Each day, I play the role of someone always in control.

Hidup ini selalu berjalan sesuai dengan takdir masing-masing dan pria itu tahu betul takdirnya sebagai anggota Bunke Hyuuga.

Tidak ada yang penting di dunia ini kecuali menggapai mimpinya untuk lepas dari kutukan yang menghiasi dahinya; tidak ada yang boleh menghalangi dan menganggu rencananya.

Setidaknya itulah makna hidup bagi Hyuuga Neji. Sejauh ini, tidak pernah ada satupun yang berjalan diluar takdir yang sudah dia perkirakan.

Kecuali dua hal.

Pertama, ketika dia kalah dari seorang Uzumaki pirang yang dengan berisik menceramahi pandangannya tentang hidup dan takdir. Bukan berarti dia tidak menerimanya, toh sejak saat itu akhirnya seorang Hyuuga yang sombong dan selalu memandang rendah orang lain perlahan-lahan mulai terkikis dan memutuskan untuk mencoba membuka diri kepada orang lain.

Sebuah keputusan yang membawanya pada perputaran takdir yang kedua.

Sebuah entitas yang meleset dari perhitungan Neji yang penuh pertimbangan. Pertemuannya dengan kunoichi pirang yang tidak pernah diduga masuk dalam hidupnya dan siap untuk membelokkan semua takdir yang sudah dia perkirakan.

.

.

.

BLAME: Neji's story

A Sequel for BLAME.

Disclaimer: Naruto belongs to Masashi K.

Story: KEY.

For #INOcentVE21 #INOcentDYE20

Prompts: Takdir

Inspired from a song by Whitney Houston, Run to You

Warning: Semi-Canon. NEJI-Centric. Written in 2018

.

.

I know that when you look at me, there's so much that you just don't see.

Tidak ada yang spesial dari Yamanaka Ino kecuali gadis itu berisik dan suaranya membuat kepala Neji sakit. Neji bahkan baru mengetahui nama Ino ketika perempuan itu berkunjung ke kediaman Hyuuga untuk menjenguk Hinata. Rambut pirang gadis itu membantu Neji mengingat eksistensi Yamanaka di hidupnya, sebuah ingatan yang kurang menyenangkan: ujian genin, hutan kematian, rambut pirang, rayuan.

Pertemuan tidak sengaja di kediaman Hyuuga itu cukup canggung bagi kedua belah pihak. Ino hanya terdiam di ujung koridor dengan tangan memegang kotak, sepertinya kotak obat, sementara Neji yang kebetulan melintas juga mematung mendapati mahluk asing di kediamannya. Neji hanya tersenyum kaku dan menunjukkan kamar Hinata, mencoba bersikap sopan sebagai tuan rumah, lalu bergegas kembali ke ruangannya untuk bermeditasi.

Tidak ada ramah tamah, tidak ada teh dan sajian, tidak ada percakapan lanjutan.

Entah mengapa intuisi Neji mengatakan jika Ino membenci dirinya, setidaknya gadis itu masih bertindak rasional untuk tidak menyambar kepalanya dengan kunai. Bukan berarti Ino dapat melukainya, toh pada kenyataanya untuk menyentuh hakama-nya saja, Neji yakin gadis itu tidak mampu. Namun mata aquamarine itu tidak dapat membohongi siapapun. Determinasi di mata biru itu membara setiap kali Neji ada di sekitar, lalu dalam sekejap mendadak gadis itu menghilang entah kemana.

Hal tersebut sudah berlangsung selama 4 tahun, waktu yang cukup lama untuk membuat Neji terbiasa.

Seharusnya begitu.

Namun entah mengapa, akhir-akhir ini hal tersebut begitu mengusik ketenangan Neji.

Bukan, bukan berarti Neji mengemis dan menjilat ludahnya sendiri ketika menghina Ino dulu. Bukan juga Neji menyalahkan gadis itu yang selalu memandangnya sengit - lebih seperti merendahkan- lalu selalu menghilang sekejap mata sekalipun mereka ada di ruangan yang tertutup.

Perkatan Neji dulu membuat Ino memiliki hak untuk marah bahkan mungkin membenci dirinya.

"Enyahlah. Aku tidak ada niat untuk bertarung dengan gadis bodoh dan lemah yang hanya memikirkan rambutnya saja."

Brengsek.

Satu kata itu cukup menggambarkan dirinya saat itu. Neji adalah orang pertama yang seharusnya menyadari bahwa Ino tidak benar-benar mencoba merayunya. Itu hanyalah taktik dari tim lawan untuk membuat dirinya lengah. Selama 4 tahun bermeditasi, Neji mencoba membela diri dengan meyakinkan bahwa saat itu dirinya hanya menyatakan realita yang ada (meskipun terlalu kasar), karena siapapun tahu tidak ada shinobi yang betu-betul kompeten dengan rambut se-halus dan badan se-kecil itu.

Selama empat tahun terakhir, Neji mencoba menghormati Ino. Jika gadis itu tidak ingin berbicara dengannya, atau dalam kasus yang terburuk benar-benar ingin menyambar kepalanya dengan kunai, maka dia juga akan bekerjasama dengan tidak memberikan sinyal apapun mengenai permohonan maaf atau niat untuk memulai pertemanan.

Namun tetap saja, di tengah kesunyian malam, Neji menyadari betapa hal tersebut terasa salah. Sikap Ino entah mengapa membenarkan pendapat orang-orang tentang dirinya selama ini, yaitu seorang pelayan keluarga utama Hyuuga yang sialnya dianugerahi paras dan kepintaran jauh diatas shinobi pada umumnya namun sombong dan selalu memandang rendah orang lain.

Sungguh, dirinya sudah banyak berubah. Setidaknya Neji sudah mencoba mengontrol emosinya dan mencoba menghargai orang lain yang berbeda pendapat dengannya.

Tapi, apakah mungkin mengubah kesalahpahaman yang sudah tertanam begitu lama?

.

.

But at night I come home and turn the key, there's nobody there, no one cares for me.

Sejak Neji lahir, pria itu sudah mendengar ribuan ucapan betapa kelahirannya adalah anugrah bagi keluarga mereka. Ah, salah… Neji bukan hanya anugerah bagi ayah dan ibunya. Dia adalah anugerah bagi anggota Bunke, keluarga cabang Hyuuga yang berfungsi menjadi pelayan Souke.

Neji terlahir lebih unggul. Sejak kecil, dia sudah berada diatas seluruh klan Hyuuga, klan lain, dan bahkan semua ninja pada seusianya. Neji adalah jenius dari klan Hyuuga dan semua orang tahu kenyataan ini. Dia adalah contoh sempurna dari darah Hyuuga yang mengalir kental dan calon sempurna untuk memimpin klan mereka.

Neji adalah orang yang akan mengubah Hyuuga di masa depan. Tapi dia hanyalah anggota keluarga cabang dan kenyataan ini membuat keluarga utama ketakutan.

Mereka sangat takut pada kemampuan Neji dalam segala hal. Mereka tahu seberapa besar kekuatan yang Neji miliki dan hal itu terlihat jelas sejak dia kecil. Neji dapat mengaktifkan Byakugan secara sempurna pada usia enam tahun, menguasai semua teknik dasar pada usia tujuh tahun dan mengungguli sebagian besar anggota keluarga utama pada usia delapan tahun.

Neji bisa saja lulus dari akademi pada usia sembilan, menjadi chuunnin pada usia sepuluh, menjadi jounin pada usia dua belas, dan menjadi kapten Anbu pada usia empat belas. Namun, tetua klan sudah memprediksi ini sebelumnya. Desa pun diam-diam sudah memberi pengawasan lebih agar tidak tercipta Uchiha Itachi kedua. Mereka mengira Neji hanyalah seseorang yang sombong, terlalu percaya diri, dan haus akan kekuatan. Mereka berpikir dengan mengikat Neji, mereka sudah menaklukannya.

Mereka tidak sadar… jika Neji sebenarnya sangat marah.

Segel hijau di kepalanya, itu hanyalah simbol penahanan. Neji bisa saja membebaskan diri jika mau, namun dia hanya menunggu waktu; menunggu waktu yang tepat ketika semua Hyuuga bisa tunduk di bawah kakinya sekaligus.

Itulah satu-satunya cara Neji untuk mengubah Hyuuga seluruhnya. Dimulai dari merencanakan kepindahannya ke keluarga utama dengan menikahi pewaris utama lalu segelnya akan otomatis terlepas dan dia akan naik menjadi pemimpin klan.

Bukan hal yang sulit, meraih kepercayaan Hinata yang sejak kecil sudah mengikutinya kemana-mana adalah hal yang mudah. Namun, meraih hati gadis itu lain ceritanya. Mata Hinata sudah tertancap pada ninja berisik yang mendatangi Neji dan bersumpah untuk mengalahkannya dengan darah Hinata di tangan. Sejak awal Neji tahu jika Uzumaki Naruto akan menghalangi seluruh rencananya. Bocah pirang itu terlalu berisik, terlalu bebas, terlalu keras kepala, dan terlalu… menyilaukan.

Neji tidak akan pernah lupa pemandangan burung yang terbang bebas ketika dia terbaring kalah saat ujian chuunin. Neji tidak akan pernah lupa kata-kata Naruto yang akhirnya memutar takdirnya,

"Jangan mengeluh tentang takdir atau bagaimana kau tidak bisa mengubah takdir dan semua hal bodoh itu. Kau bukan orang yang gagal sepertiku."

Kata-kata itulah yang teringat ketika matanya menangkap bayangan pirang yang menyilaukan di perayaan promosi Jounin. Empat tahun berlalu dan Neji pikir sudah saatnya menghentikan permusuhan kekanakan mereka.

Karena itu, Neji tidak akan pernah lupa mata biru lawan bicaranya yang berkedip beberapa kali dengan canggung ketika kakinya menghalangi gadis itu kabur, dan Neji tidak akan pernah lupa jantungnya yang berdebar begitu keras ketika mulutnya berkata, "Halo, Yamanaka."

.

.

But if you would only take the time, I know in my heart you'd find;
A boy who's scared sometimes,

Dua kata itu cukup untuk mencairkan seluruh ketegangan yang terjadi selama empat tahun ke belakang. Di luar dugaannya, Ino bukanlah gadis yang keras kepala seperti Sakura Haruno, atau terlalu berisik seperti Tenten, atau terlalu ikut campur seperti Kurenai. Menurutnya, Ino hanya terlalu banyak mengamati sehingga memiliki ribuan cerita yang bisa diceritakan dalam satu waktu.

Neji juga mengakui jika Ino merupakan ninja yang cerdas. Pengetahuannya yang luas mengenai tanaman medis sangat menarik hingga Neji tanpa sadar menawarkan diri untuk mengantar Ino pulang karena ingin mendengar lebih jauh.

Satu tahun berlalu sejak kejadian Neji mengantarkan Ino pulang, setiap malamnya mereka selalu bertemu. Di sudut balkon kamar gadis itu, di celah antara jendela dan atap, satu tempat yang sudah Ino pastikan tidak akan dilihat oleh siapapun, disitulah mereka akan duduk. Tidak banyak yang dilakukan. Sesekali ketika Neji baru pulang misi, dia akan mengetuk jendela Ino dan menunggu gadis itu keluar. Ino akan mengobati lukanya dan bertanya mengenai misinya. Pada malam lain, Neji akan dengan sabar mendengarkan keluhan Ino yang frustasi dengan pekerjaannya.

Mengapa? Neji juga tidak mengerti.

Mereka sangat berbeda. Ino berisik, dicintai, dan populer. Neji tidak banyak bicara, dibenci dan ditakuti. Semua orang ingin berteman dengan Ino. Semua orang menjauh dari Neji. Ino tidak terlalu kuat, sementara kekuatan Neji adalah kutukan.

Namun, Neji tahu mereka persis sama.

Dibalik suara gadis itu yang keras, ada kepahitan, ada senyuman palsu, ada kata-kata yang tidak terucapkan, ada amarah yang terpendam; Neji dan Ino terhubung melalui itu.

Semua orang menginginkan mereka sebagai pasangan ideal, tapi mereka menginginkan satu hal yang tidak bisa mereka miliki ; yang satu menginginkan wanita demi menjalankan tugas keluarga namun wanita tersebut tidak pernah jatuh dalam perangkapnya, yang satu menginginkan pria impiannya sejak kecil namun pria tersebut tidak pernah jatuh dalam pesonanya.

Karena itulah mereka saling mencari, karena mereka saling memahami.

"Karena kau memiliki banyak bekas luka,… karena kau ditinggalkan," Ino menundukkan wajahnya menatap Neji, "Itulah sebabnya kau bersembunyi sendirian setiap hari."

Ino mengelus dahi Neji yang sedang berbaring di lututnya. "Aku akan mencocokkan langkahku denganmu yang lebih lambat daripada yang lain, Neji. Jadi kau tidak perlu sendirian lagi."

Seperti itulah pertemanan mereka. Neji akan membantu Ino menjadi lebih logis, Ino akan memberi masukan agar Neji menjadi lebih manusiawi.

Mereka saling menghormati kehidupan pribadi masing-masing. Ino menjaga untuk tidak menginterogasi tentang perasaannya pada Hinata, Neji menjaga untuk tidak menyinggung apapun tentang Sasuke Uchiha. Mereka tidak saling menyapa ketika berpapasan karena akan sangat rumit menjelaskan kepada orang-orang mengapa mereka yang terlihat bermusuhan sejak kecil tiba-tiba menjadi dekat.

Terkadang ada ejekan, sarkasme, rahasia-rahasia kecil, dan tawa tertahan yang terbagi di malam hingga menjelang pagi.

Seperti itulah hubungan mereka selalu sederhana, tidak rumit, dan sangat ringan ... sampai akhirnya tidak lagi.

Di suatu saat, pada titik tertentu, Ino mulai berhenti mengingatkan jika hari sudah pagi dan Neji mulai berhenti untuk pergi. Pria itu meluangkan waktunya lebih lama hanya untuk memindahkan Ino yang tertidur ke kasur dan mendengar setiap dengkuran kecil yang Ino keluarkan saat tetesan sinar matahari mulai jatuh pada rambut keemasannya yang tergerai.

Tidak ada yang benar-benar berubah,

Satu-satunya perubahan adalah, Neji mulai mencintai Ino.

Dan itu sangat berbahaya, bukan karena sang pria adalah klan bangsawan Hyuuga sementara sang gadis adalah anggota klan non-bangsawan, tetapi karena Neji terjatuh dengan keras, cepat, dan dalam,…

… sementara Ino tidak.

.

.

I'm not always strong, but I love you.

Ini menakutkan.

Ini adalah jenis ketakutan yang seseorang rasakan saat merasa tidak berdaya. Ketika seseorang tidak memiliki kendali atas apa pun lagi, terutama dirinya sendiri. Ini menakutkan karena apakah mungkin takdir yang sudah diperkirakannya sejak kecil hancur dalam sekejap? Itulah kebodohan cinta.

Mungkinkah seseorang dapat takut pada dirinya sendiri, namun merasa aman pada saat yang bersamaan?

Itulah yang Neji rasakan saat ini, diselimuti oleh kegelapan dengan hanya sedikit cahaya bulan yang mengintip melalui tirai jendela. Udara di sekitarnya tenang, tetapi badai mengamuk di dalam dirinya. Matanya menatap kegelapan, bayangan menari-nari di seluruh penglihatannya.

Tarikan nafas teratur dari Ino membuat Neji kembali pada kesadaran. Neji menyelipkan sedikit rambut yang menutupi dahi Ino dan menarik selimut hingga batas lehernya.

Ino cantik, Neji tahu itu, tapi wajah yang tertidur itu membuat pendiriannya lengah. Tangannya berhenti di atas bibir Ino. Dorongan tiba-tiba untuk mencium gadis itu dan berbagi kasih sayang memenuhi diri Neji. Namun, ketakutan itu menghentikannya.

Neji sedang jatuh cinta, itu yang dia pahami, dan kenyataan bahwa gadis di sampingnya tidak memiliki perasaan yang sama membuatnya takut. Pada akhirnya, tidak peduli seberapa besar keinginan Neji untuk menjadikan Ino sebagai pendampingnya, Ino tidak pernah menunjukkan ketertarikan romantis apapun padanya, apalagi mengungkapkan keinginan untuk duduk menggunakan kimono setiap waktu dan tersenyum kaku di setiap jamuan makan Hyuuga.

Ino adalah definisi mutlak dari antitesis dan kebebasan, sementara klan Hyuuga bukanlah tempat untuk bunga liar tumbuh.

Sekali Ino tahu tentang perasaannya, segalanya akan berubah; rencana Neji menikahi Hinata dan juga mungkin pertemanan mereka, semuanya akan lenyap.

Apakah Ino akan memanfaatkannya seperti yang dilakukan oleh banyak orang? Apakah Ino akan meninggalkannya, seperti yang dilakukan banyak orang lain dalam hidupnya? Jantung Neji berdegup kencang memikirkan kemungkinan kehilangan Ino.

Ini adalah jenis cinta yang berbeda. Meski kedengarannya klise, perasaannya terhadap Ino tak pernah Neji rasakan pada perempuan lain. Belum pernah Neji merasa begitu ingin melarikan diri. Neji ingin pergi, menutup diri, dan fokus pada rencananya. Bukankah lebih bijaksana untuk menghentikan perasaan ini sejak awal sebelum tumbuh lebih kuat dari sebelumnya?

Apa yang telah kau lakukan padaku? Neji berpikir dengan senyum sedih di bibirnya.

Karena itulah Neji diam dan melanjutkan pertemuan mereka setiap malam tanpa memperjuangkan perasaannya, tanpa mencari tanda-tanda sekecil apapun, tanpa memikirkan kemungkinan-kemungkinan 'aku. kau. kita'.

Karena memilih Ino berarti memaksa gadis itu masuk dalam hidupnya yang kelam.

Dan sekali Ino masuk dalam hidupnya, gadis itu akan terjebak sebagai pelayan Souke selamanya.

.

.

What's the sense of trying hard to find your dreams without someone to share it with?

Pagi itu terlalu cerah untuk dimulai dengan ucapan selamat yang mengalir dari berbagai pihak. Belum sempat Neji menanyakan lebih lanjut, dia teringat akan janjinya untuk menemani Hinata bertemu Tsunade, dan ketakutannya menjadi nyata.

"Mereka semua sudah menyetujuinya."

Neji memandang gulungan kertas yang disodorkan oleh pamannya, Hiashi Hyuuga. Gulungan itu berisi cap persetujuan dari tetua Hyuuga untuk memindahkan Neji menjadi anggota Souke. Di samping gulungan, terdapat undangan pernikahannya dengan Hinata yang bertintakan emas.

Dengan dingin Neji memandang Hiashi, "Lalu inikah bayarannya? Hinata-sama?"

"Jangan sebut bayaran. Putriku tidak bisa dinilai dengan ini," Hiashi memijat kepalanya yang berdenyut. "Bukankah ini yang sudah kau rencanakan sejak dulu?"

Neji menahan keinginnya untuk mendengus. Jika sejak dahulu rencananya sudah ketahuan, tapi tidak ada yang mencoba menjauhkannya dari Hinata, bukankah berarti juga menginginkan ini sejak dulu? Tapi mereka masih juga memperlakukannya seperti pelayan?

Menjijikkan.

"Kau belum bertanya pendapatku."

Hiashi menggelengkan kepalanya. "Lebih cepat lebih baik agar tidak ada pihak yang berubah pikiran lagi. Ini pertama kalinya kami membiarkan seorang Bunke pindah menjadi Souke, dan bukan hanya itu, mereka bahkan berpikir untuk membuatmu menjadi pemimpin klan. Transisi ini sangat beresiko bagi keberlangsungan klan Hyuuga."

Neji tahu itu. Ini semua sudah diperhitungkannya dari kecil, serinci mungkin dia membuat semua kemunginan-kemungkinan yang akan terjadi. Ini adalah mimpinya. Hal yang dia usahakan sejak dahulu.

Tapi—

"Kau bukan sedang menjalin hubungan dengan seseorang kan?"

Ketika Hiashi mengatakan itu, bayangan Ino yang menahan air mata tadi pagi menari di kepala Neji. Gadis itu bahkan tidak mau menatap matanya lagi, persis seperti yang terjadi selama empat tahun kebelakang.

Mengapa gadis itu begitu sedih? Mungkinkah dugaannya selama ini benar? Mungkinkah selama waktu-waktu yang mereka habiskan, mereka pernah memiliki kesempatan untuk bersama?

"Itu bukan urusanmu."

"Ketika membicarakan putriku, itu menjadi urusanku. Sekarang, jelaskan padaku tanpa ada yang kau tutupi."

Neji terdiam.

Dia pikir ketika mimpinya tercapai, dia dapat melihat dunia lebih jelas dan hatinya akan lebih ringan. Neji pikir dia akan tertawa keras ketika akhirnya seluruh Hyuuga mengakui dan tunduk pada kakinya.

Namun saat ini, Neji tidak dapat melihat apapun. Dia tidak dapat memprediksi apapun.

Pernikahan. Pemimpin klan. Ino menghilang.

Gelap. Dunianya terlalu gelap.

.

.

I'm hurt and all alone

Neji mengelus surai pirang Ino yang tergerai bebas. Dapat dirasakannya nafas gadis itu yang terhembus beraturan mengenai dadanya yang tidak tertutupi kain. Faktanya, tidak ada satupun diantara mereka berdua yang sedang tertutupi kain sekarang. Hanya selimut dan dengkuran nafas mereka, namun itu sudah cukup membuat dada Neji meluap bahagia.

"Aku tahu tentang hubunganmu dengan putri Yamanaka."

"Apakah kau sanggup melepaskan seluruhnya hanya untuk gadis yang masih menginginkan pemuda Uchiha itu? apakah gadis itu membuatmu bodoh atau kau memang terlahir sebodoh itu?"

"Aku mendengar gadis itu secara khusus meminta pada Hokage untuk menjadi interrogator dan psikiater untuk Uchiha Sasuke."

Neji ingat merasa marah dan rendah. Mendengar kenyataan itu langsung dari mulut pamannya, seolah mengkonfirmasi jika dirinya memang terlalu bodoh pernah memikirkan untuk membuang mimpinya demi Ino disaat yang sama gadis itu sibuk memikirkan keselamatan pria lain.

Karena itulah Neji hilang kendali. Kepalanya berdenyut menyakitkan. Badannya terasa sakit. Hatinya terlalu sakit.

Dengan terhuyung, Neji menggedor jendela Ino. Teriakan demi teriakan mereka keluarkan. Pertengkaran yang terlalu kekanakan, apalagi jika mengingat mereka tidak pernah memiliki hubungan apapun selain pertemanan. Tapi ini terlalu sakit bagi Neji ketika mendengar Ino berkata untuk menghentikan seluruhnya dan kembali seperti dulu saat mereka tidak mengenal satu sama lain.

Tapi ketika tangannya mengelus surai pirang Ino, ketika mereka berpelukan untuk pertama kalinya, Neji tahu inilah yang dia cari. Dia dapat melihat masa depan dengan jelas dan hal itu bukan duduk sebagai pemimpin klan Hyuuga.

Saat itulah Neji tahu cara lain menghancurkan Hyuuga. Dengan memilih gadis yang dia cintai dan hidup bebas dengan pilihannya sendiri, itulah caranya menghancurkan kesombongan yang mengalir dalam darah klan Hyuuga.

"Aku akan menyelesaikan seluruhnya. Tunggu aku."

Tapi seharusnya Neji tahu, seorang gadis tidak akan pernah menunggu jika tidak ada kepastian.

.

.

I wanna run to you, I wanna run to you
Won't you hold me in your arms and keep me safe from harm?

"Aku mencintai Ino Yamanaka."

Tatapannya lurus mengunci para tetua Hyuuga di hadapannya yang kaget ketika pemuda Hyuuga yang menjadi pusat perhatian mereka berbicara. Ini seharusnya menjadi pertemuan untuk membahas perpindahan Neji dari Bunke menjadi Souke setelah menikah dengan Hinata.

Netranya menatap Hinata, yang secara mengejutkan hanya duduk diam tanpa ekspresi apapun. Neji mengeratkan jarinya saat para tetua Hyuuga memandangnya tajam.

"Omong kosong apa ini?"
"Yamanaka? Bukankah dia ninja dari klan biasa?"
"Bukankah gadis itu adalah calon kepala klan? Maksudmu kita akan membiarkan darah Hyuuga mengalir disana?"
"Hiashi, jelaskan apa yang terjadi!"

Kericuhan mulai terjadi. Berbagai gumaman dan teriakan memenuhi ruangan. Menahan keinginannya untuk tertawa keras, Neji membuka suaranya dengan tenang.

"Dan aku tidak akan pernah menikahi Hinata-sama, atau anggota Hyuuga, atau keluarga bangsawan lainnya karena aku hanya akan menikahi Ino Yamanaka. Hanya dia seorang dan tidak ada yang lain."

Tarikan nafas terdengar secara serentak dari seluruh orang yang berada di dalam ruangan ketika Neji mengeluarkan bom terakhirnya. Beberapa diantara mereka mulai berbisik-bisik seperti merencanakan sesuatu.

Tangan Neji terkepal erat.

'Dasar bodoh. Apapun yang kalian lakukan, aku tidak akan mundur. Aku dapat menyerahkan apapun kecuali hal ini'. Mulutnya terasa gatal ingin menyentak mereka semua namun untuk sekarang, hal ini sudah cukup. Neji akan mengurus sisanya setelah menemui seseorang yang sangat pria itu rindukan.

"arghh Hyuuga… benar-benar kau ya! Tanpa bermaksud menyakiti harga dirimu, aku tau kau tidak memiliki pupil di antara bola mata putihmu itu, tapi sekali lagi tangamu bergerak kesini dan membuat rambutku kusut, aku tidak keberatan membuat beberapa lubang di sana."

Neji tersenyum kecil. Tanpa sadar dia memandang lekat telapak tangannya yang entah sudah berapa lama tidak membelai surai pirang itu. Bahkan di tengah kekacauan seperti ini, hanya dengan mengingat sarkasme dan tawa Ino, akal sehatnya kembali bekerja.

Neji menatap Hinata yang sedang menutup matanya seolah mencoba menjaga suara agar tidak terlibat lebih jauh untuk menengahi kegaduhan yang terjadi. Pria itu bergerak menuju Hinata dan mengulurkan tangan untuk membantunya bangun lalu tanpa pamit dan bersuara, mereka berjalan keluar dari ruangan pertemuan.

Setelah langkah mereka cukup jauh dari rumah utama, Neji menghentikan langkahnya dan menatap kebelakang.

"Maaf."

Bola mata Hinata membesar ketika Neji tiba-tiba berlutut dengan kepala tertunduk. Tangan mereka masih bergandengan dan Neji semakin mengeratkan gengamannya saat melanjutkan permintaan maafnya, "Maafkan saya Hinata-sama. Untuk kali ini saja saya mohon… tolong maafkan keegoisan saya."

"Neji-nii…" desah Hinata tidak mampu menyembunyikan kesedihannya.

Ino Yamanaka dan Hyuuga Neji.

Dipikirkan berapa kalipun, Hinata tidak akan pernah bisa percaya. Namun seharusnya sejak awal gadis itu mempercayai intuisinya yang terusik setiap melihat Neji diam-diam menyelinap di malam hari, jejak lavender yang samar-samar tercium setiap pria itu kembali, atau mata keduanya yang seolah saling mengabaikan namun dalam berbagai kesempatan saling mencari.

Perjalanan sepasang kekasih itu tidak akan mudah di masa depan, namun kali ini Hinata ingin mempercayai intuisinya. Mereka akan baik-baik saja, karena seorang Hyuuga Neji dijuluki shinobi jenius bukanlah tanpa alasan dan kuatnya tekad Yamanaka Ino sudah terkenal menyaingi seorang Uzumaki Naruto.

Neji pasti sudah merencanakan berpuluh skenario terbaik untuk menyelesaikan permasalahan ini, dan Hinata pun sangat tahu, sebagai anak sulung keluarga utama Hyuuga sekaligus teman dari keduanya - dan juga tambahan status baru sebagai mantan tunangan dari salah satu pihak -, dirinya akan sangat dibutuhkan dalam meringankan hukuman yang menanti Neji.

Hinata menatap Neji yang masih tertunduk dengan bahu bergetar.

Pria itu pasti merasa sangat bersalah, sebuah fakta yang sangat mengejutkan jika mengingat Neji adalah seseorang dengan harga diri yang tinggi, penuh ego, dan penuh kepercayaan diri untuk menjatuhkan setiap musuh. Namun saat ini, Hinata tidak melihat itu semua. Di matanya, pria itu terlihat seperti anak kecil yang merendahkan hatinya demi mendapatkan sesuatu.

Ah… beginikah rasanya dicintai? Rasanya saat ini Hinata sedikit iri pada keberuntungan seorang Ino Yamanaka.

'Andai saja Naruto-kun...'

Mengabaikan sengatan di hatinya, Hinata tersenyum lembut sambil mengelus surai hitam pria itu "Tidak apa-apa Neji-nii, tidak apa-apa. Aku akan selalu ada di pihakmu."

.

.

I wanna run to you
But if I come to you, Tell me, will you stay or will you run away

"U-urgh..." tangan Neji meremas erat hakama nya sementara segel hijau di dahinya menyala. Kakinya mencoba untuk bertahan agar tidak roboh disini, tidak di depan para Souke yang memandangnya sengit sambil menunggu giliran untuk melawannya.

Pertarungan 1 on 1, itulah tradisi Hyuuga untuk membuktikan kemampuan setiap anggota klan sekaligus sebagai pengadilan tertinggi bagi penjahat keluarga. Ini adalah hal yang mudah bagi Neji. Yang sulit adalah setiap satu Souke yang kalah, segel di kepala Neji akan aktif dan melemahkan kekuatannya. Terkesan tidak adil tapi begitulah peraturan itu dibuat untuk kembali mengingatkan Neji pada tujuan hidupnya sebagai Bunke.

Ini adalah hukuman yang sudah Neji perkirakan. Sejauh apapun Neji pergi, selama segel hijau itu masih ada di kepalanya, dia tidak akan bisa kabur kemana-mana. Itulah kutukan yang mengalir dalam darahnya, hidup hanya untuk melayani orang lain.

Bahkan dengan darah yang mengalir dari mulutnya, pikiran Neji kembali berkelana kepada kejadian seminggu kemarin.

Ino. Matahari. Surat. Anaknya.

Anak mereka.

"Arghhh!" segel hijau di kepala Neji kembali aktif. Setiap tusukan di kepalanya begitu menyakitkan hingga membuat kakinya roboh ke lantai. Samar-samar, Neji dapat mendengar teriakan tertahan dari sisi ruangan dan beberapa suara lain. Ini sudah dua minggu sejak pertarungan 1 on 1 di mulai dan tidak ada pengobatan yang diberikan padanya. Pandangan Neji mengabur tapi sebuah ingatan tertancap jelas membuatnya menolak untuk hilang kesadaran.

Ino mencoba kabur darinya. Entah mengapa dan apa yang terjadi, apapun yang Neji lakukan, gadis itu benar-benar mencoba menghilang dari hadapannya. Neji bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi, tapi satu yang dia tahu, Ino tidak ingin bersama dirinya.

Kenyataan bahwa gadis itu tidak memberi kabar tentang kehamilannya dan memilih untuk kabur setiap dia berusaha datang, membuat Neji yakin bahwa Ino tidak ingin dirinya menjadi ayah dari anak mereka.

Apakah pilihannya sudah tepat? Apakah ketika dia memilih Ino, gadis itu juga akan memilihnya?

Tapi setidaknya dengan ini Neji akan bebas. Dia bukanlah budak lagi dan kali ini dia sudah layak untuk bersanding dengan Ino. Kali ini, ketika Neji memilih Ino, Neji dapat melihat masa depan yang cerah dan lepas dari bayang - bayang Hyuuga.

"2 minggu. Beri aku dua minggu untuk meyakinkan nenek dan tetua lain. Mereka pasti dapat membantumu. Selama dua minggu itu,... bertahan hiduplah. Kau pasti bisa melakukan itu, 'kan?"

"U-uhgh..!" Darah kental kembali keluar dari bibirnya. Dengan terengah, Neji mengusap darah itu dan tertawa kecil. Baru kali ini kemampuannya bertahan hidup diuji dan dipertanyakan oleh shinobi yang lebih lemah darinya. Ah, tapi pada titik ini Neji tahu bahwa Naruto jauh lebih kuat. Setidaknya, Naruto pasti tidak akan membuat banyak keputusan yang salah dan menyakiti banyak orang seperti dirinya.

Kaki Neji kembali berdiri. Dia menatap Hinata yang memandangnya khawatir di sisi ruangan. Di samping gadis itu, Hiashi duduk dengan wajah menatap lurus ke arahnya. Hal itu membuat Neji menyeringai. Bertahan hidup dua minggu? Dia sudah melakukan itu sepanjang hidupnya.

Tangan Neji teracung ke depan, kakinya membentuk formasi bertahan. Otaknya kembali bekerja untuk pertarungan selanjutnya.

'Dua hari lagi... sampai Naruto datang, aku harus bertahan dua hari lagi."

"Selanjutnya!"

.

.

I need you here
I need you here to wipe away my tears, to kiss away my fears.

"Hei, berapa kali sudah kubilang untuk tidak pernah kalah pada takdir omong kosongmu itu."

Samar-samar Neji dapat mendengar suara seseorang yang sangat dia kenal. Itu suara Naruto, tapi Neji tidak ingin bangun. Dahinya terasa sakit, badannya terasa remuk. Otaknya akan meledak jika berurusan dengan Hyuuga lebih jauh lagi.

"B-agai-mana?" nafasnya terengah dengan suara yang bergetar. Butuh banyak kekuatan bagi Neji untuk bisa membuka kedua matanya.

"Yah… terjadi keributan besar," dengan perlahan Naruto mengusapkan kain hangat pada dahi Neji yang berdarah. Pandangannya menyisir ruangan yang sudah kosong. "Aku tidak menyangka segel ini bisa dibuka."

Neji mengangguk kecil. Dia juga tidak menyangka segel ini dapat dibuka oleh orang diluar klan Hyuuga. Secara mengejutkan, dalam pertandingan akhir melawan Hiashi, pamannya itu tidak hadir. Sebuah keberuntungan bagi Neji karena dia tahu dia sudah berada pada batas chakra. Neji sudah memperkirakan akan mati jika melawan Hiashi tapi pamannya itu tidak juga datang dan memberi kesempatan untuk badannya yang sudah rubuh ke tanah untuk pulih.

Seluruh Hyuuga yang hadir mulai panik mencari keberadaan sang pemimpin klan ketika tiba-tiba Naruto masuk dan berjalan santai ke tengah aula. Di tangannya terdapat gulungan kecil dengan cap khas yang diketahui oleh seluruh Souke; sebuah gulungan berisi jutsu untuk melepaskan segel Bunke.

Jadi Naruto berhasil. Sekali lagi pria itu membuktikan pada Neji kemampuannya untuk merubah orang lain, bahkan merubah pamannya yang punya pendirian sangat teguh.

Neji ingin tertawa. Dia bebas, dan itu semua tidak lepas dari bantuan Naruto, shinobi yang dulu selalu dia anggap sebagai sebuah kegagalan.

Apakah dia egois meninggalkan semuanya? Tapi seumur hidupnya dia sudah hidup sebagai pelayan. Seumur hidupnya dipakai untuk kesejahteraan orang lain. Lagipula ayah ibunya sudah tidak ada dan Hinata tidak lama lagi pasti akan keluar dari lingkungan Hyuuga. Naruto pasti tidak akan membiarkan sepupunya itu terjebak lebih lama lagi di sana.

Lalu, bagaimana nasib Bunke lainnya?

Bagaimana dengan impian kedua orang tuanya untuk mengubah takdir Bunke?

Bagaimana dengan pemimpin klan Hyuuga selanjutnya?

'Nanti saja.'

Ya, tidak apa-apa. Tidak semuanya harus selesai sekarang. Neji akan membereskannya satu persatu nanti. Sekarang ada yang lebih penting. Sesuatu yang menjadi miliknya mencoba kabur seperti kucing nakal dan Neji tidak suka itu. Neji tidak suka terpisah lebih lama lagi dari ini. Dia harus cepat mengklaim mereka sebagai miliknya sebelum terlalu terlambat.

"H-hei, Neji kau mau apa!? Aku belum selesai mengobatimu!" Naruto menatap horor Neji yang berdiri dengan kepala penuh darah kering dan badan penuh sengan goresan. "Jangan bilang kau mau ke—"

Neji mengangguk mengiyakan Naruto yang kehabisan kata-kata. Dia tidak boleh lebih lama lagi. Hari sudah terlalu malam dan pagi hari menjelang datang. Dengan sisa kekuatannya, Neji menoleh ke arah Naruto. "Terima kasih, aku berutang padamu."

Dalam sekejap Neji menghilang dan meninggalkan pria pirang itu tercengang.

"Heiiii! Hyuuga Neji, kau bahkan tidak tahu dimana Ino berada!"

.

.

One of the most amazing things that can happen is finding someone who sees everything you are and won't let you be anything less. They see the potential of you. They see endless possibilities, and through their eyes, you start to see yourself the same way as someone who matters. As someone who can make a difference in the world.

Belom end! (nge-gas)


A.N

Selamat tahun baru!

Woah. 2020 adalah tahun yang betul betul produktif untuk aku menulis. Tujuh cerita dalam enam bulan! Padahal biasanya menulis satu cerita setahun :(

Jadi begitulah cerita dari sisi Neji. Sekarang sudah pada mengerti kan alasan dibalik rencana pernikahan Neji dan Hinata. Semoga ilmu Naruto ku tidak terlalu menyimpang dan bikin reader cringe dengan cerita ini T_T

Kemarin aku bilang mau hiatus ya? Betul. Tapi ketika aku buka-buka folder laptop, baru sadar sequel ini sudah ditulis dari tahun 2018. Mau sampai kapan dia ngejogrog di archive? Akhirnya aku putuskan untuk publish saja. Toh aku juga ga perlu menulis apa-apa lagi.

Sejujurnya aku tidak bisa merasakan feel ceritanya dan terkesan ada plot hole. Kalau reader merasakan plot hole ini, aku sungguh-sungguh meminta maaf *bow*. Silahkan mampir ke cerita BLAME untuk memahami alur ceritanya.

Mari kita selesaikan disini 😊. Aku pamit hiatus ya. Kalian bisa reach aku via DM FFN kok :))

Terima kasih untuk setiap pembaca dan penulis review yang sudah pernah mampir di cerita- cerita aku. Untuk setiap author lain, keep writing ! Untuk setiap reader, tetap membaca! Dan tetap menulis review hehe.

Sampai kita bertemu lagi!

- KEY-Keziaaditya -

.

ps: Kenapa bisa sequel lebih panjang dari cerita awalnya ckckc


Owari

Ino Yamanaka.
25 y.o. Wife, Jounin, Mother of 2, Doctor, Interrogator.

Neji Hyuuga
25 y.o, Husband, Jounin, Father of 2, ANBU Captain.

"Mengapa kau selalu menyentuhnya?" Neji bertanya pada Ino saat mereka berada di tempat tidur. Pria itu menutup mata saat Ino mengusap garis kehijauan yang tercap di dahinya.

Neji benci ketika orang-orang menatap tanda di dahinya, terlebih lagi ketika mereka menyentuhnya. Tapi Neji suka ketika Ino melakukannya. Rasanya seperti dia sedang memetakan wajahnya, menggerakkan jari-jarinya dengan lembut di setiap ruas kehijauan yang tercetak.

"Maksudmu?" Ino bertanya. Suaranya hening dan lembut, tidak seperti biasanya sehingga Neji bertanya-tanya apa yang sedang Ino pikirkan.

"Bekas luka," Neji menjelaskan, jantungnya berdebar-debar saat Ino menarik tangannya menjauh. "Tidak, tidak, aku suka kalau kau menyentuhnya, tapi kenapa?"

Ino terdiam beberapa saat. Tangannya bergerak mengelus dahi Neji kembali. "Karena itu bagian dari dirimu. Satu-satunya bagian dari dirimu yang bisa kulihat di mana letak kekuatanmu bahkan ketika aku menutup mata."

Ino menutup matanya dan mendesah. "Aku tidak bisa melihat orang menggunakan inderaku yang lain selain sensor. Aku tidak bisa membaca orang ketika aku tidak melihat mereka, bahkan dengan sensorku, aku tidak bisa mengetahui perasaan orang itu."

"Tapi ini," Ino menekan sedikit garis di dahinya yang menonjol, "ini satu-satunya bagian yang bisa kulihat dengan jelas saat menutup mata dan ini adalah bagian dirimu yang penting."

"Ini bekas luka."

Ino tersenyum. "Aku tahu, dan setiap kali aku ingat bahwa ini luka karenaku, aku tidak bisa berhenti menyalahkan diriku."

"Jangan—"

"Ssst… aku tau," Ino menyela Neji. "Itu pilihanmu. Itu caramu untuk bebas. Tapi aku tidak bisa berhenti untuk bertanya-tanya bagaimana hidup akan memperlakukanmu jika kau memilih untuk tetap menjadi pemimpin Hyuuga."

Neji tertegun. Pandangan kosong Ino yang menatap langit-langit membuatnya sadar jika selama ini istrinya masih hidup dalam bayang-bayang 'bagaimana jika'.

"Tidak ada. "

"Tidak ada?" Ino menatapnya bingung.

Neji bergeser ke samping dan memeluk Ino. "Jika aku memilih tetap disana, maka aku tidak akan ada. Aku mungkin mendapatkan mimpiku, tapi hanya itu. Aku akan selamanya terikat dengan takdir yang selalu kuperkirakan. Terima kasih, Ino."

Terima kasih karena memberiku kesempatan melihat berbagai bagian terbaik dari diriku

Untuk memberiku berbagai ketidakpastian yang kusukai dan untuk memberiku berjuta kemungkinan yang tidak pernah kubayangkan, terima kasih.

Dah tamat beneran, jangan dipanjang panjangin lagi. Dah 5k words!

Bye fellas :))) Semoga kangen aku.