tampak berantakan namun tidak separah yang biasanya.

Luhan tersenyum mengingat bagaimana panasnya setiap percintaan mereka. Meskipun semua orang tahu kekurangan Sehun akan kemampuannya berbicara namun itu tidak mengurangi keperkasaan Sehun dalam membuat Luhan mengerang menuju kenikmatan.

Sehun itu pria kuat, tangguh di segala sisi.

Apalagi saat di ranjang, kekuatannya tidak perlu diragukan lagi. Mungkin itulah yang membuat Luhan bertekuk lutut memasrahkan dirinya di bawah kungkungan Sehun membiarkan pria itu menembus bagian terdalamnya dengan kuat dan tegas.

Tak sampai lima belas menit, Sehun sudah selesai dari ritual pagi harinya. Tetes air jatuh dengan genitnya dari helaian rambutnya yang sedang ia keringkan dengan handuk kecil. Sementara ia berjalan dengan santai dalam keadaan setengah telanjang, Luhan sudah mengerang putus asa mendapati kekasihnya berpenampilan demikian. Anggap saja setelah menjadi satu dengan pria itu sesuatu dalam diri Luhan mulai bangkit dan terus menunjukkan eksistensinya. Meskipun tidak lucu jika ia duluan yang menyerang Sehun namun siapa juga yang betah melihat kekasihmu berjalan santai dengan bagian dada terbuka dengan seksinya begitu?

Bukannya Sehun tidak mengerti apa yang terjadi pada si cantik yang tengah duduk di atas tempat tidur mereka. Ia tahu gadis itu sedang menatapnya sengit penuh gairah sejak ia keluar dari kamar mandi tadi hanya saja nafsunya untuk menggoda Luhan lebih besar dari apapun juga. Dengan sengaja ia mempraktikan semua gerakan sensual –yang ia pelajari dari model-modelnya selama ini sambil mengenakan pakaiannya dan mendapatkan geraman seksi dari arah belakang. Siapa lagi yang menggeram demikian kalau bukan kekasihnya?

"Sehun jangan menggodaku begitu." Suara Luhan terdengar menyedihkan di telinganya lantas membuat Sehun tersenyum puas. Dengan gerakan perlahan ia melepaskan lilitan putih di pinggangnya dan mendapati suara lengkingan Luhan dan satu bantal yang mendarat seksi di kepalanya.

"OH SEHUN SIALAN!"

Setelah acara godaan pagi Sehun yang benar-benar membuahkan hasil, dua sejoli itu sekarang tengah membenahi diri mereka masing-masing atau lebih tepatnya Luhan yang membenahi dirinya. Memutuskan untuk berdandan lagi setelah semua yang melekat pada bibirnya menjadi hilang akibat ulah Sehun yang dengan senang hati memberikannya ciuman. Jari lentik si cantik bergerak cepat memberikan riasan matanya agar terlihat segar dan sedikit mengecap lagi untuk memastikan lipsticknya sempurna semenara si tampan lagi-lagi hanya diam menyaksikan kasihnya berdandan disana.

"Aku akan pulang cepat. Benar-benar pulang cepat." Sehun melihat Luhan –gadis cantik itu bergerak ke arahnya. Gadis itu kemudian naik ke atas tempat tidur dan duduk tepat dipangkuan Sehun. Kedua tangannya mengalung apik di leher pria itu yang dibalas dengan rengkuhan hangat di pinggangnya.

"Sehun, aku akan pulang cepat nanti. Aku janji." Katanya lagi sambil memainkan rambut belakang Sehun. Sementara pria itu hanya diam memperhatikan dan menikmati perlakuan Luhan.

"Jangan lupa makan ok? Hubungi aku juga." Luhan mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka berdua bersentuhan. Ia menutup matanya merasakan permainan abstrak jari Sehun di pinggangnya.

"Seh-"

Ucapan Luhan terhenti begitu Sehun meraih bibir ranumnya ke dalam ciuman hangat. Tidak, Sehun tidak jengah dengan semua ucapan Luhan, hanya saja ia sedang kalah melawan hasratnya untuk tidak melahap bibir manis rusa cantik tersebut. Berkali-kali ia menciumnya maka rasa yang ia dapatkan akan semakin bertambah. Kenikmatan, kelembutan, cinta bahkan kasih sayang bercampur manis dalam ciuman hangat kala itu.

Luhan selalu suka bagaimana cara Sehun membuatnya diam. Ia selalu suka rasa penyatuan perasaan mereka melalui ciuman-ciuman yang Sehun berikan padanya yang tentu saja dengan sukacita akan Luhan balas. Ia merasakan pelukan Sehun di pinggangnya semakin mengerat begitu juga dengan pelukannya di leher pria itu.

Ok, seseorang harus menyadarkan kedua insan tersebut untuk segera berhenti sebelum matahari semakin genit mengintip mereka.

Atau sebelum kegaduhan lain tercipta.

Ting tong! Ting Tong! Ting Tong!

Sehun yang pertama memulai ciuman itu dan ia juga yang pertama kali menyelesaikannya. Perlahan ia membuka matanya dan melihat bagaimana mata rusa gadisnya perlahan terbuka menatapnya.

"Baekhyun menyebalkan bukan?" Sehun mendengus mendengar pernyataan Luhan. Gadis itu terlihat sedikit kesal dengan interupsi suara bel pagi itu. Siapa lagi yang akan dengan brutal menekan bel seperti itu jika bukan Byun Baekhyun.

Ting tong! Ting Tong!

"Aku akan bersiap sebelum Baekhyun menghancurkan pintu. Aku mencintaimu." Sebuah kecupan Luhan curi dari bibir pria yang masih memeluk dan dipeluknya itu sebelum ia beranjak untuk bersiap pergi.

Aku juga mencintaimu.

.

.

.

365 chapter one officialy end.

EEHEHEHEHE.

Ini benar-benar Cuma 933 kata loh haha *ya ampun yang kayak beginian dimasukkan kedalam chapter._. Seperti niat awal, aku memang mau membawakan cerita yang benar-benar ringan dengan konflik sederhana walau tokoh utamanya punya kekurangan seperti Sehun. Isi perchapternya bahkan bisa Cuma beberapa paragraph atau cerita panjang tergantung dari konflik yang ingin aku bawa.

Jadi maafin kalau kalian kurang berkenan yaaa.