CROWMASTER : BIRD AMONG DRAGON
Disclaimer :
Naruto Punyanya Om Masashi Kishimoto
High School DxD Punyanya Om Ichiei Isshibumi
Seminggu yang lalu
" Selamat ya, Itachi!"
" Bersulang untuk Itachi!"
Sekumpulan remaja sedang mengadakan pesta di sebuah cafe kota Paris. Mereka sedang merayakan kelulusan teman mereka yang kelewat jenius ini, sekaligus sebagai Farewell Party untuknya. Mereka duduk melingkar di sebuah meja dengan berbagai macam makanan terhidang disana.
" Huh... aku iri padamu, bung. Lulus lebih dulu dari yang lain dengan nilai seperti itu..." kata salah seorang lelaki yang berambut coklat oranye dan berbadan tinggi.
" Kenapa kau tidak berguru pada Itachi? Siapa tahu secercah kemampuan otaknya bisa menurun padamu." kali ini pria pirang dengan paras tampan yang bersuara. Ia kembali menyeruput Latte miliknya.
" Tapi aku sedikit kasihan pada kampus kita nanti." ujar perempuan pirang berkacamata disana.
" Kampus kita akan kehilangan Prince of Physics mereka. Aku bisa membayangkan banyaknya para gadis yang bersedih saat ini."
Mereka semua tertawa mendengar perkataan temannya itu. Prince of Physics, julukan untuk Itachi di kalangan mahasiswi kampusnya, diberikan karena wajah tampan dan penguasaan materi yang dimiliki Itachi.
Selama 2 tahun ia berkuliah disini, sudah begitu banyak gadis-gadis yang mencoba mendekatinya, namun tidak ada satupun dari mereka mampu menaklukkan hati Itachi. Bukannya mundur, hal itu malah menambah semangat mereka untuk mendekati Itachi. Dan hal itu hanya membuat kepala Itachi bertambah pusing setiap harinya.
Teman-temannya yang ada disini adalah salah satu hal yang mampu membuat stress di otak Itachi mereda. Mereka semua adalah mahasiswa S1 dari fakultas yang berbeda-beda, pun dengan asal mereka. Si pria berambut coklat tadilah yang mengenalkan Itachi pada mereka hingga bisa sedekat sekarang.
" Apa kau akan kembali ke Jepang, Itachi?" tanya salah satu temannya.
Itachi menyesap Cappucino favoritnya. Ia memejamkan matanya untuk sejenak.
" Tentu. Aku harus kembali kesana."
" Kenapa tidak tinggal di Paris? Orang sepertimu banyak dicari oleh perusahaan besar disini."
" Ada urusan yang harus kuselesaikan disana." jawab Itachi mantap. Ia memikirkan ucapan Zeoticus bulan lalu.
Flashback
Itachi terbaring di kasurnya. Tesis yang ia buat disukai oleh para dosen yang ada disana. Ia sudah dinyatakan lulus dan akan diwisuda sekitar 2-3 minggu lagi. Ia menghela nafas lega karena bebannya sudah terlepas untuk saat ini. Baru saja matanya akan terpejam, sebuah ketukan di pintu kamarnya terdengar.
TokTok! Tok! Tok!
" Sebentar!" teriaknya dari dalam. Ia lantas bangun dan bergegas membuka pintu kamarnya.
Di depan kamarnya sudah berdiri Zeoticus. Itachi sedikit terkejut melihat kedatangan pria dihadapannya ini. Terakhir kali Zeoticus berkunjung adalah sekitar 1 tahun lalu untuk sekedar memeriksa keadaan Itachi.
" Selamat malam, Itachi. Maaf kalau aku mengganggj malammu." sapa Zeoticus dengan tersenyum.
" Tentu tidak, Zeoticus-sama. Silahkan masuk..." Itachi mempersilahkan Zeoticus masuk dan duduk di kursi meja belajarnya.
Ukuran kamar milik Itachi tidak terlalu luas maupun kecil. Kamarnya diisi dengan lemari baju, kasur, meja belajar, dan sebuah kulkas kecil, tapi masih menyisakan ruang cukup luas. Ia menyodorkan sebuah minuman dingin yang ia ambil dari kulkasnya pada Zeoticus lalu duduk dikasurnya.
" Terima kasih."
Zeoticus lantas membuka dan meminum soda yang diberikan Itachi.
" Tidak biasanya anda berkunjung, Zeoticus-sama."
" Ah ya, aku kesini untuk memberikan ucapan selamat atas kelulusanmu. Sirzech menitipkan ini untukmu."
Zeoticus menjentikkan jarinya. Seketika, sebuah pedang muncul lewat lingkaran sihir dan mendarat di sampinh Itachi.
" Sirzech pernah melihat latihan berpedangmu dulu dan ia cukup terkesan. Jadi dia memberikan ini untukmu." jelas Zeoticus yanh kembali meminum minumannya.
Di samping Itachi sudah tergeletak sebuah pedang katana dengan sarung berwarna birutua. Gagangnya yanh hitam dibalut dengan kain berwarna putih secara menyilang. Terlihat simple, namun elegan. Begitulah kesan Itachi terhadap pedang ini.
" Satu lagi, Itachi. Aku ingin meminta tolong padamu."" Hn?" Itachi menautkan sebelah alisnya.Zeoticus berdiri dan berjalan ke arah jendela." Aku ingin kau mengawasi Kota Kuoh di Jepang dari para iblis liar. Dan..." Zeoticus menggantungkan kalimatnya.
" Aku ingin kau mengawasi Rias disana."
Rias... Sudah lama sekali dia tidak bertemu adik angkatnya itu. Bukannya ia tidak mau menemuinya, hanya saja tugasnya sebagai mahasiswa dan iblis mengharuskan dia meluangkan waktu ekstra.
Ya... Itachi memang memiliki tugas disini sebagai iblis. Ia tetap beroperasi dan mengabulkan permintaan mereka yang memanggil dirinya disini. Ia juga beberapa kali bertarung melawan iblis liar yang berkeliaran di sekitar asramanya.
" Yah... Itu terserah kau saja, Itachi." ucapan salah seorang temannya membuyarkan pikiran Itachi. Ia lalu menikmati waktu bersama teman-temannya disini.
Dua jam sudah berlalu dan matahari mulai terbenam. Itachi memutuskan pamit pada temannya agar bisa mem-pack barang-barangnya untuk berangkat esok hari.
Di jalan pulang ia menyempatkan diri untuk mampir ke kios penjual bunga di pinggiran trotoar. Kios kecil ini dimiliki oleh seorang gadis pemalu benama Violet Bougainvillea. Gadis kikuk yang kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang ini menjual bunga di pinggir trotoar dekat asrama tempat ia tinggal dari pagi hingga malam.
" Selamat malam, Violet." sapa Itachi. Violet menoleh dan tersenyum padanya. Tangannya bergerak membuat serangkaian kode untuk berkomunikasi dengan Itachi.
" Selamat malam juga, Itachi."
" Aku bawakan ini untukmu."
Itachi memberikan bungkusan berisi roti dan Cappucino favoritnya yang ia beli di Cafe. Gadis ini adalah orang yang mampu melepas stress Itachi selain teman-temannya tadi. Mungkin karena Itachi menikmati keheningan bersamanya? Entahlah. Apapun itu, Itachi bisa merasakan ketenangan saat bersama Violet.
Itachi pertama kali bertemu dengan Violet saat mencari bunga untuk hiasan di jendelanya. Ia pikir dengan melihat bunga di kamarnya bisa sedikit membantunya dikala pusing. Waktu itu Itachi sedikit kesulitan berbicara dengan Violet karena kondisi si gadis yang seperti itu.
Namun, ia belajar bahasa komunikasi dari Violet dan bisa lancar berkomunikasi dengannya seperti sekarang ini. Jika Itachi tidak bersama temannya yang lain, ia akan kemari jika ada waktu luang. Membantu gadis ini membuat ia merasa menjadi pribadi yang sedikit lebih baik.
" Terima kasih. Kau tidak perlu repot-repot begini."
" Jangan sungkan."
Itachi lantas mengambil salah satu bangku lipat yang ada disana. Violet sengaja menyiapkan satu lagi kursi karena Itachi yang sering datang ke tempatnya.
Beberapa kali pelanggan yang datang dilayani oleh Itachi. Ia meminta Violet untuk beristirahat sejenak dari pekerjaannya.
" Terima kasih atas makanannya, Itachi."
" Tidak usah dipikirkan."
Itachi menghela nafasnya dan menutup matanya. Hati kecilnya sedikit tidak tega membiarkan gadis ini sendirian lagi disini.
" Aku kesini untuk berpamitan padamu."
Perkataan Itachi membuat Violet menoleh dan menatap Itachi. Jari-jarinya kembali bergerak membentuk serangkaian kode.
" Kau akan pulang?"
" Aku harus kembali ke Jepang besok. Jadi..."
" Tidak apa-apa... Aku bisa menjaga diriku disini, Itachi."
" Violet..."
" Aku akan merindukanmu, Itachi. Jaga dirimu disana."
Kalimat itu, dan sedikit airmata yang menggenang di sudut mata gadis itu membuat hati Itachi sedikit pilu. Ia tahu tentang Violet. Bagaimana dia selalu merasa kesepian disini sehari-hari. Violet tinggal sendirian di sebuah rumah kecil di pinggir kota. Ia hanya punya seorang ayah, tapi ia sudah lama meninggal.
Violet tidak memiliki teman selain Itachi. Ia dijauhi karena kekurangannya dan dikucilkan oleh lingkungannya.
Sejujurnya Itachi tidak ingin meninggalkan gadis ini sendiri, namun ia tidak bisa membawa sembarang orang ke tempatnya nanti. Bagaimana kalau Violet tahu tentang jati dirinya? Bagaimana reaksinya saat tahu kalau satu-satunya teman yang ia miliki adalah seorang Iblis?
" Aku juga akan merindukanmu, Violet."
Itachi lantas berdiri dan merapikan bajunya. Namun tanpa ia duga, tubuhnya sudah dipeluk oleh Violet yang gemetar. Bahunya terasa basah. Isakan mulai terdengar secara samar-samar di telinganya.
Tangannya tergerak secara perlahan dan membalas pelukan Violet. Ia mengusap kepala gadis itu secara perlahan dan berusaha menenangkannya.
" Hey, tenanglah... Ini bukan perpisahan. Aku akan mengunjungimu kalau aku kemari."
Pelukan Violet malah semakin erat, seolah tidak merelakan Itachi untuk pergi. Beberapa orang yang tadi ingin membeli mengurungkan niat mereka melihat situasi sekarang.
Setelah beberapa saat, Violet mendongakkan kepalanya dan menatap Itachi, seolah-olah meminta Itachi untuk berkata sesuatu. Pandangan mereka berdua bertemu.
" Baiklah. Saat aku ke Paris nanti, kau adalah orang pertama yang akan kucari."
Mendengarnya, Violet melepaskan dekapannya dan menghapus air matanya.
" Kau berjanji?"
Itachi mengangguk, mengiyakan apa yang dimaksud oleh Violet.
" Akan kupegang janjimu."
" Kalau begitu, aku akan pulang sekarang. Sampai nanti, Violet."
Itachi lantas berjalan pulang ke asramanya untuk membereskan barangnya dan berisitirahat.
Sedangkan Violet, dia hanya menatap sosok Itachi yang perlahan menghilang dibalik kerumunan orang di kota Paris.
Itachi sekarang sedang duduk di teras rumahnya dengan segelas kopi hitam sebagai temannya. Ia tinggal disini sekarang. Tempat ini diberikan Zeoticus pada Itachi sebagai hadiah kelulusannya. Ia tahu, Klan Gremory adalah keluarga kaya raya yang hartanya tidak akan habis bahkan hingga cucu Rias nanti memiliki cucu lagi. Tapi bukankah ini sedikit berlebihan?
Rumah bergaya minimalis 2 lantai ini memang tidak terlalu besar, namun cukup luas untuk Itachi seorang. Lantai 1 terdiri dari sebuah ruangan besar dimana ruang tamu, ruang tengah, dan dapur digabung menjadi satu. Sebuah kamar mandi juga ada di dekat dapur.
Sedangkan Lantai 2 adalah sebuah ruang yang sepertinya adalah ruangan keluarga, serta dua buah kamar yang cukup luas dan memiliki balkon kecil yang menghubungkan keduanya.
Tidak, bukan ukurannya yang menurut Itachi berlebihan, tapi perabotan yang dibeli oleh Zeoticus lah yang sedikit berlebihan.
Sebuah Kulkas, Lemari kaca berisi ornamen gelas-gelas dan piring dengan corak unik, TV yang lebarnya lebih dari rentang tangan Itachi, set lengkap peralatan dapur, Sofa, meja dan kursi serta lukisan-lukisan di dinding. Dan jangan lupa soal TV, Lemari, dan Kasur di lantai 2.
Bukan, Itachi bukannya tidak suka, hanya saja dia bingung bagaimana nanti membalas semua kebaikan Zeoticus.
Merasa bosan, ia memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak untuk melihat-lihat lingkungan sekitar rumahnya. Tak ada yang aneh disekitar sini, hanya sebuah perumahan biasa. Jalanan pun tampak sepi karena tak banyak warga yang beraktifitas saat malam hari.
Dirinya sampai di sebuah taman dan duduk di bangku panjang yang ada di sana. Belum 5 menit dia duduk, seorang pria yang memakai trench coat dan topi fedora duduk disampingnya.
" Malam yang indah untuk berjalan-jalan, bukan?" tanyanya berbasa basi.
" Udaranya masih segar. Aku menyukai tempat ini."
" Aku merasa asing dengan wajahmu, apa kau baru pindah kemari?"
" Aku baru pindah beberapa hari lalu, tuan." jawab Itachi.
Ia merasakan energi supranatural dari pria ini. Energi ini... tidak salah lagi. Pria ini adalah Malaikat Jatuh.
Tiba-tiba si pria tadi berdiri.
" Kalau begitu aku permisi. Maaf sudah mengganggu malammu." katanya. Ia pun pergi dari sana.
Apa yang dilakukan seorang Malaikat Jatuh disini? Sebagai High Class Devil, Itachi tahu tentang sejarah Great War dan efeknya hingga masa sekarang. Ia harus menekan energi miliknya agar sulit dideteksi oleh makhluk supranatural lain.
Apapun itu, ia akan mendiskusikannya dengan Zeoticus nanti. Untuk sekarang, ia memutuskan untuk pulang dan beristirahat.
Saat berjalan pulang, Itachi melewati sepasang kekasih yang tampaknya sedang bermesraan. Lagi-lagi Itachi merasakan energi milik Malaikat Jatuh di situ. Tepatnya pada si gadis berambut hitam yang sedang tenggelam dalam pelukan si pria berambut coklat.
" Maukah kau mati untukku?"
Telinga Itachi menangkap sebuah kalimat yang aneh. Firasatnya buruk saat mendengarnya. Ia memutuskan untuk bersembunyi dan memantau mereka berdua dari jauh. Ia men-summon familiar miliknya, seekor gagak bernama Yatagarasu, untuk hinggap di dekat mereka. Itachi bisa mendengar apapun yang didengar oleh familiar miliknya itu.
Benar saja. Si gadis tadi membunuh pacarnya dan menunjukkan bentuk aslinya. Seorang Malaikat Jatuh melakukan pembunuhan pada manusia di wilayah Iblis? Apa mereka ingin memulai Great War lagi? Bukankah mereka sudah tahu betapa ngerinya sebuah peperangan?
Benar saja, si gadis kemudian menusuk pacarnya dan menunjukkan bentuk Malaikat Jatuh miliknya. Sayap hitamnya mengembang layaknya seekor burung gagak di tengah gelap malam.
" Fufufufu~... Maafkan aku, Issei-kun, tapi Sacred Gear milikmu memiliki potensi yang sangat berbahaya. Jadi, atasanku ingin agar kau mati!"
Sacred Gear? Pemuda ini memiliki sebuah Sacred Gear yang berbahaya? Itachi tidak ingin terburu-buru dalam mengambil tindakan dan memutuskan untuk mengawasi lebih jauh terlebih dahulu.
" Raynare-chan..." lirih si pemuda yang bernama Issei. Darah mulai merembes dari luka tusukan Light Spear dari gadis bernama Raynare tadi.
" Selamat tinggal, Issei-kun..." sebuah seringaian terbentuk di wajah Raynare. Light Spear yang ada di tangannya sudah siap ia lemparkan pada Issei.
Itachi tidak bisa membiarkannya. Ia tidak bisa membiarkan hal ini menjadi pemicu Great War selanjutnya. Ia berlari secepat kilat dan menendang perut Raynare yang tak menyadarinya.
Buagh!
" Uhuk!" Raynare yang terkena serangan dari Itachi merasakan sakit yang hebat di bagian perutnya.
" Kau! Siapa kau?!"
Tidak mendapat jawaban, Raynare melempar tombak cahaya miliknya kearah Itachi, namun dapat dihindari dengan mudah.
" Pergi dari sini..." kata Itachi. Matanya merah menyala, menatap tajam pada Raynare.
Sebuah perasaan aneh menjalari tubuh Raynare, namun ia memilih untuk tak menggubrisnya. Ia kembali melemparkan tombak cahaya pada Itachi secara bertubi-tubi hingga salah satunya tepat mengenai dada kiri Itachi.
Jleb!
" Urgh..."
" Heh... Kau tidak sekuat kelihatannya." ucap Raynare dengan seringai meremehkan di wajahnya. Sayangnya ekspresinya luntur seketika saat melihat tubuh Itachi buyar menjadi kawanan burung gagak.
"H-huh... ?"
Sensasi dingin pada lehernya membuat Raynare membelalakkan matanya. Itachi sudah berdiri di belakangnya dengan sebuah belati yang tertempel pada leher Raynare.
" Ini peringatan terakhir dariku... Pergilah, atau kau akan merasakan tajamnya belati ini."
Dan saat itu juga, Raynare sadar akan perbedaan kekuatan mereka berdua. Ia tahu musuhnya kali ini tidak bisa ia lawan sendirian.
" Baiklah... Aku akan pergi sekarang." ucapnya dengan kesal. Ia merasa marah karena telah kalah dan dikasihani oleh musuhnya. Tapi ia lebih memilih untuk pergi dan hidup untuk balas dendam nanti
Mendengar perkataan Raynare, Itachi pun menjauhkan belati miliknya dari leher gadis Malaikat Jatuh tersebut. Raynare pun terbang dan pergi entah kemana dengan menahan amarah dan malu.
Perhatian Itachi sekarang tertuju pada pemuda yang terkapar tak berdaya di sana. Kondisinya yang sekarat karena serangan Tombak Cahaya milik Raynare sudah tidak bisa disembuhkan oleh manusia biasa.
Baru saja ia melangkah mendekat, sebuah lingkaran teleportasi tercipta di samping jasad pemuda tersebut. Itachi mengenali simbol itu, simbol milik klan Gremory.
Itachi segera bersembunyi dan menekan kembali energi miliknya. Ia kembali menghubungkan pendengarannya dengan Yatagarasu.
Rias dan Akeno muncul dari lingkaran sihir tadi. Mereka berdua tampaknya merasakan energi milik Itachi dan Raynare.
" Sepertinya kita sedikit terlambat, Rias." kata Akeno saat melihat tidak ada siapapun disekitarnya.
" Tidak apa-apa. Dengan begitu kita tidak perlu repot-repot mengusir Malaikat Jatuh itu."
Rias berjalan mendekati tubuh Issei yang sekarat. Di tangannya muncul sebuah Evil Pieces, tanda kalau Rias berniat untuk mengubah pemuda itu menjadi pelayannya.
Ia mencoba Bishop, Rook, dan Knight, tapi tidak ada yang cocok. Hanya bidak Pawn lah yang merespon. 8 buah bidak Pawn, semuanya bercahaa merah terang.
" Sangat disayangkan kalau kekuatanmu hilang disini, Issei Hyoudou..." Dan dengan itu, semua bidak Pawn masuk dan terserap oleh tubuh Issei. Tubuhnya mengeluarkan pendar merah tipis selama beberapa detik lalu kembali padam.
Issei Hyoudou sekarang resmi menjadi budak dari Rias Gremory sebagai Pawn miliknya. Keduanya lalu pergi berteleportasi bersama tubuh Issei, menyisakan Itachi yang masih bersembunyi.
" Huh... Semoga kau bisa mengendalikannya, Rias." gumam Itachi. Ia merasakan energi besar pada Issei saat ia bereinkarnasi menjadi Iblis tadi.
Itachi kemudian memutuskan mengirim Yatagarasu ke Underworld untuk memberikan info ini pada Zeoticus. Ia lalu bergegas untuk kembali ke rumahnya dan beristirahat untuk esok hari.
" Maaf ya, Rias, Akeno. Aku tidak ingin merusak kejutan untuk kalian."
Zeoticus menyesap kopi buatan Itachi. Ia sedang duduk di teras rumah Itachi bersama dengan Sirzech dan sang tuang rumah.
" Jadi begitu? Aku akan pergi menemui si pak tua Azazel itu nanti." ujar Sirzech. Ia kebetulan bersama ayahnya saat familiar Itachi muncul, jadi dia ingin mendengar secara rinci kejadian di taman tadi.
" Dan Itachi... Ayahku sudah menjelaskan soal tugasmu selama disini, bukan?"
Itachi mengangguk. Ia masih ingat perkataan Zeoticus tentang mengawasi kota Kuoh dan Rias dari Iblis-iblis liar.
" Aku sudah mengatur semuanya. Kebetulan salah seorang guru Fisika di Kuoh Academy baru saja pensiun." kata Zeoticus. Ia lalu kembali meminum kopinya.
" Dan anda ingin aku menjadi guru pengganti disana?"
" Tepat sekali. Bagaimana, Itachi?"
Itachi menghela nafasnya. Menjadi guru tidak pernah terpikirkan olehnya. Satu-satunya orang yang pernah ia ajari hanyalah Sasuke.
Sasuke... Mengingat namanya, Itachi kembali terbayang tentang adik kesayangannya itu. Kira-kira bagaimana penampilannya sekarang? Apakah ia masih memutuskan untuk menjadi seorang kriminal? Atau Naruto berhasil membuat ia sadar akan kesalahannya? Memikirkannya membuat Itachi semakin merindukan Sasuke.
" Baiklah, Zeoticus-sama. Aku akan melaksanakan tugas darimu." jawab Itachi.
" Kalau begitu lusa kau bisa mulai mengajar. Gunakan waktumu besok untuk membeli semua keperluan untuk kegiatan mengajar nanti."
Zeoticus terlihat senang mendengar jawaban Itachi. Setelah berbincang-bincang sejenak untuk menghabiskan minuman, Zeoticus dan Sirzech pamit untuk mengurus urusan mereka.
Itachi membereskan semua cangkir dan masuk kedalam. Ia memutuskan untuk tidur karena besok, ia akan sibuk berbelanja segala keperluannya.
Di alam mimpinya, ia kembali mendengar sebuah suara misterius yang sudah lama tidak ia dengar.
" Itachi... Saat saat dimana kekuatanmu diperlukan sudah dekat. Kau harus mempersiapkan diri untuk ancaman besar di masa mendatang..."
" Ancaman?" tanya Itachi. Namun sebelum mendapat jawaban, penglihatannya sudah dipenuhi oleh cahaya yang menyilaukan dan memaksanya untuk menutupi matanya.
Itachi terbangun dengan rasa pusing di kepalanya. Ancaman... ? Apa ancaman yang dimaksud oleh suara itu? Apapun itu, ia akan bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk nanti.
AUTHOR'S NOTE :
Eiy, minna-san! Update lagi nich! Maaf banget kalo PM kalian ga saia baca, karena PM dari Web kadang ga masuk di inbox Aplikasi, pun sebaliknya.
Saya mau ngiklan lagi, boleh yak?
Kuy Join grup FI, disana bisa tanya tanya sama para senpai dan sepuh Fanfiction soal banyak hal. Entah itu soal plot, tips nulis, bahkan bisa nanya hal hal random :D
Buat kalian, reader jones yang WA nya suka sepi, gabung lah ke FI. Dijamin ga bakal sepi kalau join FI. Disana juga ada event event kepenulisan dengan hadiah yang lumayan (tapi jangan ngarep hadiah umroh sekeluarga dong).
Soal pair, liat aja nanti seiring cerita. Yang kemaren nungguin sharinggan, sudah tuh muncul sedikit. Kekuatan Itachi bakal ditunjukin sedikit demi sedikit seiring cerita.
So... Do you mind to Read n Review?
Ya kalian juga, Silent Reader. I'm watching you...
Silvermane Kudan, Out.
