William selalu berkata padanya, tentang dunia ini. Terkadang ia berpikir kapan kakaknya lelah mempelajari tentang segalanya, termasuk dunia yang kacau dan hancur. Namun berkali-kali pun memikirkannya, ia tak pernah mendapatkan jawabannya.
Dia adalah kakak yang baik, terutama bagi Louis. Siapapun akan berpikiran seperti itu, terutama ia yang senantiasa berada di samping William setiap saat.
Ah, atau mungkin sebaliknya?
Lelah dan Permen
Yuukoku no Moriarty belong to Takeuchi Ryousuke Miyoshi Hikaru
For Event #SellSweets2EarnLove
Enjoy the Reading!
Kala itu Louis menghela nafas. Lelah dengan hidupnya yang selalu merepotkan banyak orang dan menjadi tak berguna. Mungkin dunia saja lelah melihatnya. Berpenyakit dan tidak berguna, dua kata itu saja sudah seharusnya membuatnya di cap tak layak hidup.
William yang menyadari itu mendekatinya dan terduduk di sampingnya. Lalu tersenyum kecil.
"Louis." panggilnya, "Sesekali lelah itu tak apa. Dan jika kau lelah, tutuplah mata mu. Karena saat membukanya, kau pasti merasa lebih baik."
Saat itu Louis hanya terdiam, lalu mengangguk. Ia tak pernah berpikir dampaknya cukup besar bagi ketenangan, namun setelah beberapa kali mengikutinya, ia mengerti.
Hari valentine merupakan hal terburuk yang pernah ada, bagi Louis. Permen-permen dan coklat berjajar rapi di etalase toko. Memancarkan harum khasnya, menggoda untuk dibeli. Sayangnya, lelaki kecil itu hanya bisa menghela nafas di samping toko-toko itu. Ia tak akan mengatakan atau bertingkah seperti menginginkannya, kakaknya akan sangat kerepotan jika uang makan mereka habis hanya untuk satu atau dua biji permen.
Dia terus menunggu di samping toko permen itu. Kakaknya, William, pergi untuk membantu salah satu pegawai toko roti di depannya. Karena tak ingin membantu, akhirnya Louis memilih terduduk diam di sana.
Beberapa saat, William keluar dari toko itu dengan membungkukkan badannya, lalu menghampiri Louis, "Louis. Maaf lama. Seharusnya kamu tunggu di dalam saja..."
Ia menggeleng pelan, "Tidak, Nii-San. Aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong bagaimana?"
"Lancar, kok," William tersenyum simpul, kemudian melirik toko permen di sampingnya, "Louis... Mau coba permen?"
"Eh?"
"Kebetulan aku mendapatkan bonus dari penjual tadi... Kau mau 'kan?"
Louis menunduk, bergumam dengan suara kecil, "A-Aku ikut kata Nii-San saja..."
"Baiklah. Ayo!" William menariknya ke dalam toko itu.
Lampu-lampu lentera terpasang rapi di setiap sudutnya. Etalase kaca yang di dalamnya terdapat berbagai macam coklat dan permen menjadi pemandangan luar biasa bagi Louis, setidaknya untuk tahun ini.
William terkekeh kecil, "Kamu mau yang mana?"
"Aku ikut Nii-San saja..."
"Sesekali pilihlah yang kau inginkan, Louis."
"A-Ah..." matanya sempat melirik kotak coklat berpita biru, namun segera beralih ke tumpukan permen yang dijual satuan, "M-Mungkin yang ini?"
"Kau yakin hanya beli satu–?"
"Ah! Kau anak yang kemarin ya?" Penjual manisan itu melirik William, "Aku benar-benar berterima kasih untuk kemarin. Ah, kau ingin coklat? Atau permen? Ayo ambil sesukamu sebagai balasan kemarin."
Louis mengerjap, lalu melirik kakaknya, "A-Ano... Terima kasih."
Mereka berdua keluar dengan membawa satu kotak coklat dan beberapa permen. Louis menatap kagum isi plastiknya. Setidaknya tahun ini bukanlah terburuk, atau mungkin yang terbaik jika dibandingkan sebelumnya.
"Syukurlah ya, Louis." William mengelus surai adiknya pelan, "Aku selalu menyayangi mu. Jadi mulai sekarang sayangilah dirimu sendiri."
"Nii-San..." Louis menatapnya, lalu mengangguk dan tersenyum cerah, "Uhm!"
• • •
Beberapa tahun setelahnya, kini Louis kembali ke toko tersebut. Tentunya di sapa dengan baik dengan pemiliknya. Berjalan setelahnya, dan pulang ke rumah. Mendapati kakaknya yang tertidur di peristirahatan nya.
"Kau lelah ya, Nii-San?"
Louis terus saja mengelus surai pirang lelaki itu yang kini tertidur di pangkuannya. Mata yang selalu menatapnya lembut, senyum di bibirnya kini tertinggal. Benar, William lelah. Ia ingat nasihat kakaknya dulu, dan mungkin sekarang William terlalu lelah. Namun tak apa, kini ia akan tertidur dan berisitirahat tanpa ada yang membangunkannya lagi.
"Ya. Beristirahatlah selamanya. Nii-San."
Akhirnya saya bisa ngetik fic di fandom ini dengan dua ide yang mungkin tidak nyambung tapi masih aja saya sambung-sambungin.
Saya harap kalian suka.
-Aka72216
