Summary :

Ini bukan perkara seberapa lama kau memendam rasa, tumbuh berkembang bersama, serta siapa yang paling memahami siapa. Ini perkara soal hati. Yang tak pernah kau pikirkan ke mana akan bermuara.

.

.

.

.

.

.

.


Muara milik Suka Usotsuki

Detektif Conan milik Gosho Aoyama.

Enjoy and Happy Reading!


Shinichi mencintai Ran.

Itu bukan suatu rahasia yang spesial. Hal itu sudah menjadi rahasia publik. Semua orang mengetahui. Berani bertaruh, bahkan langit dan bumi pun tahu. Seolah-olah dua insan itu layaknya Adam dan Hawa. Ran tentu saja tercipta untuk Shinichi dari tulang rusuknya Shinichi. Mereka adalah pasangan yang sudah ditentukan. Benang merah tak kasat mata itu telah mengikat kuat pada jari kelingking mereka ketika kedua ibu mereka melahirkan.

Seiring pertumbuhan dan perkembangan dua insan tersebut, semua orang sudah yakin bahwa takkan ada yang bisa memisahkan benang merah yang terjalin di antara mereka. Sekusut apapun benang itu, tetap saja takkan pernah putus.

Akan tetapi, benarkah benang merah Shinichi yang terhubung pada Ran itu takkan putus setelah apa yang menimpa Shinichi ketika Shinichi meminum obat bernama APTX4869 yang membuat tubuhnya kembali menjadi anak-anak? Benarkah kepergian Shinichi selama berbulan-bulan—yang entah mengurus kasus apa—tidak menggerus rasa cinta di antara keduanya?

Tentu saja tidak.

Adalah jawaban yang diucapkan Ran dengan lantang.

Tentu saja tidak.

Adalah jawaban yang seharusnya diucapkan Shinichi dengan lantang.

Oh, Tuhan. Shinichi sangat yakin rasa cintanya pada Ran masih ada di relung hatinya.

Kemudian sosok Ai Haibara hadir.

Rasa cinta itu tetap masih ada di relung hati Shinichi.

Kemudian sosok Ai Haibara membuatnya berjanji untuk melindunginya.

Rasa cinta itu tetap masih ada di relung hati Shinichi.

Kemudian Organisasi Hitam telah hancur. Organisasi yang telah membawa banyak kesulitan dalam hidupnya selama Shinichi berpura-pura menjadi anak-anak dengan identitas baru, yaitu Conan Edogawa.

Rasa cinta itu tetap masih ada di relung hati Shinichi.

Kemudian Shinichi menceritakan segala hal yang ia alami selama menjadi Conan Edogawa pada Ran.

Rasa cinta itu tetap masih ada di relung hati Shinichi.

Kemudian Ran memaafkan atas segala kebohongan Shinichi yang selalu mengatasnamakan keselamatan orang-orang terdekatnya, terutama Ran.

Rasa cinta itu tetap masih ada di relung hati Shinichi.

Kemudian Shinichi berpacaran dengan Ran.

Rasa cinta itu tetap masih ada di relung hati Shinichi.

Kemudian Shinichi berpikir bahwa inilah akhir bahagianya. Berhasil bersama kembali dengan sosok teman masa kecilnya yang ia cintai dari Taman Kanak-Kanak.

Rasa cinta itu tetap masih ada di relung hati Shinichi.

Kemudian lima tahun telah berlalu. Shinichi, Ran dan Sonoko bertemu kangen di sebuah cafe untuk mengenang masa-masa sekolah dan juga membicarakan hal-hal yang telah mereka lewati selama lima tahun ini.

"Ah, bukankah itu para detektif cilik?"

Shinichi dan Ran bersama-sama mengalihkan pandangan keluar jendela cafe. Mereka melihat ke arah gerombolan remaja yang disebutkan Sonoko. Memang benar gerombolan remaja itu para anggota detektif cilik. Teman-teman Shinichi ketika terjebak di tubuh Conan Edogawa.

"Melihat mereka sudah tumbuh besar entah kenapa rasanya nostalgia. Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang tampan juga cantik." Ucap Sonoko dengan sorot mata melembut.

Ran tersenyum. "Benar."

Shinichi diam mendengarkan seraya mengamati teman-temannya di luar sana.

"Aku merasa kasihan pada Ai-chan. Ai-chan jadi terlihat seperti sosok single parent saat ini. Anak bandel berkacamata itu tega sekali pergi begitu saja meninggalkan Ai-chan." Ujar Sonoko bersungut-sungut.

Shinichi dan Ran terlihat kaget mendengar ucapan Sonoko. Mereka secara bersamaan mengalihkan pandangan pada anak konglomerat tersebut. Namun yang ditatap hanya acuh dan tetap memusatkan perhatian pada gerombolan detektif cilik.

Ran melirik Shinichi untuk mengetahui ekspresi apa yang tergambar di sana. Shinichi memang tidak memberitahu alasan sesungguhnya dia menghilang kepada yang lain. Hanya pada Ran. Wajar Sonoko tidak tahu. Lalu Ran memutuskan untuk bertanya.

"Kenapa kau berpikiran seperti itu, Sonoko?"

Sonoko langsung mengalihkan perhatiannya pada Ran dengan sorot mata apa-kau-bercanda.

"Bukankah sudah terlihat jelas sekali? Anak berkacamata yang sok tahu dan suka ikut campur urusan orang dewasa itu dan juga Ai-chan sudah terlihat seperti sosok orang tua bagi anak-anak bandel itu. Padahal umur mereka baru tujuh tahun, tapi gayanya sudah seperti orang dewasa. Ai-chan juga selalu terlihat bukan seperti anak-anak pada umumnya. Hey, bahkan aku pernah melihat Ai-chan memperingati anak sok tahu itu untuk menjaga bocah-bocah tersebut. Ai-chan benar-benar terlihat seperti sosok istri yang menyuruh suaminya agar bersikap lebih becus mengurus anak-anak mereka. Hahaha, lucu sekali, ya? Aku benar-benar merasa kasihan pada Ai-chan." Jelas Sonoko panjang lebar.

"Ahaha ... begitukah?" Ran tertawa kikuk.

Shinichi hanya diam. Otaknya sedang mencerna dan memproses ucapan Sonoko.

"Bukankah sudah terlihat jelas sekali? Anak berkacamata yang sok tahu itu ..."

Ucapan Sonoko terus terngiang di otaknya.

"Hey, Kudo. Suruh mata-mata mu itu untuk sesekali datang ke Jepang. Aku yakin bocah-bocah itu rindu sekali. Terutama Ai-chan." Kata Sonoko sambil memberi tatapan memicing pada Shinichi.

"Hey! Dia bukan mata-mata ku!" Protes Shinichi.

Sedangkan Ran tertawa kikuk sambil melerai kedua temannya. Namun tak bisa dipungkiri bahwa ia turut memikirkan kata-kata Sonoko.

Kemudian Shinichi tidak tahu Ai Haibara telah pergi.

Rasa cinta itu tetap masih ada di relung hati Shinichi.

Kemudian Shinichi akhirnya tahu Ai Haibara telah pergi.

Rasa cinta itu tetap masih ada di relung hati Shinichi.

Kemudian Profesor Agasa bersikeras tidak tahu kemana Ai Haibara pergi setiap kali Shinichi mencoba gali informasi.

Rasa cinta itu tetap masih ada di relung hati Shinichi.

Kemudian Ran cemburu melihatnya begitu peduli pada Ai Haibara.

Rasa cinta itu tetap masih ada di relung hati Shinichi.

Kemudian Ran merasa tidak diperhatikan.

Rasa cinta itu tetap masih ada di relung hati Shinichi.

Kemudian intensitas cemburu Ran meningkat.

Rasa cinta itu tetap masih ada di relung hati Shinichi.

Kemudian Ran merasa Shinichi sudah terlalu lama mengacuhkannya.

Rasa cinta itu tetap masih ada di relung hati Shinichi.

Kemudian tak ada lagi sentuhan-sentuhan mendebarkan seperti biasanya.

Rasa cinta itu tetap masih ada di relung hati Shinichi.

Kemudian tak ada lagi obrolan manis seperti biasanya.

Rasa cinta itu tetap masih ada di relung hati Shinichi.

Kemudian tak ada lagi pertemuan seperti biasanya.

Rasa cinta itu tetap masih ada di relung hati Shinichi.

Kemudian ...

"Shinichi apa kau masih mencintaiku?"

Ran bertanya dengan derai air mata.

Shinichi mempertanyakan rasa cintanya pada Ran yang ada di relung hatinya.

Kemudian hidupnya menjadi berantakan.

Shinichi mempertanyakan rasa cintanya pada Ran yang ada di relung hatinya.

Kemudian hidupnya terasa menyedihkan.

Shinichi mempertanyakan rasa cintanya pada Ran yang ada di relung hatinya.

Kemudian hidupnya makin nelangsa.

Shinichi mempertanyakan rasa cintanya pada Ran yang ada di relung hatinya.

Kemudian Shinichi lebih banyak bermuram durja.

Shinichi mempertanyakan rasa cintanya pada Ran yang ada di relung hatinya.

Kemudian Shinichi bertengkar hebat dengan Ran.

Shinichi mempertanyakan rasa cintanya pada Ran yang ada di relung hatinya.

Kemudian Shinichi kembali membuat sosok cinta pertamanya menangis dan terluka.

Shinichi mempertanyakan rasa cintanya pada Ran yang ada di relung hatinya.

Kemudian Shinichi putus dengan Ran.

Shinichi mempertanyakan rasa cintanya pada Ran yang ada di relung hatinya.

Kemudian Sonoko datang memberikan tamparan keras di pipinya.

"Kau pria brengsek!"

Shinichi mempertanyakan rasa cintanya pada Ran yang ada di relung hatinya.

Kemudian lima tahun telah berlalu. Ran menemukan kebahagiaan kembali. Shinichi turut bahagia.

"Aku minta maaf, Ran."

"Aku sudah memaafkanmu, Shinichi."

Shinichi merasa hatinya teremas. Pelupuk matanya memanas. Ran memberikan pelukan. Shinichi membalasnya.

Sebagian beban di pundak Shinichi akhirnya terlepas. Hatinya terasa lebih lapang.

"Ran, aku menyayangimu." Aku Shinichi.

"Aku tahu. Aku juga menyayangimu, Shinichi. Sebagai sahabat sejak kecilku." Balas Ran dengan senyum paling tulus dan tanpa beban untuk pertama kalinya pada Shinichi.

Shinichi tak lagi mempertanyakan rasa cintanya pada Ran di relung hatinya. Sebab Shinichi tahu rasa cinta tersebut memang tak pernah berubah dari dulu.

Shinichi mencintai Ran. Sebagaimana seorang teman, serta saudara.

Kemudian enam bulan berlalu. Ai Haibara pulang. Namun sosok itu tak seperti Ai Haibara. Sosok itu telah kembali ke tubuh aslinya, yaitu Shiho Miyano.

Shiho menyunggingkan senyuman menyebalkan. Senyuman yang selalu menghantui Shinichi di setiap bunga tidurnya. Senyuman yang tidak ingin ia akui bahwa ternyata selama ini senyuman itu yang ia rindukan.

"Kau terlihat menyedihkan, Tuan Detektif."

Kalimat sarkas menjadi sapaan pertama Shiho setelah lima tahun lebih enam bulan telah berlalu. Ternyata Shinichi sangat merindukan kalimat sarkas dari Shiho.

Shinichi terlampau senang dengan kehadiran Shiho sehingga ia tidak memperdulikan kalimat sarkas Shiho. Ia ingin marah pada Shiho, namun rasa rindu di relung hatinya sangat menyakitkan.

Pada akhirnya Shinichi memeluk Shiho erat.

"Kau memang tidak ada imutnya sama sekali." Ucap Shinichi dengan suara sengau.

"Aku tahu." Balas Shiho sambil tersenyum geli.

Shinichi melonggarkan pelukannya. Mereka berdua saling bertatapan. Shiho melihat kilatan sedih dan kerinduan di mata sewarna langit musim panas. Shiho tersenyum lembut.

"Tadaima."

Shinichi tersenyum.

"Okaeri."

Shinichi mencium kening Shiho dengan khidmat.

Beban di pundaknya telah hilang.


SELESAI


Epilog :

Shinichi mencintai Ran.

Itu bukan suatu rahasia yang spesial. Hal itu sudah menjadi rahasia publik. Semua orang mengetahui. Berani bertaruh, bahkan langit dan bumi pun tahu.

Akan tetapi, semua sudah berubah.

Kenyataan berbanding terbalik dengan pikiran dan harapan orang-orang mengenai mereka berdua.

Ternyata Ran tidak tercipta dari tulang rusuk Shinichi.

Ternyata benang merah di jari kelingking Shinichi dan Ran tidak pernah saling tersambung.

Orang-orang berpikir benang merah itu telah putus.

Ternyata yang sebenarnya adalah dari awal Shinichi dan Ran lahir ke dunia, benang merah takdir tak pernah saling tersambung.

Shinichi mencintai Shiho.

Itu adalah rahasia spesial. Orang-orang tak pernah sadar. Bahkan diri Shinichi tak tahu hal itu. Tidak dengan langit dan bumi. Tak pernah ada yang tahu.

Seolah-olah rasa cinta itu memang sengaja tersimpan rapat agar tak ternoda.

Setahun berlalu. Tibalah pernikahan Shinichi dan Shiho.

Akhirnya, orang-orang tahu.

Shiho tercipta dari tulang rusuk Shinichi.

Akhirnya, orang-orang tahu.

Benang merah takdir itu tak pernah putus. Sebab benang merah takdir itu memang tersambung pada Shinichi dan Shiho.

Akhirnya, orang-orang tahu.

Shiho adalah takdir yang ditentukan untuk Shinichi. Begitu pula sebaliknya.

Semua orang turut bahagia.

Ran berdiri di hadapan pasangan yang sudah resmi jadi suami-istri.

Ran memberikan pelukan hangat pada keduanya.

"Aku menyayangi kalian."

Shinichi dan Shiho membalas pelukan Ran.

"Aku juga menyayangimu, Ran."

"Aku juga menyayangimu, Ran-san."

Lalu ketiganya tertawa bahagia.

Pernikahan hari itu adalah hari terbahagia untuk semuanya.

Terutama Shinichi dan Shiho.


TAMAT


A/N :

AKHIRNYA AKU MEMBAWAKAN FANFIKSI PERTAMA DARI FANDOM DETCO SERTA OTP FAVORIT, SHINICHI X SHIHO.

Hiks semoga ini tidak OOC. Semoga feelsnya kerasa juga.

Panggil aja aku Suka ya! temukan diriku di

Twitter : suka_usotsuki

Tumblr: sukausotsuki

Pixiv : suka_usotsuki

Instagram : suka_uso

ayok kita ngobrolin pairing ini sampe berbusa sksjsksjsjsj. hidup shinshi! yey!

jangan lupa tinggalkan kesan kalian membaca fiksi ini ya!