Myosotis : Forget Me Nots
By Dardara
Summary : Janjiku, setiap pewaris Sembilan Titan yang mati karena berkorban akan hidup abadi tanpa kematian di dalam path. Hingga ada masanya mereka kembali untuk menyapa kalian semua. Pieck masih mempercayai janji itu, janji dari sang Dewa Agung, Eren Yeager dan masih mengharapkannya sampai sekarang.
Character : Pieck Finger. Porco Galliard. Reiner Braun. Attack on Titan by Hajime Isayama, FF
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"I want people to remember me as someone whose life has been helpful to humanity"
Thomas Sankara
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pieck terdiam, kesekian kalinya ia mengunjungi tempat yang sama sampai ia sendiri lupa ini sudah yang keberapa kali. Tangannya erat menggenggam buket bunga Myosotis, bunga kecil berwarna ungu yang bergerombol cantik.
Dalam benaknya, Pieck telah menebak bahwa Porco pasti marah karena hadiah yang ia bawa.
"Aku bukan perempuan! Aku tidak suka bunga!" Jerit Porco kecil marah saat Pieck memberikan setangkai bunga Myosotis yang ia petik di jalan menuju kamp. pengasingan di Liberio.
Pieck tanpa sadar tersenyum. Memorinya dengan giat terus memutar balik kenangan-kenangan lama seiring jauhnya ia berjalan.
"Pieck-san.."
Jujur, Pieck sama sekali tidak terkejut saat mendapati Connie Springer menyapanya dengan ramah. Alasannya sederhana, mereka memang sudah sering bertemu. Pieck sampai hapal jadwal kedatangan Connie ke tempat itu, sama sepertinya hingga mereka hampir terus berpapasan.
Pieck tersenyum hingga matanya menyipit.
"Bunga lagi?"
Pieck mengangguk.
"Sungguh, Galliard akan marah!"
Connie tertawa, dengan sok tahunya ia menarik kesimpulan yang tetap bisa membuat Pieck ikut tertawa.
"Setidaknya para semut tidak menyukai bunga."
Pieck sadar bahwa candaannya itu mungkin saja melukai hati Connie, namun pada dasarnya pria itu bukanlah orang yang mudah tersinggung dan justru membalas candaan jahat Pieck dengan tawa keras.
"Aku tahu betul apa yang disukai oleh kekasihku." Balas Connie. Ia memang tertawa namun Pieck tahu bahwa matanya menyiratkan keadaan yang sebaliknya.
Mereka sempat berbincang. Dua tiga kalimat saja yang intinya hanya bercanda. Candaan basi khas orang-orang kesepian yang ditinggal pergi. Tawa mereka keras, selayaknya sedang menertawakan diri mereka sendiri.
Pieck lalu melanjutkan perjalanannya. Pelan langkahnya melewati hamparan jalan dengan pemandangan yang sama, dan terhenti tepat di hadapan makam milik orang yang paling dikasihinya.
Porco Galliard.
"Selamat pagi, Pokko!"
Suara ceria Pieck yang masih terdengar sama sejak dulu, namun kini bedanya tidak ada balasan suara menggerutu seperti yang dahulu biasa Pieck dengar.
Pieck berlutut, lalu duduk menyamankan dirinya di tepi makam Porco.
Di sampingnya duduk, Pieck dapati makam milik Marcel Galliard, kakak Porco. Begitupun dengan milik Berthold di sisi lainnya. Pieck tersenyum saat membayangkan betapa damainya Porco di alam sana karena diapit oleh kakak dan teman baik mereka sejak masih menjadi calon warrior Marley; meskipun Berthold adalah kawan baik Reiner -si musuh bebuyutan Porco- tapi Berthold tetaplah teman yang sangat baik.
Pieck meletakan bunganya. Tangannya lalu aktif mencabuti tanaman-tanaman kecil di sekitar batu nisan Porco. Padahal hampir setiap hari Pieck datang, tapi selalu saja ada tanaman liar yang harus ia cabut.
Mungkinkah itu pertanda bahwa tanah di sekitar batu nisan Porco sangatlah subur?
Entahlah, bisa saja itu alasannya.
Setelah perang besar yang diikuti dengan gemuruh dahsyat yang mengubah segalanya itu berakhir, Kerajaan Eldia yang baru kini berdiri. Wilayahnya terdiri dari pulau Paradis dan seluruh wilayah selatan benua utama yang dahulu menjadi kekuasaan Marley. Dahsyatnya pembataian masal yang hanya menyisakan sepertiga dari populasi manusia itu masih membekas di benak Pieck.
Seluruh korban perang kemudian disemayamkan di Pulau Paradis, tepat di wilayah di mana tiga tembok agung Sina, Rose, dan Maria berdiri; yang termasuk di dalamnya para prajurit yang gugur baik dari kubu Eldia ataupun Marley, atau bahkan Yeagerist sekalipun sebagai tanda penghormatan.
Demikian alasannya mengapa Pieck dapat bertemu dengan Connie di sini, pria yang hampir setiap harinya –nyaris tanpa terlewat, mengunjungi makam Sasha Braus.
Mereka, Pieck dan Connie bernasib sama yaitu ditinggalkan oleh orang yang dikasihi.
Lalu naasnya, mereka baru menyadari perasaan mereka tepat setelah ditinggalkan.
Kebodohan yang sama antara Pieck dan Connie.
Namun perbedaannya; jasad si gadis kentang memang bersemayam di sana. Tubuhnya terkubur menyatu dengan tanah yang kerap kali basah oleh air mata yang diam-diam Connie keluarkan.
Berbeda dengan Porco.
Makamnya kosong tanpa jasad terkubur. Tentu saja karena jasad pria itu telah terlumat habis di mulut raksasa mengerikan bernama Falco Grice -si remaja tanggung yang wujud manusianya sangat Pieck sayangi. Sehingga hanya ada batu nisan bertuliskan nama Porco Galliard yang terasa dingin tiap kali Pieck menyentuhnya.
Begitupun dengan makam milik Marcel dan Berthold.
Lalu perbedaan lainnya antara Pieck dan Connie adalah harapan mereka.
Connie mungkin akan berakhir dengan harapan bahwa ia bisa menemukan gadis yang sama menyenangkannya dengan Sasha atau bahkan harapan untuk bisa melanjutkan kehidupan sendiri yang lebih baik meskipun tanpa si gadis kentang di sisinya.
Tapi tidak dengan Pieck.
Pieck ingin Porco kembali. Sekalipun itu dengan identitas yang berbeda dan mungkin tak dapat ia kenali dalam sekejab, Pieck tetap berharap dapat diberi kesempatan untuk bertemu dengan Porco, mendengar suaranya, memeluknya, dan tentu saja menyatakan perasaannya.
Harapan Pieck sesederhana keinginannya agar Porco kembali.
Sesuai janji dari sang Dewa Agung, Eren Yeager.
Janjiku, setiap pewaris Sembilan Titan yang mati karena berkorban akan hidup abadi dalam path. Hingga ada masanya mereka kembali untuk menyapa kalian semua yang ditinggalkan.
Pieck masih mempercayai janji itu, dan mengharapkannya sampai sekarang.
0000000000000000000000000000
Gabi masih belum menyerah. Remaja perempuan yang jauh dari kata feminim itu bahkan sudah menggelayuti lengan Pieck selayaknya anak monyet. Dari jauh, Reiner memperhatikannya dalam diam.
"Aku tidak mungkin meninggalkan Paradis.." Keluh Pieck.
Sekuat tenaga Pieck menguatkan hatinya agar tidak luluh pada tatapan mata Gabi. Remaja yang selalu menempel padanya itu tentu tidak menyerah begitu saja. Pieck sempat menahan napasnya saat melihat selaput bening di mata besar Gabi.
"Kau tega membiarkanku pulang sendirian ke Liberio bersama Reiner?"
"Gabi mengertilah.."
"Porco tidak akan kembali."
Reiner menegakan tubuhnya. Ia pikir Gabi sudah cukup keterlaluan dengan menyebut nama Porco di hadapan Pieck. Kembali dalam diam, Reiner menghampiri Gabi dan menarik remaja itu agar melepaskan lengan Pieck.
Gabi memberontak.
"Kau masih mempercayai monster itu?!" Gabi tiba-tiba menjerit marah.
"…"
"Persetan dengan janjinya itu! Apa kau lupa siapa yang telah menghancurkan kehidupan kita?! Dialah Eren Yeager!"
"…"
"Kau pikir dengan menetap di pulau para iblis ini bisa membuat Porco tiba-tiba saja bangkit dari kuburnya?!"
"GABI!"
Reiner muak. Mantan pewaris titan armor itu pun kini tak segan menarik tangan Gabi dengan sekuat tenaga. Ia tak peduli kemungkinan adik sepupunya itu akan terluka karena tindakannya.
"Reiner! Lepaskan aku!"
"DIAM KAU!"
Reiner menyeret Gabi keluar dari kamar Pieck. Suara jeritan Gabi bahkan masih terdengar sampai lantai bawah mansion yang mereka semua tempati sejak tinggal di Paradis.
Pieck memejamkan matanya erat. Kepalanya terasa mau pecah. Mungkin udara di sekitar makan Porco mampu membuatnya lebih tenang. Pieck beranjak dan yang selanjutnya ia dapati adalah wajah kelam Falco sesaat setelah ia membuka pintu kamar.
Bocah kesayangannya.
Ah… ralat. Bukan hanya kesayangan Pieck tapi juga kesayangan Porco.
Pieck berlutut, menarik tubuh Falco mendekat dan memeluknya erat. Falco balas memeluk Pieck tak kalah erat dan Pieck lantas segera pemikirannya sendiri soal bukan udara di sekitar pemakaman Porco yang mampu membuatnya lebih tenang, tapi justru pelukan Falco.
Pokko..
Meskipun dalam postur yang berbeda, Pieck tetap dapat merasakan kehangatan yang hampir serupa dengan pelukan nyaman Porco di tubuhnya.
"Tidak perlu menyesali semuanya, sebab hal yang paling aku syukuri sampai sekarang adalah dirimu yang masih hidup."
Pieck mengusap kepala Falco lembut, menenangkan remaja itu agar tidak terbebani dengan fakta bahwa dirinya belum bisa menerima kepergian Porco. Pieck menyadari bahwa ada banyak perubahan dalam diri Falco terjadi sejak saat itu.
Falco menganggukan kepalanya dalam pelukan Pieck.
"Aku akan tetap di sini bersamamu." Falco menggumam. "Aku tidak akan ikut ke Liberio jika kau tidak ikut, Pieck."
Falco telah mengetahuinya tepat sejak ia mewarisi jaw titan dan melihat ingatan Porco. Keinginan sederhana dari pria yang mengorbankan hidupnya itu hanyalah agar ia bisa melindungi Pieck hingga akhir.
000000000000000000000000000
"Dasar pecundang."
Reiner tertegun, hampir saja ia melayangkan pukulannya ke arah Gabi karena bocah perempuan itu tak kunjung berhenti memberontak.
Reiner mundur satu langkah, menjauhi sepupunya itu semata-mata untuk dapat melihatnya dengan jelas. Gabi menajamkan matanya dan balas menatap Reiner sengit.
"Aku ingin kau bersama dengan Pieck."
DEG!
"Aku ingin kau hidup dengannya, menghabiskan waktumu bersama Pieck, melindungi dan membahagiakannya agar ia bisa melupakan Porco."
"..."
"Tapi kau malah menghalangi niat baikku. Seharusnya kau ikut membujuk Pieck untuk pergi ke Liberio."
"Gabi-"
"Kau bahkan membiarkan Pieck terus menerus mendatangi Porco.."
"..."
"Kau menyedihkan.." Gabi berdecih pelan.
"..."
"Suami macam apa kau ini, Reiner?"
BRAK!
Reiner muak, sungguh muak dengan ocehan Gabi sampai ia harus membanting pintu kamarnya dan menguncinya agar Gabi tidak bisa lari ke manapun tepat setelah ia memaksa Pieck kembali ke Liberio.
Kepalanya berdenyut sakit, bahkan setelah perang melelahkan itu usai, sakit kepala Reiner tak kunjung berkurang dan justru semakin menjadi.
"Mr. Braun.."
Reiner menoleh untuk mendapati Falco memanggilnya dengan langkah perlahan menuruni tangga.
"Pieck-san menunggumu di atas."
0000000000000000000
Pagi yang cerah di Liberio dan Jenderal Kirschtein mengerutkan keningnya dalam. Tangannya masih erat menggenggam pena saat Armin Arlert datang menghadapnya.
"Kapan mereka akan tiba di Liberio?"
"Dalam tiga hari ke depan."
"Ah.. begitu rupanya."
Armin mengangguk, ia pandangi wajah kusut jenderalnya yang nampak kurang sehat. Lingkaran hitam di bawah mata dengan janggut dan jambang yang mulai memanjang melewati batas yang semestinya.
"Mikasa datang ke rumahku hari ini."
Sang Jenderal sejenak menghentikan gerakan tangannya. Seakan ia terdistraksi oleh perkataan Armin.
"Ia datang untuk melihat Annie dan bayi kami."
Jenderal Besar Eldia itu, Jean Kirschtein balas menatap Armin dengan helaan napas panjang.
"Tenang saja, aku mengerti kesibukanmu dan pintu rumah kami akan selalu terbuka untuk kalian berdua." Armin tersenyum, seakan telah memahami maksud Jean bahkan sebelum pria itu mengatakan sesuatu.
"Terima kasih atas buah persiknya."
Jean mengangguk, menggumamkan kata-kata balasan untuk rasa terima kasih Armin. Ia bisa menebak bahwa Mikasa mungkin saja membawakan istri Armin itu buah persik atau entahlah, Jean bahkan tak tahu jika Mikasa memang pergi ke sana.
"Sejak melahirkan, Annie kehilangan lebih dari separuh nafsu makannya dan senang rasanya saat melihatnya kembali bersemangat menikmati buah persik itu." Celoteh Armin, nampak sangat bersyukur dengan buah pemberian Mikasa.
"Katakan saja apa yang Annie inginkan, kami akan dengan senang hati membawakannya."
Lagi-lagi Armin tersenyum, kali ini sangat lebar hingga binar matanya hampir menghilang.
"Tentu saja."
Jean kembali pada pekerjaannya, menandatangani lembar persetujuan masuknya dua mantan warrior Marley ke wilayah benua utama, atas nama Reiner Braun dan Pieck Braun.
"Dua bocah itu tidak ikut serta?"
"Tentu Jenderal, nama mereka ada dalam list keberangkatan yang sama dengan Reiner dan Pieck."
"Ah... baiklah.."
Jean menutup map berisi lembar persetujuan tersebut dan kembali menyerahkannya kepada Armin, untuk kemudian dibubuhkan stempel pengesahannya dan dikirim melalui berita faksimile.
Armin pamit, membungkukan tubuhnya yang selanjutnya dibalas dengan gerutuan oleh Jean yang terus meminta agar Armin berhenti melakukan penghormatan yang berlebihan. Ia memang jenderal, namun lebih dari itu mereka ada teman sejak masih kadet yang pada akhirnya bertaruh nyawa di perang besar melawan teman sendiri.
"Jean.."
"Ya?"
Jean sejenak menegakan tubuhnya dan menatap Armin yang kini sudah berdiri membelakanginya, pintu ruangannya telah sedikit terbuka hingga Armin menoleh dan menampakan raut sendunya.
Jean agaknya tertegun melihat pemandangan itu.
"Hanya kau dan Mikasa yang belum datang menjenguk bayi kami. Jika sempat mungkin kalian bisa datang malam ini."
"..."
"Annie telah membeli banyak buah persik... dan.."
"..."
"Semoga hubunganmu dan Mikasa semakin membaik."
Armin kini telah benar-benar beranjak meninggalkan ruangan itu tepat setelah melempar kotoran ke wajah Jean.
Bukan dalam arti harfiahnya.
Jean merasa benar-benar kotor dalam artian yang berbeda.
Bukan hubungannya memburuk hingga Armin berharap hubungan itu membaik. Mungkin maksud Armin adalah hubungan mereka yang memang tidak pernah baik.
Tetap dingin selayaknya orang lain meskipun mereka telah menikah karena memang tidak ada yang berubah sekalipun Mikasa telah menjadi istrinya dan sebaliknya.
Saat Jean Kirschtein telah resmi menjadi suami dari wanita Ackerman itu.
00000000000000000
Reiner membuka pintu mansion rumah mereka lebar. Ia berikan akses yang sebesar-besarnya untuk seorang pria berambut blonde yang rutin datang ke mansion mereka tiap 3 hari sekali.
Di tangan pria blonde itu nampak satu ikat besar bunga Myosotis segar dengan warna ungunya yang pekat. Tanpa ragu si blonde masuk dan meletakan bunga ditangannya ke dalam vase besar di sudut ruang tamu mansion.
Lalu di belakang Reiner, Pieck dengan ramah menyerahkan beberapa lembar uang ke arah si blonde.
"Nyonya, apa kau sungguh tidak tertarik dengan bunga lainnya? Kau tahu Myosotis hanyalah bunga rumput yang cukup langka di pasaran.."
Pieck mendesah kecewa dengan pertanyaan si blonde yang hampir tiap saat ia dengar, dan hal tersebut tak luput dari perhatian Reiner yang sejak tadi terdiam.
"Meskipun hanya bunga rumput, aku tetap menyukainya."
Dahi si blonde lantas berkerut dalam. Rasanya dejavu dengan jawaban Pieck, hingga ia teringat bahwa alasan itulah yang Pieck katakan ketika pertama kali datang ke toko bunga miliknya.
Dari sekian banyak bunga yang ada di tokonya, Pieck memilih Myosotis. Orang umum menyebutnya sebagai forget me nots flower.
"Baiklah Nyonya, hanya saja mungkin harganya-"
"Berapapun akan kami bayar."
Si blonde terkesiap, pasalnya tidak pernah ia mendengar komentar dari Tuan Braun. Pria itu selalunya hanya terdiam mengamati dirinya bertransaksi bunga dengan sang nyonya.
Hanya sesekali si blonde mendengar kalimat 'masuklah' atau 'tunggu sebentar' dari Tuan Braun. Pieck tersenyum dan fokus si blonde pun kembali.
"Kuharap kau bisa menyiapkannya sampai 3 hari ke depan."
Si blonde tergagap mendengar request dadakan dari Pieck.
"Setiap harinya sampai 3 hari ke depan sebelum kami pergi ke Liberio."
Terjawab sudah rasa penasaran si blonde akan kardus-kardus yang tersusun rapi di sudut lainnya di ruang tamu mansion besar itu.
Tiga hari lagi, pelanggan setianya itu akan pindah ke Liberio.
000000000000000000
Gabi sungguh tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya. Dengan gilanya remaja perempuan itu menjerit kegirangan sembari berlari memasuki kereta yang akan membawa mereka menuju Liberio.
Berbeda dengan Gabi, Falco di belakangnya berjalan gontai memasuki kereta. Ia sempat menoleh ke arah Pieck. Lalu senyum wanita berwajah teduh itu nampak di penglihatan Falco.
Seakan menular, remaja tampan itu pun ikut tersenyum.
Falco lega dengan keputusan Pieck yang sejalan pula dengan keinginannya untuk tinggal di Liberio -meski sebelumnya, Falco berkata bahwa ia akan tetap tinggal di Paradis jika Pieck menginginkannya.
Reiner ikut menggiring dua bocah asuhannya itu masuk ke dalam kereta. Sesekali ia memerintahkan agar orang-orang yang membantu membawakan barang mereka untuk lebih berhati-hati. Reiner sempat berbicara pada salah satu petugas di sana hanya untuk memastikan bahwa ia dan istrinya mendapatkan kenyamanan ekstra selama perjalanan mereka menuju kampung halaman.
Suami siaga, Reiner Braun yang aktif dan sibuk. Berbeda dengan si istri, Pieck Braun yang pasif dan pendiam.
Matanya dengan jeli menangkap setiap detail dari distrik tempatnya berpijak saat ini.
Dahulunya bernama Shiganshina.
Tempat kelahiran Dewa Agung sembahan seluruh umat manusia bernama Eren Yeager. Tempat yang menjadi medan tempur pertamanya dalam menghadapi para iblis dari pulau Paradis. Tempat yang ia lewati setelah menyelamatkan Komandan mereka, Zeke Yeager dari kebrutalan Kapten Levi Ackerman. Tempat yang menjadi saksi saat ia menarik suaminya, Reiner Braun dari kematian akibat sandera Komandan Hanji Zoe. Lalu tempat di mana ia kehilangan kekasih hatinya, Porco Galliard.
Pieck tertunduk.
Matanya memanas dengan gumpalan air yang mendesak keluar. Pieck bahkan sudah lupa dengan keadaan sekitarnya. Akal sehat serta kedewasaan sikap yang menjadi ciri khasnya dahulu perlahan memudar bahkan menghilang sejak gemuruh titan dinding bangkit dan menjadi mimpi buruk yang terus menghantui Pieck meskipun dirinya telah terjaga.
"Kau menyesal?"
Pieck tersadar. Reiner telah berdiri menghadapnya, hanya ada mereka di sana seakan Reiner telah menetapkan batas suci di sekeliling mereka untuk haram dilalui selain mereka berdua.
Reiner mengusap rambut hitam panjang istrinya itu lembut hingga sampai pada ujungnya yang mencapai pinggang, Reiner menarik tubuh Pieck semakin mendekat.
Pieck tersenyum. Kedua telapak tangannya dengan terlatih menghalangi dada Reiner agar pria itu tidak semakin mendekat.
"Kau tahu ini tempat umum kan?" Suara Pieck jauh lebih rendah dari biasanya, mengingatkan Reiner pada saat di mana wanita itu masih berstatus warrior Marley.
"Kau menyesal?" Reiner mengulangi pertanyaannya.
"..."
"Kau tentu tahu bahwa aku tidak akan mengizinkanmu untuk menyesal kan?" Bisik Reiner yang serasa menusuk kuat telinga Pieck saat itu juga
Sebagai sesama mantan pewaris kekuatan titan, Reiner tentu tidak gentar dengan intimidasi yang coba Pieck layangkan. Pieck terdiam, ia menunduk dengan tangan yang mulai mencengkeram bahu Reiner.
"Hanya memperingatkanmu untuk jangan berani menyentuhku terlebih di depan umum."
Reiner dengan berat hati melepaskan Pieck. Tepat setelah ia merasakan perih di bahunya akibat kuku jari wanita itu yang telah mengoyak sedikit bahan bajunya.
"Hanya memperingatkanmu bahwa ini adalah hari terakhirmu mengenang Galliard." Bisik Reiner tepat sebelum Pieck berlalu meninggalkannya.
"Persetan."
Pieck mengumpat dan apa yang terjadi seluruhnya tak luput dari perhatian Falco yang tengah mengintip dari balik jendela kereta malam yang akan membawa mereka menuju ke Liberio.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
End of the Chapter 1 Myosotis : Forget Me Nots
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Fyuuuuh FF baru lagiii
Gilakkk ini sinetron abis, special buat kalian semua bucin SnK wkwkkwkk
Sebagai pengikut setia manganya dari jaman SMP, aku bangga banget sama Isayama sensei dan tim Mappa yang bisa buat anime sekeren seepic ituuuu dan tentu sajaaa 2 chapter terakhir yang selalu membuatkuu mo meninggal karena lelah menungguu wkwkkwk
apakah kalian juga sama kaya aku yang selalu ngarep ada bumbu bumbu percintaan di SnK? wkwkwkk apalah dayaa isayama bukanlah mangaka tipe drama indosiar yang backsongnya hati yang kau sakitiii *kumenangis~
atau seperti ikatan cinta wkwk
Jadilah FF liarrrr ini terciptaa
semogaa suka dan semoga mendapat respon yang bagus biar aku semangat lanjutinnyaaa
thanks
