Hari yang cerah untuk Liyue. Seperti biasa, melakukan ekspedisi di Liyue adalah rutinitas pemuda pembersih roh jahat bernama Chongyun. Yang berbeda hanyalah tubuhnya yang semakin terbentuk dan tinggi badan di atas rata-rata penduduk Liyue. Rambut yang senada dengan langit siang yang cerah diikat agar tidak mudah diterpa angin. Jaket putih yang dulunya selalu ada untuk menutupi tubuhnya, kini enggan menyesuaikan volume tubuh yang bertambah. Hanya dalaman hitam dan sarung tangan hitam yang panjangnya sampai ke lengan, mengikuti lekuk hasil latihan ekstrem nya.
Ekspedisi adalah hal yang menyenangkan, ditambah dengan kehadiran teman yang selalu ada di sisi nya. Belajar dari salah satu pengelana yang sempat mengunjungi negara nya dengan tujuan yaitu mencari saudara nya yang hilang, petualangan akan lebih menyenangkan jika ada seseorang yang menemaninya. Ucapan itu memang benar. Kehadiran sosok pemuda yang sedang tidur di pangkuannya, tenang bersama novel yang ia bawa, adalah bukti satu-satunya.
Sepasang netra biru nya menatap wajah temannya yang sedang serius membaca. Hatinya menghangat melihat dua pemandangan indah di waktu bersamaan. Kolam Luhua dengan pantulan cahaya mentari dan temannya. Chongyun, lagi-lagi bersyukur kepada Rex Lapis karena telah melindungi Liyue sehingga ia bisa hidup dan bertemu dengan wajah temannya.
Angin meniup lembut ke arah mereka yang sedang berteduh di bawah pohon besar. Salah satu tangan Chongyun menutupi celah buku agar debu tidak masuk ke sepasang netra bak cor lapis yang selalu ia dapatkan di Gunung Hulao. Pemuda itu, Xingqiu namanya, memunggungi angin yang menyapa nya. Posisi kali ini wajahnya mengarah ke tubuh Chongyun, bukunya ia sandarkan ke perut sahabatnya.
Chongyun dapat melihat jelas wajah dari sahabatnya. Tatapan fokus terlihat di balik buku (buku pun tak bisa menutupi wajah Xingqiu dari pandangan Chongyun), ia tahu bahwa Xingqiu sedang berada di dunia nya sendiri. Tangan pemuda pembersih roh jahat itu memainkan helaian surai hijau gelap yang sudah tumbuh panjang. Beberapa ia taruh di belakang telinga sahabatnya, terlihatlah anting emas buatan tangan Chongyun yang menggantung di daun telinga nya.
Anting lama sudah rusak akibat pertempuran mereka menghadapi Abyss Mage. Chongyun dengan tangan terampilnya memberikan anting buatan tangan sebagai hadiah ulang tahun Xingqiu.
Jemari kasar milik surai langit siang itu kini berpindah di sisi wajah sahabatnya. Mengelusnya dengan lembut dan penuh kasih. Kulit pemuda tersebut terlihat bersih. Kini Chongyun mengerti alasan para kaum hawa Liyue merasa iri dengan penampilan anak bungsu pemilik Serikat Dagang Feiyun di pangkuannya. Seketika ia teringat bunga sutra yang duduk sopan di sampingnya, yang sempat Xingqiu petik di pelabuhan sebelum mereka berangkat. Ia pun mengambil salah satu dari mereka dan menaruhnya di belakang daun telinga Xingqiu. Bunga itu layak diam di sana.
Perlahan, ibu jari miliknya menuju ke bibir bawah sahabatnya. Sedikit ragu untuk menyentuh bibir ranum itu, namun ia tetap melakukannya. Kejadian satu tahun lalu pun terlintas di pikirannya. Mengingat kepercayaan dirinya yang tiba-tiba meningkat ketika dirinya mengungkapkan perasaan kepada sahabatnya sendiri. Pertemuan dua bibir pun menjadi jawaban dari sahabatnya. Tidak lupa dengan makian Ayah dari sahabatnya yang sempat menolak pemuda itu untuk meminang anaknya. Karena di saat itu, Xingqiu diwajibkan untuk bertunangan dengan ilmuwan dari Mondstat demi nama serikat dagang Ayahnya. Beruntung nama Chongyun juga baik di seluruh penjuru Liyue. Chongyun pun diberi kesempatan untuk mengambil hati anak bungsu dari pria tersebut dengan syarat yang berat untuk Xingqiu.
Si bungsu tidak boleh berurusan lagi dengan serikat dagang milik Ayahnya. Tidak ada warisan untuk Xingqiu. Pemuda menawan itu tidak keberatan dengan syarat tersebut. Namun Chongyun yang merasa hatinya remuk ketika mendengarnya. Niat membahagiakan ke orang yang ia cinta malah menghasilkan sebaliknya.
"Chongyun, sayangku." Satu kecupan dari teman hidupnya mendarat di ujung ibu jari milik Chongyun. Ia kembali dari pikirannya.
"Hm?"
"Kau tidak bosan melihat wajahku terus? Kolam Luhua akan cemburu terhadapku."
"Siapa bilang aku tidak bosan? Aku dari tadi sudah memberi mu kode untuk melanjutkan perjalanan." Sentilan kecil mendarat di dahi Xingqiu. Pemuda yang menjadi korban mengeluarkan suara kecil kesakitan yang membuat Chongyun selalu ingat dengan doa ke dewa sebelum tidur dan bertemu dunia di hari selanjutnya.
Astaga, Tuhan, izinkan aku untuk mengikatnya ke dunia ku.
"Kita baru berhenti satu jam. Kaki ku merasa waktu nya kurang, sayangku."
"Manja."
"Xingqiu yang manja ini adalah Xingqiu yang kau cintai. Hadapi itu."
Dia tidak salah. Chongyun tetap akan mencintai pemuda itu sampai napas terakhirnya. Bahkan ia akan menunggu pemuda itu sambil membangun rumah untuk mereka di surga.
"Ayo bergerak, Xingqiu." Chongyun merebut novel milik Xingqiu. Tak lupa ia menandai halaman agar pemuda di pangkuannya tidak mengeluh karena lupa dengan jalan cerita di dalamnya.
"Kau yakin tidak mau membuat tenda di sini untuk satu malam? Kau bisa melihatku bergetar di bawahmu ketika kita bercinta."
Chongyun langsung menutup mulut pemuda itu dengan tangannya. Wajahnya memerah akibat ucapan vulgar yang keluar dari sana. "Astaga…" tarikan napas dalam dilakukan sebelum melanjutkan pembicaraannya. "Walaupun konotasi, ucapanmu sangat kotor, tuan muda."
"Aku bukan tuan muda lagi, kau ingat?"
"Kau tetap tuan muda yang nakal dan manja di mataku." Ucapnya sambil mengangkat tubuh Xingqiu dari pangkuannya. Xingqiu duduk langsung menyentuh rerumputan. Tidak lama kemudian, punggung lebar Chongyun menyambut sepasang netra milik Xingqiu. Ia bingung dan bertanya. "Kenapa kau membelakangi ku?"
"Aku memberimu tumpangan, tuan muda yang manja." Xingqiu yang mengerti langsung menerima jasa gendong dari Chongyun. Kedua kaki Xingqiu dipegang oleh Chongyun agar tidak jatuh dari punggungnya. Pemuda yang menggendongnya pun berdiri dan melanjutkan perjalanan mereka.
"Kau yakin tidak ingin bercinta denganku?" Tanya Xingqiu iseng. Ia bisa melihat leher dan telinga Chongyun memerah ketika mendengar hal tersebut.
"Aku sudah janji kepada Ayahmu untuk tidak menyentuhmu sebelum kita menikah."
"Emangnya dia peduli?"
"Janji tetaplah janji, Xingqiu." Ucapnya menasihati. "Kau fokus saja untuk meningkatkan stamina. Aku ragu kau akan kuat bersama ku ketika nanti kita beraktivitas di ranjang."
Xingqiu tidak sengaja membayangkan hal yang kotor di kepala nya. Wajahnya memerah, beruntung Chongyun tidak melihatnya. Pemuda dari sekolah Guhua itu memukul kuat punggung pemuda yang menggendongnya. Chongyun sebagai korban merintih kesakitan.
"Ow, Xingqiu! Aku bercanda!"
"Bercandaanmu keterlaluan!"
"Hei ja-jangan bergerak di belakang sana. Mau aku jatuhkan ke kolam?"
"Emangnya kau berani untuk melukai ku?"
Chongyun bersumpah ia akan membunuh orang yang melukai teman hidupnya walaupun itu adalah dirinya sendiri. Namun ia tak perlu menjawab pertanyaan itu. Xingqiu pun tidak meminta jawabannya.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka bersama dengan hembusan angin serta dedaunan yang menari di udara. Perjalanan menuju Desa Qingce akan memakan waktu yang lama.
FIN
