"Suga-san."
"Ya, Hinata?"
"Apa Suga-san tahu, kenapa jantungku berdegup dua kali lebih cepat saat berada di dekat Yachi-san?"
"Wah, wah ada apa dengan pertanyaan itu?"
Angin sore menemani Hinata dan Sugawara diatap sekolah. Hinata sengaja meminta Sugawara datang karena menurutnya, hanya Sugawara yang bisa mengerti.
Mengerti untuk mendengarkan cerita Hinata dan bisa memberikan penjelasan tanpa mengejek ceritanya.
"Begini Suga-san, semenjak Yachi-san datang ke klub voli, aku merasa seperti boom dan fuwah! A-apa ini yang disebut menyukai..lawan jenis?" tanya Hinata.
Sugawara tersenyum, "Aku belum bisa menyimpulkan kalau hanya seperti itu. Apa kau merasakan hal lain sampai sekarang?"
"Yah..aku juga merasa ia penting, seperti voli. Rasanya juga nyaman. Eh—"
Hinata benar-benar menjelaskan perasaannya. Dia bukanlah anak kecil yang polos, bukan? Dia jugalah seorang remaja laki-laki.
"Tidak apa-apa. Kalau sudah sampai kau merasa dia itu penting, aku mungkin bisa menarik kesimpulan dengan yakin. Hinata, kau menyukainya." Sugawara menepuk-nepuk pundak Hinata.
Wajah hinata memerah hingga telinga. Sepertinya ucapan Sugawara sangat tepat.
...
Sejak hari itu, Hinata jadi lebih sering memperhatikan Yachi, meskipun tidak tampak secara gamblang.
Contohnya seperti hari ini, Hinata benar-benar khawatir dengan gadis berambut blonde dihadapannya.
Pasalnya, gadis itu kini kesulitan untuk berjalan pulang. Ia bingung harus bagaimana.
"Yachi-san, bisa pulang sendiri?" tanya Hinata.
"Bisa, Hinata. Aku tidak apa-apa."
Yachi berjalan melewati Hinata dengan susah payah. Hinata mendesah, wajahnya kembali serius. Tangannya menggapai lengan Yachi.
"Dengar, kau tidak baik-baik saja, Yachi-san. Aku akan mengantarmu, paling tidak aku bisa memapahmu." tegas Hinata.
"Eh, tapi kita beda jalur kan? Aku tidak mau merepotkanmu lagi, Hinata."
"Tidak masalah buatku. Asalkan kau baik-baik saja sampai di rumah."
Ucapan Hinata membuat jantung Yachi kembali berdegup kencang. Namun setiap kali ia merasa begitu, ia teringat dengan temannya.
"Cukup Hinata, aku—"
"Aku memaksa, Yachi-san."
"B-baiklah."
Yachi melingkarkan tangannya pada bahu—leher Hinata dan Hinata memapahnya. Mereka pun berjalan bersama.
Beberapa menit berlalu, Hinata semakin gusar dalam batinnya. Ia merasa seperti ada yang mengikuti dirinya dan Yachi.
"Yachi-san, tunggu." Hinata mengambil hoodie yang biasa ia gunakan. Kebetulan ia tidak memakainya lagi setelah ganti pakaian, "Ini, pakailah."
"He? Kenapa?"
"Aku merasa ada yang mengikuti kita. Kau pakailah agar aman." ucap Hinata membuat Yachi bergidik ngeri.
Dengan cepat memakai hoodie itu dan Hinata memakaikan tudungnya. Mereka pun kembali berjalan. Hingga akhirnya mereka sampai di rumah Yachi.
"Terimakasih, Hinata. Maaf kau jadi pulang malam dan semakin jauh." ucap Yachi.
"Tidak masalah, Yachi-san! Semoga cepat sembuh! Sampai besok!" Hinata melambai dan berjalan pulang.
"Oh astaga. Kakiku ini sakit sekali. Aku bersyukur Hinata membantuku tadi. Hanya saja— AH AKU BENCI PERASAAN INI!"
...
Keesokannya, Yachi berangkat sekolah dengan membawa hoodie Hinata yang belum sempat ia kembalikan.
"Pagi, Hitoka-chan!" sapa teman Yachi yang juga menyukai Hinata.
"Ah, pagi Akane-chan."
"Hei, hei, aku kemarin melihat Hinata-san bersama dengan seorang perempuan. Kira-kira siapa, ya?" tanya teman Yachi riang.
"Jangan-jangan aku? Berarti kemarin yang mengikuti kami..dia?"
"Hitoka-chan!"
"E-eh, yang mana? Aku tidak tahu. Lagipula kenapa kau bisa tahu?" Yachi mengusap belakang kepalanya.
"Aku..mengikutinya. Hehe."
"Tepat."
"Sepertinya Hinata-san sudah dekat dengan orang lain ya.."
"Mungkin saja." Yachi tersenyum canggung.
Tak lama kemudian pelajaran dimulai. Tiba-tiba teman Yachi menoleh pada Yachi dan berkata, "Aku akan menyatakan perasaanku saat jam pulang."
Yachi terdiam dengan penuh deduksi dalam pikirannya.
"Kenapa tiba-tiba?"
"Ia serius?"
"Kenapa ia ingin menyatakannya secepat ini?"
Akhirnya Yachi tidak fokus pada pelajaran.
...
Kemarin, saat Akane bertanya dengan Yachi, 'Apa aku perjuangkan saja ya?', Akane hanya mengetes Yachi.
Apakah Yachi akan memilih menyerah untuknya atau tetap mempertahankan perasaannya.
Pasalnya, Akane kerap mendapati Yachi yang memperhatikan Hinata. Begitu juga dengan Hinata yang memperhatikan Yachi.
Ditambah dengan kedekatan mereka dalam klub voli.
Akane mengerti kalau Yachi dan Hinata saling menyukai satu sama lain. Tapi dia juga memiliki perasaan yang sama.
Pada akhirnya dia mengetes Yachi, dan Yachi memilih untuk menyerah—mengalah untuknya.
Sebenarnya Akane senang, tapi juga tidak enak hati.
Setelah berbagai pertimbangan, ia memutuskan untuk dia saja yang mengalah.
"Maaf aku hampir mengganggu hubungan kalian."
...
"Hinata-san!"
"Ah! Akane-san."
"Begini.." Akane merona dan menunduk, memainkan kakinya.
"Ya?" sedangkan Hinata melongo polos
"Kau itu baik, ramah, ceria, dan hebat."
"Terimakasih!" Hinata tersenyum.
Akane tersenyum dan melanjutkan kalimatnya yang menggantung.
"Setiap kali aku memberi pesan padamu, kau membalasnya dengan baik. Kau tahu? Itu membuatku senang."
Hinata masih tersenyum.
"Emm karena itu..aku..jadi..menyukaimu."
Senyuman Hinata mulai memudar.
"Aku menyukaimu, Hinata-san!"
"Maaf. Tapi, aku sudah memiliki orang yang aku sukai dan kuanggap penting." balas Hinata sambil mengusap belakang kepalanya.
"Eh? Begitu, ya?"
"Ya." Hinata mengangguk.
"Hahaha tidak masalah Hinata-san. Aku juga, sebenarnya sudah tahu. Aku hanya ingin mengutarakan perasaanku saja. Setidaknya begitu."
"Eh-?"
"Biar kutebak, pasti orangnya adalah... Hitoka-chan! Benar, kan?"
Wajah Hinata memerah.
"Itu artinya benar. Semangat! Nah karena misiku sudah selesai, aku pergi duluan, ya? Kau pasti bisa!" Akane beranjak dengan menepuk bahu Hinata.
Ia pergi dengan matanya yang memanas, meninggalkan Hinata yang masih terdiam ditempat.
"Bagus, misi selesai. Dengan begini, aku lega. Selamat Hitoka-chan!"
...
Setelah pernyataan yang begitu tiba-tiba ia terima, Hinata kini berjalan menuju gym tempatnya berlatih.
"Oi, boke! Kau ini darimana? Lama sekali." tanya Kageyama yang sepertinya sudah menunggu Hinata untuk berlatih.
"Eh? Sudah mulai?" Hinata malah celingukan.
"Orang bodoh mau bagaimana pun tetap bodoh." celetuk Tsukishima.
"Maaf aku baru datang!" Hinata segera berlari mengikuti latihan.
Dipinggir, Yachi masih sibuk dengan pikirannya. Apalagi ia melihat Hinata yang malah tampak "salah tingkah".
"Benar-benar sudah menyatakan, ya?" batin Yachi.
Suara decitan sepatu dan pantulan bola memenuhi gym. Menandakan mereka semua sedang berlatih. Beberapa menit kemudian mereka selesai dan beristirahat.
"Yachi-san!" panggil Hinata disela-sela Yachi membagikan botol minum.
"Kakimu! Sudah sembuh?" tak dapat dipungkiri bahwa Hinata masih khawatir.
"Ah, iya sudah, Hinata." Yachi berusaha untuk tersenyum.
Tentu saja hal itu diketahui oleh Hinata. Hinata orang yang peka, bukan? Dia saja bahkan peka terhadap lemparan Kageyama saat pelatihan musim panas.
Apalagi terhadap Yachi, yang notabenenya adalah orang istimewa bagi Hinata. Namun ia memilih diam, karena ia merencanakan sesuatu saat pulang nanti.
"Maaf, Yachi-san."
...
"Yachi-san!"
Gadis yang dipanggil menoleh membuatnya berhenti dari kegiatannya berjalan—dengan kesulitan.
"Hinata!? Ada apa?"
Iris pemuda itu memperhatikan iris sang gadis. Berdiri dihalaman sekolah yang sudah sepi. Dengan langit yang semakin menggelap.
"Aku ingin mengatakan sesuatu."
Bertepatan dengan usainya kalimat Hinata, hujan turun seperti berjalan dengan sangat deras. Yachi tak sempat berteduh karena kakinya sakit jika banyak bergerak—terutama dengan cepat.
Dengan sigap Hinata berlari menghampiri Yachi dan menggendongnya gaya bridal, "Ayo berteduh!"
"Eh eh Hinata!"
Dibawanya Yachi ke depan pintu masuk sekolah untuk berteduh, hujan semakin deras.
"J-jangan gendong aku tiba-tiba, Hinata." ucap Yachi gugup saat diturunkan.
Jantungnya—jantung mereka berdegup sangat kencang.
"Semoga Hinata tidak mendengar ini."
"Semoga Yachi-san tidak mendengar ini."
"Maaf, Yachi-san. Keburu hujan hehe."
Yachi masih berusaha menenangkan dirinya hingga Hinata berbicara kembali.
"Yachi-san." Hinata mendadak serius.
Aktivitas Yachi berhenti, ia mendongak menatap pemuda didepannya.
"Aku, menyukaimu."
Kalimat itu berhasil membuat wajah Yachi merah, semerah-merahnya. Mulutnya tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Aku menyukaimu sejak kau datang di klub voli, sejak Shimizu-senpai membawamu, Yachi Hitoka!"
Alam serasa mendukung momen ini, angin dingin berhembus kencang hingga membuat rambut Yachi bergerak ke belakang.
"Apa ini? Dia tidak menerima Akane-chan tadi?"
"Kau serius..Hinata?" tanya Yachi tidak percaya.
"Apa aku pernah menginginkan sesuatu dengan main-main?"
"T-tidak."
Hinata mengangguk.
"Lalu bagaimana dengan Akane-chan?"
"Aku menolaknya."
Yachi terdiam.
"Apa kau terima, Yachi-san?" tanya Hinata.
"Jika Hinata memang menolak Akane-chan, maka aku bisa menerimanya."
"Aku—aku terima, Hinata. Aku juga merasakan hal yang sama." Yachi tersenyum lembut.
Hinata menerjang Yachi, "Terimakasih, Yach— Hitoka!"
Perasaan Yachi yang buruk kemarin, terbayar sekarang.
Prok prok prok
Prok prok
"Eh-?" Yachi dan Hinata sama-sama menoleh, mendapati Sugawara dan Shimizu dari balik pintu.
"Selamat, Hitoka-chan!" ucap Shimizu.
"Salah satu anak burung gagak kini sudah besar, ya. Selamat, Hinata!" ucap Sugawara.
Yachi dan Hinata tersenyum lebar dan saling menatap, "Hehe~"
Hari itu, menjadi hari yang tak terlupakan bagi Yachi dan juga Hinata.
...
"Tamat." seorang pria mengakhiri ceritanya.
"Uwooh gadis itu sangat beruntung. Meskipun harus merasakan kesedihan beberapa saat." ucap seorang anak laki-laki.
"Apa yang terjadi setelah itu?" tanya seorang anak perempuan.
"Yah, kalian bisa melihatnya sendiri..." pria itu tersenyum pada anak-anaknya yang tampak sangat antusias mendengarkan, "...benar, kan, Hitoka?"
Istrinya mengangguk, "Hahaha benar sekali, Shoyo."
-tamat-
Author's note: terima kasih sudah membaca fanfiction ini! saya mohon maaf bila tidak sesuai dengan ekspektasi dan banyak kekurangan. sekian dan terima kasih, sampai jumpa!
