Disclaimer: Haikyuu! milik Haruichi Furudate
Hujan by rainimeith
Fanfiction
Hinata Shoyo x Yachi Hitoka
Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfiction ini.
Selamat membaca!
Hujan, hujan, dan hujan. Itulah agenda langit pada hari ini. Mendukung suasana untuk semakin merasa sedih.
Itulah yang dirasakan Yachi saat ini. Tepatnya setelah ia mendengar fakta bahwa temannya juga menyukai orang yang sama dengannya.
...
"Hei, Hitoka-chan. Temani aku membeli kopi, yuk! Hujan-hujan begini enak minum kopi hangat, kan?" ajak salah satu teman Yachi.
"Baiklah."
Yachi mengikuti—menemani temannya membeli kopi di kantin. Awalnya berjalan dengan baik sebelum temannya mengungkap suatu hal.
"Hitoka-chan, apa kau tahu?" celetuk teman Yachi dalam perjalanan menuju kantin.
"Tahu apa?"
"Aku kena friendzone. Hahahah lucu banget, ya?"
"Friendzone? Kau suka seseorang? siapa?"
"Anak voli, Hinata Shoyo."
"Eh..?" Yachi terdiam karena kaget. Ia tidak menyangka temannya akan menyukai Hinata.
"Hitoka-chan? Kau dengar aku?"
"Eh— oh, iya. Jadi, gimana ceritanya?"
"Hahaha kau tampak kaget. Ceritanya, aku kagum dengannya saat melawan sekolah Shiratorizawa.
Kau tahu? Dia sangat ramah, karena waktu itu aku menghampirinya dan meminta kontaknya.
Dia memberikannya! Kemudian aku sering kali memberinya pesan. Dia juga sering membalas pesanku. Dia baik, ceria, ramah, dan peduli. Tentu saja aku jadi terbawa perasaan, kan?"
Yachi membalas dengan anggukan.
"Namun kemudian, aku sadar, bahwa sifatnya memang seperti itu pada semua orang. Salah bagiku jika menganggap aku orang terdekatnya."
Perasaan Yachi kacau. Antara sedih, kaget, kasihan, kecewa menjadi satu. Ia bingung harus memberi tanggapan apa.
Lantaran Hinata Shoyo, adalah pemuda yang ia sukai juga semenjak ia bertemu tim voli Karasuno.
"Begitukah? Sayang sekali..lalu kau akan bagaimana dengan perasaanmu itu?" tanya Yachi.
"Aku akan memendamnya dan melupakannya!"
"Ehh, kenapa? Seharusnya kau berusaha dulu, dong!" Yachi mengangkat kepalan tangannya.
Krek
"Hahaha tidak perlu. Dari awal memang aku yang salah."
"Tidak tidak, Hinata itu hanya polos! Ya, ya! Sangat polos."
Krek
"Sudahlah, Hitoka-chan. Tidak perlu dipikirkan. Ah! Kopinya." teman Yachi mengambil kopi dan berjalan kembali ke kelas.
Suasana hati Yachi benar-benar kacau rasanya. Ia memang memberikan kata semangat, namun hatinya berkata lain.
"Hei, Hitoka-chan."
"Ya?"
"Sepertinya aku berubah pikiran setelah mendengar kata-katamu. Apa aku terus mengejarnya saja, ya?"
"Perjuangkan!"
Prang!
"Terimakasih, Hitoka-chan! Kau tidak mau masuk kelas?" mereka sampai di depan kelas Yachi.
"Tidak," Yachi tersenyum dan menggeleng, "Aku mau melihat hujan saja."
"Oh, baiklah!" teman Yachi pun masuk kelas.
...
Disinilah Yachi sekarang. Berada di lorong penyambung gedung sekolah dengan gym.
Berdiri dengan melihat hujan didepannya. Ia sedang ingin sendiri untuk menenangkan perasaannya.
Ia merutuki dirinya yang malah dengan bodoh semakin membuat sang pujaan berkemungkinan besar diambil orang.
Kesedihannya dibuat oleh dirinya sendiri. Andaikan saja tadi Yachi hanya diam mendengarkan. Mungkin tidak jadi seperti ini.
"Hitoka bodoh!" batinnya.
Mata Yachi memerah, berkaca-kaca. Namun ia tahan agar air dari matanya tidak jatuh.
"Aku ini kenapa? Aku bahkan bukan siapa-siapanya Hinata. Apa aku mengalah saja?"
Hingga kemudian datang dua orang pemuda menghampirinya. Lebih tepatnya mampir karena lewat.
"Yachi-san!" panggil Yamaguchi.
Segera Yachi menyeka matanya dan membalas, "Ah, Yamaguchi-kun dan Tsukishima-kun."
"Sedang apa kau disini?" tanya Tsukishima.
"Tidak ada! Hanya menatap hujan." jawab Yachi seadanya.
"Yachi-san, kau menangis?" Yamaguchi khawatir.
"Eh, tidak tidak. Mungkin ini air hujan." Yachi berusaha tersenyum.
Sementara itu, Tsukishima sebenarnya sudah menduga bahwa Yachi menahan air mata.
Ia menengadahkan telapak tangannya dipinggiran tempat air hujan terjatuh dari atap. Kemudian mencipratkannya pada Yachi.
"Tsukishima-kun!"
"Maaf, habis wajahmu tampak kurang segar." ujar Tsukishima dengan tatapan salty.
Yachi juga melakukan hal yang sama hingga akhirnya mereka malah bermain air hujan selama beberapa saat.
"Tsukishima! Yamaguchi! Yachi! Apa yang kalian lakukan!?" tegas Daichi.
"Hehe~" Yamaguchi dan Yachi membalas dengan cengiran.
Sedangkan Tsukishima mengambil kacamatanya dan mengeringkannya—mengelapnya.
Ya, kini mood Yachi sudah membaik berkat Tsukishima dan Yamaguchi. Setidaknya untuk sementara.
...
"Hitoka-chan, tolong isikan botol, ya." pinta Shimizu.
"Ah, baik!"
Yachi mengambil beberapa botol dan pergi mengisinya. Hujan yang terus terjadi selama hari ini membuat lantai jadi licin. Membuat Yachi terpeleset.
Entah ini adalah keberuntungan atau kesialan baginya, karena pemuda yang membuatnya galau tiba-tiba ada untuk menangkapnya.
"Hup! Yachi-san, kau tak apa?" tanya Hinata khawatir.
"Eh! HINATA?!"
Hinata mengangguk dan membantu Yachi berdiri dengan sempurna lagi.
"Botol-botolnya?"
"Ditangkap Kageyama." Hinata menunjuk Kageyama di belakang Yachi.
Yachi menoleh ke belakang dan membungkuk-bungkuk—meminta maaf—pada Kageyama juga Hinata.
"Tidak apa-apa, Yachi-san. Lantainya memang licin. Yachi-san juga lebih hati-hati lagi, ya!"
"B-baiklah. Aku harus mengisi botolnya."
"Biar kami bantu. 'Kan, Kageyama?"
"Ya." Kageyama mengangguk sambil membawa botol.
"Terimakasih!"
Yachi hendak melangkah, namun kakinya terasa sakit. Sepertinya kaki kiri Yachi terkilir karena terpeleset tadi, meskipun tidak parah.
"Akh-!"
"Yachi-san!" Hinata yang sudah berjalan menoleh ke belakang.
"Maaf, Hinata. Kakiku sakit."
Hinata melihat kaki Yachi, kemudian perlahan menatap seluruh badan Yachi.
"Cantik. Tunggu dulu! Fokus!" Hinata menampar pipi kanan dan kirinya, "Kaki Yachi-san pasti terkilir." batin Hinata.
"Hinata?! Kenapa kau menampar pipimu!?" Yachi malah panik.
Hinata menjadi serius, ia mendekati Yachi dan hendak menggendongnya, "Yachi-san, naiklah ke punggungku."
Dengan cepat Hinata merendahkan tubuhnya untuk memudahkan Yachi digendong.
"Ta-tapi.."
Yachi merasa tidak enak dan mau menolak, namun Hinata terus memaksanya.
"Naiklah!"
"Tidak!"
"Naik!"
"Tidak!"
"Ayolah, Yachi-san."
"Ayolah, Hinata."
Kageyama yang melihat hal itu daritadi mulai kesal. Muncul perempatan imajiner pada dahinya.
"OI BOKE! CEPATLAH, NANTI DICARIIN!"
"Iyaaa!" Hinata membalas, "Ayolah, aku tidak masalah!"
"Baiklah." Yachi menyerah dan kemudian naik ke punggung Hinata.
Akhirnya ia hanya bisa ikut—melihat—Kageyama dan Hinata mengisi botol dan membawanya lagi.
Yachi membawa beberapa botol untuk membantu Kageyama. Hinata? Ya, dia menggendong Yachi—lagi.
"Jantungku tidak bisa diam." batin Hinata.
Hingga akhirnya mereka bertiga memasuki gym. Seketika Shimizu berlari mendatangi Yachi.
"Hitoka-chan, kau kenapa?" Shimizu tampak khawatir dan meminta penjelasan, "Hinata?"
"Tadi Yachi-san terpleset dan terkilir, Shimizu-senpai." jelas Hinata.
Yachi meminta Hinata untuk menurunkannya, namun saat berdiri, Yachi kembali oleng.
Sugawara—yang menyadari hal itu—ikut datang dengan wajah khawatir. Sama khawatirnya dengan Shimizu.
"Shimizu, ambil kompres dingin untuk Yachi-san." perintah Sugawara, Shimizu menggangguk dan pergi.
Tak lama kemudian saat Shimizu kembali, Yachi sudah di kelilingi oleh anak Karasuno lainnya.
"Yacchan, kau tidak apa?"
"Yachi-san, masih sakit?"
"Yachi-san, bagaimana ceritanya?"
Dan banyak pertanyaan lain yang diajukan. Membuat Yachi bingung harus menjawab yang mana dulu.
"Sugawara, ini kompresnya." Shimizu menyerahkan kompres pada Sugawara.
Kemudian Sugawara menerobos kerumunan, "Banyak sekali pertanyaan kalian ini!?" lalu memberikan kompres pada Hinata.
"Tolong pasangkan pada pergelangan kaki Yachi." bisik Sugawara tersenyum dengan satu mata berkedip.
Hinata paham dengan maksud "kedipan" itu. Hinata tidak benar-benar bodoh, bukan? Kini wajahnya sedikit memerah.
"Hoi mau sampai kapan kalian bertanya? Apa kalian lupa dengan Kageyama yang sudah membawakan minum, hm?"
Sugawara menunjuk Kageyama yang sedang minum dengan Tsukishima disebelahnya.
Semua pandangan mengarah pada Kageyama. Mereka benar-benar hampir melupakannya. Mereka bahkan lupa minum karena langsung mengerumuni Yachi.
"Yo! Kageyama! Terimakasih airnya!" ujar Tanaka.
"Kerja bagus, Kageyama." puji Daichi.
Akhirnya mereka yang mengerumuni Yachi pun pergi untuk minum. Tersisa Hinata disamping Yachi.
Kemana coach Ukai dan Takeda-sensei? Mereka sudah menemui Yachi dan mengecek keadaannya saat yg lain masih latihan.
Sekarang Hinata masih memegang kompres. Jantungnya masih berdegup kencang.
Disisi lain, Yachi justru merasa sesak. Hatinya sesak karena perlakuan Hinata yang sangat baik terhadapnya.
Ia jadi semakin ragu, harus memilih menahan perasaan untuk tetap ada, atau menyerah agar temannya yang berhasil?
Mood Yachi kembali buruk. Mungkin bisa dibilang hatinya menjadi sakit, meskipun terdengar berlebihan.
"Yachi-san."
"Yachi-san."
"Hitoka!" panggil Hinata yang daritadi tidak terdengar, kini sudah berada dihadapan Yachi.
"Eh— y-ya, Hinata?"
"Aku lepas sepatumu, ya? Mau kupasang kompresnya."
"Ah, aku bisa sendiri.."
"Tidak, tidak. pasti susah. Biar aku saja." Hinata menjadi serius dan fokus kalau soal Yachi.
...
"Suga-san."
"Ya?"
"Apa Suga-san tahu, kenapa jantungku berdegup dua kali lebih cepat saat berada di dekat.."
-bersambung
