I'm not gonna write you to stay, all you have is leaving.

I'mma need a better reason to write you a love song today, today. Yeeaah!

Bersamaan denting-denting piano yang dibuatnya, Inumaki Toge menyanyikan salah satu senandung terfavorit. Sedemikian menikmati, sampai di luar kesadaran pemuda ini, dia menggerakkan kepala ke arah kiri dan kanan, seraya terus menyuarakan isi lagu yang begitu kontras dengan judulnya, Love Song. Yaa, lagu cinta, tapi menceritakan suasana hati yang terluka – cuma dibuat jauh dari kesan melankolis oleh si pencipta, Sara Bareilles.

Tidak ada alasan tersendiri baginya menyenandungkan alunan tersebut, bukan juga perasaan Toge akan terwakili olehnya. Hanya saja, ia memang sangat mengagumi kemampuan suara dari sang pemilik lagu yang begitu khas dan unik di indera auditorinya. Duh, atau lebih tepatnya, lelaki ini yang belum menemukan alasan tepat untuk menyanyikan sebuah love song dalam denotasinya – bukan cuma tertera pada judul semata.

"Siapa di situ?" tanyanya, begitu menyadari pintu ruangan sedikit terbuka.

Sebenarnya, Toge takkan marah kalau ada yang ingin mendengarnya bernyanyi, sebab laki-laki dengan mata batu kecubung tersebut cukup yakin dengan kemampuan vokalnya. Ah, mungkin angin atau apa. Ia memilih mengabaikan hal sepele itu, kembali memainkan piano dan menyenandungkan lagu yang sama. Hari ini akan sangat melelahkan, jadi biarkan Inumaki menyemangati dirinya sendiri terlebih dahulu.

Belajar di kelas. Rapat OSIS. Menghadapi ketua yang entah kenapa sebegitu menyebalkan menurutnya.

Dan entah drama apalagi yang menanti.


Disclaimer: Jujutsu Kaisen miliknya Gege Akutami.

Genre: Romance, Humour.

Main Chara: Gojo Satoru, Inumaki Toge.

Warnings: DLDR. OOC-ness, alternative universe, agedown!Satoru, serta seperti kebanyakan peringatan dalam fanfiksi yang telah ada sebelumnya.

Summary: Sebab ada suatu kajian yang mengatakan, bahwa hanya dibutuhkan waktu empat menit untuk memutuskan apakah kita memiliki perasaan terhadap seseorang.


4 Minutes

Puas dengan permainan solo musiknya tadi, kini Inumaki Toge berjalan menyusuri koridor kelas sendirian, setiap tapakan kakinya tercipta lambat sebab tidak sedang diburu oleh apa pun. Terang saja si pemuda begitu santai, keadaan sekolah masih sepi dan sekitar tiga puluh menit lagi bel tanda pelajaran dimulai baru terdengar.

Beberapa hari absen ke tempatnya menimba ilmu, membuat Toge jadi sangat merindukan suasana ramainya kelas. Sampai tak ayal membuat dia begitu semangat datang sedini mungkin. Pasalnya belum menemukan murid lain di sekeliling sekolah, laki-laki ini pun berinisiatif pergi ke ruang musik tadi, lalu menyanyikan sebuah lagu kesukaan.

Lagipula pemuda berusia tujuh belas tahun ini memang memiliki passion pada bidang menyanyi, maka selain menjadi sekretaris OSIS, dia juga ikut aktif berpartisipasi dalam ekstrakulikuler musik. Salah satu khayalan terliarnya adalah, apabila konsep multiverse benar-benar nyata dan di dunia itu karena suatu kekuatan (asing) membuatnya dilarang sekadar berbicara wajar, Toge pasti tersiksa banget – dan berakhir jadi melankolis sendiri memikirkan nasib malang yang didramatisasi belaka.

Oke, berhentilah memikirkan sesuatu yang belum punya bukti ilmiah.

Begitu ia memasuki kelas, sontak sedikit kaget tatkala mendapati satu sosok yang merebahkan kepalanya di atas meja. Bukan karena tidak menyangka bahwa ada orang lain selain dirinya, atau merasa aneh sebab manusia tersebut yang sepertinya datang untuk melanjutkan aktivitas tidur semata. Hanya saja, makhluk yang dimaksud itu sungguh di luar prediksi; sama sekali tak dalam ranah estimasi.

Yuupz! Ini dia salah satu alasan kenapa Toge harus menyemangati diri pagi-pagi.

"Aah, Satoru-san! Tumben kau datang cepat sekali," tegurnya dengan nada skeptis, tidak lupa turut memukul-mukul benda yang menumpu setengah beban tubuhnya untuk berbaring, membuat sun-glasses di atas meja sedikit bergerak. Terganggu, terang saja sosok yang bersangkutan merasa demikian. Mengangkat kepalanya dan mengerjap beberapa detik, lambat-laun fokus netra sebiru langit itu terdireksi pada Toge yang berdiri di sampingnya.

"Kau kenapa, sih?" demikian respons verbalnya terdengar, melisankan rasa tak suka atas tindakan Toge yang merusak momen sleeping handsome-nya. Lelaki yang menjabat sebagai sekertaris OSIS ini belum memberikan tanggapan atas tutur Satoru sebelumnya, malah dengan kasual menyilangkan lengan di depan dada. Pandangan mereka saling beradu, bertatapan intens satu sama lain.

Cukup, belum sampai enam detik, Toge direksikan indera visualnya ke arah yang lain. Jengah melihat ekspresi malas itu terlalu lama, membuatnya merasa tepat untuk mengalihkan perhatian dari sosok tersebut. Lelaki yang dimaksud asyik melakukan perenggangan tubuh dengan mengangkat tinggi-tinggi kedua tangan, tapi ini bukan pertanda bahwa Satoru akan mengakhiri sesi tidur.

Terbukti saat dia kembali merebahkan kepala di atas kedua lengan yang saling terlipat rapi, ancang-ancang terlelap telah diberikan pula." Hei, Satoru! Ini sekolah, bukan tempat untuk tidur," bentakan tersebut terlontar darinya, kali ini dengan sesuka hati Toge menarik badan yang bersangkutan agar menjadi lebih tegap. Korban tindakan agak kasarnya masih bungkam, terus menatap tanpa minat.

"Bisakah kau hargai jerih payahku dengan membiarkanku tidur?" ketika Toge dengar sosok itu berkata demikian, serta-merta membuat sebelah alisnya terangkat. Tatapan mata penuh selidik, isyarat agar Satoru segera memerjelas maksudnya. "Hei! Apa kau ingat, aku yang mengerjakan seluruh tugas kelompok kita kemarin?" dan jawaban dalam bentuk interogatif tersebut membuat si pemilik netra ametis spontan terdiam.

Aah, iya, terakhir kali ia berada di sekolah, adalah saat seorang guru memberikan tugas kelompok. Sekitar seminggu yang lalu, dan alasan izin Toge bukan hanya membuatnya melewatkan pelajaran, tapi juga membebankan tugas kelompok pada Satoru Gojo seorang diri. Uups…! Menang telak darinya, dan sebagai imbalan, lelaki dengan iris sebiru langit itu kembali merebahkan diri ke atas meja.

Sempat saja Toge ingin menghardik perkataan lawan ngobrolnya, pemuda ini pun sudah menyiapkan sebuah umpatan. Bukan cuma itu, jari telunjuknya juga turut teracung di udara, dan bersiap untuk berbicara nyaring. Sayangnya batal, sebab pembelaan Satoru tadi kembali terngiang dalam benak. Matanya menyipit, kedua pipi menggembung, dengan begitu kesal ia menghentak-hentakan kaki ke lantai ruangan.

Masih di posisinya, dia mengamati Satoru yang telah berhasil membuana ke alam mimpi. Wajah menyebalkan itu menjadi tampak tenang, dan ini malah sukses membuat rasa keki meningkat beberapa persen. Tiga puluh lima detik, tiga puluh enam detik, di perjalanan menuju puluhan empat, Toge menyipitkan sensori penglihatan, dan seperti siap menggumamkan umpatan.

"Awas kau, yaa!" ancaman tersebut terlontar pelan. Lantas, mendireksikan langkah menuju tempat duduknya di dua baris berdepanan dengan orang yang sekarang tengah asyik bermimpi. Berupaya untuk mengabaikan kekesalan yang memang sebaiknya tidak ada, sengaja Toge menjatuhkan perhatian ke sembarang arah sekadar mencari kesibukkan kecil. Pikirkan secara logika, untuk apa merasa sebal terhadap tingkah laku Satoru?! Rasanya ini cuma membuang-buang waktu saja.

Satoru hanya teman sekelas dan ketua OSIS di sekolahnya, cukup. Jadi sebenarnya, Toge tak memiliki alasan yang tepat untuk merasa kesal pada perangainya – bahkan merocoki tidurnya pun, tidak. "Amit-amit, deh!" serta-merta ia berlisan demikian, ketika memikirkan opsi kelak bakal mendapati seorang kekasih yang memiliki perilaku serupa dengan laki-laki tersebut.

Well, dipikir-pikir lagi, Toge sendiri bingung kenapa dirinya mempunyai sikap antipati terhadap sang ketua, padahal yang bersangkutan selama ini tak pernah berbuat hal buruk apa pun mulai dari awal mereka masuk sekolah. Justru sebaliknya, banyak yang bilang Satoru jadi lebih jinak kalau dia yang turun tangan. Oleh karena itu, jabatan sekretaris OSIS diberikan padanya dengan alasan super penting. Dan tanpa sadar membuatnya terbiasa bersikap seperti istri (egois) yang menghadapi suami childish.

Entah faktanya memang begitu, atau ada sesuatu yang enggan Toge akui.

Reduksi amarah pun sukses, yang ternyata berakhir bersama direksi netranya tertuju ke sumber bad mood, Toge mencermati sosok tersebut sedemikian rupa. Sayang, Satoru yang di keadaan tertunduk membuatnya agak kesulitan mengamati lebih detail. Sekitar satu menit berhasil dipertahankan untuk sekadar menelitinya, lalu sekali lagi dia destinasikan arah indera visual ke objek yang lain.

Toge beranggapan dengan lama-lama melihatnya, hanya akan mengembalikan rasa kesal saja.

Berpura-pura tidak peduli begitu menyadari mendadak Satoru menegapkan tubuhnya. Terlihat ia berusaha meraih kesadaran penuh dengan mengusap-usap mukanya, memasang sun-glassess andalan, lalu pemuda menyebalkan ini tahu-tahu ada di samping Toge. Masih terdengar mengantuk ketika melisankan, "Inumaki, nanti kita ada rapat," yang menerima tanggapan berupa anggukan kepala beberapa kali.

Lucunya, alih-alih pergi, sang ketua OSIS itu seperti mendesak agar mereka terus saling bertukar atensi.

"Apa?!" belum semenit sosok itu berdiri santai di dekatnya, Toge acap mengusirnya menggunakan satu kata tanya dengan intonasi kurang bersahabat. Mengerti tanda peringatan tersebut, Satoru segera cari aman sebelum lisan bernada sarkastis selanjutnya terdengar. Ia pergi, dan tidak mengerti alasan tepatnya, si kecil cabe rawit ini terus memandanginya dari belakang sampai refleksinya tak terpantul lagi di retina ametisnya.

"Memangnya siapa yang menyusun jadwal sambil memastikan kau bakalan hadir, hah?!" dia berkata seorang diri, bagai pemain film yang sedang bermonolog ria menghapalkan teks skenario. Ngomong-ngomong soal sandiwara, sekarang laki-laki ini disuguhkan dengan drama (super) klise berupa dua sejoli yang kerjanya hanya beradu argumen tiap hari.

Toge pun memindahkan perhatian ke sahabatnya, Megumi, yang terus menggumamkan beberapa lisan berisi kekesalan terhadap satu makhluk Adam lain yang kini berdiri di sebelahnya. Dari ekor mata, si sekertaris OSIS ini disuguhi adegan lelaki berambut peach, Yuuji, berlagak memohon dengan semua jari-jemarinya tertaut erat sembari memeluk sebuah tongkat bisbol. Untuk sesaat, teman akrabnya itu tidak menggubris, yang lama-lama berhasil takluk lalu mengangguk juga.

Jujur saja, sorry not sorry, Toge benar-benar kaget dengan fakta bahwa kawan baiknya ini menerima pernyataan cinta Yuuji setelah menolaknya belasan kali. Apalagi begitu Megumi berkata, waktu itu dia hanya perlu sekitar lima menit mengamati secara mendetail laki-laki ceria yang dimaksud, tiba-tiba saja ada dorongan aneh yang membuatnya merasa… jatuh hati.

Nani? What?! Apa?!

Ketika mencoba mencari penjelasan logis, Toge dapati alasannya pada sebuah laman internet yang membahas tentang dunia asmara. Masih tinggal di benaknya, dari sepuluh kenyataan tentang cinta yang tertulis dalam web tersebut, salah satu fakta merujuk bahwa cuma butuh waktu empat menit untuk memutuskan apakah kita memiliki perasaan terhadap seseorang.

Toge semakin dipaksa untuk meyakini, tatkala ada deskripsi pada laman tersebut yang menyebut-nyebut kalau hal ini telah dibuktikan dalam suatu penelitian. "It's crazy! Mana mungkin segampang itu," jelas saja otak rasionalnya berpendapat demikian, seraya menujukan picingan netra ke arah orang yang duduk di sampingnya.

Sang sahabat sempat menanyakan arti delikan matanya, dan reaksinya hanya berupa pergerakan santai mengangkat kedua pundak bersamaan."Aku tahu, oke?! I knooow!" terpaksa Toge mengucap frase pendek itu dengan gemas, ketika Megumi mengulang informasi yang sebelumnya sudah dibicarakan Satoru – mengenai rapat organisasi intra sekolah.

Sekali lagi ada yang mengingatkan, kau akan dihadiahi sebuah piring cantik, Toge!

Megumi pergi keluar kelas, sehingga sekarang cuma ada dia dan Yuuji yang telah mengambil tempat di bangkunya sendiri. Terlintas dalam pikiran untuk membuktikan keajaiban dari pengetahuan yang didapatnya, dan mari dipratekkan pada satu-satunya makhluk Adam yang saat ini bersamanya. Toge sengaja berpindah duduk ke kursi guru, berupaya tidak tampak tersirat niatan (aneh) apa pun waktu mengamati.

Oke, ia mulai mencermati.

Satu menit dihabiskan dengan melihati pemuda yang sedang sibuk sendiri melap-lap tongkat bisbol favoritnya, sambil sesekali terkekeh ambigu. Menuju ke detik seratus dua puluh, si objek pengamatan saat ini tengah mengobrak-abrik isi tasnya karena mencari sesuatu. Pada menit ketiga, ia temukan Yuuji lagi asyik membaca buku komik yang berhasil didapatnya. Di perjalanan dua ratus empat puluh detik, Toge menggelengkan kepala dan merasa pacar Megumi itu sama sekali tak ada sisi menariknya.

Sekali lagi, gomennasai tanpa maaf.

Jadi, apabila riset tentang empat menit tersebut memang benar, maka sekarang Toge memutuskan untuk tidak menyukai si subjek eksperimen singkatnya. "Astaga!" ia tampak stress sendiri, tatkala orang yang tadi diamatinya kini kembali memberikan informasi berulang mengenai pertemuan rapat OSIS. Piring cantik, mana piring cantiknya?!


o O o

Rapat OSIS telah berakhir dengan tanpa kehadiran pemimpin pertemuan, dan sukses membuat urat-urat nadinya terlihat yang mengkodekan betapa geramnya Toge. Padahal, bukankah tadi pagi lelaki itu sempat berlagak memberitahunya, dan sekarang justru yang bersangkutan tidak menunjukkan batang hidung. Hell! Satoru bahkan bolos di pelajaran terakhir.

Tinggal ia seorang diri, yang mana semua rekan sejawatnya sudah pergi ke kediaman masing-masing.

Megumi sendiri terpaksa pergi terlebih dahulu, sebab dia telah berjanji pada pacarnya untuk menemani pemuda itu mencari sesuatu – entah apa, Toge sendiri pun tak mau tahu. Terjawablah maksud dari aksi mohon-memohon Yuuji tadi pagi, membuatnya berakhir seorang diri tanpa teman untuk merapikan ruang organisasi.

Sebenarnya, dia butuh bantuan untuk menyelamatkan keadaan ruangan yang lumayan luas ini dari kata terlantar. Bayangkan saja, banyak buku berserakan di mana-mana, belum lagi map-map tebal yang semakin menambah kondisi berantakan. Seraya terus mencelotehkan banyak kalimat, Toge mengambil objek-objek tersebut dan meletakannya sesuai tempat.

"My God!" mendapati satu barang asing di bawah meja besar, acap membuatnya bertutur demikian. Mengangkat sebuah tongkat bisbol yang tadinya dibawa oleh Yuuji waktu mengikuti rapat OSIS. Toge menggelengkan kepala pelan, melihati sekeliling ruangan, mengira-ngira di mana sekiranya ia bisa menyimpan benda tersebut.

Aktivitasnya terhenti, di waktu pintu utama terbuka akibat dorongan dari arah luar. Gojo Satoru, si ketua OSIS itu memasuki ruangan setelah kembali menutup penghalang keluar-masuk. Dan langsung disambut Toge dengan sebuah raut tidak senang, juga ditambahkan lagak mengacak pinggang segala – sungguh kesal rupanya.

"Luar biasa, Ketua! Amazing," sindirnya, ketika Satoru dengan seenaknya malah kembali merebahkan kepalanya di atas meja. Tak menerima tanggapan, si pemuda berambut platinum silver belum memberikan respons dalam bentuk apa pun. Namun, saat yang bersangkutan menegapkan kembali tubuh dan langsung mengarahkan netra padanya, Toge tahu sebentar lagi akan ada yang terucap dari mulutnya.

"Kau tidak baca chat-ku, kan?" eeh, orang itu justru membalas ujaran sarkastisnya dengan kalimat interogatif. Ia tak memberi tanggapan, secepat kilat merogoh ponsel dari dalam tas selempangnya. Terdiam dengan pandangan kosong, begitu mendapati ada beberapa pesan yang dikirim oleh sang ketua organisasi intra sekolah. Isinya meminta Toge agar segera datang memanggilnya, yang pergi menumpang tidur di ruang ekstrakulikuler musik begitu rapat akan berlangsung.

Menaruh smartphone dalam saku seragam, Toge seperti kehilangan pasokan kata buat melanjutkan aksi misuh-misuh sembarang. Memainkan tongkat bisbol yang masih mendiami tangan kirinya, anggap saja si platinum blonde itu sedang berupaya mencari kesibukan kecil agar tidak terlalu dirundung perasaan bersalah – ternyata dia yang menjadi penyebab absennya Satoru.

Well, ini bukan seratus persen salah Toge. Satoru semestinya punya rasa tanggung jawab, kan?

"Oke!" kembali terdengar suaranya berlisan, sementara otak sedang bekerja untuk membuat pemuda tersebut tetap menerima konsekuensi dari ketidakhadiran dirinya sebagai ketua – jangan harap ada kompensasi. Lambat-laun, sebuah ide brilliant muncul di benaknya, "rapikan tempat ini, sekarang!" semerta-merta Toge memerintah, seperti seorang penguasa dengan gaya sok mendominasi.

Alih-alih mengerjakan suruhan tersebut, Satoru malah menanggapi dengan sebentuk wajah terkejut karena lelaki yang cuma setinggi bahunya itu berani bersikap diktator. "Please!" sementara cukup itu ujaran yang terlontar dari mulutnya – ditemani ekspresi muka meremehkan. Toge enggan kalah, jari telunjuknya mengarah ke sekitar sudut ruangan, secara non-verbal terus memaksa.

"Kau harus membunuhku dulu agar bersedia mengikuti maumu!"

Ooh, rupanya ada yang sudah bosan hidup, yaa! Santainya Satoru mengusul sebuah gagasan, meski nyawanya yang menjadi taruhan. Toge tersenyum manis, sembari mengangkat tinggi-tinggi tongkat bisbol yang sedari tadi terus mendiami genggaman tangan kirinya. "Idemu terdengar bagus juga," lisan ancaman pun tercetus kasual, yang berhasil membuat si ketua OSIS kelimpungan setengah mati di posisi duduknya.

Matanya kontan membulat sempurna, indikasi mendesak Satoru agar segera mengikuti instruksinya sebelum adegan kekerasan benar-benar terealisasi di sini. Ikhlas atau tidak, sama sekali bukan urusan Toge, yang penting sekarang lelaki itu mulai mengerjakan apa yang diperintahkan. Dengan santai sang sekertaris OSIS ini menempati bangku yang telah ditinggalkan pemiliknya.

Hampir lima belas menit berlalu, suasana nyaris serupa hutan belantara di kala dini hari menguasai, akhirnya Toge memutuskan untuk mengamati dengan rinci sosok yang sekarang sibuk sendiri. Kali ini dia bisa memerhatikan secara menyeluruh, sebab yang bersangkutan tak lagi asyik berbaring – sehingga dapat lebih jelas mengobservasi.

Terhitung enam puluh detik dari Toge mulai mengarahkan pandangan dengan intens padanya, pemuda mungil ini dapati sosok jangkung tersebut mencoba meletakkan map-map tebal di bagian teratas rak buku. Keringat mulai membasahi tubuh (seksi) itu, dan tetesan yang mengalir dari pelipis ke leher membuatnya tampak begitu berbeda.

Dalam perjalanan menuju dua menit, Toge melihatnya membuka kancing seragam, menarik sun-glasses dan menaruhnya ke saku celana, lalu mengibaskan baju yang telah dibanjiri oleh keringatnya sendiri. Belum lagi saat indera visualnya tertuju pada iris ametis sambil menitipkan dasi yang baru dilepasnya ke atas meja, tetap menjaga direksi netra mereka saling terpaku waktu menaruh buku-buku tebal di tempat yang sama.

Di seratus delapan puluh detik, dia wajib mengakui kalau Satoru memiliki cara melangkah yang keren. Setiap tapakan kakinya terdengar berirama, gerakan slow motion-nya bikin sosok itu tampak sedemikian mempesona. Passion yang dimilikinya begitu jauh dari kesan pemalas tanpa minat. Jangan lupakan juga, kondisi pakaian Satoru yang sudah tidak rapi lagi, justru membuatnya terkesan semakin… hot.

Tatkala menit keempat menghampiri, Toge gagal memertahankan diri untuk tak tersenyum ambigu. Bahkan, tanpa disadari, tubuhnya menyandarkan beban pada sandaran kursi. Aah, rupanya dia sedang menikmati pemandangan (eksotis) yang tersaji sepenuh hati. Sementara di sana, Satoru semakin beraksi liar dengan mengangkat tinggi-tinggi kedua tangan, bermaksud merenggangkan otot-otot yang terasa kaku.

Sensasinya seperti… there's something about you makes me wanna do things that I shouldn't.

Dia pindahkan atensi ke direksi yang berbeda, hanya saja semuanya terlambat. Sedemikian gagal Toge menampik, bahwa sekalipun mata tidak tertuju lagi padanya, tapi dalam benak masih mampu mengingat semua gerak-gerik itu dengan jelas. Bayangan Satoru sudah menetap di pikiran pemuda ini; refleksinya telanjur tertancap kuat dalam otaknya.

"Done!" pemberitahuan singkat itu membuatnya terpaksa memulangkan pusat perhatian pada Satoru. Berusaha sekeras mungkin menahan sunggingan lebar yang sedari tadi ia tolak setengah mati, tak ingin membuatnya tahu kalau Toge telah sukses terpesona oleh daya pikatnya. Si sekretaris OSIS pun beranjak dari posisi santai, berdiri tegak, tetapi sama sekali belum melangkah.

Toge rasakan handphone-nya bergetar, dan ketika lelaki ini mengangkat panggilan, rupanya sang teman baik langsung mengucapkan berbagai lisan. "Nanti aku telepon balik," katanya, meski demikian masih sempat mendengar bahwa Megumi baru saja menerima sebuah hadiah istimewa dari kekasihnya. Yaa, berita soal dua pasangan aneh itu bisa menunggu, sekarang dia punya urusan yang lebih penting.

Perlahan tapi pasti, Toge mendekati ketua OSIS-nya yang berdiri sejauh lima meter darinya. Sengaja ia mengambil dasi Satoru yang tercecer sembarangan di atas meja, dan begitu berhadapan, langsung memasangkan esensi seragam sekolah itu ke kerah bajunya. Sial! Sekarang ada yang kena batunya, saat ini tanpa paksaan, laki-laki beriris ametis pun memercayai isi American Journal of Sociology yang pernah bikin gagal paham.

Selesai mengikat dasi itu di lehernya, Toge sempatkan juga untuk menepuk-nepuk kedua pundaknya. Kali ini, Satoru tersenyum (licik) penuh arti, bahkan dengan sok cool menarik sedikit kerah baju seusai memakai kembali kacamata hitamnya – gaya keren pria-pria yang sukses menaklukkan target cinta. Damn! Kenapa baru sekarang ia menyadari lelaki yang hobi mengenakan sun-glasses ini begitu menawan?

Duh, atau lebih tepatnya, Toge baru berani mengakui pesona dahsyat Satoru.

"Satoru-san, apa kau punya pacar?"

Si penerima tanya bungkam sesaat, tetapi di lima detik kemudian menggeleng pelan. Toge tersenyum, "bagus! Mulai saat ini, kau jadi pacarku." Ucapan blak-blakan itu terlisan dari mulutnya, dia turut menambah aksen sok dingin dengan menyilangkan kedua lengan ke depan dada. Sekali lagi, tanggapan yang diberi Satoru cuma senyuman tipis, dan sekarang diikuti alis yang terangkat sebelah.

Ooh, boy, bukankah kamu sudah diperingatkan untuk berhati-hati di waktu empat menitmu ketika mencermati seseorang? Bisa saja, dia yang awalnya kalian pikir begitu menyebalkan, malah mengisi perasaan dengan daya pikat luar biasa. Sampai-sampai tidak mampu mengabaikan begitu saja, dan semuanya menjadi berbeda.

"Ayo, pulang!"

Ia melangkahkan kaki terlebih dahulu, yang kontan tertahan saat ada genggaman dari tangan lain mendadak tertaut dengan jari-jarinya. Kali ini Satoru yang bersikap mendominasi, tahu-tahu menariknya dalam sebuah pelukan erat. Kemudian berbisik, "akhirnya kau berani mengakui perasaanmu sendiri, yaa?" bikin pipi Toge semerah kepiting rebus.

Ah, fakta di balik realita, tentu ada alasan konkret mengapa laki-laki berambut pirang platinum itu menyimpan kekesalan terhadap Satoru. Toge sebenarnya dari dulu berusaha menolak kenyataan kalau ketua OSIS-nya begitu menawan. Inilah yang membuatnya merasa keki sendiri, karena denial bukan berarti benar-benar melupakan.

He's too good to be true.

Mungkin kajian yang menyatakan, bahwa hanya butuh waktu empat menit untuk memutuskan apakah kita memiliki perasaan terhadap seseorang bukanlah omong kosong belaka. Toge bisa menjadi contoh yang baik dalam realisasinya. Cukup memerhatikan dengan rinci dalam kurun waktu dua ratus empat puluh detik, dan seluruh tembok pertahanan pun runtuh. Akan tetapi, sedikit tambahan berdasarkan pengalaman, bahwa rasa tertarik memang harus ada sejak lama.

Sekarang…

Inumaki Toge punya alasan tepat buat menyanyikan sebuah love song dalam arti yang sebenarnya.

Finish


A/N: Selamat menikmati libur (agak) panjang, dan (early) Happy Valentine Day buat salah satu kapal tersayang! Sebenarnya saya sempat berpikir untuk sementara vakum dari fandom ini dan (pasti) batal nyumbang arsip baru, ternyata tahu-tahu datang lagi. Yah, saya sendiri merasa senang bisa aktif berkarya akhir-akhir ini.

Dan iya, dari keempat fanfiksi yang saya re-create, ini yang paling nguras tenaga. Soalnya gaya penulisan saya di tahun 2014 dibanding yang sekarang itu mengalami banyak perubahan, terus penambahan detail yang bikin khilaf sampai 3K+ kata.

Sejujurnya bukan ini ide yang mau dieksekusi buat GoToge, tapi saya merasa butuh memerbaiki plot yang pernah saya eksekusi lagi. Awalnya juga berpikir proyek revisi udah selesai, tapi begitu iseng cek file lama dan re-read ini, saya otomatis membuat keputusan (impulsif) untuk modifikasi (total) sebab aslinya saya sangat menyukai konsepnya, tapi pengerjaan yang dulu kurang memuaskan. Dan akhirnya saya senang sendiri dengan hasil yang ini.

Terakhir, semoga fandom Jujutsu Kaisen makin ramai, khususnya arsip-arsip (GoToge) yang berbahasa Indonesia.

Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Bersediakah buat memberi review? Saya tunggu.

Salam,

M0N.