Chap 11 : Kegelisahan Luhan
365 After Marriage
Cast:
Lu Han, Se Hun
Romance, a little bit humor and drama.
This is Genderswitch.
.
.
.
Sejak masih kecil Luhan sangat paham dengan sepak terjang dari Yuri, seorang model yang telah merintis karirnya sejak usia dini. Wanita yang kini berprofesi sebagai seorang desainer itu telah menancapkan taringnya di dunia modeling bahkan hingga kancah internasional. Seingat Luhan, kalau saja Yuri tidak memutuskan untuk menikah, maka wanita itu bisa menjadi salah satu angel -nya brand pakaian dalam Victoria Secret. Itulah sebabnya ketika Yuri memutuskan untuk menikah, Luhan merasa kesal sendiri. Wanita itu telah lama menjadi panutannya untuk terjun ke dunia ke artisan. Luhan tidak pernah absen mengoleksi majalah-majalah yang menerbitkan Yuri di dalamnya, membeli produk fashion yang dibintangi Yuri, bahkan ia juga membeli buku yang di tulis oleh Yuri ketika wanita itu dalam masa cuti hamil. Pokoknya Yuri adalah idola Luhan sejak dulu.
Selain karirnya yang gemilang, kisah cinta sang model dengan pasangannya yang merupakan seorang model juga tergolong kisah cinta yang romantis. Luhan ingat kok dulu ia bahkan sampai menangis haru bersama Baekhyun ketika membaca artikel yang menceritakan bagaimana kisah cinta Yuri dan Hyungjeong dari awal pertemuan mereka hingga berakhir ke pelaminan. Walau kesal karena Yuri tidak meneruskan mimpinya untuk menjadi angel namun Luhan tidak bisa untuk tidak bahagia dengan kehidupan rumah tangga Yuri yang harmonis. Sedikit banyak gadis itu berdoa agar diberikan kehidupan rumah tangga yang sama seperti Yuri, harmonis dan romantis.
Tapi yang tidak pernah terpikirkan oleh Luhan sejak kecil adalah jika ia bisa menakhlukkan salah satu pangeran keluarga Oh. Siapa juga yang menyangka kalau hatinya yang sering disebut beku oleh Baekhyun dan Chanyeol itu ternyata luluh dengan tingkah unik seorang Oh Sehun. Pertemuan pertama yang begitu berkesan bagi Luhan membekas hingga sekarang. Dulu sewaktu kecil, Luhan pernah sih berdoa pada hari Minggu di gereja untuk diberikan pangeran tampan sebagai pasangan hidupnya seperti Barbie yang baru saja ia selesai tonton kemarin malam. Luhan kecil sangat terobsesi dengan kehidupan kerajaan, itu sebabnya ia sering bermimpi untuk punya satu pangeran tampan berkuda putih. Khalayan anak perempuan pada umumnya.
Masalahnya Luhan tidak pernah menyangka jika Tuhan mendengar doanya dengan sangat baik sampai-sampai memberikannya bonus. Pangerannya memang tampan, sangat malah. Ia tidak berkuda putih tapi punya mobil tipe SUV berwarna putih yang sangat Luhan sukai. Pangerannya juga tidak tinggal di istana melainkan sebuah rumah dengan halaman yang luar dan lingkungan yang menyenangkan, kakak laki-laki yang baik serta orang tua yang penyayang. Luhan serasa mendapatkan bonus berlimpah dengan semua yang ia dapatkan dari pangeran keluarga Oh.
Sebenarnya selain semua harta benda bahkan tahta dan kekayaan yang dimiliki oleh Sehun –si pangeran, satu hal yang amat sangat Luhan anggap sebagai bonus dari doa-doanya adalah Sehun itu sendiri. Ia tidak pernah menambahkan unsur kesempurnaan fisik yang tiada tara dalam doanya selama ini namun Tuhan sepertinya sedang berbahagia saat menciptakan Sehun. Pria yang sekarang tengah berdiri bersama teman-teman satu divisinya tersebut sangat sempurna. Ok memang kesempurnaan mutlak hanya milik Yang Maha Esa tapi Sehun bisa digolongkan ke dalam kategori tersebut, setidaknya bagi Luhan. Dan bagi wanita-wanita tamu undangannya hari ini yang sedang asik mengangumi Sehun sambil mendesah mesum. Luhan tidak perlu menggambarkan bagaimana bentuk rupawan Sehun, karena pria yang telah menyandangkan marganya di depan namanya tadi pagi itu tidak punya kekurangan fisik secara kasat mata. Luhan memang hanya tersenyum puas mendengar pujian-pujian yang sarat akan rasa iri menghampirinya karena Sehun melabuhkan hati dan hidupnya pada Luhan, ia juga hanya tersenyum saja mendengar bagaimana omongan-omongan tentang malam pertama dan tempat tidur yang bergoyang serta malam panas keluar dari mulut tamu-tamu wanitanya.
Mereka hanya tidak tahu saja sudah berapa kali malam panas yang telah ia dan Sehun lewati bahkan sebelum bersumpah di depan pendeta tadi.
Tapi satu percakapan yang dilakukan Yuta, dari kenalan Baekhyun bersama temannya Kyungsoo membuatnya jadi penasaran.
"Ku dengar walaupun sudah pernah melakukan hubungan intim sebelum menikah, sensasi yang berbeda akan didapatkan saat pasangan tersebut melakukannya setelah menikah." Yuta terlihat begitu yakin dengan perkataannya barusan.
Benarkah?
"Benarkah?" Kyungsoo menyurakan rasa penasaran Luhan begitu saja dan membuat gadis –oh atau wanita itu menajamkan telinganya.
"Benar! Aku merasakannya sendiri. Setelah menikah ada rasa yang berbeda, cobalah!" Wanita bernama Seulgi tiba-tiba menyauti pertanyaan Kyungsoo begitu saja. Luhan tahu kok siapa Seulgi, dia adalah rekan modelingnya dulu, suaminya adalah teman sesama musisi yang kenal dekat dengan Chanyeol –tunangan Baekhyun.
Yang benar?
"Yang benar?" Tanya Kyungsoo lagi. Luhan benar-benar berterima kasih pada Kyungsoo karena telah membantunya menyuarakan isi kepalanya secara tidak langsung.
"Benar. Jika hubungan saat sebelum nikah kalian tergolong hubungan yang 'panas', maka setelah menikah rasanya dua, ah tidak bisa tiga bahkan lima kali lipat panasnya!" Wajah Seulgi berbinar begitu mengatakan 'lima kali lipat' membuat Yuta, Kyungsoo dan Luhan menatapnya terkejut.
Sedahsyat itu?
"Sedahsyat itu?" Kali ini Luhan berterima kasih pada Yuta yang secara tidak langsung menyuarakan kekagetannya.
Seulgi hanya mengangguk lengkap dengan senyum sumringahnya. Ia kemudian berlalu begitu saja ke tempat suaminya berada setelah adegan cium pipi dengan Luhan, Kyungsoo dan Yuta.
Setelahnya jangan tanyakan mengapa Luhan tiba-tiba jadi gugup sendiri.
.
.
Luhan tidak bergerak sama sekali dari tempat duduknya di depan meja rias. Ia hanya melepas riasan rambutnya dan membiarkan mereka tergerai begitu saja tanpa merapikannya. Gaun pengantinnya juga masih melekat sempurna di tubuh kecilnya sementara ia hanya memandang kosong kaca di hadapannya. Percakapan singkat tentang percintaan paska menikah membuat Luhan tiba-tiba merasa gugup sepanjang pesta tadi. Ia meruntuki dirinya harus terjun ke dalam percakapan laknat tersebut dan berakhir dengan kegelisahan seperti sekarang. Bersyukurlah ia punya bakat akting yang sangat baik sehingga Sehun tidak curiga sama sekali. Pria itu bahkan sedang asik di kamar mandi sambil bernyanyi entah lagi apa yang jelas Luhan mendengar suara pria itu samar-samar dari kamar mandi mereka.
Lima kali lebih panas,
Lima kali?
Satu kali saja aku sudah menyerah apalagi lima?!
Sehun terlalu panas bahkan untuk satu putaran pertama.
Apa aku sanggup?
Luhan sibuk memainkan hiasan bunga kecil pada gaunnya sehingga ia tidak menyadari Sehun telah berdiri di belakangnya. Pria itu hanya diam memandangi punggung istrinya yang sejak tadi menghela nafas panjang. Sehun tahu kok jika Luhan sedang gelisah, bahkan sepanjang pesta tadi Sehun sudah merasakan perubahan wanita itu. Sebaik apapun akting Luhan di hadapan publik, semua tidak ada gunanya jika sudah di hadapannya. Ia dapat langsung mengetahui apa yang Luhan rasakan dari tatapan mata rusa si mungil yang memancarkan kegelisahan. Perlahan Sehun berjalan mendekati Luhan dan melingkarkan tangannya di pundak sang istri yang lantas membuat Luhan terkejut. Ia bahkan menahan nafasnya karena rasa kagetnya barusan yang membuat Sehun meringis bersalah atasnya.
Sehun merendahkan dirinya untuk bisa setinggi Luhan yang sedang duduk, mendekatkan wajahnya ke arah telinga Luhan, "ini aku sayang," sambil mengelus lembut kedua lengan Luhan perlahan untuk menyalurkan ketenangan pada wanita itu.
Luhan tahu ia tidak akan bisa menyembunyikan apapun dari Sehun, bahkan sekarang. Maka ia memutuskan untuk melepaskan tangan Sehun dari lengannya dan membalik tubuhnya agar mereka saling berhadapan. Kedua lengan kecilnya kemudian melingkar sempurna di pinggang Sehun dengan wajah yang sudah tenggelam dalam perut datar si tampan. Ia berusaha sekuat mungkin untuk bernafas dengan benar sembari mengatur bagaimana caranya ia dapat mengutarakan kegelisahannya kepada Sehun. Pria itu telah mengelus lembut kepalanya sebanyak kurang lebih dari tiga kali sejak ia memeluknya dan itu tandanya Luhan harus mulai menceritakan apa masalahnya pada Sehun.
"Hun," Sehun hanya bergumam menjawab panggilannya membuat Luhan semakin takut. Ia kemudian perlahan mengangkat kepala membawa pandanganya untuk menatap Sehun yang ternyata tengah melihat ke arahnya lembut.
"Ada apa?" Kalau sudah begini, Luhan bisa apa kalau tidak menangis. Pria yang telah menjadi suaminya tersebut memang memberikan pertanyaan atas apa yang terjadi padanya namun senyum serta tatapannya membuat sekujur tubuh Luhan merinding lemas dan ketakutan. Itulah sebabnya mengapa sekarang Luhan menangis dan kembali menenggelamkan wajahnya di perut Sehun.
Kesempatan dalam kesempitan juga ya nyonya Lu!
"Lu,"
Luhan bingung. Ia sama sekali tidak bisa mengeluarkan barang satu patah kata pun. Semua tersendat begitu saja membuat relung dadanya sesak. Ayolah ini hanya masalah ranjang dan malam pertama. Iya, bagi sebagian orang ini hanya sebatas masalah ranjang dan malam pertama, rasa gugup dan persiapan untuk saling memuaskan. Seharusnya ini tidak jadi masalah yang besar bagi Luhan, ia bahkan melepaskan 'segel'nya pada orang yang sekarang telah menjadi pasangan hidupnya. Dan itulah yang menjadi bibit keraguannya. Terbesit rasa kecewa mengapa ia membiarkan dirinya dulu larut dalam pusaran gairah hingga memberikan segalanya untuk Sehun, sekarang apa yang menjadi daya tarik dari pernikahan mereka –malam pertamanya?
Tapi, menutupi segalanya dari Sehun bukanlah hal yang baik, Luhan yakin lambat laun semua itu akan menjadi duri dalam pernikahannya kelak. Maka dengan seluruh kekuatan dan keberanian yang ia punya, Luhan menatap Sehun dengan air mata yang masih menggenang dan mengalir di kedua pipinya.
Now, or never.
"Sehun, aku takut." Luhan mengigit bibirnya menahan tangis yang akan pecah sebentar lagi. Tatapan Sehun masih sama, penuh tanya padanya. Kekhawatiran terpancar begitu nyata dari kedua iris matanya. Luhan tidak bisa menahan tangisnya lebih lama lagi ketika ia merasakan Sehun mengelus lembut punggungnya.
"Kenapa?"
"Janji jangan memotong perkataanku." Sehun mengangguk sambil memberikan satu kecupan di dahi Luhan.
"Janji?" Luhan mengarahkan kelingkingnya pada Sehun yang kemudian disambut pria itu dengan sukacita.
Jangankan berjanji untuk tidak memotong perkataanmu sayang, aku bahkan telah bersumpah diatas hidup dan matiku untukmu.
Luhan menarik nafasnya perlahan mempersiapkan dirinya lagi dan lagi, "Sehun..,"
"Ya Sayang," Oh Luhan tidak pernah menyangka jika Sehun yang telah lancar bicara sangatlah bermulut manis dan mematikan. Bersyukur ia menjadi salah satu wanita yang mendapatkan kesempatan langka dapat menikmati mulut manis si tampan. Disisi lain Sehun berusaha membuat wanitanya tenang dengan memberikan kecupan ringan di dahi dan beberapa usapan lembut di punggungnya.
"Sehun, aku takut. Aku takut tidak bisa memberikan yang terbaik untukmu. Maksudku setelah percintaan –Luhan memerah saat kata percintaan itu keluar dari bibir cantiknya, -yang kita lalui sebelumnya, aku takut tidak bisa memberikan apapun lagi padamu. Kau telah menjadi yang pertama untukku dan tentu saja yang terakhir bagiku, namun apalagi yang dapat aku persembahkan untukmu di malam ini Sehun? Bahkan berbagai gaya dan model perc-" Sehun memang berjanji untuk tidak memotong perkataan Luhan tapi ia tidak berjanji untuk tidak menutup mulut wanitanya dengan ciuman bukan?
Sehun paham kegelisahan Luhan sejak awal, sang ayah telah memberikan satu resep rahasia padanya. Sebelum ia bersumpah di hadapan Tuhan, percakapan antara ayah dan anak pagi tadi telah memberikannya pencerahan.
"Ayah tahu kau dan Luhan sudah melakukan 'itu'." Hyungjeong membentuk tanda kutip di sisi kepalanya sambil tersenyum jahil pada putra bungsunya. Ia malah ingin tertawa melihat wajah masam Sehun karena ucapannya barusan.
"Hei, aku dewasa lebih dahulu darimu tahu. Bahkan saat malam pertama dengan ibumu, wanita itu sudah tidak tersegel lagi." Seakan tidak ada beban berarti Hyungjeong membeberkan rahasianya pada Sehun. Ayolah ia dan Yuri hidup di dunia modeling, mereka bukan pasangan yang menganut sistem timur 'Sex after Marriage'. Walau bukan menjadi yang pertama bagi Yuri, Hyungjeong tetap saja bangga ia adalah pria pertama yang berhasil membuahi Yuri dan membuat wanita itu melahirkan dua pangeran tampan Dongwoon dan Sehun.
Bibitnya memang unggulan itu sebabnya ia bangga bibit-bibit unggul tersebut tidak terbuang sia-sia dalam kondom.
"Lalu maksud ayah apa?" Tanya Sehun sebal dengan cerita semi mesum ayahnya. Ia sedang gugup hari ini jadi tidak ada waktu untuk berkhayal kotor bersama sang ayah.
"Santai saja boy. Ini bukan masalah untuk kita namun bagi pihak wanita. Kau tahu setinggi apa gengsi ibumu itu? Wanita itu punya rasa percaya diri yang sangat tinggi bahkan untuk sekedar mengakui jika seks terhebatnya datang dariku." Kalau tidak ingat siapa yang sedang bicara sekarang, Sehun rela kok untuk menendang bokong pria tersebut. Masalahnya ini ayahnya jadi mau tidak mau, rela tidak rela, ikhlas tidak ikhlas ia harus mendengarkan ocehan semi biru ayahnya.
"Sehun, wanita seperti ibumu dan Luhan punya kepercayaan diri yang sangat tinggi. Mereka sangat gengsi untuk sekedar mengakui kecemburuan mereka pada rekan kerja kita. Tapi satu hal yang perlu kau ingat, setangguh apapun mereka, mereka tetaplah perempuan. Sosok lembut yang perlu kita luruskan dengan perlahan. Tidak ada yang salah dengan percintaan sebelum menikah, ayah bahkan tidak melarangmu dan Dongwoon bukan asalkan tidak berhubungan dengan para pekerja prostitusi atau hubungan satu malam. Tapi malam pertama setelah menikah adalah bukti jika wanita yang telah menyandang marga kita adalah sosok yang lembut dan rapuh. Jangan kaget jika nanti malam Luhan menolak atau bahkan menangis ragu jika ia tidak bisa memuaskan atau memberikanmu malam pertama yang sempurna. Tidak peduli apapun alasannya, yang perlu kau lakukan adalah meyakinkannya jika apa yang kalian lakukan malam nanti adalah bukti cinta kasih seumur hidup. Bukan sekedar percintaan panas biasanya." Sehun hanya diam mencermati apa yang telah Hyunjeong ucapkan. Ia tidak berpikir sampai kesana namun tidak ada salahnya untuk mematuhi petuah dari sang ayah.
"Iya ayah, aku mengerti."
"Ok, satu lagi. Percintaan setelah menikah akan menjadi sangat panas meskipun dengan gaya yang sederhana. Coba saja." Jangan tanya bagaimana keadaan Sehun setelah ditinggalkan begitu saja oleh Hyungjeong yang sudah tertawa terbahak keluar ruangan.
Sehun Tegang,
Atas bawah.
.
.
.
".. Aah, Sehhssh.."
Sejak tadi Luhan hanya bisa mendesahkan nama depan Sehun tanpa bisa memanggilnya dengan sempurna. Pria yang sedang asik menggoda dadanya tersebut membuat Luhan tidak bisa berpikir dengan jernih terlebih lagi gerakan statis yang perlahan menari dalam inti tubuhnya. Setelah ciuman Sehun yang memutus ucapannya, Sehun membawa Luhan dalam pelukannya untuk melanjutkan ciuman panjang mereka.
French Kiss.
Luhan sendiri tidak sadar kapan tangan dan jemari Sehun menjadi lebih lincah dari sebelumnya, sebab saat ia dibaringkan di atas tempat tidur, gaun pernikahannya sudah tergelak tak berdaya di lantai sementara Sehun mengecupi leher dan bibirnya bergantian. Ia juga tidak tahu mengapa seluruh gerakan yang Sehun lakukan di atas tubuhnya sangat menggairahkan, bagaimana jemari panjang itu melepaskan satu persatu kancing kemeja putihnya, melepaskan kepala ikat pinggang dan celana hitam itu dari kakinya. Hingga mereka berdua sama-sama dalam keadaan terbalut pakaian dalam semata. Luhan selalu suka tubuh Sehun, ia bahkan sangat posesif atasnya namun yang tidak pernah Luhan bayangkan adalah malam ini aroma tubuh Sehun terasa begitu menggoda, lekukan jantan tubuhnya seakan memanggil Luhan untuk menyentuh bahkan meninggalkan jejak cinta disana.
Gerakan Sehun dalam inti tubuhnya perlahan meningkat seiring dengan bibir si tampan yang semakin gencar menciumi pucuk dadanya. Jangan tanyakan lagi sudah berapa banyak jejak-jejak cinta yang Sehun bubuhkan di tubuhnya mulai dari leher, dada, perut bahkan pahanya semua telah pria itu berikan. Satu hal yang Luhan syukuri malam ini adalah kuku jarinya yang tidak terlalu panjang seperti biasanya sehingga ketika Sehun menggerakkan tubuhnya lebih keras dari sebelumnya ia tidak khawatir melukai punggung tegap Sehun dengan kukunya.
".. ooh Ya tuhan Sehssn.."
Sehun hanya tersenyum licik dalam kegiatannya menciumi leher Luhan. Ia sekarang tahu apa maksud sang ayah saat mengatakan Gaya biasa itu. Sehun sendiri tidak tahu mengapa Luhan terasa sangat menggiurkan dengan rambut panjangnya yang tergerai di atas tempat tidur mereka, peluh di sekujur tubuhnya, dada yang membusung penuh jejak cinta, intinya yang terus memakan kejantannya rakus, memijatnya penuh gairah dan jangan lupa desahan si cantik sebagai pujian atas seluruh kegiatannya. Sehun meraih tangan Luhan yang mengepal untuk menggenggamnya, ia kemudian membisikkan kata cinta padanya.
"Aku mencintaimu,"
Luhan tidak bisa untuk tidak tersenyum sambil memandang Sehun yang bergerak semakin cepat dan keras diatasnya. Membiarkan Sehun menggenggam sebelah tangannya, Luhan membelai wajah Sehun dan membalas perkataan cintanya meskipun sulit untuk tidak mendesah karena kenikmatan yang Sehun hadirkan untuknnya. Tatapan penuh cinta terpancar dari keduanya, jangan pernah tanyakan seberapa dalam perasaan keduanya setelah sumpah sehidup semati mereka lakukan.
"..Sehun, aku ahh, Aku.."
"Bertahanlah untukku sayang, grhhh.." Setelah mencium kedua mata Luhan lembut, Sehun semakin memacu dirinya lebih cepat dari sebelumnya. Suara pertemuan dua kulit yang saling beradu membuat suasana mereka semakin panas dari detik ke detik yang berlalu. Luhan tidak tahu sejak kapan Sehun terasa lebih besar dan penuh dalam dirinya sementara Sehun yakin jika Luhan semakin sempit memijatnya. Ia telah memberikan Luhan dua kali klimaks dengan gaya yang sama maka ia akan menghadirkan satu puncak kepuasaan lagi untuk Luhan bersamaan dengan pelepasan bibit unggulnya.
Empat kali hentakan keras kejantanan Sehun menumbuk sisi terdalamnya menghadirkan erangan panjang nan erotis dari mulut keduanya. Sehun tidak membiarkan sedikitpun 'calon-calon' anaknya keluar dari calon rumah mereka sehingga ia menanamkan lebih dalam kejantannya dengan gerakan ringan saat ia mencapai kepuasan bersama Luhan. Mereka berdua larut dalam ciuman panjang penuh kasih hingga Sehun merasa ia telah selesai dan Luhan penuh atasnya.
"Sehun, aku mencintaimu, aku-"
"I know." Luhan tidak bisa untuk tidak mencium Sehun lagi dan lagi setelahnya.
Malam itu hanya terjadi tiga putaran, ia mendapatkan tiga kali puncak kepuasan sementara Sehun hanya melepaskan satu puncak namun penuh gairah. Tersenyum dalam pelukan Sehun, Luhan mengerti apa yang dimaksudkan dengan lima kali lebih panas. Bukan percintaan mereka yang semakin liar atau ganas namun aroma kasih itu melekat begitu erat memeluknya dan Sehun. Meskipun ia tidak bisa mengelus perutnya karena kedua tangannya sibuk memeluk Sehun namun sudut hatinya telah berdoa agar 'calon-calon' si kecil itu bisa hadir dalam tubuhnya.
Aku dan ayahmu menunggu dirimu hadir sayang.
.
.
.
365 (After Marriage) chapter 11 officialy END
HAAAAI! Edisi malam pertama yang singkat gapapa lah yaaak. Kalau masih kurang panas ya mohon ditunggu hehe. Oia ada masukan kah chapter depan mau edisi apa, misalnya edisi panjang dari cerita pendek di IG atau apalah terserah kalian yaaak.
Makasih buat yang masih setia membaca dan menunggu, kalian yang terbaiiiiikkkk!
