/I.

Porco tidak suka jika ia sedang berkelahi dengan Reiner, tiba-tiba Pieck datang untuk memisahkan mereka. Pieck seharusnya tidak ikut campur, dan yang paling penting ini jelas bukanlah urusan perempuan 'kan?

"Astaga! Sudah cukup!"

Porco tidak mengindahkan teriakan Pieck. Kali ini Porco tidak mau berhenti dan tangannya dengan sempurna meninju rahang Reiner, membuat bocah usia empat belas tahun tersebut terguling ke atas tanah lapang belakang sekolah yang kering sepanjang musim semi seperti ini.

"Kau tidak seharusnya meninju Reiner karena dia menang lomba lari di kelas olahraga hari ini, Pokko." Pieck sudah di hadapannya dan sedang membantu Reiner berdiri, di samping gadis bersurai hitam sepanjang pundak tersebut, sudah ada Zeke Yeager yang menghela napas berat sambil menggelengkan kepala.

"Dia juga mendorongku tadi, kenapa kau membelanya?"

Pieck memberi isyarat Zeke untuk membantunya memapah Reiner yang mimisan dengan mata berkaca-kaca. Bocah seusia mereka mana tahan dihantam seperti tadi?

"Aku tidak membela," Lirih Pieck yang menatap Porco dengan mata sayunya, "Tapi bagaimana jika sensei menemukan kalian berdua berkelahi lalu menghukum kalian? Aku akan membawa Reiner ke UKS, Pokko tenangkan diri dulu." Ucap Pieck final sementara Zeke tidak mengatakan apapun, ia tidak mau memperkeruh suasana. Sejauh ini memang hanya Pieck yang bisa sedikit menasehati Porco ketika lelaki itu sedang berkelahi dengan Reiner Braun.

Tidak ada yang lain lagi.

"Aku tidak butuh saranmu." Ketus Porco sambil berlalu. Zeke melihat Pieck dengan ekor matanya dan melihat gadis itu sama sekali tidak terganggu dengan ucapan kasar Porco barusan.

"Ayo Zeke kita bawa Reiner ke ruang kesehatan."

Zeke berdehem, "Maafkan Porco yang ketus padamu." Zeke mulai berjalan dengan sebelah tangan Reiner yang ada di pundaknya sedangkan sebelahnya lagi berada pada pundak Pieck. Reiner mengaduh ketika mereka bertiga mulai berjalan namun ia tidak berkata apapun.

"Tidak apa, Pokko hanya sedang marah," Pieck menoleh ke arah wajah Reiner yang kentara menahan tangis, "Sudah jangan menangis, besok-besok tidak usah begini dengan Pokko." Tegurnya lembut. Zeke melirik Reiner yang mengangguk.

.

.

Bertepatan dengan bel pulang sekolah, Pieck melihat Porco menggendong tasnya dan melesat ke luar kelas tanpa menoleh ke arahnya. Laki-laki itu pasti masih marah perial pertengkarannya dengan Reiner. Mungkin Reiner mengejeknya dan Porco merasa Pieck tidak membela Porco sama sekali.

Pieck menghela napas. Lara Tybur yang duduk di sebelahnya mengernyit melihat Porco Galliard sudah hilang dari kelas padahal selama ini lelaki itu tidak akan pulang tanpa Pieck di sisinya.

"Porco Galliard dan kau bertengkar?"

Pieck menoleh ke arah Lara sambil menggeleng. Apa begitu kentara kalau mereka sedang tidak akur? Lara adalah anak yang pendiam dan banyak menghabiskan waktu dengan dirinya sendiri selama di sekolah, cukup megherankan jika gadis itu tetiba mengutarakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran seperti saat ini.

Melihat wajah murung Pieck, Lara mengeluarkan permpen lolipop dengan bungkus plastik bergambar beruang lalu meletakkan di atas buku milik Pieck yang masih terbuka di atas meja.

"Aku pulang dulu." Katanya datar lalu berjalan ke luar kelas.

Pieck menoleh ke arah meja Zeke dan Reiner yang kosong, lelaki dengan kacamata bulat itu mengantar Reiner setelah mimisan Reiner berhenti tadi sebelum jam pelajaran terakhir. Pieck menghela napas sambil tersenyum tipis. Ia tahu Porco tidak akan meninggalkannya pulang, jadi ia putuskan untuk menunggu bocah nakal itu sampai kembali.

.

.

.

Porco mengintip dari jendela kamarnya yang berhadapan dengan kamar Pieck, jendela kamar Pieck belum terbuka menandakan gadis itu belum pulang sekolah sampai saat ini. Porco melirik ke samping kiri bawah, tepat pada halaman depan rumah Pieck. Sepi dan belum menunjukkan tanda-tanda orang tua gadis itu sudah pulang kerja.

Biasanya Pieck akan menghabiskan waktu pulang sekolahnya di kamar gadis itu sambil melempari pesawat kertas ke arah balkon kamar Porco, atau justru sedang bermalas-malasan di kamar lelaki itu sambil menghabiskan stok camilan dari ibu Porco yang memang selalu disediakan jika Pieck sedang bermain bersamanya.

Porco menghela napas ketika melihat jam dinding menunjukkan pukul tiga sore. Dua jam berlalu sejak ia kembali dari sekolah dan Pieck belum pulang sampai sekarang adalah fakta baru baginya. Tidak pernah sekalipun gadis itu keluyuran setelah pulang sekolah sampai sesore ini, dan oh! Tidak pernah juga Porco meninggalkannya seperti ini juga.

Porco memakai jaket berwarnya hijau lumut yang Pieck berikan padanya tahun lalu sebagai kado ulang tahun, lalu berlari ke lantai satu.

Sore itu Porco mengayuh sepedanya untuk kembali ke sekolah.

.

.

Pieck yang duduk di kursi panjang di samping gerbang sekolah tersenyum sebab dari kejauhan melihat Porco menghampirinya dengan wajah ketus sambil mengayuh sepeda. Begitu berhenti di depannya lelaki itu memberi isyarat untuk Pick agar segera duduk di depannya—seperti biasa, dengan wajah ketus andalan Porco. Setelah memberikan tas puggungnya pada Porco, Pieck duduk dengan nyaman di atas besi tepat di depan Porco.

Pieck tersenyum ketika Porco membetulkan kunciran rambutnya sebelum mulai mengayuh sepeda, gadis itu lantas bersandar pada dada Porco seperti biasa. Ia tahu bahwa dibalik sifat pemarah Porco, lelaki itu begitu baik padanya bahkan sejak mereka masih kanak-kanak.

"Apa Reiner tadi memukulmu?"

"Belum, dia hanya mendorong."

"Apa Pokko sakit?"

"Tidak Pieck.

Porco melirik Pieck yang masih menyadarkan kapalanya di dadanya. Porco tidak keberatan, bahkan ia tidak pernah marah jika teman-teman kelasnya mengejek Pieck dan Porco seperti kekasih. Tidak penting juga, toh mereka masih empat belas tahun. Daripada pacaran Porco lebih suka memikirkan bagaimana caranya untuk selalu bertahan di peringkat satu di kelas, ia mau lulus dengan nilai terbaik tentu saja.

"Lain kali kau harus pulang meski bukan bersamaku."

Pieck sedikit menjauhkan kepalanya dari dada Porco, lalu menoleh sekilas ke arah Porco dengan tatapan teduh khasnya setelah itu menghadap ke depan.

"Iya." Ucapnya sambil menatap lurus dengan kepala condong ke depan nyaris bertumpu pada titik tengah stang sepeda Porco.

"Aku tadi tidak bermaksud ketus padamu."

"Aku tahu kok."

"Dari mana?"

Pieck terkikik sambil bersenandung kecil. Tidak ada yang berbicara setelah itu, tapi keduanya tahu bahwa mereka sama-sama sudah memaafkan satu sama lain.

..

.

.

A FANFICTION

FIND - CHOCHOLOLO

SHINGEKI NO KYOJIN – HAJIME ISAYAMA

.

.

PORCO GALLIARD – PIECK FINGER

AU SETTING - RATED T

.

.

.

/II.

Porco melihat Pieck yang masih malas-malasan di atas sofa panjang ruang lukisnya, sambil pura-pura tidak mendengar suara ponsel gadis itu yang berdering sejak tadi.

"Setelah ulang tahun yang ke dua puluh tujuh, apa kau berubah jadi tuli Pieck?" Ketus Porco yang tidak bisa berkonsentrasi memberi warna pada lukisannya saat ini. Pieck hanya bergumam lalu menggapai ponselnya.

"Halo? Oh, iya maaf aku ada kerjaan mendadak harus membantu atasanku mengurus seminar tiba-tiba."

Porco melirik Pieck. Membantu atasan apanya?

Batin Porco sambil menggeleng tidak percaya. Pasti itu ajakan kencan, Porco benar-benar sudah hapal penolakan-penolakan seperti itu dari bibir sahabat karibnya.

"Iya, maafkan aku ya Araibara-san. Mungkin lain kali, aku tutup teleponnya sekarang oke?"

"Menolak seseorang lagi bulan ini eh? Nona Finger?"

Pieck terkikik, "Melukis apa Pokko?" Porco mengernyit lantaran Pieck mengalihkan pembicaraannya.

"Kenapa dialihkan?"

"Um, karena ini tidak penting Pokko."

"Kenapa menolak ajakan kencan? Seumur-umur aku belum pernah melihatmu berkencan."

"Pokko juga belum pernah berkencan."

"Aku sangat sibuk belajar Pieck, dan sekarang aku sangat sibuk bekerja."

"Aku juga."

"Oh, ya?"

"Pokko ingin aku pergi kencan?"

Porco menghentikan goresan kuasnya, ia memandangi lukisan abstrak di hadapannya supaya matanya tidak bertemu dengan mata Pieck saat ini. Ini tentu saja adalah pertanyaan mudah, sebagai sahabat Porco ingin Pieck hidup seperti gadis seusianya. Berkencan, nongkrong, atau sekadang pergi berlibur dengan teman-teman kantornya. Bukan malah pulang kerja datang ke apartemennya lalu menghabiskan waktu melihat Porco melukis, bukan malah pulang kerja lalu mendatangi galerinya sambil membawa makan malam untuk mereka berdua.

"Kenapa tidak dijawab? Kalau Pokko setuju, aku bisa merevisi hasil teleponku barusan kok."

Porco masih menatap lukisannya dengan wajah kusut khas dirinya sejak dulu, wajah yang diselimuti ekspresi kesal dan membuat orang-orang jarang berani menyapanya. Ia menghela napas lalu menoleh ke arah Pieck yang masih menatapnya dengan posisi barbaring telungkup dan rambut yang digerai begitu saja.

Porco harusnya bilang; yasudah pergi saja tidak masalah. Namun entah kenapa hanya dengusan keras yang disambut gelak tawa Pieck yang menggema di dalam ruang melukisnya malam ini.

Porco Galliard tidak bisa mengatakan segala hal di hadapan orang lain, dan Pieck adalah satu-satunya orang yang tahu isi pikirannya. Menyebalkan 'kan?

"Pokko tidak mau mengajakku kencan?"

Porco menekan warna biru terlalu kuat pada kanvas dan ia agak menyesali hal tersebut, tapi bukan itu masalahnya.

Malam itu Porco hanya mendengus dan ia tahu Pieck sedikit kecewa padanya.

.

.

,

Setelah malam itu, Pieck tidak lagi datang untuk membawa makan malam atau masuk ke apartemennya ketika selesai lembur. Porco minggu ini menyelesaikan dua lukisan dengan perasaan tidak puas. Entah pada dirinya sendiri atau pada kesibukan di galeri akhir-akhir ini karena sebentar lagi adalah pameran akhir tahun sebelum lelang lukisan januari nanti.

Porco mengambil ponselnya, mengecek sekali lagi kapan Pieck mengiriminya pesan. Seminggu yang lalu.

Dengan perasaan kesal, Porco bergegas menelpon perempuan itu.

"Halo, Pokko?"

"Kenapa suaramu Pieck?"

"Um, aku flu dan—uhuk-uhuk, dan—uhuk-uhuk sebentar aku minum."

Tidak berpikir dua kali Porco meraih jaket dan kunci mobilnya lalu bergegas menuju ke luar kamarnya. Ia masih menempelkan telepon genggam di telinga bahkan ketika sudah berada di dalam mobil.

"Halo Pokko? Uhuk-uhuk, kenapa menelpon?"

"Sebentar kututup teleponnya."

.

.

.

Pieck sudah makan dan minum obat sebelum akhirnya meringkuk dalam dekapannya, suhu tubuh gadis itu sangat tinggi namun menolak keras ajakan untuk pergi ke rumah sakit.

"Kenapa tidak bilang kalau sakit?"

"Aku memang biasa sakit, Pokko." Pieck terkikik ketika mendengar dengusan Porco, ia bergerak semakin meringkuk ketika merasakan kesadarannya sudah menipis. Ia yakin Porco memberikan obat turun panas dengan efek mengantuk.

"Biasanya kau di tempatku kalau sakit."

"Pokko sedang sibuk bekerja, aku tidak ingin merepotkan."

"Alasan."

"Hm, mungkin benar saranmu. Seharusnya aku pergi kencan."

Porco tidak pernah tahu bahwa kata-kata pergi kencan adalah dua buah kata yang menyebalkan di telinganya sekarang.

"Tidur saja Pieck, kau mengigau."

"Ada yang merawatku terus menerus kalau aku punya teman kencan."

Porco mendengus lalu memeluk pinggang Pieck dengan erat, panas tubuh perempuan cantik—oke Porco nyaris tidak mau mengakuinya—sekarang terasa menjalar pada sisi tubuhnya juga.

"Aku bisa merawatmu. Ini buktinya."

"Jadi aku tidak usah pergi kencan?" Pieck terdengar mendesak dan Porco tidak ingin menjawab apapun.

"Pokko? Jadi aku tidak udah pergi kencan?" Ulangnya.

"Hm."

"Sampai kapan?" sebelah tangan Pieck terangkat latas mengelus lembut surai Porco yang selalu dalam keadaan under cut sejak mereka anak-anak. Pieck menyukai model itu dan selalu memuji Porco tampan setiap lelaki itu selesai potong rambut.

"Apanya?" Tanya Porco lirih.

Mata mereka bertemu dengan jarak wajah tidak ada satu jengkal tangan. Porco bahwa bisa merasakan panas napas Pieck menerpa wajahnya.

"Sampai kapan kau akan diam-diam melarangku pergi kencan?"

Porco terkejut namun Pieck tidak merasa itu adalah fakta baru. Lelaki itu berdehem kaku, "Aku tidak tahu apa maksudmu."

Pieck lalu mencium pipi Porco, meninggalkan suhu hangatnya di atas pipi lelaki itu. Mereka lalu bertatapan dan Porco dengan cepat mencium dalam-dalam Pieck saat itu juga. Di mulut, dengan posisi tubuh Porco nyaris menindih Pieck yang lemas akibat demam yang dideritanya.

"Tunggu dua bulan lagi—sampai januari, setelah bulan itu aku akan mendapat uang yang banyak untuk kita berdua." Porco berbisik lirih, menatap dalam-dalam Pieck yang tidak merasa terkejut sama sekali dengan pengakuannya yang ambigu.

Senyum membingkai wajah cantik Pieck dengan rambut tergerai acak-acakan lalu semu merah di pipi, membuat Porco tiba-tiba seperti menemukan objek lukisan yang akan ia tampilkan didekat pintu masuk galerinya akhir tahun nanti.

"Kita bicarakan dengan benar ketika kencan minggu depan." Pieck mencium pipi Porco sekali lagi, membuat wajah yang biasanya terlihat kusut tetiba tenang seperti anak-anak ketika menonton televisi yang menampilkan acara kesukaanya.

"Apa aku boleh mencium bibirmu lagi?"

"Yang barusan bahkan tidak permisi." Candanya.

Porco lalu tertawa.

.

.

.

.

.

.

Author's note: Akhirnya bisa kembali lagi ke FFN dengan karya gaje begini, huhuhu /usap air mata. Jujur aku ship mereka sudah lama dan baru saja nemu ide begini. Sedih ya. Tapi happy ending kok wkwkw tidak seperti—ah sudahlah.

Terima kasih sudah membaca.

Salam hangat,

Cho.

.

.

.

.

Pieck tersenyum ketika melihat Porco dan kru galeri miliknya memasang lukisan wajah Pieck yang memerah, rambut berantakan dan bibir tersenyum tipis. Entah perasaannya saja atau memang Porco sengaja menggambar matanya begitu bersinar dalam lukisan tersebut.

Pieck mendekati lukisan yang sudah terpasang dan bersama dengan itu seluruh kru bersorak karena mereka selesai bekerja hari ini sebelum besok galeri akan penuh sesak dengan pengunjung seperti tahun-tahun sebelumnya.

Nama Porco Galliard adalah salah satu dan beberapa pelukis muda yang cukup disorot oleh media saat ini. Impian Porco saat ini sudah terwujud, Pieck ikut senang mengetahui bahwa sahabat yang sekarang menjadi teman kencannya tersebut akhirnya berada dipuncak karir.

Pieck yakin Porco menyukainya dari mereka masih anak-anak, ia sangat yakin sekali dan bertaruh pada dirinya sendiri untuk terus mendampingi Porco yang payah dalam mengatakan isi hatinya. Tidak menyesal dengan hasil taruhannya, terbukti dari cincin emas di jari manisnya yang Porco belikan sebagai tanda bahwa mereka resmi berkencan mulai sekarang. Lelaki itu juga beberapa kali mengajaknya berkeliling memilih rumah untuk ditinggali berdua. Semuanya begitu cepat bukan tanpa alasan, bisa jadi seaslinya Porco sudah merencanakan hal ini sejak lama.

Lelaki itu sangat pintar dan Pieck yakin semua tindakannya adalah hasil Porco berpikir dengan sangat matang—kecuali ketika meninju Reiner waktu SMP. Pieck terkadang bertanya berapa lama waktu yang dihabiskan Porco untuk bergerak secepat ini tentang rencana hidup bersama setelah berkencan, dan lelaki itu akan menjawab dengan dengusan.

"Suka?"

Porco mencium kepala Pieck singkat dan perempuan cantik dengan tatapan teduh tersebut mengangguk antusias.

"Kecuali ketika memukul Reiner waktu masih SMP, semua hal yang Pokko lakukan selalu membuatku takjub."

Porco berdehem, "Dia bilang bahwa yang menang balap lari akan mendapatkan hatimu." Kata Porco dengan nada mengejek. Pieck melotot lantas tertawa pelan. Valid sekali kalau Porco memang sudah sejak lama menyukainya.

Pieck lalu memeluk Porco tiba-tiba, sama sekali tidak membuat badan tegap Porco kehilangan keseimbangan. Mereka lalu tertawa bersama di hadapan lukisan kesayangan Porco yang berjudul FIND, sebuah judul yang cukup membuat hati Pieck menghangat seketika.

end