Chapter 14 : Remah-remah kehamilan Luhan
365 After Marriage
Cast:
Lu Han, Se Hun
Romance, a little bit humor and drama.
This is Genderswitch.
.
.
.
Dalam hidupnya walaupun susah, Sehun tidak pernah mengeluh. Sesulit apapun keadaannya, seburuk apapun perkataan orang lain terhadapnya, ia tidak pernah melemparkan umpatan kasar sebagai bentuk luapan emosinya.
Tapi kali ini berbeda.
Sebelum membuat Luhan mengandung buah cintanya bahkan lebih jauh lagi sebelum ia memutuskan untuk menikahi sang pujaan hati, Sehun sudah iseng untuk belajar mengenai bagaimana menjadi seorang suami siaga. Bagaimana nikmatnya menemani istri memeriksa kandungan, bagaimana rasa bangga dan bahagia saat berhasil memenuhi permintaan 'si-calon-bayi' yang konon katanya lumayan aneh-aneh.
Bahkan sempat-sempatnya ayahnya menakuti Sehun jika dulu saat ibunya mengandung Sehun, wanita itu mengidam makan ceker ayam pinggir jalan –untuk informasi tambahan, Sehun takut ceker ayam karena mirip tangan bayi.
"Ayah! Bercanda ayah tidak lucu." Oceh Sehun yang malah membuat tawa ayahnya semakin keras. Sudut mata pria kebanggaan ibunya itu bahkan sudah mengeluarkan air mata saking lelahnya tertawa. Ia merasa lucu sendiri membayangkan wajah putra bungsunya menahan geli dan takut karena ceker ayam demi memenuhi keinginan bayi mereka kelak. Anaknya yang besar tak kira akan menciut perkara kaki ayam gendut.
Untung saja hyungnya berbaik hati meluruskan segala kejahilan sang ayah. Wanita mengidam saat mengandung itu hal yang wajar karena perubahan hormon pada sang ibu. Namun tidak semua hal yang diinginkan saat istri mengidam harus dipenuhi, terkadang ia boleh menolak dengan memberikan pengertian jika memang dirasa berbahaya.
Seperti sekarang misalnya.
Sehun tidak sekuat itu untuk makan makanan pedas, ia bukan orang yang senang mengkonsumsi makanan pedas, beda dengan Luhan. Belum mencoba mie kuah yang baru saja istrinya hidangkan saja, Sehun sudah merasakan punggungya basah karena keringat. Bayangan betapa pedasnya kuah dari mie tersebut membuat perutnya merasa mulas mendadak. Apakabar kalau iya harus menghabiskannya? Sehun bisa jadi langganan kamar mandi -alias diare.
"Sayang?"
Sehun tadinya mau menyuarakan protes atas masakan istrinya namun melihat bagaimana sulitnya Luhan untuk sekedar duduk lalu mengelus perutnya yang sudah membesar sambil mendesis menahan sakit, Sehun jadi tak tega.
"Ada apa Hun?"
Memilih menggeleng sembari berdoa dalam hati jika perutnya akan baik-baik saja. Ia masih mau bermain dengan Vivi dan Ruby. Taeyong berjanji akan mengajaknya berjalan sore dan jajan makanan kaki lima dekat taman. Kalau dia mules, akan beda ceritanya.
"Aku sedang ingin makan makanan pedas. Tapi belakangan ini pencernaanku tidak terlalu bagus, jadi kamu saja ya yang mewakilkanku dan anak kita makan makanan pedas." Ringan, ringan sekali ucapan Luhan barusan. Senyumnya saja manis, binar matanya terpancar bahagia penuh harap. Kalau sudah begini, Sehun mana tega bilang tidak atau sekedar beralasan nanti takut mulas?
Tangannya agak gemetar saat menyendok kuah, berulang kali Sehun menelan ludahnya yang tiba-tiba menjadi banyak. Berdoa agar semua baik-baik saja ia mencoba suapan pertama makanan pedasnya hari ini. Kecap lidahnya meraba perlahan, rasa pedas terbakar yang biasanya menjadi musuh sekarang menjadi biasa saja. Sehun membuka matanya yang tadi tanpa sadar terpejam karena takut kepedasan, ia memandang Luhan dengan wajah kagetnya.
"Lu, ini pedas kan?" Luhan mengangguk semangat.
"Tadi saja saat menumis bumbunya kamu sempat bersin-bersin kan? Iya ini pedas." Sehun merasa tak percaya aka napa yang terjadi. Lidahnya seakan mampu menahan rasa pedas maka ia mencoba sekali lagi. Kali ini dengan segulung mie bersama kuahnya yang langsung Sehun lahap dan hasilnya tetap saja. Rasa pedasnya sama sekali tidak terasa di lidahnya. Iya ada pedas tapi sangat sedikit.
"Sayang, aku bisa merasakan pedasnya. Ini biasa saja." Mata Luhan membulat tak percaya. Suaminya ini punya selera anak-anak, pedas sedikit pasti sudah keringatan. Ia yakin sepenuhnya jika mie kuah ini adalah standar menunya. Mencoba menepis dugaan, Luhan menyendok sedikit kuah mie dan menyeruputnya.
"Tidak pedas kan?" Sehun menyendok mie bersama kuahnya dan memakannya lagi. Berkali-kali dengan cepat.
"Hah! Ini pedas sekali. Letakan Sehun! Minum air cepat nanti kamu mules!" Luhan segera mengambil mangkok mie Sehun dan membawanya ke dapur. Ia juga membuka lemari pendingin dan langsung meminum susu dari sana. Tindakan yang membuat Sehun mengernyit heran, sejak kapan istrinya tidak kuat pedas? Merasa sombong, ia membantu Luhan yang masih bergelut dengan rasa pedas sambil izin mau bermain dengan Taeyong. Membayangkan ia dan tetangganya akan jajan makanan kaki lima, membeli sate gulung, bakso tusuk dan berbagai makanan ringan lainnya.
Iya bermain dengan Taeyong hanya sampai depan rumah sebelum ia berlari masuk ke dalam rumah lagi karena mules.
Perutnya masih anti makanan pedas.
Itu belum seberapa.
Pernah mendengar istilah jika suami yang mengalami morning sick maka hal itu menandakan sang suami benar-benar mencintai istrinya. Awalnya Luhan bahagia dengan istilah barusan, walau cemas karena Sehun sempat mual sampai lemas untuk beberapa hari paska kehamilannya. Senyumnya kerap terkembang setiap mengingat momen tersebut. Namun setelah memasuki bulan ketiga, mual Sehun sudah hilang dan tergantikan dengan momen mengidam.
Iya, Sehun yang mengidam bukan Luhan.
Suatu pagi Sehun pernah membuat Luhan hampir menangis karena melihat suaminya tiba-tiba suntuk sendiri. Pagi yang awalnya tenang dan damai berubah menjadi biru karena Sehun mendadak menolak minum susu dan minta kopi. Sejak Luhan hamil, mereka berdua tidak menyimpan kopi lagi sedangkan Sehun anti mengecap rasa pahit.
"Sayang, ada apa denganmu?" tanya Luhan sambil mengelus kepala Sehun yang tengah menelungkup di meja makan.
"Aku mau kopi."
Luhan menggeleng tak percaya. Suaminya merajuk karena ingin kopi.
"Tapi kita tidak punya kopi. Mau minta Ten saja?"
"Tidak!" Luhan terkejut dengan Sehun yang menjawabnya begitu.
Kalau begini, seperti bukan ia yang hamil tapi Sehun. Memilih untuk duduk di sebelah suaminya, Luhan mencoba menenangkan Sehun agar mood nya kembali normal. Meskipun Sehun yang merajuk itu lucu tapi kalau baru jam segini ia sudah ngambek malah membuat Luhan khawatir jika nanti Sehun akan melalui harinya dengan buruk. Saat sedang merenung demi menemukan cara membuat sang terkasih kembali bersemangat, tiba-tiba secara mengejutkan Sehun beranjak menuju kamar dan muncul lagi dengan dompet juga kunci mobil.
"Ayo temani ke Starbuck saja."
Jadi pagi itu mereka pergi ke kedai kopi berlogo kepala perempuan dengan Luhan yang masih pakai baju tidur sementara Sehun terus bersenandung riang. Ia menggumamkan kata kopi-kopi-aku-minum-kopi dengan wajah bahagia. Sesekali ia bahkan mencium Luhan gemas lalu bernyanyi lagi. Tiga puluh menit perjalanan damai akhirnya mereka tiba, Sehun segera mengarahkan mobilnya menuju drive thru. Walau ia masih heran entah apa yang merasuki suaminya, Luhan mencoba memberi sugesti pada dirinya jika Sehun sudah dewasa.
Sehun baik-baik saja.
Ia sudah besar, seleranya berubah menjadi selera bapak-bapak mungkin.
Setelah ini mereka tidak akan stok susu sebanyak sebelumnya. Ia bisa menikmati kopi pagi dan sore bersama sang suami.
Ah, perubahan yang menyenangkan.
Iya sampai ia mendengar menu yang suaminya pesan.
"Venti iced americano 4 shot espresso 1 ya." Mendengar kata espresso, mata Luhan membulat sempurna. Mencoba mengingat apa yang baru saja suaminya katakan membuat Luhan yakin Sehun sudah kerasukan. Suaminya tidak suka pahit, selera bayi dan sekarang minum segelas americano dengan 4 shot espresso?!
Wajah Sehun terlihat begitu bahagia begitu pesanannya tiba. Ia bahkan menggoyangkan pundaknya ke kiri dan kanan dengan kepala bergoyang riang sembari menyedot minumnya.
"Aaah, ini enak. Kamu mau coba?" Berdoa agar ia dan calon anak mereka baik-baik saja, Luhan mencoba sedikit minuman Sehun dan setelahnya Luhan menangis karena rasa pahitnya.
Tuhan, suamiku kerasukan apa? Huhu.
Keanehan tingkah Sehun selama Luhan mengandung memang tidak ada habisnya. Memasuki usia kandungan ke 8 bulan, pria kesayangan Luhan itu punya kebiasaan baru lagi. Sering menangis sendirian di ruang tengah setiap akhir pekan karena menonton kartun Jepang. Aktivitasnya yang satu ini tidak boleh diganggu gugat. Mulai dari jam delapan sampai jam sepuluh pagi, Sehun akan duduk manis di ruang tengah sembari menonton tayangan sasageo sasageo. Minggu berikutnya ia menonton film-film dari negeri Sakura tersebut. Selepas jam 10, Sehun akan kembali seperti semula hanya saja ia mulai berangan yang aneh-aneh
Seperti sekarang misalnya.
Merebahkan kepalanya di Pundak Luhan, Sehun bergumam ingin memberi nama anak mereka 'Mikasa.' Alasannya karena Mikasa itu kuat, cantik, Tangguh walau bodoh dalam cinta. Ia bahkan rela menghabisi orang yang ia sayangi untuk kedamaian dunia meski berakhir dengan sendirian.
"Aku lebih setuju jika diberi nama Sakura saja Hun. Biar jadi ahli pengobatan." Luhan hanya tahu Sakura kekasih Sasuke.
"Jangan, nanti dia miris harus menunggu kekasihnya bertahun-tahun."
"Tapi Sakura di Tsubasa Reservoir Chronicles malah kekasihnya yang berjuang."
Luhan terkekeh mendengar gerutuan Sehun atas idenya barusan. Memang sih mereka berdua belum punya pembicaraan khusus terkait siapakah nama bayi mereka kelak. Mereka saja sama-sama memilih untuk tidak mencari tahu jenis kelamin sang bayi untuk memberikan kesan kejutan selain karena bagi keduanya jenis kelamin bukanlah hal yang begitu penting.
"Lu,"
"Iya sayang?"
Luhan sudah was-was menunggu kelanjutan omongan Sehun. Prianya ini pasti akan mengeluarkan hal-hal aneh lagi,
"Kalau anak kita laki-laki, ayo panggil dia Hachiko."
-kan.
Terpujilah wahai ibu hamil kita dengan segala bentuk kesabaran yang ia miliki. Kalau boleh, Luhan bisa kok mengigit Sehun atau memarahinya karena kesal dengan ide kurang ajar Sehun yang ingin menamai anak mereka dengan nama anjing. Memang sih arti Hachiko itu baik, lekat dengan keberuntungan. Tapi tokoh Hachiko yang paling terkenal adalah anjing.
Tapi memarahi Sehun tidak akan mengubah apapun. Pria itu hanya akan sakit hati karena penolakan atas idenya. Ia lebih membutuhkan pengertian, pemahaman perlahan. Luhan seperti belajar mengasuh anak sebelum punya anak.
"Sayang, aku sebenarnya tidak masalah nama anak kita mau menggunakan Bahasa apa ataupun berasal dari karakte apa. Tapi kalau Hachiko, nanti anak kita terkenal sebagai anjing shibuya. Kamu mau?"
"Tidak sih."
"Nanti kita cari lagi ya nama-namanya. Siapa tahu nanti ketemu nama yang cocok dan bagus buat anak kita. Ok?"
Luhan hanya mengerjab kaget dan tertawa bersama Sehun yang baru saja memberikannya ciuman gemas.
Dan masih banyak lagi tingkah lucu Sehun selama masa kehamilannya. Meski begitu, Sehun termasuk seorang suami siaga baginya. Ia cepat tanggap, cekatan dan amat sangat peka juga perasa. Luhan tidak perlu menyuarakan dua kali apa yang tengah ia rasakan, cukup mendekat pada Sehun dan menyatakan apa yang sedang ia rasakan maka Sehun akan mengobatinya. Melimpahkan cinta kasih padanya, menyayanginya dan anak mereka, mengelus lembut punggungnya saat lelah, memijat kakinya yang mendadak bengkak, mengusap kepalanya saat tidur atau menghujaninya dengan ciuman setiap ia menangis sedih.
Seperti malam ini, pria kesayangannya tengah tertidur sembari menggenggam tangannya seakan memberikan kekuatan untuknya. Mulas kontraksi ini telah berlangsung sejak tadi siang namun tanda-tanda buah cinta mereka akan keluar menyapa mereka belum terlihat. Badannya sudah teramat lelah dan sakit, kepalanya pusing dan ia berkeringat cukup banyak. Luhan bisa melihat bagaimana Sehun terus menerus mengucap doa di tengah rasa paniknya, bagaimana kesayangannya itu menangis dalam diam sembari memberikan kekuatan untuknya.
Ya, hari ini Luhan tengah berjuang untuk membawa buah cinta mereka ke dunia. Jadi mari kita doakan semoga sang ibu dan si buah hati selamat dan sehat!
.
.
.
365 (After Marriage) chapter 14 officialy END
..
HALO! Waah sudah berapa lama ya kita tidak bertemu huhu. Mungkin ini akan menjadi chapter terakhir 365 di ffn karena setelah pertimbangan aku akan melanjutkannya ke wattpad saja. Bukan karena apa sih, tapi aku lebih aktif di sana ehe jadi sampai jumpa di dunia oren ya!
