Beating Heart
AUTHOR : HUANG AND WU
GENRE : FANTASY, FAMILY
LENGTH : ONESHOT
CHARACTER : KIM JONGIN, DO KYUNGSOO, etc.
POINT OF VIEW : AUTHOR
RATE : T for gun usage, dramatic divorce, kill attempts, and mention of blood
SUMMARY :
Jongin adalah pemburu kelas kakap yang senang berburu hewan liar dan burung-burung di hutan Amerika selatan. Suatu kejadian dalam perburuannya mengubah hidupnya untuk selamanya—dan memberinya keajaiban.
WARNING! IT IS YAOI!
Halo!
IT'S BEEN A FUCKING LONG TIME, GUYS! Astaga, Huang and Wu bener-bener kangen sama kalian! We've taken long hiatus dikarenakan persiapan koas kedokteran, penelitian, blablabla, dan tentunya WRITER'S BLOCK! Huang and Wu tidak bisa menjanjikan untuk mempost cerita secara regular kayak dulu, but THE LEAST we can do is to upload a short story when we HAVE one. So, here you go! A new story from us!
Ps : buat yang nunggu If You Could See Me Now dan The Golden Chrysoberyl, we're so so SOOOO SORRY karena masih writer's block. Huang and Wu masih mencari referensi-referensi untuk melanjutkan ceritanya. If any of you readers tersayang punya referensi film Roman history / Greek gods macem Hercules, Zeus, dkk / Knights of Templar references / Kingdom-styled references / New England (abad 15-17) settings references (referensi film, game, buku, fanfictions, short movies, blog, ANYTHING!), pleaseeee drop in comments or langsung PM aja! That'll be very very helpful for us!
Sekian dari HAW! Lets cekidot!
.
-Beating Heart-
.
.
"HIYA!"
TOK TOK TOK
Suara derap kaki kuda terdengar jelas di hutan belantara area Peru itu. Kuda berwarna putih dikendarai oleh seorang pria gagah dengan lihai, melompati rintangan-rintangan batang pohon serta lubang-lubang di hutan tersebut. Pria berwajah blasteran Korean-American tersebut menarik tali kekang kudanya ke kanan—berbelok arah. Matanya fokus menatap jalur di depannya.
Pria tersebut adalah Kim Jongin, main cast utama kita. Sebagai deskripsi singkat, Jongin adalah seorang pemburu kelas kakap di hutan tersebut. Jika kamu mau mencari hewan-hewan liar seperti llama, inca, jaguar, dan lainnya yang tersebar di Amerika Selatan, Jongin adalah orangnya. Jongin menjadi terkenal di kalangan circle pemburu karena merupakan satu-satunya pemburu yang dapat menangkap Andean cock-of-the-rock bird (read, silakan googling), burung langka yang hanya dapat ditemukan di Peru. Dan dia menangkapnya dalam keadaan hidup, sehingga harganya melonjak menjadi sangat mahal. Burung tersebut akhirnya dilelang dan Jongin mendapat harga ¾ dari lelang tertinggi burung tersebut.
Jongin sedang tidak berburu, dia hanya sedang pemanasan sekarang. Namun begitu, ia selalu siap sedia dengan rifle di punggungnya dan shotgun tersampir pada sabuknya. Ia juga membawa handgun di sisi sabuknya yang lain, dan beberapa poison darts, rope darts, dan jaring di dalam sling bag kulit kusam yang selalu ia bawa. Pada tas kuda yang tersampir pada pelananya, Jongin selalu membawa perbekalan dan peralatan survival lainnya—tak heran, mengingat dalam memburu seekor hewan diperlukan kesabaran dan ketangkasan yang tinggi. Jongin bahkan pernah memburu seekor jaguar yang ia amati selama dua bulan untuk memahami behaviournya, sebelum akhirnya menangkapnya dan menjualnya. Luar biasa memang.
SRET!
Tiba-tiba, kuda putih Jongin mengerem larinya, membuat Jongin terkaget sebentar kemudian menenangkan kudanya. Ia menepuk leher kudanya dengan lembut, menenangkan kudanya.
"Ada apa, Albine?"tanyanya, dan dijawab dengan dengusan.
Jongin menatap sekeliling, menajamkan pendengarannya. Jika Albine bertingkah seperti itu, biasanya ada sesuatu yang hidup di sekitarnya yang tidak bisa dilihat Albine. Ada dua kemungkinan untuk sesuatu itu; bisa jadi hewan buruan selanjutnya, atau seseorang. Jongin mengambil rifle di punggungnya, kemudian mengatur scope rifle itu (read, bagian yang membantu seorang penembak melihat dari kejauhan. Dalam penggunaan scope, harus disesuaikan dengan firing range dari firing gun yang digunakan, karena scope punya perbedaan jarak pandang tergantung tipenya). Ia menarik safety dari riflenya (read, bagian yang berfungsi untuk mempersiapkan rifle sehingga ketika triggernya diklik, akan langsung menembakan peluru. Setiap firing gun hanya bisa digunakan ketika safety clipnya dimatikan atau ditarik) kemudian mempersiapkan kuda-kudanya.
SREK SREK
Jongin mendengar suara-suara dari semak-semak di depannya. Ia mengangkat riflenya, menyesuaikan mata tajamnya dengan scope pada riflenya, dan menarik nafas pelan. Dalam pandangannya, ia melihat seekor rusa berwarna cokelat muda dengan kepala kecil berlari darinya. Jongin tersenyum miring.
"Gotcha."
DOR!
Jongin menembak sekali, lantas mendengus ketika ternyata rusa itu berlari lebih cepat dan berhasil mengelak pelurunya. Peluru tersebut menancap pada pohon yang tadi melindungi rusa itu. Jongin baru berbalik dan siap menaiki kudanya lagi ketika ia mendengar suara seseorang yang lirih.
"To-tolong..."
Jongin menengok ke segala arah, suara itu lemah dan pelan. Ia berjalan sambil memegang tali kekang kudanya, dengan rifle masih di tangannya. Ia menatap ke arah rusa tadi berlari, dan begitu terkejutnya ia ketika melihat seorang pria muda yang berdiri dengan tertatih-tatih, dengan lengan kanannya yang mengucurkan darah.
Yang mengagetkan adalah lukanya seperti luka tembak.
"Hey, hey!"
Jongin berlari ke arahnya, kemudian menyentuh pundak itu. Pria muda itu pucat, lebih pendek dari Jongin, dengan rambut hitam kelam. Kulitnya yang putih semakin pucat, dengan mata bulatnya yang tampak sendu dan bibirnya mulai memutih. Jongin segera mengambil kain dari sling bag cokelatnya, mengikat luka itu kuat-kuat. Luka itu persis seperti luka tembak—padahal Jongin yakin sekali ia tidak mengenai apa-apa tadi!
"Hey, hey! Bertahanlah!"
"PRIIITTT!"
Jongin melakukan horse whistle, memanggil kudanya. Kuda itu berlari pelan ke arah Jongin. Jongin membopoh tubuh pria muda itu, kemudian menaikkannya ke kudanya perlahan. Setelah memastikan pria itu telah aman, ia menaiki kudanya dan duduk di belakangnya. Ia meraih sebuah tali tambang dari tas pelananya, kemudian mengikatnya dengan tubuh pria itu—memastikan bahwa pria itu tidak akan jatuh selama ia berkuda. Setelah menguatkan ikatannya, Jongin memacu kudanya cepat dari tempat itu.
-xoxo-
"Krystal! Krystal!"
Jongin berteriak di depan sebuah rumah sederhana di tengah hutan, memanggil seseorang. Seorang wanita cantik dengan gaun kumuh berlari ke luar rumah, menghampiri kuda Jongin. Wanita itu tampak terkejut, melihat Jongin membawa seseorang yang pingsan di depannya.
"Ya Tuhan, ada apa ini!?"
Krystal membantu Jongin menurunkan pria muda misterius itu, kemudian Jongin segera mengambil alih dan menggendongnya di punggung. Ia segera berlari masuk, disusul oleh Krystal—wanita tadi. Mereka memasuki sebuah kamar, dan Jongin segera menidurkan pria itu perlahan.
"Segera panggil tabib, dan ambil beberapa herbal dan pertolongan pertama di laci dapur."ucap Jongin, diangguki Krystal.
Krystal menuju dapur, berlari ke laci-laci di sana dan mengambil beberapa botol herbal serta beberapa first aid pack. Jongin membuka baju pria muda itu dengan sedikit kasar, dan masih menekan luka yang mengucurkan darah itu. Krystal kembali, dan langsung memberikan barang-barang tadi pada Jongin.
"Aku akan memanggil tabib."
Krystal berlari keluar, menaiki Albine dan berlari ke desa terdekat—mencari tabib. Jongin mengurusi pria muda tadi dengan pengobatan sederhananya. Ia membersihkan darah pada luka itu dengan kain bersih yang dibasahi air dingin dengan telaten. Setelah memastikannya bersih, ia melumuri mixture daun mint di sekitar luka itu tanpa mengenai lukanya—luka itu agak terbuka dan tidak tembus, menandakan pelurunya masih tersarang di dalam sana. Ia mengecek deru nafas pria muda itu. Lambat, tapi hidup; pikirnya.
TOK TOK TOK
Suara derap kaki kuda terdengar di luar rumah itu, disusul oleh kehadiran dua orang—Krystal dan seorang wanita tua dengan pakaian dokter yang lusuh. Tabib itu mempersilahkan Jongin dan Krystal keluar, dan langsung menangani pasien barunya.
-xoxo-
Dua jam dilalui, dan bersyukurnya tabib tersebut mampu mengeluarkan peluru yang bersarang pada luka itu. Ia menganjurkan pemberian buah-buahan dan sayuran hijau untuk makanannya, dengan ikan-ikanan sebagai lauknya. Ia memberikan mixture basil dengan madu yang dapat diaplikasikan ke luka itu selama beberapa hari kedepan, dan luka itu pun sudah dijahit dengan benang jahit.
"Aku akan kembali dalam tujuh hari untuk membuka jahitannya. Ketika kalian menangani lukanya, jangan lupa menjaga kebersihannya."ucap sang tabib, diangguki Jongin dan Krystal.
"Maaf tabib, tapi aku perlu bantuanmu. Aku sama sekali tidak mengetahui pemuda itu, Krystal juga tidak mengenalinya. Mohon mengambil sketsa wajahnya dan diberikan pada sheriff, untuk mencari identitasnya."ucap Jongin, diangguki tabib itu.
"Aku akan memanggil pelukis desa ke sini untuk mengambil sketsanya."ucap tabib itu, diangguki Jongin dan Krystal.
Jongin menawarkan untuk mengantar tabib itu kembali ke desa dengan kudanya. Setelahnya, hanya derap kuda yang semakin menghilang yang terdengar.
-xoxo-
Jongin telah kembali, dan Krystal sedang mempersiapkan makan malam. Jongin menaruh hunting toolsnya ke dalam tas pelana kudanya, kemudian mengikat tali kekang kudanya di dalam kandang belakang rumah. Ia menghampiri Krystal yang sedang menyajikan ikan bakar itu, tersenyum padanya.
"Oh, my darling. Maafkan aku merepotkanmu hari ini."ucapnya, kemudian mengecup kening Krystal dengan penuh cinta.
"It's fine. Sebenarnya, apa yang terjadi? Kau belum cerita apa-apa padaku."
Jongin duduk di salah satu kursi, kemudian Krystal menyerahkan piring dengan roti bakar mentega di atasnya. Jongin menghela nafas pelan, menggeleng pada Krystal. Krystal memahami bahasa tubuh Jongin; tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui apapun. Krystal duduk di samping Jongin, kemudian menggenggam tangannya.
"Setelah dia sadar, kita bisa menanyainya pelan-pelan."ucap Krystal, diangguki Jongin.
Krystal meraih sebuah teapot di atas kompor, kemudian meraih dua gelas dan menatanya di meja. Ia menuangkan isi teapot pada gelas itu, bau harum lemon menyeruak memenuhi penciuman Jongin.
"Mau teh lemon?"
-xoxo-
Sudah beberapa hari berlalu, pria muda yang Jongin selamatkan belum juga terbangun. Pelukis dari desa setempat telah datang mengambil sketsa, dan Jongin sudah diinformasikan mengenai kesediaan sheriff setempat membantunya mencari identitas pria muda itu. Jongin sering memasuki kamar itu, duduk di kursi di sampingnya, mengamati pria muda itu dalam diam. Ia masih belum memahami situasinya antara pria muda itu dengan dirinya, namun ia diam saja. Krystal juga tidak bertanya macam-macam padanya—hanya menanyai keadaan pria itu.
"Bangunlah. Beri aku penjelasan, dan yakinkan bahwa rasa bersalah ini tidak diperlukan."gumam Jongin, disusul helaan nafas panjang.
Rasa bersalah masih memenuhi dirinya, ia benar-benar menyalahi dirinya atas keadaan pemuda itu. Jongin mungkin seorang pemburu andalan, namun ia tidak pernah menembakkan senjatanya pada seorang manusia—hal ini cukup traumatis baginya. Jongin perlu penjelasan, bagaimana bisa ia menembak pemuda itu ketika pelurunya jelas-jelas menancap pada pohon.
"Hai."
Jongin mengangkat kepalanya, bertemu pandang dengan pemuda misterius itu. Pemuda itu bangun! Jongin tersenyum, matanya berkaca-kaca. Ia berdiri, kemudian segera mencari Krystal.
"Krystal, cari tabib itu. Dia sudah bangun."
Setelah memberitahu Krystal, ia kembali ke dalam ruangan itu dan bertemu pandang dengan mata hijau-keunguan pria itu. Mata yang indah, menghipnotis, dan begitu polos. Jongin terjatuh pada pesonanya seketika.
"Apa kau yang menyelamatkanku?"tanya pemuda itu, dengan suara masih agak serak.
"Aku Kim Jongin. Siapa namamu?"tanya Jongin, kembali duduk ke kursi tadi.
"Aku Kyungsoo."jawab pemuda itu, disusul senyuman manis.
"Istriku sedang memanggil tabib untuk mengecek keadaanmu. Tunggulah sebentar. Bagaimana kondisi lenganmu?"tanya Jongin, membuat keduanya menatap lengan Kyungsoo yang dibalut perban.
"Rasanya membaik. Tanganku tidak mati rasa, semoga segera sembuh."ucap Kyungsoo, membuat Jongin merasa lega.
"Syukurlah."
Hening absolut. Hanya Jongin dan Kyungsoo saling berpandangan, saling terpesona pada satu sama lain. Jongin tidak bisa berhenti memandang iris mata Kyungsoo yang begitu indah, dan Kyungsoo sendiri tidak menampik bahwa pria di hadapannya sungguhlah tampan dan mempesona—postur tubuhnya, caranya berbicara, pandangan matanya; semuanya menghipnotis Kyungsoo perlahan.
"Aku—aku minta maaf."
Kyungsoo mengernyit, menatap Jongin heran. Jongin menghela nafas pelan, kemudian menatap pemuda itu. Kali ini, tangannya bergerak menggenggam tangan Kyungsoo, mengusapnya lembut. Perbuatannya membuat jantung Kyungsoo berubah menjadi arena pacuan kuda.
"Kurasa, aku yang menembakmu di hutan beberapa hari lalu. Aku sama sekali tidak sengaja. Aku sedang berburu, namun peluruku mengenaimu. Aku benar-benar minta maaf."ucap Jongin, disenyumi Kyungsoo.
"Aku memaafkanmu, Jongin."
Jongin menatap Kyungsoo berkaca-kaca, kemudian menghela nafas pelan—lega sekali rasanya. Keduanya sama-sama tersenyum, satu masalah selesai begitu saja dan meringankan beban.
TOK TOK TOK
Terdengar suara langkah kaki kuda, dan disusul dua orang memasuki ruangan itu. Tabib wanita sebelumnya berjalan ke sisi lain kasur Kyungsoo, dengan Krystal langsung berdiri ke belakang Jongin dan memeluk lehernya. Kyungsoo menatap Krystal, yang tersenyum hangat padanya—keduanya tampak sangat serasi, dan Kyungsoo berasumsi keduanya telah menikah cukup lama.
"Lukanya sudah membaik, dan sepertinya kondisimu sudah pulih. Untuk makanannya, tetap dianjurkan seperti diet sebelumnya, dan kalau bisa kau beristirahat beberapa hari lagi di sini."ucap tabib itu, diangguki Kyungsoo.
"Terimakasih."
Jongin menawarkan mengantar tabib itu pulang, selagi Krystal menanyai Kyungsoo apa yang mau dia makan selanjutnya.
-xoxo-
Ruang makan itu dipenuhi tiga orang. Kyungsoo menikmati sayur ikan buatan Krystal, dengan Jongin yang makan dengan lahap. Tidak ada yang berbicara sebelumnya, hanya menikmati makanan itu. Krystal beberapa kali mencuri pandang pada Kyungsoo, yang tengah menyeruput teh lemonnya dalam diam.
"So, Kyungsoo. Darimana asalmu?"tanya Krystal, tanpa basa-basi—gesture tangannya menunjukkan keseriusannya.
"Aku tinggal di perbatasan Peru dan Argentina. Di dalam hutan juga, seperti kalian."ucap Kyungsoo, kemudian menaruh gelas tehnya ke meja.
"I know it sounds weird, tapi bisa jelaskan kronologi kejadian kemarin?"tanya Krystal, dengan pandangannya berpindah antara Kyungsoo dan Jongin.
Jongin berdehem pelan, menengok ke Kyungsoo di sampingnya hanya menatapnya dalam. Jongin sedikit tercekat dengan iris mata itu, kemudian menghela nafas pelan dan menatap istrinya.
"Aku sedang pemanasan dengan Albine, dan menemukan seekor hewan. Dia adalah targetku sebenarnya, tapi entah kenapa tembakanku meleset dan mengenai Kyungsoo. Singkatnya begitu, sayang."ucap Jongin, dihadiahi tatapan mencurigakan Krystal pada Kyungsoo—Kyungsoo menyadari isi pemikiran Krystal.
"Apa benar kau ada di sana saat itu? Because, obviously, aku yakin Jongin cukup handal untuk menembak dan hampir tidak pernah meleset."ucap Krystal, kemudian meneguk teh lemonnya lagi.
"Listen. Maafkan aku atas kerepotan ini, aku memahami bahwa istrimu sangat concern dengan kondisi kita berdua. Aku juga tidak pernah meminta untuk terkena tembakan atau apapun, semuanya pure accident. Jika kalian menganggap aku akan meminta kompensasi atau hanya bagian dari scammer ring, aku sama sekali bukan yang kalian pikirkan."ucap Kyungsoo, matanya berkaca-kaca—dia tahu bahwa posisinya sungguh tidak menyenangkan.
Jongin menghela nafas pelan kemudian menggenggam tangan Krystal. Ia mengusapnya lembut, pandangan mata padanya mengatakan bahwa ia percaya pada Kyungsoo. Krystal masih menatap Kyungsoo sengit, kemudian menghela nafas pelan. Dia mengangguk, dan tersenyum kecil.
"Baiklah. Kita akan merawatmu hingga lukamu pulih dan tertutup. Setelahnya, kita bisa membicarakan pemindahanmu ke rumahmu. Aku yakin keluargamu akan khawatir di sana."ucap Krystal, diangguki Kyungsoo.
"Terimakasih atas kebaikanmu."
-xoxo-
Jongin merebahkan dirinya di samping Krystal yang sudah tertidur malam itu. Ia menatap sosok istrinya, hari itu ia merasa Krystal is a bit off. Tidak menyalahkannya, Krystal memang selalu on point dan mementingkan keselamatan keluarganya. Ia hanya merasa Krystal sedikit kasar pada Kyungsoo, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa—Kyungsoo hanyalah orang asing, dan concern Krystal padanya sangat reasonable.
Jongin menatap langit-langit kamarnya, dengan satu tangan menumpu kepalanya. Ia membayangkan sosok Kyungsoo, ketika ia berdarah-darah di hutan dan ketika ia akhirnya sadar dari tidur panjangnya. Jongin akui ada keindahan yang asing padanya, rasa-rasanya sangat asing namun begitu natural dan menghipnotis. Jongin tidak yakin ada banyak orang dengan iris seperti Kyungsoo—seakan-akan melihat tepat pada padang bunga lavender yang membentang di seluruh horizon. Jongin memejamkan matanya, dan entah kenapa jantungnya berdetak begitu cepat memikirkan Kyungsoo.
Ia memutuskan untuk bangun dan meminum teh.
-xoxo-
Kyungsoo duduk di luar rumah itu, dengan kunang-kunang bercahaya mengelilinginya. Seekor kelinci hitam menemaninya di sampingnya, dan Kyungsoo tidak bisa berhenti tersenyum seraya mengusap tubuh mungil itu. Di tangannya terdapat sekeranjang beri hutan segar—dia baru dari hutan dan memetik beri.
"Kyungsoo?"
Kyungsoo menoleh cepat, mendapati Jongin yang masih bangun dengan segelas teh di tangannya. Kelinci di tangan Kyungsoo berubah panik, dan segera melompat ke arah hutan. Kunang-kunang yang menemani Kyungsoo tadi pun beterbangan menjauh, membuat suasana menjadi sedikit gelap—untung rumah itu dihiasi beberapa lentera di sisi rumahnya, membuat suasana tidak terlalu gelap.
"Aku baru memetik beri hutan. Kau mau?"tanya Kyungsoo, menawarkan keranjang itu pada Jongin.
Jongin duduk di samping Kyungsoo, menatap beri pada keranjang miliknya. Kyungsoo tersenyum hangat padanya, matanya menekuk senang. Jongin menatap Kyungsoo dengan begitu terpesona—ia bersumpah wajah itu bercahaya di pandangannya.
"Aku ambil satu, ya."
Jongin mengambil satu beri hutan, kemudian langsung memakannya. Ia tersenyum, kemudian menatap Kyungsoo. Kyungsoo senang dengan reaksi Jongin. Setelah beri di mulutnya habis, Jongin segera mengambil yang lain.
"Kau belum tidur?"tanya Jongin, memecahkan suasana yang hening.
"...aku tidak terbiasa tidur malam."ada keterdiaman sebelum jawaban Kyungsoo, membuat Jongin menatapnya bingung.
"Apa kau terbiasa tidur siang?"tanya Jongin, dengan nada sedikit bercanda—membuat Kyungsoo terkekeh renyah.
"Tidak, bukan begitu. Aku suka berjalan di malam hari. Kesunyian dan keindahan alam lebih memukau di malam hari."ucap Kyungsoo, membuat Jongin tersenyum dengan jawabannya.
"That's a good one."
Jongin meraih sebutir beri, kemudian tangannya disodorkan pada mulut Kyungsoo. Kyungsoo menatapnya campur aduk, sedangkan Jongin tersenyum di sana. Kyungsoo menatap beri itu, dan dengan ragu memasukkan beri itu ke dalam mulutnya—ya, ia membiarkan Jongin menyuapinya.
"Kau tahu, kau cukup pintar dalam memilih beri hutan. Beri hutan tidak mudah untuk dipetik, apalagi sematang ini. Kau akan mendapat either yang belum matang, atau the overcooked ones."ucap Jongin, membuat Kyungsoo terkekeh.
"Aku terbiasa memetiknya, jadi mungkin sudah bakatku."
Keduanya menikmati beri hutan itu dalam diam, membiarkan keheningan malam mengisi momen di antara mereka. Saat itu sedang peralihan musim gugur namun entah kenapa, di antara keduanya hanyalah kehangatan dan ketentraman.
-xoxo-
Kyungsoo hidup beberapa hari di rumah itu, ia membantu Krystal melakukan home chores dan juga memasak. Kyungsoo menyadari bahwa kehadirannya masihlah unpleasantly accepted oleh Krystal, tapi dia membiarkannya. Kyungsoo juga tidak memaksakan Krystal untuk menerimanya—i mean, dia memang sedang menumpang.
"Kyungsoo, kemarilah."
Kyungsoo tengah menyapu halaman rumah ketika dipanggil Krystal dari dapur. Kyungsoo berjalan ke arah Krystal dengan membawa sapu, dan dihadapkan pada beberapa bahan makanan dan makanan yang belum jadi.
"Aku harus ke desa dalam 30 menit. Kau bisa memasak untuk Jongin kan? Biasanya dia akan pulang dari berburu sekitar satu jam lagi."ucap Krystal, dan tanpa mendengar persetujuan Kyungsoo segera memasuki kamarnya.
Kyungsoo menatap Krystal, namun hanya mendelikkan bahunya. Ia menyelesaikan sapuannya di halaman rumah, ketika Krystal keluar dari kamarnya dengan pakaian yang bersih, wangi, dan terlihat begitu cantik. Dalam hati, Kyungsoo penasaran dengan siapa yang akan ditemui Krystal.
"Aku akan kembali dalam empat jam. Kuharap dinnernya sudah siap."ucap Krystal, dan tanpa ucapan apapun segera keluar rumah dan berjalan menyusuri jalan setapak di depan rumah—jalan ini menghubungkan rumah mereka dengan desa setempat.
Kyungsoo menatap tidak suka pada Krystal yang tampaknya menyembunyikan sesuatu dari Jongin. Ia menatap seekor burung elang yang tengah bertengger di sebuah pohon di depan rumah, dan mereka saling bertatapan.
"Mohon bantuannya."
Setelah Kyungsoo mengucapkan itu, burung elang itu segera terbang mengikuti arah jalan Krystal—menuju desa tersebut. Kyungsoo pun tidak bisa menampik, ada rasa penasaran dan perasaan tidak menyenangkan saat memikirkan Krystal.
-xoxo-
"Aku pulang!"
Jongin menambatkan tali kekang Albine ke kandang belakang rumah, kemudian berjalan memasuki rumah. Ia tidak mendapati siapapun. Ia berjalan ke arah dapur, mendapati Kyungsoo yang tengah menyelesaikan menunya.
"Wow, apa itu?"tanya Jongin, menghampiri Kyungsoo—menu yang dimasak Kyungsoo terlihat enak!
"Ini ikan kukus pedas. Aku yakin kau akan suka!"ucap Kyungsoo, kemudian meraih sebuah piring dan memindahkan ikan itu ke atasnya.
"Krystal mana?"tanya Jongin, mengendarkan pandangannya—aneh, Krystal tidak pernah pergi dari rumah kecuali memberitahu Jongin.
"Entahlah. Dia ke desa setempat. Tidak mengatakan apapun lagi."ucap Kyungsoo, sembari mempersiapkan piring mereka berdua untuk makan.
Jongin terdiam. Krystal tidak pernah meninggalkan rumah kecuali memberitahu Jongin kemana perginya. Melihat keheranan Jongin, Kyungsoo menoleh dengan sedikit kekhawatiran—ia mengetahui betul isi pikiran Jongin saat ini.
"Are you okay?"tanya Kyungsoo, didapati pandangan bingung dari Jongin.
"Mungkin hanya perasaanku saja."ucap Jongin, kemudian terkekeh datar—kekehan itu terdengar hambar, dan membuat Kyungsoo cukup sedih.
"Ayo, makan dulu! Aku yakin kau lelah."
-xoxo-
Hari menjelang malam, dan Krystal belum juga kembali. Jongin berubah khawatir, namun jarak desa dan rumahnya hanya sekitar 10 menit jalan kaki—dan Krystal sudah terbiasa pulang sendiri dari pasar. Namun, mengetahui Krystal pergi tanpa memberitahunya apapun membuat Jongin khawatir juga. Kemana wanita itu? Kenapa begitu tersembunyi? Sudah berapa kali Krystal pergi diam-diam tanpa sepengetahuan Jongin?
Di lain tempat, Kyungsoo duduk di kursi depan rumah dengan seekor elang bertengger di pundaknya. Elang itu menatap Kyungsoo dengan mata tajamnya, dan Kyungsoo memperhatikannya dengan serius. Setelahnya, ada kekagetan pada wajah Kyungsoo.
"Kau yakin melihatnya begitu?"tanya Kyungsoo, dan elang itu hanya memiringkan kepalanya.
Kyungsoo terdiam, tidak percaya dengan ucapannya. Ia pun memberi sepotong ikan pada elang itu, dan membiarkannya terbang. Ia menatap elang itu, kemudian menatap ke sekelilingnya—memastikan tidak ada orang. Kyungsoo berjongkok di depan rumah itu, dengan satu tangan menyentuh tanah dengan lembut. Matanya berubah benderang, dengan warna hijau mendominasi.
"Dimana dia? Apa yang sedang dilakukannya sekarang?"gumamnya.
GROAH!
Tanah itu bergetar, dengan suara-suara yang sedikit menggema—seperti suara gempa. Setelahnya, terlihat rambatan akar-akar tumbuhan dari arah tangan Kyungsoo, menjalar ke segala arah. Kyungsoo berdiri, matanya masih bersinar. Ia menatap akar-akar itu, setelahnya pandangannya meredup. Ia menghela nafas pelan, kemudian menatap ke arah langit.
"Jongin tidak layak mendapatkan ini."
-xoxo-
Kyungsoo memasuki rumah itu, mendapati Jongin tertidur di sofa lapuk ruang tamu. Kyungsoo menatapnya, sejujurnya kasihan padanya. Ia bisa merasakan kekhawatiran dan kebingungan Jongin dengan situasi saat ini, dan ia memakluminya. Kyungsoo berjalan ke dalam kamarnya, dan kembali keluar membawa sebuah selimut. Ia menyelimuti Jongin perlahan, sesekali tangannya mengusap tubuh Jongin dengan lembut.
Seketika, mata Kyungsoo bersinar, dengan warna ungu yang mendominasi. Ia mengusap kepala Jongin, dari tangannya memancar cahaya redup kekuningan.
"Tidurlah dengan tenang, janganlah memikirkan apapun namun mimpilah yang indah."gumam Kyungsoo, masih mengusap rambut Jongin.
Dari inderanya, Kyungsoo bisa merasakan Jongin menjadi lebih rileks, dengan nafas yang lebih teratur. Kyungsoo tersenyum kecil, kemudian berdiri perlahan. Tangannya ia rentangkan di atas tubuh Jongin, kemudian memejamkan mata. Mulutnya bergumam sesuatu, hampir berbisik.
Ia menggumamkan mantera untuk membuat suhu ruangan itu menjadi lebih hangat seperti musim semi.
Kyungsoo menatap Jongin yang tertidur damai. Ia membungkukkan tubuhnya pelan, kemudian bibirnya mengecup pelipis Jongin dengan lembut. Kyungsoo mengakui, ia menaruh rasa pada pria pekerja keras di hadapannya. Ia tidak tahu perasaan lebih indah apalagi yang bisa ia rasakan, tapi ia menikmatinya. Ia pun menerima kenyataan bahwa ia hanya bisa mencintai Jongin dalam diam, membiarkannya hidup bahagia dengan istrinya, sedangkan dirinya harus pergi dalam beberapa hari ke depan.
Kyungsoo berjalan keluar rumah, disambut oleh banyak kunang-kunang yang menghiasi bagian depan rumah itu. Beberapa ekor burung terbang ke arahnya, ada yang bertengger di pundaknya dan ada yang mendarat di tanah. Seekor tupai menaiki kakinya, dan berdiam di pundak satunya. Kelinci-kelinci keluar dari lubang mereka, menghampiri Kyungsoo. Kyungsoo tersenyum, menatap setiap makhluk hidup yang menemani malamnya yang suram itu.
Seumur hidupnya menjadi seorang dryad hutan, Kyungsoo tidak memahami perasaan-perasaan yang dirasakan manusia. Ia hanya mendengarnya lewat pembicaraan manusia, ia tidak pernah mengalaminya langsung. Dan kini, ia diberikan anugerah untuk merasakan betul bagaimana rasanya mencintai—sesuatu yang terdengar aneh untuknya, namun dia menikmati setiap detiknya merasakan anugerah itu.
Kyungsoo memutuskan untuk menunggu di luar rumah.
-xoxo-
"Tidak mungkin, Minho. Aku tidak mungkin meninggalkan dia."
Kyungsoo mendengar suara wanita dari kejauhan. Ia terbangun dari tidurnya di kursi depan, kemudian mendapati suara-suara pada pendengarannya. Matanya bercahaya dominan hijau, memfokuskan inderanya yang lain. Ia menyentuh tanah dengan tangannya dan memejamkan matanya—ia membiarkan inderanya mengembara mengikuti pergerakan tanah.
"Tapi kau harus, Krystal. Kau tahu, kau tidak akan bahagia dengannya. Kau tahu dia mandul, dia tidak akan menganugerahimu anak!"
Kyungsoo terkesiap. Suara pria yang dalam. Kyungsoo berusaha memahami maksud pembicaraan mereka. Mandul? Apakah mereka membicarakan Jongin?; batin Kyungsoo, menoleh ke arah rumah tempat Jongin masih tertidur.
"Dengarkan aku, sayang. Kau sedang hamil sekarang, setelah bertahun-tahun hidup dengannya dan bahkan semakin jarang disentuh olehnya. Aku membuatmu hamil, Krystal! Akulah ayah dari anak di kandunganmu. Jongin jelas mandul. Kau masih mengingat diagnosa tabib mengenai Jongin yang impoten?"
Rahang Kyungsoo mengeras, ia mulai emosi. Ia tidak terima jika mereka membicarakan hal-hal buruk tentang Jongin. Kemandulan bukanlah sesuatu yang diminta, sama seperti bayi yang dilahirkan tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Apakah Jongin mengetahui hal ini? Apakah dia tahu tentang love affair Krystal dengan pria lain di belakangnya?
"Bajingan."gumam Kyungsoo, matanya semakin bercahaya terang.
"Aku akan memikirkan cara lain untuk menyingkirkannya. Selagi itu, kau tetap harus menjauh dariku dulu, Minho. Aku juga mencintaimu, sayang. Aku tak pernah meragukan dirimu sebagai ayah dari anak-anakku."
Terdengar suara tapak kaki mendekat. Kyungsoo segera berdiri, dan matanya berubah menjadi normal. Ia berjalan menyusuri jalan setapak itu, menghampiri wanita yang akan mendekatinya. Amarahnya meluap, ia tidak bisa tinggal diam.
Kyungsoo tidak bisa membiarkan Jongin diduakan seperti ini.
"Kyung-Kyungsoo?"gumam Krystal, menatap Kyungsoo yang berdiri dari kejauhan.
Kyungsoo menatapnya dengan marah. Tangannya tidak tinggal diam di samping tubuhnya. Sedetik kemudian, ia mengepalkan tangannya.
BUGH!
"Kyu-Kyungsoo!"
Akar-akar tanaman melilit tubuh Krystal, mengangkatnya ke udara. Krystal begitu ketakutan. Ia menatap Kyungsoo dengan matanya yang mulai bersinar kehijauan. Kyungsoo semakin mengepalkan tangannya, membiarkan tubuh itu semakin melemas.
DOR!
"Argh!"
Terdengar tembakan dari arah rumah, disusul oleh Kyungsoo yang merasakan luka menganga di belikat kanannya. Kyungsoo dan Krystal menoleh, mendapati Jongin dengan riflenya. Jongin menatapnya marah, dan berjalan ke arah mereka seraya membidikkan riflenya ke arah Kyungsoo.
"Lepaskan dia, dasar monster!"
"Jo-Jongin..."gumam Kyungsoo, menatap Jongin nanar.
"LEPASKAN ISTRIKU, BRENGSEK!"
Jongin membidik rifle itu tepat ke kening Kyungsoo, menempelkan moncong riflenya. Kyungsoo menatapnya dengan tidak percaya, perlahan kepalan tangannya mengendur—akar-akar tumbuhan itu semakin mengendur juga, dan tubuh Krystal perlahan terjatuh ke tanah.
"Uhuk uhuk! Uhuk!"
Jongin berlari menghampiri Krystal, mendekapnya erat. Ia membantu Krystal bernafas, sedetik kemudian menatap Kyungsoo penuh amarah. Ia berdiri, mengacungkan riflenya ke arah Kyungsoo—ia tidak peduli siapa itu Kyungsoo, yang ia pedulikan hanya istrinya.
"Begini caramu berterimakasih pada kami!? Kami sudah membantumu, Kyungsoo!"pekik Jongin, riflenya siap ditembakkan.
Kyungsoo hanya diam, ia menangis dalam diam dengan matanya menatap Jongin. Jongin merasakan hal lain di sana. Kyungsoo seperti berusaha menyampaikan sesuatu. Ia ingin Kyungsoo mengatakan sesuatu, apapun! Apapun yang akan membuatnya berhenti menembaki Kyungsoo.
WUSH!
"Arrghh!"
Jongin masih mengacungkan riflenya ketika tiba-tiba seekor burung elang mencakar kepalanya, membuatnya menjadi tidak fokus. Jongin berusaha menyingkirkan elang itu dengan riflenya, namun elang itu masih ganas.
DOR!
Jongin menembakkan riflenya asal, dan kegaduhan itu berhenti. Ia membuka matanya, mendapati seekor elang yang tertembak dan terluka di tanah. Ia menatap tempat Kyungsoo berdiri, namun matanya terbelalak.
Kyungsoo tidak di sana.
-xoxo-
Sudah dua hari lamanya keduanya mendiamkan diri. Krystal masih shock dengan apa yang terjadi pada dirinya, dengan Jongin yang tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya karena membawa Kyungsoo ke tempat mereka. Jauh di lubuk hatinya, ia penasaran dengan siapa Kyungsoo dan kemana pria itu pergi—Jongin benar-benar membutuhkan penjelasan mengenai semuanya.
"Persediaan makan kita akan habis. Kapan kau akan ke pasar?"tanya Jongin, memecah kesunyian di antara dirinya dan Krystal.
"Satu jam lagi."ucap Krystal, kemudian menoleh padanya.
"Maafkan aku, istriku."ucap Jongin, kemudian meraih tangan Krystal dan mengecupnya dengan lembut.
Krystal tersenyum kecil padanya, kemudian mengangguk. Ia mendekap tubuh Jongin, dan Jongin menumpukan kepalanya ke pundak Krystal. Ah, ia sungguh merindukan momennya dengan Krystal. Andai saja ia bisa memeluk Kyungsoo seperti ia memeluk Krystal—a-apa!?
Ya Tuhan, apa yang sedang kupikirkan; batin Jongin, merasa aneh dengan pemikiran tiba-tiba ini. Ia merasa Kyungsoo sudah menginvasi pikirannya, namun apakah hatinya juga ikut?
"Aku akan membuatkanmu teh lemon sebelum aku pergi."ucap Krystal, kemudian mengecup kening suaminya.
Selagi Krystal membuat teh lemon, Jongin memutuskan menyelesaikan makannya dan membantu Krystal mencuci piring-piring.
-xoxo-
"Aku pergi dulu!"
Ucap Krystal, disusul oleh suara tapak kaki kuda Albine. Jongin duduk di sofa di rumahnya, dengan segelas teh lemon. Pikirannya melantur pada Kyungsoo; dimana dia sekarang, apakah dia baik-baik saja, apa yang sedang dilakukannya. Ada rasa bersalah dimana ia harus menembak Kyungsoo untuk mencegahnya membunuh Krystal. Hell, dia bahkan tidak tahu siapa itu Kyungsoo—apa itu Kyungsoo!
Jongin meminum teh lemonnya dengan gundah—ia nyaris menghabiskan semuanya. Ia menaruh gelas itu, kemudian menghela nafas pelan. Perlahan, ia merasa sedikit pusing. Pandangannya mengabur. Jongin mengedipkan matanya, namun pandangannya masih mengabur. Ia berusaha berdiri—tiba-tiba tubuhnya begitu lemah dan kakinya bergetar. A-ada apa ini.
BRUK!
Tubuh itu ambruk kaku seketika.
-xoxo-
Kyungsoo menatap rumah Jongin dari kejauhan, dirinya masih takut untuk bertemu Jongin. Ia ingin menjelaskan semuanya, ia ingin mengatakan kebenarannya pada Jongin. Jongin adalah pria baik, dan ia tidak layak mendapatkan kenyataan ini.
Kenyataan dimana Krystal menduakan Jongin di belakangnya.
Kyungsoo menarik nafas, memberanikan dirinya. Ia berjalan ke rumah itu, perlahan tanpa suara. Bisa kita lihat luka di belikat kanannya, dengan baju yang masih mengalami pendarahan. Namun, kenyataannya, sebagai seorang dryad hutan, Kyungsoo bisa mengatasi luka seperti itu.
Ia berdiri di depan pintu itu, dan Kyungsoo baru menengok ketika pandangannya tertuju pada tubuh kaku Jongin di atas lantai.
"JONGIN!"
Kyungsoo berlari ke arahnya, menyentuh tubuh itu—menggoyangkannya perlahan. Ia terdiam. Ia meraba tubuh itu, kemudian matanya bercahaya keunguan. Ia mulai menganga ketakutan, dan segera dipeluklah tubuh itu. Kyungsoo langsung menangis, merasakan rasa sakit yang dialami Jongin yang tak sadarkan diri.
"Hiks, siapa—siapa yang tega meracunimu begini? Maafkan aku, Jongin. Maafkan aku..."ucap Kyungsoo lirih, seraya memeluk Jongin dalam pangkuannya.
Kyungsoo mendadak terdiam, ketika tangannya menyentuh bagian dada Jongin—lebih tepatnya jantungnya. Matanya berubah menjadi ungu, ia bisa merasakan sesuatu di sana. Ia meraba dada itu, kemudian membelalak dan menatap Jongin.
Ia masih bisa merasakan detak jantung Jongin!
Kyungsoo membopoh Jongin ke sofa ruang tamu, kemudian mengusap rambutnya. Ia mengecup kening Jongin, airmatanya menetes ke wajah Jongin. Kyungsoo mengusap airmata itu, dan membisikkan sesuatu.
"Aku akan segera kembali."
Dan Kyungsoo langsung berlari keluar, menuju sebuah pohon besar. Dan kemudian, tubuhnya tidak terlihat lagi—seakan-akan tertelan oleh pohon itu!
Dalam waktu singkat, Kyungsoo kembali dengan membawa beberapa kelapa di tangannya. Ia berlari ke arah Jongin, kemudian menaruh kelapa itu di sampingnya. Ia menyentuh kelapa itu, kemudian tangan lainnya menyentuh perut Jongin. Mata Kyungsoo menyala kehijauan, ia mulai menyerap air kelapa dan memindahkannya ke tubuh Jongin melalui tangannya—tangannya bertindak seperti akar. Kyungsoo kalut, matanya yang bercahaya tidak berhentinya menangisi Jongin, berharap masih ada harapan di sana.
Setelah memindahkan semua air kelapa itu, ia menyentuh perut Jongin dan memejamkan mata. Kyungsoo membacakan mantera-mantera kuno, membiarkan tangannya melakukan pekerjaannya. Ia begitu fokus dengan apa yang dilakukannya.
"UHUK UHUK! HOEK!"
Jongin tiba-tiba terbangun, dan memuntahkan air kelapa di perutnya—warna air kelapa itu mengkeruh, dengan busa-busa di sana. Kyungsoo menepuk-nepuk punggung Jongin, membantunya memuntahkan isi perutnya. Kyungsoo menangis haru, bersyukur pria yang ia cintai ini selamat dari keracunan sianida!
"A-apa—apa yang terjadi?"tanya Jongin, dengan suara masih serak-serak—matanya masih sedikit kabur ketika berpandangan dengan Kyungsoo.
"Kau pingsan. Kau keracunan sianida, Jongin."ucap Kyungsoo, pelan.
Kyungsoo membantu Jongin duduk, kemudian menatapnya lembut. Jongin mengatur nafasnya, menatap mata Kyungsoo yang masih menyala ungu. Mata Kyungsoo berubah warna kehijauan, kemudian ia berdiri dan mengitari ruangan itu. Ia mencari sumber racun itu.
Pandangannya terpaku pada teapot di atas kompor. Ia menghampiri teapot itu, kemudian menatap isinya. Masih ada sisa teh lemon, buatan Krystal. Ia mencelupkan jarinya, dan kembali memfokuskan dirinya.
"Apa yang kau lakukan?"tanya Jongin, bingung menatap Kyungsoo.
"Sianida itu berasal dari teh lemon ini."ucap Kyungsoo, menjelaskan penemuannya pada Jongin.
Jongin terdiam, nyaris tersedak. Ia menatap Kyungsoo dengan tidak percaya, dan Kyungsoo menatapnya prihatin. Jongin menundukkan kepalanya, entah kenapa airmata mulai mengalir di wajahnya. Kesedihannya tidak terukur, dan Kyungsoo merasa bersalah karena dirinya tidak bisa menjaga Jongin.
"Wanita jalang itu... sial."bisik Jongin, belum bisa menerima kenyataan bahwa ia nyaris mati keracunan karena istrinya.
Kyungsoo menghampiri Jongin, dan serta merta memeluknya lembut—membiarkan Jongin menangis di pelukannya. Jongin mencengkram Kyungsoo dengan agak kasar, dan terisak di sana. Ia menumpahkan emosinya, ketidakpercayaannya. Kyungsoo menangis dalam diam, ia benar-benar merasakan emosi Jongin.
"Maafkan aku, Jongin. Maafkan aku."
Keduanya larut dalam kesedihan.
-xoxo-
Kyungsoo menjelaskan hal-hal yang terjadi pada Jongin. Tentang pengkhianatan Krystal padanya. Tentang pria lain yang dicintai Krystal. Tentang kemandulan Jongin. Tentang intensinya membunuh Krystal sebelumnya. Semuanya, kecuali tentang perasaannya pada Jongin. Tidak, ia masih belum siap.
"Dimana mereka sekarang?"tanya Jongin, nada suaranya lemah.
"Dari penglihatanku, mereka sudah pindah negara. Mereka tidak lagi di Peru."ucap Kyungsoo.
Jongin menunduk sedih. Krystal membawa kabur Albine, kuda kesayangannya. Krystal membawa hatinya, meninggalkannya rasa sakit yang mendalam. Dan kemudian, rasa bersalah meluap keluar seiring dengan tatapannya pada Kyungsoo.
Kyungsoo, pria yang hampir ia bunuh, adalah satu-satunya yang menyelamatkannya dari kematian.
TOK TOK TOK
Terdengar suara tapak kaki kuda. Jongin dan Kyungsoo menatap keluar, dan Kyungsoo membantu Jongin untuk bangun. Ia membopohnya keluar, dan betapa kagetnya mereka melihat Albine berjalan ke arah mereka—tanpa ditunggangi siapapun!
"Albine?"
Jongin meraih tali kekang kudanya, kemudian mengusap kepalanya sayang. Kyungsoo yang kebingungan pun mengitari kuda itu, melihat bercak-bercak kemerahan menodai warna putih Albine. Kyungsoo mendekatinya, kemudian satu tangannya menyentuh bercak itu.
"Ada apa, Kyungsoo?"gumam Jongin, belum menyadari bercak kemerahan itu.
Krystal menunggangi Albine, dengan Minho menunggangi kuda cokelat di sebelahnya. Keduanya sungguh bahagia, terlihat Krystal tidak sabar menjadi ibu dari anak-anak Minho. Keduanya begitu bahagia, hingga di hadapan mereka beberapa perompak dengan kuda menghadang. Keduanya kebingungan dan ketakutan, dan perompak-perompak itu tanpa ampun menembaki mereka. Darah berceceran kemana-mana, dan tubuh Krystal jatuh dari pelana. Albine—tanpa membuang kesempatan—segera berputar balik dan berlari cepat, selamat dari kejaran perompak-perompak itu.
Jongin menatap Kyungsoo yang tengah menyentuh bercak darah itu. Mata Kyungsoo berair, menyaksikan kebrutalan yang dialami Krystal dan Minho. Jauh dalam hatinya, ia merasa sungguh jahat karena hampir membunuh Krystal. Bagaimanapun, mereka adalah kehidupan yang seharusnya dirayakan dan dijaga, bukannya direnggut.
"Maafkan aku."gumam Kyungsoo.
Jongin, mengerti bahasa tubuh Kyungsoo, kemudian menghampirinya dan mendekapnya erat. Kyungsoo mendekap balik Jongin, menangis dalam diam. Jongin menengadah, merasakan dirinya lebih tenang dan lebih jernih ketika memeluk Kyungsoo. Ia sendiri bingung.
"Krystal sudah tenang kan?"gumam Jongin dengan airmata masih mengalir, tanpa melepas dekapannya.
Tanpa berbicara apapun, Kyungsoo mengangguk mengiyakan. Ya, Krystal sudah tenang dan tidak perlu menderita. Ia sudah tenang dan tidak perlu lagi memikirkan tuntutan keibuannya. Ia sudah tenang, dan tak perlu mengkhawatirkan Jongin.
Keduanya tidak memikirkan apapun lagi saat itu. Hanya ketentraman dan kehangatan dalam diri keduanya, berpadu dengan sempurna. Jongin menyelamatkan hidup Kyungsoo ketika ia terluka di hutan, dan Kyungsoo menyelamatkan hidup Jongin dari keracunan sianida. Entah hal apalagi yang lebih indah dari semua itu.
Kecuali satu hal.
"Kyungsoo, kenapa kau melakukan ini semua padaku? Kenapa kau menyelamatkanku di saat aku hampir membunuhmu? Di saat aku tidak memercayaimu?"tanya Jongin berbisik, dengan ia menyatukan keningnya dengan Kyungsoo.
Kyungsoo menggenggam tangan Jongin yang mengapit kedua pipinya, mengusapnya lembut. Kyungsoo masih memejamkan matanya, lantas bibirnya mengukir senyum. Jongin ikut tersenyum haru, merasakan perasaan Kyungsoo yang tersembunyi.
"What else can I do? I'm deeply in love with you, Jongin."gumam Kyungsoo, masih memejamkan mata.
CHU
Jongin memajukan wajahnya, mempertemukan bibir ranum Kyungsoo dengan bibirnya. Mengecap rasa manis dari bibir yang belum pernah dijamah, menyampaikan perasaan terlarangnya pada Kyungsoo—karena ia merasakannya bahkan saat masih bersama Krystal. Bersyukur karena diberi kesempatan kedua untuk menjalin bersama dengannya.
"Thank you. And I love you, too, my darling."
Kunang-kunang mengitari mereka, dengan hewan-hewan bersuara menyerukan ucapan selamat. Kyungsoo dan Jongin saling tersenyum, dengan kening keduanya masih menyatu. Keduanya tertawa pelan, merasakan kelegaan dalam perasaan keduanya.
Dan Jongin, tidak akan pernah mengingkari detak jantungnya—menganggapnya sebagai pemberian dari Kyungsoo, kesempatan kedua untuk hidup dan mencintai.
THE END
.
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!
OMG, finally we finished something! Rasa-rasanya tuh kek habis ngelahirin anak tau gak :" Berat di awal dan prosesnya, tapi worth it banget akhirnya
We hope you enjoy this! Kalo suka, jangan lupa difav dan direview yaaaa! No comment dah, in love banget sama KaiSoo :")
HUANG AND WU
