Setiap perusuk di kedai itu, tidak mengalihkan astensinya. Lelaki itu lebih memilih untuk menyesap sedikit kopi, di cangkir kecil itu.
Mindanya kembali menerawang, tiap-tiap detik, ia mengingati. Jelas. Tidak lupa. Ia sudah memutuskan kekasihnya siang tadi. Memang. Memang, Levi tidak punya alasan jelaa untuk memutuskan hubungannya bersama Petra. Dan, ia tahu akan itu. Hanya sahaja, ia merasa bahwa hubungan mereka sudah sampai ke tahap toxic. Dan, kapan-kapan, pasti mereka akan putus. Levi hanya mempercepat waktunya.
Mengerling ke kiri, keponakannya, Mikasa terlihat. Berbalas pesan bersama kekasih barunya, Eren. Dan, rona merah mulai terbit di wajah gadis itu.
Bila Levi menyoal, "bukankah kau bilang bahwa Eren ialah stalkermu?"
Pasti dijawab oleh Mikasa dengan memutar dua bola matanya, malas. "Menurutku, dia baik juga."
Dan, Levi tidak pernah paham. Bukan hanya perihal keponakannya, atau ibunya, atau juga Kenny. Bukan. Bukan mereka.
Tiap-tiap detik Levi ingin melelapkan diri, ia pasti akan bermimpi seseorang. Dan, ia benci akan itu.
Ia tidak mengenal, siapa orangnya. Hanya sahaja, wanita itu mendekati tipenya dalam memilih kekasih ideal. Tinggi.
Rambutnya cokelat, netra matanya sienna. Indah. Satu perkataan yang mampu Levi deskripsikan.
Memang. Memang, wanita itu tidak secantik Mikasa ataupun Kuchel. Memang, wanita itu tidak seimut Petra, mantannya. Tetapi, wanita itu persis seperti Isabell, kekasihnya Furlan.
Dan, Levi benci akan itu.
Ia membenci, bagaimana Isabell yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri mempunyai pacar seperti Furlan. Tidak. Isabell lebih pantas mendapat yang lebih bagus.
"Dasar aniki protektif," disertai dengan dengusan Isabell.
Tapi, ia merasa benci kepada dirinya. Sudah tertarik kepada wanita yang mirip seperti Isabell. Dia tidak ingin akan itu.
Atau tidak? Ia sendiri belum menemukan jawaban yang pantas untuk persoalannya.
Cangkir kopi yang sudah habis diletakkan di meja. Melirik Mikasa yang masih tersenyum-senyum, menghadap layar skrin ponsel. "Aku pulang dahulu."
Dan, dijawab selamba oleh Mikasa. "Pulanglah, tidak ada yang menyuruhmu untuk berada disni."
Keluar dari kafe itu, mata Levi mula berhenti pada bangku kecil yang berdekatan. Tempat ia dan Petra menghabiskan masa bersama.
Ah. Levi cepat-cepat menggelengkan kepala. Toh, mereka sudah putus. Pinggiran bibir Levi mulai menaik, hubungan memang merepotkan.
Dan, rintik hujan mulai mengenai kepalanya. Wajahnya didongak. Entah kenapa, dia merasa seperti pernah mengalami ini.
Tapi, ia sendiri tak pasti.
Lelaki itu mulai berjalan cepat. Tak tersadar bahwa, pundaknya mengenai seseorang. Cepat-cepat ia menoleh kesamping. Disaat itu, matanya terpaku.
"Ah, maaf. Aku tidak melihat-lihat jalan," ucap orang yang melanggarnya itu. Namun astensi Levi tak beralih walau sedikit.
Akhirnya ia menemukannya.
"Kau?"
Wanita itu turut terkejut.
Akhirnya aku menemukanmu
"Levi?"
Wanita-nya. Wanita yang sering muncul di tiap mimpinya.
Tanpa sadar, bibir Levi seolah-olah bergerak sendiri. Turut mengujar nama wanita itu.
"Hanji..."
Akhirnya ia menemukannya, di bawah hujan deras, sienna-nya dan kelabu Levi bertatapan.
Dan, pertama kali dalam hidupnya, Levi bersyukur.
Dekapan erat, napas hangat wanita itu mulai terasa. Dan, Levi mengikutinya, mengujar nama Hanji berkali-kali.
"Akhirnya aku menemukanmu..."
aduh...maap ya kalo jelek TT. Btw, ini omake! :D
Handuk kecil hangat mulai melilit leher Levi. Levi mendengus kegelian.
"Hm, jadi bagaimana kau bisa mengingatku? Bagaimana juga hubunganmu dengan Petra?"
Levi mendengus kecil, "aku dan Petra sudah tidak membangun apa-apa relasi lagi. Dan untuk soalan pertamamu, rasanya aku tak bisa untuk menjawab itu. Ah tidak, aku tidak punya jawaban untuk persoalanmu..."
Hanji terkekeh kecil. Disodorkannya cokelat hangat. "Yang benar sahaja..."
"Kenapa?" Menarik mendekat kepala Hanji. Lelaki itu menyeringai, "kau masih cemburu kepada Petra?"
Wajah Hanji mulai memerah. "Bukan begitu, chibi!!!"
"Hei..." Dia menyeringai puas menatap Hanji yang sudah memalingkan wajah ke tepi. "Apa katamu kalau kita mulai berpacaran?"
omake end!
makasih udah baca sejauh ini ya!! Tebar confetti!!! Karya asal punya Kisha! Saya tidak menjiplak karena sudah mendapat ijin darinya :3
