CROWMASTER : BIRD AMONG DRAGON


Disclaimer :

Naruto Punyanya Om Masashi Kishimoto

High School DxD Punyanya Om Ichiei Isshibumi


" Hah..."

Itachi menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali. Hari pertamanya di Kuoh Academy sebagai Guru Fisika disini sudah dimulai. Ia sekarang berjalan di koridor lantai 2 untuk masuk ke kelas 2-B.

Ia sudah men-summon Yatagarasu untuk memperhatikan area sekitar Kuoh Academy dari hal-hal yang mencurigakan. Itachi bisa merasakannya. Ia tahu kalau di sekolah ini terdapat begitu banyak makhluk supranatural yang berbaur dengan manusia.

Tok! Tok! Tok! Krieet...

Itachi membuka pintu kelas 2-B. Suara ribut-ribut dari murid yang tadi terdengar hingga keluar kelas, langsung senyap saat Itachi masuk. Semua pasang mata di ruangan ini tertuju padanya.

" Ehm... Konnichiwa, minna-san."

" Namaku Itachi Uchiha. Dan mulai sekarang, aku yang akan menggantikan guru Fisika kalian." Itachi memperkenalkan dirinya secara fromal di depan kelas.

" Salam kenal, Sensei." jawab para murid bersamaan.

Sebenarnya Itachi mendengar dua macam nada saat mereka menjawab. Satu dari para siswi yang terlihat bersemangat, dan satu lagi dari para siswa yang lesu.

" Hari ini aku ingin mengenal nama-nama kalian. Mulai dari kau." tunjuk Itachi pada siswi yang duduk di pojok belakang.

" A-ano... Namaku Nanaka Shiomi... Salam kenal, Sensei..." jawabnya malu-malu. Ia terlihat begitu gugup saat pandangannya tak sengaja bertemu dengan milik Itachi.

" Ah, salam kenal, Shiomi-san." balas Itachi dengan tersenyum tipis.

Perkenalan pun berlanjut, hingga tiba saat Issei berdiri untuk memperkenalkan dirinya.

" Perkenalkan, namaku Issei Hyoudou. Salam kenal, Sensei." ucapnya dengan tak bersemangat.

Itachi langsung mengenali rambut dan wajah dari Issei. Ia ingat kalau Issei adalah manusia yang diserang oleh Malaikat Jatuh malam itu. Jika dia ada disini, berarti Rias berhasil menjadikan dia budaknya. Itachi merasa harus mengawasi pemuda ini, untuk memantau kekuatan berbahaya apa yang dimaksud oleh gadis Malaikat Jatuh itu.

" Salam kenal, Hyoudou-san." sapa balik Itachi. Sesi perkenal terus berlangsung dengan berbagai macam pertanyaan untuk Itachi. Mayoritas berasal dari para siswi yang penasaran dengan Itachi.

Kring! Kring!

Tak terasa, jam pelajaran Fisika sudah berlalu dan sekarang waktunya untuk pulang. Itachi pun menutup kelasnya untuk hari ini.

" Baiklah, sampai itu saja perkenalan kita hari ini. Silahkan pulang dan hati-hati di perjalanan kalian."

Ia kemudian berjalan keluar dari kelas. Para murid pun berhamburan keluar kelas, baik untuk pulang maupun untuk mengikuti kegiatan klub mereka.

Sedangkan Itachi, ia saat ini sedang menuju kantin untuk membeli sebotol air mineral di lantai 1. Setelahnya ia memutuskan untuk kembali ke ruang guru dan merapikan barang-barang miliknya.

" Bagaimana hari pertamamu, Itachi-kun?" tanya Kepala Sekolah yang tiba-tiba muncul di depannya. Pria tua dengan postur agak kecil ini adalah Kepala Sekolah disini.

" Tidak buruk. Terima kasih atas perhatiannya." jawab Itachi dengan sopan.

" Bisa kau ikut aku sebentar?"

Itachi mengangguk dan mengikuti Kepala Sekolah berkeliling Kuoh Academy. Nampaknya ia hanya berusaha membuat Itachi nyaman di lingkungan sekolah.

" Itachi-kun, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Salah satu klub di sekolah ini, Klub Penelitian Ilmu Gaib, tidak memiliki seorang Guru Pembina. Bisakah kau menanganinya?"

" Klub ini hanya klub biasa. Mereka tidak memilik banyak kegiatan seperti klub-klub lainya. Jadi kupikir kau bisa mendapatkan pengalaman disana." sambung si Kepala Sekolah.

Klub Penelitian Ilmu Gaib? Terdengar aneh bagi Itachi. Ia tahu bahwa makhluk supranatural itu nyata, bahkan dia adalah salah satunya. Tapi untuk apa para siswa ini meneliti hal-hal seperti itu?

Setelah menimbang-nimbang, Itachi akhirnya memutuskan untuk mencobanya. Siapa tahu ia bisa menemukan hal-hal menarik disana.

" Baiklah. Aku akan mencobanya." ujar Itachi dengan mantap.

" Bagus! Ini daftar anggotanya." Kepala Sekolah mengeluarkan sebuah map dari dalam jasnya.

" Sebaiknya kau pergi menemui mereka, Itachi-kun. Mereka ada di bangunan lama, di belakang sekolah ini. Semoga beruntung." katanya.

Setelah si Kepala Sekolah pergi, Itachi membuka map yang ia terima dan melihat nama nama yang ada disana.

Ia tersenyum tipis melihat nama Rias Gremory dan Akeno Himejima. Dengan begini ia bisa lebih mudah mengawasi Rias. Apa mungkin ini ulah dari Zeoticus? Apapun itu, Itachi memutuskan untuk pergi ke ruang Klub Penelitian Ilmu Gaib.

Itachi merasakan pancaran energi milik sekumpulan Iblis yang nampaknya milik Rias dan kelompoknya. Setelah beberapa menit berjalan, ia sampai di depan sebuah pintu dengan dekorasi pita merah.

Tok! Tok! Tok!

Kriet...

Seorang gadis berambut putih dan bertubuh mungil membuka pintu dengan ekspresi datar.

" Ada yang bisa ku bantu?" gadis itu bertanya dengan nada yang sopan, tapi tatapannya begitu dingin menusuk seolah-olah tak menginginkan kedatangan Itachi.

" Aku mencari klub Penelitian Ilmu-"

Brak!

Grep! Bruk!

Perkataan Itachi terputus oleh pintu yang terbanting membuka. Ia tiba-tiba dipeluk oleh seorang gadis berambut merah hingga terjatuh ke lantai.

Si gadis terlihat begitu senang melihat Itachi. Mata hijaunya menatap Itachi dengan penuh rindu dan rasa gembira.

" Buchou, apa yang terjadi?!"

Issei berlari keluar ruangan untuk memeriksa apa yang terjadi. Booster Gear sudah siap sedia di tangannya, kalau-kalau King nya dalam bahaya.

" Buchou!"

Seorang siswa berambut pirang yang menggenggam pedang di tangannya juga keluar diikuti oleh gadis berambut hitam dengan kuncir kuda.

Mereka semua menghampiri Itachi yang masih terjatuh di lantai. Ia tak bisa berdiri mengingat si gadis rambut merah menindihnya dari atas. Posisi yang membuat Issei iri setengah mati.

" Itachi-kun!"

" Huh?"

" Kemana saja kau pergi, Baka Nii-san!"

" NII-SAN?!"


" Jadi begitu..." ujar Rias. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangan.

" Tapi aku tetap tidak memaafkanmu karena tidak memberi kabar padaku maupun Akeno selama 7 tahun ini."

Rias memasang wajah cemberut. Meskipun ia tahu kalau Itachi sibuk dengan tugas-tugasnya sebagai mahasiswa dan Iblis, ia tetap tidak memaafkan Itachi. Kakak angkatnya itu paling tidak bisa memberi kabar walau sekedar surat yang diantarkan lewat familiarnya.

Itachi menghela nafas berat. Ia menyerah. Jika sifat Rias yang ini muncul, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti perkataan Rias.

" Senang melihatmu setelah sekian lama, Itachi-kun." kata Akeno.

" Teeima kasih, Akeno."

Melihat mereka dari dekat, Itachi menyadari kalau dua anak kecil yang ia kenal dulu telah tumbuh menjadi gadis yang anggun dan cantik.

" Jadi... Itachi-sensei adalah kakakmu, Buchou?" tanya si pemuda pirang yang bernama Kiba Yuuto.

" Itachi-nii adalah kakak angkatku, tapi ia sudah kuanggap layaknya kakak kandungku sendiri."

" Pantas... Karena dilihat darimana pun, kalian berdua tidak mirip sama sekali. Itachi-sensei bahkan lebih mirip dengan Akeno-senpai daripada kau, Buchou." Issei mengangguk-angguk dengan mengusap dagunya.

" Itachi-kun adalah figur kakak bagi kami, Issei-kun." ujar Akeno.

Issei, Kiba, dan Koneko menatap Itachi dengan intens, seolah-olah melihat sesuatu yang aneh pada didirinya.

" Buchou, apa dia..." tanya Issei menggantung.

" Dia juga iblis seperti kita, jadi tidak lerlu khawatir." jawab Rias.

" Tapi aku tidak merasakan-"

" Aku bisa merasakannya, Issei-senpai." potong Koneko.

Itachi sedikit terkesan dengan gadis mungil didepannya yang bisa merasakan energi Itachi. Ia sudah menekannya agar tidak menarik perhatian makhluk supranatural lain, tapi gadis ini tetap bisa merasakannya.

" Kau cukup hebat, Toujou-san." puji Itachi.

" Koneko adalah Youkai Nekomata yang bisa merasakan energi alam. Ia juga lebih sensitif terhadap energi supranatural daripada makhluk lain." jelas Rias yang berbangga diri akan anggota Peerage-nya.

Itachi mengingat baik-baik info tentang anggota Peerage Rias.

Akeno, si bidak Queen yang ahli dalam sihir listrik. Kiba, Knight milik Rias yang ahli dalam teknik berpedang. Koneko, gadis mungil pengguna senjutsu yang menyerap bidak Rook. Dan Issei, Pawn pemegang Sacred Gear Longinus dengan arwah Welsh Dragon di dalamnya.

Peerage yang cukup bagus menurut Itachi. Mereka hanya membutuhkan seorang Healer, lalu kelompok mereka akan lengkap.

" Bagaimana denganmu, Nii-san?"

" Huh?"

" Apa kau punya niat untuk membuat Peerage milikmu sendiri?" tanya Rias.

" Kau tidak punya Peerage, Sensei?" timpal Issei yang kebingungan. Kalau ia bisa membuat Peerage miliknya sendiri, maka ia sudah lama membuat Harem miliknya sendiri yang penuh akan wanita cantik dan seksi.

" Aku tidak memiliki niat untuk hal itu saat ini."

Urgh... seorang Lone Wolf, pikir Issei. Entah kenapa hal itu membuat Itachi semakin keren di mata Issei dan itu bukanlah hal yang bagus. Semakin keren Itachi, maka semakin kecil pula kesempatannya untuk mendapatkan harem nanti jika ia terus-terusan bersama Itachi. Kiba saja sudah cukup sebagai penghalang baginya, ia tidak membutuhkan satu lagi pria tampan sebagai jurang antara ia dan kerajaan haremnya.

Tunggu dulu...

Ia merasa familiar dengan Senseinya ini. Ia merasa pernah melihat wajahnya sekilas di suatu tempat, tapi ia tidak bisa mengingat kapan dan dimana tepatnya.

Mereka berbincang cukup lama tentang berbagai hal. Mulai dari bagaimana rasanya hidup di Paris hingga tentang iblis-iblis liar disana, tanpa menyadari kalau cahaya matahari mulai berwarna jingga.

" Nii-san, apa kau-"

" Buchou, Aku merasakan energi supranatural di salah satu gudang bekas di pinggir kota."

Pertanyaan Rias terpotong oleh Koneko.

" Huh... Menganggu saja." gerutunya. Ia terpaksa harus menunda semua pertanyaan yang ingin ia lontarkan pada kakak angkatnya itu.

" Ayo kita periksa sumber energi tersebut. Kau mau ikut, Nii-san?"

Itachi diam sebentar, lalu mengangguk setuju. Ia ingin melihat perkembangan Rias dan Akeno selama ini. Lagipula, Itachi tidak punya banyak pekerjaan dirumahnya.

Ia mendekat dan bergabung dengan kelompok Rias yang berdiri diatas lingkaran teleportasi. Dalam sekejap, mereka semua menghilang ditelan cahaya berwarna merah.


Di sebuah gudang tua yang terletak di pinggiran kota Kuoh, tergeletak seorang perempuan muda dengan pakaian yang robek-robek akibat ulah dua monster di hadapannya. Air matanya menggenang, ia begitu ketakutan saat ini.

" Satu orang tak akan bisa memuaskan rasa lapar kita, Aniki."

" Berisik! Nikmati saja apa yang bisa kita dapat sekarang!"

Dua ekor monster berbadan kekar dengan kepala Banteng saling berbicara satu sama lain. Tubuhnya tinggi dan berotot serta membawa kapak di tangan mereka.

" Siapapun, tolong aku!!!" teriak si wanita. Ia menjerit sekuat tenaga untuk meminta pertolongan pada siapapun yang mendengarnya. Kedua monster yang berjalan mendekat membuat ketakutan si wanita semakin menjadi-jadi.

" Tolong!!!"

"Aaaarrggghhh!!!"

Blam!Pintu gudang terbuka lebar. Sekelompok orang yang tadi berdiri didepannya kini mulai masum kedalam.

" Kita terlambat, Buchou." ujar Akeno saat melihat pemandangan didepannya.

Kedua monster yang daritadi sibuk memakan mangsanya kini menoleh kearah mereka. Keduanya terlihat senang karena mendapat sumber makanan tanpa perlu mencarinya lagi.

" Aniki! Lihat, malam ini kita akan tidur dengan perut kenyang!"

" Hehehe... Kita akan berpesta malam ini!"

Rias menatap keduanya dengan tajam.

" Siapa tuan kalian?" tanyanya.

" Kami adalah Iblis yang bebas! Tidak ada yang pantas menjadi tuan kami!" jawab salah satu monster dengan arogan. Mendengarnya, Rias tersenyum tipis.

" Kalau begitu, kalian adalah iblis liar, bukan?"

" Koneko, Kiba, Issei, kalian serang yang kiri. Aku dan Akeno akan mengurus yang kanan." perintah Rias pada Peeragenya.

Semuanya mengangguk dan melesat menuju target yang sudah ditentukan. Sementara Itachi hanya berdiri di salah satu catwalk yang tergantung di langit-langit gudang.

Trang! Trang!

Suara pedang milik Kiba terdengar saat beradu dengan kapak sang monster. Iblis liar kali ini tidak terlalu kuat, terlihat dari Kiba yang tak kesulitan menghadapi si monster sendirian.

Si monster mengayunkan kapaknya kesamping dengan tujuan memenggal kepala Kiba, namun berhasil dihindari dengan mudah. Kiba pun memberi serangan balasan. Ia berlari mengitari tubuh si monster dengan kecepatan tinggi sembari memberikan tebasan demi tebasan lada tubuh si monster.

" Argh!"

" Matilah kau, Bocah sialan!" Ia mengangkat kapaknya tinggi tinggi, lalu dengan sekuat tenaga ia hantamkan kearah Kiba.

Kiba pun menahan hantaman kapak si monster dengan pedangnya tanpa kesulitan yang berarti.

Trang! Bugh!

Koneko melihat celah yang dibuat Kiba. Ia segera melesat dan memberi pukulan uppercut pada perut si monster hingga terpental keatas, dimana Issei sudah menunggu untuk melancarkan serangannya.

BOOST!

Buagh! Blar!

Issei memukul punggung si monster sekyat tenaga dengan kedua tangannya. Lantai gudang terlihat sedikit retak akibat benturan yang begitu keras. Si monster sekarang terkapar tak sadarkan diri dengan tulang belakang yang sepertinya sudah patah dan luka sayatan dimana-mana.

Sementara itu, monster yang satu lagi kondisinya juga terlihat mengenaskan. Luka bakar terlihat di sekujur bagian tubuhnya.

" R-r-rambut itu... Gremory..." lirih si monster. Sedetik kemudian, ia berhenti bernafas untuk selamanya.

Itachi pun turun dan menghampiri Rias dan teman-temannya.

" Bagaimana kemampuan kami, Sensei? Hebat, bukan?" tanya Issei dengan cengengesan. Ia menepuk dadanya sendiri menggunakan Boosted Gear, seolah-olah memamerkan kekuatan miliknya.

" Kerja sama kalian bertiga cukup bagus tadi." Puji Itachi pada Issei, Kiba, dan Koneko. Koneko yang langsung melesat saat melihat celah dan Issei yang sigap menunggu diatas seakan-akan tahu apa yang akan dilakukan rekannya tadi cukup hebat bagi Itachi.

" Dan kalian berdua... Kalian sudah tumbuh menjadi gadis yang kuat."

Rias dan Akeno sedikit tersipu mendengar pujian dari Itachi. Sihir milik Rias dan Akeno sudah cukup berbahaya menurut Itachi.

" Te-tentu saja. Kau pikir hanya kau yang berlatih selama ini?" kata Rias.

Merasa tidak ada lagi alasan baginya untuk disini, Itachi memutuskan untuk pamit pulang kerumahnya. Tapi tangannya dipeluk erat oleh Akeno.


" Selamat datang dan silahkan masuk."

Itachi mempersilahkan Rias dan Peeragenya untuk masuk ke dalam rumah miliknya. Rias dan Akeno ingin tahu dimana Itachi tinggal.

" Woah... "

Issei terperangah melihat rumah Itachi yang nampak luas karena semuanya, kecuali kamar tidur dan kamar mandi, digabung menjadi satu. Desain rumah yang tak biasa, menurutnya.

Mereka semua lantas duduk di sofa yang ada disana. Itachi kemudian menyalakan TV dan berjalan ke dapur untuk membuat minuman.

" Jadi, rumah ini diberikan oleh ayah Buchou padamu, Sensei?" tanya Kiba.

Itachi kembali dengan membawa teh yang sudah ia buat. Ia mengangguk menjawab pertanyaan Kiba.

" Silahkan." katanya, lalu duduk di dekat Rias. Ia meminum teh miliknya dengan tenang, membiarkan sensasi hangat mengalir melalui tenggorokannya. Yang lain juga meminum teh buatan Itachi.

" Hey, rasanya tidak kalah dari teh buatan Akeno-senpai." ujar Issei.

" Ara-ara~ Sepertinya kemampuan memasakmu belum menurun, Itachi-kun."

" Hidup sendirian di Paris menuntutku untuk mandiri." jawab Itachi.

Jleb. Pria ini sempurna, pikir Issei. Tampan, Pintar, Baik, dan Mandiri. Issei tidak akan terkejut lagi jika suatu saat Itachi berkata kalau dia adalah seorang CEO perusahaan ternama yang sedang menyamar menjadi guru sekolah.

" Bagaimana dengan pacar, Itachi-sensei? Apa kau punya?" tanya Akeno blak-blakan.

" Tidak." jawab Itachi dengan cepat.

Pacar, ya? Jujur Itachi tidak pernah memikirkan hal-hal seperti itu. Selama di Paris, tidak ada yang bisa mengganggu fokusnya untuk kuliah. Banyak wanita yang berusaha mendekatinya, tapi tidak ada satupun yang berhasil. Tidak ada yang meninggalkan suatu kesan yang cukup kuat bagi Itachi.

" Astaga! Aku harus pulang, Buchou, Sensei!" teriak Issei tiba-tiba. Ia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 9 malam. Ia harus segera pulang, atau bisa-bisa ia tidur diluar malam ini.

" Kalau begitu kami juga akan pamit, Sensei." kata Koneko dengan sopan. Ia kemudian berdiri, diikuti oleh Kiba dan yang lainnya.

Itachi mengantarkan mereka hingga sampai ke depan pintu. Tapi, Akeno dan Rias tidak ingin keluar dari sana.

" Akeno, sebaiknya kau pulang sekarang."

" Ara-ara~ Bagaimana denganmu, Buchou? Bukankah sebaiknya kau pulang juga?"

" Huh? Aku akan menemani Nii-san disini!"

" Lebih baik aku yang menemani Itachi-kun!"

Perdebatan keduanya mulai memanas. Tidak ada yang mau mengalah demi bisa tinggal bersama Itachi.

" Kalian berdua sebaiknya pulang sekarang!" lerai Itachi. Ia memegang kepala kedua gadis di depannya dan menggiring mereka keluar.

" T-tapi-"

" Tidak! Aku tidak ingin ada rumor tentang seorang guru yang membawa siswinya untuk menginap." jelasnya. Akan merepotkan kalau rumor bodoh seperti itu menyebar diantara para ibu-ibu tetangganya.

" Baik baik... kami pulang."

Rias akhirnya menyerah. Begitu pun dengan Akeno. Mereka semua pulang ke rumah masing-masing, meninggalkan Itachi sendirian. Ia kembali merapikan ruangannya lalu bergerak ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya sebelum tidur. Hari ini cukup melelahkan baginya dan ia ingin istirahat untuk kegiatan esok hari.


AUTHOR'S NOTE :Hey hey hey! Balik lagi sama Silvermane Kudan!

Iya iya maap, updatenya lama. Belakangan ini passion buat nulis rada nurun soalnya, pak. Sekalinya muncul, ya tengah malem. Kek sekarang ini, waktu Saia nulis ini Note, jam dirumah udah 23:43 WIB.

Ku kasih mini fight aja dulu, ya? Yang banyak aksinya akan dimunculin nanti, jadi sabar :p.

Mungkin itu aja dulu.

Do YOU mind to review? Your review is my fuel for continuing this story.

Apalagi kalian, Silent Reader... I See You.

'Till we meet again, I bid you farewell.

Silvermane Kudan, Out.