Chapter 4 : Dibawah Lampu Jalan bag. 2
365
Cast:
Lu Han, Se Hun
Baekhyun, Kyungsoo
EXO Members
Romance, a little bit Humor and Drama
This is Genderswitch.
.
.
.
Kalau bisa sejak tadi ia sudah melarikan diri dari rumah dan bersembunyi di tempat Dongwoon, tapi apa daya. Semua akses menuju kebebasan sudah direngut oleh sang bunda –Yuri. Sudah sejak seminggu lalu wanita itu menyatakan pernyataan mutlak atas kepemilikan dirinya selama minggu ini. Alasan klasik, apalagi kalau bukan memintanya menjadi fotografer gratis untuk pemotretan model produk terbaru milik ibunya. Bukannya ia tidak mau membantu sang ibu hanya saja Sehun suka kesal sendiri dengan godaan yang sering ia dapatkan dari model-model yang ibunya sewa, mereka akan dengan terang-terangan mengeluarkan feromon penggoda kemudian setelah tahu kalau Sehun itu punya keunikan dari Dongwoon, mereka lantas menarik aroma godaan itu dan menebarkan aura materi yang ketara.
Berakhir dengan bermanis-manis pada sang ibu dan acuh padanya. Duh sudah banyak gadis genit yang berlaku demikian padanya walau Sehun sih cuek-cuek saja. Mereka juga tidak terlalu berhasil menggodanya sih sebenarnya.
"Eomma, apa har-"
"Harus Sehunie, ya tuhan berapa kali aku katakan ganti pakaianmu kau akan bertemu gadis cantik bukan ibu-ibu pedagang daging! Ganti bajumu astaga Tuhanku." Yuri mengurut kepalanya begitu melihat Sehun memasuki kamarnya. Hari itu Sehun sengaja hanya memakai kaos dan celana pendek selutut, masih untung selutut niat awalnya ia malah mau pakai celana olahraga dan kaos tanpa lengan tapi daripada model sewaan ibunya malah tergiur padanya ia lalu menganti pakaiannya.
"Ini su-dah rapkhi eomma." Sehun meyakinkan Yuri jika gaya berpakaiannya hari ini sudah yang terbaik, ayolah jangan suruh ia untuk berganti pakaian lagi menggunakan kemeja atau celana panjang jika tidak ingin ia meloncat dari kamarnya dan mengadakan akrobatik dari sana agar bisa keluar dari rumahnya.
Yuri berbalik menghadap meja riasnya lagi berusaha mencari apa saja yang bisa membuat putranya menjadi lebih baik walau setelah ia pikir ulang penampilan Sehun kala itu tidak buruk sama sekali. Memang darah pecinta fashion sudah mengalir kental dalam tubuh kedua putranya sehingga mereka mampu berpakaian dengan sangat baik. Hanya saja, bagi Yuri modelnya kali ini adalah seorang yang spesial, seorang aktris kesukaan negara dan sedikit banyak dalam hatinya Yuri menginginkan si model menaruh hati pada Sehun. Tapi kalau Sehun hanya berpenampilan seperti sekarang apa ia bisa menarik perhatian aktris itu?
Sebuah sisir menarik perhatiannya sehingga Yuri mengambilnya dan berjalan ke arah putranya yang sudah tiduran dengan kaki menjuntai ke lantai di atas tempat tidurnya. Anak bungsunya itu sedang asik bermain game dan tidak menyadari kedatangan Yuri.
"Sehunie," Panggilan Yuri membuat Sehun kembali ke alam nyata dan menghentikan permainannya. Ia kemudian melihat sang ibu yang sudah berdiri di dekat kakinya dengan tangan terjulur tanda ia harus bangun sekarang. Yuri memang tidak berkata apapun, setelah melihat Sehun duduk dengan tenang di tempat tidurnya ia kemudian mendekat dan mengarahkan tangannya untuk mengacak rambut Sehun, menyisirnya dan merapikan surai hitam tersebut dengan sayang.
Suasana haru tersebut datang tiba-tiba memasuki hati Yuri ketika jari cantiknya tenggelam dalam helaian rambut hitam Sehun. Sudah dua puluh tiga tahun sejak kelahiran Sehun ke dunia ini dan ini adalah pertama kalinya lagi ia menyisirkan rambut putra bungsunya tersebut. Sehun sudah tidak mengizinkan Yuri ikut campur urusan rambutnya sejak ia masuk sekolah menengah atas, setelah melihat Dongwoon yang dengan bebas mengatur rambutnya membuat Sehun juga ingin seperti sang kakak. Sementara Yuri uring-uringan saat itu berbeda dengan Hyunjeong yang malah tertawa puas melihat protes Sehun saat sang ibu mengacak rambutnya kala itu.
Sehunnya sekarang sudah besar, badan anak manja itu tumbuh dengan sangat baik bahkan ia menjadi manusia paling tinggi dirumah mengalahkan Dongwoon dan suaminya. Kulitnya yang benar-benar putih membuat Yuri merasa iri setengah mati pada Sehun. Badannya juga selalu terawat dengan baik, berat badan yang ideal membuat Yuri bangga pada diri sendiri melihat keberhasilan Sehun merawat diri. Lepas dari penampilannya, Sehun yang sekarang duduk di hadapannya adalah seorang pria manja berusia 23 tahun yang sedang asik-asiknya meniti karir sebagai arsitek muda dan fotografer. Sehunnya sekarang bukan lagi anak kecil manja yang senang mengganggu Dongwoon dan Hyunjeong saat ia butuh teman bermain, bukan putra kecilnya yang mengendap masuk ke kamarnya dan bermain dengan koleksi lipsticknya untuk menggambar di tembok dan kaca rias. Sehunnya sekarang adalah pria yang siap memasang badannya untuk melindungi siapapun yang ia sayangi dari bahaya, Sehun yang senang menggodanya, Sehun yang sering di goda banyak wanita.
Sehunnya, Oh Sehunnya sudah Dewasa sekarang.
Tanpa sadar Yuri menitikkan air matanya ketika semua kenangan masa kecil Sehun masuk ke dalam pikirannya. Ia kemudian memeluk Sehun yang terkejut mendapati sang ibu sudah menangis di pucuk kepalanya.
"Eomma, ada apkha?"
Yuri hanya diam tak berniat menjawab ucapan Sehun dan hanya mengeratkan pelukannya pada putranya tersebut. Kenangan itu sangat berharga dan semuanya berputar begitu saja membuatnya menangis seperti sekarang. Sudah banyak waktu yang berlalu dan ia masih merasa belum berhasil untuk membuat Sehun bahagia seutuhnya.
"Eomma, aku akan meng-gan-ti bajuku."
"Jangan menangis."
Yuri hanya tersenyum mendapati Sehun yang mulai panik terdengar dari nada suaranya. Sadar akan riasannya yang bisa saja rusak karena air mata, Yuri melepaskan pelukannya pada Sehun setelah sebelumnya menyeka air matanya terlebih dahulu.
"Kau sudah tampan. Jadilah pria tampan untukku hari ini, bisakan?" Senyum Yuri begitu manis sehingga membuat Sehun ikutan mengangguk patuh atas perintah sang ibu. Ia kemudian pergi ke kamarnya dan mengganti kaosnya dengan kemeja santai sementara Yuri sibuk membenahi riasannya.
Memang pada dasarnya Sehun ingin kabur dari rumah dan bermain sepeda maka setelah berganti pakaian ia kembali merengek pada sang ibu untuk mengizinkannya kabur hari ini dan bermain sepeda. Yuri tentu saja tidak mengizinkan itu semua terjadi, tidak sebelum Sehun bertemu dengan Luhan –tamunya hari ini. Maka dengan menguatkan hati dan imannya agar tidak goyah dengan semua rengekkan manja Sehun, Yuri menuruni tangga dan mengingatkan Sehun agar anak itu tidak merengek seperti sekarang.
Ayolah Luhan sudah dibawah, duduk dengan anggun tapi Sehun masih merengek seperti bayi membuatnya pusing.
"Berhenti merengek sayang. Malu pada umurmu." Ujar Yuri sembari menuruni tangga. Ia berjalan lebih cepat dari Sehun agar anak itu tidak bisa menarik bajunya manja.
"Eommaaaaa~ Ayolah."
"Diamlah- Oh kalian sudah datang." Sapa Yuri saat ia melihat Luhan dan Baekhyun sudah berdiri dari duduk mereka. Ia kemudian menyalami kedua tamunya membuat Sehun terdiam di belakangnya. Ibunya memang menyebalkan. Ia tidak bilang jika modelnya hari itu adalah Luhan, aktris kesukaannya dan Dongwoon. Mereka bahkan akan bertengkar siapa yang lebih pantas menjadi kekasih Luhan jika sudah melihat gadis itu di layar televisi.
"Maafkan aku agak terlambat menemui kalian." Yuri tersenyum bersalah dan segera mendapat penolakan dari Luhan juga Baekhyun. Kedua gadis itu malah mengatakan tidak ada masalah jika saja Yuri terlambat menemui mereka dengan alasan Luhan sama sekali tidak mempunyai jadwal apapun hari ini. Setelah melemparkan senyum terima kasih kepada kedua tamunya, Yuri beralih melihat putra bungsunya yang masih berdiri diam di ujung sofa.
"Sehun mau duduk di sebelah ibu atau-" ucapannya Yuri terhenti begitu ia melihat Sehun mendekat ke arahnya dan membisikkan sesuatu.
"Aku akan menjadi tampan untuk Luhan." Bisik Sehun pada Yuri yang lantas membuat wanita itu tersenyum. Ia bukannya tidak tahu jika kedua putra kerajaannya begitu menyukai Luhan bahkan diam-diam ia sering mendengar obrolan malam Dongwoon dan Sehun perihal kecantikan Luhan saat mereka sama-sama melihat foto Luhan dari majalah. Yuri lalu mengangguk menyetujui ide Sehun dan membiarkan putranya kembali ke kamar untuk bersiap. Yah semoga saja ia benar-benar menjadi tampan.
Meninggalkan sang ibu dengan Luhan yang cantik dan managernya di ruang tamu, Sehun berjalan cepat sembari menggerutu tentang kebodohannya hari ini. Kalau tadi Sehun kesal karena ditahan sang ibu tidak bisa pergi keluar, sekarang Sehun sebal sendiri kenapa tidak patuh pada Yuri untuk menjadi pria tampan. Kalau begini rasanya ia ingin mengurung diri di kamar, bersembunyi di balik selimut –malu.
Eomma menyebalkan! Kenapa tidak bilang kalau tamunya Luhan sih?! Aku kan terlihat konyol kalau begini ish.
Brak!
Selesai menutup pintu kamar dengan nafas terburu, Sehun kemudian langsung berlari menuju lemari pakaiannya dan membongkar semua isinya untuk mencari pakaian yang pantas di hadapan Luhan. Ia harus tampan benar-benar tampan kalau bisa sampai Luhan mimisan melihatnya tapi setelah sepuluh menit membongkar isi lemari, tidak ada satu pakaianpun yang menurut Sehun pantas di matanya. Padahal ia merupakan tipe orang yang senang menyimpan pakaian dengan berbagai macam warna dan bahan serta model tapi mengapa hari ini semua tampak sama? Sehun jadi kesal sendiri setelah melihat dirinya dari pantulan cermin menyadari bahwa ia tampak seperti anak sekolahan ketimbang remaja 20tahunan.
Membaringkan dirinya diatas tempat tidur lemas, Sehun memejamkan matanya memutar otaknya bagaimana agar ia bisa tampil sempurna demi Luhan. Tapi setelah sekian lama berpikir yang muncul malah rasa takut jika gadis itu akan menolaknya seperti yang sudah-sudah, selepas menebar pesona lalu menariknya lagi. Sehun kemudian mengambil ponselnya yang terselip di saku celana dan menghubungi seseorang yang paling bisa ia andalkan.
Dongwoo, sang kakak.
"Ada apa? Tumben sekali menelponku." Seru Dongwoon tanpa ada salam pembuka ataupun Halo setelah dua kali nada tunggu terdengar. Sehun hanya mendengus mendengar ocehan kakaknya yang demikian. Sudah biasa, mereka memang jarang bertukar sapaan jika di telepon, langsung saja pada intinya.
"Luhan di rumah."
"Luhan memang di- APA?! LUHAN DIRUMAH KAU BILANG?!" Sehun menjauhkan ponselnya dari telinga begitu Dongwoon berteriak heboh.
"Aku bisa tuli."
"Ulangi sekali lagi jika kau tidak berbohong kalau Luhan rusa cantik nan seksi itu ada dirumah kita." Sehun memutar matanya malas mendengar permintaan aneh Dongwoon. Tentu saja ia masih sayang telinga dan hidupnya untuk berbohong pada Dongwoon perihal kedatangan Luhan.
"Aku bersumpah."
"Demi?"
"Ketampananku."
"Aku juga tampan."
"ABS ku."
"Punyaku lebih indah. Appa saja iri padaku." Sehun membuat raut ingin muntah mendengar ucapan Dongwoon. Kalau pria itu tidak punya ABS yang bagus, pecat saja dari dunia taekwondo.
"Kulitku kalau begitu."
Dongwoon mendengus kasar bahkan Sehun bisa mendengarnya dengan jelas, "Baiklah anak setan. Kau putih dan menang. Lalu apa hal pentingnya?"
Sehun meneguk ludahnya kasar. Ia juga bingung bagian mana pentingnya kedatangan Luhan kerumah dengan telponnya sekarang, namun setelah secara tak sengaja matanya menangkap bayangan wajahnya di cermin, Sehun jadi ingat tujuan awalnya menghubungi Dongwoon.
"Aku malu."
Dongwoon hanya diam mendengar ucapan adiknya barusan. Ia bukannya tidak memahami apa arti kata 'malu' yang baru saja Sehun katakan. Walau sering beradu mulut memperebutkan siapa yang pantas menjadi pasangan tidur sehidup semati Luhan, Dongwoon tahu jika adiknya benar-benar jatuh cinta dalam pesona Luhan yang sesungguhnya. Ia tentu saja tidak ingin memberikan kesan buruk kepada seseorang yang disukainya dan itulah yang Sehun rasakan. Adik laki-lakinya menyukai Luhan dalam arti yang sebenarnya dan Sehun tidak ingin mempermalukan diri sendiri di hadapan gadis itu.
"Sehun,"
"Aku.. tidak tahu harus ber-pakai-an sep-erti apa hyung."
"Jadi dirimu sendiri. Buatlah aku bangga dengan menaklukan Luhan melalui pesona alami dirimu sendiri."
"Kalau Luhan.. ji-jik?"
"Itu artinya ia memang seorang aktris yang berhasil. Lakukan saja, jadi dirimu sendiri. Aku tutup ya, aku ingin dengar berita baik saat pulang nanti." Panggilan siang itu terputus dengan senyum bahagia Sehun diiringi dengan matanya yang berkabut akibat air mata. Mudah saja, ia terharu dengan ucapan Dongwoon.
.
.
.
"Aku benar-benar gug-gup hyung! Dia-dia-dia maniiis sekali." Senyum Sehun mengembang begitu ia menceritakan apa saja yang terjadi tadi siang saat pemotretan. Tiga jam bersama Luhan menahan rasa gugupnya mati-matian, Sehun berhasil melewatinya dengan sempurna bahkan ia bisa melihat bagaimana Luhan melempar pandangan ke arahnya. Bolehkan Sehun berharap pandangan itu berarti baik?
"Itu baru adikku!" Dongwoon menarik leher Sehun, memeluknya erat sembari mengusak rambutnya semangat.
"Lalu apa lagi yang kalian lakukan?" tanya Dongwoon penasaran. Ia benar-benar senang melihat Sehun yang sejak tadi tersenyum bahagia, binar itu tidak redup bahkan sampai malam tiba.
"Kami tidak banyak bicara."
"Lalu?"
"Dia tersenyum manis."
"Hanya itu? Kau tidak memegang tangannya atau meminta kontaknya begitu?" Dongwoon lantas memukul kepala Sehun begitu pria itu menggeleng polos.
"Dasar bodoh! Seharusnya kau meminta kontaknya. Siapa tahu kau bisa mengajaknya berkencan."
"Ber- apa?!" Sehun tidak percaya dengan mulut kakaknya yang suka sembarangan bicara. Berkencan dari mana? Cukup tidak mendapat pandangan jijik saja ia sudah sangat bersyukur sampai kelangit. Apa ia harus meminta angin surga juga dengan mengajak Luhan berkencan?! Dongwoon memang pria gila.
"Ish kau ini. Kalau kau terus begini kudoakan Luhan cepat hamil anak duda kaya yang tua." Oceh Dongwoon sembari membaringkan dirinya di atas tempat tidur Sehun sambil memainkan ponselnya dengan senyum-senyum tak jelas –maklum sedang bertukar pesan dengan gadis pujaanya, Eunhae.
"Hyung! Jangan menyebalkan!" Sehun memukulkan gulingnya ke arah wajah Dongwoon yang lantas membuat Dongwoon tertawa. Ia benar-benar puas menertawai Sehun yang sekarang sedang asik memukulinya dengan guling dan bahkan beberapa boneka kecil berbentuk boneka berwajah datar berwarna cokelat muda ke arahnya. Setelah melihat Sehun yang masih terengah-engah karena sibuk melemparinya dengan benda-benda dari tempat tidurnya, Dongwoon kemudian berbalik untuk menyerang Sehun. Ia menarik leher Sehun dan mulai membuat adik laki-lakinya tersebut terkurung dengan lengannya sementara tangannya yang satu lagi sibuk menggelitiki pinggang Sehun. Sementara mereka berdua sibuk saling menyerang dan membalas satu sama lain, Yuri beserta Hyungjeong sudah berdiri di depan pintu kamar Sehun yang terbuka tanpa kedua manusia itu sadari.
"Kau harus menghentikan mereka sebelum putramu mengadu." Yuri menekankan kata Putramu pada Hyunjeong menandakan jika suaminya tersebut harus melerai kegiatan putra mereka sebelum si bungsu mengadu. Hyunjeong hanya tersenyum mendengar ucapan Yuri lantas berjalan ke arah tempat tidur untuk memisahkan Dongwoon dan Sehun. Dulu sekitar 15 tahun lalu ketika Dongwoon masih 10 tahun dan Sehun 8 tahun, wajah keduanya akan memerah karena menangis dan emosi belum lagi pipi keduanya akan membekas air mata yang sudah hampir mengering juga keringat yang banjir di pelipis juga rambut keduanya namun sekarang yang Hyunjeong dapatkan adalah kedua jagoannya yang memerah sibuk mengatur nafas karena kelelahan bercanda.
Times changes everything.
"Sehunnie, eomma minta tolong satu hal lagi ya." Sehun memutar matanya malas mendengar ucapan ibunya. Permintaan sang bunda kalau bukan tentang pemotretan pasti tentang ia yang menjadi modelnya. Sehun bisa apa? Menolak dengan ancaman sepedanya hilang roda? Tidaklah! Sehun masih sayang sepedanya yang ia beli mati-matian dengan uang gaji pertamanya sebagai arsitek.
"Ini undangan peluncuran produk yang tadi dibintangi Luhan. Tolong datang dengan tampan ya."
Jangan tanya bagaimana Sehun setelah ia membaca undangan tersebut kalau bukan berteriak girang setengah mati bahkan ia tak segan mencium pipi Dongwoon dan Hyunjeong meski berakhir dengan pukulan di punggungnya karena Dongwoon yang geli.
Pesta itu begitu menyenangkan apalagi untuk Sehun. Matanya sejak tadi tidak berhenti memandangi Luhan yang datang dengan sangat cantik dan manis hari itu. Sebuah gaun berwarna hijau emerald tanpa lengan membuat Sehun nyaris mati karena terpesona. Bentuk tubuh si cantik yang menggoda terlihat begitu sempurna, rambut hitam kecoklatannya yang biarkan tergerai menutupi punggung si rusa yang terbuka seksi sedangkan sebagai heels berwarna senada mengangkat derajatnya sebagai wanita. Sehun bersumpah akan membawa Luhan ke dalam kamarnya kalau saja pesta ini diadakan di rumahnya.
Luhan terus melemparkan senyum manisnya untuk semua tamu yang datang pada acara tersebut. Sedikit bercengkrama dengan mereka membuatnya lupa akan kehadiran Sehun yang tiba-tiba sudah ada di depannya. Luhan terlihat sedikit terkejut namun ia masih bisa menyembunyikannya dengan sempurna.
"Hai Sehun."
Ya tuhan suaranya lembut sekali.
Sekuat tenaga Sehun untuk tidak mimisan di tempat atau pusing karena gugup. Berbekal pelajarannya dengan Dongwoon selama dua hari kemarin, Sehun melemparkan senyumannya untuk Luhan begitu gadis itu selesai menyapanya. Seorang pelayan berjalan melewati mereka membuat Sehun meletakan gelas minumannya pada nampan dan mendekati Luhan dengan yakin. Ia kemudian memberanikan dirinya untuk memeluk pinggang Luhan yang kemudian menariknya mendekat, sengaja ia mendekatkan wajah dan kepalanya ke arah telinga dan leher si cantik, menghembuskan nafasnya perlahan untuk menebarkan pesona sementara dengan sempurnanya ia memuji Luhan,
"Kau cantik."
Setelah itu jangan tanya mengapa Yuri dan Hyunjeong terus menerus melemparkan senyum bahagia mereka begitu pasangan itu mendapati putra bungsunya tengah membiarkan seorang gadis memeluk mesra lehernya sementara tubuh si cantik sudah nyaman dalam pelukan si bungsu.
Hari terus berganti waktu terus berlalu, hubungan Sehun dengan Luhan pun semakin membaik dari hari ke hari. Namun pagi ini keluarga OH harus menerima keadaan dimana pangeran kecil mereka sedang dalam mode 'merajuk' sejak tadi. Semua perlengkapan sudah siap namun apa daya jika mata tak sanggup terbuka yang ada ia melewatkan kesempatan untuk mengantarkan Luhan ke bandara. Ok, bersiaplah ia harus menahan rindu untuk tidak bertemu si cantik selama tiga hari karena Luhan tengah menghadiri pekerjaan di Paris.
"Jangan tekuk wajahmu atau telur itu akan berubah menjadi ayam lagi." Yuri mulai mengomeli Sehun yang sejak tadi hanya duduk sambil cemberut memandangi sarapannya.
"Mengapa eomma ti-dak membangun-kanku!" Rajuk Sehun sambil menenggalamkan wajahnya di atas lipatan tangannya di meja.
"Kalau dengan membangunkanmu bisa menghasilkan anak, aku sudah punya satu tim sepak bola kalau begitu." Yuri memang suka menggoda Sehun yang tengah merajuk, bukan malah membujuknya seperti kebanyakan orang. Melihat Sehun yang semakin kesal akan membuat Yuri mendapatkan lagi Sehun kecilnya yang manja dan itu menyenangkan. Sementara itu Hyunjeong dan Dongwoon baru saja tiba dari halaman belakang dan bersiap untuk ikut sarapan bersama. Kalau Hyungjeong merasa heran dengan apa yang terjadi pada putra bungsunya beda halnya dengan Dongwoo yang sudah fasih akan keadaan Sehun. Sedikit merasa bersalah sih karena membuat adiknya tersebut harus bergadang semalaman sehingga membuatnya kesiangan pagi ini namun apa daya, toh semalam Sehun juga begitu semangat bermain game bersama.
"Kalau kau bertanya padaku ada apa dengan pangeran muda kita, yang bisa kukatakan hanya ia sedang kehilangan waktu berburu rusa." Hyungjeong tidak bisa untuk tidak tersenyum lebar begitu mendengar Yuri menjawab keheranannya atas tingkah Sehun pagi ini. Hyungjeong malah berusaha tidak tertawa melihat wajah Sehun yang bertambah kesal sementara Yuri dengan santai menyantap sarapannya tanpa peduli tatapan sebal si bungsu.
Merasa bersalah dengan keadaan Sehun, Dongwoon tiba-tiba saja mendapatkan sebuah ide yang mugkin akan membuat Sehun sedikit membaik. Dengan cepat ia berlari ke kamar sang adik dan mengambil benda yang menjadi akar idenya hari ini. Setelah dapat ia langsung meluncur menuju meja makan menghiraukan tatapan heran ayah dan ibunya.
"Ini," Dongwoon menyodorkan ponsel Sehun ke hadapannya membuat si empunya ponsel mengernyit heran.
"Apa?"
"Gunakan otakmu dan jadilah pengguna smartphone yang cerdas." Setelahnya ia menyerahkan ponsel itu ke tangan Sehun yang sedang berpikir namun kemudian wajah pangeran muda OH tersebut langsung berseri. Dengan cepat ia mengerti maksud sang kakak dan melaksanankannya dengan baik.
To : LHN
Selamat pagi Xiao Ru! Maaf aku tidak bisa mengantarkanmu ke bandara ya. Aku bangun kesiangan karena begadang melawan Dongwoon hyung semalam. Hati-hati, cepat pulang lalu kita bermain lagi.
.
.
"Aku senang kau datang." Sehun tidak membalas perkataan Luhan dengan suara namun membalasnya dengan satu senyuman serta anggukan ringan yang serta merta diterima Luhan dengan wajah sumringahnya. Tangan kanan si cantik kemudian beralih mengambil satu cup kopi yang Sehun arahkan kepadanya dan tak lupa berterima kasih atasnya. Jangan dikira Sehun tidak bahagia melihat si cantik yang sekarang tengah meminum kopinya dengan tenang. Menunggu sampai pegal demi menyambut kedatangan Luhan sudah terbayar dengan sempurna. Ditinggal tiga hari oleh Luhan membuat Sehun semakin terpesona dengan aktris itu. Kalau ia mau, bisa saja sekarang tangannya sudah bertengger dengan manis di pinggang si canti namun ia masih sadar diri akan siapa dirinya dan apa status mereka berdua. Sejak semalam demi menjemput Luhan di bandara, Sehun sudah mempersiapkan semuanya untuk hari ini, sengaja tidak bermain game bersama Dongwoon, mencuci mobilnya –padahal mobilnya selalu bersih karena ia malas memakainya, menyetel alarm agar tidak kesiangan, bahkan saking gugupnya Sehun sampai mandi dua kali karena takut dia bau.
Tidak ada tangan yang bertaut mesra hanya ada Sehun berjalan di depan dengan Luhan yang menjadi ekornya. Mereka berjalan santai menuju mobil Sehun yang sudah terparkir sempurna di tempatnya dan menunggu Baekhyun yang bertambah masam saja wajahnya. Sehun berusaha untuk tetap tenang takut Luhan mendengar detak jantungnya yang tidak karuan hanya karena melihat Luhan terkekeh melihat Baekhyun tanpa berniat membantu manajer sekaligus sahabatnya tersebut.
"Dasar rusa centil menyebalkan. Kau menculik Leonardo DI Caprio ya dalam kopermu! Berat sekali tahu!" Baekhyun menyemburkan emosinya dalam satu ocehan panjang tanpa jeda yang lantas membuat Luhan dan Sehun sama-sama tersenyum puas. Meninggalkan Luhan yang asik tertawa diatas penderitaan Baekhyun, Sehun mendekati gadis itu dan membantunya memasukkan bawaan mereka.
"Terima kasih Sehun. Kalau aku boleh memberikan saran jauhi saja rusa kecentilan di sana itu ya. Kau akan kerepotan setengah mati kalau hidup dengannya." Gerutu Baekhyun lagi yang hanya di balas senyuman oleh Sehun.
Aku tidak akan kerepotan kok Baek, sungguh.
"Tentu saja. Benarkan Hun?" Sehun yang baru saja masuk ke dalam mobil hanya mengerut tidak mengerti dengan apa yang baru saja di debatkan oleh Luhan dan Baekhyun. Semenjak mengenal mereka berdua –atau Luhan lebih tepatnya, hari-hari Sehun tidak pernah sepi dari ejekan dan perang mulut dua gadis beda usia tersebut. Sedikit banyak ia bersyukur dengan keadaan yang ia alami sekarang setidaknya harinya lebih memiliki warna dari sekedar bertemu dengan teman-teman orang tua dan kakaknya saja.
"Mengangguk saja Hun." Pinta Luhan setelah mendapati Sehun yang diam saja.
"Jangan Hun kau akan masuk neraka kalau berbohong." Sambung baekhyun tidak mau kalah.
"Jangan pengaruhi Sehun!" rajuk Luhan yang kemudian berbalik memunggungi Baekhyun.
"Kau lihat sendiri kan Hun bagaimana menyebalkannya gadis itu? Ya Tuhan kumohon lindungi Sehun dari siluman rusa yang mengincar keperjakaannya."
Bugh!
"Byun Baek memang Setan!" Luhan melemparkan tas tangannya ke arah Baekhyun yang dengan mudah di hindari oleh gadis itu. Sementara Baekhyun ia sudah tertawa sampai sakit perut melihat ulah Luhan.
.
.
Bercermin dua kali, menarik nafas dan kembali bercermin lagi, bernafas lalu bercermin lagi. Sejak tadi hanya itu yang Sehun lakukan demi penampilan sempurnanya malam ini. Ia sudah bertekad untuk menyatakan perasaannya pada Luhan karena takut ancaman Dongwoon menjadi kenyataan –doa Dongwoon agar Luhan hamil duda anak dua yang tua. Sebenarnya lebih dari semua itu, Sehun sendiri tidak bisa mengambarkan alasan mengapa ia ingin menyatakan perasaanya pada Luhan dan menjadikan gadis itu kekasihnya. Mungkin alasan klasik yang selalu ayahnya katakan jika sedang menggoda ibunya –Sehun mencintai Luhan, kalau bukan karena cinta kasih lalu hal apalagi?
Sebenarnya hari ini tidak sepenuhnya sempurna bagi Sehun. Pagi hari yang biasa namun berganti menjadi kesialan saat ayahnya dengan seenak hidupnya memakai mobilnya dan belum kembali sampai sore tadi sementara ia sudah harus mengambil cincin pesanannya untuk Luhan. Berniat meminjam mobil sang ibu yang ada malah ia disuruh untuk mengantarkan sekaligus menemani Sang ratu berbelanja dan kopi darat bersama beberapa kenalannya. Saat meminta tolong Dongwoon, kakak lak-lakinya yang sialan itu malah tertawa terbahak-bahak dan melancarkan doa-doa sialannya untuk Sehun semakin membuat Sehun kesal setengah mati. Hingga pada akhirnya saat sudah kembali dari menemani ibunya kopi darat ia segera kabur memakai mobil sang ibu menghiraukan teriakan Yuri di belakangnya.
Hasil ulahnya, saat Hyungjeong kembali kunci mobil Sehun ditahan Yuri dan baru akan dikembalikan pada waktu yang ditentukan, sementara Dongwoon dengan santainya mengatakan ia akan menginap dirumah kekasihnya.
Dasar keluarga setan! Umpat Sehun saat ia menyaksikan Yuri menyita kunci mobilnya.
Setelah pertimbangan yang matang, Sehun memutuskan memakai sepadanya untuk bisa pergi ke lokasi syuting Luhan. Masa bodo deh ia beku karena kedinginan atau terpeleset nanti yang penting ia bisa sampai di tempat Luhan dengan selamat. Penuh perjuangan dan keringat sampai-sampai Sehun berdoa agar ia tidak bau keringat, Sehun akhirnya sampai di lokasi syuting Luhan. Hari sudah benar-benar gelap hingga Sehun memilih menunggu Luhan di bawah lampu jalan yang cukup terang.
Itung-itung juga membawa hawa romantis.
Setelah sepuluh menit menunggu Luhan yang sebelumnya sempat Sehun kabari melalui pesan singkat, akhirnya gadis idaman Sehun itu muncul juga. Ia menggunakan jaket yang kebesaran ditubuhnya namun karena cinta itu membutakannya maka di mata Sehun luhan tetaplah memukau. Gadis itu berlari menyebrang jalan dan sempat terpeleset saat sampai di hadapannya.
"Ahti-Hati Ru." (Hati-Hati Ru)
"Ada apa?"
Luhan tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya melainkan kedua telapak tangannya yang mendapatkan kehangatan karena Sehun memasukkan keduanya ke dalam saku jaketnya.
"Sehun, ada apa?" tanya Luhan lagi dan masih belum mendapatkan jawaban apapun selain Sehun yang melemparkan senyum paling tampan bagi Luhan. Sehun ikut memasukkan tangannya ke dalam saku jaket demi menggenggam tangan Luhan juka mengambil cincin pesanannya. Setelah itu ia segera menarik keluar tangan Luhan bersamaan dengan cincin tersebut.
Hari memang sudah malam dan mereka memang hanya berdiri di bawah cahaya lampu jalan yang bahkan terangnya tidak sampai seberapa jauh, Sehun membuka kotak kecil tersebut dan menampilkan sebuah cincin dengan riasan kepala rusa kecil yang benar-benar cantik. Dengan tenang Sehun melemparkan senyumnya untuk Luhan dan menyatakan semuanya,
"Ru, jadkhilah hekasihku." (Ru, Jadilah kekasihku).
Oh, jangan tanyakan bagaimana gugupnya Sehun saat memakaikan cincin itu di jermari Luhan, berharap gadis itu tidak menamparnya atau memakinya saat itu juga karena lancang menyatakan cinta padanya. Sehun nyaris menangis saat mendapati Luhan memeluknya erat dan menerima perasaannya untuk menjadi kekasihnya. Melonggarkan pelukan Luhan pada dirinya, ia kemudian membawa gadis itu ke dalam ciuman panjang penuh cinta pada gadis itu. Ia memang tidak bisa mengatakan banyak kalimat romantis ketika menyatakan perasaannya pada Luhan maka ia menyalurkan semua perasaan yang ia punya untuk gadis itu dalam ciumannya.
.
.
.
365 chapter 4 officialy end.
Cie haloooo!
Ini dari sudut pandang Sehun niiih~ udah panjang kan? Hehe
Lebih banyak narasi ketimbang kalimat percakapan ya? Soalnya kan sehun pribadi yang malu-malu gitu disini kan, banyak bertindak ketimbang berbicara. Jadi imbang nah sama pribadi Luhan yang aktif dan ganas hehe.
Review Replay – Chapter 4 kkk
Chenma : Adain gak yaaaak kkkk~ Ada kok doain aja yak gak panas dingin pas bikin (kebiasaan baca ketimbang bikin hehe)
Ruixi1 : Mereka sweet kan hoho, makasih ya reviewnya cantik
Guest 1 : kamu juga imut kok
Kimhyunie: gapapa kan sayang sehunnya ganti karakter dulu hehe. Sekali kali kita liat sehun mode lain yak hoho
Rikha-chan : Sehun romantisnya kalau udah di ranjang HAHAHA
Whoami: ini gak digantung kok maapin yak
Selenia Oh : makasih yak dukungan dan semangatnya yeyeye
Sehunluhan 0494 : sudah dilanjutkan ya sayangku
Rly: Semoga kamu juga cepet dilamar ya (entah sama siapa dah kkk)
Sanmayy88 : enggak kok cantik, ini masih lanjut Cuma memang disetiap akhir chapter aku kasih official end untuk chapter itu aja gitu hehe
Juna Oh : Jangan jahaaaaaat : ((((((( ini udah dilanjutin kaaan hoho.
BunnyJoon : siap sayang tunggu aja nikahan hunhan yaaa
Deerbee : belom tamat koook hehe. Sengaja di setiap akhir chapter aku kasih officialy end untuk chapter itu aja. Gak gantung kok –kan gak enak digantungin *malah curhat astaga lord T_T
Lottus : enggak kok ringan aja yak. Lagi nyari momen asik buat ena ena nih hehe
Sehunnie 94 : ok cantik dilanjut cus
Luhan1220 : siap cantik dilanjut ini cus
Ohxiselu : makasiiiih (tebar kecup kecup) ini sudah panjang belom? Udahkan yak hehe. Siap cantik ntar kita intip bareng ena ena mereka yak
Milkyhun : siap cantik cus dilanjut
