Chapter 6 : Cemburu Menguras Hati

365

Cast:

Lu Han, Se Hun

Baekhyun, Kyungsoo

EXO Members

Romance, a little bit Humor and Drama

This is Genderswitch.

.

.

.

Piip!

Cklek!

"Hun?"

Itulah kata pertama yang akan selalu terdengar dari mulut Luhan ketika ia masuk ke dalam apartemennya. Ia akan selalu memanggil Sehun tidak peduli apa yang sedang pria itu lakukan karena yang ia butuhkan hanya suara sang pria untuk memastikan jika kekasihnya yang sialan tampan itu tidak nakal selama ia pergi. Sebenarnya bukan tanpa alasan sih Luhan berlaku demikian, pasalnya ia masih terbayang-bayang kejadian beberapa bulan lalu yang membuatnya dan Sehun bertengkar karena pria itu tidak ada ketika Luhan pulang tapi malah pergi dengan seorang wanita.

Pada dasarnya Luhan memang bukan gadis posesif hanya saja yang menjadi biang pertengkarannya dengan Sehun waktu itu adalah lawannya sebagai aktris muda siapa lagi kalau bukan Huang Zi Tao. Aktris muda berkebangsaan China yang sedang menjadi buah bibir di mana-mana itu memang terkenal dengan kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Alasan lainnya adalah Zizi begitu aktris itu dipanggil bukan sekedar aktris muda dan model biasa sepertinya melainkan seorang model muda yang berani. Film-film yang dibintanginya juga bukan film bercerita kisah cinta biasa dengan ciuman biasa tapi ada sedikit adegan dewasa di dalamnya. Pokoknya Zizi menang satu kelas lebih tinggi di banding dirinya.

Jadi wajarkan kalau Luhan harus memberikan penjagaan ekstra kepada Sehun?

"Sehun?" Panggil Luhan kedua kalinya setelah tidak mendapat jawaban apapun dari panggilan pertamanya. Ia mengurungkan niatnya untuk duduk sebentar di sofa tapi langsung melenggang masuk mengecek dapur dan hasilnya nihil. Gadis itu kemudian memeriksa balkon apartemen mereka dan mendapatkan hasil yang sama. Kamar kerja Sehun juga nihil maka tinggal satu ruangan lagi yang belum ia periksa. Dengan penuh doa dan harap Sehun ada di dalam kamar mereka, Luhan membuka pintu kamar dan mendapati tempat tidur yang kosong bahkan masih rapi seperti tadi pagi ia tinggalkan. Secepat kilat Luhan melangkah ke kamar mandi dan menuai hasil yang sama.

Sialan! Kemana lagi kau Oh Sehun?!

Membuka tasnya kasar, Luhan membongkar isi di dalamnya demi mendapatkan ponselnya yang ternyata kehabisan daya. Matilah! Entah bagaimana caranya ia bisa menemukan Sehun jika begini caranya? Ponselnya mati total dan butuh waktu paling tidak sekitar satu sampai dua menit agar bisa digunakan untuk menelpon tanpa menggunakan charger sementara Luhan butuh sekarang juga.

Tanpa sadar Luhan menangis panik sambil memanggil Sehun berharap pria itu sedang bermain hide and seek dengannya.

"Sehun.. hiks.. kau dimana? Jangan ber-hiks-canda.." Luhan tidak duduk diam seperti gadis yang baru putus cinta menangisi nasib, ia tetap berkeliling kamarnya, melihat kebawah tempat tidur, membuka lemari bahkan usaha pengecekan paling bodoh yakni di belakang pintu kamar pun Luhan lakukan demi menemukan Sehun –sembari menangis tentu saja.

Selimut yang semula rapi juga sudah berserakan tak beraturan karena ulah Luhan yang menariknya asal dengan harapan menemukan Sehun terbaring seksi di bawah sana namun yang ia temukan malah guling dan boneka rusanya yang besar tanpa ada Sehun di sana dan membuatnya menangis lebih kencang lagi. Sambil sesegukan Luhan duduk bersila di dekat saklar yang sedang mengalirkan listrik untuk ponselnya. Mengetuk-ngetukkan jarinya sembari memohon agar ponselnya cepat menyala, hidung Luhan membersit dengan tangannya yang sesekali mengusap air mata dengan kasar di pipinya. Luhan benar-benar berubah total dari penampilannya sekitar lima belas menit lalu dimana si rusa ini masih cantik sangat jauh berbeda dengan penampilannya sekarang yang mirip orang patah hati. Meskipun tidak menemukan lelehan maskara dari matanya namun hidung Luhan sekarang memerah, belum lagi suaranya juga sengau di tambah rambutnya sudah tidak lagi terikat dengan sempurna, Luhan benar-benar cerminan gadis patah hati.

"Cepatlah menyala kumohon." Luhan menenggelamkan ponselnya ke dalam tangannya yang dalam posisi berdoa dan memohon agar benda itu menyala. Namun yang ia dapatkan tetap saja nihil. Sesekali Luhan bahkan mengigiti jarinya –karena kuku si cantik sudah dirapikan oleh Sehun yang gemas karena hobi gadisnya tersebut tanpa sadar. Luhan mengulangi kegiatan memohonnya dan Tuhan mengabulkan permintaannya kali ini. Dengan senyum penuh kemenangan meskipun mata masih penuh kabut sisa air mata, Luhan segera menelpon Sehun tanpa menunggu ponselnya menampilkan beberapa pesan yang harus ia baca. Sambil tetap mengigiti jarinya Luhan menunggu dengan tidak sabaran untuk Sehun mengangkat panggilannya namun setelah dua kali melakukan panggilan ia merasakan ada yang aneh terdengar dari kamar mereka, seperti suara benda bergetar panjang.

Jangan-jangan pria itu meninggalkan ponselnya?! Haaaa T_T

Demi mengusir prasangka aneh-anehnya lagi, Luhan mencoba menghubungi Sehun lagi namun kali ini sambil mendengarkan suara getaran yang aneh itu. Membiarkan ponselnya tetap melakukan panggilan, Luhan kali ini berdiri mencoba mencari sumber suara getaran tersebut dan wilayah pertama yang ia susuri adalah tempat tidur mereka karena ia merasa suara itu datang dari sana. Dengan langkah cepat Luhan menaiki tempat istimewanya bersama Sehun itu langsung mencari sumber suara tersebut dan benar saja, setelah bantal tempat posisi ia biasa tertidur diangkat ia menemukan benda persegi panjang berkedip menampilkan wajahnya dengan nama pemanggil 'Lu Dear'. Itu ponsel Sehun dan pria itu meninggalkannya di tempat tidur mereka. Tanpa sadar Luhan menangis lagi sambil mengambil ponsel tersebut.

Saat sedang kalut-kalutnya tiba-tiba saja telinga Luhan mendengar suara bip dari pintu masuk yang lantas membuatnya meloncat heboh untuk segera mengetahui siapa yang datang sebab tidak ada yang tahu kode apartemen mereka kecuali ia dan Sehun sendiri bahkan Baekhyun saja tidak pernah ia beritahu meskipun gadis itu memaksa. Jadi kalau pintu itu terbuka maka seseorang yang datang pastilah Sehun. Berlari dengan cepat sambil memegangi ponsel Sehun, Luhan hampir saja berteriak girang mendapati Sehun sedang melepaskan sepatunya sebelum matanya mendapati seseorang yang berdiri di belakang pria itu.

"Lu, kau su-"

Pluk!

Belum sempat Sehun menyelesaikan kalimatnya, ia mendapati ponselnya dilempar dengan keras ke arahnya oleh Luhan sementara gadis itu menghilang setelah mengumpatinya,

"Dasar tukang selingkuh!"

Luhan membanting pintu kamar mereka kencang lalu menguncinya meninggalkan Sehun juga tamunya –Zizi yang kaget atas ulahnya barusan.

.

.

Biasanya kalau sudah masuk prime time seperti ini, ia dan Luhan akan bergelung manis entah itu di atas tempat tidur mereka atau di karpet yang sengaja mereka letakan di ruang tengah, lalu saling bercerita satu sama lain atau melatih kemampuannya berbicara bersama Luhan, membuat kesal gadis itu lalu berakhir dengan kecupan-kecupan manis sembari menunggu waktu tidur tiba. Intinya mereka akan menghabiskan waktu bersama dengan cara yang menyenangkan bukan seperti sekarang. Kalau Sehun tidak salah hitung sudah dua jam berlalu sejak adegan Luhan melemparkan ponselnya juga bantingan pintu kamar mereka dan gadis itu sama sekali tidak menunjukkan gelagat perdamaian. Ia terus mengunci pintu kamar tersebut bahkan tidak menjawab sama sekali panggilan Sehun.

Tok! Tok!

"Lu, ayo.." Sehun menjeda perkataannya sebelum melanjutkannya lagi, "Ayo kita bicara." Satu kalimat utuh berhasil Sehun katakan demi membujuk Luhan yang entah keberapakalinya tersebut. Meskipun sejauh ini sudah banyak kemajuan dalam cara bicaranya namun Sehun belum terlalu terbiasa mengatakan sebuah kalimat panjang dengan satu kali nafasnya. Ia harus menjedanya agar bisa tenang supaya bisa menghasilkan kalimat dengan artikulasi yang jelas.

Tok! Tok!

"Lu, Kum-"

"Diamlah!"

"Lu,"

"Kau Berisik!" Setelah Luhan berteriak demikian, Sehun memundurkan dirinya dari pintu kamar mereka dan beralih menuju kamar kerjanya. Luhan yang sedang marah memang ujian terbesarnya, gadis itu akan mengunci diri di kamar, tidak keluar bahkan untuk sekedar minum, mematikan panggilan telepon dan yang terakhir hal yang paling tidak Sehun sukai adalah gadis itu akan berteriak dalam menjawab semua pertanyaanya. Sejak kecil Sehun memang menjadi si bungsu yang paling mendapatkan banyak perhatian baik dari kedua orang tua dan kakaknya. Mereka bertiga bahkan tidak pernah berkata dengan nada yang tinggi padanya karena kekurangan yang sempat ia derita, jadi ia benci harus mendengar teriakan apalagi jika itu datang dari Luhan.

Sejujurnya itu sedikit menyakitinya. Ya walau hanya sedikit sih.

Memutuskan untuk membiarkan Luhan merajuk di kamar mereka, Sehun mulai merapikan kamar kerjanya, menatanya agar bisa ia tiduri setidaknya malam ini. Jika Luhan masih merajuk sampai besok maka itu urusan lain. Saat hendak berbaring di sofa yang sengaja Luhan siapkan untuk dirinya sendiri berjaga-jaga kalau gadis itu tertidur ketika menungguinya menggambar, Sehun mendengar ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk. Alih-alih Luhan yang menghubunginya yang terjadi ia malah terkena ocehan panjang sang ibu yang sudah menunggu di depan pintu.

"Kau dimana?! Cepat bukakan pintunya jangan menyerang Luhan terus!" Kira-kira seperti itulah ocehan sang ibu yang lantas membuat Sehun membuka pintu secepatnya.

"Em-"

"Kau ini kebiasaan. Kalau sudah bersama Luhan suka lupa diri. Aku tahu ini memang apartemen kalian berdua dan kalian juga akan menikah tapi jangan suka enak sendiri. Kasihan Luhan masih harus menjaga diri harus tetap segar saat di lokasi syuting. Kau tahu sendiri kan jadwal kekasihmu itu benar-benar padat, jangan main asal serang Oh Sehun! Kau memang Hyungjeong sekali, mesum!" Yuri tetap saja mengoceh panjang sembari melepas sepatunya dan memakai sendal rumah. Ia juga memberikan makanan yang sengaja ia bawa untuk pasangan itu yang langsung diberikan kepada Sehun begitu putranya itu membukakan pintu.

"Mana Luhan?" tanya Yuri saat ia tidak menemukan kekasih si bungsu tersebut. Biasanya kalau ia berkunjung malam-malam begini si mungil itu pasti akan ikut menyambutnya namun sekarang ia hanya mendapati Sehun sendirian belum lagi wajah pria itu terlihat tidak bersemangat seperti biasanya.

"Hun?" Setelah tidak mendapati Luhan, sekarang ia juga mendapati putranya yang diam saja di meja dapur. Ia hanya memandang kosong ke arah makanan yang Yuri belikan tanpa berniat melakukan apapun. Tanpa harus bertanya apa yang terjadi, ia mengerti apa yang tengah berlangsung di kediaman si bungsu. Luhan yang menghilang dan Sehun yang kehilangan arah jelas mengarah pada hal yang buruk.

Pasti bertengkar.

"Sudah mencoba bicara?" Sehun menoleh ke arah sang ibu yang tengah berdiri disampingnya. Wanita itu tidak lagi mengoceh menceramahinya, namun telah berganti dengan memandangnya sendu. Tanpa pikir panjang Sehun memeluk Yuri untuk sekedar mengadukan yang terjadi padanya hari ini. Ibu memang selalu menjadi tempatnya kembali apapun yang terjadi.

"Hun?" Yuri mencoba mengulangi pertanyaannya dan mendapati putranya yang menggeleng lemah dalam pelukannya. Diam-diam Yuri tersenyum mendapati tingkah manja Sehun padanya. Jagoannya yang satu ini memang lebih manja dari pada kakaknya. Meskipun badannya lebih tinggi dari Dongwoon namun Sehun tetaplah seorang bayi kecil yang akan menangis jika disakiti. Sejak dulu hingga sekarang, Sehun memang tidak pernah marah kepada siapapun yang menggangunya padahal Dongwoon sang kakak sudah pasang badan untuk menghajar mereka. Yuri jadi teringat bagaimana Sehun kecil yang pulang dengan berkeringat dan wajah memerah langsung berlari memeluknya dan menangis marah. Awalnya ia bingung dengan apa yang terjadi namun setelah mendapati Dongwoon datang dengan seorang anak laki-laki yang terluka diikuti beberapa anak lainnya dibelakang mereka, Yuri mengerti apa yang sedang terjadi.

Pertengkaran.

Sehun benci pertengkaran, kekerasan dan yang lebih tidak disukainya adalah bentakan serta teriakan. Dan sekarang Luhan pasti sudah lepas kendali untuk berteriak sehingga membuat jagoannya kembali dalam wujud 5 tahunnya.

"Mau coba ibu yang bicara?" Sehun menggeleng lagi malah membisikkan sesuatu yang membuat Yuri tersenyum jahil kemudian.

"Yakin tidak apa-apa?" Tanya Yuri memastikan ide Sehun tidak akan berujung buruk.

"Yakin."

"Ibu tidak tanggung kalau terjadi hal yang lebih buruk dari sekarang ya."

Setelahnya Sehun hanya tersenyum manis pada Yuri dan memeluk wanita berjasanya sekali lagi.

.

.

.

"Makanya kalau marah pikir-pikir dulu Luhan." Ocehan Baekhyun malah membuat Luhan semakin terpuruk. Niatnya mengadu pada gadis itu malah berujung pada omelan Baekhyun yang menyukurinya atas perilakunya pada Sehun.

"Aku marah sekali Baek, makanya aku lupa." Luhan memutar-mutar jarinya pada bibir gelas minumannya tanpa berniat melihat ke arah Baekhyun yang sudah duduk di sampingnya.

"Ingat, Sehun itu unik. Berbeda dengan pria diluaran sana yang bersedia berlutut mengemis meskipun kau meneriakinya. Kau pasti mengingatkannya pada masa-masa terburuknya dulu Lu."

Luhan menghela nafasnya panjang mengetahui buntut dari kecemburuannya yang buruk. Ia begitu marah mendapati Sehun yang kembali kala itu dengan membawa Zizi di belakangnya dan lebih parahnya pria itu meninggalkan ponselnya. Sehun seharusnya ingat kalau pertengkaran mereka yang terakhir itu juga akibat aktris tersebut jadi sudah semestinya pria itu menjaga jarak amannya dengan Zizi bukannya malah berulah lagi.

Sekarang ia malah mendapati Sehun yang benar-benar menghilang setelah kedatangan Yuri. Samar-samar malam itu Luhan mendengar suara wanita datang ke apartemen mereka, karena masih kepalang panas maka Luhan tidak berniat keluar sama sekali dari kamar membiarkan Sehun dan tamu wanitanya berduaan. Tapi pagi harinya Luhan mendapati apartemen yang kosong dengan sebungkus makanan di meja dan sebuah note yang mengatakan jika malam itu Yuri datang untuk membawakan makakan lalu langsung pulang begitu tahu Luhan sedang beristirahat.

Hari itu Luhan sudah membuat dua kesalahan sekaligus, berteriak pada Sehun dan membiarkan calon mertuanya pulang dengan tangan hampa tanpa sambutannya.

Calon menantu kurang ajar.

Hhh~

Helaan nafas berat Luhan membuat Baekhyun melihat kearah sahabatnya tersebut yang sudah menelungkupkan kepalanya di atas meja, salah satu cara Luhan jika ia sudah terlalu stress. Bukannya Baekhyun tidak mau membantu Luhan akan masalahnya hanya saja aktris cantik ini harus belajar menguasai dirinya lebih dari sebelumnya. Pasalnya meskipun Luhan sudah memiliki kekasih namun ia tetap saja menjadi gadis manja yang keras kepala, kalau sifat itu ia terapkan saat bekerja tentu Baekhyun tidak keberatan sama sekali karena itu juga dapat mempermudah pekerjaan, namun terkadang Luhan menerapkan sifat tersebut saat ia bersama dengan Sehun. Pria yang sudah dua tahun menjadi kekasihnya tersebut selalu mendapatkan imbas dari perilaku Luhan yang keras kepala dan kelewat manja walau sebenarnya Baekhyun yakin Sehun pasti senang-senang saja dengan semua itu, tapi kalau Luhan tidak dihentikan ia bisa kebablasan. Ya seperti sekarang.

Kalau diingat-ingat juga sudah nyaris tiga hari Sehun tidak ada kabar dan membuat sahabatnya tersebut kehilangan arah. Rusa manja ini memang butuh pawang, kalau pawangnya hilang maka jangan heran jika ia akan kebingungan. Baekhyun masih bisa menghela nafasnya lega karena jadwal Luhan yang tidak padat selama tiga hari ini, hanya ada beberapa diskusi naskah biasa. Kalau saja ada jadwal syuting apa tidak akan membuat masalah di lokasi dengan keadaan Luhan seperti sekarang? Bisa-bisa ia kena amukan massa dan kru yang bertugas.

"Sudah mencoba menghubunginya?" Tanya Baekhyun sambil memberikan elusan lembut pada kepala Luhan. Gadis itu merasakan kepala sahabatnya menggeleng dan lebih parahnya lagi ia mendapati Luhan sudah menangis di sana.

"Lu,"

"Baekhyuuuuun... Aku merindukan Sehuuuuun hiks...hiks.. Mengapa ia kejam sekali meninggalkan aku begitu hiks...hiks.."

"Kan yang membuatnya pergi kau sendiri."

"Tapi hiks.. aku tidak mengusirnya baeeeeeeek... Hikss..hiks.. Sehuuun..."

Kalau tidak ingat jika Luhan dan Sehun tengah bertengkar, Baekhyun akan memberikan apresiasi besar atas akting menangis Luhan yang mampu membuatnya terenyuh. Ia kemudian berinisiatif untuk menghubungi Sehun melalui ponselnya sambil terus menenangkan Luhan yang sudah menangis tersedu-sedu dilanda rindu.

"Halo?"

Baekhyun agak terkejut mendapati panggilannya mendapat balasan. Pasalnya Luhan tadi sudah mencoba menghubungi Sehun dan ponsel pria itu sama sekali tidak aktif. Lalu ini?

"Sehun?! Ini benar kau?" Suara heboh Baekhyun membuat Luhan bangun dan segera mengambil ponsel manajernya tersebut sambil menangis.

"Sehun... Hiks.. aku, aku minta ma-"

Tuuut~ Tuut~

Jangan tanyakan bagaimana wajah Luhan sekarang setelah suara panggilan terputus terdengar dari ponsel Baekhyun. Air mata gadis itu jatuh perlahan membuatnya semakin menyedihkan.

"Baek.. Dia, dia menutup telponnya." Ponsel Baekhyun terjatuh begitu saja sementara Luhan sudah terlihat nyaris pingsan. Ia benar-benar tidak percaya atas apa yang telah Sehun lakukan padanya. Pria itu tidak pernah membentaknya sekarang ia bahkan tidak mengizinkannya untuk berbicara barang sedikitpun.

Membiarkan luhan yang kembali menangis dengan wajah telungkup di meja, Baekhyun mencoba mengambil ponselnya yang terjatuh sembari berdoa agar ponselnya tidak rusak dan mengumpati Sehun dengan ulahnya begitu ia mendapati sebuah pesan masuk kesana.

.

.

.

Menggosokkan tangannya berkali-kali berdoa agar tidak membeku karena kedinginan, Luhan masih mencoba bertahan dengan seluruh kekuatannya. Tidak tahu apa yang menyebabkannya tahu-tahu bisa berdiam diri di bawah lampu taman tempat Sehun menyatakannya perasaannya dua tahun silam. Saat pulang dari curhat bersama Baekhyun, setelah berputar-putar tidak tentu arah tiba-tiba saja ia memberhentikan mobilnya menuju tempat ini. Sudut hati kecilnya mengatakan untuk pergi ke sana sementara Luhan yakin ini semua terjadi karena ia memang merindukan Sehun yang sudah tiga hari menghilang. Kalau hanya terpisah jarak karena pekerjaan ia masih bisa memakluminya namun mereka terpisah karena kecemburuannya dan tindakan Sehun memutus telepon saat ia sedang berbicara tadi menunjukkan betapa buruknya hubungan mereka sekarang.

10.30 PM

Kalau diingat lagi Luhan sudah 30 menit berdiri di tempat itu tanpa berniat pergi sama sekali. Meskipun dingin, Luhan masih bisa kok bertahan sampai hari berganti asalkan setelahnya Sehun mau melihat perjuangannya untuk memperbaiki hubungan mereka. Sesekali ia memainkan benda mungil nan cantik yang sudah melingkari jari manisnya sejak dua bulan silam. Memang sejak ia menjadi kekasih Sehun, jari manisnya tidak pernah kehilangan sentuhan cantik berkilauan disana namun terhitung sejak dua bulan lalu terdapat perubahan pada bentuk si mungil yang melingkari jarinya. Ada ukiran kata HUNHAN di dalam sana menandakan ia adalah satu dengan Sehun. Mengingat bagaimana saat Sehun memakaikan cincin pertunangan mereka dan melamarnya tepat di tempat ia sekarang berada membuat Luhan kembali menitikkan air mata.

Coba saja ia tidak cemburu sampai mengunci diri dikamar, Sehun pasti masih ada bersamanya sekarang. Mereka pasti sedang bercanda bersama bahkan ia rela kok kalau pria itu mau menyerangnya habis-habiskan yang penting ia bisa merasakan Sehun ada bersamanya. Coba saja ia mau mendengarkan penjelasan Sehun mengapa pria itu bisa datang bersama Zizi, mereka pasti sedang bermesraan sekarang. Coba saja ia tidak terlalu keras kepala dan egois, apa yang terjadi sekarang tidak akan pernah terjadi. Ia tidak akan kedinginan menahan rindu atas Sehun, ia tidak akan menangis sendirian di bawah lampu seperti manusia patah hati.

Padahal, ia memang sedang patah hati.

"Hiks.."Luhan menyeka air matanya berusaha untuk tidak mengeluarkan suara tangisnya agar tidak mengganggu orang lain. Ya walaupun tempat ini sepi tapi tetap ada kok pejalan kaki yang melintas entah satu atau dua orang.

"Hiks.. Sehun.." Luhan berjanji dalam hati jika Sehun mau kembali memaafkannya ia tidak akan egois lagi sampai kapanpun juga bahkan jika nanti mereka menikah,..

Menikah..

Mengingat kata menikah membuat Luhan malah menangis lebih keras lagi. Bagaimana bisa ia berpikir untuk menikah dengan Sehun sedangnya ia sendiri masih dirundung keras kepala yang tidak pernah berkurang. Apa jadinya rumah tangga mereka nanti jika ia selalu memaksakan kehendaknya pada Sehun, menaruh cemburu berlebihan padanya dan mengurung diri saat marah?

"Sehun... Hiks.. Maafkan aku.. hiks.."

Luhan merasakan sesuatu yang hangat menghapus air matanya barusan. Perlahan ia membuka matanya yang sempat terpejam karena menangis untuk melihat orang baik mana yang telah menemaninya sekarang dan begitu ia melihat orang itu Luhan semakin ingin menangis.

"Bodoh."

Sehun, pria itu sedang berdiri di hadapannya dengan senyumnya yang masih menawan dan menghapus air matanya barusan. Tadinya Luhan ingin membawa dirinya untuk memeluk Sehun namun mengingat pertengkaran mereka, ia menahan dirinya untuk melakukan hal itu yang lantas membuat Sehun heran. Tak biasanya gadis mungilnya menahan diri untuk menerjangnya dalam pelukan.

"Tidak merindukanku?" Luhan hanya mengangguk sambil menunduk dan masih menangis membuat Sehun tersenyum. Ia kemudian menarik Luhan perlahan dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Agak meringis begitu merakana leher Luhan yang berada dalam dekapannya terasa begitu dingin menandakan Luhan sudah berdiam lama di luar namun ia lebih terkejut lagi dengan suara tangis Luhan yang teredam dalam pelukannya. Apa tindakannya kabur membuat gadisnya begitu terluka?

"Lu,"

"Maafkan aku Hun.. Maafkan aku.."

Sehun semakin mengeratkan pelukannya pada Luhan untuk meyakinkan gadis itu bahwa tidak ada yang perlu dimaafkan. Ia yang seharusnya minta maaf karena telah membuat Luhan cemburu, bukan gadis itu.

"Maafkan aku Lu."

"Tidak! Aku yang minta maaf. Maafkan aku, aku cemburu pada Zizi karena kau datang bersamanya kemarin. Maafkan aku membentakmu juga. Maafkan aku terlalu keras kepala padamu. Maafkan aku ter-"

Perkataan Luhan terputus karena ulah Sehun yang membawa gadis itu ke dalam ciumannya. Bukannya ia tidak ingin mendengar Luhan bicara, selain karena sudah merindukannya, ia tidak ingin mendengar pengakuan dosa yang Luhan katakan. Tidak ada yang perlu dimaafkan, mereka berdua masih belajar untuk saling mengerti dan memahami satu sama lain jadi wajar jika ada kesalahan yang mereka lakukan.

Ciuman itu perlahan memberikan Luhan sensasi hangat yang memabukkan. Bohong jika ia tidak merindukan bagaimana rasa penyatuan kedua belah bibir mereka dalam perpaduan intim yang begitu memabukkan. Meskipun ia masih menangis dalam pergulatan romantis mereka, Luhan tetap berusaha menyalurkan semua perasaannya pada Sehun agar pria itu tahu apa yang ia rasakan. Begitu juga dengan Sehun. Ia lahir sebagai pria yang dididik untuk tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Bibir Luhan memang begitu menggoda dan nikmat namun kesempatan untuk menyalurkan perasaannya pada Luhan dalam ciuamannya adalah sesuatu yang sangat ia sukai. Meskipun ia masih merasakan Luhan yang menangis dalam ciuaman mereka namun ia tetap berusaha memberikan alasan yang kuat pada gadis itu agar ia tidak lagi terjatuh dalam lubang kecemburuan.

Hanya ada satu wanita di dunia ini yang mampu membuat Sehun luluh dalam sekejab mata dan mengorbankan segala, dia adalah Luhan dan gadis itu harus tahu akan hal itu.

"Lu," Perlahan Luhan membuka matanya yang terpejam akibat ciumannya dengan Sehun. Ia mendapati pria itu tengah menatapnya dalam, sarat akan cinta dan Luhan ingin menangis karenanya.

"Aku mencintaimu." Jangan tanyakan lagi bagaimana Luhan sekarang karena ia sudah menangis lagi sambil memeluk Sehun yang juga memeluknya hangat. Cara mereka berbaikan memang agak aneh dari pasangan kebanyakan. Hanya dengan mengatakan 'aku mencintaimu' semua kesalahan Sehun akan hilang dimata Luhan dan jika Luhan sudah mengatakan 'i really love you' maka ia sudah bisa mendapatkan maaf dari Sehun.

"Jangan menangis, cup. Cup." Sehun menepuk lembut punggung Luhan untuk menenangkan gadis itu dari tangisnya yang hanya dibalas anggukan dari Luhan yang masih bergelung manja di lehernya.

"I really sorry Sehun and i really love you."

"I know Ru, i know."

.

.

.

From : 045-XXX-XXX

Aduh Baek! Ponselku kehabisan daya. Apa Luhan menangis lagi? Maafkan Luhanku merepotkanmu ya hehe^^

Dasar Oh Sehun Sialan.

.

.

.

365 chapter 6 officialy end.

Halooo!
Cie yang menantikan adegan 'panas' haha. Sabar ya cin. Dari kemarin kan kasih yang imut-imut terus sekali-kali aku mau ngasih adegan kalau mereka berdua lagi bertengkar gimana. Makasih reviewnya dichap kemaren yaaak, maapin pendek chap kemaren haha. Udah panjang kan ini sekarang? Selamat membaca yaaa.

Oia, selamat untuk EXO atas 4 awardnya di MAMA ya. Masih ada SMA dan GDA yuk semangat lagi, saatnya kita yang berjuang untuk mereka 9('O')9